Satu bulan telah berlalu. Tania sudah mulai menguasai petikan gitar untuk lagu-lagu sederhana. Bukan hanya Tania, beberapa temannya pun ada yang ikutan belajar, karena kami selalu belajar di sekitaran kampus.
Hubunganku dengan Tania sudah semakin dekat dan lekat. Namun aku tetap menjaga diri dan besikap wajar, walau terkadang sikap Tania agak berlebihan, yang tak jarang membuatku jadi serba salah. Bukan tak menyukainya, namun tak ingin dia gagal menjadi istri dari lelaki pilihan orang tuanya. Hampir semua temannya sudah tahu perihal perjodohan Tania dengan seserang.
“Fan, anter gue ke mall bentar!” ucap Tania ketika mobilnya yang kukendarai akan keluar dari pelataran kampus. Tania mengajakku ke rumahnya hari ini.
“Mau beli apaan sih, perasaan shooping mulu? Baru dapat kiriman dari ‘Yayang’ ya? hehehe, ” tanyaku iseng.
“Apaan sih lu! Gue punya duit sendiri, ngapain ngerin dia. Ya, pengen aja belanja, Fan. Kali aja lu juga mau belanja buat di kostan, hehehe.” Tania menjawab tak acuh sambil terkekeh.
“Ahsyiap! Jadi ceritanya gua mau ditraktir lagi nih?” Aku nyengir kuda, malu hati teralu sering ditraktir.
“Dasar cowok matre!” sergahnya sambil tersenyum kecut. Matanya tetap fokus pada layar ponselnya. Sepertinya dia sedang meminta izin pada calon suaminya. Atau mungkin mengubungi seseorang janjian ketemu di mall.
Tania sudah dijodohkan dengan seorang pengusaha muda dari Jakarta. Tetapi dia merasa tidak cocok dan selalu marah jika aku bertanya tentang sosok itu. Bahkan fotonya pun tak pernah dia tunjukan padaku. Namun jika teman segangnya yang bertanya, dia bisa menjawabnya dengan santai.
Tak usah bertanya mau belanja di mall mana. Seingatku, Tania belum pernah belanja di mall lain. Sudah beberapa kali mengantarnya belanja, hanya memang baru kali ini tanpa direcokin pasukan geng rempongnya. Biasanya aku hanya jadi sopir pribadi yang mingkem di belakang kemudi. Aku bisa bawa mobil pun diajari Tania.
Beberapa menit berikutnya, mobil sudah terparkir di baseman mall. Tadinya aku akan menunggu di parkiran, tapi Tania memaksaku untuk menemaninya. Walau agak canggung, aku pun menuruti permintaan tuan putri. Baru kali ini jalan berdua dengannya di tengah keramian selain kampus.
‘Hah!’ Hatiku berseru kaget, saat dengan santainya, Tania mengapit sebelah lenganku saat kami melangkah masuk ke dalam mall.
Sebagai lelaki yang bukan kekasihnya, tentu saja aku merasa rikuh dan canggung. Tetapi Tania terkesan sangat santai. Aku pun berusaha menguasai diri dan bersikap wajar agar Tania merasa nyaman dan tidak tersinggung perasaanya.
Deg!
Jantungku kembali tersentak keras.
Entah sengaja atau tidak, beberapa kali dada Tania yang kenyal menyentuh lenganku. Aku berusaha menghindar dengan sedikit menarik tanganku. Namun sepertinya Tania sengaja melakukan itu. Sambil terus melangkah melihat-lihat barang yang hendak dibelinya, dia kian merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Ya, sudahlah. Anggap saja rezki anak soleh.
Sebagai lelaki normal, tentu tidak perlu dijelaskan bagaimana desiran darah di tubuhku, degup jantungku dan terutama rudal dalam celanaku. Mana gak pake celana dalam lagi. Untung saja baju kemejaku dikeluarkan, hingga tonjolan besar di selangkangan bisa dengan sempurna disembunyikan.
“Asik juga jalan berdua sama lu, Fan,” ucap Tania cuek, sementara aku megap-megap menahan napas. “Duh, biasa aja kali, gak usah tegang gini!” ledek Tania seraya kembali mencubit manja pinggangku.
Sepertinya Tania sangat menyadari keteganganku. Ingin rasanya aku mengingatkan dia, jika aku bukan calon suaminya. Namun aku pun tak kuasa untuk mengucapkannya. Entah mengapa, justru aku merasakan jika momen ini terlalu indah untuk dilewatkan. Belum tentu bisa terulang kembali.
Aku tidak pernah secara khusus belanja di mall, selain tak punya uang, juga tidak betah berlama-lama dalam keramaian. Namun kali ini suasananya terasa sangat berbeda. Aku benar-benar menikmati artinya healing and shooping. Aku bakan tidak canggung berjalan di tengah keramaian.
“Coba ya dia bisa kaya elu gini. Nganter belanja santai aja, gak usah ngomel-ngomel kaya emak-emak. Sepertinya dia harus banyak belajar jadi cowok jantan sama lu, Fan.” ucap Tania memujiku dan merendahkan calon suaminya.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Bingung antara senang, bangga dan horny. Pikiran mesumku bahkan sudah terbang kemana-mana.
Sambil menunggu Tania memilih pakaian yang hendak dibelinya, aku memaksimalkan kesempatan langka itu untuk bisa lebih jelas memperhatikan setiap lekuk tubuhnya yang sangat seksi. Dalam balutan celana jeans ketat yang dipakainya, pinggul dan pantat Tania makin aduhai. Apalagi celana dalamnya tercetak.
“Hah, bengong aja!” sergah Tania sambil menepuk pinggangku.
“Eh, i…iya…ya, eh ada apa Tan, siapa yang ganggu kamu? Serahkan kepadaku!” jawabku gelagapan sambil memasang kuda-kuda siaga penuh.
“Hahahaha, dasar! Anter gue ke kamar pas! Takut ada yang ngintip!” ucapnya sambil menarik tanganku menuju kamar pas.
“Fan, tolong pegangin tas gue, and jangan coba-coba dibuka. Banyak rahasia soalnya, hehehe.”
“Siap Nyonyah!”
“And, lu juga jangan pergi, tetap di deket sini, gue takut ada yang ngintip, oke!” ucapnya sambil masuk ke kamar pas dengan membawa satu stel pakaian yang hendak dicobanya.
Lagi dan lagi pikiran mesumku meronta. Membayangkan Tania dalam keadaan setengah telanjang saat mencoba pakainnya. Pantatnya yang besar serta buah dadanya yang membusung, kian lincah menari liar dalam benakku.
‘Astaga!’ sergahku dalam hati. Mengapa akhir-akhir ini aku jadi selalu berpikiran kotor padanya. Ada apa denganku? Mengapa aku tega membayangkan hal terjorok atas Tania?
“Fan!” panggil Tania dari dalam kamar pas.
“Ya,” jawabku sambil nekad melongokkan kepala ke dalam kamar pas, setelah menyibakan tirainya.
Deg!
Jantungku seketika terasa berhenti berdetak.
Dalam kamar pas itu, keadaan Tania benar-benar sedang setengah telanjang, hanya bra dan celana dalam warna cream yang menutupi tubuh indahnya.
Rupanya setelah mencoba baju dan celana yang hendak dibelinya, dia belum memakai kembali pakaiannya. Keindahan yang sangat merangsang itu, benar-benar terpampang nyata di depan mataku.
"Ih Arfan, malah bengong, kaya yang gak pernah lihat cewek telanjang aja, hehehe!” goda Tania pelan, sambil tersenyum penuh arti.
“Eh, o iya.. eeh.. iya, maaf..,” balasku gelagapan sambil kembali menarik kepalaku keluar dari kamar pas.
“Loh kok malah keluar. Fan? Gue minta tolong dong, tukerin baju yang ini ke salesnya, ganti sama ukuran yang lebih besar satu level, kayaknya yang ini kekecilan banget deh," ucapnya sambil menyodorkan pakaian yang hendak ditukarnya.
Dengan tegesa-gesa aku mendatangi salah seorang sales untuk menukarkan pakaian tadi. Si kaludian dalam celanaku semakin berontak dan menggila. Rudalku sudah tidak bisa lagi diajak kompromi, hingga terpaksa harus melipir diantara elatase pakaian, untuk membetulkan posisinya yang agak menyamping.
Saat aku kembali ke kamar pas, Tania telah memakai kembali celana panjang hitamnya, namun bagian atasnya tetap terbuka dengan bebas. Bahkan dia tidak menyuruhku pergi atau menarik kembali kepala ke luar.
Dengan santainya sambil tersenyum dia menatapku setelah memakai pakaian yang kusodorkan untuk dicobanya. "Fan, menurut lu, gue pantes gak pake model ginian?" tanyanya meminta pendapatku.
"Ee.. ee i..iya bagus… sek..seksi banget, Tan!" jawabku gelagapan.
"Hus! Dimintai pendapat pantes apa kagak, kok malah bilang seksi sih. Seksi apaan coba?" canda Tania dengan tawa genitnya.
"Ee.. maksud gu..gua, dengan pakaian itu, lu keliatan makin cantik and super seksi, bagus banget, pantes banget pokoknya!" jawabku masih gelagapan.
Mataku benar-benar nyaris tak bisa berkedip menikmati kemewahan buah dadanya dalam balutan kaos pink ketat yang sedang dicobanya.
Entah karena pujianku atau memang baju itu sesuai dengan seleranya, Tania pun membelinya, disamping beberapa stel pakain lainnya. Dia juga menawariku untuk memilih pakaian yang kuinginkan. Aku tahu diri, hanya mengambil sekotak celana dalam harga murah berisi 3 pcs.
“Ngeborong daleman, Mas, hihihi,” bisik Tania meledekku saat memasukan sekotak sempak dalam keranjang belanjaannya.
"Mumpung ada yang nraktir, hehehe,” balasku sambil cengengesan.
“Perasaan lu jarang pake sempak deh!” ucap Tania sambil mencubit pinggangku tetapi tidak sakit.
“Hah! sotoy lu!” sergahku dengan kulit wajah yang mendadak terasa panas. Rupanya dia sering memperhatikan kebiasaan burukku yang tak berdaleman. Walau sebenarnya tidak setiap hari tak bersempak.
“Kalau pun iya, gak masalah, kok. Emang gue juga suka males pake daleman, terutama kalau lagi di rumah. Berasa kurang bebas aja, hihihih!” Jawaban Tania makin membuat mataku terbelalak dan kehabisan kata-kata.
“Sekarang lu pake daleman gak, Fan?” godanya makin menggila.
“Pake lah!” elakku berdusta. Sejak kapan calon bini orang ini jadi agak eror.
“Beneran?” goda Tania yang sontak membuatku makin gelagapan.
“Pa…pake Tan, mass sih mesti gue liatin! Lu ngapain sih, jadi aneh gini, ah!” Aku pura-pura kesal.
“Hahaha, lu yang aneh, Fan. Dari tadi tegang amat, terus jalan lu juga agak aneh, singkang-singkang gimana gitu. Ada apa coba?” Tania terus menggodaku dan matanya tetap tertuju pada selangkangaku, hingga tak sadar tanganku menyilang di sana.
“Hehehe, percuma ditutupin juga, dari tadi juga udah keliatan kok kalau….” Tania berbisik lirih sambil kembali mengapit lenganku, lalu berjalan menuju kasir.
Setelah Tania membayar semua belanjaannya, kami pun melangkah menuruni eskalator menuju parkiran. Lagi dan lagi Tania semakin ketat merapatkan tubuhnya ke tubuhku, padahal aku sangat kerepotan menentang belanjaannya.
Rudalku yang sudah entah seperti apa ketegangannya, kian tak bisa dikendalikan, terlebih saat Tania mengalihkan pegangannya pada pinggangku. Napas dan langkahku terasa semakin berat. Parkiran yang kami tuju pun terasa begitu jauh, hingga suhu tubuhku meningkat tajam dan mulai berkeringat.
Sekian menit berikutnya, aku dan Tania sudah duduk berdampingan dalam mobilnya yang suasana terasa remang-remang. Selain karena area parkiran yang agak gelap, kaca mobilnya emang gelap menghadirkan atmosfir syahdu, romantis, berbau mesum.
Entahlah! Aku benar-benar mati kutu atas sikap aneh dan super nekadnya.
Entah untuk berapa lama aku hanya duduk terdiam sambil memejamkan mata. Memusatkan konsentrasi sekaligus mengendalikan perasaan yang tak makin karu-karuan. Syukur-syukur bisa meredakan si kaludin dari ketegangannya.
Aku rasa Tania pun sedang melakukan hal yang sama, karena sama sekali tak terdengar suaranya.
“Fan!” tegur Tania dengan suara yang sangat pelan.
“Ya,” jawabku pelan sambil menolehkan wajah memandangnya.
Tania membuka tas tangannya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang merah, kemudian menyodorkannya padaku. Aku tertegun memandangi uang tersebut, tak mengerti dengan maksudnya.
“Kamu mau pulang kampung dulu kan? Ini buat ongkosnya,” ucapnya sambil tersenyum.
“Ma..maksudnya, Tan?” Aku bertanya untuk memastikan, dan sama sekali belum berani mengambil lima lembar uang merah yang disosorkanya.
‘ASTAG!!’ seruku dalam hati mengiringi degup jantungku yang seketika terasa berhenti berdetak dan nayris copot dari sangkarnya.
Tangan Tania yang memegang uang itu, tiba-tiba meluncur ke selangkanganku dan memegang sesuatu yang masih berdiri tegang dengan gagahnya. “Taan, Taaaan jaa…,jangan!” cegahku gelagapan.
“Kamu gak bisa bohong lagi, Fan,” desahnya sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku yang mungkin telihat sangat tegang. Sementara tangannya terus meremas-remas lembut rudalku, hingga uang yang dipegangnya berjatuhan.
“i…i…ya aku ngak bohong kok, taa..pi aaah jaaa…….” Belum selesai aku bicara, bibir Tania langsung melumat bibirku. Lidahnya pun langsung menerebos dan membelah kedua bibirku yang terkatup. Mau tidak mau walau dengan degup jantung yang sulit diceritakan, aku membalas ciumannya dengan masih kaku.
“Eeeh, Faaaan aaah,” desah Tania lirih di antara ciuman kami yang terasa lembut dan sangat mesra. Entah keberanian darimana yang tiba-tiba membuat tanganku refleks meremas payudaranya yang masih terbungkus kaos dan behanya.
“Aaaah gede bangeeet punya kamu, Fan,” lenguh Tania sambil berusaha menarik retsleting celanaku. Namun segera kutahan tangannya.
Tania lantas melepaskan cumbuannya, juga pegangannya. Lalu kemudian dengan sangat frontal melepas baju dan behanya. Aku benar-benar terbelalak terkesima karena. Tak percaya dengan yang sedang dilakukan Tania. Benar-benar nekad.
“Fan, kamu tadi terangsang melihat ini kan?” tanyanya sambil menyodorokan kedua payudarara yang dipegangnya ke arahku. Aku bahkan masih belum bisa menguasai diriku.
Bibir Tania sedikit manyun seakan mengejekku atau setidaknya tidak suka dengan sikapku yang hanya bengong memandangi tubuhnya dengan tatapan terkesima. Dia terus menyodorkan payudaranya ke hadapanku, seolah memintaku untuk segera menyentuhnya.
“Ma..maf Tan, ta…tadi waktu di kamar pass, a…aku kan aku ngelihatnya kan gak sengaja,” jawabku mengklarifikasi insiden yang terjadi di kamar pas tadi, walau masih blepotan. Dan entah untuk apa aku harus bicara demikian. Sejak kapan juga sapaan kami jadi berubah ‘aku dan kamu’?
“Aku tahu, karena memang aku sengaja memperlihakannya sama kamu, agar bisa menilainya,” balas Tania sambil tersenyum.
“Kamu hanya ingin aku menilai tubuhmu?” tanyaku bingung, dan Tania mengangguk sambil terus tersenyum menggoda.
“Tu…tubuh kamu benar-benar indah dan seksi, Tan. Lelaki mana pun yang ngeliatnya pasti tergiur dan terangsang. Maaf, kamu juga pasti bisa liat bagaimana mata orang-orang di mall tadi, bukan hanya aku kan?” Kembali aku memujinya sambil terus berusaha mengendalikan degup jantungku yang kian bergemuruh.
“Beneran semua lelaki akan menyukai tubuhku, Fan?” tanyanya lagi seolah tidak percaya dengan ucapanku. Aku pun kembali menjawab dengan anggukan karena susah menjawab dengan kata-kata.
“Tapi calon suamiku pengecualiannya, Fan,” ucap Tania yang tiba-tiba suaranya terdengar lirih.
“Mak..mak..maksudnya gimana, Tan?” tanyaku heran bercampur bingung.
“Entahlah, aku menduga calon suamiku itu sebenarnya tidak benar-benar suka sama perempuan. Dia bahkan lebih telrihat mesra dengan temannya sesama cowok.”
“Hah!”
“Makanya aku gak pernah mau ngenalin kamu sama dia. Takut malah dia yang naksir sama kamu.” Tania bicara semakin lirih dan wajahnya sedikit menunduk menatap selangkanganku.
Aku benar-benar bingung harus berbuat dan berkata apa lagi. Lelaki model apa yang sesungguhnya dijodohkan oleh orang tua Tania? Masa iya jeruk makan jeruk harus dipaksakan makan martabak?
“Ma..maaf, menurutmu dia seorang gay?” Aku membernaikan diri bertanya hati-hati.
“Namanya Haykal. Aku menduganya begitu, mungkin setidaknya bisek. Jujur aja, dia memang pernah mencumbu bahkan menyetubuhiku. Tapi mungkin hanya pura-pura aja, feel dan gairah yang kurasakan pun sama sekali tidak ada. Hambar!” jawab Tania tanpa sungkan.
Aku kembali tak bisa berucap apa-apa. sudah kuduga jika Tania memang sudah tidak polos lagi dalam urusan ranjang.
“Beda banget dengan kamu. Cuma deket aja, aku sudah langsung bisa merasakan aura seorang jantannya,” lanjutnya dengan nada yang sedikit mendesah.
“Ma.. maaf, Tan, a..aku tidak tahu ka..ka..kalau urusan yang gituan,” jawabku sambil menatap buah dadanya penuh nafsu yang kian dia sodorkan ke hadapanku. Sejatinya aku malah pernah trauma dikejar-kejar temanku yang ternyata seorang gay. Jangan sampai kejadian lagi, ngebahasnya aja aku sudah ngeri.
“Gak perlu minta maaf, Fan. Bukan salah kamu, kok. Kalau menurutmu tubuhku menarik kan?” Tania balik tanya.
“Ba..banget Tan,” jawabku singkat.
“Kamu memang jantan dan normal.”
“Bangetlah!” kataku sambil memperhatikan perutnya yang langsing dan super mulus. Puting payudaranya terlihat sudah mengras, sepertinya dia sudah sangat terangsang.
“Seseksi dan semenggairahkan apa tubuhku ini, Fan?” tanya Tania dengan nada seperti pertanyaan dari seseorang yang sedang sedih dan frustasi.
“Susuah dikatakan, Tan.”
“Tapi kenapa kamu tidak pernah menggodaku?” susulnya.
‘Baiklah’ jawabku dalam hati. Dengan tanpa menjawab, aku segera meraih tubuhnya dan membawa masuk dalam pelukanku,
“Susah untuk digambarkan, Tan. Aku bahkan gak pernah berani ngebayanginnya. Apalagi bisa melihat dan memelukmu secara langsung seperti ini. Tubuhmu benar-benar sangat luar biasa dan menggoda. Namun aku tahu kamu sudah ada yang punya. Tidak mungkin aku menggangumu,” terangku.
Jawabanku tiba-tiba membuat Tania tertawa kecil, entah apa yang lucu.
“Bagaimana bila dibandingkan dengan tubuh mantan-mantanmu, Fan?” tanyanya lagi.
Aku tak menjawab, namun langsung melumat bibirnya. Untuk membungkam pertanyaanya yang benar-benar membuatku serba salah, tak jalan lain selain membuatnya mendesah. Tania sepetinya sudah tahu kalau aku bukanlah anak kampung yang polos-polos banget.
Tania membalas lumatan bibirku dengan lebih mesra dari sebelumnya. inilah cumbuan serta sentuhan terindahku dengan Tania, istri sahabat karibku sendiri yang selama ini selalu kujaga agar tidak tersentuh oleh lelaki mana pun selain suaminya.
Kulit Tania terasa begitu halus dan lembut, payudara yang berdiri tegak kuremas dengan penuh penghayatan, mata kami sama-sama merem melek, kepala kami bergerak lambat mencari posisi ternikmat dalam berciuman. Aku bahkan tak peduli sedang berada di mana saat ini.
“Beri aku sesuatu, Fan!” desahnya manja penuh birahi.
Jariku mulai menyentuh tiap inci payudaranya dengan perlahan, berputar di sekitar areolanya, lalu kemudian meremasnya dengan lembut. Desahan dan lenguhan Tania terdengar sangat lirih dan berat. Tiap kali tangaku meremas, dia mengigit leher, kuping atau bagian wajahku yang lain.
“Aaah, Arfaaan, aku sudah lama merindukan ini, oooh sssst…,” lenguhnya manja dengan mata yang terlihat sangat sayu, membuatku semakin bergairah.
Kembali kumainkan jariku menyentuh sekitar areolanya. Sampai kemudian tak sanggup lagi memainkannya. Putingnya yang tegak berdiri sangat menggoda, dengan sedikit nakal aku sentil puting itu dengan telunjukku membuat Tania mengerang lebih kencang. Erangannya cukup nyaring, sampai-sampai jariku sempat berhenti sejenak.
Wajah Tania memerah sepertinya menahan malu. Namun setan terus mendorongku untuk kembali melumat bibir mungilnya. Mobil itu menjadi saksi betapa panasnya ciuman kami berdua, seperti yang sudah kuduga.
Tania memang sangat mahir dalam berciuman bahkan cenderung liar. Entah siapa yang mengajarinya? Aku yakin bukan calon suaminya yang katanya agak belok itu.
Remasan-remasan tanganku berhasil membangkitkan gairah Tania. Dia melenguh, mengerang dan merintih penuh hasrat yang membuatnya semakin liar. Bahkan batang kejantanku sudah keluar dari celah retsleting celanaku.
Tania tersenyum begitu menyadari kalau aku memang tidak memakai celana dalam,
“Aaah sudah aku duga,” ucpanya, lalu dia merebahkan kursinya sambil memelorotkan celana panjangnya, lalu rebahan hingga aku bisa dengan leluasa menikmati pemandangan indah tersebut. Buah dada Tania benar-benar besar dan sangat menggoda. Aku pun menggarap putingnya yang tegang menantang.
Sesekali tubuh Tania membusung tiap kali kuhisap putingnya yang mancung. Tanpa pikir panjang segera kumasukan telapak tanganku ke dalam celana dalamnya. Sekarang bukan cuma payudaranya yang kugarap, namun vaginanya yang sangat basah pun sudah menjari sasaean jari jemariku. Bulu-bulu lembut sungguh sangat menggetarkan.
“Arfaaan ooooh, aaaah…” Calon istri orang itu mendesah malu-malu ketika jari jemariku semalam nakal. Sebelah tangannya berusaha seolah akan menolak tanganku yang sedang mengocel liang kewanitaannya. Namun tak kupedulikan.
Jari telunjuk dan jari kelingkingku membuka bibir vaginanya yang sudah basah. Sementara jari manis kuarahkan ke dalam lobangnya. Dengan gerakan menusuk-nusuk lembut Tania makin kalang kabut dibuatnya. Desahan demi desahan tak terhindarkan lagi.
“Aaah..Fan, jangan di situ aah,” desahnya lagi saat jemariku berkerja di liang kewanitaannya. Cairan pelumas segera kembali meluber membasahi bibir vagina wanita cantik ini. Memang soal permainan jari, aku sudah ahlinya. Banyak wanita yang sampai kubuat orgasme berkali-kali hanya dengan permainan jari semata.
“Arfaaan aaaaaah aku dapaaaat ssssssst aaaah,” lenguh Tania cukup panjang dan tertahan. Sengaja aku memepercepat serviceku karena keadaan yang tidak memungkinkan. Bagiku yang terpenting Tania segera mencapai klimaksnya.
“Faaan, ah, kamu bener-bener gilaaa, jago banget aaah sssst…” ucapnya lirih, lalu bibir bawahnya digigit sendiri, merasakan sensasi kenikmatan yang mungkin masih meluap dari dalam dirinya. Tubuhnya mengejang beberapa saat kemudian lemas.
Sekian menita berikutnya kami sudah meluncur di jalan raya menuju rumahnya. Hari sudah mendekati sore, aku harus segera pulang.