Bab 2

Jalanan desa yang gelap dan berbatu, ditambah lagi dengan kabut embun. Suasana desa malam itu terasa mencekam. Di bawah lolongan suara anjing malam, jenazah Kahina digendong oleh kakeknya. Semua tubuhnya yang terpisah-pisah, dijadikan satu dalam kain kafan. Tidak lagi berbentuk jenazah, melainkan seperti bentuk buntelan yang dibungkus dengan kain putih.

Pemakaman Kahina di malam hari, dilakukan atas saran dari warga, serta beberapa tokoh desa. Mereka meminta agar Kahina dikuburkan malam itu juga. Mereka khawatir, apabila potongan tubuh itu dibiarkan didalam rumah sampai esok pagi, itu akan memancing datangnya binatang buas seperti macan tutul atau anjing liar yang memang banyak di desa ini. Para binatang liar itu, memang kerap menampakkan diri di malam hari. Tak jarang sudah ada beberapa warga, yang sudah menjadi korban serangan dari binatang buas tersebut. Binatang-binatang itu bisa saja datang masuk, menyerang ke rumah. Mengingat bau manusia memiliki ciri bau yang khas, dan lebih tajam dari pada bau daging sapi.

Para penggali kuburan malam itu, bekerja lebih ekstra. Mereka bekerja secara bergantian membuat lubang kuburan, tempat terakhir bersemayamnya gadis kecil Kahina.

Para pekerja penggali kubur malam itu, bekerja seakan tidak mengenal lelah. Meskipun malam itu sangat pekat, berbekal satu-satunya pencahayaan. Mereka bekerja hanyalah dengan pantulan cahaya api dari obor.

Usai jenazah Kahina selesai disalatkan, puluhan orang laki-laki dan wanita mengikuti pengiringan jenazah. Mereka mengantar Kahina menuju peristirahatan yang terakhir. Anak yang malang itu meninggal di usianya yang masih 3,5 tahun.

Di tempat lainnya. Mbah Kawol dikeluarkan dengan cara diseret, dari dalam kandang anjing. la dikeluarkan dengan kondisi lengan yang masih terikat.

Usai acara penguburan jenazah Kahina, warga desa bersepakat menggiring Mbah Kawol. Dia dibawa untuk digiring berjalan, menuju balai desa. Hanya dengan berjalan kaki, karena jaman dahulu masih belum ada mobil yang masuk ke desa itu. Sulitnya akses, serta pegunungan yang terjal, dan ditambah lagi lembah tinggi disebelah kanan kiri jalan.

Perjalanan yang jauh malam itu, hanya bisa dilewati dengan cara berjalan kaki. Perjalanan mereka melewati perkebunan karet dan kopi yang rimbun. Belum lagi tidak ada penerangan jalan, karena akses kabel listrik masih belum sampai di desa.

Di malam itu puluhan laki-laki dan wanita yang mengiringi perjalanan, mengikuti dari belakang. Mbah Kawol, dibawa masih dengan tangan yang terikat ke belakang. Bagian leher dan dada juga diikat dengan seutas tali sebesar jali telunjuk orang dewasa. Wanita tua itu benar-benar diikat sekuat mungkin, agar tidak bisa kabur.

Sepanjang jalan, umpatan serta kemarahan bersamaan dengan makian dari seluruh warga diterima oleh Mbah Kawol. Meskipun ia sadar berada dalam status salah, namun dari mimik wajahnya sama sekali tidak terlihat ada rasa bersalah ataupun menyesal. la terkesan biasa-biasa saja. Seperti tidak takut menghadapi puluhan warga yang kapan saja bisa berbuat kekerasan terhadap dirinya.

"Dasar Iblis!" seorang wanita meludah ke wajah Mbah Kawol.

"Kalian yang Iblis!" sahut Mbah Kawol.

"Kamu bilang aku Iblis?" Wanita tersebut memaki sambil menarik rambut Mbah Kawol yang berantakan. Sampai-sampai wanita tua itu terhuyung-huyung.

"Udah, Lek Ndemi. Jangan memperlambat jalan, ini perjalanan kita masih jauh." kepala desa menegur Lek Ndemi. Wanita yang memiliki dendam kesumat pada Mbah Kawol.

Kesal karena mendapat teguran, wanita itu langsung meninju hidung Mbah Kawol, hingga mengeluarkan setetes darah dari hidung.

"Awas kamu, kalo sudah di balai desa," Ancam Lek Ndemi.

Bukannya marah atau berusaha balas mengumpat, Mbah Kawol justru malah tertawa terbahak-bahak. Tawanya terdengar sangat mengerikan. Membuat siapa saja mendengarnya akan bergidik merinding ketakutan. Suara tawanya, telah membuat kumpulan anjing mengaung. Seolah-olah anjing-anjing itu, mendengar tawa seorang iblis.

"Aku, merasa wanita ini punya ilmu hitam," bisik salah seorang dari mereka. la berbicara pada kawannya, yang berjalan persis di sebelah kiri dirinya. Sedang tangannya memegang lampu obor, yang terbuat dari bambu dengan ujung sumbu yang sudah dilumuri dengan minyak.

"Dari tadi, aku juga ingin mengatakan seperti itu. Rasanya sepanjang perjalanan ini, kita seperti diperhatikan oleh puluhan pasang mata. Hanya saja tidak terlihat," Ucap kawannya yang bernama Thoyib, sedang matanya sejak tadi melihat ke arah kanan dan ke kiri kebun yang gelap.

Awan yang mendung malam itu, seakan sengaja menutup cahaya sinar bulan. Malam terasa hitam dan pekat. Belum lagi ditambah oleh bunyi-bunyian khas malam. Sahutan jangkrik, suara kodok, bunyi burung hantu, bahkan suara musang, yang sedang birahi pun terdengar jelas bagai suara kuntilanak yang sedang menangis.

"Apa aku saja yang sejak tadi mendengar ada suara orang menangis?" tanya Thoyib.

"Aku juga mendengarnya," Ucap kawannya. Kemudian menyentuh belakang leher, ia merasakan bulu kuduknya berdiri. Puluhan warga lainnya pun juga merasa perasaan was-was yang sama.

Setelah 1 kilometer perjalanan rombongan warga Desa Sumber Wangi, masih berjalan secara beriringan. Mereka merasakan perasaan yang sama, ngeri dan juga bergidik merinding. Apalagi jarak yang mereka tempuh, jauhnya lumayan sangat panjang sekitar lima kilometer perjalanan lagi.

Tinggal di desa-desa seperti itu, sebenarnya tidaklah aneh apabila mendengar suara jangkrik dan jenis serangga lain. Desa yang terpencil, serta tidak adanya listrik, membuat suara mahluk malam seperti serangga berlomba saling bersahutan. Mereka membuat melodi suara bising di malam hari, terdengar nyaring dan memekakkan telinga. Suara dari wingit khas pedesaan terdengar jelas di balik lembah curam, ditambah lagi suara arus sungai, di bawah kaki gunung Argopuro.

Malam itu alam terasa amat gelap. Seakan sedang menyajikan dunianya sendiri yang menakutkan. lringan pejalan kaki yang berjalan membawa seorang wanita, memang tidak mendapatkan aral rintangan sama sekali. Akan tetapi wanita yang diduga penganut ilmu hitam itu, seolah mengundang datangnya ribuan demit, menyaksikan perjalanan dirinya di tengah malam.

Mbah Kawol sesekali bersiul kecil, seperti memanggil sesuatu yang tidak kasat mata. Orang-orang semakin dibuat ngeri, karena perjalanan malam itu memang harus dilanjutkan, meskipun dengan penerangan lampu seadanya. Tidak ada waktu lain yang tepat, untuk membawa wanita tua itu selain malam itu juga.

Perjalanan ini sebenarnya untuk menghindari ancaman warga dari dusun sebelah. Mereka dengan terang-terangan mengancam nyawanya Mbah Kawol. Atas inisiatif kepala desa lah, Mbah Kawol diungsikan untuk menghindari amukan warga.

Selain melindungi wanita tua tersebut, juga untuk menjaga wanita itu agar tidak lari dari desanya. Tempat yang paling aman, untuk membawa serta menyembunyikannya ialah di balai desa. Sampai besok pagi apabila ada mobil dari kecamatan datang mengangkut penumpang, wanita tua itu akan langsung di-ikutkan ke kecamatan Sumber Sari untuk dibawa ke Polsek setempat.

Malam itu kisah Mbah Kawol, dengan cepat tersebar ke seluruh penjuru desa. Warga dibuat geger, karena wanita itu ingin menjadikan korbannya sebagai santapan pengganti daging rawon. Ejekan warga terhadapnya sejak dahulu, benar-benar telah menjadi kenyataan, karena kegemaran Mbah Kawol memakan daging rawon. Mbah Kawol selalu datang ke rumah orang, apabila dari rumah tersebut ia mencium ada aroma dari masakan rawon. Itulah mengapa sebagian warga mengelari Mbah Kawol, dengan sebutan mengejek dengan nama 'Mbah Rawon'.

Malam yang dingin, berkabut adalah suasana khas pegunungan Argopuro di malam hari. Rasa dingin dari embun bersama angin malam, seakan masuk menusuk ke dalam lubang pori-pori dipermukaan kulit. Desa yang masih belum secanggih seperti jaman saat ini. Hiburan warga masih seputar radio berbaterai, yang lebih sering memutar tembang suara lagu uyon-uyon. Yang pada jaman itu sangat disukai oleh kalangan orang tua. Sedang anak-anak dan remaja masa itu, lebih suka memilih tidur. Para ibu-ibu kalaupun terpaksa suka mendengar radio, memutar acara siaran lain. Para ibu-ibu mencari gelombang dari radio, yang menyajikan siaran-siaran populer, seperti acara sandiwara. Tidaklah heran di jaman itu, setiap rumah setidaknya memiliki radio bisa sampai 2 atau 3 unit. Dikarenakan mereka suka mendengarkan acara siaran radio yang berbeda, pada saat jam-jam tertentu secara bersamaan.

Gambaran masa itu, mungkin sebagaimana gambaran ibu-ibu masa kini, yang keranjingan menonton acara sinetron di televisi. Sementara tembang lagu uyon-uyon, tetap bisa didengarkan dengan khidmat oleh lelaki. Kepopuleran lagu uyon-uyon, merambah sampai kemana-mana. Meski sebagian yang lain, barangkali tak suka mendengarnya. Namun saat malam hari, lagu itu sering diperdengarkan pada anak-anak sebagai pengantar tidur.

Itu adalah gambaran jaman saat itu, karena satu-satunya hiburan yang menghubungkan dunia luar hanyalah radio. Mendengarkan radio sangat terdengar akrab di telinga semua warga desa. Suasana seperti itu terbangun, diantara tahun 1970 sampai 1980an. Dengan sendirinya radio pun menjadi barang wajib, yang dimiliki oleh tiap keluarga di Desa Sumber Wangi.

Bab 3

Orang-orang yang malam itu membawa dan menggiringi perjalanan Mbah Kawol, semakin lama mulai merasakan rasa takut serta resah. Penerangan di jalan sudah mereka usahakan dengan maksimal. Namun tetap saja tidak menghilangkan, perasaan takut serta was-was. Selama dalam perjalanan, rasa kekhawatiran mereka sangat besar. Takut akan diganggu oleh mahluk halus, ataupun mendapat serangan dari binatang buas. Para warga sangat merasa takut, mengingat sudah ada beberapa orang yang sudah menjadi korban dari serangan macan pohon/macan tutul.

"Serem, ini sudah tengah malam. Biasanya di jam seperti ini, kuntilanak, demit, macan pohon bakal keluar semua."

"Hush, omonganmu. Hati-hati, jangan sembarangan ngomong! Jangan sampai penunggu hutan mendengarnya, atau mereka benar-benar datang mengganggu kita."

"Aku takut lah, Bang!" keluh seorang anak muda berkopiah hitam. Memakai sarung berwarna hijau, sedangkan ditangan kanannya memegang puntung rokok yang masih menyala, padahal ia tidak merokok.

"Loh, kamu sekarang merokok Yib?"

"Enggak!" geleng Thoyib mengelak.

"Tuh, di tanganmu ada rokok."

"Ini, buat pegangan aja. Kata Lekku, merokok itu bisa bikin hantu takut."

"Takutnya, dimana?"

"Hantu, kan tercipta dari api. Kalau dia ngeliat aku makan api, dia pasti takut," Ucapnya. Wajahnya yang polos, tampak begitu serius.

"Emang, kamu pikir hantu itu bodoh! Dia juga punya akal kaya manusia," Sahut kawannya, sambil menjitak kepala Thoyib.

"Aduh, mana masih masih jauh lagi."

"Kenapa harus malam, kaya gini," keluh salah seorang lagi. Kawannya yang diajak berbicara, hanya mengangkat bahu.

"Ini semua, idenya dari pak kades."

"Kenapa enggak dieksekusi disana saja tadi, kan beres."

"Eh mas, dia itu manusia. Gak bisa sembarangan asal eksekusi."

"Manusia, tapi kalau kelakuannya kaya binatang buat apa? Tetap saja, bukan manusia," bantah salah seorang lagi.

Malam itu ada sekitar 30 orang lebih, yang ikut dalam iring-iringan berjalan mengawal Mbah Kawol menuju ke balai desa. Diantara mereka, ada yang menaiki sepeda onthel. Dari banyaknya yang menggiring, sebagian ada juga dari kaum wanita. Mereka ikut mengiringi perjalanan. Perjalanan mereka malam ini, sengaja dilakukan dengan cara berkelompok. Apabila terpisah mereka khawatir, akan mendapatkan serangan macan tutul, karena macan tutul juga termasuk binatang yang aktif di malam hari.

Sepanjang perjalanan, diantara mereka ada yang sambil bercerita, dan bergosip tentang Kahina. Bahkan ada juga ada yang meyakini, bahwa Mbah Kawol sedang mendalami praktek ilmu hitam. ltulah mengapa, selama ini wanita tua itu terlihat aneh, padahal sebenarnya waras. Sampai para warga mengira, Mbah Kawol mengalami gangguan jiwa.

"Aku sama sekali gak nyangka, Mbah Rawon bakal berbuat seperti itu."

Langkah terus berjalan. Kobaran api dari lampu obor kadang bergoyang digoda oleh angin. Beberapa diantara mereka memperhatikan semak-semak, khawatir akan ada macan yang mengintai.

"Matamu, kenapa sih dari tadi petelengan kesana kemari."

"Wedi macan aku, Kang."

"Cuman macan doang, takut."

"Itu masalahnya, Kang."

Ada banyak cara sebenarnya, agar bisa terhindar dari binatang buas, seperti macan tutul Jawa yang terkenal beringas.

Jika kita pernah belajar tentang bagaimana cara bertahan, saat akan diserang hewan buas. Seperti singa, kita akan disuruh menatap matanya. Agar si singa merasa diancam, tapi apabila bertemu dengan macan tutul, maka teorinya akan berbeda. Jika menatap mata macan tutul, hewan buas itu malah akan menganggapnya, sebagai sebuah tantangan beradu serangan.

Satu-satunya cara adalah jangan pernah tatap bola matanya. Tapi, buatlah posisi tegap supaya terlihat besar, jangan membungkuk apalagi membelakangi. Satu-satunya cara adalah membuat gaduh, supaya macan tutul merasa tidak nyaman dan takut.

Perjalanan malam itu, awalnya lancar-lancar saja. Tiba-tiba dikejutkan, oleh suara teriakan seorang lelaki. la datang berlari kearah rombongan, sedang tangan kanannya terlihat mengangkat celurit tajam.

"Cucuku mati!! Kamu juga, harus mati!" Suara itu terdengar lantang.

Ternyata lelaki itu telah sejak tadi berlari, mengejar rombongan untuk mendatangi Mbah Kawol. Dari raut wajahnya terlihat geram, sedang ditangan kanannya menggenggam erat celurit, yang sudah diasah sebegitu tajam. Lelaki yang berlari tersebut, adalah kakek dari gadis kecil, Kahina atau bapak dari Laksmi.

"Awas! Awas! Jangan ada, yang coba-coba berani mendekatinya." Salah satu rombongan memperingati.

Orang-orang yang menyaksikan, nampaknya tidak ada yang berusaha untuk menahan amarah Lek Min. Dari wajahnya terlihat jelas aura marah bergejolak. Siapa saja yang coba menghalangi, bisa jadi bernasib naas.

Kehadiran Kakek Kahina, membuat beberapa orang wanita yang ada dalam rombongan ketakutan. Sedangkan para lelakinya, bersikap hati-hati.

"Pak, uwis Pak. Uwis!" Tahan salah seorang pemuda yang bernama Bani. Menarik lengan lelaki tua yang telah gelap mata tersebut.

Melihat Bani menahan Bapak Laksmi, beberapa orang lainnya yang tadi berusaha menjaga jarak, akhirnya juga bertindak menolong Bani. Mereka berusaha menahan tubuh lelaki tua itu, agar tidak sampai mendatangi Mbah Kawol. Bila dibiarkan, si wanita tua itu bisa dipastikan akan tewas mengenaskan, oleh sabetan celurit tajam.

Celurit tajam tersebut, mengayun tidak karuan. Seolah ingin mencari korbannya. Akan tetapi Bani seakan tidak memiliki urat takut. la terus berusaha, menahan lengan Bapak Laksmi. Agar celurit yang diayunkannya itu, lepas dari genggaman bapaknya Laksmi.

Pemuda lainnya, ikut bergulat menolong Bani. Semua berusaha menahan tubuh, lelaki yang sudah berusia 58 tahun itu. Anehnya tubuh lelaki itu terasa jauh lebih kuat dari biasanya, tenaganya menjadi luar biasa. Bahkan 3 orang, yang menahan badan Bapak Laksmi yang kurus itu, sampai sempoyongan karena tak kehabisan tenaga.

"Lek Min, sudah Lek!" Bentak oleh salah seorang ponakannya, yang tidak lain adalah sepupu Laksmi. Akan tetapi, lelaki itu tetap tidak menggubris. Kemarahannya sudah berada dipuncak kepala. Wajar apabila seseorang marah, maka darah yang harusnya mengalir ke kepala, teralihkan langsung ke frontal cortex. Sehingga membuat seseorang kurang mampu berpikirnya secara rasional, sehingga kemarahannya sama sekali tidak bisa dikendalikan.

Sudah 4 orang yang berusaha menahan dan merebut celurit, namun mereka benar-benar di buat tidak berdaya. Seharusnya untuk ukuran tenaga 4 orang anak muda, sudah mampu menumbangkan tubuh yang telah renta tersebut. Akan tetapi tubuh tua itu, sangat kuat dan tangguh . Bahkan, sampai membuat mereka semua harus jatuh ke tanah.

" Lek, eling. Lek, eling."

Lelaki yang lebih sering disapa Lek Min tersebut, seakan tidak perduli dan tak mau mendengarkan himbauan warga. Lek Min seakan memiliki kekuatan, tenaga yang berlapis-lapis. Orang-orang berkata, Lek Min sepertinya telah kerasukan setan, karena kekuatannya benar-benar tidak wajar.

Efek dari kemarahan, biasanya akan menyebabkan kelenjar adrenal di otak akan memproduksi hormon adrenalin atau hormon stres, berupa cortisol. Hormon itu, diproduksi secara lebih oleh tubuh. Kemudian darah yang biasanya mengalir ke bagian perut dan usus, akan berubah mengalir ke otot. Seakan menyiapkan tubuh Lek Min, untuk siap bertarung pada siapapun. Karena itu, kadangkala kenapa orang yang sedang berada pada puncak kemarahan, bisa menjadi jauh lebih kuat dari biasanya. Fisiknya, seakan di luar kemampuan tubuhnya ketika marah.

Empat pemuda yang menahan Lek Min, tak kuasa lagi melawan. Sehingga Lek Min mampu lolos dan mengejar iringan paling depan. Dua orang yang memegang Mbah Kawol, tidak mau ambil resiko. Mereka melepas Mbah Kawol. Akhirnya Mbah Kawol dan Bapak Laksmi pun saling berhadapan.

Dengan disaksikan puluhan orang, Lek Min mengayunkan celuritnya yang tajam tepat ke kepala Mbah Kawol. Semua orang sontak berteriak histeris, terutama kaum wanita. Mereka membayangkan kepala ditebas, darah akan mengucur. Akan tetapi, semua yang mereka pikirkan diluar dugaan. Celurit Lek min, bahkan tak mampu menggores kulit nenek tua tersebut meskipun hanya sedikit.

Merasa musuhnya bukan orang biasa, Lek Min justru semakin menggila. Mbah Kawol bukannya meringis kesakitan, justru tertawa terbahak-bahak. Orang-orang yang meyaksikan adegan itu, mulai dibuat takut.

Tebasan demi tebasan, tak mampu merobohkan Mbah Kawol. Sampai akhirnya Lek Min pun, menyerah.

Mbah Kawol tertawa, suaranya sangat keras. Suaranya melengking, dan menakutkan. Orang-orang yang melihat kejadian itu, sebagian dibuat lari tunggang langgang. Wanita tua yang mereka giring itu, ternyata bukanlah manusia biasa. la seperti telah bersekutu dengan setan. Di dalam badannya, seakan telah terisi dengan kekuatan magis.

Semua warga berlari. Tidak perduli lagi dengan kawan ataupun saudaranya yang tadi berjalan beriring bersama. Mereka terpencar, ke berbagai arah. Mereka pergi meninggalkan tempat itu. Mereka tidak memperdulikan lagi Lek Min dan Mbah Kawol, yang saling berhadapan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

KAHINA

Bab 2
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED