Bab 2

Satu bulan kemudian ....

Tanti merasakan mual dan juga pening kepalanya. Mirna merasa curiga dengan kondisi Tanti. Ia lekas membawa Tanti ke bidan, dan mendapati bahwa Tanti positif hamil. Sontak saja Mirna tidak ingin menanggung malu, apa lagi Tanti hamil tidak ada suami.

"Tika, tolong kamu kemasi semua pakaian Tanti sekarang juga!" 

Tanpa ada kata, Tika langsung mengemasi semua pakaian Tanti dalam sebuah koper kecil dan melemparkannya tepat ke hadapan Tanti.

Tanti merasa heran. “Bu, kenapa semua bajuku di masukkan kedalam koper?"

"Dasar bodoh, belum paham juga hah? Kami ingin sekarang juga kamu angkat kaki dari rumah ini, karena kami tidak ingin menanggung malu atas kehamilanmu yang tanpa suami!" oceh Mirna seraya mencengkeram rahang Tanti.

Tanti merasa kesakitan atas apa yang dilakukan oleh ibu tirinya. Dia berusaha meminta belas kasihan pada Mirna dan kakak tirinya. “Bu, Mbak Tika. Kalian juga yang memaksaku waktu itu untuk menjual keperawananku, bukan? Kenapa aku justru di usir dari rumahku ini?"

Mirna tidak ingin mendengar banyak keluh kesah atau permohonan Tanti, tanpa ada satu katapun, ia mendorong tubuh Tanti ke pelataran rumah. Sedangkan Tika melempar koper tersebut. Ibu dan anak ini langsung menutup pintu dari dalam.

Tanti tidak tinggal diam, ia pun lekas mengetuk pintu rumah itu tapi tidak di buka juga. Sementara kondisi sedang hujan lebat dan terdengar petir menyambar.

“Bu. Ibu!”

Tidak ada sahutan dari dalam.

“Kak Tika. Tolong bukakan pintunya. Tolong buka. Aku mau ke mana lagi kalau pergi dari rumah ini?” Tangis Tanti berderai, hatinya sakit dengan apa yang dia dapatkan saat ini. Perlakuan ibu dan kakak tirinya sungguh keterlaluan.

Akhirnya, dalam kondisi terguyur air hujan, Tanti melangkah pergi dengan menyeret kopernya.

Tanti tidak tahu lagi dia harus pergi ke mana. Dia tidak memiliki saudara di kota ini.

“Tanti?” teriak seseorang di antara hujan yang mengguyur. Tanti menoleh dan menemukan Arin, sahabatnya memanggil.

“Ngapain kamu di sini?” Arin melihat Tanti dengan bingung. Namun, Tanti hanya menangis dan akhirnya Arin menyuruhnya untuk ikut ke rumahnya.

Dia mendapatkan pertolongan dari Arin, dan ia di izinkan tinggal di rumah yang hanya tinggal bersama ibunya.

Berbeda situasi di rumah Darian. Sejak kejadian itu, ia teringat pada Tanti.

Darian tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dia juga tidak bisa mengalihkan pikirannya dari kejadian di malam itu.

"Ya Allah, sebulan sudah berlalu tapi aku ingat terus dengan gadis manis yang telah aku ambil keperawanannya secara paksa. Semua ini gara-gara pengaruh alkohol yang telah di campur obat perangsang. Siapa sebenarnya yang telah mencampuri minumanku dengan obat waktu itu ya?" gumam Darian kesal. Dia merasa bersalah setelah mengingat kejadian malam itu yang telah membuatnya merenggut kesucian seorang wanita.

Untuk menebus rasa bersalahnya, ia meminta salah satu asisten pribadinya untuk mencari tahu siapa yang telah menaruh obat itu dan mencari dimana rumah Tanti lewat informasi dari Gondo. Tetapi gagal, karena Tanti sudah pergi dari rumah tersebut.

Rasa dosa dan penyesalan terus saja menghantui pikiran Darian. Bahkan ia sampai tidak fokus dalam bekerja karena memikirkan Tanti.

Beberapa bulan kemudian....

Kehamilan Tanti sudah terlihat besar, tetapi ia masih bekerja di cafe. Pemilik cafe tidak tega memecat Tanti setelah mengetahui cerita miris yang telah dialami oleh Tanti. Awalnya Tanti malu untuk bercerita, tapi dia juga tidak ingin dicap buruk dengan pemikiran orang lain terutama atasannya. 

Tanti terlihat sangat letih, ia pun duduk sejenak. Hal ini membuat Arin merasa iba.

"Tanti, apakah kamu baik-baik saja? Apakah sudah waktunya kamu melahirkan?"

Tanti mencoba tersenyum. “Aku baik-baik saja, hanya saja agak lelah. Mungkin karena kandungku sudah memasuki umur sembilan bulan. Aku belum ada tanda-tanda melahirkan, kok. Eh, sudah ya. Aku mau bersihin cangkir dan piring."

Tanti tidak ingin terlihat lemah di hadapan Arin, setelah sejenak melepas lelah ia segera ke depan untuk membersihkan semua piring dan gelas di meja-meja cafe tersebut.

Pada saat ia berjalan, tidak sengaja ia menabrak seseorang. Hingga salah satu cangkir yang masih ada isinya tertumpah ke baju orang itu.

"Aduh. Maaf. Maafkan sa—“

Bab 3

Tanti menghentikan perkataannya pada saat melihat orang yang ada di depannya. Ia pun ketakutan dan lekas berlari untuk bersembunyi. Sementara itu Darian terpaku melihat wanita berperut besar itu.

"Astaga. Bukankah itu orang yang selama ini aku cari?" Darian mencoba untuk mengingat, tap jika bukan, kenapa wanita itu harus lari?

Tanti dengan cepat bersembunyi, meninggalkan cangkir yang tadi dia pegang di meja dekat Darian berdiri.

“Astaga. Ada dia di sini!” Dada Tanti berdebar kencang. Dia benci dengan laki-laki itu dan tidak ingin bertemu dengannya.

Darian berusaha mencari keberadaan Tanti tapi sebelum usahanya berhasil, seorang wanita menghampirinya.

“Ternyata Anda ada di sini, Tuan Darian. Tuan Rocky sudah menunggu,” ucap seorang wanita, sekretaris pribadi Darian yang telah lama menaruh hati padanya.

Darian kesal, dengan sangat terpaksa dia menghentikan pencariannya terhadap Tanti karena ia tidak ingin mengecewakan klien barunya.

Masih ketakutan, Tanti meminta izin pulang sebelum waktunya dengan alasan kurang enak badan.

“Apa yang dia lakukan? Apa dia akan membawa anakku?” Pikiran Tanti sudah sampai pada hal yang jauh. Apa lagi kan?

Sesampainya di rumah Arin, ia berpamitan pada ibunya Arin untuk mencari tempat tinggal yang lain. Ia juga menceritakan perihal yang barusan terjadi padanya.

Tanti sangat ketakutan, terlintas lagi di dalam pikirannya kejadian beberapa bulan yang lalu. 

Sementara Darian juga terbayang pada Tanti terus. Bahkan ia penasaran dengan kehamilan Tanti.

"Ya Allah, apakah anak yang di kandungnya anakku? Alangkah berdosa aku jika memang hal itu benar," batin Darian.

Dengan berbekal rekomendasi dari Arin, Tanti berhasil mendapatkan pekerjaan di cafe cabang dari cafe sebelumnya. Arin pintar berkata hingga Tanti bisa mendapatkan pekerjaan lagi walaupun kondisi kehamilannya sudah besar.

"Arin, terima kasih ya. Selama aku susah, kamu dan ibumu selalu ada buatku. Bahkan berkat pertolonganmu juga, aku bisa bekerja lagi dan tinggal di rumah kontrakan ini."

Dengan wajah sendu, Tanti menatap ke arah Arin seraya menggenggam kedua tangannya.

"Kamu teman baikku, Tanti. Dan jika waktu itu kamu tidak pergi dari rumahku, juga berbahaya untukmu. Karena ada seorang pria bertubuh tinggi tegap mencarimu ke rumah.”

Tanti terkejut akan ucapan Arin barusan. Dia tidak menyangka jika laki-laki itu mencarinya hingga ke rumah Arin.

“Apa kamu bilang aku ada di sini?”

“Tidak. Sesuai dengan permintaanmu, aku dan ibu sama sekali tidak memberi tahu tentang keberadaanmu. Tetapi, aku tidak tega loh, jika kamu tinggal di rumah kontrakan ini seorang diri dalam kondisi hamil besar seperti ini. Apakah sebaiknya aku dan ibu tinggal di sini saja ya, untuk menemanimu," ucap Arin merasa iba melihat kondisi sahabatnya tersebut.

Tanti menolak, ia tidak ingin terlalu banyak berhutang budi pada Arin dan ibunya. “Kamu nggak usah khawatir, semua tetangga disini baik kok. Jadi, kamu dan ibu tidak usah jauh-jauh pindah kemari. Jika ada apa-apa denganku, pasti akan ada yang menolong."

Arin semakin kagum dengan Tanti yang terlihat tegar.

"Masya Allah, Tanti. Aku benar-benar salut dan heran denganmu. Kamu bahkan mempertahankan anak yang tidak kamu inginkan ada di dunia ini. Kalau aku jadi kamu, aku sudah bunuh diri," ucap Arin memuji ketegaran Tanti yang sama sekali tidak terlihat air mata. Arin melihat Tanti menangis hanya pada saat Tanti di usir dari rumahnya sendiri dan dalam kondisi hamil.

Tanti tersenyum mendengar pujian dari Arin. “Aku memang tidak mengharapkan anak ini. Tapi Allah yang berkehendak. Bukannya segala sesuatu ada atas seizin Allah. Anakku tidak bersalah walaupun cara ia hadir dengan tidak aku harapkan. Tetapi, aku tidak akan pernah menolak anakku sendiri, Arin."

Rasa kagum semakin terlihat di wajah Arin, ia memeluk Tanti dan mengusap pundak temannya itu dengan lembut.

"Aku yakin Allah akan selalu menjagamu dan calon anakmu ini dengan segala macam cara, walaupun aku dan ibu tidak ada di sampingmu. Tapi kami akan sering-sering datang kemari untuk menjengukmu dan calon keponakanku."

Sejak saat itu, Arin dan ibunya sering datang ke kota dimana Tanti sekarang tinggal. Bahkan tak terasa, waktu berlalu begitu cepat.

Kini Tanti sudah memiliki seorang anak berumur enam tahun yang bernama Ade. Ade anak yang cerdas, pintar, dan berkepribadian sangat baik.

"Bu, aku berangkat ke sekolah, ya. Ibu nggak perlu antar aku, toh aku sudah besar bahkan aku sudah bisa menjaga ibu."

Ade yang baru duduk di kelas 1 SD, mempunyai sifat yang dewasa tidak sesuai dengan umurnya yang masih terlalu kecil.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED