"Ruli, mana kopi guaa!? Lelet banget sih lo bikin kopi doang!?" Teriak mas Evans dari teras rumah. Aku mempercepat mengaduk kopi ditanganku, lalu buru buru membawanya kehadapan mas Evans yang tengah duduk bersantai sembari merokok dan juga memainkan gadgetnya.
"Ini mas, kopinya. Maaf lama. Tadi aku ke warung dulu beli gula. Stok gula kita habis mas," ucapku dengan nada lemah lembut. Mas Evans melirikku sekilas, kemudian menatapku lekat lekat. Seperti ada yang sedang dia pikirkan terhadapku.
"Ya sudah. Sore ini gua mau berangkat kerja ke Jakarta. Ada kerjaan dadakan. Tapi gua enggak punya ongkos jalan nih. Bagi gua duit donk! Nanti kerjaan kelar langsung gua ganti beserta jatah buat elu!" Ucap mas Evans dengan entengnya sembari menengadahkan tangan.
"Mas pergi berapa hari? Kenapa aku enggak di ajak mas? Kita kan baru aja menikah?" Tanyaku tanpa jeda. Mas Evans berdecak kesal.
"Gua ke kota ada urusan bisnis Rulii! Kenapa sih loe kebanyakan nanya!? Pake segala kepengen ikut lagi? Nanti kapan kapan gua ajakin elu kerja disono, kalo elu udah siap!" Hardik mas Evans sembari menatapku tak suka. Hatiku berada teremas perih melihat gaya bicara dan juga tingkah lakunya yang terkesan sedikit kasar itu.
'akh, mungkin itu hanya logat orang orang ibu kota saja, 'pikirku masih berusaha memaklumi sikap Suami tampanku ini.
"Ya udah, mana duitnya! Gak usah banyak banyak, sejuta aja cukup buat ongkos!" Pintanya lagi dengan sikap acuh tak acuh. Memang aku dan mas Evans belum lama saling mengenal satu sama lain. Aku bahkan hanya bertemu dengan mas Evans pertama kali saat Pak Mansyur membawanya untuk melamar ku, dan dipertemuan kedua kami langsung menikah. Jadi ini yang membuatku agak shock dengan sikap dan gaya bicaranya yang sedikit sengak. Dan satu lagi, saat menikah pun belum tumbuh rasa cinta diantara kami. Hanya rasa kekagumanku padanya, dan itupun karena paras mas Evans yang tampan yang berhasil memikat hati ini.
"Heh, Nurul!? Kok malah bengong!? Buruan!! Mana duitnya!" Semprotan mas Evans sukses membuatku membeliak kaget. Aku buru buru masuk kedalam kamar dan mengambilkan sejumlah uang yang dia minta. Padahal uang tersebut adalah uang mas kawin yang baru saja dia berikan kemarin malam, saat prosesi ijab kabul dimalam pernikahan kami.
"Ini mas, uangnya. Tapi segera di ganti ya, karena itu uang mas kawin yang sudah mas beri ke aku. Jadi itu seratus persen hakku!" Tegasku sembari menyerahkan amplop putih berisi uang satu juta darinya yang bahkan akupun belum sempat membukanya.
"Iya iya! Bawel banget sih Luh jadi bini! Baru duit segini doang!?" Pungkasnya sambil berdecak kesal. Senyum tipis tersungging dibibirnya. Mas Evans menyobek ujung amplop itu lalu mengeluarkan lembaran uang berwarna merah, lalu memasukkan uang itu kedalam waistbag yang melingkar dipinggangnya.
"Ya udah! Kalo gitu gua pamit pergi dulu!" Ujarnya sembari melenggang keluar dari teras rumah.
"Mas!" Seruku lalu segera menghampirinya. "Mas lupa ya, aku ini istri kamu. Jadi kalau mas pergi pergi, aku harus Salim cium tangan mas dulu!" Gerutuku sambil menyodorkan tangan. Mas Evans mengulurkan tangan dan langsung ku sambut untuk ku cium punggung tangannya. "Hati hati ya mas, jangan lupa kalau sudah sampai kabari aku,"
Mas Evans mengangguk pelan lalu melangkah pergi dengan tergesa gesa. Diujung jalan sudah ada sebuah mobil Avanza silver yang menunggunya.
"Ah, mungkin itu travel yang akan membawanya ke kota atau grab yang sebelumnya sudah mas Evans pesan,"gumamku.
Aku kembali masuk kedalam rumah. Hanya ada aku seorang diri disini. Bapak dan ibu mertuaku sedang pergi kesawah. Sedangkan Tiwi, pergi ke sek0lah dan belum pulang hingga jam dua siang ini.
Kebetulan aku sudah selesai memasak, tinggal beres beres dan bersih bersih kamarku saja. Aku memasuki kamar yang baru dua hari ini menjadi kamar pribadiku dan mas Evans.
Aku melepas sisa sisa dekorasi kamar pengantin yang masih menjuntai lalu mengepacknya kedalam sebuah dus.
Didinding kamar, terpampang foto foto jadul masa kecil suamiku. Aku menyungging senyum, sejak kecil mas Evans memang memiliki paras yang tampan dan juga menggemaskan. Tak heran diusianya yang matang sekarang, dia terlalu tampan untuk ukuran seorang pemuda dari desa.
Rasa penasaran untuk mengenalnya lebih dekat, tiba tiba saja menguasai pikiranku. Tak perlu izin untuk membongkar dan melihat lihat barang milik mas Evans. Toh, aku kini sudah sah menjadi istrinya?
Mas Evans rupanya seorang yang mencintai olahraga. Terbukti kamarnya penuh dengan alat alat fitness portabel, barbel, Sling tali dan juga deretan toples toples besar bekas suplement otot miliknya. Aku menyungging senyum.
Didalam sebuah tas gymnya juga ada beberapa obat obatan yang kutebak pasti suplemen pembentuk otot. Pil pil berwarna biru menjadi satu dengan benda lain yang membuatku membelalakkan mata.
"Kondom? Untuk apa mas Evans menyimpan kondom sebanyak ini?" Gumamku dengan mata terbelalak sambil mengaduk aduk tas berlogo Adidasi itu.
Mengenai keberadaan alat kontrasepsi di gymbag suamiku, rasanya sulit sekali menyimpulkan sesuatu yang baik, untuk apa suamiku menyimpan alat pencegah kehamilan sebanyak itu disana?
****
(PoV Evans)
Mobil Tante Lisna menjemputku tak jauh dari teras rumah, dimana aku dan istriku berada.
Nurul. Sebenarnya hatiku tak tega menikahi gadis desa yang polos seperti dirinya. Terlebih dia wanita baik baik yang kurenggut Keperawanannya dimalam pertama kami, usai sah sebagai sepasang suami istri dihadapan penghulu dan para saksi.
Berbeda denganku yang sejak remaja, sudah mengenal pengalaman s3x bebas, bahkan kini, berkat senjataku yang besar dan panjang berukuran 21cm ini, menjadikan s3x sebagai ladang uangku.
Yeah, aku adalah seorang gigolo pemuas nafsu yang berpetualang dari satu lubang ke lubang yang lainnya demi mendapatkan uang! Ditunjang dengan penampilan fisikku yang tampan nan gagah, membuatku banyak diburu wanita wanita tua kaya raya dan juga janda kesepian berkantong tebal untuk menghangatkan ranjang mereka.
Tapi benar kata pepatah, uang yang dihasilkan dari sesuatu yang tidak berkah selalu habis begitu saja tak ketahuan rimbanya.
Seperti dua tahun lalu, setelah uang yang kukumpulkan dari menjadi seorang gigolo cukup banyak. Aku terjun kedunia bisnis perhotelan. Sayang sekali aku ditipu oleh sahabatku sendiri.
Aku berusaha lagi dari 0 untuk mengumpulkan pundi pundi rupiah agar bisa membangun sebuah rumah di ibukota. Namun disaat yang sama aku tergiur dengan bisnis investasi yang menawarkan keuntungan berlipat lipat. Setelah aku menyetor sejumlah uang yang rencananya akan kupakai membangun rumah, perusahaan investasi itu dinyatakan pailit atau scam, bahwa sang owner kabur keluar negeri membawa dana para nasabah.
Aku bahkan terlibat hutang yang cukup besar dengan seorang lintah darat yang terus saja memburuku. Puncaknya para debt colektor itu bahkan menyatroni rumah keluargaku dan mengancam akan membvnuhku jika hutang hutangku tak segera dilunasi.
Bapakpun mencari cara, beliau menemukan ide menikahkan ku dengan anak pak Yusuf, tetangga kami lalu dengan dalih menjadi besan, bapak meminta kerja sama mengelola sawah milik pak Yusuf. Tanpa mertuaku ketahui kalau lahan sawah yang dikelola orang tuaku sudah digadai ke juragan Baron, orang paling kaya dan berkuasa dikampung kami.
Berkat uang dari juragan Baron itulah aku terbebas dari lintah darat dikota. Namun bukan berarti masalah selesai. Aku masih harus melunasi hutang hutangku pada juragan Baron agar sawah milik pak Yusuf kembali ketangan Bapak.
"Sayang, kok dari tadi kamu melamun?" Ujar Tante Lisna yang duduk disampingku sembari menyetir mobil Avanza silver miliknya.
"Enggak kok sayang, aku hanya lagi kepikiran sama bapak aja," kilahku.
"Lho, kenapa dengan bapak kamu sayang? Sakit dan butuh uang lagi buat berobat?" Tanya wanita berumur hampir lima puluhan namun masih sexy itu.
Aku seketika memasang wajah murung dan sedih. Lalu mengangguk.
"Butuh berapa sayang. Ngomong aja. Tiga juta? Lima juta, cukup?" Ujar Tante Lisna lagi dengan mimik wajah khawatir. Aku menyungging senyum miring.
"Sepuluh juta Tante.." lirihku sambil pura pura mengelap air mata. Ya, aku hanya perlu berpura pura ekting dihadapanya, dan uang mengalir lancar.
"Ya sudah, nanti malam Tante transfer ya? Tapi kamu harus temenin Tante dulu malam ini sampai puass!" Ucapnya lagi sambil membelai pipiku dan melempar tatapan nakal ke arah pangkal pahaku.
"Iya Tante.." desahku lagi. Wanita itu terus membawa aku menuju Jakarta. Hanya dua jam jarak rumah ku dirangkas Bitung ke jakarta. Pukul lima sore hari, Tante Lisna menghentikan mobil bututnya didepan sebuah hotel bintang empat.
Tanpa canggung, kami berdua turun lalu melangkah masuk kedalam menuju meja resepsionist.
***
Didalam kamar hotel, Tante Lisna merebahkan kepalanya dipangkuan Evans. Wanita tua paruh baya dengan dandanan menor itu memonyongkan bibir merah cabainya ke arah wajah pria tampan yang berusia jauh lebih muda dari dirinya.
Evans tanpa ragu mengecup bibir Tante Lisna sembari tangan kekarnya menyusup kedalam blouse berbelahan dada rendah, lalu meremas gundukan pepaya besar yang sudah kisut dimakan usia.
Keduanya berciuman dengan hangat dan ketat. Hal itulah yang paling disukai Tante Lisna dari seorang Evans. Pria itu memiliki lidah yang mampu menari nari dalam rongga mulutnya. Menyentuh langit langit mulutnya, lalu memilin milin lidah tuanya hingga membuat Tante Lisna merasa sesak karena kehabisan nafas.
Puas saling bercumbu, Tante Lisna bangkit dari rebahannya. Lalu satu persatu mulai melepas pakaian yang dia kenakan. Wanita sexy bertumbuh sedikit berisi itu, nyatanya sudah memiliki gelambir gelambir disekujur tubuhnya. Namun karena demi uang, Evans rela mencumbu tubuh yang sebenarnya sudah layak disebut bau tanah itu.
Tubuh Tante Lisna sudah polos tanpa sehelai benangpun yang menutupi area sensitifnya. Wanita itu memiliki dua payudara besar yang bentuknya sudah meleyot turun kebawah, gumpalan dan gelambir lemak diperut hingga menutupi bulu bulu lebat di area va9inanya yang rimbun.
Tante Lisna mengambil posisi rebahan dengan melebarkan kedua pangkal pahanya hingga bibir Va9inanya terekspose liar.
Evans segera membuka pakaiannya satu persatu, hingga tubuh kekar dan bidangnya yang ditumbuhi bulu bulu halus itu terekspose jelas. Membuat gairah Tante Lisna membumbung tinggi. Apalagi saat melihat senjata kelelakian Evans yang teramat besar bentuknya, menggantung dipangkal paha lelaki itu dengan urat uratnya yang bersumbulan.
Evans segera beraksi dibagian bawah tubuh wanita paruh baya itu. Meskipun jijik, demi uang Evans rela melakukan apapun demi kepuasan sang pelanggan.
Dengan intens Evans menyapukan lidahnya dibagian bibir Miss V Tante Lisna yang sudah melewati masa menopause itu. Wanita itu mengerang dan merintih.
"Aaah, sayaaang, aaah, uuuuh, aaaaah, nikmatnyaaa," Tante Lisna melenguh tertahan sembari memejamkan matanya. Kedua tangannya menahan kedua kaki ke atas.
Sapuan lidah Evans semakin menggila. Lidah itu terasa menusuk nusuk goa darba dengan papila papila yang membuatnya terasa geli dan menggetarkan tubuh Tante Lisna hingga wanita itu menggelinjang dan kelojotan.
"Haaaah, aaaah, aaah, sayang, baby, uuuh, aaah..." bibir kisut Tante Lisna tak berhenti menceracau menikmati setiap sentuhan Evans dibagian paling sensitif tubuhnya.
Setelah puas bermain main dibagian intim Tante Lisna, kini saatnya wanita tua itu melancarkan aksinya pada senjata kelelakian Evans yang selalu membuatnya lemas lunglai hampir pingsan tiap kali digagahi senjata tumpul gigolonya itu.
Tante Lisna mulai mengulum tongkat bulat panjang berukuran 21cm itu perlahan masuk kedalam mulutnya.
Awalnya, hanya bagian kepalanya saja yang masuk kedalam mulut wanita tua itu hingga bibir Tante Lisna membentuk hurup 'O' besar. Wanita itu mencoba memasukan lebih dalam lagi batang kejantanan Evans, hingga separuh rudal Evans sudah berada dalam mulut Tante Lisna.
Wanita itu mulai mengeluarkan masukkan benda besar itu kedalam mulutnya meskipun sulit dan membuatnya hampir kehabisan nafas.
Mata Tante Lisna memerah, gincu merah dibibirnya sudah luntur oleh air liurnya sendiri karena baru setengah saja rudal milik Evans berada dalam mulutnya. Benda itu sudah menekan kerongkongan dan juga saluran nafasnya.
"Oahhh,,, haaa, haaahh, punyamu besar sekali Vans. Tante sampai tak sanggup mengulumnya.." desah Tante Lisna sambil terengah engah.
Evans tersenyum miring. Dia merasa bangga dengan senjata miliknya yang berukuran luar biasa besar hingga membuat para wanita tergila gila dan menyerah sebelum waktunya.
Evans merebahkan tubuh gempal wanita itu lalu mengangkat kedua kakinya ke atas. Evans memulai serangan digua darba milik Tante Lisna yang rimbun ditumbuhi semak belukar.
"Aaah, aaaw, pelan pelan saja sayang! Aaahak!" Tante Lisna yang rebahan miring sambil mengangkat satu kaki, merasakan rudal besar milik Evans mulai merangsek masuk kedalam gua darba'nya yang kisut itu.
Evans memajukan bokongnya perlahan lalu hingga senjata miliknya masuk seluruhnya kedalam Ciput embem' Tante Lisna yang sudah kendor itu.
"Aaaaah, aaaw, saakiit Van. Pelan pelan..." rengek Tante Lisna seperti anak kecil minta boneka. Evans dengan sabar menggoyang pantat. Mengaduk aduk rahim wanita tua itu hingga Tante Lisna mulai merasakan sensasi nikmat yang luar biasa.
"Aaah, aaaah, terus sayang.. nikmat sekali. Terus goyang... aaah, huuuhh, aaaaah" Tante Lisna terus menceracau dengan mata merem melek menikmati setiap penetrasi burung milik Evans dalam Ciput embemnya. Tubuh wanita itu ikut terayun ayun dan terhempas sambil kedua tangannya meremas kedua gunung kembarnya yang sudah kendor dan melorot.
Evans terus memacu bokongnya dengan ritme dan irama beraturan.
Dua puluh menit Evans membolak balikkan tubuh janda tua semox itu dengan berbagai gaya hingga Tante Lisna hampir pingsan menghadapi gairah Evans, tubuh keduanya menegang. Evans bahkan mencengkram kuat kuat dua pepaya Tante Lisna yang besar dan kisut itu saat merasakan tubuhnya bergetar dan menegang.
"Aaah, aaaaah,"
Crot!
Crot!
Crot!
Evans segera menyemburkan cairan kental putihnya ke wajah Tante Lisna, hingga cairan itu membasahi seluruh wajah wanita tua.
Tante Lisna menjulurkan lidahnya, sambil menjilati sisa sisa cairan kenikmatan dibagian kepala senjata kelelakian Evans dengan rakus.
"Aaah, tantee.. aaah" Evans mengerang, sesaat setelah cairannya tumpah, dirinya merasakan geli luar biasa akibat sapuan lidah wanita tua itu.
Evans terkulai lemas diatas ranjang. Namun karena senjatanya terus menerus di Jilatin Tante Lisna, membuat rudalnya yang semula mengkerut kembali bangkit. Terlebih Evans sudah minum pil biru sebelum bercinta dengan wanita tua itu.
Tante Lisna menyeringai. Dia memang wanita hipersexs yang tak puas hanya dengan sekali ronde. Hanya Evans lah pemuda luar biasa yang mampu memuaskan hasratnya berkali kali.
Evans sudah tau akan hal itu. Dirinya kembali bersiap siap dengan permainan ronde kedua.
***
(PoV Nurul)
"Nurul, boleh ibu bicara sesuatu nak?" Tanya Ibu mertuaku yang tiba tiba saja sudah berdiri di ambang pintu kamarku yang setengah terbuka. Aku masih sibuk menyetrika baju baju milikku yang tadi siang ku jemur.
"Iya Bu, masuk aja. Maaf ya Bu, Nurul sedang sibuk nyetrika baju," ucapku sambil terus menyapukan benda panas berbentuk kerucut itu diatas baju baju dinasku.
Tanpa ragu, Bu Ningsih masuk dan duduk ditepian ranjang. Dia mengamati sekeliling ruangan kamarku yang sekarang jauh lebih rapi dan tertata.
"Ruli, ibu mau minjam uang buat bayar sekolah Tiwi. Sebentar lagi kan Tiwi ujian semester. Dia tak diperkenankan mengikuti ujian kalau tunggakan SPPnya belum dilunasi..." Bisik ibu mertuaku dengan suara pelan dan wajah menunduk.
Deg! Aku terkesiap mendengar permintaan ibu mertuaku kali ini. Lagi lagi masalah uang, setelah kemarin mas Evans juga meminjam uang padaku.
"Memangnya Tiwi butuh uang berapa Bu? Nurul sih ada uang simpanan. Tapi jumlahnya enggak banyak. Yah, namanya juga Nurul cuma pegawai honorer Bu...." sahutku. Terus terang, aku sebenarnya memiliki tabungan yang aku simpan di Bank. Namun uang itu rencananya akan kugunakan untuk membangun usaha dimasa depan, dan akupun tak pernah mengganggu gugatnya.
"Hanya sembilan ratus ribu saja Ruli. Seharusnya Tiwi tak ada tunggakan SPP, karena setiap bulan bapaknya selalu memberikan uang SPP. Tapi rupanya Tiwi memakai uang itu untuk membeli skincare, bedak dan parfume. Bapak mau marah juga percuma, toh uangnya sudah tak ada lagi. Semuanya baru ketahuan, saat Tiwi akan ujian semester ini, bapakmu mendapat surat panggilan dari pihak sekolah agar melunasi tunggakan SPP Tiwi." Papar Bu Ningsih dengan wajah sedih dan tertunduk. Aku menatap lekat lekat wajah tuanya. Tak ada kebohongan disana.
Sejenak aku menghela nafas berat. Belum juga seminggu aku menjadi bagian dari keluarga ini, tapi aku harus dihadapkan dengan masalah masalah yang cukup pelik. Apalagi ini menyangkut uang. Segalanya akan sensitif jika sudah menyangkut uang.
"Ya sudah, Nurul ada kok Bu simpanan uang segitu. Tapi memang itu uang sering Nurul pakai disaat saat mendesak, seperti misal saat sakit dan lainnya..."
"Ibu usahakan secepatnya mengembalikan uang kamu Nurul. Doakan saja bulan depan, bapak bisa menjual hasil panen sawah kami. Ibu pasti akan langsung mengganti uang kamu, nak..." lirih Bu Ningsih. Aku mengangguk lalu menghentikan sejenak aktivitas menyetrika. Aku mengambil uang dalam dompet yang tersimpan dalam lemari baju.
"Ini Bu, uangnya," aku menyerahkan sembilan lembar uang berwarna merah ketangan ibu mertuaku. Senyum lebar mengembang dari bibirnya. Sontak, beliau langsung memelukku.
"Terima kasih ya nak. Kamu benar benar penyelamat Tiwi. Entah harus cari pinjaman dimana ibu, andai kamu tidak ada..." ucapnya sembari mengelus jilbab instan dikepalaku.
"Iya sama sama Bu. Yang penting sekarang Tiwi bisa ujian. Mengenai uang ini, ibu bisa mengembalikannya kapan saja...." pungkasku. Bu Ningsih keluar dari kamarku dengan wajah cerah.
Hari ini masa cuti ku habis, karena aku hanya mendapat jatah cuti tiga hari dari sek0lah tampatku mengajar, lalu besok aku akan kembali mengajar seperti semula.
Harusnya pasca menikah, aku bisa menghabiskan waktuku bersenang senang dengan mas Evans. Tapi bahkan baru sehari mas Evans menikahiku, dirinya langsung pergi ke Jakarta meninggalkan ku sendiri dirumah orang tuanya.
Namun sebagai seorang istri yang baik, aku akan berusaha bersabar. Aku tahu ujian rumah tangga setiap orang akan berbeda beda. Termasuk diriku yang mendapatkan sosok suami tampan dan sempurna secara lahir, namun sikapnya masih dingin dan tak acuh terhadapku. Biarlah waktu yang akan merubah semua, begitu pikirku.
Satu hal yang masih mengganjal dalam pikiranku dan aku harus mencari tahu langsung dari mas Evans. Yaitu mengenai banyaknya alat kontrasepsi yang dia simpan didalam tasnya...
(Bersambung)