Althea tidak lagi sama. Sejak mengetahui rahasia besar Lucas, pandangannya terhadap dunia berubah total. Ia tidak lagi melihat rumah besar mereka sebagai tempat perlindungan, melainkan sebagai sangkar emas yang mengekang.
Setiap langkah Lucas di dalam rumah itu membuatnya merasa terancam. Setiap senyuman yang pria itu berikan hanya menambah luka.
Namun, di balik kepura-puraannya, Althea semakin kuat. Ia tahu ia harus bermain hati-hati. Lucas bukan hanya suami yang berkhianat-ia adalah pria berbahaya dengan rahasia besar yang bisa menghancurkan siapa pun yang mencoba melawannya.
Suatu pagi, Althea sedang menyiapkan sarapan ketika Lucas masuk ke dapur dengan ekspresi serius. Tidak ada senyum hangat seperti biasanya.
"Thea," panggilnya datar.
Althea menoleh, berusaha tetap terlihat tenang. "Ya, sayang? Sarapan hampir siap."
Lucas menatapnya lama, seakan mencoba membaca isi pikirannya. "Kamu akhir-akhir ini sering keluar. Katanya belanja, katanya ketemu teman. Tapi aku nggak pernah lihat tas belanja atau barang baru. Kamu sebenarnya pergi ke mana?"
Jantung Althea berdegup kencang. Tangannya yang memegang spatula hampir gemetar. Tapi ia menegakkan bahu, lalu tersenyum samar. "Aku memang belanja, tapi lebih banyak untuk kebutuhan dapur. Kalau teman... aku cuma butuh udara segar, Lucas. Aku nggak mau terus-terusan di rumah."
Lucas tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Althea. Nafas hangatnya terasa di tengkuknya, membuat bulu kuduk meremang.
"Kamu nggak menyembunyikan sesuatu dari aku, kan?" bisiknya pelan, tapi nadanya tajam.
Althea menelan ludah. Ia menahan diri untuk tidak gemetar, lalu membalikkan badan dan menatap mata Lucas. "Kenapa aku harus menyembunyikan sesuatu? Aku istrimu, Lucas. Aku di sini, untuk kamu."
Mata Lucas tetap menelisik, tapi akhirnya ia tersenyum tipis dan mencium keningnya. "Bagus kalau begitu. Jangan pernah bohong sama aku, Thea."
Althea hanya mengangguk, meski dalam hati ia berkata: Kamu sudah berbohong selama tiga tahun, Lucas. Dan sebentar lagi... giliranmu yang akan merasakan rasanya.
Setelah Lucas pergi ke kantor, Althea duduk lama di ruang kerja. Tangan kirinya menggenggam flashdisk berisi semua bukti, sementara tangan kanannya memegang ponsel. Ia ingin sekali langsung menyerahkan semuanya ke polisi, tapi ia tahu itu terlalu berbahaya.
Ia butuh strategi.
Maka, ia kembali menghubungi Adrian.
"Adrian, aku butuh ketemu lagi. Malam ini, kalau bisa."
Suara Adrian terdengar tegas dari seberang. "Baik, Thea. Aku tunggu di tempat biasa."
Malam itu, Althea mengenakan mantel panjang untuk menyamarkan diri. Ia naik taksi, bukan mobil pribadinya, agar tidak meninggalkan jejak. Sesampainya di kafe, ia langsung melihat Adrian yang duduk di pojok, wajahnya serius.
"Althea," sambut Adrian, berdiri dan menarik kursi untuknya. "Aku senang kamu datang."
Althea tersenyum tipis, lalu menyerahkan flashdisk. "Ini semua bukti yang aku temukan di laptop Lucas. Transaksi, dokumen, semuanya. Aku nggak tahu harus diapakan."
Adrian menerima dengan hati-hati. "Aku akan cek ini lebih dalam. Tapi, Thea..." Ia menatapnya penuh khawatir. "Kamu harus sadar, semakin banyak bukti yang kamu kumpulkan, semakin besar risiko yang kamu hadapi. Kalau Lucas tahu-"
"Aku tahu," potong Althea, suaranya dingin. "Tapi aku nggak peduli lagi, Adrian. Dia sudah menghancurkan hidupku. Aku nggak mau terus jadi korban."
Adrian terdiam, menatap dalam ke mata Althea. "Kamu berubah. Dulu kamu lembut, mudah percaya. Sekarang... aku lihat ada api di mata kamu."
Althea tersenyum getir. "Api yang dia nyalakan sendiri."
Setelah pertemuan itu, Althea pulang dengan hati campur aduk. Ada ketakutan, tapi juga kekuatan baru. Ia tahu Adrian bisa dipercaya-setidaknya untuk saat ini.
Namun, malam itu ia hampir saja ketahuan.
Begitu ia masuk rumah, Lucas sudah menunggunya di ruang tamu dengan wajah datar.
"Kamu dari mana?" tanyanya tanpa basa-basi.
Althea tercekat, tapi segera menenangkan diri. "Aku jalan-jalan sebentar. Bosan di rumah."
Lucas menatapnya lama, lalu bangkit dan mendekat. "Jalan-jalan? Malam-malam begini?"
Althea berusaha tersenyum. "Aku butuh udara segar. Kamu kan tahu aku nggak betah kalau terus di dalam rumah."
Lucas menghela napas, lalu memeluknya erat. "Kamu jangan bikin aku khawatir, Thea. Aku nggak mau kehilangan kamu."
Kata-kata itu terdengar manis, tapi bagi Althea, pelukan itu lebih seperti belenggu. Ia menutup mata, menahan tangis. Dalam hati ia berbisik: Kamu sudah kehilangan aku sejak lama, Lucas.
Hari-hari berikutnya, kecurigaan Lucas makin terasa. Ia sering tiba-tiba menelepon Althea di siang hari, menanyakan keberadaannya. Kadang ia pulang lebih cepat dari biasanya, seolah ingin memergoki sesuatu.
Althea harus semakin hati-hati. Ia mulai menyembunyikan ponselnya dengan kode baru, menyimpan dokumen penting di tempat-tempat yang tidak mungkin Lucas curigai.
Namun, semakin ia menyembunyikan, semakin ia merasa tercekik. Hidupnya berubah menjadi permainan berbahaya-antara berpura-pura sebagai istri setia atau terbongkar dan hancur dalam sekejap.
Di sisi lain, hubungannya dengan Adrian semakin erat. Meski Althea tidak pernah berniat mencari pelarian, kehadiran Adrian memberi rasa aman yang tidak pernah ia dapatkan dari Lucas.
Suatu sore, mereka bertemu lagi di kantor Adrian. Kali ini, pria itu menunjukkan hasil analisis awal dari flashdisk.
"Thea, ini gawat. Transaksi ini bukan cuma soal uang untuk Selena. Ada jaringan besar di belakangnya. Kalau benar Lucas terlibat, dia bisa saja bagian dari kelompok yang mencuci uang melalui perusahaan-perusahaan fiktif."
Althea menutup mulutnya, tubuhnya bergetar. "Jadi aku selama ini hidup bersama... penjahat?"
Adrian menatapnya serius. "Lebih buruk. Kalau dia tahu kamu mengendus ini semua, kamu bisa dalam bahaya."
Air mata Althea menetes. Ia merasa terjebak, tapi juga semakin yakin ia tidak boleh mundur. "Aku nggak akan berhenti, Adrian. Aku harus keluar dari ini semua. Dan aku mau dia jatuh."
Adrian mendekat, menggenggam tangannya. "Kalau begitu, aku akan pastikan kamu nggak sendiri."
Sentuhan itu membuat dada Althea bergetar. Ia tahu ia seharusnya menjaga jarak, tapi ada sesuatu dalam tatapan Adrian yang membuatnya ingin percaya sepenuhnya.
Sementara itu, Lucas semakin gelisah. Suatu malam, ia membuka laptopnya dan menyadari ada folder yang tidak sama seperti biasanya. Meski tidak yakin, ada firasat buruk yang menghantuinya.
Ia menatap Althea yang sedang tidur di ranjang, wajahnya tenang. Tapi bagi Lucas, ketenangan itu justru mencurigakan.
"Thea..." gumamnya pelan. "Apa sebenarnya yang kamu sembunyikan dariku?"
Keesokan harinya, Lucas pulang lebih awal. Ia membawa setangkai mawar putih dan senyum manis di wajahnya. "Untuk istriku tercinta," katanya sambil menyerahkan bunga itu.
Althea menerimanya dengan hati-hati. Senyum Lucas terlalu manis, terlalu dibuat-buat.
"Apa ini?" tanyanya lembut.
Lucas menatapnya dalam. "Aku cuma mau bilang... aku sayang kamu, Thea. Dan aku harap kamu juga selalu sayang aku."
Althea tersenyum samar. "Tentu saja."
Namun dalam hatinya, ia tahu. Senyum itu bukan lagi sekadar senyum seorang suami. Itu adalah senyum penuh kecurigaan, senyum seseorang yang sudah mulai mencium adanya pengkhianatan.
Dan Althea sadar-permainan ini akan segera berubah menjadi lebih berbahaya.
Laura berdiri di depan cermin, menatap dirinya sendiri dengan tatapan kosong. Lingkaran hitam di bawah matanya makin jelas, menandakan betapa sedikit waktu yang ia gunakan untuk tidur belakangan ini. Setiap malam, pikirannya selalu dipenuhi bayangan tentang pengkhianatan Adrian, tentang segala kepalsuan yang selama ini ia anggap sebagai cinta sejati.
Ia menelusuri permukaan meja rias, jemarinya berhenti pada sebuah kalung berliontin kecil yang pernah diberikan Adrian padanya dua tahun lalu. Kala itu, ia merasa hadiah tersebut begitu romantis, begitu penuh cinta. Namun kini, setelah semua terbongkar, kalung itu hanyalah simbol dari kebohongan. Laura menggenggamnya, lalu meletakkannya kembali dengan kasar, seakan benda itu bisa melukai hatinya lebih dalam lagi.
Pagi itu, suara ketukan pintu membuatnya tersentak. "Laura? Kau sudah bangun?" suara ayahnya terdengar dari balik pintu.
"Sudah, Yah," jawabnya singkat, suaranya serak karena terlalu lama menangis malam sebelumnya.
Pintu terbuka perlahan, menampakkan sosok Pak Samuel dengan raut wajah penuh kekhawatiran. Pria paruh baya itu menghampiri putrinya dan duduk di sisi ranjang. "Kau terlihat sangat pucat, Nak. Apa kau masih memikirkan Adrian?" tanyanya lembut.
Laura tersenyum pahit. "Bagaimana aku bisa berhenti memikirkannya, Yah? Tiga tahun hidupku kuberikan padanya. Tiga tahun aku percaya setiap kata manisnya. Lalu kenyataannya... semua itu hanya topeng."
Samuel menghela napas berat, lalu menggenggam tangan putrinya erat. "Aku tahu ini berat. Tapi kau harus kuat. Jangan biarkan dia merusak sisa hidupmu."
Kata-kata itu membuat Laura sedikit menunduk. Ia tahu ayahnya benar, tapi hatinya masih terlalu sakit untuk benar-benar bisa melepaskan. Terlebih lagi, rasa dikhianati itu begitu menyesakkan, apalagi wanita yang selama ini Adrian cintai adalah sahabat masa kecilnya sendiri, Elena.
Siang harinya, Laura memutuskan keluar rumah. Ia butuh udara segar, sekaligus butuh menjernihkan pikiran. Ia memilih duduk di sebuah kafe kecil di pusat kota, tempat yang dulu sering ia datangi bersama Adrian. Namun kali ini, ia sendirian, dengan secangkir kopi hitam yang hampir dingin di hadapannya.
Matanya menerawang jauh ke luar jendela, memandang orang-orang berlalu-lalang. Semua tampak normal, seolah dunia tidak peduli pada luka yang ia rasakan. Laura menggigit bibirnya, berusaha menahan air mata. Ia tak ingin orang lain melihat kelemahannya.
Di tengah lamunannya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
"Kau tidak tahu semua tentang Adrian. Jika kau ingin kebenaran, temui aku malam ini di Taman Kota, jam delapan."
Laura terbelalak. Jantungnya berdegup kencang membaca pesan itu. Siapa orang ini? Dan apa maksudnya ia tidak tahu semua tentang Adrian? Bukankah semua rahasia sudah terbongkar ketika ia menemukan file di laptop suaminya?
Rasa penasaran bercampur cemas membuat Laura tak bisa duduk tenang. Ia menatap layar ponselnya lama sekali, hingga akhirnya ia mengetik balasan singkat: "Siapa kau?"
Namun, pesan itu tak kunjung mendapat jawaban.
Malam pun tiba. Meski sempat ragu, Laura memutuskan untuk pergi ke Taman Kota sesuai pesan misterius itu. Ia mengenakan jaket hitam panjang, mencoba menyamarkan dirinya. Sepanjang jalan, ia terus menoleh, memastikan tidak ada yang mengikutinya.
Taman Kota malam itu cukup sepi. Hanya ada beberapa pasangan muda yang duduk di bangku, serta beberapa orang tua yang berjalan santai. Laura melangkah pelan, matanya mencari-cari sosok yang mungkin menunggunya.
"Laura?" sebuah suara lirih terdengar dari belakang.
Laura menoleh, dan matanya langsung melebar. "Kau?!" serunya setengah terkejut, setengah marah.
Sosok itu adalah Dina, salah satu rekan kerjanya yang dulu sempat dekat dengan Adrian. Laura tidak pernah menyukai Dina sepenuhnya, karena entah kenapa ia selalu merasa wanita itu menyimpan sesuatu.
"Apa yang kau lakukan di sini? Kau yang mengirim pesan itu?" tanya Laura dengan nada tajam.
Dina mengangguk pelan. "Aku tahu ini mungkin membuatmu marah. Tapi ada hal yang harus kau ketahui tentang Adrian. Sesuatu yang lebih besar dari sekadar perselingkuhannya dengan Elena."
Laura menatapnya penuh curiga. "Apa maksudmu?"
Dina menelan ludah, lalu mendekat sedikit. "Adrian bukan hanya berselingkuh, Laura. Dia juga terlibat dalam beberapa transaksi gelap. Aku tidak punya semua buktinya, tapi aku pernah melihat dokumen yang ia sembunyikan di kantor. Dan jika kau menemukan file di laptopnya, aku yakin itu hanya sebagian kecil."
Laura merasa kepalanya berputar. "Transaksi gelap? Jangan bercanda, Dina. Adrian memang pengkhianat, tapi aku tak pernah berpikir dia... dia melakukan hal semacam itu."
"Aku juga ingin itu hanya lelucon," kata Dina, suaranya tegang. "Tapi percayalah, aku pernah melihatnya sendiri. Jika kau tidak percaya, aku bisa membantumu menemukan bukti."
Sepulang dari pertemuan itu, Laura kembali dilanda dilema. Kata-kata Dina terus berputar di kepalanya. Transaksi gelap. Itu bukan hal sepele. Jika benar Adrian terlibat dalam sesuatu yang berbahaya, berarti ia selama ini hidup bersama pria yang tak hanya mengkhianati cintanya, tapi juga menyimpan sisi gelap yang jauh lebih menyeramkan.
Laura duduk di ranjang, menatap laptop yang ada di meja. Ia sudah berulang kali membuka file-file yang sempat ia salin dari laptop Adrian sebelum pergi, tapi tak menemukan hal mencurigakan selain bukti transfer uang untuk Elena. Mungkinkah Dina benar? Atau ini hanya jebakan?
Air mata kembali jatuh tanpa bisa ia tahan. Laura merasa hidupnya hancur berkeping-keping. Namun di balik rasa sakit itu, muncul sebuah bara kecil di hatinya-keinginan untuk membalas, untuk membuka semua kedok Adrian, bahkan jika itu berarti ia harus menghadapi bahaya yang lebih besar.
Laura mengepalkan tangannya. Jika Adrian benar-benar bermain kotor, aku akan memastikan dia mendapat balasannya.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Laura merasakan sesuatu yang berbeda: bukan sekadar kesedihan, tapi tekad yang perlahan tumbuh di dalam dirinya.
Laura duduk di meja kerjanya malam itu, menatap layar laptop dengan tatapan kosong. Lampu meja menyinari wajahnya yang pucat, sementara matanya terasa berat akibat terlalu sering menangis dan begadang. Sejak pertemuan dengan Dina di Taman Kota, pikirannya tak bisa berhenti memutar ulang kata-kata yang terdengar seperti mimpi buruk itu.
"Adrian bukan hanya berselingkuh, dia juga terlibat dalam transaksi gelap."
Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada pengkhianatan cintanya. Jika benar, berarti hidup yang ia jalani selama tiga tahun terakhir benar-benar hanyalah sebuah kebohongan besar. Adrian bukan sekadar suami yang tak setia-ia bisa jadi seorang pria yang berbahaya.
Laura menghela napas berat. Jemarinya menari di atas keyboard, mencoba membuka kembali folder salinan data Adrian yang sempat ia ambil sebelum meninggalkan rumah. File demi file dibuka, diperiksa dengan saksama. Ada beberapa dokumen transfer, email dengan nama-nama asing, juga catatan pengeluaran yang tak masuk akal.
Namun, semuanya tampak samar. Tidak ada bukti yang benar-benar jelas. Seperti potongan puzzle yang terpisah, tanpa gambar utuh.
Ponselnya tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan masuk dari Dina.
"Kau masih bangun? Aku punya ide. Kita harus ketemu lagi. Ada tempat di mana aku bisa tunjukkan sesuatu padamu."
Laura menatap layar ponselnya lama, sebelum akhirnya membalas singkat. "Di mana?"
Balasan datang cepat. "Besok sore, gudang kosong dekat kantor lama Adrian. Jangan bilang siapa pun. Bawa file yang kau punya."
Keesokan harinya, Laura bangun dengan perasaan campur aduk. Ketakutan, kemarahan, dan rasa penasaran bercampur menjadi satu. Ia tahu, apa yang akan ia lakukan bukan hal kecil. Jika benar Adrian terlibat dalam sesuatu yang ilegal, maka ia sedang melangkah ke wilayah yang sangat berbahaya.
Namun, tekadnya bulat. Ia sudah terlalu banyak dirugikan. Harga dirinya hancur, hatinya hancur, bahkan keluarganya ikut terkena dampak. Ibunya meninggal karena tekanan batin setelah tahu Adrian berselingkuh dengan Elena. Dan kini, Laura tidak akan tinggal diam.
Ia berusaha tampil biasa sepanjang hari, agar ayahnya tidak curiga. Tapi ketika sore tiba, ia diam-diam meninggalkan rumah dengan alasan ingin menemui teman lama. Mobil kecilnya melaju pelan menuju lokasi yang disebut Dina.
Gudang itu tampak tua dan terbengkalai, terletak di pinggir kota. Cat dindingnya mengelupas, pintunya berkarat, dan rumput liar tumbuh di sekitarnya. Laura sempat ragu untuk masuk, tapi ia melihat sosok Dina berdiri di dekat pintu, melambai padanya.
"Syukurlah kau datang," ucap Dina ketika Laura menghampirinya.
"Apa sebenarnya yang kau sembunyikan dariku?" tanya Laura dengan nada tegang.
Dina menoleh ke kanan-kiri, memastikan tak ada yang mengikuti mereka, lalu menarik Laura masuk. Di dalam, gudang itu dipenuhi debu dan cahaya redup dari jendela yang pecah. Dina membuka tasnya, mengeluarkan sebuah map tebal.
"Ini beberapa salinan dokumen yang pernah kutemukan di kantor Adrian," katanya sambil menyerahkan map itu. "Aku tidak berani menyimpannya di rumah. Kalau dia tahu, aku bisa celaka."
Laura membuka map itu. Ada print-out email dengan bahasa kode, daftar transaksi ke beberapa rekening luar negeri, serta nama-nama perusahaan fiktif. Ia menelan ludah, tangannya sedikit gemetar.
"Ini... ini benar-benar nyata," bisiknya.
Dina mengangguk. "Aku yakin Adrian menggunakan perusahaan-perusahaan itu sebagai kedok. Dia menyalurkan uang entah untuk apa. Bisa jadi pencucian uang, bisa jadi lebih buruk. Aku tidak tahu pasti. Tapi aku yakin Elena juga tahu sebagian dari ini."
Nama Elena kembali disebut, membuat hati Laura bergejolak. Jadi selain merebut Adrian, sahabat yang sudah mengkhianatinya itu juga terlibat dalam rahasia kotornya? Rasanya darah Laura mendidih.
"Kenapa kau memberitahuku semua ini?" tanya Laura, menatap Dina dengan curiga.
Dina terdiam sejenak sebelum menjawab. "Karena aku juga muak dengan Adrian. Dia memperalat semua orang, termasuk aku. Aku tidak sekuat dirimu untuk meninggalkannya. Tapi kalau ada seseorang yang bisa menjatuhkannya, itu kau, Laura."
Kata-kata itu membuat Laura terdiam. Ia tidak tahu apakah harus percaya sepenuhnya pada Dina atau tidak, tapi satu hal pasti: dokumen-dokumen ini nyata.
Malam itu, Laura kembali ke rumah dengan map tebal itu dalam genggaman. Ia duduk di kamarnya, membaca satu per satu isi dokumen dengan hati berdebar. Potongan puzzle itu mulai menyatu, membentuk gambaran yang lebih jelas.
Adrian telah menyalurkan uang dalam jumlah besar ke rekening luar negeri melalui beberapa perusahaan cangkang. Ada pola dalam transfer itu, yang jika diperhatikan, selalu berhubungan dengan tanggal-tanggal tertentu. Dan yang paling mengejutkan, sebagian dari uang itu digunakan untuk membeli aset mewah atas nama orang lain-salah satunya Elena.
Laura menutup map itu dengan napas terengah. Hatinya sakit sekaligus marah. Jadi selama ini, barang-barang mewah yang diberikan Adrian padanya hanyalah 'sisa', sementara Elena yang mendapatkan bagian paling besar.
Matanya memerah. Air mata menetes, tapi kali ini bukan karena kelemahan. "Kau pikir aku hanya boneka yang bisa kau permainkan, Adrian? Kau salah besar," bisiknya.
Hari-hari berikutnya, Laura mulai menyusun rencana. Ia tak bisa gegabah, karena Adrian bukan orang biasa. Ia punya kekuasaan, uang, dan jaringan luas. Jika ia langsung melawan, bisa jadi dirinya yang akan terseret masalah.
Ia memutuskan untuk merahasiakan semua ini dari ayahnya. Samuel sudah terlalu tua untuk menanggung beban sebesar ini. Biarlah ia memendam semua luka sendirian, demi melindungi ayahnya dari ancaman Adrian.
Laura juga mulai sering bertemu dengan Dina secara diam-diam. Mereka membagi tugas: Dina mencari tahu lebih banyak informasi di lingkaran kerja Adrian, sementara Laura meneliti pola transaksi dan mencari celah untuk mengungkapkannya.
Namun, bukan berarti semua berjalan mulus. Suatu malam, saat Laura baru saja pulang dari pertemuan dengan Dina, ia menemukan sesuatu yang membuat darahnya berhenti mengalir seketika.
Di depan rumahnya, sebuah mobil hitam asing terparkir. Lampunya mati, tapi bayangan seseorang terlihat jelas di dalamnya.
Jantung Laura berdegup kencang. Nalurinya mengatakan itu bukan kebetulan. Ia buru-buru masuk ke dalam rumah, menutup pintu rapat-rapat, dan mengintip dari balik tirai. Mobil itu masih di sana, diam tak bergerak.
"Adrian..." gumamnya lirih.
Ia sadar, Adrian mungkin mulai curiga.
Keesokan harinya, Laura menerima panggilan dari nomor yang sangat dikenalnya. Nomor Adrian.
Ia terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat. "Halo."
"Laura," suara Adrian terdengar tenang tapi dingin. "Kita perlu bicara. Aku akan menjemputmu malam ini. Jangan bilang siapa pun."
Laura menggenggam ponselnya erat, keringat dingin membasahi telapak tangannya. Suara Adrian itu seperti ancaman terselubung.
"Malam ini?" suaranya bergetar.
"Ya. Ada hal yang perlu kau dengar langsung dariku. Jangan coba-coba menghindar." Klik. Sambungan terputus.
Laura terduduk lemas. Ia tahu, permainan ini baru saja naik ke level yang lebih berbahaya.
Jika Adrian sudah tahu ia menyelidiki, maka segalanya bisa berubah kapan saja. Namun, di sisi lain, inilah kesempatan untuk mendengar langsung pengakuan dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.
Hatinya berdegup kencang. Ia menatap map berisi dokumen-dokumen gelap Adrian, lalu menarik napas panjang.
"Aku tidak akan kalah, Adrian. Kali ini aku yang akan menghadapimu," bisiknya dengan mata penuh tekad.
Malam itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Angin berhembus menusuk tulang, membawa aroma lembab dari hujan yang baru saja reda. Laura duduk di ruang tamu dengan tubuh menegang. Kedua tangannya saling menggenggam erat, jemarinya bergetar tanpa bisa ia kendalikan. Sejak panggilan telepon sore tadi, pikirannya tak pernah berhenti memutar kemungkinan terburuk.
Adrian akan datang.
Mungkin pria itu hanya ingin berbicara. Mungkin juga ia sudah tahu Laura menemukan sesuatu. Atau lebih buruk lagi, ia datang untuk menyingkirkan Laura karena dianggap ancaman. Semua kemungkinan menari di kepalanya seperti bayangan gelap yang tak bisa ia halau.
Jam dinding berdetak keras, seakan mengiringi detak jantung Laura yang semakin kacau. Jarum pendek menunjuk angka sembilan ketika suara deru mesin mobil berhenti di depan rumah. Laura menelan ludah, dadanya sesak. Ia berdiri perlahan, tubuhnya seakan kehilangan tenaga.
Ketukan keras terdengar di pintu. Dug... dug... dug...
"Laura, buka pintunya." Suara berat Adrian terdengar dari luar. Tenang, tapi penuh tekanan.
Laura menarik napas dalam-dalam, mencoba menguatkan diri. Ia melangkah mendekati pintu, tangannya gemetar saat memutar gagang. Pintu terbuka, menampakkan sosok yang selama tiga tahun menjadi suaminya-pria tampan dengan setelan hitam rapi, wajahnya tetap karismatik, tapi mata itu... mata yang dulu hangat, kini hanya menyimpan kegelapan.
"Adrian," suara Laura bergetar.
"Boleh aku masuk?" tanyanya, tapi nada suaranya bukan permintaan, melainkan perintah terselubung.
Laura menyingkir, membiarkannya masuk. Aroma parfum mahal langsung memenuhi ruangan, membuat Laura semakin muak. Betapa ia dulu mencintai aroma itu, padahal kini tercium seperti racun.
Adrian duduk di sofa seolah ia masih pemilik rumah itu. Laura tetap berdiri, menatapnya penuh kewaspadaan.
"Kenapa kau di sini?" tanyanya dingin.
Adrian menatapnya lama, lalu tersenyum samar. "Kau benar-benar berbeda sekarang. Dulu kau akan langsung menyambutku dengan segelas teh hangat. Kini kau menatapku seakan aku musuh."
"Bukankah memang begitu adanya?" Laura membalas cepat, nadanya getir.
Adrian terkekeh pelan. "Kau selalu dramatis, Laura." Ia bersandar santai, menyilangkan kaki. "Aku hanya ingin memastikan satu hal. Apa kau masih percaya pada semua yang kau temukan di laptopku?"
Pertanyaan itu membuat jantung Laura melompat. Jadi benar, Adrian tahu.
"Apa maksudmu?" Laura berusaha terdengar tenang, meski suaranya hampir pecah.
Adrian mencondongkan tubuh, menatapnya tajam. "Jangan pura-pura. Aku tahu kau membuka laptopku sebelum pergi. Kau pikir aku bodoh? Kau pikir aku tidak sadar file-file itu disalin?"
Laura menggenggam tangannya erat. "Kalau begitu kenapa kau tidak langsung menyingkirkanku? Kenapa baru sekarang datang mencariku?"
Adrian tersenyum miring. "Karena aku masih memberi kesempatan padamu. Aku ingin tahu... seberapa jauh kau berani melawan aku."
Keheningan menekan ruangan. Laura merasakan keringat dingin di pelipisnya, tapi ia menolak tunduk. "Aku tidak takut padamu, Adrian."
"Oh?" alis pria itu terangkat. "Kau seharusnya takut. Kau tahu betapa mudahnya bagiku menghancurkan seseorang? Semua yang kau miliki bisa kuambil dalam sekejap."
Laura menggertakkan gigi. "Kau sudah menghancurkan hidupku sejak lama. Tidak ada lagi yang bisa kau ambil dariku."
Untuk sesaat, wajah Adrian berubah. Ada kilatan amarah di matanya, lalu ia berdiri dan mendekat. Langkahnya tenang, tapi setiap gerakannya membuat jantung Laura berdetak semakin cepat.
Ia berhenti tepat di hadapan Laura, menatap dalam seakan ingin menembus hatinya. "Kau pikir kau bisa melawanku? Kau pikir kau bisa mengungkap apa yang kulakukan? Jangan naif, Laura. Dunia ini tidak sesederhana benar dan salah. Ada hal-hal yang lebih besar dari itu."
Laura mendongak, menatapnya dengan keberanian yang ia kumpulkan sekuat tenaga. "Kalau memang benar yang kukira, maka suatu saat semua kebusukanmu akan terungkap. Dan aku akan memastikan hal itu terjadi."
Adrian tertawa kecil, tapi tawanya dingin. "Aku suka semangatmu. Sayang sekali semangat itu akan membawamu pada kehancuran." Ia meraih dagu Laura dengan kasar, memaksa wajahnya mendongak lebih tinggi. "Ingat baik-baik, Laura. Kau pernah kucintai, meski bukan dengan cara yang kau inginkan. Jangan buat aku berubah menjadi musuhmu."
Laura menepis tangannya dengan keras. "Kau tidak pernah mencintaiku! Jangan pernah berkata begitu lagi."
Adrian terdiam beberapa detik, lalu mundur selangkah. Senyum samar kembali terukir di wajahnya. "Baiklah. Jika itu yang kau mau. Tapi ingat, Laura, aku selalu tahu setiap gerak-gerikmu. Jangan coba-coba bermain api."
Tanpa menunggu jawaban, Adrian berbalik dan berjalan keluar. Pintu menutup keras di belakangnya, meninggalkan Laura dengan tubuh gemetar hebat.
Setelah kepergian Adrian, Laura jatuh terduduk di sofa. Air mata mengalir deras, bukan hanya karena takut, tapi juga karena marah.
Ia sadar, ancaman Adrian nyata. Mobil asing di depan rumah, telepon yang menekan, hingga tatapan penuh amarah tadi-semuanya pertanda bahwa ia sedang diawasi.
Namun, anehnya, tekad Laura justru semakin kuat. Ia tahu ia tak bisa berhenti sekarang. Jika ia mundur, maka Adrian akan menang, dan hidupnya akan selamanya berada di bawah bayangan pria itu.
Laura mengambil map dokumen dari kamar, membukanya lagi. Jemarinya menyusuri daftar transaksi yang terhubung dengan perusahaan-perusahaan asing. Ada satu nama yang terus berulang, sebuah perusahaan bernama Veridian Corp.
Hatinya berdebar. Itu bisa jadi kunci. Jika ia bisa melacak apa sebenarnya Veridian Corp, ia mungkin menemukan jalan untuk menjatuhkan Adrian.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Dina.
"Kau baik-baik saja? Aku dengar Adrian mulai bergerak."
Laura menatap layar ponsel lama, lalu mengetik balasan. "Dia menemuiku. Dia tahu aku punya file itu. Kita harus lebih hati-hati."
Balasan masuk cepat. "Kalau begitu kita perlu langkah baru. Aku akan coba hubungi seseorang yang bisa dipercaya. Tapi risikonya besar."
Laura menarik napas panjang. Risiko besar. Kata-kata itu kini menjadi bagian hidupnya.
Ia memandang ke luar jendela, menatap gelapnya malam yang sunyi. Di hatinya, ia berjanji: ia tidak akan berhenti sampai kebenaran terbongkar.
Keesokan harinya, Laura berangkat ke sebuah perpustakaan universitas di kota. Ia butuh tempat aman untuk meneliti tanpa menarik perhatian. Dengan laptopnya, ia mencoba mencari informasi tentang Veridian Corp.
Namun, perusahaan itu nyaris tak meninggalkan jejak. Tidak ada situs resmi, tidak ada catatan publik, hanya beberapa artikel samar tentang perusahaan investasi asing yang bergerak di bidang energi. Semuanya terlalu bersih, terlalu rapi.
Laura menggigit bibirnya. Perusahaan bayangan... tentu saja.
Ketika ia hampir putus asa, seseorang menepuk bahunya. Laura terlonjak, menoleh cepat.
"Tenang, ini aku," Dina berbisik.
Laura menahan napas lega. "Kau hampir membuat jantungku berhenti."
Dina duduk di sampingnya, membuka tas, lalu mengeluarkan flashdisk. "Aku dapat ini dari seorang kenalan lama. Dia pernah bekerja sebagai akuntan di salah satu perusahaan cangkang Adrian. Katanya, semua jejak mengarah ke Veridian Corp."
Laura menerima flashdisk itu, jantungnya berdebar. "Apa isinya?"
"Laporan internal. Bukti-bukti yang tidak bisa dipalsukan. Tapi hati-hati, jika Adrian tahu kita punya ini, kita tamat."
Laura menatap Dina lekat-lekat. "Kenapa kau melakukan semua ini? Kenapa kau ambil risiko sebesar ini untukku?"
Dina terdiam sejenak, lalu tersenyum pahit. "Karena aku juga korban, Laura. Adrian bukan hanya mempermainkanmu. Dia mempermainkan banyak orang. Mungkin dengan membantumu, aku bisa menebus kesalahanku."
Hati Laura menghangat sejenak. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sendirian.
Ia menyambungkan flashdisk itu ke laptop. File demi file terbuka, menampilkan catatan transaksi, laporan pajak palsu, dan bahkan dokumen tanda tangan Adrian.
Ini bukti nyata.
Air mata Laura menggenang. "Dengan ini... kita bisa menjatuhkannya."
Dina mengangguk. "Tapi jangan buru-buru. Kita butuh strategi. Jika langsung melapor, Adrian bisa menutup semua jejak. Kita harus memastikan dia tidak bisa lolos lagi."
Laura menatap layar laptop dengan tekad yang membara. Ia tahu, pertarungan baru saja dimulai. Adrian mungkin berpikir dirinya tak bisa disentuh, tapi Laura akan membuktikan bahwa kebenaran bisa menghancurkan apa pun, bahkan kekuasaan sebesar milik Adrian.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak pengkhianatan itu terungkap, Laura merasa ada cahaya kecil di ujung kegelapan. Cahaya harapan-dan juga perang yang akan datang.