Bab 2

Suara pintu kamar tertutup pelan, tapi menggema di kepala Dimas seperti ledakan. Ia terduduk di sofa, tubuhnya lemas, pandangannya kosong menatap lantai marmer dingin.

Hening.

Kecuali detak jam dinding dan suara isak pelan dari kamar.

Di dalam kamar, Sarah memeluk bantal gulingnya erat-erat. Air matanya membasahi sarung bantal. Ia mencoba menahan isak, takut Dimas mendengarnya, tapi emosi yang selama ini ia bendung akhirnya jebol. Tangisnya pecah.

Hamil bukan perkara mudah. Sendiri, apalagi. Sejak awal trimester kedua, Sarah mulai merasa Dimas menjauh. Dulu, Dimas rajin menemaninya kontrol kandungan, memijat punggungnya saat ia merasa sakit, memasak makanan sehat, bahkan memijat kakinya sebelum tidur. Tapi sekarang... kehangatan itu lenyap.

Semuanya berubah sejak Citra datang kembali dari luar kota.

**

Citra adalah sahabat Sarah sejak SMA. Mereka berbagi banyak hal-rahasia, kesedihan, impian, bahkan Dimas. Namun, dulu Sarah pikir, Citra tak pernah tertarik pada Dimas. Mereka bertiga akrab seperti keluarga. Tapi ternyata, keakraban itu menjelma menjadi racun yang perlahan merusak segalanya.

Flashback tiga bulan lalu masih membekas kuat.

"Sar, boleh nggak aku nginep di sini beberapa hari? Aku baru pindah kerja ke Jakarta dan belum dapet kos."

Citra muncul di depan pintu apartemen dengan senyum manis dan koper besar. Sarah senang, tentu saja. Ia bahkan memeluk Citra sambil tertawa. "Akhirnya! Aku kangen banget sama kamu! Masuk, Cit! Jangan jadi tamu. Rumah ini rumah kamu juga."

Dimas juga tersenyum menyambut, memberi pelukan singkat. Tapi di situlah awal semuanya berubah.

Malam-malam selanjutnya, Sarah sering bangun karena melihat Dimas tidak di tempat tidur. Saat ia mencari, suaminya sedang duduk di ruang tengah, ngobrol dengan Citra sambil tertawa pelan.

"Kami cuma ngobrol soal kerjaan dan teman lama, Sar. Kamu jangan suuzon terus."

Sarah mencoba percaya.

Tapi kepercayaan itu perlahan terkikis.

**

Pagi ini, setelah malam penuh tangis, Sarah memberanikan diri bangun lebih awal. Ia menyiapkan sarapan sederhana-telur rebus, bubur oatmeal, dan teh hangat. Bukan karena ingin menyenangkan hati Dimas. Tapi karena bayinya membutuhkan nutrisi.

"Sar..." suara berat Dimas terdengar dari belakang.

Sarah diam. Tak menoleh. Ia fokus pada piring di depannya.

"Maaf soal semalam... Aku-aku bingung harus bagaimana. Aku nggak mau kehilangan kamu, tapi-"

"Tapi kamu juga nggak mau melepaskan Citra." Potong Sarah datar. Ia menoleh pelan, wajahnya lelah. "Kamu udah bilang itu. Jadi gak usah diulang."

Dimas menghela napas. "Dia nggak punya siapa-siapa. Ayahnya baru meninggal. Kamu tahu dia depresi. Aku cuma pengen bantu."

Sarah berdiri. "Kalau kamu mau bantu, bantu dari jarak yang sehat. Kamu suami orang, Mas. Dan dia tahu itu. Tapi dia tetap cari perhatian kamu. Itu bukan sekadar 'teman'."

"Kamu terlalu cepat menilai. Kamu gak tahu apa-apa soal Citra."

"Justru aku tahu terlalu banyak, Mas. Aku tahu dia sering pakai parfumku. Aku tahu dia pernah ngintip isi kamar kita. Aku tahu dia mulai ikut gaya bicaraku depan kamu. Kamu pikir aku gak sadar?"

Dimas terdiam. Kali ini ia tak bisa membantah.

"Aku akan ke rumah Mama minggu ini. Aku butuh waktu mikir. Jangan hubungi aku dulu."

Sarah mengambil tasnya, lalu pelan-pelan membuka pintu apartemen.

"Kamu mau ninggalin rumah ini?"

"Ini bukan rumah, Mas. Ini tempat pertarungan. Dan aku capek."

**

Mobil taksi online membawanya ke kawasan Bekasi, tempat ibunya tinggal. Sepanjang jalan, Sarah diam menatap ke luar jendela. Jakarta yang ramai mendadak terasa asing. Ia menahan perasaan perih yang berkecamuk, mencoba tenang demi bayinya.

Setibanya di rumah, Bu Rini menyambut dengan pelukan hangat.

"Kamu kurusan, Nak. Ada apa? Dimas gimana? Kok gak bareng?"

Sarah hanya memeluk ibunya erat, lalu menangis lagi.

**

Malamnya, setelah makan malam sederhana, Sarah duduk di teras. Tangannya mengusap pelan perutnya yang semakin besar.

"Nak, kamu tahu Ibu gak akan pernah ikut campur rumah tangga kamu. Tapi kalau kamu udah kayak gini, Ibu tahu kamu pasti udah gak kuat."

"Aku capek, Bu... capek berusaha sendiri. Aku pikir pernikahan itu saling. Tapi ternyata enggak."

Bu Rini menatap langit, lalu berkata pelan, "Kadang perempuan harus memilih bukan antara bertahan atau pergi. Tapi antara mencintai orang lain atau mencintai dirinya sendiri lebih dulu."

Kalimat itu menusuk hati Sarah. Benar. Selama ini ia selalu menomorsatukan Dimas. Bahkan saat Dimas mulai berubah, ia tetap berusaha menjaga. Tapi apa gunanya kalau dirinya sendiri terus terluka?

**

Hari-hari di rumah ibunya membuat Sarah sedikit tenang. Ia mulai menulis jurnal kehamilan lagi, memotret perutnya, bahkan rutin berjalan pagi.

Namun, di balik semua itu, Dimas tetap mencoba menghubungi. Puluhan pesan dan panggilan tak pernah ia balas. Sampai satu pesan dari Citra muncul:

"Sarah... aku mohon maaf. Aku gak pernah niat merebut Dimas darimu. Tapi aku gak bisa bohong... aku jatuh cinta. Maaf. Aku akan pergi dari hidup kalian."

Sarah membaca pesan itu sambil gemetar. Tangannya mengepal.

Cinta?

Sejak kapan rasa cinta bisa membenarkan penghianatan?

Belum sempat ia membalas, telepon dari nomor tak dikenal masuk. Sarah ragu mengangkat, tapi akhirnya ditekan juga.

"Halo?"

"Ini aku, Citra... maaf aku ganggu. Aku... aku udah di bandara. Aku mau pindah ke Bali. Aku gak tahan lagi. Aku tahu aku salah, dan aku harap kamu dan Dimas bisa bahagia tanpa aku."

Sarah terdiam.

"Kamu tahu kamu salah, tapi kamu tetap terus mendekat ke suami orang? Di mana logikanya, Cit?"

"Aku... aku cuma kesepian, Sar. Aku butuh seseorang. Dan Dimas ada di sana. Dia baik, dia dengar aku... aku gak pernah niat..."

"Tapi kamu tetap lakukan, Cit. Sahabat gak menusuk dari depan dan belakang sekaligus."

Suara Citra terdengar sesenggukan.

"Aku minta maaf. Tapi aku juga mencintainya..."

Klik.

Sarah menutup telepon. Tangannya dingin, tapi matanya tajam.

Cinta seharusnya bukan alasan untuk menyakiti orang lain.

**

Minggu ketiga di rumah ibunya, Dimas datang. Ia berdiri di depan pagar, menenteng koper dan wajah lelah.

"Aku udah gak komunikasi sama Citra. Dia udah pergi. Aku salah, Sar. Aku sadar. Aku bodoh karena gak jaga kamu dan bayi kita. Tapi aku mau berubah. Kalau kamu masih mau terima aku..."

Sarah berdiri di ambang pintu. Ia tak langsung menjawab.

"Aku gak tahu bisa percaya lagi atau tidak. Luka ini dalam, Mas. Aku gak bisa cuma denger kata 'maaf' dan tiba-tiba sembuh."

"Aku ngerti... tapi aku akan tunggu. Aku akan buktikan. Tiap hari, tiap detik. Aku akan tebus semuanya. Asal kamu izinkan aku mulai dari awal."

Hening menggantung di antara mereka.

Sarah menatap mata suaminya, mencari jejak kebohongan atau kejujuran. Ia tak menemukan jawaban pasti. Tapi satu hal yang ia tahu, dia tak bisa terburu-buru mengampuni, tapi juga tak ingin membiarkan luka itu menelan hidupnya.

"Kalau kamu serius... kamu bisa mulai dengan temani aku kontrol kandungan besok. Tapi jangan bilang apapun dulu. Aku belum siap."

Dimas mengangguk.

"Apa pun. Aku akan lakukan."

**

Di ruang tunggu klinik kehamilan, untuk pertama kalinya dalam dua bulan, Sarah dan Dimas duduk berdampingan. Tak ada kata manis, tak ada pelukan. Hanya keheningan yang hangat, dan tatapan Dimas yang terus tertuju pada layar monitor saat suara detak jantung bayinya menggema.

Sarah menoleh, melihat mata Dimas berkaca-kaca.

"Itu... anak kita, ya?" bisiknya lirih.

Sarah tak menjawab. Tapi untuk pertama kalinya, hatinya sedikit lebih ringan.

**

Namun, apakah luka akan benar-benar sembuh?

Atau cinta hanyalah tambalan yang cepat lepas saat badai datang kembali?

Sarah belum tahu. Tapi ia akan berjalan perlahan. Untuk dirinya. Untuk bayinya.

Dan untuk kehidupan yang masih panjang.

Bab 3

Sarah menarik napas panjang saat melihat wajah Dimas di sampingnya, di dalam ruang tunggu klinik. Ia masih sulit mempercayai bahwa pria yang pernah membuatnya merasa tak berarti kini kembali duduk di sana, mencoba merajut keping-keping yang telah hancur.

"Kamu lapar?"

Dimas bertanya pelan sambil menoleh padanya.

Sarah mengangguk. "Sedikit. Tapi aku mau makan yang hangat, bukan nasi kotak kayak terakhir kali."

"Mau bubur ayam? Aku tahu tempat enak, deket sini."

Dimas tersenyum kecil.

Sarah tak menjawab langsung. Ia hanya berdiri, merapikan jaket tipisnya, lalu melangkah keluar klinik. Dimas mengikuti di belakang, seperti seorang murid yang sedang menunggu izin dari gurunya.

**

Mereka duduk di sebuah warung sederhana, di bawah tenda plastik dengan bangku panjang dari kayu. Aroma bubur mengepul, menambah kehangatan suasana.

Sarah makan perlahan. Dimas hanya menatap, lalu akhirnya berkata, "Sar, aku tahu ini gak akan mudah. Tapi setiap hari aku akan ada buat kamu. Bukan cuma karena aku merasa bersalah... tapi karena aku gak bisa bayangin hidup tanpa kamu dan anak kita."

Sarah mengangkat wajahnya. Matanya lelah, tapi tatapannya mulai terbuka.

"Aku gak butuh janji, Mas. Aku butuh bukti. Kalau kamu tetap setia bukan hanya saat aku terluka, tapi juga saat aku kuat dan bisa berjalan sendiri. Karena kalau nanti aku sembuh dan kamu malah berubah lagi... aku gak akan kasih kesempatan ketiga."

Dimas mengangguk. "Aku ngerti. Aku akan buktikan."

**

Minggu-minggu berikutnya berjalan pelan. Dimas mencoba berubah. Ia mulai bangun pagi, menyiapkan sarapan, mengantar Sarah ke kontrol, bahkan menuliskan jurnal tentang calon bayinya.

Namun, luka di hati Sarah belum benar-benar kering.

Kadang saat malam, saat Dimas tertidur, Sarah hanya bisa menatap langit-langit kamar sambil bergumam dalam hati:

"Bisakah aku percaya lagi? Atau aku hanya takut sendirian?"

**

Suatu sore, Sarah duduk di taman kecil dekat rumah ibunya. Ia membawa buku jurnal, menulis beberapa kalimat tentang usia kandungannya yang masuk minggu ke-33.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar.

Pesan dari nomor tak dikenal.

"Sarah, ini Citra. Maaf aku ganggu lagi. Aku gak minta kamu balas. Aku cuma mau bilang aku beneran pergi dari Jakarta. Aku ikut komunitas relawan di Bali. Hidupku sekarang jauh dari hiruk pikuk. Tapi aku masih merasa bersalah. Kadang aku masih mimpiin kamu dan Dimas. Maaf ya... aku doakan kamu bahagia."

Sarah menatap layar lama. Emosinya bercampur. Benci, kecewa, sekaligus iba.

Ia tidak membalas.

Tapi malam itu, ia menulis di jurnalnya:

"Memaafkan bukan berarti melupakan. Tapi aku ingin tidur malam ini tanpa dendam di dadaku."

**

Saat kehamilannya masuk bulan ke-9, Sarah akhirnya memutuskan untuk pulang ke apartemen bersama Dimas.

Suasana canggung masih menyelimuti mereka, tapi ada kemajuan. Sarah mulai berbagi cerita, Dimas lebih banyak mendengar. Mereka bahkan mulai tertawa lagi meski masih canggung.

Suatu malam, saat mereka duduk berdua menonton film dokumenter kehamilan, Dimas tiba-tiba memegang tangan Sarah.

"Aku tahu aku belum sepenuhnya dimaafkan. Tapi aku merasa diberi kesempatan kedua itu seperti diberi hidup baru."

Sarah menoleh pelan. "Kamu gak akan punya kesempatan ketiga. Ingat itu."

"Aku tahu. Dan aku gak akan sia-siain yang ini."

**

Hari persalinan semakin dekat. Sarah mulai panik-bukan karena rasa sakit atau proses melahirkan, tapi karena pikirannya berkelana jauh.

Bagaimana kalau Dimas berubah setelah anak ini lahir? Bagaimana jika ia ditinggal lagi?

Apakah ia akan cukup kuat jika sendirian?

"Sar, kamu kenapa? Wajah kamu pucat banget."

Dimas bertanya cemas saat melihat Sarah terduduk diam di sofa.

"Aku takut, Mas. Aku takut kamu balik lagi jadi Dimas yang dulu. Aku takut kamu lelah dengan aku yang penuh luka."

Dimas jongkok di hadapannya, menatap mata istrinya.

"Aku juga takut. Tapi aku lebih takut kehilangan kesempatan jadi ayah yang baik. Suami yang benar. Aku udah lihat kamu berjuang. Kamu bahkan kuat di saat aku lemah. Sekarang gantian aku yang kuat. Untuk kamu. Untuk anak kita."

Sarah menangis. Tapi kali ini tangisnya bukan karena luka.

Tapi karena harapan.

**

Saat kontraksi pertama datang, Dimas mengantar Sarah ke rumah sakit dengan panik. Ia memegang tangan Sarah selama seluruh proses pembukaan. Bahkan saat dokter mengatakan harus dilakukan operasi karena posisi bayi melintang, Dimas menolak untuk meninggalkan ruang tunggu.

Jam demi jam berlalu.

Akhirnya, tangisan bayi terdengar.

Seorang bayi perempuan lahir ke dunia dengan sehat dan sempurna.

"Selamat ya, Pak. Putrinya cantik. Ibu dan bayinya dalam kondisi stabil."

Dimas mengusap air matanya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia menangis bukan karena sedih. Tapi karena penuh.

**

Beberapa jam kemudian, saat Sarah sudah di ruang pemulihan, Dimas duduk di sisinya, membawa bayi mereka dalam selimut putih kecil.

"Dia mirip kamu. Tapi matanya kayak aku. Namanya siapa, Sayang?"

Sarah tersenyum lemah.

"Namanya Alya. Dari bahasa Arab, artinya 'yang mulia'. Karena dia lahir dari luka yang kita ubah jadi kekuatan."

Dimas mengecup kening Sarah. "Terima kasih sudah bertahan, Sar. Terima kasih masih mau jadi rumah buat aku dan Alya."

Sarah menatap wajah suaminya dan anak mereka. Untuk pertama kalinya, ia merasa utuh kembali. Bukan karena luka itu hilang, tapi karena ia memutuskan untuk hidup berdampingan dengan luka, lalu menumbuhkan cinta di atasnya.

**

Namun hidup tak selalu memberi jeda panjang.

Sebulan setelah kelahiran Alya, Sarah menerima surat panggilan kerja dari sebuah perusahaan media besar. Ia sempat melamar dulu saat masih hamil, dan tak menyangka akan dipanggil.

"Mas, kalau aku kerja lagi, kamu keberatan gak?"

Dimas menggeleng. "Sama sekali enggak. Aku bisa bantu jagain Alya kalau kamu kerja dari rumah dulu. Aku juga bisa cari pengasuh terpercaya. Tapi kalau kamu belum siap, gak usah dipaksain."

Sarah menatap bayinya yang tertidur lelap.

"Aku mau kerja bukan karena uang. Tapi karena aku gak mau kehilangan diriku sendiri lagi. Dulu aku terlalu larut dalam peran istri sampai lupa siapa aku. Kali ini, aku mau hidup sebagai perempuan utuh. Ibu, istri, dan juga Sarah yang punya impian."

Dimas memeluknya.

"Kamu punya hak atas semua itu. Dan aku akan dukung sepenuhnya."

**

Beberapa bulan kemudian, rumah mereka mulai terisi tawa. Alya tumbuh sehat, Sarah mulai bekerja dari rumah dan sesekali ke kantor, Dimas benar-benar berubah. Bukan sempurna, tapi nyata. Ia belajar memasak MPASI, mengganti popok, bahkan belajar tentang emosi pascamelahirkan yang dialami Sarah.

Namun, luka masa lalu tak benar-benar hilang. Kadang masih muncul dalam mimpi Sarah. Tapi kini, ia tahu, luka itu tak lagi berkuasa atasnya.

Suatu malam, saat mereka bertiga duduk di teras sambil mendengar suara jangkrik dan memandangi langit malam, Sarah berkata pelan,

"Mas, kalau waktu bisa diputar ulang, kamu tetap akan memilih aku?"

Dimas mencium jemari istrinya.

"Akan aku pilih seribu kali. Bahkan kalau hidup memberiku jalan lain, aku akan tetap cari jalan balik ke kamu."

Sarah mengangguk. Ia percaya bukan karena kata-kata itu indah, tapi karena kini Dimas membuktikannya setiap hari.

**

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Sarah bisa mengatakan pada dirinya sendiri:

"Aku pernah hancur. Tapi aku bangkit. Aku pernah kehilangan, tapi aku menemukan lagi. Aku pernah terluka, tapi aku tidak membiarkan luka itu membusuk. Aku memilih sembuh. Aku memilih hidup."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED