Semula Randika sedikit khawatir karena sikap Charli yang tidak memperdulikan Lily akan menjadi boomerang untuk perusahaan, secara Nusa Corp perusahaan milik ayah gadis itu. Dan tak ada ayah yang terima jika putrinya tidak dianggap.
Tapi ternyata Charli selalu benar, Charli sudah mengatakan padanya walaupun Nusa Corp adalah perusahaan besar tapi mereka akan berpikir seribu kali untuk membatalkan kerjasama yang pastinya sangat menguntungkan mereka itu.
Hari itu Sigit kembali meminta untuk bertemu, kali ini mereka akan bertemu saat makan siang.
“Dik... kamu ikut! Nanti makan siang bareng Kakak. Sekalian belajar bagaimana menghadapi pengusaha-pengusaha besar seperti Sigit ke depannya.”
“Iya, aku saja yang bawa mobilnya. Kaki Kak Charli kan masih sakit gara-gara kemarin sempat terkilir pas turun bukit,”
Sementara itu disebuah rumah sederhana tampak seorang wanita sedang merawat seorang anak laki-laki yang sedang sakit. Dengan telaten wanita itu mengganti kompres yang terpasang di dahi di kecil.
“Ayah....”
Wanita bernama Mega itu meneteskan air matanya ketika putra satu-satunya bernama Ari itu selalu menyebut nama ayahnya. Dua tahun yang lalu dia diceraikan oleh sang suami karena ternyata suaminya lebih memilih hidup bersama wanita lain.
Mega menikah di usia yang sangat muda yaitu pada saat usianya masih tujuh belas tahun. Dia di paksa menikah dengan pria yang tidak ia cintai karena sebuah perjodohan. Dan naasnya selama menjadi suaminya, pria yang dijodohkan dengannya itu sudah mempunyai wanita yang dicintai.
Dan saat kedua orang tuanya sudah meninggal, pria itu menceraikan dirinya dan menikahi wanita yang dicintainya. Mega mundur bukan karena tidak mau memperjuangkan keutuhan rumah tangganya. Dia hanya benar-benar lelah dan telah habis kesabaran dalam menghadapi suaminya. Enam tahun ia bertahan dan mencoba menjadi wanita tegar karena hadirnya seorang Ari di hidup mereka.
Walau Ari hadir bukan karena cinta, tapi Mega sangat menyayangi putranya. Sang suami menyentuhnya hanya karena untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.
Dan selama dua tahun berpisah, ternyata suaminya mengabaikan mereka. Tak sekalipun dia memberi tunjangan hidup untuk putranya. Pria itu benar benar menganggap mereka tidak ada di dunia ini.
“Ari minum obat dulu ya sayang,” ucap Mega.
“Iya Bunda.”
Mega beranjak meninggalkan putranya yang sudah tertidur dengan lelap setelah meminum obat penurun panasnya. Dia beruntung mempunyai anak laki-laki yang penurut dan sangat menyayanginya.
Ari tidak pernah mengeluh walau mereka hidup sangat sederhana. Mega menjadi seorang pengajar di sebuah playgroup yang cukup ternama. Anak-anak yang belajar disekolah itu rata-rata adalah anak orang kaya.
Kebetulan setelah perceraiannya ada seorang teman yang menawarinya pekerjaan sebagai seorang pengajar di sebuah Playgroup miliknya.
“Halo Din! Maaf tadi aku belum bisa berangkat mengajar. Ari masih panas,” Ternyata ia menelpon temannya bernama Andini, pemilik sekolah tempatnya mengajar.
“Udah santai saja, Indra memang goblok! Bisa-bisanya dia lupa pada anaknya sendiri. Dia hidup senang dengan wanita ular itu dan menelantarkan anak kandungnya sendiri!” sahut Andini dengan bersungut-sungut.
“Udah nggak usah bahas Mas Indra, kami sudah ikhlas kok! Aku masih kuat menjaga Ari sendiri.” Ucap Mega menenangkan.
“Dua tahun Mega! Sampai Ari udah segede itu dia sama sekali enggan menengok anaknya sendiri. Masa orang sekaya dia nggak bisa kasih duit ke kalian! Tuan besar Indra Perkasa pemilik beberapa restoran terkenal di pulau ini. Benar-benar keterlaluan dia!”
Terdengar Mega tertawa kecil mendengar kemarahan sahabatnya. Dia dan Andini bersahabat dari mereka kecil hingga mereka tahu setiap kisah hidup masing.
“Kenapa jadi kamu yang sewot sih? Ya udah aku mau beli telur dulu ke mini market depan, mumpung Ari masih tidur.” Kata Mega.
“Ya udah nanti sore aku kesitu,” balas Andini
“Ok!”
Setelah melihat putranya yang masih tertidur pulas di kamarnya, Mega kemudian keluar rumah untuk membeli telur di mini market yang tepat ada di seberang jalan depan rumahnya. Saking tergesa-gesanya ia sampai tidak fokus memperhatikan jalan dan....
CKKIITTTTT...
Mega memejamkan matanya pasrah ketika mendengar bunyi mobil yang datang padanya, dia tahu dia bersalah karena menyeberang dengan tidak berhati hati.
“Kau tidak apa-apa?”
Perlahan Mega membuka matanya seorang laki-laki memakai setelan lengkap berdiri menjulang di depannya yang sedang duduk meringkuk di tengah jalan.
“Apa kau sengaja ingin menabrakkan dirimu?” tanya laki-laki tersebut.
Mega mencoba bangkit walau kakinya masih terasa lemah, kejadian barusan masih membuatnya syok.
“Aku tidak gila tuan, sampai harus melakukan hal yang anda pikirkan!” ucap Mega.
“Apa yang kupikirkan memangnya?” tanya pria itu menantang.
Mega tidak menjawab, dia berjalan menuju mini market tanpa mempedulikan pandangan aneh orang yang akan menabraknya tadi. Yang dia pikirkan adalah dia harus segera ke mini market agar bisa pulang sebelum putra semata wayangnya bangun.
Pria itu sungguh menyebalkan, bukannya minta maaf malah sudah menuduh dirinya sengaja menabrakkan dirinya. Mungkin pria itu berpikir dia akan memerasnya dengan sejumlah uang. Walau sangat butuh uang tapi dia tidak akan bertindak segila itu.
Sedangkan pria itu sedang berdecak kesal, karena sebenarnya ia juga merasa bersalah dalam hal ini. Kakinya yang kemarin sempat terkilir tiba-tiba terasa sangat nyeri hingga tanpa sengaja ia malah menginjak lebih dalam gasnya. Untung saja dengan sigap satu kaki lainnya segera menginjak rem hingga kecelakaan itu urung terjadi.
Pria itu mengambil ponsel yang terdengar berdering di sakunya.
“Kak Charli nyetir sendiri? Tadi Pak Made lapor kalau Kakak nggak mau pakai dia. Randika nyusul nanti setelah selesai meeting sama divisi pemasaran.” Ucap Randika dibalik telepon.
“Kaki Kakak baik-baik saja Dik! Nggak perlu pakai supir, nanti Pak Made saja yang nganter kamu. Soalnya kamu belum hafal benar daerah sini. Nggak lucu kan kalau ada berita CEO Baskoro kesasar,” sahut Charli.
“Ckk kan bisa sharelok Kak!”
“Jaga-jaga Dik ! Nanti ada singa ngamuk kalau tahu adik iparnya gue telantarkan disini. Bininya juga nggak kalah sadis.”
Dan Randika terdengar terkekeh, Anjani dan Arga menganggapnya masih seperti anak kecil. Kadang mereka juga khawatir berlebihan, dan Charli yang selalu menjadi tumbal dari semuanya.
***
Di kamar sebuah hotel mewah terlihat pasangan muda yang baru saja datang.
“Kata Mbak Anjani kita nginep dimansion Kak, kok kita malah kesini sih ? Nggak enak sama mereka yang sudah menyiapkan untuk kita,”
“Lebih nyaman disini sayang!” jawab Danny singkat.
Jika dia menginap di mansion dipastikan dia tidak akan bisa bermanja-manja dengan istri kecilnya. Arga, Charli dan si polos Randika kadang jahilnya kebangetan, mereka kompak jika itu menyangkut kesengsaraan dirinya.
“Ahh... nyaman banget… akhirnya!”
Isabelle tiduran di atas kasur dengan mengepakkan kedua tangannya seperti seekor burung. Perjalanan yang hanya beberapa jam itu sempat membuatnya ketakutan karena ini pertama kalinya dia naik pesawat.
“Capek sayang?” tanya Danny.
“He’em “ jawab sang istri manja.
“Mau dipijit nggak?”
“Kak Danny memangnya nggak capek?”
“Kalau cuma mijit badan kamu yang kecil sih nggak bakal capek sayang. Sini...” ucap Danny.
“Aww.. kok jeans nya dilepas sih, malu ihh Kak!” jerit Isabelle karena tiba-tiba sang suami melepaskan kancing celana yang sedang ia pakai.
“Malu sama siapa? Hanya kita berdua di kamar ini sayang, lagian nggak nyaman kalau mau istirahat masih pakai celana jeans seperti ini.” kilah Danny tersenyum licik.
Dengan senyum lebar Danny mulai memijit kaki mulus istrinya yang sudah tidak terhalang apapun, semakin ke atas semakin ia susah menelan salivanya. Kain segitiga warna merah itu sangat mengganggu penglihatannya.
“Kak Danny!” pekik Isabelle ketika merasa kain segitiganya diturunkan.
“Ngalang-ngalangin sayang, nggak leluasa mijitnya,” ucap Danny mencari alasan.
“Hishhh mesum dasar, tadi sebelum berangkat kan udah!”
“Yang tadi pagi kan makanan pembuka sayang! Kalau yang ini makanan intinya...”
Isabelle hanya diam dan pasrah ketika sang suami mulai membuka semua pakaiannya. Pijatan-pijatan itu berubah menjadi sentuhan sentuhan liar.
“ Euuughhhh... Kak!”
Isabelle benar-benar di buat kewalahan dengan lidah suaminya yang sedang bermain di bawah sana. Puas bermain, Danny membalikkan tubuh mungil istrinya hingga tidur tengkurap.
Diremasnya gemas dua bongkahan padat bagian bawah sang istri. Danny mengambil bantal untuk mengganjal pinggul sang istri. Dia melakukan gaya ini agar istrinya lebih rileks.
Perlahan dia memacu tubuh sang istri dari belakang dengan dua tangannya yang menahan pinggul ramping itu.
“Eeuugghh...”
Gerakan yang semula slow motion berubah menjadi sangat liar. Suara beradunya kulit dan lengguhan manja sang istri menjadi musik indah yang menghiasi kamar itu. Danny tambah bersemangat ketika melihat Isabelle mulai menikmati semuanya.
Sungguh! Danny selalu bisa membuatnya terbang ke nirwana. Permainan lembut atau liarnya seringkali membuatnya ketagihan.
“Kak....” lirih Isabelle.
“Sama sama ya...”
Danny mempercepat gerakannya karena dia tahu sang istri sudah akan mencapai puncaknya. Sampai akhirnya tubuh mereka bergetar bersamaan. Danny menggeram nikmat saat bagian bawahnya seperti sedang dipijat lembut didalam sana.
“Kakak sayang sama kamu!” Danny menciumi punggung polos istrinya yang masih tidur tengkurap di bawahnya.
“Isabelle juga sayang sama Kakak!”
“Mandi yuk, habis ini kita ke mansion mengantar titipan Anjani buat Randika “
“He’em” Isabelle pasrah saja ketika tubuh kekar sang suami membopong dirinya ke arah kamar mandi.
Malam itu Danny dan Isabelle pergi ke mansion Baskoro untuk memberikan titipan Anjani pada Randika. Ibu muda itu menitipkan daging rendang dan kentang kering pedas kesukaan adiknya.
Setiap hari pun Anjani akan selalu menelepon Randika untuk menanyakan keadaannya. Mereka memang tidak pernah sejauh ini dari kecil, sejak kecil Anjani lah yang merawat adiknya karena sang ibu sibuk mencari uang untuk menghidupi mereka.
“Kak Danny!”
Randika menghampiri sepasang pengantin baru yang sedang mengunjunginya.
“Betah di sini Dik?” tanya Danny kepada adik ipar sahabatnya tersebut.
“Alhamdulilah sih, betahbetah saja,” jawab Randika.
“Banyak yang bening disini,”
“Wihhh inget aja kalau disini banyak yang bening, ntar malem jangan kasih jatah Belle! Tuh mantan hidung belang inget sama mantan disini,” celetuk Charli yang terlihat sedang menuruni tangga.
“Ckk.. mana ada! Tobat setobat-tobatnya gue. Tuh mulut gue lakban juga nih, kalau cuma mau bikin masalah doang!”
“Udah... jangan di goda terus, ngamuk ntar!” kata Randika mencoba menengahi Tom & Jerry di depannya.
“Mas ini ada titipan dari Mbak Anjani!” Isabelle menyerahkan beberapa rantang yang berisi makanan bikinan tangan nyonya muda Baskoro.
“Terimakasih...” jawab Randika.
Seorang maid mengambil-alih semua makanan itu dan menyimpannya di lemari pendingin. Mereka semua akhirnya duduk diruang tengah dan berbincang di sana.
“Kak Danny nggak nginep sini?”
“Mana mau dia Dik, otak mesumnya khawatir kalau kita bakal gangguin dia,” sambar Charli sambil tertawa.
“Nahh itu tau! Makanya cepetan elo pada nikah, biar nggak jadi jones karatan sepanjang masa!” kilah Danny, dia duduk dengan satu tangan yang merengkuh pinggang istrinya.
Sebelum larut, Danny dan istrinya pamit pulang ke hotel, mereka juga ingin menikmati suasana malam di kota ini yang terkenal cukup ramai.
Karena hari sudah malam Charli maupun Randika segera beristirahat di kamar masing-masing. Selama ada di kota ini mereka memang jarang sekali keluar malam. Mereka hanya akan keluar untuk sekedar mencari makan atau sekedar jalan-jalan menikmati sepinya malam.
Charli yang sudah merebahkan dirinya di ranjang tiba-tiba teringat wajah wanita yang siang tadi hampir ia tabrak. Wajah itu terlihat sangat teduh, cantik walaupun di balut kesederhanaan.
Dia menghela nafasnya, sebenarnya ada sedikit rasa bersalah karena sudah menuduh wanita itu dengan tuduhan tuduhan yang tidak berdasar.
Dulu dia pernah dikecewakan oleh seorang wanita. Waktu itu dia masih kuliah dan belum berkelimpahan seperti sekarang. Mereka saling mencintai dan berjanji akan hidup bersama sampai akhir nanti. Mereka ingin hubungan mereka di ikat tali suci pernikahan.
Tapi harapan tinggalah harapan, wanita yang ia cintai diam-diam menikah dengan pria pilihan orang tuanya. Tanpa sepengetahuannya mereka bermain di belakangnya. Kabarnya pria itu adalah pengusaha restoran yang cukup sukses.
Dan sayangnya wanitanya lebih memilih pria itu hanya karena berpikir akan lebih bahagia hidup dengan kekayaan melimpah. Sejak saat itu Charli bertekad untuk menjadi pria yang sukses.
Hingga takdir mengantarkannya pada keluarga Baskoro. Selain diangkat menjadi tangan kanan dia juga diakui menjadi salah satu putra Baskoro seperti halnya Randika dan Danny.
Galih dan Dara tak pernah membedakan mereka berempat. Walau kadang Randika lebih di istimewakan karena dia yang termuda diantara mereka.
Bertahun-tahun ia membentengi dirinya dari makhluk bernama wanita. Sebisa mungkin ia tak mau berurusan dengan mereka.
Bagi Charli kecantikan wanita hanyalah topeng untuk menutupi kebusukan mereka semata. Wanita hanya akan mencintai pria karena harta, tak ada cinta tulus di hati mereka.
Banyak wanita yang mendekatinya tapi tak sekalipun dia melihatnya. Sampai saat ini dia masih sangat menikmati kesendiriannya. Tiba-tiba lamunannnya terganggu dengan dering ponselnya.
“Lily...” lirih Charli sambil menghembuskan nafasnya kasar.
Gadis kaya itu ternyata pantang menyerah, walau dari awal Charli sudah menunjukkan ketidaksukaannya tapi gadis itu tetap berusaha mendekatinya. Dia berpikir sekali dia menanggapi maka Lily akan semakin mengejarnya.
Charli tahu Lily mengira dialah CEO Baskoro karena beberapa kali pertemuan dengan Nusa Corp dialah yang mewakili Baskoro karena Randika punya urusan lain.
Coba saja jika gadis itu tahu Randika yang ia anggap pria miskin adalah CEO Baskoro, dia pastikan gadis itu akan menangis darah.
Kadang dia tak habis pikir dengan Randika yang selalu low profile. Jika di luar sana para pemuda berlomba-lomba memamerkan kekayaannya tapi CEO muda itu malah menikmati kesederhanaannya.
Charli sama sekali tak menyentuh ponselnya, dia biarkan ponselnya berdering berkali-kali hingga dia kemudian tertidur.
***
“Besok siang kita kedatangan donatur untuk pengembangan sekolah kita!”
Sore itu Andini datang ke rumah sederhana Mega untuk menjenguk Ari. Wanita muda itu memang sangat memperhatikan dunia pendidikan. Rencananya dia ingin membuat sekolah gratis untuk kaum tidak mampu. Dan keberuntungan berpihak padanya ketika seorang pengusaha mendukung niatnya ini.
Walau dia hanya berhubungan melalui chat tapi ia yakin pengusaha muda itu benar-benar mempunyai niat baik untuk membantu kaum tidak mampu sesuai dengan misinya.
“Ganteng nggak? Tua atau masih muda ?” tanya Mega dengan antusias.
“Ckk... mana aku tahu. Foto profilnya aja balita laki-laki gendut umur tiga tahunan gitu sama bayi gendut baru lahir, apa jangan-jangan itu foto anak-anaknya?” jawab Andini.
“Berarti udah merid dia?”
“Ya masa udah brojol dua gitu belum merid sih?”
“Yaaahhh....” Mega terlihat sedikit kecewa.
“Kamu kenapa?”
“Yahh kalau masih jomblo kan bisa sama kamu Din!” ucap Mega.
“Kok pikiran kita sama ya, tadinya malah pengen aku kenalin sama kamu. Biar itu Indra nyaho kamu dapat pengganti yang lebih dari dia,” kata Andini.
“Aku nggak pernah kepikiran buat nikah lagi Din, yang terpenting buatku sekarang hanya Ari.”
Andini menepuk pelan lengan sahabatnya, dia tahu perceraian itu sangat menyakiti Mega dan putranya. Walaupun mereka menikah tanpa cinta tapi harusnya Indra tetap bertanggung jawab pada Ari karena bagaimanapun anak itu adalah putra kandungnya.
Sayangnya sahabatnya tidak pernah mau menuntut apapun dari mantan suaminya. Mega selalu berusaha tegar dan kuat untuk putranya.
“Tante Andini...”
“Hai ganteng, udah sembuh?” Andini menghampiri Ari yang berjalan ke arahnya. Sepertinya anak itu baru saja bangun tidur.
“Alhamdulilah udah nggak sakit lagi kepalanya Tan!” jawab anak itu.
Walau masih berumur enam tahun tapi Ari adalah anak yang mandiri. Dia tak pernah bermanja-manja seperti anak lainnya. Pagi hari ia akan membersihkan rumah ketika sang ibu harus menyetrika ratusan baju.
Mega memang menyediakan jasa setrika baju yang dia kerjakan saat pagi hari sebelum dan sesudah pulang kerja. Dan ia akan mengantar sekaligus mengambil lagi baju-baju yang akan ia setrika lagi.
Walau sangat lelah tapi ia mensyukurinya karena hasilnya bisa untuk membeli keperluan sehari hari mereka.
“Sini sayang!”
Mega memeriksa suhu tubuh anaknya, dia lega setidaknya badan Ari sudah tidak panas lagi. Mungkin dengan istirahat sebentar kondisinya akan segera pulih dan kembali beraktifitas seperti semula.
“Tetap istirahat dulu ya sayang biar besok udah bisa sekolah!”
“Yeayy... sekolah!”
**
Di sebuah rumah mewah terlihat suami istri sedang duduk makan siang bersama.
“Mas nanti transfer aku uang lagi ya! Kemarin aku pesan tas branded sama Bu Tuti, teman-teman arisan aku juga banyak yang pesan “
“Tapi belum lama sepertinya kau meminta uang untuk hal yang sama!” ucap sang suami.
“Itu juga bisa buat investasi sayang, tas branded kan seperti emas yang bisa di jual lagi.”
“Berapa aku harus mentransfer ke rekeningmu?”
“Cuma dua ratus juta,” jawab si istri.
BRAK....
“Apa! Kau sudah gila hahh?”
Indra menggebrak meja makan hingga istrinya yang bernama Mery terlonjak kaget. Sudah berkali-kali Mery meminta sejumlah uang hanya untuk menuruti gaya hidupnya yang mewah.
“Aku gila kau bilang? Aku hanya sedang menjaga nama baikmu Mas! Kau paling tahu kan kalau semua temanku adalah istri teman-temanmu yang juga pengusaha. Ya sudah aku akan batalkan pesanan itu dan jika mereka bertanya maka aku akan menjawab jika suamiku tidak punya uang sebesar itu untuk membelinya.”
Dengan tersenyum licik wanita itu melihat ke arah suaminya yang terlihat marah dan sedikit bingung. Tapi ia yakin suaminya tidak akan mau terlihat miskin di depan teman-temannya.
“Terserah!”
Dulu Indra masih bisa memaklumi, lagipula Mery mungkin perlu barang-barang mewah itu untuk menunjukkan eksistensinya sebagai istri dari seorang Indra Perkasa pengusaha sukses yang mempunyai jaringan terbesar restoran di pulau ini.
Tapi lama kelamaan dia merasa lelah untuk menuruti setiap kemauan Mery. Wanita itu seperti tidak ada habisnya meminta dan meminta.
Indra teringat Mega, istri sah yang dia ceraikan untuk bisa menikah resmi dengan Mery. Ya, dia dan Mery pernah menikah siri karena kedua orang tuanya memaksanya untuk menikahi Mega.
Dia dan Mery tidak sengaja bertemu di sebuah super mall di Jakarta. Waktu itu Mery menolaknya dengan alasan bahwa gadis itu sudah mempunyai seorang pacar.
Tapi Indra tidak kehabisan akal, setelah menyelidiki semua tentang gadis incarannya ia mulai menjalankan tak tik nya. Indra mendekati kedua orang tua Mery. Dia manjakan mereka dengan uang berlimpah.
Hingga akhirnya mereka menjodohkan putri mereka padanya. Dan Mery juga akhirnya terlena dengan melihat semua kekayaan yang dia miliki waktu itu. Dengan sukarela gadis itu memberikan dirinya untuk dipersunting walau hanya sebagai seorang istri siri.
Lama kelamaan Mery menginginkan posisi sebagai istri sahnya. Entah bagaimana Indra mau saja menuruti permintaan Mery untuk menceraikan Mega.
Waktu itu Mery mengatakan Mega diam-diam bermain di belakangnya dengan seorang laki-laki. Bahkan Mery memberikan foto-foto bukti perselingkuhan itu, merasa di khianati dan tertipu akhirnya dia menceraikan wanita yang sudah lima tahun menemaninya.
Indra tidak pernah sekalipun melihat dua orang yang pernah ada dalam hidupnya itu karena kebencian yang mendalam, dia paling tidak suka jika dibohongi.