Wulan mendongak dan menatap dokter itu dengan tajam. Dia balik bertanya pada dokter itu, "Kamu yang memeriksa adikku? Katakan padaku, kenapa tiba - tiba dia seperti ini? Siapa yang membawa kami ke sini?" cecarnya.
Dokter itu tidak berani menatap Wulan , dia melihat ke arah dokter yang lebih tua untuk minta bantuan. Tadi sekilas dia menatap Wulan seperti ada kengerian di mata Wulan, jadi dia cepat - cepat memalingkan wajahnya.
Dokter Chen yang terlihat paling tua di antara ketiganya melihat ke arah Wulan dan berkata, "Nona, tolong Nona tenang dulu. Saya akan menjelaskan keadaan adik nona saat ini."
Setelah berhenti sebentar, dia lanjut berbicara,
"Begini Nona, tadi malam anda dan adik anda dibawa ke rumah sakit ini dalam keadaan tak sadarkan diri. Saya cuma mendapatkan informasi bahwa Nona berdua ditemukan oleh seseorang di pinggir jalan, lalu dia bergegas menelepon ambulans."
"Lalu menurut Dokter Chen, kenapa adik saya belum siuman sedangkan saya lebih dulu bangun?" tanya Wulan.
Mendengar Wulan menanyakan kondisi adiknya, Dokter Chen menghela napas dan berkata,
"Menurut hasil pemeriksaan kami, adik nona menderita penyumbatan pembuluh darah di otaknya. Kami memang menunggu keluarganya untuk konsultasi, karena jalan satu - satunya adalah operasi, tapi karena resikonya tinggi, kami perlu berkonsultasi dulu."
Wulan menatap adiknya yang terbaring di ranjang dengan pandangan kosong. Setelah beberapa saat, dia bertanya pada Dokter Chen, "Boleh saya masuk dan memeriksa adik saya sebentar?"
Dokter Chen tampak mengerutkan alisnya, dia tampak ragu - ragu untuk memberi keputusan. Akhirnya dengan berat hati dia menganggukkan kepalanya.
Tidak menunggu lama, Wulan berlari memasuki ruang ICU. Dia memeriksa nadi di pergelangan tangan adiknya.
Setelah beberapa saat dia melepaskan pergelangan tangan Mulan dan ganti melihat seluruh tubuhnya.
Dokter muda yang tadi membentak Wulan mencibir dan berbicara dengan suara pelan. " Cih ! Lagaknya seperti orang yang tahu ilmu medis. Dokter Chen yang pengalaman saja tidak optimis dengan kondisi gadis itu.."
Di dalam, setelah mengamati keadaan adiknya, Wulan menarik napas panjang.
Tiba - tiba, tidak tahu dari mana asalnya, sewaktu Wulan melambaikan tangannya, enam jarum berwarna keemasan melesat ke tubuh Mulan.
Syuut..syut..
Ketiga dokter yang ada di luar langsung membelalakkan mata. Dokter muda itu langsung berlari ke dalam ruangan dan berteriak, "Apa yang kamu lakukan? Dasar bajingan… !!" raungnya.
Sebelum dia sempat masuk ke dalam, Wulan mengibaskan lengan bajunya ke arah pintu.
Wussh..
BRAKK !!
Pintu itu langsung tertutup dengan keras. Wulan memalingkan wajahnya kembali ke arah Mulan.
"Sisa tiga jarum..bertahanlah, Lan.." bisiknya.
Syuut Syuut Syuut…
Begitu Wulan melambaikan tangannya, tiga jarum keemasan kembali terbang ke arah Mulan.
Satu jarum di dada, satu di tengah dahi dan satu lagi di atas kepala Mulan.
Wulan melakukan gerakannya dengan cepat. Orang yang tidak mengerti mengira dia sedang menari.
Kini dia berkonsentrasi penuh dan mengalirkan energi Chi dari dantiannya ke seluruh meridiannya.
Setelah aliran energi itu sampai ke tangannya, Dia mengarahkan telapak tangannya ke atas jarum - jarum itu.
Seperti dikomando, jarum - jarum itu bergetar sendiri satu per satu dan berputar.
Ketiga dokter yang melihat gerakan Wulan, semua tercengang dan diam mematung.
"Luar biasa ! Gadis ini bukan orang sembarangan," gumam Dokter Chen, memecah kesunyian.
"Huh! luar biasa apanya Guru. Lihat saja gayanya seperti orang kesurupan," kata dokter muda itu mencemooh Wulan.
Dokter Chen yang mendengar ucapan dokter muda itu menjadi geram. Dia langsung menghardik dokter muda itu. "Diam!! apa kamu tahu yang dipraktekkan gadis itu? Itu ilmu akupunktur kuno yang telah hilang."
"Hah? Apa Dokter Chen mengetahui teknik akupunktur juga?" tanya dokter satunya yang diam sedari tadi.
Dokter Chen menghela napas panjang, kemudian dia berkata, "Aku dulu pernah sempat mempelajarinya sedikit sewaktu masih muda. Dari salah satu buku peninggalan kitab medis kuno yang pernah kupelajari, kalau tidak salah, teknik yang digunakan gadis itu adalah teknik Sembilan Jarum Surgawi yang lengkap."
Kembali ke situasi dalam ruang ICU.
Wulan mengerahkan tenaga dalamnya secara konstan ke sembilan jarum yang tertancap di tubuh dan kepala Mulan.
Kalau diamati dari dekat, setiap jarum itu akan mengeluarkan asap tipis dari ujungnya.
Ketika dirasa cukup, Wulan mengangkat telapak tangannya dari atas jarum - jarum itu, dan mencabutnya satu per satu sesuai kebalikan urutan waktu jarum itu ditancapkan.
Saat Mulan mencabut ketiga jarum terakhir, dia melakukannya dengan hati - hati.
Kini tinggal satu jarum yang ada di atas kepala Mulan. Wulan memutar jarum itu tiga kali ke kanan, kemudian dua setengah putaran ke kiri.
Huekk !
Mulan yang semula tertidur, langsung bangun dan memuntahkan darah berwarna hitam dari mulutnya.
Wulan langsung menahan tubuh Lanlan agar tidak jatuh. Dia bertanya pada adiknya,"Lan, bagaimana kondisimu? apa sudah merasa enakan?"
Mulan dengan napas terengah - engah menatap wajah kakaknya. Dia berkata dengan suara yang lemah. "Kak Wulan…apa kita sudah tiba dengan selamat kak?"
Wulan melepas respirator dari hidung Lanlan agar dia bisa leluasa bergerak. Dia membiarkan Mulan bernapas tanpa respirator, supaya dia bisa beradaptasi dengan bernapas seperti biasa.
"Bagaimana, Lan? apa kamu sudah bisa bernapas normal?" tanya Wulan dengan lembut.
Mulan mengangguk dan berkata, "Kakak, aku mau minum. Tenggorokanku rasanya kering."
Wulan melihat sekitarnya tapi tidak menemukan minum. Ketika dia akan keluar untuk minta air minum pada perawat tadi, Dokter Chen dan dua asistennya masuk bersama perawat tadi.
Dia tidak menghiraukan Dokter Chen, tetapi berkata pada perawat itu, "Kakak, bisa tolong carikan air minum untuk adikku?"
"Oh ba..baik, Nona. Tunggu sebentar !" jawab perawat itu gelagapan. Dia masih trauma membayangkan kemarahan Wulan tadi.
Perawat itu bergegas lari keluar untuk mencari air minum.
Baru saat itulah Wulan menyapa Dokter Chen dengan hormat. "Maaf Dokter Chen, karena saya telah bersikap tidak sopan tadi karena panik. Sekaligus saya ingin berterima kasih pada Dokter Chen karena memberikan saya waktu untuk memeriksa adik saya." Wulan menundukkan kepalanya untuk memberi hormat kepada Dokter Chen.
Dokter Chen tersenyum mendengar ucapan . Dia juga berkata, "Tidak apa - apa Nona. Saya bisa memaklumi keadaan anda. Tapi boleh kami memeriksa kondisi adik nona nanti untuk memastikan kesembuhannya? Saya minta maaf, itu prosedur yang harus kami jalankan."
Wulan langsung menjawab, "Tentu saja Dokter Chen, saya juga ingin memastikan apa ada yang terlewatkan dari pemeriksaan saya, meskipun saya yakin kalau adik saya sudah sembuh."
"Ha ha ha Nona ini hanya terlalu merendah saja…" ucap Dokter Chen setelah tertawa keras.
Percakapan itu terhenti karena perawat sudah membawakan sebotol air mineral dan gelas untuk Mulan.
Sementara perawat itu melayani Mulan, Dokter Chen menggunakan kesempatan untuk bertanya pada Wulan."Maaf Nona kalau saya lancang.Tapi saya lihat dari luar tadi, apa anda menggunakan teknik akupunktur Sembilan Jarum Surgawi yang legendaris untuk mengobati adik nona?"
Wulan langsung menatap mata Dokter Chen, Dia balik bertanya, "Oh ternyata Dokter Chen juga mengenal teknik itu? Apa teknik itu bagus? "
Dokter Chen berbinar - binar matanya setelah Wulan mengkonfirmasi tebakannya. " Terima kasih Dewa…Akhirnya saya bisa mendapat kesempatan untuk menyaksikan versi lengkap teknik Sembilan Jarum Surgawi itu!"
Wulan mengerutkan alisnya ketika mendengar kata - kata yang diucapkan Dokter Chen. Karena penasaran, dia bertanya pada Dokter Chen, "Maaf Dokter, apa maksud anda dengan berkata versi lengkap teknik itu? Setahu saya tekniknya hanya satu macam tadi saja,"
"Heeh..20 tahun lalu saya bertemu dengan seorang petapa tua di gunung. Karena saya pernah memberinya makanan pada waktu itu, sebagai balasan dia mengajarkan teknik Sembilan Jarum Surgawi kepada saya. Tetapi petapa itu hanya mengajarkan enam jarum saja. Dia berkata pada saya, kalau saya berjodoh saya akan bisa mempelajari tiga jarum terakhir. Setelah 20 tahun, akhirnya petapa tua itu benar - benar menepati janjinya," ucap Dokter Chen seraya mengenang kejadian itu.
"Tunggu dulu! Apa yang Dokter Chen maksud seorang petapa tua berjenggot putih dan memakai pakaian berwarna biru penuh tambalan?" tanya Wulan bersemangat.
"Hah? Iya, iya betul. Dia memakai pakaian dengan tambalan di mana - mana. Apa anda pernah bertemu dengannya?" jawab Dokter Chen tidak kalah senang.
Dia membayangkan akan bertemu dengan petapa itu lagi. Jadi dia sangat antusias.
Mendengar jawaban Dokter Chen, wajah Wulan berubah menjadi sedih dan pandangannya kosong. Dia baru sadar ketika Dokter Chen memanggilnya beberapa kali.
"Nona, Nona…! Anda kenapa? Apa anda baik - baik saja?" tanya Chen Sui dengan ekspresi wajah cemas.
"Hah? Oh tidak apa - apa. Saya hanya mengenang masa lalu saya," ucap Wulan.
Karena Chen Sui tidak menjawab, Wulan melanjutkan percakapan mereka.
"Petapa tua itu adalah Bai Sun namanya, Dia adalah Guru kami. 20 tahun yang lalu dia yang membesarkan kami," lanjut Wulan sambil mengingat masa lalunya bersama gurunya.
"Apakah kalian adalah murid petapa tua itu? Tidak heran.." Informasi yang dikatakan Wulan membuat Chen Sui terkejut sekaligus kagum.
Saat ini Chen Sui teringat sesuatu. Dia bertanya pada Wulan. "Hmm..begini Nona. Saya ingin minta tolong pada anda, kalau anda tidak merasa keberatan."
Wulan tersenyum dan berkata,"Saya tidak tahu apa yang Dokter butuhkan. Selama saya mampu, saya bersedia memberi bantuan." ujarnya.
Mendengar kata - kata yang diucapkan Wulan, Chen Sui ikut lega kalau Wulan mau membantunya. Selama ini dia sudah putus asa untuk mengobati pasien ini.
Dia pun mulai bercerita tentang kesulitannya kepada Wulan, sebab dia yakin selama Wulan bersedia membantu, pasien ini akan bisa diselamatkan.
"Begini ceritanya Nona, tiga bulan lalu saya kedatangan pasien yang menderita kanker hati stadium tiga. Saya sudah berusaha mengobati pasien ini dengan segala cara yang saya mampu. Tapi karena keterbatasan kemampuan saya sehingga sampai sekarang pasien tersebut masih koma." Dokter Chen menggelengkan kepala karena tak berdaya.
"Oh memangnya separah itu penyakitnya?" tanya Wulan terkejut.
"Itulah yang saya ingin minta bantuan anda untuk memeriksanya. Jangan khawatir soal biayanya, Nona. Tuan Ye tidak peduli soal uang selama ayah beliau bisa disembuhkan!" ujar Chen Sui sambil tersenyum simpul.
"Siapa namanya? Coba Dokter ulangi siapa nama pasien Dokter Chen yang ingin diobati?" tanya Wulan tampak bersemangat.