Nayla-atau Dinda, seperti yang kini ia sebut dirinya-mencoba mengumpulkan kesadarannya. Matanya masih berat, pikirannya berantakan, tetapi satu hal yang pasti: ia tidak boleh kehilangan kewaspadaan.
Pria di depannya tidak mengatakan apa pun selama beberapa saat. Ia hanya menatapnya dengan sorot tajam, seolah sedang menilai apakah ia pantas dipercaya.
"Aku menemukanku pingsan di jalan." Suara pria itu dalam dan berat, tanpa emosi. "Apa yang terjadi?"
Nayla menelan ludah, otaknya berputar cepat mencari alasan. "Aku... hanya kelelahan. Aku tidak punya tempat tinggal."
Pria itu menyandarkan punggungnya pada kursi, ekspresinya tetap tak terbaca. "Lalu kenapa kau berbohong tentang namamu?"
Jantung Nayla berdegup kencang. Apakah ia sudah ketahuan? Namun, ia menegakkan tubuhnya dan mencoba bertahan. "Aku tidak bohong. Namaku Dinda."
"Dinda apa?"
Mulutnya sedikit terbuka, tapi ia tidak punya jawaban. Ia tidak memikirkan nama belakang.
Pria itu tersenyum tipis, tapi bukan senyuman hangat-lebih seperti ekspresi seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang menarik.
"Kau sangat buruk dalam berbohong."
Nayla mengepalkan jemarinya di atas selimut. Jika pria ini berniat mencurigainya, ia harus pergi. Tetapi tubuhnya masih lemah, dan yang lebih penting, ia tidak punya tujuan.
"Kau mau membunuhku?" Nayla akhirnya bertanya.
Pria itu menaikkan alis, seolah tersinggung. "Jika aku ingin membunuhmu, kau tidak akan bangun di tempat tidur ini."
Nayla menggigit bibirnya. Ia tidak tahu apakah harus merasa lega atau justru semakin khawatir.
"Aku Nathan," pria itu akhirnya memperkenalkan diri. "Dan kau ada di rumahku."
Rumah. Itu berarti mereka tidak di rumah sakit. Tapi kenapa pria ini membawanya ke sini?
"Kenapa kau menolongku?" tanyanya curiga.
Nathan mengangkat bahu. "Mungkin aku sedang ingin berbuat baik."
Nayla tidak mempercayainya. Orang seperti Nathan-dengan cara berbicara yang dingin dan ekspresi yang sulit dibaca-tidak mungkin seseorang yang menolong tanpa alasan.
Tetapi untuk saat ini, ia tidak punya pilihan selain tetap di sini.
Beberapa hari berlalu, dan Nayla tetap tinggal di rumah Nathan. Ia tidak bertanya banyak, dan pria itu pun tidak memaksanya untuk bicara. Namun, setiap kali ia menatap pria itu, ia tahu bahwa Nathan menyimpan sesuatu.
Dia bukan orang biasa. Rumah ini terlalu besar dan mewah, pria itu tidak terlihat seperti seseorang yang bekerja kantoran, dan yang lebih mencurigakan, setiap malam ia sering menerima panggilan telepon dengan suara rendah.
Pada malam ketiga, rasa penasaran Nayla mencapai puncaknya. Ia tidak bisa tidur dan berjalan ke luar kamar, berniat mencari air minum. Namun, saat ia melewati ruang kerja Nathan, ia mendengar sesuatu yang membuat tubuhnya menegang.
"Selesaikan pekerjaannya. Aku tidak mau ada saksi yang tersisa."
Jantung Nayla mencelos. Ia menahan napas, tubuhnya membeku di tempat.
Saksi? Pekerjaan?
Apakah Nathan... seorang pembunuh?
Ia mundur perlahan, tetapi tepat saat itu, pintu terbuka.
Nathan berdiri di ambang pintu, matanya yang tajam langsung menatap lurus ke arahnya.
Nayla terjebak.
Dan di saat itu, ia tahu bahwa ia telah masuk ke dalam dunia yang jauh lebih berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan.
Nathan tidak bergerak. Wajahnya tetap dingin, seolah-olah ia telah mengetahui keberadaan Nayla di sana jauh sebelum ia menyadari. Suasana tegang, dan Nayla merasa seluruh tubuhnya mengeras, tidak mampu bergerak meski napasnya tersengal.
"Apa yang kamu dengar?" Suara Nathan begitu tenang, namun mengandung ancaman yang jelas. Ada kekuatan yang tersembunyi dalam kata-katanya, sesuatu yang bisa membuatnya hancur hanya dengan satu isyarat.
Nayla merasa seolah dirinya tak ada artinya, terjebak dalam permainan yang jauh lebih besar dari dirinya. "Aku... aku hanya lewat," katanya dengan suara gemetar, mencoba untuk tetap terlihat tenang meski hatinya sedang kacau. "Aku tidak mendengarkan apa-apa."
Nathan mengangkat alisnya, langkahnya yang tenang seakan mengepungnya, mendekat dengan perlahan. Setiap langkahnya menambah ketegangan yang sudah cukup menggerogoti pikirannya. "Kamu tahu, Dinda," ia mengucapkan namanya dengan nada yang begitu sinis, "kebohongan itu tidak akan mengubah apapun. Kalau kamu ingin bertahan di sini, lebih baik kamu berhenti berbohong."
Nayla merasakan panas menjalar ke wajahnya. Ia tahu ia tidak bisa berlama-lama membohongi pria ini. Namun, kenyataan yang ia hadapi jauh lebih menakutkan dari sekadar kebohongan tentang nama. Apakah ia benar-benar aman di sini? Jika Nathan benar-benar terlibat dalam hal-hal gelap, apakah ia akan menjadi bagian dari permainan ini?
"Aku bukan siapa-siapa," ujar Nayla, menundukkan kepala, berusaha untuk menyembunyikan ketakutan yang merayap. "Aku hanya ingin bertahan hidup."
Nathan mengangguk pelan, seolah memahami kedalaman kata-kata itu. Ia lalu duduk di kursi di sebelah meja kerjanya, menyandarkan punggungnya dan menatap Nayla dengan intens. Ada sesuatu yang lebih dalam di balik tatapan itu, sesuatu yang lebih misterius daripada yang bisa dipahami Nayla. Ia merasa seolah sedang berada di tengah badai yang tak bisa ia kendalikan.
"Kamu bisa bertahan hidup, tentu saja," kata Nathan, suaranya lebih lembut sekarang, meski tetap ada ketegangan yang mengendap. "Tapi kamu harus mulai bermain dengan aturan baru. Aturan yang berlaku di sini."
Nayla merasa hatinya semakin tercekik. Apa yang dimaksud dengan "aturan baru"? Dunia apa yang sedang ia masuki? Ia merasa seperti dikelilingi oleh bayang-bayang yang menekan, mengancam dengan cara yang tidak terlihat namun begitu kuat.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sini, Nathan?" Tanya Nayla, akhirnya mengumpulkan cukup keberanian untuk berbicara lebih jujur. "Apa yang kau lakukan? Siapa kamu sebenarnya?"
Nathan tersenyum, namun senyuman itu tidak menghangatkan. Senyumnya malah menambah ketegangan di udara. "Aku hanya pria biasa yang memiliki banyak urusan. Urusan yang mungkin tidak ingin kamu ketahui."
Nayla tidak tahu harus berkata apa. Ia merasa seperti seorang yang terjebak di dalam sebuah labirin, setiap langkah membawa ia lebih dalam ke dalam kegelapan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang penuh dengan ketidakpastian. Lalu, dengan suara yang lebih tenang, Nathan berkata, "Namun, ada satu hal yang perlu kamu tahu, Dinda."
Nayla menatapnya dengan penuh perhatian. Ada sesuatu dalam nada suaranya yang menarik perhatian, membuatnya merasa bahwa segala sesuatu yang ia ketahui selama ini bisa hancur dalam sekejap.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun-termasuk kamu-menjadi ancaman bagiku." Nathan berdiri, mendekat lagi dengan tatapan yang penuh perhitungan. "Jadi, jika kamu berniat bertahan hidup, pastikan kamu tahu apa yang kamu hadapi."
Nayla ingin menjawab, ingin bertanya lebih jauh, tetapi kata-kata itu seperti terhenti di tenggorokannya. Matanya menatap lurus ke arah Nathan, tapi di dalam dirinya ada rasa cemas yang semakin membesar. Ia tidak tahu apakah ia sedang berbicara dengan seorang pria yang bisa memberinya perlindungan atau seseorang yang tak segan-segan menghancurkannya.
Nathan berjalan ke jendela besar yang menghadap ke kota, matanya menatap ke luar dengan tatapan kosong. "Ada banyak hal yang sedang terjadi, Dinda. Hal-hal yang tidak bisa kamu bayangkan. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun merusaknya."
Nayla tidak tahu apa yang dimaksud Nathan, tetapi ia merasakan aura bahaya yang begitu kental. Apakah ia harus tetap tinggal di sini dan berjuang untuk bertahan hidup, atau pergi dan menghadapi dunia luar yang sama berbahayanya?
"Jadi, apa yang harus aku lakukan?" tanyanya akhirnya, suaranya hampir terdengar putus asa.
Nathan tidak langsung menjawab. Ia berbalik, matanya yang tajam menatap Nayla. "Kamu harus mulai bermain dengan aturan ini," jawabnya dengan tegas. "Dan jika kamu ingin bertahan, kamu harus belajar untuk mempercayai aku."
Nayla tidak tahu apakah ia bisa mempercayai Nathan. Namun, satu hal yang ia tahu pasti: hidupnya sekarang berada di tangan pria ini. Ia hanya bisa berharap bahwa ia memilih jalan yang benar, meskipun jalan itu penuh dengan kegelapan dan ketidakpastian.
"Aku tidak punya pilihan lain, kan?" gumam Nayla, matanya mulai mengabur oleh air mata yang tak bisa ia tahan lagi.
Nathan menghela napas, kemudian berjalan mendekat dan menatapnya dengan tatapan yang lebih lembut. "Kadang-kadang, pilihan kita terbatas. Tapi kau masih punya kesempatan untuk memilih jalanmu, Dinda."
Mungkin itu kata-kata yang ia butuhkan. Atau mungkin hanya sebuah janji kosong. Tetapi Nayla tahu satu hal: hidupnya kini bergantung pada pria ini, dan dia harus siap menghadapi apa pun yang datang.
Dan meskipun ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, satu hal yang pasti-hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Bagaimana menurutmu sejauh ini?