Bab 2
Sella dengan sangat sumringah melihat kotak masuk dalam emailnya. Hal itu membuat Aldi yang berada disampingnya ikut tersenyum melihat wajah manis sang kekasih. "Kamu kenapa? Kok kayaknya senang banget, Yank?
"Aku diterima di Rumah Sakit Internasional Jogjakarta, Yank. Aku itu masukin lamaran kesana sudah lama banget kalau gak salah bareng sama Rumah Sakit tempat kita kerja deh. Gak nyangka banget, sudah sekitar tiga tahun padahal," ucap Sella dengan mata yang berkaca - kaca.
"Terus kamu mau pindah kerja ke Jogjakarta? Ninggalin aku?" tanya Aldi dengan wajah cemberut.
"Sepertinya begitu, Yank. Aku itu kepengen banget kerja di sana. Dan penantian panjangku membuahkan hasil. Aku keterima. Jadi, sementara waktu kita LDR," jawab Sella santai.
"Aku gak bisa LDR. Aku juga akan resign dari Rumah Sakit Dahlia dan kerja di rumah sakit yang sama kayak kamu," ucap Aldi tegas yang seketika membuat Nasha tercengang. Karena, Aldi memang tegas dalam berbagai aspek. Jika Iya ya pasti iya.
"Mama kamu gimana?" tanya Sella polos.
"Aku sudah dewasa, sayang. Mama juga masih ada Papa 'kok. Kamu sudah sangat mengenal aku. Kalau aku sudah membuat keputusan artinya itu sudah final. Besok aku akan ajukan surat pengunduran diri," ujar Aldi.
Sella yang malas berdebat hanya diam menuruti keputusan sang kekasih. "Iya, aku tahu banget kamu. Semua keputusan ada di tangan kamu. Aku harap kamu gak menyesal."
"Gak ada yang perlu aku sesali kalau pilihannya itu menyangkut kamu. Yang perlu kamu tahu, sayang. Aku cinta sama kamu sepenuhnya. Gak akan sanggup aku jauh - jauh dari kamu," Aldi memandangi wajah cantik Sella yang tersipu malu.
"Iya, sayang. Aku juga sama. Aku sayang banget sama kamu," Sella tersenyum mesra menatap bola mata berwarna cokelat milik Aldi.
"Bohong. Buktinya, kamu gak bilang - bilang mau pindah kerja," gerutu Aldi cemberut.
"Aku aja baru tahu tadi, sayang. Serius, gak bohong. Aku juga kaget bakal keterima. Aku aja udah lupa pernah naro lamaran kesana," ucap Sella membujuk Aldi.
"Iya, sayang. Aku bercanda 'kok," Aldi mengusap lembut hidung mancung Sella.
*****
Sepulangnya dari rumah sakit, Aldi segera mengutarakan niatnya untuk pindah bekerja di Jogjakarta. Awalnya, Bu Indri melarangnya. Namun, Pak Bagas (Papa Aldi) membujuk sang istri untuk memberi sedikit kebebasan terhadap putera mereka.
"Tapi, kami harus tahu dimana tempat tinggal kamu. Saat kamu pindah, kami ikut antar," Bu Indri akhirnya setuju setelah perdebatan panjang dengan anak juga suaminya.
"Iya, Mamaku sayang," ujar Aldi memeluk sayang sang ibu.
Pihak Rumah Sakit Dahlia menjadi heboh dengan pengunduran diri Dokter Aldi juga Suster Sella. Bahkan, beberapa di antara mereka banyak yang curiga dengan hubungan keduanya.
"Dokter Aldi sama Suster Sella resign. Menurut lo itu kebetulan atau memang janjian?" ucap Suster Ami kepada dua rekannya.
"Gak mungkin kebetulan. Menurut gue sih mereka itu punya hubungan spesial. Soalnya, gue sering mergoki mereka pulang bareng," sahut Suster Ina.
"Mereka emang pacaran. Gue pernah mergokin Dokter Aldi manggil Suster Sella "Yank". Wajar sih mereka nutupi hubungannya. Ya kalian tahu status sosial mereka beda jauh. Bu Indri, gak akan mau nerima Suster Sella jadi menantu," ucap Fahmi petugas kebersihan.
Bu Indri datang ke ruang praktek Aldi dengan membawa berbagai macam kue untuk diberikan kepada para suster dan petugas rumah sakit.
"Panjang umur banget. Itu dia Bu Indri. Kita harus jafa rahasia hubungan Dokter Aldi sama Suster Sella. Jangan sampai ketahuan sama doi," ucap Suster Ami berbisik.
"Pagi semuanya," sapa Bu Indri yang terlihat repot membawa beberapa goodie bag dengan pakaiannya yang glamour.
"Pagi, Bu. Makin cantik aja nih Ibu," goda Fahmi.
"Iya, donk. Harus cantik dan awet muda. Ini buat kalian, ya. Silahkan dinikmati. Ada beberapa oleh - oleh juga dari London. Calon menantu saya yang bawa," ujar Bu Indri dengan sumringah.
"Calon menantu? Dokter Aldi mau nikah, Bu?" tanya Suster Ina penasaran diikuti wajah penasaran kedua rekannya.
"Iya, donk. Masa anak saya yang dokter, ganteng. Mau jadi jomblo terus," ucap Bu Indri dengan wajah sedikit angkuh.
"Sus Ami," panggil Sella yang baru keluar dari ruang praktek Tama dengan membawa catatan pasien.
"Bu Indri," sapa Nasha dengan sopan.
"Sus Sella. Ini ada oleh - oleh dari London. Yang bawa calon menantu saya. Nanti dipilih aja, ya. Saya mau ketemu Dokter Tama dulu. Permisi," ucap Bu Indri tersenyum simpul kemudian berlalu.
"Calon menantu? Apa maksudnya?" gumam Sella dalam hati. Seketika hatinya perih mendengar kalimat yang diucapkan Bu Indri. Rasanya bagai terseyat sembilu hingga perih ke dalam kalbu.
Semua mata rekannya yang ada di meja perawat memandanginya dengan perasaan iba. Mereka seakan tahu apa yang dirasakan Sella ketika mata gadis itu mulai berkaca - kaca.
"Aku ke toilet dulu, ya," pamit Sella yang tak bisa membendung bulir bening di pelupuk matanya.
Mata Suster Ami, Suster Ina, dan Fahmi beradu pandang. Mereka kompak membuang napas kasar.
Sella berlari kecil ke arah toilet khusus karyawan dan menutup pintu. Airmatanya jatuh dengan sekelibat bayangan saat Bu Indri mengucapkan kata calon menantu di hadapannya.
"Aku gak ngerti sebenarnya ada apa? Apa ini hanya usaha Bu Indri menjauhi aku dengan Aldi. Atau memang Aldi akan dijodohkan?" gumam Sella dalam hati dengan pipi yang basah.
Setelah mampu mengendalikan dirinya. Sella mencuci wajahnya dan merapikan diri bersiap untuk kembali ke ruang praktek Aldi. Dilihatnya, Bu Indri sudah pergi. Sella terlihat kurang fokus dan lesu. Hal itu membuat Aldi curiga dengan sikap tak biasa sang kekasih.
"Kamu kenapa? Aku perhatikan kamu kayak gak fokus dari tadi? Ada apa? Cerita sama aku," ucap Aldi mendekati Sella yang sedang membereskan meja kerja Aldi.
"Gak apa - apa. Aku gak enak badan. Aku duluan," ucap Sella cuek dan berlalu pergi.
"Sus Ami ... Sus Ina ... saya duluan, ya," pamit Sella terburu - buru.
Aldi segera meraih tas kerjanya dan mengejar Sella Namun, Suster Ami dan Suster Ina memberikan selamat kepada Aldi yang akan segera menikah.
"Dokter Aldi, selamat, ya. Gak nyangka sebentar lagi mau nikah," ucap Suster Ina sopan.
"Nikah? Berita dari mana, Sus?" tanya Aldi kaget juga bingung.
"Bu Indri. Tadi itu. Bu Indri kesini sekalian kasih kami oleh - oleh katanya dari calon istri Dokter Aldi yang baru pulang dari London," sahut Suster Ami.
"Gak benar itu, Sus. Ibu saya cuma bercanda," Aldi segera berlalu mengejar Sella yang sudah berjalan jauh. Aldi menyadari sikap Sella berubah karena ucapan ibunya.
"Pantes saja Sella seharian ini gak fokus. Dia pasti kesal. Mama juga kenapa seenaknya aja sih ngomong begitu," Aldi mempercepat langkahnya. Namun, dilihatnya Sella sudah naik ke dalam taksi dan meninggalkan rumah sakit.
Aldi segera mengambil mobilnya lalu tancap gas menuju rumah kontrakan Sella. Aldi mencoba menghubungi Sella namun tak ada jawaban. Saat tiba di rumah, Sella langsung mengunci pintu.
Aldi langsung mengetuk pintu dan memohon supaya Sella mau mendengarkan penjelasannya. "Yank. Aku mohon banget. Tolong buka pintunya dulu. Aku mau jelasin semuanya," pinta Aldi memelas.
Sella yang merasa tidak enak dengan tetangga sekitar karena sudah malam akhirnya membukakan pintu untuk Aldi. Sella duduk di kursi teras dengan wajah yang murung.
"Yank. Aku sama sekali gak tahu kalau Mama bilang begitu. Aku baru tahu dari Suster Ami. Mama cuma asal ngomong aja 'kok, Yank," ujar Aldi.
"Gak mungkin kamu gak tahu. Mama kamu tuh bilang sendiri. Calon menantu saya. Itu artinya calon isteri kamu. Siapa orangnya? Kamu bisa jujur sama aku. Kita sudahi semuanya kalau memang kamu mau menikah sama perempuan pilihan Mama kamu," ucap Sella mulai bergetar menahan rasa kecewa di hatinya.
"Aku beneran gak tahu siapa yang dimaksud Mama. Demi tuhan aku gak tahu," ujar Aldi menggenggam erat tangan Sella.
"Ya terus, Mama kamu sendiri 'lho yang bilang," Sella masih sulit memahami keadaan yang saat ini rumit.
"Aku beneran gak tahu, sayang. Kalau memang aku gak serius sama kamu. Gak cinta sama kamu. Gak akan aku bela - belain resign dan pindah ke Jogjakarta. Aku harap kamu mau ngerti," Aldi mencoba meyakinkan Sella dengan lembut.
"Kamu tahu gak? Aku tuh sampai nangis di toilet pas dengar kamu sudah punya calon isteri," ucap Sella tak sanggup membendung air matanya.
Aldi segera memeluknya erat dan membiarkan Nasha menuangkan airmatanya. "Maafin aku, ya. Yang perlu kamu tahu, aku itu sangat mencintai kamu. Gak ada satu pun wanita yang bisa gantikan posisi kamu."
Sellaa hanya diam seribu bahasa dengan senyum yang mulai terpancar. Aldi mengusap air mata Sella dengan lembut. "Jangan begini lagi, ya. Apapun itu kamu harus bilang sama aku. Jangan dipendam sendiri. Yang calon isteri aku itu kamu."
*****
Paginya, Aldi meminta penjelasan kepada ibunya. "Ma, yang Mama sebut calon menantu itu siapa?"
"Ya, Lisa. Masa kamu lupa. Anaknya Tante Nina. Kemarin waktu kamu pulang duluan, kami ngobrol masalah perjodohan kalian," sahut Bu Indri santai sambil mengolesi selai ke atas roti.
"Perjodohan? Maksud Mama aku dijodohin sama cewek itu?" tanya Aldi kaget.
"Iya, kalian itu sudah dijodohkan sejak masih kecil. Ya 'kan, Pa?"
"Iya kayaknya. Papa mah gak tahu urusan perjodohan. Itu juga 'kan omongan asal pas masih pada kecil," sahut Papa santai.
"Gak resmi 'kan jadinya? Lagian ini tuh sudah zaman modern masa masih pakai perjodohan segala," ujar Aldi tertawa.
"Mama dan Tante Nina serius. Lisa juga sudah setuju 'kok. Tinggal kamunya aja, siapnya kapan?" ujar Bu Indri.
"Aku gak mau dijodohin. Apapun alasannya aku menolak perjodohan ini. Lagi pula, aku gak kenal dia. Aku masih mau berkarir. Minggu depan juga aku sudah harus ke Jogjakarta dan mulai bekerja disana," Aldi beranjak dari kursinya dan meninggalkan meja makan dengan wajah kesal.
"Mama gak mau tahu. Kamu harus menikah sama Lisa!" teriak Bu Indri kesal.
"Ma, jangan begitu. Aldi itu bukan anak kecil lagi. Kita harus kasih dia kebebasan dalam memilih pasangan hidupnya. Jangan terlalu memaksakan kehendak. Kasihan Aldi, jadi beban buat dia nantinya," ujar Pak Bagas menasehati sang istri.
"Kita itu harus pilih menantu yang baik, Pa. Papa mau dia asal pilih pasangan yang akhirnya cuma morotin harta kita. Keluarga Lisaa itu sepadan sama kita. Pokoknya, bagaimanapun caranya Mama akan terus buat Aldi menikahi Lisa!" ucap Bu Indri kesal dan meninggalkan meja makan.
Pak Bagas hanya bisa membuang napas kasar atas sikap keras kepala sang isteri. "Kamu itu terlalu memaksakan kehendak kamu, Ma."
"Bisnis supermarket impian Mama juga akan segera terealisasi. Mama dan Jeung Nina sudah merencanakan sudah lama. Lisa juga sangat menyukai Aldi sejak dulu. Kalau mereka menikah akan sangat membantu semuanya," ujar Bu Indri.
"Pernikahan itu harus diawali dengan cinta bukan kesepakatan bisnis, Ma. Kasihan Aldi kalau dia gak bahagia nantinya," ucap Pak Bagas kesal kemudian berlalu meninggalkan Bu Indri.
*****
Bab 3
Karena masih kesal, Bu Indri tidak jadi mengantarkan Aldi saat pindah tugas ke Jogjakarta. "Ma, Aldi berangkat dulu, ya," pamit Aldi menyalami tangan ibunya.
"Iya. Mama gak ikut antar. Nanti kalau Mama sudah gak kesal baru Mama ke Jogja," sahut Bu Indri sedikit ketus.
"Iya, Ma. Salam buat Papa. Aldi tadi telepon cuma kayaknya Papa sibuk," ujar Aldi.
Sella menunggu Aldi di stasiun. Mereka sengaja pergi menggunakan kereta karena ingin menikmati pemandangan dan waktu yang lebih lama saat perjalanan.
"Sayang, barang - barang kamu sudah dikirim lewat ekspedisi semua 'kan?" tanya Aldi memastikan.
"Iya, sayang. Cuma baju - baju aja 'kok. Disana aku sengaja sewa kost putri aja. Biar gak ribet isi furniture," sahut Sella tersenyum.
Sellaa bersandar di pundak Aldi dengan mesra sambil memandangi kaca jendela yang memberikan pemandangan asri menyejukan mata. Mereka bercengkrama seperti biasa diselingi dengan canda tawa. Aldi dan Sella sangat menikmati perjalanan mereka saat ini. Seakan tak ingin semuanya cepat berlalu.
*****
Di rumah sakit baru tempat mereka bekerja, Sella dan Aldi tak dipertemukan dalam satu ruangan. Karena sama - sama masih baru. Sella bekerja sebagai perawat di poli Dokter Spesialis Anak dengan seorang Dokter muda yang tampan bernama Dokter Firza. Sedangkan Aldi yang berada di poli penyakit dalam dibantu oleh suster senior bernama Suster Ida.
"Cantiknya," puji Dokter Firza dalam hati saat melihat wajah perawat pendampingnya yang baru.
"Dokter Firza, perkenalkan ini ada dua orang karyawan baru kita. Dokter Aldi sebagai Dokter spesialis penyakit dalam dan Suster Sella," ucap Pak Bagyo selaku HRD Rumah Sakit.
"Wah, terima kasih, Pak. Selamat bergabung Dokter Tama. Selamat bergabung Suster Sella," sambut Dokter Firza.
Aldi memperhatikan tatapan mata Dokter Firza ke arah Sella. "Nih cowok kayaknya terpesona sama cewek gue. Awas aja berani dekati calon isteri gue," gerutu Aldi dalam hati.
Selama jam praktek, Aldi memikirkan Nasha yang berada satu ruangan dengan Dokter Firza. Hatinya tak tenang. Dia takut Sella akan goyah. Karena diakuinya wajah Dokter Firza memang tampan.
Sepulang kerja, Sella dan Aldi menyempatkan diri untuk makan bersama. Mereka tinggal berdekatan. Aldi melirik ke arah Sella yang berada di hadapannya. Nasha terlihat santai membuka buku menu.
"Kamu kenapa? Ngelihatin akunya begitu banget," tanya Sella tersenyum melihat ekspresi wajah Aldi.
"Kamu gak usah senyum gitu, deh, Yank," gerutu Aldi.
"Kenapa? emang aku begini 'kan. Murah senyum," goda Sella.
"Iya, tapi aku gak mau kamu asal senyum. Pokoknya senyum termanis kamu cuma buat aku. Jangan kasih ke yang lain," pinta Aldi cemberut.
"Ke yang lain siapa maksud kamu?" tanya Sella tak mengerti.
"Ya ke cowok lain," sahut Aldi.
"Kamu jujur sama aku. Ada apa? Gak usah muter - muter. Aku bingung," pinta Sella menatap mata Aldi.
"Dokter Firza," sahut Tama singkat dengan wajah kesal.
"Dokter Firza? Jadi, kamu dari tadi bete gara - gara Dokter Firza?" Sella tertawa kecil. "Jangan bilang kamu cemburu?" ledek Sella.
"Iya, aku cemburu. Aku gak mau kamu terlalu dekat sama dia," pinta Aldi lagi.
"Ya ampun, Yank. Ya gak mungkinlah. Aku setia sama kamu," Sella meraih telapak tangan sang suami.
"Pokoknya jaga jarak sama dia," tegas Aldi yang diangguki Sella.
*****
Lisa berkunjung ke rumah Bu Indri dengan membawa beberapa buah tangan. Bu Indri menyambut senang kedatangan calon menantu pilihannya.
"Lisa. Calon menantu idaman Mama," Bu Indri menyambut kedatangan Lisa dengan pelukan hangat.
"Tante Indri yang selalu cantik dan menawan," sapa Lisa.
"Panggil Mama. Sebentar lagi 'kan kamu jadi isterinya Aldi," ujar Bu Indri tersenyum manis.
"Iya, Ma. Sepi banget, Ma? Mama sendirian?" tanya Lisa memasuki ruang tamu.
"Iya sayang. Aldi sekarang dinas di Jogjakarta. Papa lagi ada dinas di Padang. Sepi banget, deh. Makanya, Mama pengen banget kamu sama Aldi cepat menikah. Jadi, Mama bisa ada temannya," ujar Bu Indri.
"Aku juga pengennya begitu, Ma. Tapi, tunggu sekitar enam bulanan lagi, Ma. Aku lagi sibuk buka perusahaan kosmetik. Jadi, aku mau fokus dulu," ujar Lisa.
"Siap, deh. Mama doakan usaha kamu nanti bisa berkembang pesat," Bu Indri tersenyum manis.
"Ma, aku boleh tanya satu hal?" tanya Lisa.
"Boleh, mau tanya apa, sayang?"
"Mas Aldi belum punya pacar?"
"Sejauh ini Mama yakin Aldi itu masih single. Karena dia belum pernah memperkenalkan perempuan manapun sebagai pacarnya," sahut Bu Indri dengan yakin.
"Masa sih, Ma? Mas Aldi itu Dokter muda ganteng pasti banyak yang mau jadi pasangannya," ucap Lisa tersenyum.
"Iya Mama tahu itu. Tetapi, yang cocok menjadi pendamping hidup Aldi ya cuma kamu," ungkap Bu Indri serius.
"Aku jadi semakin gak sabar mau menikah sama Mas Aldi," ungkap Lisaa dengan mata berkaca - kaca.
"Mama harap juga begitu, sayang,"
Bu Indri bertekad akan melakukan apa saja demi mewujudkan mimpinya untuk menikahkan Aldi dengan Lisa.
*****
Tiga bulan berlalu, Dokter Firza semakin perhatian dengan Sella. Hal itu sangat terlihat terang - terangan bahkan di mata umum. Suster Ida yang merupakan asisten Aldi juga mengetahui hal itu.
"Dokter Aldi, alumni rumah sakit yang sama ya kayak Suster Sella?" tanya Suster Ida kepo.
"Iya, Sus. Kenapa memangnya?" sahut Aldi santai.
"Suster Sella itu masih gadis 'kan?" tanya Suster Ida lagi.
"Iya, Sus. Suster Sella belum menikah," jawab Aldi membereskan meja kerjanya sebelum praktek hari ini berakhir.
"Berarti kesempatan emas donk, ya buat Dokter Firza?" ujar Suster Ida sumringah.
"Maksud Suter Ida?" tanya Aldi tercengang.
"Iya, Dokter Firza suka sama Suster Sella. Soalnya ----" belum sempat melanjutkan omonganya, Aldi sudah berlalu pergi meninggalkan ruangan dengan wajah kesal.
"Ternyata, Dokter Aldi ada hati juga sama Suster Sella? Wajar sih, Suster Sella itu cantik banget," ujar Suster Ida tertawa kecil. Seraya menggelengkan kepala melihat kisah cinta segitiga mereka.
Aldi segera menyusul keberadaan Sella di ruangan praktek Dokter Firza. Dilihatnya ruang tunggu telah sepi. Aldi langsung membuka pintu tanpa permisi. Sella yang sedang bercanda dengan Dokter Firza seketika terkejut melihat kehadiran Aldi disana.
"Malam, Dokter Aldi. Ada apa?" tanya Dokter Firza dengan sisa tawanya.
"Saya ada perlu sama Suster Sella," ujar Aldi segera meraih tangan Sella dan menggandengnya keluar dari ruangan.
Sella hanya tersenyum dan sedikit menundukkan kepala ke arah Dokter Firza. "Ini kenapa sih? Pasti dia cemburu lagi," gerutu Sella dalam hati.
Sella mengikuti langkah cepat Aldi menuju ke parkiran mobil. Dia hanya diam tanpa bicara sepatah katapun kepada Aldi.
Saat mereka sudah berada di dalam mobil. Aldi membuka pembicaraan dengan nada bicara yang kesal. "Kamu kenapa diam aja? Gak ada yang mau kamu jelasin ke aku?"
"Kamu sendiri 'kan yang bilang tadi. Kamu ada perlu sama aku. Ya sudah seharusnya kamu yang jelasin ke aku. Kenapa tiba - tiba datang ke ruangan Dokter Firza tanpa permisi lalu tarik tangan aku. Gak sopan," sindir Sella juga kesal.
"Kamu senang bisa ngobrol berduaan sama dia?" sindir Sella.
"Aku itu bukan ngobrol berduaan. Aku itu kerja. Dan sebagai manusia normal, aku gak mungkin diam aja kayak patung. Kami ngobrol juga masih seputar pekerjaan gak lebih dari itu," ujar Sella menjelaskan.
"Aku gak suka, kamu ketawa bareng cowok lain," ucap Aldi ketus.
"Ya gak bisa begitu donk, Yank. Aku juga perlu sosialisasi. Aku juga tahu batasan. Sekali lagi, aku itu cuma anggap.Dokter Firza rekan kerja biasa sama kayak yang lain," ucap Sella tak mau kalah.
"Itu sama aja kamu kasih dia kesempatan," Aldi masih tak mengalah.
"Kesempatan apa sih maksud kamu? Aku sama sekali gak paham," Sella mulai bete.
"Suster Ida dan karyawan rumah sakit yang lain aja tahu kalau dia itu suka sama kamu. Masa kamu gak peka?" ujar Aldi semakin terbakar api cemburu.
"Ya aku emang gak peka. Untuk apa aku peka sama cowok lain. Karena buat aku ya cuma kamu yang berhak dapat perhatian dari aku. Jadi, siapapun itu ya aku gak tahu," ucap Sella menggenggam tangan sang kekasih untuk meredakan amarahnya.
"Kalau dia menyatakan perasaannya ke kamu. Kamu akan bersikap seperti apa?" pancing Aldi.
"Ya aku tolak baik - baik. Aku udah punya pacar," jawab Sella singkat.
"Kamu yakin?" pancing Aldi lagi.
"Jadi maksud kamu, aku ini cewek yang gampangan? Nerima cinta lebih dari satu lelaki?" kini Sella yang kesal dan akan beranjak keluar dari mobil.
Aldi segera meraih tubuh ramping Sella dan memeluknya erat. Sella hanya diam berusaha untuk menenangkan hatinya yang bergejolak.
"Aku mau kita nikah minggu depan," ajak Aldi yang spontan membuat Sella menjauhkan tubuhnya karena sangat terkejut.
"Nikah?" Sella terbelalak.
"Iya kita menikah," jawab Aldi yakin.
"Aku 'kan ada kontrak kerja gak boleh menikah dulu di tahun pertama karena dapat beasiswa untuk kuliah lagi. Gak mungkin aku sia - siakan kesempatan ini 'kan. Lagi pula, Mama Papa kamu belum tahu tentang hubungan kita," Sella terlihat ragu.
"Kita bisa menikah secara agama dulu. Pihak rumah sakit juga gak akan tahu. Kita rahasiakan sementara waktu. Aku mau hubungan kita halal. Supaya kita bisa tinggal seatap dan waktu yang kita miliki lebih banyak," pinta Aldi.
"Orang tua kamu aja belum tahu kita pacaran," ujar Sella.
"Itu gak penting, yang penting. Kamu mau atau enggak?" ucap Aldi serius.
"Jadi, maksudnya saat ini kamu melamar aku?" ledek Sella.
"Lebih ke ajakan. Karena mendadak," ujar Aldi tertawa kecil.
"Ya udah gak aku jawab dulu. Nanti aja, kalau kamu melamar aku secara resmi," sahut Sella tertawa kecil.
Aldi mengeluarkan sebuah cincin yang sangat cantik dari saku jasnya. "Sella Sabrina, maukah kamu menikah denganku?" Aldi menyodorkan sebuah cincin ke hadapan Sella.
Nasha sangat terkejut dengan kejutan dari sang kekasih. "Kamu tuh ya, paling bisa bikin aku meleleh kayak gini?" Sella memandangi wajah Aldi dengan mata berkaca - kaca.
"Sella Sabrina, maukah kamu menikah denganku?" lamar Aldi dengan wajah serius.
"Iya, aku mau Aldi Aditya. Aku mau jadi isteri kamu," jawab Sella dengan air mata haru.
Aldi menyematkan cincin ke jari manis Sella dengan senyum merekah. Meskipun pernikahan siri yang akan mereka jalani nanti. Aldi ingin menjadikan Sella halal untuknya.
Selesai menyematkan cincin, mereka berdua berfoto. "Kamu rekam lamaran tadi?" tanya Sella kaget saat melihat hasil foto mereka berdua.
"Iya donk. Buat bukti, kalau nanti kamu lupa udah terima lamaranku," ujar Aldi tertawa.
"Makasih, sayang," ucap Sella mesra.
"Minggu depan kita akan menikah, untuk saksi aku akan minta Papa sama keluarga Bu Rina hadir di pernikahan kita," ucap Aldi serius.
"Papa kamu tahu hubungan kita?" tanya Sella kaget.
"Tahu, sayang. Semenjak kita baru pacaran. Papaku orangnya bebas dan santai. Dia gak mau kekang aku," ucap Aldi dengan wajah sumringah.
"Mama kamu gimana?" tanya Sella lirih.
"Urusan Mama biar jadi urusanku. Perlahan dia pasti luluh. Kita akan kasih tahu kalau sudah saatnya," ucap Aldi dengan sangat tenang.
*****
"Akhirnya, sebentar lagi aku akan jadi isterinya Mas Aldi. Mas Aldi itu cinta pertama aku. Bagaimanapun caranya, aku gak akan sia - siakan kesempatan ini," ujar Lisa memandangi wajah Aldi dalam handphonenya.
Bu Nina tersenyum melihat kebahagiaan sang putri yang terlihat sedang kasmaran. "Anak Mama kayaknya senang banget. Ada apa? Kamu sering ke rumah Tante Indri, ya?" Bu Nina menghampiri sang anak yang sedang duduk di kursi taman belakang rumah.
"Aku bahagia banget. Mas Aldi belum punya pacar. Dan kata Tante Indri, kami akan dinikahkan dua bulan lagi, Ma. Penantian aku bertahun - tahun gak sia - sia. Aku itu suka sama Mas Aldi sejak kecil waktu kita tetanggan dulu," Lisa terlihat sangat sumringah.
"Mama senang, kalau kamu juga senang. Mama akan bikin pesta pernikahan mewah dan meriah untuk kalian nanti," ucap Bu Nina tersenyum bahagia.
"Makasih, Mamaku," Lisa meraih tubuh sang mama dan memeluknya.
*****
Sella dan Aldi mendatangi Bu Rina ke Bandung untuk mengundang Bu Rina supaya bisa hadir di pernikahan mereka nanti.
"Kalau kalian memang yakin, Ibu selalu mendukungnya. Tapi, kalau bisa selesai urusan kontrak dan lain - lain. Kalian harus mendaftarkan pernikahan secara resmi. Apalagi, kalau kalian mempunyai anak nantinya. Karena status pernikahan siri itu tidak kuat di mata hukum," ujar Bu Rina bijak.
Sebenarnya, Bu Rina kurang setuju dengan pernikahan mereka yang akan dilakukan secara siri. Namun, melihat kerseriusan Aldi dan juga Sella membuat Bu Rina tak kuasa menentangnya. Bu Rina khawatir Sella tak bisa diterima oleh Ibunda Aldi.
*****