Herdi bertemu rose di sisi pantai sambil membawa koper bersama swift setelan pakaian minim dengan gaya rambut bergelombang.
Saat itu cuaca cukup mendung ia pun terburu-buru berbincang bersama herdi. Swift yang tak suka pria lokal selalu menjaga jarak duduk berjauhan.
"Jangan pulang sekarang apakah bisa di undur besok saja" ujar herdi sambil tersenyum lalu memberikan satu permen berbentuk hati.
"Aku ada keperluan dengan kakak dia akan tinggal di jakarta bersamaku. Tentunya dia membutuhkan kunci apartemen selain itu ada kepentingan yang harus segera di selesaikan. Sahut rose sambil membuka plastik berisi permen lalu menjilatnya.
"Baiklah aku tak memaksa tapi jujur saja. Merindukanmu setiap saat kita bertemu lagi kan?"
"Ya kita pasti bertemu lagi bukankan dari jakarta ke bogor itu dekat. Jangan khawatir aku akan segera menghubungimu dan terima kasih permen ini." Sebelum pergi mengecup keningnya rose meninggalkan tempat itu masuk ke dalam mobil.
Ovi yang melihatnya dari atas loteng tempat resto langsung turun menuju saung.
"Wah cantik juga kekasihmu her, ngomong-ngomong teman bule itu namanya siapa."
"Tentu saja cantik sebentar lagi akan aku lamar. Namanya swift." Sambil membawa tas kecil kembali ke hotel.
"Jangan lupa undang aku ya kalau jadi nikah sama bule itu" sedikit menyenggolkan ujung pundak kepada herdi.
"Ya akan aku undang untuk bantu cuci piring" canda herdi lalu lari masuk ke dalam hotel.
Ovi yang kesal langsung mengejar sambil melepas sandal jepit untuk menepuk kepalanya.
Beberapa hari kemudian herdi kembali ke bogor, ia mempunyai rumah hasil jerih payahnya sendiri di salah satu perumahan. Namun, lingkungan itu penuh dengan ibu-ibu yang suka bergosip.
Saat itu herdi pulang kerja menggunakan motor lalu turun di depan pintu pagar, mendorong secara perlahan. Seorang perempuan yang lebih tua darinya mendekat sambil mendeham.
"Eh herdi baru pulang ya, kasihan sendiri terus apa tidak bosan semua di lakukan sendiri. Nikah saja denganku lagipula sudah lama menjadi janda." Lirik janda genit sambil membuka maskernya.
Herdi yang kaget melihat lipstik yang berantakan hingga ke dagu dan hidung membuatnya salah tingkah, hanya tersenyum lalu masuk mengunci rumah.
"Hampir saja aku di mangsa singa laut" bergidik.
Herdi yang sendirian berada di rumah selalu menjadi pusat perhatian ibu-ibu di sekitar membuat para suami cemburu, karena selain tampan mempunyai pekerjaan yang mapan di perusahaan swasta sebagai arsitek.
Sementara rose yang bekerja sebagai guru les bahasa inggris di jakarta akan segera di lamar oleh hendri.
Seminggu kemudian ibunya menyiapkan acara resepsi di gedung. Biaya pernikahan di tanggung oleh herdi dari hasil tabungan selama 4 tahun bekerja. Ia tak mau seperti temannya yang menghabiskan uang 100 juta hasil pinjam ke bank hanya untuk pernikahan selama 5 tahun menderita, membayar angsuran hingga sulit telat membeli rumah karena hutang.
Ovi yang berada di rumah herdi membantu mengurus undangan bertanya-tanya tentangnya bagaimana cara menabung hingga ratusan juta yang ia dapatkan dari gaji bulanan sebesar 15 juta.
"Aku masih cukup jauh mendapatkan gaji sebesar itu her, ya cukup apa sih gaji 3 juta untuk desainer grafis sepertiku. Bahkan kenaikan gaji hanya 350 ribu per tahun." Keluh ovi yang bekerja di salah satu perusahaan namun sibuk kerja lembur.
"Ya sabar saja semua butuh proses. Aku sih kalau mau menikah ya siapkan dulu biaya untuk menikah jangan sampai meminjam uang ke koperasi atau bank ya tentunya biaya untuk membeli rumah sangat sulit. Teman SMA ku berhutang cukup banyak untuk resepsi pernikahan di hotel bintang 5 tetapi sesudah menikah numpang di rumah mertua." Ujar herdi menasihati temannya yang belum menikah.
"Nah itu aku sering mendengar kerabatku terlilit hutang setelah menikah, apalagi keponakanku jadi bahan omongan keluarga pria. Dia tak tahu apa-apa tentang hutang suaminya. Terlagi punya kredit motor selain berhutang pada bank karena acara resepsi pernikahan."
"Banyak yang seperti itu. Di tuntut cepat kaya padahal hanya pegawai bukan pengusaha. Untuk menyelesaikan hutang pernikahan saja 5 tahun, untuk mengajukan kredit rumah tentunya menunggu setelah lunas angsuran. Jadi, giatlah menabung jangan sampai di hambur-hamburkan hanya untuk bersenang-senang."
"Baik her, terima kasih." Ovi yang agak tengil mulai sedikit dewasa selama berjam-jam membahas tentang rumah yang ia beli secara tunai dan mengadakan resepsi pernikahan tanpa berhutang.
Ibunya yang bernama yeni sudah pulang sambil membawa berkas untuk di tanda tangani oleh herdi.
"Kalian rajin sekali ayo lanjutkan. Her, teman ibu memuji calon isterimu katanya cantik sekali." Herdi tertawa tipis hanya menganggukkan kepala.
"Ya cantiklah bu apalagi menggunakan kebaya terlihat lebih cantik lagi" sahut ovi memuji rose.
Malam tiba...
Herdi tidur di kamar sambil memeluk guling berharap pernikahannya dengan rose berjalan lancar, kemudian menatap foto rose di layar ponsel lalu mengecupnya berkali-kali.
Ibunya mengintip di balik pintu tak kuasa menahan tawa lalu berjalan kembali ke ruang makan.
Rose tampak gugup malam itu hitungan hari akan menikah dengan pria pujaan hatinya. Namun, ia di tuntut menjadi ibu rumah tangga karena herdi ingin menghabiskan banyak waktu bersama isterinya nanti apalagi jika di karuniai anak.
"Apakah aku bisa sabar berada di rumah sepanjang hari?? Ya sepertinya bisa" ujarnya mengajak berbicara ke salah satu temannya yang bernama swift sambil bercermin.
"Pasti akan terasa jenuh, tapi kalau kamu punya keahlian sebagai pekerja lepas bisa saja waktumu tidak terbuang sia-sia selama belum di karuniai anak."
Sahut swift yang sedang rebahan di atas ranjang sambil membaca buku novel.
"Sepertinya menjadi guru les online saja temanku mendapatkan uang sebanyak 4 juta per bulan. Lumayan sih untuk menabung nanti kan herdi yang menjadi pemimpin bukan aku. Di indonesia memang budayanya berbeda dengan negara kita."
"Ya ku rasa begitu tetapi aku tak tertarik menikah dengan pria asia. Membuatku lelah ketika berhadapan dengan tanggung jawab sebagai seorang isteri." Ledek swift.
"Tak ada yang memaksamu dia pria yang berbeda ku rasa akan menjadi pedamping hidupku hingga akhir hayat" rose tampak bahagia sambil mengikat rambutnya.
"Mungkin saja. Aku hanya bisa mendoakan." Singkatnya tanpa menoleh sedikitpun.
"Serius amat sih baca novel apakah tentang kisah percintaan" ujar rose berjalan mendekat sambil sedikit membungkuk ketika duduk di samping swift.
"Ya kisah percintaan, aku suka sekali penulis novel angelica sangat menghayati. Hingga menulisnya dengan alur cerita yang luar biasa, terkadang tanpa di sadarai melakukan cocoklogi dalam hidupku sendiri. Karena sesuai dengan perasaanku malam ini." Swift langsung duduk memberikan novel itu pada rose agar di baca dari awal.
"Baiklah jangan menggangguku, akan ku baca. Dengan syarat jangan berisik." Swift langsung menarik selimut lalu tidur membelakangi rose yang sedang asyik membaca novel.
Beberapa jam kemudian rose tampak menguap, menaruh ikat rambut di atas meja dan buku novel yang sudah ia tandai. Kemudian mematikan lampu tertidur pulas bersama temannya swift yang sudah lebih dulu tertidur. Selama 5 menit wajah herdi selalu terbayang-bayang dalam benaknya. Akhirnya ia bisa tertidur pulas.
Bersambung...
Awal kehidupan berumah tangga dengan herdi, rose menata semua ayam di atas piring besar beserta sambal terasi kesukaan herdi. Hanya satu menu saja karena itu makanan kesukaan rose ia tak menyukai menu lainnya karena berbeda kebiasaan.
Rose yang terbiasa makan sapi panggang, kentang goreng, burger dan beberapa menu ala barat yang sudah menjadi asupan makanan sehari-hari, sementara ia sudah menikah memaksakan dirinya beradaptasi.
Beberapa hari kemudian...
Herdi pulang kerja jam 7 malam menu yang sama masih tak berubah tetap ayam goreng atau ayam krispi membuat herdi jenuh. Terkadang ia membeli makanan dari luar yang ia bungkus untuk makan di rumah.
Rose tampak biasa saja tanpa menghiraukan keluhan herdi, ia nonton televisi sambil menyantap satu buah pir. Herdi menatap sinis di ruang makan yang tak jauh dari ruang televisi.
"Pekerjaanmu setiap hari begitu saja. Apakah tak sebaiknya meluangkan waktu belajar memasak." Bergumam dalam hatinya sambil menggelengkan kepala.
"Gimana makan ayamnya enakkan, kemarin kita sudah makan ayam krispi sekarang ayam bakar besok kita makan ayam goreng saja ya." Duduk di samping herdi.
"Sekalian ayam hidup" sambil menaruh gelas dengan kasar lalu masuk ke dalam kamar.
Rose mengelus dada sambil menatap ke pintu kamar, ia mengetuk pintu berkali-kali tetapi herdi tak menghiraukan ucapannya.
Sambil berjalan ia mematikan televisi lalu masuk ke dalam kamar. Duduk di meja rias sambil menatap ke cermin. Mencubit pipinya berkali-kali.
"Ku harap ini hanya mimpi, herdi yang ku kenal romantis seketika berubah jahat padaku hanya karena makanan." Keluh rose yang kecewa.
"Baiklah, aku akan membeli makanan kesukaanmu ya menu indonesia seperti perkedel, jengkol dan sebagainya walaupun aku tak suka makan jengkol. Bau...!!" Sambil menutup hidung.
Pagi hari...
Rose berjalan sendirian berjalan kaki salah satu ibu-ibu menghalangi jalannya sambil berteriak "Bule kw mau kemana" membuat rose geram. "Maksudmu apa?? Aku bukan bule kw, asli dari jerman." Tegas rose melanjutkan perjalanan.
"Paling juga ngaku-ngaku saja, aku juga bisa sepertimu suntik putih rambut di cat blonde." Sambil menjemur pakaian suaminya yang mata keranjang mengintip di balik tembok tersenyum lirih.
Isterinya yang sedang berjalan masuk ke dalam rumah langsung melemparkan ember, melotot seperti setan.
"Aku lagi lihat kucing kawin bukan lihat bule itu" langsung lari terbirit-birit segera pergi bekerja.
"Awas saja kalau ketahuan mengintip lagi memangnya kurang cantik apa aku ini" teriak olla.
Rose berjalan masuk ke dalam rumah makan memilih menu, penjual masakan sedikit ingin tahu.
"Tumben mba tidak borong ayam lagi, sudah bosan ya." Ujar perempuan itu sambil melayani.
"Ya aku bosan, ini apa." Sahut rose menunjukkan jarinya dari balik kaca etalase ke salah satu makanan berbentuk bulat berwarna hijau.
"Ini leunca enak mba pakai oncom rasanya pedas manis, mau berapa porsi." Sambil mengaduk makanan.
"Dua porsi saja" kemudian memilih rendang jengkol, tempe goreng dan ikan kembung." Karena mengantri salah satu tetangga berada di barisan belakang berbisik pada temannya.
"Ini bule kw tak pernah masak tiap hari beli saja. Dasar pemalas, kemarin aku kehabisan ayam di borong sama dia kurang ajar bukan"
"Sudahlah dia tidak merepotkan hidup kita kok ibu yang repot sendiri. Memangnya ibu yang jadi kepala keluarga." Sindir perempuan berparas cantik menggunakan kacamata minus.
"Iya juga sih tapi aku tak suka saja sama bule ini" sambil melipat kedua tangannya di perut"
Rose membalikkan tubuhnya lalu berjalan mendekati abang ojek online, kemudian pergi menggunakan sepeda motor.
"Masa sih segitu dekatnya pakai motor, malas jalan kaki." Cerocos perempuan berambut merah.
Rose yang sudah membeli lauk pauk lupa membeli beras ia langsung belajar nanak nasi melalui konten youtube. 20 menit berlalu nasi matang ia segera mengaduknya. Untuk pertama kalinya ia bisa menanak nasi dan goreng telur.
Karena kelelahan setelah mencuci pakaian tak sempat menggunakan kosmetik atau mengganti pakaian. Herdi yang berada di meja makan langsung menyantap makanan dengan senang hati. Karena menu yang berbeda dari hari sebelumnya. Tetapi merasakan ada yang aneh dengan nasi dan telur.
"Terima kasih rose, besok aku ingin makan soto kuning tapi di rumah makan seberang dekat kampus." Rose menganggukkan kepala sambil mengelap keringat di kening.
"Kamu tampak capek hari ini istirahatlah. Nanti malam jangan lupa pakai-pakaian itu sambil mengedipkan mata."
"Aku seperti penghibur saja, bisakah berbicara di waktu yang tepat bukan di dapur seperti ini." Bergumam dalam hatinya.
Karena tubuhnya yang kelelahan ia tertidur pulas di atas ranjang sambil mendengkur, sontak herdi terkejut. Untuk pertama kalinya mendengar dengkuran sekeras itu langsung tidur di kamar sebelah menutup pintu.
"Kamu tak memuaskan aku rose, pulang kerja itu membutuhkan hiburan, kepuasaan dan pelayanan yang baik." Sambil melemparkan ponselnya ke meja.
Kring....
"Ya halo ibu ada apa" ujar herdi
"Nak, bagaimana kabarmu." Sahut ibu yeni.
"Kacau bu. Aku bosan berumah tangga dengan rose. Membuat nasi yang masih setengah matang banyak kutunya dan telur goreng yang gosong asin." Mengeluh selama satu jam hingga kuping ibunya panas karena terlalu banyak keluhan akhirnya telepon itupun terputus.
Nut..nut..
"Ah aku ingin tidur sepuasnya sampai besok siang, nikmati hari libur. Kerja itu melelahkan pelayananmu mana." Cerocos herdi seperti mulut perempuan.
Sekitar jam 2 malam terdengar suara piring jatuh di dapur, kemudian ia terbangun karena berisik. Akhirnya membuka pintu pemandangan yang tak mengenakkan. Melihat tikus sebesar anak kucing berlari masuk ke dalam lubang cuci piring yang terbuka.
"Rose..!!" Teriak herdi.
"Ya ada apa bisakah memelankan suaramu" lalu menoleh ke bawah di mana ekor tikus terlihat di lubang tempat cuci piring yang sulit masuk ke dalam.
"Kamu jorok sekali sih jadi isteri. Kan sudah ku katakan berapa kali tutup pintu karena banyak tikus di perumahan ini bisa menyelinap masuk tanpa kamu sadari. Ayo bersihkan dapur." Sambil menghentakkan kakinya lalu masuk ke dalam kamar.
Rose yang sedari tadi menganggukkan kepala mengikuti aturannya, padahal tak pantas seorang suami menggerutu seperti itu kepada isterinya.
"Apakah aku mendapatkan bayaran untuk ini?? Bahkan kamu tak mampu membelikan aku perhiasan. Alasannya membayar kredit rumah tetapi mengatakan pada teman-temanmu di beli secara tunai. Luar biasa." Ketus rose yang mulai geram.
"Aku tak tahu sifat aslimu beginilah jadinya aku seperti babu dari jerman. Lihat kulitku kusam seperti ini kurang vitamin. Setidaknya memberikan aku uang untuk perawatan kulit." Sambil memungut pecahan piring.
Jam 5 pagi rose tertidur di meja makan, herdi yang ke luar kamar membiarkan rose hanya membawa segelas air lalu minum perlahan. Sambil menghina dengan kata-kata kasar. Padahal rose mendengarnya hanya mata saja yang tertutup.
"Bule macam begini sih di pasar bali juga banyak. Aku rugi menikahimu" sedikit meninggikan suaranya.
Rose mulai merasakan sedih air matanya menetes ke meja, lalu berjalan perlahan ke atas melewati anak tangga. Ia segera menjemur pakaian yang sedikit kering sambil menekukkan wajahnya seakan penuh kecewa. Berharap herdi menyesali ucapannya.
Bersambung...