Bab 2

"Dapat durian runtuh kita, Kem. Sudah cantik, bahenol, putih lagi." ucap kedua pemuda itu saat mereka memdorongku hingga terjatuh duduk di semak-semak, mereka menatapku tak berkedip dari atas hingga bawah.

Aku menjerit dan terus memberontak namun setelah aku berpikir lagi, mungkin ini bukan ide buruk. ' Jika aku harus menodai dan melepaskan keperawananku malam ini? agar bisa mengagalkan rencana keluarga Kang Satria yang akan menjadikanku tumb@l.

Setelah bisik-bisikan syaiton itu, aku pasrah dan tak memberontak lagi, namun memang malaikat sepertinya bersamaku.

"Hey! Apa yang kalian lakukan?" pekik pria yang akan menolongku.

"Gak usah ikut campur kamu!" ucap kedua preman itu yang merasa terganggu.

"Lepaskan dia!" perintah pria itu.

"Ha ha ha, memang siapa kau hah?" ucap preman.

"Udah mending kita hajar aja Bang!" timpal preman satunya lagi.

Tanpa aba-aba mereka langsung baku hantam, aku yang sebagai korbanya hanya menonton sambil mencemili daun ilalang.

Aku sudah bod0 amat mau jadi di lecehkan atau tidak, yang jelas saat ini aku mengharapkan ada yang menodaiku. Ha ha ha sedasyat itu memang rasa sakitnya hingga pikiranku saja sudah gila.

Dengan sat set pria yang menolongku itu menang dengan mudah, kedua pemuda yang sudah tersungkur dengan wajah yang sudah babak belur.

"Ampun Ba--ng" ucap kedua preman itu.

"Pergiii!" Sentak pria yang menolongku.

"Ba-baik" kedua preman itu pergi dengan berlari sekencang mungkin.

"Teh, gak apa-apa kan?" tanya pria itu, ia mencoba membantuku untuk berdiri.

Aku menatap sinis pria itu, kenapa pria tampan ini harus menggagalkan rencanaku.

"Kenapa kamu menolong saya?" tanyaku sambil menepis uluran tangannya.

Pria itu terlihat kebingung dengan ucapanku, mungkin ia juga akan menganggapku gadis gila.

"Loh Si Teteh ini aneh, orang di tolong bukannya terimakasih, ini malah marah-marah kaya nenek lampir" ucap pria itu sedikit kesal.

"Apa kamu sebut saya nenek lampir?" sentakku dengan nada tinggi.

Pria itu hanya diam, lalu mendengus kesal dan berbalik dan melangkah ingin meninggalkanku.

"Hey, tunggu mau kemana kamu?" tanyaku sebelum ia menjauh.

"Ya mau pulang lah Teh" jawabnya malas.

"Ikut!" pintaku padanya.

"Katanya tadi gak mau di tolong? Kok sekarang mau ikut saya?" tanyanya menyebalkan.

Aku memasang raut wajah misuh-misuh, dan pria itu malah tertawa.

"Yaudah ayo ikut!" ucapnya, lalu aku langsung berjalan mendahuluinya.

"Dasar gadis aneh" gumam pria itu.

"Rumah Teteh di mana?" tanya pria itu saat kami menaiki sebuah motot miliknya.

"Saya gak punya rumah" jawabku asal, karena aku tak ingin di hantarkan ke rumahku saat ini.

"Terus Teteh selama ini tinggalnya di mana dong? Di gorong-gorong?" tanyanya aku langsung memukul kepala pria ini dari belakang.

"Haduh! Kenapa di pukul" protesnya sambil mengaduh kesakitan.

"Kamu pikir saya tikus, atau sejenis hewan yang tinggal di sana apa!" kesalku.

"Heheeee, tapi Teh ini kita mau kemana?" tanyanya yang kebingungan.

"Saya ikut kamu aja" jawabku.

"Beneran mau ikut saya?" tanyanya memastikan.

Aku mengangguk kepalaku."Yaudah kita ke indekos saya mau? Tapi tenang aja Teh, ada tiga petak di sana, ada dapur, jadi Teteh bisa tidur di kamarnya dan saya tidur di ruang tamu" jelas pria itu aku hanya mengangguk-anggukan saja.

"Silahkan masuk Teh, maaf sempit kontrakannya" ucapnya saat kami sudah sampai.

"Mau minum?" tanyanya, aku hanya menggelengkan kepalaku.

"Siapa namamu?" tanyaku saat aku sudah masuk kedalam kontrakannya.

"Irpan Khairi Ramadhan, panggil aja Irpan, Teteh namanya siapa?" tanya balik Irpan.

"Putri Anggraini, panggil aja Putri" ucapku.

"Kalau panggil Neng aja boleh?" tanya Irpan.

"Siapa?" 

"Ya Teteh" 

"Yang nanya?" Kekehku.

"Teh, tidur yuk udah malam" ucapnya.

"Yuk bareng" ucapku sambil mengedipkan mata genit pada Irpan.

Bersambung.

Bab 3

"Bercanda ya?"

"Enggak kok, ayo kalo mau tidur bareng aku Sayang" godaku sambil berpose menantang di atas kasur.

Irpan beringsut mundur kebelakang

"Ayolah,"

"Sa-ya tidur lebih dulu ya Teh" ucap irpan gugup sambil berjalan ke arah ruang tamu.

"Sayang beneran gak mau nih? godaku, aku tak menyerah dan mengikuti irpan dari belakang.

"Muji teh, muji Teh"

"Teh--"

"Teteh kerasukan ya?"

"Saya mau merasakan keperkasaan kamu"

"Maksudnya?" tanya Irpan dengan raut wajah .

"Ayo, atau aku bunuh kamu" ancamku.

Aku akan membuktikanpada mereka, bahwa aku tidak bodoh dan mereka lah yang sudah memilih lawan yang salah!

____

Saat pagi tiba, irpan berlari ke kamar saat sadar kami berdua tidur bersama di atas kasur yang sama.

"Teh semalam apa kita--?"

"Teteh nangis? Apa sakit teh?"

"Teh maafin saya" jawabnya menangis terisak-isak.

"Teh saya siap tanggung jawab dengan apa yang sudah saya lakukan, saya bakalan nikahin Teteh" tambahnya dengan sungguh-sungguh, namun aku menggelengkan kepala.

'Ternyata masih ada pria seperti ini, pria yang mau bertanggung jawab, aku menjadi marasa bersalah telah menghadirkan dia di dalam hidupku.

"Ini semua salah, saya. Saya tidak sakit, kamu tenang saja."

"Saya gak yakin, pasti Teteh punya alasan yang lain kan" tebaknya.

"Saya mungkin lagi kesurupan kuntilanak gajen semalam,." kekehku

"Sudah, aku tidak ingin memperpanjang masalah ini, kita lupakan semuanya."

"Teh semalam kita udah ngelakuin dosa gede, tapi aku gak habis pikir sama Teteh, dengan gampangnya teteh nyuruh aku lupain semuanya" protesnya.

Aku diam tak mengubris ucapan lrpan, dari pada terus begini, lebih baik aku segera pergi dari sini.

Saat aku berlari keluar dari idekosnya Irpan langsung mengejarku namun aku segera sembunyi hingga akhirnya pria itu menyerah dan kembali masuk kedalam kontrakannya.

Aku di besarkan oleh Ayahku dengan didikan agama, aturan yang sangat ketat, apalagi jika tentang pergaulan bebas, aku bahkan di ancam tak di aku anak dan akan di bun"h jika melakukan itu sebelum menikah karena itu adalah sebuah dosa besar.

'Ayah maafkan aku, aku terpaksa memilih jalan ini, dari pada harus mati menjadi tumb@l keluarga Kang Satria' ucap batinku.

Aku tersenyum getir. Kenapa pria seperti Kang Satria harus ada di dalam hidupku? Dan lagi aku baru saja--.

Aku menjambak rambutku dengan prustasi.

'Ya Allah semoga engkau mengampuni semua dosaku' ucapku dalam hati sambil terus berjalan pulang.

"Kemana saja kamu semalam?" semprot Bu Melda~ibu tiriku, saat aku baru saja sampai di depan rumah.

Sedangkan Pak Ridwan~ayah kandungku menyuruhku masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.

"Mega bilang kamu tidak pulang semalam?" tanya Bu Melda sedikit kesal.

'Wanita paruh baya ini kenapa terlalu emosi denganku yang tak pulang tadi malam?' batinku.

"Aku menginap di rumah Rani" jawabku asal.

Rani~ adalah teman kerjaku di pabrik garmen, sudah setahun aku berkerja bersamanya di sana.

"Sudah Bu, lagian Putri sudah besar di bisa ngejaga diri sendiri" ucap Pak Ridwan lembut.

Namun Bu Melda tak mengubris, ia begitu marah padaku yang tak pulang semalam.

"Tapi Pak, dia itu sebentar lagi mau menikah" ucap bu Melda dengan nada tinggi.

"Memang kenapa? Apa Putri salah menginap di rumah temannya?" tanya Pak Ridwan, kini pria paruh baya itu malah menatap heran dengan raut wajah dan sikap istrinya.

Menurut Pak Ridwan sikap istrinya itu terlalu berlebih-lebihan terhadap Putri, sementara dengan Mega yang sering tak pulang kerumah dengan alasan yang sama, yaitu menginap di rumah teman tak seemosi dan di marahi seperti ini.

"Bukan begitu, tapi aku takut saja dia kenapa-kenapa" jawab Bu Melda gugup.

Namun aku menatapnya aneh, aku mencoba mencerna semua ucapanya tadi, heran sejak kapan ibu tiriku perduli padaku? Aku curiga jangan-jangan dia juga bersekokol dengan keluarga Kang Satria, dia juga mengetahui rencana mereka.

Bersambung.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED