Bagaikan tersayat oleh belati tajam dan hati Jingga sangat terluka oleh apa yang ia dapat. Jika hanya mendapat perlakukan dingin dari Davin mungkin ia masih bisa berbesar hati menerima. Tapi dengan tidak ada satu orang pun yang mengatakan bahwa Davin akan pergi meninggalkannya adalah hal yang sangat menyakitkan bagi Jingga.
Bagaimana tidak? Semua orang seolah sengaja berbohong dan menutupi semua darinya. Entah apapun alasannya tapi bagi Jingga itu sangatlah tidak adil. Namun apa yang bisa dilakukan Jingga, ia bahkan tidak bisa merubah keputusan Davin yang telah disetujui oleh semua keluarga Barata.
Jingga pun hanya bisa mematung setelah mendengar ucapan Davin. Dengan tertunduk ia mencoba untuk menahan air matanya agar tidak jatuh. Tapi tak terduga ternyata ia melihat Davin mendekat padanya.
Ya, dengan nada datar Davin berkata, “Jangan berharap dan berpikir bahwa pernikahan kita akan sama seperti orang lain, Jingga. Kau harus sadar kita menikah di usia kita yang seharusnya masih sibuk mengejar mimpi. Dan aku tidak ingin kehilangan mimpi dalam hidupku!”
Jingga pun menatap sendu pada Davin dan ia mencoba untuk memahami apa yang dirasakan oleh Davin. Dalam mata Jingga, ia melihat sebuah ambisi dalam mata Davin. Ia melihat seorang pemuda yang ingin merealisasikan mimpi besar yang sudah lama ingin diwujudkan.
Lalu dengan lirih Jingga pun berkata, “Apa kamu berpikir bahwa aku akan menjadi penghalang untuk mimpimu, Vin? Sejak kecil aku selalu mendukung apapun yang kamu inginkan. Maka kali ini pun, aku tidak akan menjadi sandunganmu untuk meraih cita-citamu.”
Ya, Jingga berusaha keras untuk meluluhkan hatinya sendiri. Ia mencoba untuk mengerti dan memahami Davin bahwa Davin pun berhak bahagia. Toh ia harus belajar mengutamakan kepentingan Davin dan menjadi seorang Istri yang baik, itulah yang ada di dalam kepala Jingga.
Tapi bukannya mendapat sebuah pelukan atau setidaknya ucapan terima kasih karna Jingga sudah berbesar hati untuk mengerti, dengan dingin Davin justru kembali duduk di depan meja belajarnya dan melanjutkan mengutak atik laptopnya.
Tak ada yang bisa Jingga lakukan selain mencoba untuk tidur. Toh ia juga tidak bisa keluar dari kamar karna Patma pasti akan bertanya kenapa Jingga dan Davin tidak segera beristirahat.
Akhirnya Jingga pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang tadinya hanya milik Davin seorang. Sudah jelas Jingga sangat canggung karna ia belum biasa dengan kamar Davin. Bahkan tempat tidur yang ia gunakan sekarang tak seperti ranjang yang selalu ia tiduri sejak ia masih kecil.
Meski banyak hal tidak nyaman yang ia hadapi di hari pertama menjadi seorang Istri, tapi Jingga tetaplah Jingga. Ia bukanlah gadis lemah yang akan menyerah begitu saja. Meski berat ia berusaha untuk menghadapi situasi baru dalam hidupnya.
***
Suara kicau burung samar-samar mulai sampai di telinga Jingga. Tak ayal Jingga pun mulai menggeliat di balik selimutnya. Seperti kebiasannya ia pun mulai menguap seraya meregangkan tubuhnya meski matanya masih terpejam.
Tapi kali ini Jingga merasa ada yang berbeda ketika ia bangun. Ia merasakan ada sesuatu yang terasa berat dan membuatnya tidak bisa bergerak bebas. Meski matanya masih terasa sepat tapi ia berusaha untuk membuka matanya.
Betapa terkejutnya Jingga ketika ia menyadari bahwa sebuah tangan kekar kini berada di pinggangnya. Ya, entah sejak kapan Davin tidur di samping Jingga dan kini tangan Davin bahkan merangkul Jingga layaknya sebuah guling.
Jangan tanya. Seketika wajah Jingga pun merona seperti buah tomat matang. Bahkan jantungnya mendadak berdetak kencang dan membuatnya salah tingkah. Namun seketika ia terdiam ketika menatap wajah indah Davin yang tertidur dengan lelapnya.
Perlahan Jingga pun mengalihkan tangan Davin dari dirinya. Namun bukannya segera bangkit dari tempat tidur, Jingga justru terus duduk sembari menatap wajah sang Suami. Tentu saja, siapa yang tidak terpesona dengan wajah tampan Davin.
Bahkan Jingga pun akan terpesona jika menatap wajah Davin sedekat itu. Saking terpananya Jingga pada kerupawanan Davin hingga membuatnya tanpa sadar mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Davin.
Dengan jari telunjuknya Jingga menyentuh hidung mancung Davin dengan lembut. Naluri nakal Jingga pun mulai muncul. Tanpa sepengetahuan Davin, Jingga kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Davin dan kali ini Jingga bahkan bisa merasakan hembusan nafas sang Suami.
Tanpa sengaja Jingga melihat rambut Davin yang bergerak-gerak akibat terkena hembusan nafas Jingga. Seperti bocah yang menemukan mainan baru maka Jingga pun mulai memainkan rambut Davin dengan meniupnya.
Akibatnya rambut Davin pun melambai-lambai dan menutupi sebagian kening Davin. Terganggu dengan rambutnya yang terus ditiup oleh Jingga maka Davin pun membuka matanya dengan tiba-tiba.
Seketika Jingga pun melonjak bahkan nyaris saja ia jatuh dari tempat tidur. Tanpa berkata apapun Davin terus menatap tajam pada Jingga dan itu membuat Jingga terkesiap. Jingga mematung dengan wajah kebingungan dan membuatnya terlihat bodoh.
“Apa yang kamu lakukan?! Aku tidur sangat larut semalam, jadi bisakah kamu tidak menggangguku?!” kata Davin.
“Ma-maaf, Vin. Tapi...apa kamu tidak mau sarapan dulu?”
Bukannya langsung menjawab tapi Davin justru merubah posisi tidurnya seraya menutup kepalanya dengan bantal. Lalu ia pun berkata di balik bantal, “Makan saja sendiri! Sudah kubilang jangan ganggu aku!”
Tak ingin mencari masalah maka Jingga pun segera bangkit dari tempat tidur dan meninggalkan Davin. Ia pun segera pergi ke kamar mandi dan dalam waktu singkat Jingga sudah rapi. Meski tidak lagi pergi ke sekolah seperti biasanya tapi kebiasaannya bangun pagi tidak bisa hilang.
Ia pun segera menuju dapur karna ketika di rumahnya ia sudah biasa menyiapkan makanannya sendiri di pagi hari. Tapi ketika Jingga sampai di dapur, ternyata Rima sang Ibu Mertua sudah berada di sana dan sedang memasak makanan untuk keluarga.
“Bibi? Sedang memasak apa? Hmmm...aromanya sepertinya sangat lezat!” kata Jingga.
“Loh, kamu sudah bangun Jingga? Hari ini kamu kan sudah tidak sekolah, jadi kenapa bangun sepagi ini?”
“Ini sudah pagi, Bi. Mana bisa tidur di pagi hari? Kata Nenek nanti rejekinya dipatok ayam!” ucap Jingga sambil terkekeh.
Candaan Jingga itu rupanya membuat sang Ibu Mertua cukup terhibur. Rima pun mencubit hidung Jingga lalu ia berkata, “Kamu ini sudah jadi keluarga Barata, Jingga. Jadi jangan memanggilku Bibi lagi! Seperti Davin maka kamu juga harus memanggilku Ibu.”
“Hehe...baiklah Bi...um, maksudku Ibu!”
Karna bantuan Jingga akhirnya hari ini hidangan untuk sarapan tersaji dengan cepat. Seperti biasa semua anggota keluarga sarapan pagi bersama di ruang makan. Ya, tentu saja kecuali Davin.
Tapi karna tidak melihat Davin, maka Rudi pun bertanya, “Davin kemana? Kok tidak ikut sarapan?”
“Um...semalam, Davin tidur sangat larut. Jadi tadi Davin bilang tidak ikut sarapan, Ayah....”
Sontak Rudi pun mengerutkan alisnya lalu dengan nada yang terdengar kesal ia berkata, “Memangnya apa yang dilakukan sampai tidur larut?! Bukankah sudah tidak ada lagi tugas sekolah?!”
“Se-semalam...Davin mengisi formulir pendaftaran Universitas di Singapura, Ayah....”
Mendengar jawaban dari Jingga sontak semua anggota keluarga pun sangat terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa Jingga mengetahui bahwa Davin akan melanjutkan studinya di luar Negeri. Mereka memang berencana akan mengatakannya pada Jingga, tapi tentunya tidak di hari pertamanya sebagai anggota keluarga Barata.
Seketika semua anggota keluarga Barata yang duduk di ruang makan pun menjadi tegang. Rasa bersalah tentu saja menyelimuti diri mereka karna mereka tidak memberitau Jingga akan rencana kepergian Davin.
Bahkan meski Jingga sama sekali tidak menunut penjelasan pada mereka, tetap saja pada akhirnya Patma sebagai anggota keluarga yang paling tua pun harus turun tangan dan menjelaskan semua pada Jingga.
“Jingga...Nenek minta maaf untuk hal ini. Nenek tau kamu pasti sangat sedih dengan kepergian Davin, tapi....”
Belum sempat Patma menyelesaikan ucapannya namun Jingga lebih dulu menyela, “Kenapa Nenek harus minta maaf? Tidak masalah dari siapa aku mengetahui tentang rencana kepergian Davin. Lagipula aku tidak mempermasalahkan hal itu. Aku justru akan bangga jika nanti Davin kembali dengan membawa kesuksesan!”
Untuk sesaat semua anggota keluarga Barata pun tertegun karna ucapan bijaksana Jingga yang bahkan masih sangat belia itu. Di saat seharusnya ia memiliki hak untuk protes dan menentang keinginan Davin, tapi Jingga tidak melakukan itu meski jelas hatinya pun ia korbankan.
Sontak Rima menghambur memeluk Jingga yang sangat pengertian terhadap Putranya yang kadang membuatnya jengkel itu. Bulir air mata pun mulai menetes dari pelupuk mata Rima karna suasana haru.
“Kau bahkan jauh lebih dewasa dibandingkan dengan kami semua, Jingga. Sungguh keluarga Barata telah menemukan sebuah permata seperti dirimu,” ucap Rima penuh haru.
“Ibu, jangan menjadi sedih begitu! Lagipula bukankah membahagiakan keluarga adalah tugasku sebagai menantu?” celetuk Jingga berusaha menghibur.
Seperti biasa Rima pun mulai mencubit hidung Jingga jika ia gemas dengan tingkah sang menantu. Dan karna Jingga lah masalah yang ditakutkan oleh semua keluarga akhirnya terselesaikan. Dan di sela kegiatan makan mereka Jingga berusaha untuk bernegosiasi agar ia masih diperbolehkan bekerja.
“Um...Nenek, Ayah...karna Davin akan pergi ke luar Negeri, jadi...bolehkan kalau aku tetap bekerja?” kata Jingga.
Awalnya Rudi merasa tidak setuju dengan keinginan Jingga. Tapi berkat Rima yang tidak tega melihat Jingga, akhirnya semua keluarga pun setuju dan mengizinkan Jingga untuk bekerja.
“Tapi Ayah tidak mau kalau kamu pulang terlalu malam, Jingga!” ucap Rudi mewanti-wanti.
“Tidak masalah, Ayah. Aku akan mencoba meminta sift pagi, jadi setidaknya aku akan pulang di sore hari,”
Mereka pun lega mendengar janji Jingga. Meski sebenarnya masih khawatir, tapi mereka sadar mereka akan membuat Jingga tertekan jika memaksakan Jingga untuk tidak bekerja.
Satu minggu pun berlalu dan Universitas di Singapura memberi kabar bahwa Davin diterima di sana. Dan hari ini adalah hari keberangkatan Davin menuju Singapura karna lusa Davin sudah memulai kegiatan belajarnya.
Semua keluarga termasuk Jingga turut hadir dan mengantar kepergian Davin sampai di bandara. Ya, bandara International Juanda yang merupakan satu-satunya bandara terbesar di Jawa Timur itu nampak cukup lenggang hari ini.
Tak begitu banyak penumpang yang memadati bandara karna hari ini adalah hari efektif. Sembari menunggu jam terbang pesawat yang ternyata mengalami penundaan selama satu jam, akhirnya keluarga Barata memutuskan untuk menunggu di ruang tunggu.
Sesekali Rima melirik pada Jingga yang nampak canggung meski ia dan Davin sudah menikah. Sementara Davin justru terlihat cuek dan sibuk dengan ponselnya dari tadi. Melihat itu maka Rima mendekati Jingga dan berbisik padanya, “Jingga, kamu tidak mau menghabiskan waktu bersama Davin barang sebentar? Ini adalah saat terakhir sebelum kalian berpisah!”
“Um...ya, Bu. Tapi kami masih bisa menelpon kan nantinya, jarak bukan lagi masalah di zaman sekarang,” kata Jingga berusaha menghibur dirinya.
Tapi sudah pasti Rima tidak setuju dengan alasan Jingga. Tak kehabisan akal ia pun mengajak Patma dan Rudi pergi ke coffeshop dan beralasan akan membeli kopi. Padahal sebenarnya ia sengaja membuat Davin dan Jingga berdua saja agar mereka bisa leluasa.
Namun yang terjadi bahkan tak seperti yang dibayangkan oleh Rima. Davin bahkan sama sekali tidak peduli meski ia akan meninggalkan Jingga yang sekarang sudah menjadi Istrinya.
“Um...Vin. Apakah semua keperluanmu sudah lengkap?” tanya Jingga berusaha mencairkan keheningan.
Tapi jangankan bermanis-manis di hari perpisahan Davin justru terus sibuk dengan ponsel dan hanya menjawab, “Hm...”
“Oh ya, Vin. Kira-kira jam berapa aku bisa menelponmu jika kamu sudah di Singapura?”
“Jangan coba menelponku jika aku tidak menelponmu! Aku bahkan tidak bisa memastikan kapan aku sibuk atau tidak,”
Sontak Jingga pun tercengan dengan jawaban Davin. Tapi lagi-lagi Jingga selalu berusaha untuk mengerti dan ia tidak mempermasalahkan apapun yang dikatakan oleh Davin. Ia selalu mengatakan pada dirinya sendiri bahwa Davin manjadi prioritasnya.
Pada akhirnya Jingga pun terdiam karna ia sadar bahwa saat ini Davin sedang tidak ingin untuk bicara. Tak lama terdengar pengumuman bahwa penumpang pesawat menuju Singapura diharap untuk segera naik ke dalam pesawat karna pesawat akan lepas landas.
Patma dan Rima memeluk Davin penuh haru ketika melepaskan kepergian Davin yang untuk pertama kalinya pergi jauh dari rumah. Sementara itu Jingga hanya diam tertunduk karna dari awal ia sudah mendapat reaksi tidak mengenakkan dari Davin.
Tapi tanpa terduga ternyata Davin berkata, “Jingga! Ayo antar aku sampai ke pos penjagaan!”
Untuk sesaat Jingga tertegun namun akhirnya ia pun mengantar Davin. Bahkan tak terbayangkan tiba-tiba Davin menggenggam tangan Jingga dan menggandengnya dengan santai.
Davin dan Jingga pun terhenti di depan pos penjagaan karna mereka harus berpisah di sana. Dan tak disangka ternyata Davin memeluk Jingga di sana. Antara senang dan terkejut Jingga hanya bisa tertegun menerima pelukkan Davin.
“Jaga dirimu, Jingga. Oh ya, ada yang ingin kuberikan padamu,” kata Davin seraya merogoh saku celananya.
Ternyata Davin ingin memberikan sebuah kalung pada Jingga. Sebuah kalung manis dengan liontin yang jika dibuka, maka di dalamnya terdapat foto Jingga dan juga Davin. Meski itu adalah foto mereka ketika mereka masih kecil, tapi itu membuat Jingga luar biasa bahagia.
“Sebenarnya aku ingin memberikannya ketika hari kelulusan. Tapi karna saat itu kamu sedang sibuk dengan teman pria mu itu, aku jadi kesal dan lupa memberikan hadiah ini padamu!”
Sembari berusaha menahan air mata Jingga pun berkata, “Terimakasih, Vin.”
Jingga kemudian memeluk Davin dengan erat karna ia sangat bahagia dengan sikap Davin yang romantis itu. Lalu tanpa berpikir apapun Jingga dengan terus terang berkata, “Berjanjilah kamu akan kembali dengan membawa kesuksesan. Aku akan selalu menunggumu di sini, dan akan selalu mencintaimu....”
Ya, Davin memang memeluk Jingga. Tapi tersirat keraguan di wajahnya dan sama sekali tidak ada kata cinta yang keluar dari bibir Davin. Hingga akhirnya dengan sedikit terburu-buru Davin mencium kening Jingga dan kembali berkata, “Janga dirimu. Dan ingat, jangan pernah kembali ke kedai itu lagi apalagi pulang malam untuk bekerja!”
Davin pun pergi melewati pos penjagaan dan pergi meninggalkan Jingga di sana. Sejak hari itu, hampir setiap hari Jingga sering terlihat termenung menatap langit sore yang bersemu jingga. Meski ia berusaha tidak menunjukkan rasa sedihnya pada semua orang, tapi Patma selalu tau kalau Jingga benar-benar sedih setelah kepergian Davin.
Patma pun semakin merasa bersalah pada Jingga. Bukan tanpa alasan, semua itu terjadi beberapa bulan yang lalu sebelum pernikahan Jingga dan Davin. Dan ingatan Patma pun kembali pada hari itu....