Bab 2

Langit sore terlihat kelabu ketika aku memarkir mobilku di depan rumah. Rumah megah yang dulu terasa hangat kini terasa seperti museum dingin penuh bayang-bayang. Tak ada lagi tawa renyah dari Rafa saat aku pulang. Tak ada pelukan atau tatapan hangat yang menunggu di depan pintu. Semua terasa kosong. Aku berdiri di ambang pintu beberapa detik lebih lama dari biasanya, mencoba mengatur napas yang mulai terasa sesak.

Isolde sudah tertidur saat aku masuk ke kamarnya. Nafas kecilnya yang teratur mengingatkanku akan alasan mengapa aku belum hancur sepenuhnya. Aku mengusap rambutnya perlahan, menahan air mata yang menggantung di ujung kelopak. Dia terlalu kecil untuk tahu, terlalu polos untuk mengerti bahwa ayahnya sedang menghancurkan keluarganya sendiri.

Setelah memastikan Isolde nyaman, aku turun ke ruang tamu. Rafa duduk di sana, seolah tak ada yang berubah. Dia sedang membuka laptopnya, seakan-akan tidak ada luka, tidak ada rahasia yang menjelma seperti pisau di punggungku. Ketika matanya menatapku, aku tidak melihat rasa bersalah. Yang kulihat hanyalah dingin. Hambar.

"Baru pulang?" tanyanya datar.

Aku duduk di hadapannya, menahan detak jantungku agar tak meledak. "Kita perlu bicara."

Dia menutup laptopnya dengan gerakan pelan. "Tentang apa?"

Aku menyodorkan ponselku ke arahnya, menampilkan foto-foto tangkapan layar. Percakapan itu. Hotel tempat mereka bertemu. Tanggal yang cocok dengan saat dia bilang sedang ada 'pertemuan kerja' di luar kota.

"Aku sudah tahu, Rafa."

Dia menatap layar, lalu kembali menatapku. Tidak ada keterkejutan di wajahnya. Tidak ada penyangkalan. Hanya keheningan. Itu yang membuatku benar-benar ingin berteriak. Dia bahkan tidak mencoba berbohong.

"Berapa lama?" tanyaku, suaraku nyaris bergetar.

Rafa menarik napas panjang. "Dua tahun. Tapi kami baru menikah tahun ini."

"Menikah?" Nafasku tercekat. Aku menegang di kursiku. "Kau menikahinya?"

Dia mengangguk. Sekilas. Dingin. Tanpa penyesalan.

Dunia seketika bergemuruh di sekelilingku. Dada ini seolah pecah dari dalam. Aku mencoba menahan diri, tapi suaraku pecah juga akhirnya.

"Selama ini aku hidup dengan siapa, Rafa? Dengan suami atau seorang penipu?"

"Kau tahu aku mencintaimu, Naya. Tapi... Mira adalah bagian dari masa laluku yang belum selesai."

Mataku menyipit. "Dan aku apa? Bagian dari masa depanmu yang kau gunakan lalu kau campakkan?"

Dia menunduk, tapi tetap tidak berkata apa-apa. Diamnya membuatku semakin muak.

"Ayahku memberimu pekerjaan. Aku memohon padanya untuk menerima dirimu! Aku bantu keluargamu keluar dari kemiskinan! Bahkan ibumu memanggilku 'anak' karena aku bantu membangun rumah mereka! Dan sekarang kau balas dengan mengkhianatiku seperti ini?"

Aku berdiri, tubuhku gemetar oleh amarah yang tertahan. Aku ingin menghancurkan sesuatu. Apa pun. Tapi aku tahu itu tidak akan mengubah kenyataan.

"Apa keluargamu tahu soal ini? Tentang pernikahan rahasiamu dengan Mira?"

Dia tak menjawab, dan jawaban itu cukup. "Mereka tahu. Mereka setuju. Mereka semua bermain di belakangku..."

Aku menatapnya dengan air mata yang kini jatuh begitu saja. "Lalu kenapa? Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal? Kenapa kau buatku bertahan dalam pernikahan ini kalau kau sudah memilih perempuan lain?"

"Kau tidak akan mengerti."

"Karena aku terlalu tinggi untukmu? Terlalu mulia? Terlalu bersinar untuk seseorang sepertimu?" Aku tertawa sinis. "Aku mengerti lebih dari yang kau kira, Rafa. Kau takut kehilangan semua yang telah kuberikan. Harta. Nama. Kedudukan. Semua yang membuat keluargamu dihormati kini."

Wajah Rafa mengeras. "Ini bukan tentang uang atau status-"

"Tapi tetap saja kau pilih menikah di belakangku!" potongku tajam.

Suasana hening. Udara di antara kami dipenuhi dengan luka dan ketegangan. Lalu, Rafa berkata dengan nada rendah yang membuat dadaku semakin sesak.

"Aku akan menceraikanmu."

Jantungku berhenti sejenak.

"Jika itu yang kau mau. Kita bisa selesaikan ini diam-diam. Aku akan tetap bertanggung jawab pada Isolde. Aku tidak akan membiarkan dia kekurangan."

Tawa kecil keluar dari mulutku. Pahit.

"Jadi setelah menghancurkan hidupku, kau pikir aku akan menerimanya begitu saja? Bahwa kita bisa menyelesaikan ini dengan baik-baik?" Aku melangkah mendekatinya. "Kau pikir aku wanita yang akan menunduk saat diinjak?"

Wajah Rafa berubah sedikit. Ada keraguan di matanya. Mungkin baru sekarang dia sadar bahwa dia telah membangunkan sesuatu yang seharusnya tidak disentuh-amarah seorang Nayara Devanka.

"Aku akan menunjukkan padamu, Rafa. Kau tidak hanya menghancurkan pernikahan kita. Kau menghancurkan seluruh harga diriku."

Dia berdiri. "Naya, aku tidak ingin ini jadi perang."

"Aku pun tidak," jawabku tenang, "tapi kau memulainya."

Aku berbalik dan berjalan menuju kamar Isolde. Namun dalam hatiku, sebuah keputusan sudah bulat.

Aku tidak akan menjadi korban dalam cerita ini.

Aku akan menjadi badai yang akan menghancurkan segalanya-semua yang mereka pikir bisa mereka ambil dariku. Rafa, Mira, bahkan keluarganya yang dulu kusayangi.

Aku Nayara Devanka. Dan mereka semua akan segera tahu, bahwa menyakitiku adalah kesalahan terbesar dalam hidup mereka.

Bab 3

Tiga hari sejak malam itu, dan aku belum mengeluarkan satu kata pun tentang perceraian. Rafa berpikir diamku adalah bentuk penyerahan. Dia terlalu bodoh untuk menyadari bahwa keheningan adalah bagian dari perhitungan.

Hari ini aku duduk di ruang kerja ayahku. Bangunan tinggi milik Devanka Corporation menjulang megah di jantung kota Jakarta, dan aku, sebagai Direktur Operasional, memegang kendali atas lebih dari yang Rafa bayangkan. Ayah mempercayakan hampir semua operasional perusahaan padaku setelah kesehatannya mulai menurun dua tahun lalu.

"Ayah masih belum tahu?" tanya Aurel, asisten pribadiku yang juga sahabatku sejak SMA.

Aku mengangguk. "Belum. Kalau Ayah tahu sekarang, dia bisa langsung menyuruh orang-orangnya menyapu bersih keluarga Firmansyah dari muka bumi."

Aurel menatapku khawatir. "Nay, kau yakin masih bisa mengendalikan semuanya sendiri?"

Aku menatap keluar jendela, menatap lalu lintas kota yang kacau. "Aku tidak akan menyerahkan kendali sebelum waktunya. Rafa masih berpikir aku akan diam dan menerima segalanya. Itu keunggulanku."

"Lalu rencanamu?" bisiknya.

Aku berbalik menghadapnya dan tersenyum samar. "Kita mulai dari akar. Dari tempat dia naik."

Rafa naik karena aku. Karena perusahaan ini. Aku yang memintanya ditempatkan di divisi pengembangan, dan aku yang memberinya kesempatan menangani klien-klien besar. Semua pengaruh yang dimilikinya hari ini adalah pantulan dari posisiku.

Dan aku akan memutus pantulan itu.

Pagi itu, aku menandatangani surat pemindahan Rafa ke kantor cabang di Surabaya, jauh dari jantung kekuasaan. Posisi itu hanya nama, tanpa pengaruh. Sebuah pengasingan diam-diam.

Aku tidak mengirim surat itu ke email pribadinya, tentu saja. Aku ingin melihat reaksinya langsung saat HR menyampaikan surat penempatan baru itu ke mejanya.

Dan aku tidak perlu menunggu lama.

Sore hari, saat aku sedang meninjau laporan bulanan, pintu ruanganku terbuka keras. Rafa berdiri di sana, wajahnya merah padam. Aku menatapnya tanpa ekspresi.

"Apa maksud semua ini, Nay?" katanya marah.

Aku meletakkan pena dengan tenang. "Kau diangkat menjadi Direktur Cabang di Surabaya. Selamat. Kinerjamu selama ini layak mendapat posisi itu."

"Kau pikir aku bodoh? Ini pengasingan!"

Aku mencondongkan tubuh, suaraku rendah namun tajam. "Kau pikir aku tidak tahu kau menggunakan akses proyek perusahaan untuk menyuap ayah Mira agar menikahkan kalian?"

Rafa terdiam. Matanya melebar. Dia tidak menduga aku tahu sampai sedalam itu.

"Kau pikir aku tidak bisa membuktikannya? Kau lupa siapa yang punya semua catatan transaksi internal? Siapa yang duduk di dewan komisaris?"

Dia menggertakkan gigi. "Kau tak bisa menghancurkan karierku hanya karena urusan pribadi."

Aku berdiri. "Kau salah besar. Ini bukan hanya urusan pribadi. Ini pengkhianatan. Dan kau harus membayar."

Rafa menatapku dengan penuh kebencian, tapi juga ketakutan. Untuk pertama kalinya, dia melihatku bukan sebagai istrinya-tapi sebagai pewaris Devanka yang bisa membuat atau menghancurkan siapa pun.

"Dan satu lagi," tambahku pelan, "aku sudah bicara dengan pengacara. Gugatan perceraian akan diajukan dalam waktu dekat."

Malam itu, aku pulang ke rumah lebih awal. Aku memandangi Isolde yang sedang bermain dengan boneka kelincinya. Aku mencintai anak ini lebih dari apa pun, dan aku tidak akan membiarkannya tumbuh dalam kebohongan.

Aku mendekatinya dan mengangkat tubuh mungilnya ke pangkuanku.

"Sayang..." bisikku pelan, "Mama akan melindungimu. Apa pun yang terjadi."

Isolde mengangguk pelan meski belum sepenuhnya mengerti. Tapi pelukannya cukup untuk menguatkanku.

Setelah menidurkannya, aku membuka laptopku. Aku mulai membuka catatan lama-semua yang pernah kulakukan untuk keluarga Rafa. Rumah mereka yang kubangun di kampung. Biaya rumah sakit ibunya. Adik-adiknya yang kutitipkan pekerjaan di perusahaan. Semua akan kucabut. Satu per satu. Mereka akan tahu bahwa menyakitiku berarti menyentuh seluruh pondasi hidup mereka.

Ponselku bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk:

"Aku ingin bicara. Aku Mira."

Aku memandang layar dengan mata menyipit. Kuketik balasan singkat.

"Besok. Hotel Santika, jam dua siang. Datang sendiri."

Aku ingin melihat wajah wanita yang merebut suamiku. Aku ingin tahu, apakah dia cukup kuat untuk berdiri di hadapanku setelah menghancurkan keluargaku. Atau apakah dia hanya pengecut yang berselimut kebohongan.

Dan jika dia pikir pernikahannya dengan Rafa akan berlangsung damai, maka dia sedang menari di atas bara yang belum menyala penuh.

Aku Nayara Devanka. Dan ini belum permulaan. Ini baru pembuka.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED