Bab 2

BAB 2

HARI PERNIKAHAN

"Bagaimana saksi? Sah?"

"Sah…."

"Alhamdulillahirobbilalamin…."

Tak terasa air mataku menetes. Hari ini, aku resmi menjadi nyonya Bagas.

Setelah akad selesai, Mama dan tante Salma menuntunku ke depan untuk duduk di samping Bagas. Mama menyenggol lenganku memberikan kode. Aku yang gak mengerti apa-apa malah bingung.

"Cium tangan suamimu!" bisik tante Salma.

Setelah itu, Bagas ganti mencium keningku. Aku melirik para orangtua. Mereka tersenyum bahagia.

Berbeda dengan Bagas. Ekspresi wajahnya sedingin es. Entah bagaimana nasib pernikahan kami. Pernikahan terpaksa dan tanpa cinta.

***********************

Alhamdulillah rangkaian acara pernikahan kami sudah selesai. Rasanya capek sekali berdiri seharian menyalami ratusan undangan.

Pesta ini ternyata benar-benar meriah. Setelah acara selesai, kami menginap di hotel semalam sebelum besok pulang ke rumah.

"Bagas, antar Naura ke kamar! Dia pasti capek sekali. Sayang, kamu istirahat disini dulu ya," ujar tante Salma.

"Iya, Tante," jawabku.

"Lho, kok masih panggil tante sih? Panggil bunda dong, seperti Bagas. Kan, sekarang kamu menantu Bunda. Sudah jadi anak bunda."

Iya, bun."

"Ya udah, selamat istirahat sayang."

Aku dan Bagas berjalan beriringan menuju kamar hotel. Kami berjalan dalam diam. Kami tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku bingung, takut, dan cemas. Entah apa yang akan terjadi nanti di dalam kamar.

********

"Kenapa bengong disitu? Cepat masuk."

"Iya, ini juga mau masuk. Bawel,"gerutu Naura.

Setelah masuk ke dalam kamar hotel, Bagas segera melepas jasnya dan masuk ke kamar mandi.

Mumpung Bagus sedang mandi, Naura segera melepas gaunnya dan mengganti dengan piyama. Untung saja tidak ada drama resleting nyangkut, jadi dia bisa ganti dengan aman.

Saat Naura duduk di meja rias menghapus make up, Bagas keluar kamar mandi hanya dengan handuk di pinggang. Tanpa sengaja Naura melihat pemandangan roti sobek itu.

"Aaaaaa ... Kak Bagas jorok! Kenapa gak pake baju sekalian di kamar mandi sih?" teriak Naura sembari menutup mukanya demgan kedua tangannya.

"Berisik. Jangan teriak-teriak. Ntar dikirain gue ngapa-ngapain elu lagi."

"Habisnya, kak Bagas keluar kamar mandi cuma pake handuk doang. Cepetan pake baju sana."

"Kenapa memangnya? Suka-suka gue dong. Lagian, kita kan sudah sah menjadi suami istri. Jadi gak papa dong. Lagian elu tadi juga lihatin tubuh gue. Apa jangan-jangan kamu mau lihat yang lain?"

ujar Bagas sembari mendekati Naura.

Tubuh mereka semakin dekat dan berimpit. Naura menjadi ketakutan dan panik.

"Awas aja kalo macam-macam. Gue aduin ke ayah dan bunda."

"Aduin aja. Siapa takut."

"Ih…., Kak Bagas nyebelin!" ujar Naura sembari berlari ke kamar mandi. Bagas hanya tertawa kecil melihat kelakuan Naura.

Cukup lama Naura bersembunyi dan mandi. Setelah Naura keluar kamar mandi, dia melihat Bagas sedang duduk di tempat tidur sembari bermain ponsel.

Dia kebingungan. Badannya lelah sekali dan ingin segera tidur. Tetapi Disana ada Bagas.

"Ngapain bengong disitu? Hobi banget bengong. Memangnya kamu tidak capek berdiri terus?"

“Capek!” keluh Naura.

“Yaudah, sana tidur!” ujar Bagas.

“Aku tidurnya dimana?” tanya Naura.

“Memangnya kamu mau tidur dimana?”

“Disana!” sahut Naura sambil menunjuk kasur empuk yang ditempat Bagas.

“Trus, ngapain masih bengong disitu?”

"Tapi kak Bagas jangan disitu. Kak Bagas tidur di sofa saja."

"Ogah. Kamu saja sana tidur di sofa," ujar Bagas sembari membaringkan badannya.

“Jahat banget sih! Masak, sama cewek gak mau ngalah!” rengek Naura.

Bagas cuek dengan rengekan Naura. Dengan santainya, dia berbaring dengan nyaman.

Naura semakin kebingungan.

"Udah,cepetan tidur sini. Gue gak mungkin ngapa-ngapain elu. Anak kecil juga."

"Beneran ya. Awas macem-macem," ancam Naura.

“Iya, bawel banget sih!” gerutu Bagas.

Akhirnya Naura membaringkan badannya di sebelah Bagas setelah sebelumnya menata guling sebagai pembatas. Tidak lama kemudian dia sudah terlelap.

*********

Naura terbangun dari tidurnya. Dia kaget setelah mendapati dirinya tidur di sebuah kamar hotel. Terdengar suara gemericik air di kamar mandi. Dia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Setelah iangatannya pulih, Bagas tiba-tiba keluar kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk lagi.

"Ih ... Kak Bagas! Udah dibilangin juga. Pake baju di kamar mandi sana!" teriak Naura sambil menutup mata dengan kedua tangannya.

"Kamu ngapain sih pagi-pagi berisik? Lagian ya, diluar sana banyak cewek-cewek tergila-gila sama tubuh gue yang atletis ini. Kenapa elu malah kelihatan jijik gitu sih?" protes Bagas.

Memang, Bagas memiliki fisik yang nyaris sempurna. Tubuh tinggi, badan atletis, kulit kuning bersih, dan mata elangnya benar-benar bisa memikat para kaum hawa.

"Pokoknya gue gak suka. Cepetan pake baju ke kamar mandi."

Akhirnya Bagas memilih mengalah dan kembali ke kamar mandi untuk berpakaian.

"Elu cepetan mandi sana. Habis sarapan kita langsung pulang," ucap Bagas.

Pukul 12.30 WIB, mereka sudah sampai di rumah. Lalu lintas yang padat membuat mereka terlambat sampai di rumah.

"Kita ke rumah mana dulu nih? " tanya Bagas.

"Ke rumah gue saja."

Bagas lalu membelokkan mobilnya masuk ke halaman rumah Naura. Terdengar suara yang cukup ramai dari dalam rumah.

"Assalamualaikum. Papa, Mama, Naura pulang," ujar Naura sembari nyelonong masuk ke dalam rumah diikuti oleh Bagas.

"Lho…., Ayah sama Bunda juga disini?"

Bagas dan Naura menyalami mereka semua. Memang, walaupun mereka orang berada, tetapi mereka tetap mengajarkan etika terhadap orangtua.

Masuk ke dalam rumah harus mengucapkan salam dan mencium tangan kedua orangtuanya.

"Iya sayang. Ini Mamamu mengundang Bunda dan Ayah makan siang disini. Ini kan pertama kalinya kita berkumpul sebagai keluarga. Bukan begitu, Jeng Sinta?" ucap bunda Bagas.

"Betul, Jeng. Ayo, mumpung sudah ngumpul, kita langsung makan. Itu bik Siti juga selesai menyiapkan makanannya."

Akhirnya, mereka makan siang bersama-sama sambil bercengkrama.

"Bagas, rencananya kamu mau mengajak Naura bulan madu kemana?" tanya ayah Bagas. Naura dan Bagas langsung tersedak bersamaan.

"Duh… kalo jodoh ya begini ini! Tersedak ja sampai barengan."

Mereka malah menanggapinya sambil tertawa.

Setelah minum dan menenangkan diri, Bagas menjawab," Sepertinya belum bisa sekarang, Yah. Pernikahan ini kan mendadak. Lagian, Naura masih kuliah. sebentar lagi ujian. Biar dia konsentrasi dulu sama kuliahnya."

"Baiklah kalo memang seperti itu. Tapi, Bunda minta, jangan menunda momongan ya! Bunda sudah kepengen menimang cucu."

Mereka berdua hanya bisa nyengir bersamaan.

"Lalu apa rencana kalian setelah ini?" tanya papa Naura.

"Biar kami jalani saja dulu, Pa. Kami perlu waktu untuk adaptasi. Bagas juga berencana untuk membawa Naura untuk tinggal di apartemen. Kami ingin belajar mandiri. Lagian, jarak apartemen dengan kantor dan kampus Naura kan tidak terlalu jauh."

"Kamu yakin mau tinggal di apartemen? Apa tidak sebaiknya tinggal sama Mama Papa dulu? Naura itu masih manja banget lho," ujar Mama Naura.

"Udah, Ma. Biarin saja mereka tinggal di apartemen. Benar kata Bagas. Biar mereka belajar mandiri. Papa mendukung keputusan kamu, Gas. Cuma pesan Papa, tolong, jaga putri Papa baik-baik! Bimbing dia agar bisa menjadi istri yang baik."

"Tentu,Pa," jawab Bagas sembari tersenyum.

************

Sore itu juga mereka langsung berangkat menuju apartemen dengan diantar kedua orang tua mereka.

"Wah, apartemennya bagus sekali. Kamu pinter milihnya. Tidak terlalu besar, tapi tidak kecil juga. Cocok untuk pasangan pengantin baru."

"Iya, Ma. Saya sengaja memilih apartemen yang tidak terlalu luas. Jadi mudah membersihkannya."

Setelah mereka berbincang cukup lama, akhirnya para orangtua pamit pulang.

"Naura, mama pulang dulu. Jaga diri baik-baik. Nurut sama suami. Jangan bandel."

"Iya, Ma."

"Naura sayang,Bunda pulang dulu ya! Kalo ada apa-apa, jangan sungkan telpon Bunda. Bagas, titip menantu bunda. Jangan dibikin nangis."

"Bagas, Papa titip Naura ya."

"Iya, Pa. Saya akan menjaganya dengan baik."

Mereka saling berpelukan.

Setelah para orangtua pulang, Naura dan Bagas duduk di depan TV.

"Kak Bagas, kenapa buru-buru ngajak gue tinggal disini, sih? Kan gue masih pengen nginep di rumah Mama atau Bunda gitu."

"Kalo kita nginep disana, yang ada kita dipaksa tidur satu kamar. Kamu mau tidur bareng bagi? Kalo gue mah ogah."

"Iya, ya. Bener juga. Gue juga ogah tidur sekamar dengan kak Bagas. Bikin alergi saja. Trus gue tidur dimana?"

"Tuh, kamar kamu yang itu. Kamar gue yang sana. Dah, sana masuk kamar. Beresin sendiri barang elo. Gue mau tidur."

"Kak!” pamggil Naura.

Bagas menghentikan gerakannya yang hendak bangkit.

“Ada apa?”tanya Bagas.

“Em ... Kak Bagas, gue boleh tanya gak?"

"Tanya apaan?"

"Eeeee, itu. Tentang ...eeeee …."

"Mo tanya apa sih? A e a e. Gak jelas banget."

"Itu, mau tanya tentang kak Kirana. Memangnya dia gak ada hubungi kakak gitu?" tanya Naura hati-hati.

Bab 3

BAB 3

APARTEMEN

"Kak Bagas, gue boleh tanya gak?"

"Tanya apaan?"

"Eeeee, itu. Tentang ...eeeee …."

"Mo tanya apa sih? A e a e. Gak jelas banget."

"Itu, mau tanya tentang kak Kirana. Memangnya dia gak ada hubungi kakak gitu?" tanya Naura hati-hati.

Bagas terdiam. Jujur, hatinya masih sakit menerima kenyataan ini. Seharusnya hari ini dia sedang berbahagia karena menikah dengan gadis yang dia cintai.

Tapi kenyataannya, gadis itu pergi tanpa sebab. Tanpa memberi kabar. Dia tidak tahu apa kesalahannya. Kenapa Kirana begitu tega melakukan semua itu.

"Maafin gue ya, Kak. Gue gak bermaksud menyinggung perasaan kakak," ujar Naura yang merasa tidak enak.

"Gue juga gak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kalo memang gue melakukan kesalahan, seharusnya dia ngomong. Tidak seperti ini. Tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Sudahlah, tidak usah dibahas. Gue mau tidur," ujar Bagas sembari beranjak ke kamarnya.

Naura yang merasa tidak enak pun, akhirnya masuk ke kamarnya juga.

************

Pagi ini Naura memulai hari pertamanya sebagai istri. Setelah bangun tidur, dia bergegas menuju dapur dan membuka kulkas.

"Di kulkas cuma ada telur doang. Bikin omelet dan sandwich ja deh. Ada roti juga di meja makan," katanya pada diri sendiri.

Tidak lama kemudian semua sudah siap. Dia juga menyeduh secangkir kopi hitam untuk suaminya dan teh hangat untuk dirinya sendiri.

"Wuih, nyonya Bagas jam segini sudah sibuk ja nih. Bikin apaan?" tanya Bagas yang tiba-tiba muncul.

"Iiiiih… Kak Bagas! Bikin kaget saja. Di kulkas cuma ada telur doang. Jadi gue cuma bikin omelet sama sandwich. Tuh, dah tak bikinin kopi juga. Yuk sarapan!" ajak Naura.

"Kamu gak masuk kuliah?" mereka sarapan sambil berbincang.

"Masuklah. Habis ini siap-siap. Kan, kemarin gak ada izin cuti. Orang dadakan."

"Ya udah, ntar gue anterin. Gue cuti 3 hari."

"Iya, Kak. Hari ini cuma ada satu mata kuliah ja kok. Pulangnya dijemput gak? Nanti sekalian mampir belanja, ya! Di kulkas g ada apa-apa."

"Emang elu bisa masak?"

"Bisalah. Enak saja. Mama pasti ngomel-ngomel kalo anak gadisnya gak mau bantuin di dapur. Kata mama, nanti kalo gue sudah nikah, gue harus bisa memanjakan suami dengan masakan gue. Biar makin lengket."

"Bener tuh. Oke ntar pulang gue jemput sekalian belanja."

"Sip."

*************

"Naura…! Sini!" teriak Prilly, sahabat dekat Naura.

"Tumben gak bawa mobil sendiri. Siapa tadi yang nganterin? Jangan bilang gebetan elo ya! Kasin ntar si Nico patah hati lagi," imbuhnya.

Naura hanya bisa nyengir.

"Itu tadi dianterin kak Bagas. Mobil gue masih di bengkel. Iya,di bengkel," ujar Naura. Dia tidak tahu harus mulai dari mana untuk menceritakan tentang pernikahannya.

"Ih … kok kak Bagasnya gak diajak turun, sih! Kan, gue mau mengagumi ketampanannya!" ujar Prilly.

"Idih … lebay!" cibir Naura.

"Halo, Cantik! Wuih, dah nongkrong ja nih! Ntar pulang kuliah jalan yuk! Ada pembukaan kafe baru di simpang lima," ujar Nico yang tiba-tiba nongol.

"Wah,boleh juga tuh. Daripada bete di rumah. Bagaimana, Ra?" tanya Prilly.

"Aduh, sori banget ya. Gue gak bisa. Ntar gue dijemput kak Bagas."

"Tumben elu mau-mau saja diantar jemput sama tuh orang. Biasanya paling ogah secara dia kan jahilnya 11 12 sama kak Marchel,"ujar Prilly curiga.

Prilly memang sahabat dekat Naura sejak SMA. Jadi, dia tau banyak tentang keluarganya.

"He……..," Naura hanya bisa nyengir kuda.

"Elu beneran gak bisa, Ra? Yach, gue kecewa dong," ujar Nico.

"He……. sori ya, Nic! Mungkin lain kali."

"Oke deh. Ya udah,yuk, masuk kelas! Tuh, pak Adnan sudah datang."

Mereka bertiga bergegas masuk kelas.

*************

"Udah? Itu doang belanjanya?" tanya Bagas. Sekarang mereka sedang belanja di mall dekat apartemen.

"Iya, gue rasa udah cukup."

"Elu gak pengen beli apa-apa? Baju, tas, sepatu?"

"Emang kak Bagas mau beliin?"

"Ya elah, Ra! Kan elu dah jadi istri gue. Jadi tanggung jawab gue. Ya pasti gue nafkahin lah. Meskipun gue belum bisa kasih nafkah batin, paling gak gue kasih elu nafkah lahir dulu."

"Ish, kak Bagas. Apaan sih," ujar Naura.

Wajahnya merah merona mendengar Bagas membahas masalah nafkah batin.

"Ngapain wajahnya malu-malu gitu? Mau, ya?" goda Bagas sambil menaikturunkan alis.

"Mana ada? Situ kali yang ngarep? Secara, setiap hari kan lihat kecantikan dan keanggunan gue," jawab Naura pongah untuk menutupi kegugupannya.

Bagas tertawa terbahak. Melihat itu, Naura memajukan bibirnya. Cemberut.

"Udah selesai belum ketawanya? Kalo udah, ayo pulang! Gue capek!"

"Beneran gak pengen beli apa-apa?"

"Gak. Udah, itu aja."

"Ya udah. Yuk, makan siang di food court ja sekalian! Keburu laper."

"Ayoklah!"

Tiba-tiba, ada yang menyapa Naura.

"Naura!"

"Uhuk …." Naura tersedak. Suaranya terdengar familiar.

"Ini, minumlah!" Mereka berdua menyodorkan minuman.

"Terimakasih, Kak!" Naura menerima minuman dari Bagas.

"Siapa dia?" tanya Bagas menunjuk pria yang ikut duduk di meja mereka.

"Kenalkan, gue Nico. Teman dekat Naura," ujar Nico sambil mengulurkan tangannya.

"Teman dekat?" tanya Bagas sambil mengernyitkan dahi.

"Bukan, Kak! Itu ….”

"Ayo kita pulang!" ujar Bagas sembari menarik tangan Naura.

********

"Maaf, Kak!" ujar Naura saat sudah di mobil.

"Jadi, elo sudah punya pacar?" tanya Bagas.

"Bukan, Kak! Nico itu hanya teman kuliah gue!"

"Sepertinya dia suka sama lo! Ya, kan?"

Naura tak menjawab.

"Gue gak akan menghalangi lo dekat dengan siapapun, cuma pesan gue, jangan sampai orang tua kita tahu."

Naura menunduk terdiam.

***********

Satu Minggu telah berlalu.

Hubungan mereka masih seperti sebelumnya.

"Kak, mulai besok, gue bawa mobil sendiri, ya!" ujar Nura saat makan malam.

"Memangnya kenapa? Biasanya, bareng gue!"

"Gue gak mau ngrepotin Kak Bagas terus-terusan!"

"Terserah lo, deh! Yang penting, hati-hati dan jangan keluyuran!"

"Siap, Bos! He …."

"Gue serius. Lo udah jadi tanggung jawab gue. Jadi, kalo ada apa-apa sama lo, pasti gue yang disalahin."

"Iya, iya! Bawel!" jawab Naura sambil ngedumel.

"Apa kamu bilang?"

"He … gak kok! Ayo, lanjut makannya!"

*********

"Ra, lo bawa mobil, gak?” tanya Prilly.

"Bawa. Kenapa?" tanya Naura.

"Makan di tempat biasa, yuk! Udah lama kita gak hang out bareng!" ujar Prilly.

"Ayo!" Mereka segera berangkat.

Tiba di lokasi,mereka memilih di pojokan. Lebih privasi. Prilly sibuk memilih menu.

"Mbak, saya pesan chicken steak, jus alpukat, sama spaghetti. Kamu apa, Ra?" tanya Prilly.

"Samain aja."

"Oke. Masing-masing dua porsi ya,Mbak!"

"Baik,Mbak. Silahkan ditunggu!"

"Ra, gue boleh tanya gak?"

"Tanya apaan? Biasanya lo kalo mau tanya,langsung jeplak saja."

"Sialan lo! Gini! Duh, gimana ya tanyanya!" ujar Prilly sambil garuk-garuk kepala.

"Mau tanya apa, sih? Kok kelihatannya serius banget."

"Gue … mau tanya soal … soal … kak Bagas."

"Ngapain kak Bagas?"

"Belakangan ini kan, lo sering diantar jemput sama kak Bagas. Trus, si Nico cerita, katanya kapan hari pernah ketemu lo jalan sama kak Bagas. Gue mau tanya. Lo ada hubungan apa sama kak Bagas? Secara, biasanya lo itu anti banget sama dia."

Naura terdiam, lalu menunduk. Dia bingung.

"Kenapa, Ra? Gue salah ngomong, ya?"

Naura mengangkat kepalanya.

"Gak kok. Lo gak salah. Mungkin, memang sudah saatnya lo tahu."

Lalu, Naura menceritakan semuanya. Dari rencana pernikahan Bagas, sang calon mempelai perempuan yang menghilang, hingga dia yang tiba-tiba menjadi pengantin pengganti.

"Ya Tuhan, Ra! Kenapa gak pernah cerita, sih? Lo anggap gue apa?" ujar Prilly marah.

"Maaf, Pril! Gue bingung mau mulai dari mana!" jawab Naura sambil menunduk.

"Trus, hubungan lo gimana sama kak Bagas?"

"Gimana apanya? Ya, gak gimana-gimana. Biasa aja."

"Lo udah ngapain aja sama dia? Jangan-jangan, lo sudah …," ujar Prilly menggantung sambil memainkan alisnya.

"Udah apaan? Jangan mikir yang aneh-aneh, deh! Kami gak ngapa-ngapain! Orang tidurnya aja pisah!" jawab Naura sewot.

"Yach … kok pisah! Kan gue kecewa jadinya! Sayang, dong, cowok cakep gitu dianggurin!"

"Sialan lo! Emang lo pikir gue cewek apaan?"

"Ha … ha… ha…." Prilly tertawa terbahak melihat muka temannya yang sudah memerah.

"Seru amat! Lagi cerita apaan, sih! Mau dong, gue diceritain!" ujar Nico yang tiba-tiba nongol.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED