Malam pertama di rumah Raditya berjalan lebih tenang dari yang kuduga. Kamar yang disediakan untukku berada di lantai dua, dekat dengan kamar Kirana. Ruangannya luas, dengan jendela besar menghadap taman belakang, lengkap dengan lemari pakaian, meja kecil, dan seprai yang masih wangi detergen. Aku berbaring di atas ranjang sambil menatap langit-langit, menarik napas panjang.
Semuanya berjalan mulus-terlalu mulus.
Aku sudah resmi diterima sebagai pengasuh Kirana. Tadi sore, Raditya memberitahuku langsung, dengan suara datarnya yang khas.
"Kirana terlihat nyaman denganmu. Mulai besok, kamu bisa tinggal di sini."
Aku pura-pura terkejut. Padahal, ini memang bagian dari rencana.
"Terima kasih, Pak. Saya akan jaga Kirana dengan baik," ucapku saat itu.
Kirana.
Gadis kecil itu... terlalu manis untuk dilibatkan dalam urusan dendam. Tapi aku tidak bisa membiarkan perasaanku mengaburkan tujuan. Aku tidak boleh lupa siapa musuhku. Aku tidak boleh lupa rasa sakit itu.
Pagi harinya, suara ketukan di pintu membangunkanku.
Tok tok tok.
"Kak Anya, bangun! Aku mau main sepeda!" teriak Kirana dari luar.
Aku melirik jam dinding. Baru pukul 06.45. Kupaksakan bangun, menarik rambut ke belakang, lalu membuka pintu dengan senyum mengantuk.
"Pagi, Sayang. Kamu sudah mandi?"
Kirana mengangguk cepat. "Sudah! Ayah masih di ruang kerja, katanya ada meeting. Jadi aku boleh main pagi-pagi asal sama Kak Anya."
Aku menahan tawa melihat ekspresi semangatnya. "Oke. Tapi kamu harus sarapan dulu."
Kami turun ke dapur bersama. Bude Lastri, asisten rumah tangga yang ramah itu, sudah menyiapkan roti panggang dan telur dadar. Kirana langsung duduk dan mulai makan, sambil bercerita panjang lebar soal sepeda barunya.
"Ayah beliin sepeda baru bulan lalu. Warna pink! Tapi ayah nggak bisa sering nemenin aku, soalnya sibuk kerja."
Nada suaranya mengandung sedikit kecewa, dan entah kenapa hatiku tergerak. Aku tahu bagaimana rasanya merasa sendirian.
"Sekarang Kak Anya ada. Kita bisa main bareng kapan saja," kataku.
Mata Kirana berbinar. "Beneran?"
Aku mengangguk. "Janji."
Kami menghabiskan pagi itu di taman kompleks. Kirana mengayuh sepedanya dengan semangat, sesekali berteriak, "Lihat, Kak Anya! Aku bisa lepas tangan!"
Aku berpura-pura khawatir dan berkata, "Jangan lepas tangan nanti jatuh!" Tapi dalam hati aku tertawa.
Di sela-sela tawa Kirana, pikiranku kembali ke Devan.
Pria itu pernah berjanji akan menikahiku. Kami telah memilih gedung, bahkan membahas nama anak. Tapi semua itu runtuh dalam semalam ketika aku melihatnya menggandeng Siska, kakakku sendiri.
Siska yang sempurna. Siska yang selalu menang. Dan kini, dia merebut Devan dariku, hanya karena bisa.
Kupikir aku sudah kuat. Tapi kenyataan itu masih menusuk seperti belati berkarat. Aku menatap Kirana yang sedang tertawa-anak polos yang tak tahu apa-apa tentang masa laluku.
"Aku sayang kamu, Kak Anya!" serunya tiba-tiba.
Aku tertegun.
"Apa?"
Kirana berhenti mengayuh sepedanya dan memeluk pinggangku. "Aku sayang kamu. Karena kamu baik dan nggak pernah marah kalau aku tumpahin susu."
Aku membalas pelukannya. "Kak Anya juga sayang kamu, Kirana..."
Dan saat itu juga, aku sadar: perasaanku mulai terguncang.
Malamnya, aku menyelesaikan laporan harian untuk Raditya. Ya, dia meminta aku menuliskan ringkasan aktivitas Kirana setiap malam. Katanya, agar dia tetap terlibat meskipun sibuk.
Aku mengetuk pintu ruang kerjanya, lalu masuk setelah dipersilakan.
"Ini laporan hari ini, Pak. Kirana main sepeda pagi, lalu menggambar dan belajar membaca siang tadi."
Raditya menerima map itu tanpa menoleh. Tangannya masih di atas keyboard, mengetik cepat.
"Terima kasih."
Aku berdiri di sana, ragu untuk pergi. Entah kenapa, aku ingin berbicara. Bukan sebagai babysitter, tapi sebagai... seseorang yang melihat sisi rapuh darinya.
"Apa Bapak selalu bekerja sampai malam?" tanyaku hati-hati.
Akhirnya dia menoleh. Tatapannya tetap tajam, tapi tidak sedingin biasanya.
"Biasanya, iya. Banyak yang harus saya urus. Perusahaan ini warisan dari orang tua saya. Dan setelah... istri saya meninggal, semuanya saya tangani sendiri."
Aku terkejut mendengar nada lembut dalam suaranya. Baru pertama kali dia menyebut mendiang istrinya. Aku menunduk, menyesal sudah bertanya.
"Maaf, saya tidak bermaksud-"
"Tidak apa-apa." Dia menghela napas. "Saya tahu Kirana butuh lebih banyak waktu bersama saya. Tapi kadang, hidup tidak memberi kita semua pilihan."
Aku diam. Lalu, tanpa sadar, aku berkata, "Dia sangat menyayangi Bapak."
Dia menatapku lama, lalu mengangguk pelan.
"Terima kasih, Anya. Kamu melakukan pekerjaan dengan sangat baik."
Jantungku berdebar. Itu... pujian?
"Senang bisa membantu," jawabku lirih.
Aku keluar dari ruang kerjanya dengan langkah ringan. Tapi juga bingung. Kenapa aku senang? Bukankah ini semua hanya permainan?
Hari-hari berikutnya berjalan cepat. Kirana makin lengket padaku, dan Raditya perlahan membuka diri. Kadang kami sarapan bersama, kadang dia duduk menemaniku membaca buku dongeng untuk Kirana. Semakin sering, aku lupa bahwa ini semua harusnya pura-pura.
Suatu malam, Kirana demam.
Aku menemukannya gelisah di tempat tidur, wajahnya merah dan keringat dingin membasahi dahinya. Panik, aku langsung menelepon Raditya yang masih di kantor.
"Pak, Kirana demam tinggi. Saya sudah kasih kompres, tapi... saya pikir Bapak harus tahu."
Kurang dari dua puluh menit, dia sudah sampai di rumah. Bahkan dasinya belum dilepas.
"Kirana!" serunya, menghampiri putrinya dengan panik.
"Aku sudah hubungi dokter, Pak. Akan datang sebentar lagi."
Raditya menatapku. Untuk pertama kalinya, aku melihat kekhawatiran tulus di wajahnya-dan juga... kepercayaan.
"Terima kasih, Anya."
Aku hanya mengangguk.
Kami menunggu dokter bersama. Duduk di tepi tempat tidur Kirana, menggenggam tangannya bergantian. Malam itu, aku dan Raditya seperti sepasang orang tua-meski kenyataannya sangat berbeda.
Setelah dokter datang dan memastikan bahwa demam Kirana hanya infeksi ringan, suasana kembali tenang. Aku mengantar Raditya ke ruang tamu, dan kami duduk berdua dalam keheningan.
"Aku takut kehilangan dia," katanya tiba-tiba.
Aku menoleh.
"Dia satu-satunya yang kumiliki sekarang."
Aku tak tahu harus berkata apa. Jadi aku hanya duduk di sana, menatap wajahnya yang lelah dan jujur.
Dan saat itu juga, aku sadar... aku berada di ambang. Ambang antara rencana dan kenyataan.
Keesokan harinya, aku menerima pesan dari orang yang tak ingin kuingat.
Siska.
"Hai, Anya. Aku dengar kamu kerja di rumah Raditya. Dia bos Devan, ya? Wah, cepat juga kamu move on. Hati-hati, dia duda anak satu. Jangan sampai baper, ya."
Tanganku bergetar saat membaca pesan itu. Ingin rasanya aku balas dengan caci maki. Tapi aku tahu dia hanya ingin memancing emosi.
Aku menaruh ponsel dan melihat ke luar jendela. Di taman, Kirana sedang bermain gelembung sabun. Raditya berdiri tak jauh darinya, memegang kamera, tertawa kecil saat putrinya mengejar gelembung-gelembung itu.
Mereka terlihat seperti keluarga.
Dan aku... berdiri di antara mereka. Tidak sebagai pengasuh. Tapi sebagai seseorang yang mulai peduli. Terlalu dalam.
"Anya, ayo ke sini!" teriak Kirana.
Aku melangkah, senyumku perlahan merekah. Tapi di dalam hati... aku tahu, rencana balas dendamku mulai retak.
Hari-hari berlalu lebih cepat daripada yang kuduga. Setiap pagi dimulai dengan tawa Kirana, setiap malam diakhiri dengan suara dongeng yang kubacakan sampai ia terlelap. Aku tidak pernah membayangkan bahwa hidupku yang semula penuh rencana gelap bisa terasa... hangat seperti ini.
Namun, semakin dalam aku masuk ke dunia mereka, semakin kabur garis antara kebencian dan kasih sayang.
Suatu siang, saat Kirana sedang tidur siang, aku berjalan ke dapur untuk minum. Tak sengaja, kudengar suara Raditya dari ruang kerjanya yang pintunya sedikit terbuka.
"...saya tidak peduli dengan investasi itu. Kalau mereka tidak menghormati batas waktu, kita batalkan kerja sama," ucapnya tegas.
Ada jeda. Mungkin lawan bicaranya sedang memberi alasan.
Raditya menyahut lagi, "Saya tidak akan korbankan waktu saya bersama putri saya hanya untuk menuruti orang yang tidak disiplin. Ini bukan cuma tentang bisnis."
Aku tak sadar berdiri terlalu lama, hingga lantai berderit di bawah kakiku.
Pintu terbuka lebih lebar. "Anya?" Raditya menatapku.
"Maaf, saya tidak sengaja dengar," kataku buru-buru. "Saya hanya... lewat mau ambil air."
Dia menutup laptopnya dan berdiri, menghampiriku. "Tak apa. Kamu sering begitu tenang, kadang saya lupa kamu di rumah ini."
Aku tertawa kecil. "Saya memang lebih suka tak terlihat. Kecuali kalau Kirana minta peluk atau es krim."
Raditya tertawa juga-ringan dan lepas. Itu pertama kalinya aku mendengarnya tertawa begitu. Dan jujur, itu menyesakkan. Karena dalam pikiranku, suara tawa itu menyenangkan... terlalu menyenangkan untuk seseorang yang seharusnya kubenci.
"Ngomong-ngomong," katanya sambil mengambil gelas air juga, "aku rencana libur akhir pekan ini. Kirana sudah lama minta main di luar kota."
"Ayah dan anak quality time?" tanyaku.
"Kalau kamu tidak keberatan, ikutlah," katanya tiba-tiba.
Aku membeku.
"Apa?"
"Sekadar membantu jaga Kirana. Aku tahu kamu bisa pegang situasi. Dan dia akan senang sekali kalau kamu ikut."
Aku pura-pura ragu, padahal hatiku langsung melonjak.
"Baik, Pak. Kalau memang dibutuhkan."
Dia tersenyum. "Terima kasih, Anya."
Anya. Bukan sekadar pengasuh. Bukan sekadar alat balas dendam.
Sabtu pagi, kami berangkat. Tujuan: vila pribadi milik keluarga Raditya di Puncak. Rumah kayu dengan halaman luas, pohon pinus tinggi menjulang, dan udara segar yang berbeda dari polusi kota.
"Ayah, kita nginap di sini?" Kirana berseru kegirangan begitu mobil berhenti.
Raditya mengangguk. "Tiga hari dua malam."
"Aku mau bikin istana dari daun!"
Aku menggenggam tangan Kirana, membantunya turun dari mobil. Ia melompat-lompat bahagia, dan aku... entah kenapa, ikut tertawa.
Suasana vila sangat nyaman. Setelah menaruh barang di kamar, aku duduk di balkon, menatap hijaunya pemandangan. Tak lama kemudian, Raditya ikut duduk di kursi sebelahku.
"Kirana sedang main puzzle di dalam," katanya.
Aku hanya mengangguk, menikmati udara sejuk.
"Dulu, aku sering ke sini dengan istri. Tapi sejak dia pergi, tempat ini jadi kosong."
Aku menoleh, terkejut dia menyebut istrinya lagi.
"Maaf kalau saya lancang. Apa Bapak... masih sering mengingat beliau?"
Dia terdiam cukup lama sebelum menjawab.
"Setiap hari. Tapi sekarang, aku lebih fokus ke Kirana. Dia... warisan terakhir dari masa itu. Aku tidak bisa larut terlalu lama."
Aku mengangguk. "Kirana sangat beruntung punya Bapak."
"Dan aku beruntung kamu ada untuk bantu jagain dia."
Hati ini mulai tak terkendali. Kalimat itu, cara dia memandangku... terlalu tulus.
Dan aku takut. Takut bahwa aku tidak lagi berperan. Tapi benar-benar terlibat.
Malam harinya, setelah Kirana tidur, Raditya mengajakku duduk di dekat perapian. Hanya kami berdua. Hanya cahaya api dan suara jangkrik yang menemani.
"Aku selalu penasaran," katanya sambil memutar cangkir teh di tangannya. "Apa yang membuatmu ingin jadi pengasuh anak? Latar belakangmu... tidak biasa."
Aku menegang.
Itu pertanyaan yang kubenci. Karena latar belakangku penuh kebohongan.
"Saya... ingin menjauh dari masa lalu. Mengurus anak membuat saya merasa dibutuhkan, dan itu... menyembuhkan," jawabku hati-hati.
Dia menatapku lama, lalu mengangguk. "Aku paham. Kita semua punya luka yang tak ingin diceritakan."
Diam-diam aku menghela napas lega. Ia tidak menggali lebih jauh.
Tapi malam itu, saat aku kembali ke kamar, aku menangis. Menangis karena aku tidak tahu lagi siapa diriku sebenarnya. Anya si pengasuh? Atau Anya si pendendam?
Dan untuk pertama kalinya, aku bertanya pada diri sendiri, apa yang sebenarnya aku cari dari semua ini?
Hari kedua di vila, kami menghabiskan waktu di sungai kecil tak jauh dari belakang vila. Kirana bermain air, tertawa-tawa memercikkan kami berdua. Raditya menatapku sambil tertawa, bajunya setengah basah karena ulah putrinya.
"Kamu tahu, kamu berbeda dari pengasuh-pengasuh sebelumnya," katanya pelan, saat Kirana sedang memetik bunga liar.
"Beda bagaimana?" tanyaku, pura-pura tidak paham.
"Kamu... tidak merasa ini hanya pekerjaan. Kamu benar-benar hadir. Kirana tahu itu. Aku juga tahu."
Aku terdiam. Kalau saja dia tahu niat asliku saat pertama datang...
Namun kalimat berikutnya membuatku kaget.
"Aku ingin kamu tetap tinggal bersama kami. Bukan hanya sebagai pengasuh Kirana. Tapi... sebagai bagian dari keluarga ini."
Deg.
Aku ingin menjawab. Tapi kata-kata tercekat di tenggorokan.
Bagian dari keluarga?
Dia... serius?
Sebelum aku bisa berkata apa-apa, Kirana berlari ke arah kami, memeluk kami berdua bersamaan. "Aku suka kita main bareng!"
Raditya tertawa. "Ayo kita buat piknik kecil!"
Kami menggelar tikar, membuka bekal, dan makan bersama seperti keluarga kecil. Rasanya terlalu nyaman. Terlalu damai.
Dan sekali lagi, aku lupa bahwa aku datang untuk menghancurkan.
Namun damai itu tidak bertahan lama.
Malam ketiga, ponselku berbunyi.
Nomor tak dikenal.
"Anya? Ini aku, Devan."
Aku hampir menjatuhkan ponselku.
"Apa maumu?"
"Aku tahu kamu kerja di rumah Raditya. Kamu pikir kamu bisa membalas dendam begitu saja?"
Nafasku memburu. "Aku tidak tahu kamu bicara apa."
"Aku tahu kamu menyusup ke hidupnya. Tapi dengar baik-baik, Anya. Kalau kamu berani macam-macam, aku akan pastikan Raditya tahu siapa kamu sebenarnya."
Aku menggigit bibir. "Apa yang kamu takutkan? Kehilangan pekerjaan? Atau takut Raditya berpihak padaku setelah tahu kamu dan Siska menghancurkan hidupku?"
"Aku tidak datang untuk bertengkar. Aku cuma mau bilang... berhenti. Sebelum kamu hancur lagi. Ini bukan permintaan."
Sambungan terputus.
Aku terduduk di tepi ranjang. Nafas berat, tubuh gemetar.
Bagaimana jika dia benar-benar membongkar penyamaranku?
Pagi keempat di vila, aku lebih banyak diam. Raditya sempat bertanya, tapi aku hanya bilang kelelahan.
Kirana memelukku sebelum kami pulang. "Aku nggak mau kita pulang. Aku suka Kak Anya, suka Ayah, suka rumah ini."
Aku memeluknya erat. "Kita masih akan bersama, Sayang."
Tapi dalam hatiku, aku tidak yakin.
Karena benih kebohongan yang kutanam, mungkin akan tumbuh menjadi badai.
Dan saat badai itu datang... apakah Raditya dan Kirana masih akan memandangku dengan cara yang sama?
Malam harinya, kembali di rumah, aku membuka kotak kecil di bawah tempat tidur. Di dalamnya ada foto lama. Aku, Devan, dan... Siska. Tersenyum, bahagia. Foto yang sekarang terasa seperti mimpi buruk.
Aku mengambil korek api, menyalakannya. Kertas foto itu terbakar pelan. Namun rasa sakit di dalam dada justru semakin menjadi-jadi.
Samar, aku mendengar suara langkah kaki di luar kamarku.
Tok tok.
"Anya?" suara Raditya. "Kirana mimpi buruk. Dia nyari kamu."
Aku buru-buru padamkan api, menyimpan sisa foto yang gosong.
Saat membuka pintu, aku kembali mengenakan topengku.
"Baik, Pak. Saya akan temani dia."
Tapi di balik senyumku, hatiku... mulai berkhianat pada rencana yang dulu kupegang erat.