Bab 2

"Kamu jelekin aku sekali lagi, bibir kamu kutarik sampe Sumatra ya! Berani?" Celine berteriak dengan amarahnya. Gadis itu menatap tajam ke arah Leon.

"Tuh kan, Ma? Liat sendiri kan galaknya? Jadi cewek kok galak banget sih?" protes Leon.

"Leon, sudah ah ...." Naya menegur putranya seraya merapikan piring-piring kotor seusai mereka makan siang.

"Kalian akur-akur lho, jangan bertengkar trus. Masak calon suami istri kayak kucing dan anjing. Papa mau ke kantor dulu," Rendy meneguk air putih yang sudah disajikan Naya lalu menatap putranya dan Celine secara bergantian.

"Kalau Leon sih ga suka ribut, Pa, tapi ini nih, cewek jadi-jadian ini, kok emosian sekali!"

"Leon ... sudah, mending kamu bantuin mama beberes sana!" pinta Rendy.

Dengan rasa malas, Leon beranjak. Di liriknya sesaat gadis manis berkulit putih di hadapnnya, nampak gadis itu menjulurkan lidah padanya. "Syukurin!" ucapnya sedikit berbisik dan menyindir.

"Awas kamu!" ancam Leon pada Celine seraya menatap mata gadis itu dengan tajam.

Matahari begitu terik, udara panas begitu terasa menyentuh kulit, meskipun berada di dalam rumah. Celine benar-benar tampak kegerahan.

"Tante, ini kenapa sih panas sekali?" tanya Celine pada Naya seraya mengibas-ngibaskan tangannya ke wajah.

Gadis itu menghampiri ibu dari Leon yang tengah asik menonton televisi di ruang depan.

"Namanya juga siang, ya panas!" celetuk Leon menanggapi pertanyaan Celine.

"Yang nanya sama kamu siapa? Dasar!" Celine mendelik melihat Leon masuk ke dalam kamarnya.

"Sudah duduk di sini saja, sama tante. Ada kipas angin, jadi gerahnya sedikit berkurang," jawab Naya.

"Oh ya, kamar kamu di sebelah sana, tapi papanya Leon belum pasangkan AC di sana. Mungkin agak gerah, kamu bisa pakai kipas angin ini dulu ya nanti malam. Besok pagi tante panggilkan tukang AC untuk pasang AC di kamar Celine."

"Tidak usah tante, kan' Celine ga selamanya di sini. Celine juga nanti akan pulang ke Sumatra."

"Lo, Celine kan nanti jadi istri Leon, pasti akan menetap di sini dong."

Celine terdiam, gadis itu tak ingin berdebat lebih lama. Hatinya kesal, kenapa pula mamanya harus menjodohkan dirinya dengan Leon. Padahal sudah jelas sang mama tahu jika ia sudah memiliki kekasih.

Sore menjelang, Celine sudah tampak cantik dengan pakaian santainya. Kaos berwarna cream bergambarkan bunga dan kupu-kupu di bagian depan, juga menggunakan celana pendek dengan warna senada.

"Kita jalan-jalan ya?" ajak Leon padanya.

"Jalan-jalan? Kemana?" Celine sedikit merasa lega, hatinya berbunga-bunga saat mendengar kata jalan-jalan.

"Keliling-keliling, biar kamu tahu wilayah ini. Nanti terakhir kita mampir di warung bakso, atau nasi goreng, kalau kamu mau." Leon berantusias.

"Mau dong, ayo!" Senyum Celine terukir manis. Gadis itu bersemangat untuk pergi bersama Leon.

"Nah, kalau akur gini kan mama senang liatnya. Hati-hati ya, Leon?"

"Iya, Ma."

Leon mengajak Celine mengitari kampung Asiki, di mana tempat tinggal Leon dan keluarganya menetap. Gadis itu terpaku, ia hampir tak percaya dengan apa yang ia lihat. Kampung yang sangat jauh berbeda dengan kampung halamannya.

"Leon, ini, kok masih kampung sekali ya? Rumah-rumahnya kayak gini banget. Hutan lagi, aku pikir kamu mau ngajak aku ke mall."

"Celine, di sini ga ada mall, kamu jangan berharap banyak." Leon terkekeh, ia merasa puas mendapati kekecewaan Celine.

"Ya ampun, itu kan hutan? Kenapa harus ada hutan sih?"

"Kemarin, pertama kamu datang ke sini, memangnya sepajang jalan ga lihat hutan? Bukankah sepanjang jalan juga hutan?"

"Aku tertidur," jawab Celine singkat. Gadis itu sibuk mengamati sekelilingnya seraya memegang erat pinggang Leon.

"Leon, di sini ga ada tempat wisata atau tempat rekreasi? Kita ke sana aja, kalau ada. Aku capek keliling-keliling ga jelas gini. Yang keliatan juga cuma rumah-rumah penduduk, bahkan rumahnya, aduh, aku ga bisa bayangkan jika tinggal di tempat mereka. Untung aja, tante Naya tinggal di Asrama Polisi, jadi walau rumahnya sama, tapi lebih layak huni."

"Kamu cerewet banget sih! Jadi kita mau ke mana?" Leon mulai geli mendengar celotehan Celine yang ga habis-habisnya.

"Tempat wisata, atau tempat rekreasi deh."

"Di sini cuma ada taman, taman Asiki. Mau ke sana atau ke pelabuhan aja?"

"Ke Taman deh."

Leon memutar balik, ia menuruti kemauan gadis manja Celine pergi ke Taman Asiki. Setelah memarkirkan sepeda motornya, Leon bergegas menggandeng tangan Celine dan mengajak gadis itu masuk.

"Ih, apaan sih pegang-pegang," gerutu Celine.

"Kalau ga dipegang nanti kamu hilang." Leon kembali meraih tangan Celine.

"Ini Taman?" tanya Celine. Matanya membulat sempurna memandang sekelilingnya.

"Kenapa? Kamu terpukau kan melihat semua ini? Memang, Papua itu sungguh luar biasa."

"Hahahahhaha .... Hahahha ... Ini namanya taman bermain, semua mainan anak-anak TK ada di sini." Celine terkekeh ia memegang perutnya.

"Sudah, jalan, aku tunjukin yang mungkin belum pernah kamu lihat secara langsung." Leon menarik lagi lengan gadis itu.

Situasi taman agak lenggang. Beberapa pengunjung tampak sudah pulang, sisanya masih asik bermain. Ada yang mengawasi anak-anak mereka. Ya, taman ini memang mirip seperti taman kanak-kanak dengan berbagai arena permainannya.

"Astaga, Leon. Kenapa harus ada patung-patung hewan sih? Itu lagi, patung buaya, berpelukan. Hahahahha ... hahahhaa ... emangnya tuh buaya ngapain pelukan gitu?" Celine kembali terkekeh.

"Ini kebun binatang," jawab Leon kesal.

"Kebun binatang apaan sih, Leon? Semuanya patung. Hahah ... hahaha ... aku sampai sakit perut ini." Wajah Celine memerah, ia tertawa tak habis-habis.

"Tuh lihat, ada kan binantang aslinya?" Mereka tiba dibeberapa kandang hewan luas.

Celine terdiam, ia terpukau melihat rusa yang memang baru pertama kali gadis itu lihat.

"Itu, itu rusa kan?"

"Iya, nanti aku ajak kamu makan bakso rusa, mau?"

"Itu burung apa? Aku lupa namanya." Celine menunjuk ke arah binatang yang ia lihat di sebelahnya.

"Itu namanya kasuari, dan sebelahnya kalkun. Masak gitu aja kamu ga tau sih?"

"Fotoin donk, biar kelihatan ya semua?"

"Tuh kan, akhirnya minta foto juga." Leon meraih ponsel Celine, ia mengambil beberapa gambar gadis itu.

"Cantik juga," gumam Leon dalam hati.

Hari menjelang malam, keduaya memutuskan untuk kembali pulang. Celine asik menatapi beberapa gambar yang tadi diambil oleh Leon. Gadis itu tersenyum kemudian mengirim beberapa gambar dirinya kepada sang kekasih.

[Agung, aku rindu.] Celine mengirimkan pesan pada pria yang dicintainya itu.

"Celine, makan malam dulu yuk," ajak Naya.

Gadis itu berdiri lalu menuju meja makan, bergabung dengan Leon juga orang tua Leon.

Celine menghela napas dalam-dalam, ia sudah terbaring di atas tempat tidur miliknya setelah usai makan malam tadi. Kamar yang memang di sediakan khusus untuk dirinya. Ia menatap langit-langit kamar, beberapa kali matanya berkedip.

"Pa, ma, kenapa kalian meninggalkanku? Kenapa pula kalian harus menjodohkanku? Aku ingin pulang. Aku ingin pulang," gumam Celine lirih. Air mata gadis itu tak tertahan lagi, ia menangis mengenang kedua orang tuanya, sampai akhirnya kemudian tertidur.

Bab 3

Matahari mulai mengintip dari sela-sela jendela. Mengusik tidur seorang gadis cantik yang perlahan mengusap matanya karena retinanya masih berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya. Dengan muka bantalnya yang masih terlihat cantik, ia lalu menggeliat. Meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku.

Bangkit dari tidurnya, Celine melangkah membuka jendela. Menarik napas panjang, gadis itu kemudian tersenyum. Ini yang dia suka dari Papua. Udaranya masih sangat bersih. Memang sih, di Sumatra masih ada beberapa tempat yang hampir sama, tapi di kotanya? Jangankan udara bersih, pohon pun sudah jarang. Makanya saat ibunya bilang akan berlibur ke Papua bertemu sahabatnya dan kemudian berangkat ke Raja Ampat, dia langsung menyetujuinya, mengabaikan opsi perjodohan yang ibunya katakan. Karena inilah yang Celine cari, udara segar dengan pohon-pohon tinggi. Ah, menyegarkan sekali.

Pandangan Celine perlahan mengabur ditutupi air yang memberontak untuk keluar dari mata cantiknya. Ingatannya tiba-tiba jatuh pada ibu dan ayahnya yang beberapa hari lalu meninggalkan dirinya. Mungkin sore nanti ia akan minta Leon untuk mengantarnya ziarah ke makam mereka.

Pikiran Celine merangkak jauh ke masa depan. Bagaimana hidupnya nanti tanpa orang tuanya? Kalau dia rindu, bagaimana dia akan mengunjungi makam mereka? Apa Celine sanggup hidup sendiri? Masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang memenuhu kepalanya dan ia tidak tahu apa jawabannya.

"Hoi! Ngelamun mulu." Leon diam-diam masuk ke kamar Celine yang pintunya memang sudah dibuka.

"Ih! Aku kaget tau," rengek Celine saat tiba-tiba bahunya ditepuk pelan oleh musuh bebuyutannya. Siapa lagi kalau bukan Leon?

"Siapa suruh ngelamun pagi-pagi?"

Celine berdecak kesal. Kembali berbalik menatap pemandangan, hamparan tanah Papua di balik jendela kamarnya.

"Ya terserah aku lah. Mau ngelamun kek, mau kesurupan, mau guling-guling, suka-suka aku. Kamu siapa yang suruh masuk ke kamarku sembarangan? Kamu punya niat jelek ya? Tan—"

Leon bergegas menutup mulut cerewet itu sebelum dia menjerit dan mengadu yang tidak-tidak pada Naya, mama Leon.

"Siapa juga yang mau ngapa-ngapain kamu? Gak napsu!"

Mata Celine terbelalak mendengar kalimat itu. Bisa-bisanya pria itu dengan gampang mengatakan bahwa ia tidak punya napsu pada gadis cantik paripurna seperti dirinya, tapi sudahlah. Tak mau berdebat, Celine hanya menarik kuat tangan Leon yang menutupi mulutnya.

"Udahlah, aku gak mau ribut. Kamu mana paham rasanya jadi aku."

Leon tercekat, ia merasa bersalah kemudian. Jujur saja, ia mencari topik perkelahian dengan gadis di depannya ini hanya untuk mengalihkannya dari rasa sedihnya. Siapa anak yang tidak depresi saat ditinggal kedua orang tua sekaligus? Tentu saja tidak ada. Leon menghela napas panjang.

"Emang rasanya gimana? cerita aja, gini-gini aku pendengar yang baik loh."

Celine menyandarkan dua sikunya di jendela, menangkup wajah mungilnya dan kembali melamun. Bagaimana ya rasanya? Apa kata sakit sudah cukup untuk menunjukkan perasaannya? Rasanya kurang.

"Gak tau. Kalau aku bilang sakit, kayanya kurang tepat. Soalnya rasanya lebih dari sakit."

Celine menggigit bibir dalamnya, berusaha menahan isak tangis yang akan keluar dari mulutnya. Gadis itu tercekat saat tiba-tiba tubuhnya dibalik dan kepalanya ditarik untuk bersandar di dada tegap milik Leon.

"Nangis aja." Leon berbisik lirih pada Celine.

Isakan itu langsung keluar begitu saja dari bibir Celine. Ia bahkan berceloteh seolah protes kenapa orang tuanya yang harus dipanggil lebih dulu. Leon hanya diam, sesekali mengusap rambut lembut milik gadis itu.

"Nangis aja sepuasnya, ngeluh, marah, apapun yang buat hati kamu lebih tenang. Kalau bahasa Medannya apa ya ... Oh, tenang dek ada bahu abang tempat bersandar," ucap Leon antara serius dan berusaha ngelawak untuk menghibur Celine.

Celine langsung tertawa keras mendengar kalimat itu. Ia menepuk kuat bahu Leon yang juga ikut tertawa. Tanpa sadar bahwa di depan pintu seorang wanita paruh baya tersenyum sendu, bersyukur atas kedekatan mereka.

***

"Leon, anterin aku yuk!"

Leon yang sedang asik bermain game di ponselnya mengangguk pelan.

"Boleh."

Celine tersenyum lebar mendengar jawaban pria itu.

"Kalau gitu—"

"Ada syaratnya! Pake ongkos ya."

Senyum Celine langsung menghilang. Ia menatap datar pria yang terlihat berusaha menahan tawa di depannya.

"Oke-oke, ayok. Emang mau kemana sih?" tanya Leon sembari bergegas mengambil kunci saat gadis yang berdiri di depan pintu kamarnya itu mengambil ancang-ancang untuk mencakarnya.

"Mau ke makam, buruan!"

Leon terpaku. Rasa bersalah terbit di hatinya. Setelah menghela napas pelan, ia kemudian melangkah menyusul Celine yang sudah bergerak lebih dulu. Sepertinya butuh usaha keras agar gadis itu bisa move on dari rasa sedihnya atau ia ajak jalan-jalan lagi? Ah, nanti dia marah-marah lagi seperti kemarin. Pria memang selalu salah.

Baru saja Leon berniat mengeluarkan motornya, ia langsung berdecak kesal saat melihat ban sepeda motornya ternyata bocor.

"Duh, ban-nya bocor."

Celine merungut mendengar itu. Baru saja ia ingin mengeluh, perkataan Leon menenangkan hatinya.

"Udah tenang, kita naik taxi aja."

Celine tersenyum riang, tapi tak lama senyum itu berganti menjadi raut kebingungan.

"Emang di sini ada taxi?"

"Ya ada lah," jawab Leon cepat. Celine hanya mengangguk.

Mereka bergegas melangkah menuju arah jalan unum, 5 menit menunggu, Leon kemudian menarik tangannya, mengatakan kalau ia sudah menghentikan taxi, tapi Celine terbelalak dengan mulut menganga saat melihat yang ada di depannya adalah sebuah mobil angkutan pedesaan. Iya, mobil bemo! Bukan taxi seperti yang ia bayangkan.

"Ini mah becak, Leooon!"

"Ya ini di sini namanya taxi," ujar Leon mengulum bibir menahan tawanya. Sengaja membuat gadis itu kesal.

"Tapi di Medan namanya becak."

"Ya itu di Medan, di sini namanya taxi."

"Ahh pele.. Su cape menunggu baru, ini kalian jadi naik ka ti?" keluh pria paruh baya yang mengendarai sesuatu yang sekarang mereka debatkan namanya itu.

"Jadi pace, sebentar.m," jawab Leon.

Leon menarik tangan Celine agar segera naik, tapi tunggu dulu, Celine tidak mau kalah semudah itu.

"Tunggu dulu, Pak. Ini namanya becak apa taxi? Becak kan?"

Pria paruh baya itu menggaruk pelan kepalanya yang tidak gatal dengan bingung.

"Kasih tinggal saja dong, Pace. Dong memang su gila, ini memang namanya taxi baru, iyo to?"

"Bemo kan pak?"

"Taxi to?"

"Ahh sudah lah. Sa pi saja. Su gila ini ..." Sopir angkutan umum itu bergegas pergi meninggalkan keduanya.

Leon dan Celine tercengang saat pria itu pergi begitu saja.

"Kan, bapaknya jadi pergi kan! Kamu sih."

"Lah, aku udah narik kamu ya tadi supaya naik. Kamu aja yang ngajak debat."

"Tapi itu namanya emang becak!"

"Uukh! Ya udah becak. Terserah kamu."

Bibir Celine tersenyum senang setelah ia merasa menang dari Leon, tapi senyumnya seketika hilang saat sadar ia dan pria itu tak bisa pergi karena tidak ada kendaraan.

"Huwaa ... Leon kita naik apa dong ke sana'nya?"

Leon yang sudah melangkah memasuki rumah berdecih pelan, ada perasaan kesal di dirinya.

"Ya gak naik apa-apa. Gak jadi pergi. Kalau mau panggil aja becak dari Medan!" jawab Leon tanpa menoleh Celine.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED