Bab 2

“Ayo pulang, Nak,” ujar Sari pada anak sulungnya yang sepertinya masih betah berlama-lama duduk di samping gundukan tanah merah yang masih sangat basah.

Para pelayat sudah sejak satu jam yang lalu meninggalkan area pemakaman. Qianzy telah dibawa pulang oleh kedua adik Serena.

Tinggal Sari yang masih setia menemani Serana yang meratap di samping makam suaminya. Sudah dua kali diajak pulang namun, tidak digubrisnya.

“Sebentar lagi, Mak. Aku masih ingin menemani Hahan di sini. Aku ingin dia tahu, aku tidak akan pernah meninggalkannya,” sahut Serena melirik sekilas wanita paruh baya pahlawan hidupnya.

“Ini sudah hampir tengah hari. Panas akan semakin menyengat. Ingat kamu punya penyakit dan kamu harus tetap sembuh demi Qianzy. Hanya kamu yang anakmu punya saat ini,” lirih Sari menggigit bibir bawahnya menahan himpitan lara yang menjeratnya.

Hanan sosok laki-laki yang bertanggung jawab selama ini yang banyak membantu biaya pendidikan adik Serena adalah Hanan.

Hanan juga tidak segan membantu pekerjaan rumah saat dirinya sedang repot. Setelah ini entah siapa yang akan membantunya.

“Mak, yang dalam sini itu suamiku,” pekik Serena seketika.

“Mamak tidak merasa ditinggal mati suami,” sambungnya.

Suara Serena yang menggema membuyarkan lamunan Sari. Menggunakan punggung tangan dia menghapus air mata yang keluar dengan sendirinya.

“Mamak menangis?” tanya Serena yang merasa bersalah.

“Maaf, Aku telah membuat Mamak sedih. Aku nggak bermaksud untuk membuat Mamak sedih.” wanita muda itu beranjak mendekati ibunya dan memeluk tubuh yang belakangan sering sakit-sakitan mungkin terlalu lelah menjaga Qianzy yang sedang aktif-aktifnya.

“Nak, Hanan itu juga menantu Mamak bukan hanya kamu yang kehilangan dia. Mamak dan adik-adikmu juga sangat kehilangan. Dia yang lebih dekat dengan kami di rumah. Kamu lebih banyak bekerja. Dan Mamak memang belum merasakan ditinggal mati suami tapi Mamak harus melihat suami bersama istri mudanya. Berbagi suami dengan wanita lain lebih sakit dibandingkan ditinggal untuk selamanya,” isak Sari mengungkapkan isi hati yang baru kali ini dia katakan.

Selama ini dia hanya memendam sakitnya sendiri. Tetap tersenyum walau hati terluka. Dia harus tetap kuat untuk ketiga anaknya.

Sejak suaminya menikah lagi Sari harus berjuang sendiri memutar otak untuk memenuhi kebutuhan ketiga anak. Uang nafkah dari sang suami tidak pernah cukup untuk sebulan.

Dan apa yang dialaminya terulang kembali pada anak sulungnya. Walaupun dengan cara yang berbeda namun pada akhirnya Indira harus berjuang seorang diri untuk anak semata wayangnya.

“Ayo Nak, kita pulang. Ada banyak PR yang akan kita hadapi kedepannya,” ajak Sari sekali lagi.

Serena mengangguk meraih lengan ibunya meninggalkan tempat itu. mereka bergandengan tangan mengayunkan langkah meninggalkan tempat ruma masa depan itu.

“Aku pulang bang, abang baik-baik di sini. Kalau aku sempat akan datang lagi. Sama seperti abang yang jahat padaku. Aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku akan menjaga anak kita dengan baik, dia yang menjadi bukti bahwa kamu dan aku pernah menjadi kita,” bantin wanita dua puluh tiga tahun itu melewati barisan makam mereka yang telah pulang lebih dahulu.

Sampai di rumah tujuan utamanya adalah kamar pribadinya bersama Hanan. Ruang yang menjadi saksi hangatnya cinta mereka yang telah terjalin dari sembilan tahun yang lalu. Saat mereka masih duduk di bangku SMP.

Berawal dari cinta monyet anak yang baru beranjak remaja hingga naik ke pelaminan. Dengan segala bentuk tantangan dari keluarga Hanan yang tidak menyukai Serena.

Akhirnya Serena dan Hanan berhasil menggelar janji suci mereka berdua. Janji sehidup semati namun kini baru masuk tahun ketiga awal Tuhan berkehendak lain.

Janji dan mimpi yang dirajut bersama hanya tinggal kenangan. Kenangan yang akan selalu terekam dalam benak Indira ke mana pun kakinya melangkah.

Serena mendaratkan b**ongnya di sisi ranjang. Memindai semua sudut ruangan.

Lingerie yang dikenakannya malam kemarin masih tergantung manis di belakang pintu. Aroma maskulin pria yang paling memahaminya itu masih menguar dan menyengat.

“Kau jahat, bang. Kau pergi meninggalkan aku, tapi tidak dengan bau tubuhmu. Aku minta maaf bang, sekiranya permintaan maaf bisa mengembalikan kamu aku rela melakukanya sepanjang malam. Aku nggak sanggup tanpamu. Aku terlanjur terbiasa denganmu,” gumamnya memeluk kemeja yang dikenakan Hanan saat sehari sebelum ajal merenggutnya.

“Sekiranya bau tubuhmu akan tetap ada di kamar ini. Aku tidak akan membersihkan tempat ini.”

Entah berapa tetes air matanya di tumpahkannya. Hingga dia merasa sangat lemas. Dan tertidur dengan sendirinya.

***

Pagi hari di hari ketiga kematian Hanan.

Serena yang baru saja mulai berdamai dengan kenyataan. Kembali harus dikejutkan kedatangan teman-teman Hanan yang melontarkan tuduhan yang sangat keji.

“Keluar kau cewek sialan.”

“Keluar kau, temui kami.”

“Woy istri tukang selingkuh. Wanita penghianat.”

“Iin keluar kau.”

Sebuah batu menghantam jendela hingga kacanya pecah. Serena yang tidak tahu ujung pangkal masalah terpaku dalam rumah.

Dia tidak merasa melakukan apa yang dituduhkan. Jangankan untuk selingkuh berpikir untuk melirik pria lain pun tidak.

Semua telah dia dapatkan dari Hanan. Pria yang telah menjadikannya seorang ibu itu rela melakukan apa saja untuk membahagiakannya.

“Mereka itu mau apa Mak?” ujarnya pada Sari menggendong Qianzy yang histeris mendengar suara ribut-ribut dari arah luar rumah.

“Mamak juga tidak tahu. Kamu jangan keluar takutnya mereka akan menyakitimu,” sahut Sari yang terus menggoyangkan tubuhnya untuk menenangkan cucunya.

“Aku harus keluar, mereka tidak akan berhenti kalau belum bertemu aku.” Serena berjalan keluar menemui tamu yang tak diundang. Tidak enak pada tetangga pagi-pagi sudah membuat gaduh.

Andar menahan lengan ibunya yang berniat menyusul kakaknya. Dia tidak ingin sang ibu kambuh darah tingginya jika ikut mendengar apa yang terjadi di luar.

“Mamak tetap dalam rumah. Jaga Qianzy, aku dan Inggit yang akan menemani kakak,” tegasnya menarik Inggit ikut bersamanya.

Tubuh mungil Inggit terserat ke depan mengikuti kemana Andar menariknya. Usianya yang baru lima belas tahun tidak banyak yang bisa dilakukan. Selain menyimak apa yang dibicarakan.

“Akhirnya kau keluar juga ja**ng. Geram aku ingin nabok mukamu yang sok terpukul itu. Dalam hati kau senangkan teman kami meninggal. Lalu kau bebas menikah dengan selingkuhanmu,” seru Agam saat pintu baru saja terbuka. Bahkan dia tidak tahu siapa sosok yang membuka pintu. Bermodalkan keyakinan yang sangat kuat dia berani bicara begitu.

“Aku rasa dia telah merencanakan ini sejak lama,” sambung Doni.

“Aku pikir juga begitu, buang muka berduka citamu itu. Muak aku melihatnya.” Akmar ikut angkat suara. Biasanya dia paling pendiam di antara yang lainnya.

Serena menautkan alis apa yang dituduhkan teman-teman Hanan ini. Yakin sekali mereka jika dia melakukan hal rendahan itu.

“Aku tidak mengerti apa yang kalian katakan.” Hanya itu yang bisa diucapkannya.

“Ya, penjara akan penuh kalau maling semuanya mengaku,” sanggah Jidin.

“Jidin kau, kan yang paling sering bersama Hanan. Pasti kau tahu jika apa yang mereka tuduhkan itu tidak benar.” Serena menatap penuh harap pada laki-laki bisa dikatakan paling dekat dengan Hanan.

Semoga Jidin mau memihak padanya mematahkan tuduhan yang tidak masuk akal itu. Alih-alih menanggapinya Jidin justru membuang muka.

“Hahaha ... Kau lihat tidak ada yang percaya padamu. Kau itu wanita tukang selingkuh.”

“Tukang selingkuh.”

“Penghianat, menjijikkan. Memalukan, bisa jadi tubuhmu itu telah di cicipi selingkuhanmu.”

Kesadaran Serena menurun mendengar semua tuduhan yang di sematkan padanya. Pandangannya menggelap lalu dia tidak ingat apa-apa lagi.

Andar dan Inggit sejak tadi berdiri di belakang sang kakak. Sigap menangkap tubuh gempal Indira yang tidak sadarkan diri.

Sedang ke empat orang pembuat onar lantas meninggalkan tempat itu. Tanpa ada niat sedikitpun untuk mengantarkan Serena ke rumah sakit.

Hilang rasa iba mereka pada wanita yang baru saja ditinggal mati suami. Hanya karena kabar yang tidak tahu siapa yang menjadi penyebar awalnya.

Dulu mereka berteman sangat baik. Beberapa kali juga keempat orang itu makan di rumah ini.

Bab 3

“Serena kenapa, Ndar?” tanya perawat yang bertugas di UGD mendorong ranjang beroda yang diatasnya terbaring Serena yang tak sadarkan diri.

Andar memutuskan membawa sang kakak ke rumah sakit tempat kakaknya bekerja agar urusan lebih mudah. Kakaknya yang merupakan staf admin sudah tentu dikenal semua yang bekerja di sana.

“Pingsan dia, diserang teman bang Hanan barusan,” sahut Andar jujur menyusul dari belakang.

“Astaga yang benar kamu? Tega sekali mereka menyerang orang yang baru kematian. Memangnya ada masalah apa Serena sama mereka,” ujar pria seragam serba putih itu.

“Aku juga tidak terlalu paham masalahnya apa. Abang tanya langsung sama dia.” pemuda delapan belas tahun itu menoleh pada sang kakak yang sedang mendapatkan perawatan namun, belum sadarkan diri juga.

Andar ikut masuk ke dalam menemani sang kakak sedang Inggit menunggu di ruang tunggu. Gadis manja itu pusing jika menghirup aroma obat terlalu lama.

Di rumah Sari berusaha menenangkan Qianzy yang menangis mencari ibunya. Sepertinya tahu apa yang sedang ibunya rasakan.

Dia tidak berhenti menangis sampai tetangga sebelah datang membantu menenangkan.

“Adek mau sama mama. Adek mau peluk mama. Papa pergi,” ratapnya dengan nada khas cara bicara anak satu tahun.

“Iya sayang nanti kita ke tempat mama. Sekarang Adek jangan nangis, kita lihat ikan di kolam aja ya,” bujuk ibu-ibu yang mengenakan daster batik lengkap rambut yang masih basah.

Tangisan Qianzy yang menggema memancing semua tetangga datang ada yang sekedar melihat lalu pergi dengan cemooh. Ada pula yang membantu mendiamkannya namun, usaha mereka sia-sia.

“Makanya jadi istri jangan suka selingkuh, masih untung dapat suami baik tidak neko-neko malah selingkuh,” celetuk salah satu ibu-ibu yang berada di antara kerumunan.

“Yang benar Serena selingkuh?” sahut yang lain.

“Iya, wong saya dengar kok empat orang cowok datang menyerang si Serena.”

“Is, buat malu aja. Tampang aja cantik ternyata selingkuh, wajar keluarga Hanan tidak suka sama dia.”

“Yang benar keluarga Hanan Hanan suka? Pantes aja jarang lihat mereka datang jenguk Qianzy.”

“Sekarang mana si Serena.”

“Kayaknya tadi pingsan, paling di bawa ke rumah sakit.”

Mereka yang ada di sana sibuk membicarakan Serena yang awal ingin membantu mendiamkan Qianzy juga ikut mengembangkan info. Sari mengurut dada depan matanya ubi ungu sudah jadi kolak lengkap dengan pisang dan kacang hijau.

“Lebih baik kalian bubar saja kalau hanya untuk membicarakan anak saya,” tegasnya yang sudah tidak tahan menangkap suara sumbang membakar telinga.

Satu per satu dari mereka membubarkan diri meninggal nenek dan cucu itu berdua saja. Keadaan mendadak jadi sepi dan tenang. Tangisan Qianzy juga sedikit mereda kini sudah lebih tenang dan bisa diajak bicara.

Putri Serena itu sebenarnya anak yang cerdas di usia satu tahun sudah mengerti apa yang dibicarakan padanya. Sari membawa sang cucu masuk dan mengunci pintu dari dalam.

“Mau mama,” celetuknya saat di letakan di ranjang.

“Iya sayang, nanti om sama tante pulang kita lihat mama. Mama Adek lagi sakit,” sahut wanita paruh baya itu mengusapkan punggung tangan pada pipi yang dialiri air mata yang tidak bisa dicegah untuk keluar.

Saat menantunya masih hidup belum pernah Qianzy menangis histeris ini. Pria itu dengan sigap menenangkan anaknya saat dilihat rautnya mulai tidak enak.

“Tuhan amalan apa yang telah menantuku perbuat sehingga Engkau menyayanginya.”

“Hanan, apa Mamak pernah menyakiti perasaanmu sampai kau memilih pergi untuk selamanya.”

“Lihatlah, rumah ini secara perlahan akan sepi setelah kau pergi.”

Sari bicara seorang diri teringat sosok baik dan santun sang menantu. Sudah tak terhitung perutnya diisi dari hasil keringat pria itu.

Karena sejak Serena menikah dia tidak diizinkan untuk mencari uang. Bahkan sekedar menjaga warung saja dilarang. Hanan yang mengambil alih menjaga warung yang telah membuat dapurnya tetap mengepul.

“Mamak di rumah saja, tidak perlu cari uang lagi. Aku dan Serena yang akan memenuhi kebutuhan kita semua. Ada sama-sama kita makan kalau nggak ada sama-sama kita kelaparan. Sudah cukup perjuangan Mamak. Saatnya untuk perbanyak ibadah dan jaga kesehatan,” ujar Hanan setelah resmi menjadi menantunya.

***

Hari kedua Serena dirawat terpaksa Inggit membawa Qianzy bertemu ibunya. Bocah itu akan mengamuk dan sulit didiamkan karena tak kunjung bertemu orang yang diinginkannya.

“Sayang,” kata Serena merentangkan kedua tangan menyambut kedatangan buah hatinya.

Bocah satu tahun itu berhamburan dalam pelukannya menumpahkan kerinduan beberapa hari satu hari tidak bertemu. Serena menenggelamkan buah cintanya dengan Hanan dalam dalam dada rapuhnya.

Seketika netranya berkaca-kaca membayangkan jika kini harus menjadi mama dan papa untuk Qianzy. Sekuat tenaga wanita dua puluh tiga tahun itu menahan untuk tidak menumpahkan lahar panas di hadapan anaknya.

Sudah cukup bocah satu tahun ini melihatnya menangis di hari kemarin. Jangan sampai batinnya juga terluka melihat kesedihan yang tiada bertepi.

Entah mengapa sulit sekali bahagia bertahan padanya. Baru juga akan mendulang kebahagian dan sekarang harus terhempas ke dasar jurang yang dalam.

Tiga tahun pernikahannya baru beberapa bulan belakangan ini dibanjiri rejeki yang melimpah. Sedikit demi sedikit hutang untuk biaya pernikahan dan biaya hidup bisa di cicil. Ada beberapa yang jumlahnya tidak banyak dibayar lunas.

Dia dan Hanan memang berhutang banyak untuk pesta pernikahan mewah mereka. Kurang dukungan dari pihak keluarga Hanan mengharuskan keduanya berusaha sendiri mencari modal pernikahan.

Hutang yang baru terbayarkan tidak sampai separuh Hanan telah pergi untuk selamanya. Mau tak mau Serena yang melanjutkan membayar cicilan yang menggunung.

“Tuhan ini sangat tidak adil bagiku,” pekiknya dalam hati menatap lekat netra bening dalam dekapan.

“Mama, Adek mau ketemu papa. Papa kok belum pulang juga,” celoteh Qianzy mematahkan lamunan sang mama.

“Papa, sudah pergi jauh.” Lidah Serena kelu hanya itu yang bisa dikatakan.

“Papa tidak sayang sama Adek ya Ma?”

“Kata siapa? Papa sayang sama Adek.” Suara Serena terdengar serak dan berat.

“Kata Adek, papa pergi artinya tidak sayang,” sungut bocah satu tahun itu.

Qianzy termasuk cepat pandai bicara di usia satu tahun kosa katanya sudah banyak. Bicara juga lebih lancar dibandingkan anak seusia. Jadi saat dia bicara hampir tujuh puluh persen orang yang mendengar bisa mengerti.

“Papa sayang sekali sama Adek, tapi Tuhan juga sayang sama papa. Jadi papa pergi duluan ke rumah Tuhan.” Serena bingung harus mengatakan apa untuk menjelaskan pada anaknya.

“O, Tuhan sayang papa. Adek juga mau disayang Tuhan buat bertemu papa,” sahut Qianzy polos sukses meruntuhkan pertahanan Serena.

Inggit lantas membawa bocah perempuan itu dari ranjang kakaknya. Membawanya keluar memberikan waktu untuk sang kakak menumpahkan ganjalan di hati.

“Bang, jemput aku dan anak kita. Aku tidak sanggup hidup tanpamu. Cobaan ini sangatlah berat, sembilan tahun aku jalani hidup denganmu. Dan sekarang aku harus berjuang sendiri menjalani hidup dan membesarkan Qianzy.” Serena bersenandika menelisik sekeliling mengumpulkan oksigen yang banyak untuk membuang sesak.

Air matanya kembali tumpah saat teringat mendiang Hanan dan juga bayangan tentang perjuangan yang berat setelah ini.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED