Bab 2

Sementara itu, Brian yang sudah berada di dalam pesawat terlihat begitu tidak tenang karena sejak tadi terus memikirkan Kinanti.

"Apa dia baik-baik saja, ya?"

Pertemuan singkat mereka di depan kampus tadi terus terbayang di benaknya. Menurutnya, ada yang aneh pada Kinanti, dia bukan wanita yang biasanya lari begitu saja tanpa menjelaskan apa yang sedang terjadi. Brian tahu betul bagaimana sifat Kinanti yang ceria dan mandiri. Namun, tadi dia tampak sangat berbeda. Air mata, wajahnya yang pucat, semua itu membuat Brian penasaran.

Brian coba menepis perasaan itu. Namun, rasa cemas malah semakin menggerogoti pikirannya. Saat pesawat sudah mulai lepas landas, Brian tak bisa lagi menahan diri. Dia segera menghubungi Marco–anak buahnya yang paling terpercaya.

"Marco, aku butuh bantuanmu sekarang juga," kata Brian dengan nada serius.

"Ya, Brian, apa yang bisa kulakukan?" tanya Marco di ujung telepon, suaranya selalu tenang seperti biasa.

"Tolong kamu cari tahu apa yang sudah terjadi dengan Kinanti!" Brian memerintah tegas.

"Kinanti? Maksudmu gadis yang kamu temui kemarin di pesta itu?" tanya Marco dengan sedikit heran.

"Ya, betul dia. Cepat, Marco! Aku butuh jawabannya sekarang juga!"

"Sabar dulu, Dude! Aku cari tahu dulu, nanti aku akan menghubungi," jawab Marco sebelum memutus sambungan telepon.

Brian duduk kembali di kursi pesawat, coba menenangkan pikiran yang terus bergejolak. Dia memejamkan mata sejenak. Namun, bayangan wajah Kinanti dengan air mata di pipinya terus menghantui. "Apa yang sebenarnya terjadi padanya?" pikir Brian dalam hati. "Biasanya dia pasti berkata maaf, tapi tadi ... aku yakin sesuatu yang buruk sedang terjadi padanya? Tapi apa? Kinanti-Kinanti, kamu itu membuatku tidak berhenti memikirkanmu," batin Brian terlihat menghela napasnya dengan kasar.

Sejak tadi, Brian terus menatap layar ponselnya, menunggu Marco memberikan kabar tentang Kinanti. "Kenapa Marco lama sekali, ya?" Brian yang tidak sabaran pun coba menghubungi Marco, tapi pria itu sedang berada dalam panggilan lain.

Tak butuh waktu lama, panggilan yang ditunggu Brian pun akhirnya datang. Ya, Marco langsung menyampaikan hasil penyelidikannya tentang Kinanti.

Mendengar laporan itu, Brian terdiam. Dadanya terasa sesak mendengar kabar tersebut. "Orang tuanya meninggal? Kinanti sekarang pasti lagi hancur," gumam Brian dengan nada yang dalam. Hatinya tidak bisa tenang dan dia tahu harus melakukan sesuatu untuk Kinanti. "Pantesan tadi dia menangis, aku pikir dia menghindar karena mengabaikanku. Sekarang aku harus cepat menemuinya."

Setelah menghabiskan beberapa jam dalam perjalanan, akhirnya Brian tiba di rumah Kinanti. Brian memang tidak tahu banyak tentang keluarganya. Namun, instingnya mengatakan bahwa dia harus menemui Kinanti secepat mungkin.

Saat dia tiba di depan rumah Kinanti, pemandangan yang dilihatnya membuat darahnya mendidih. Kinanti tengah berjalan keluar rumah, membawa kantong sampah dengan wajah yang tampak lelah dan sedih. Brian langsung mengenali dan tanpa pikir panjang, dia turun dari mobil dan memanggil wanita itu.

"Kinanti!" seru Brian sambil mendekat. Namun, bukannya menyambut dengan baik, Kinanti langsung terlihat panik saat melihat Brian. Dia tahu siapa Brian dan dia tidak suka pria itu. Dengan cepat, Kinanti berbalik dan berlari menjauh.

"Kinanti, tunggu! Aku hanya ingin bicara!" Brian mengejarnya. Namun, Kinanti tidak menghiraukannya. Dia terus berlari, tapi Brian dengan cepat berhasil menyusulnya.

Tanpa pikir panjang, Brian menarik Kinanti dan membawanya masuk ke dalam mobil. Kinanti coba berteriak, berusaha melawan. Namun, Brian menutup mulutnya agar suaranya tidak terdengar. "Aku hanya ingin bicara sebentar, Kinanti! Aku tidak akan menyakitimu. Kamu harus percaya sama aku!" kata Brian dengan nada yang lebih lembut.

Namun, Kinanti yang merasa terjebak tidak mempercayai satu pun kata dari mulut Brian. Dengan gerakan cepat, dia menggigit tangan Brian dengan keras. Brian meringis kesakitan dan refleks melepaskan tangannya dari mulut Kinanti. Ini memberi Kinanti kesempatan untuk melarikan diri. Tanpa berpikir panjang, Kinanti berlari secepat mungkin, meninggalkan Brian yang masih memegang tangannya yang terluka.

Anak buah Brian yang melihat Kinanti kabur segera ingin mengejarnya. Namun, Brian menghentikan mereka. "Biarkan saja. Setidaknya sekarang aku tahu dia baik-baik saja," katanya dengan suara pelan, coba menenangkan diri.

Saat Brian kembali ke mobil, dia melihat sesuatu yang membuat amarahnya memuncak. Dari dalam mobil, dia menyaksikan bibi dan sepupu Kinanti keluar dari rumah dan dengan kasar menarik rambut Kinanti guna memaksa wanita itu masuk kembali ke rumah.

Brian merasakan dorongan kuat untuk keluar dan menghentikan Aina. Namun, tepat saat dia akan melangkah keluar dari mobil, teleponnya berdering.

Dia menatap ponselnya dan menghela napas panjang. "Baiklah, aku akan ke sana sekarang," katanya dengan nada tegas, meskipun hatinya masih tertinggal pada pemandangan Kinanti yang diperlakukan kasar oleh bibinya.

"Ampun, Bi. Sakit!" rintih kesakitan Kinanti, Aina tidak peduli sekalipun Kinanti memohon agar ia tidak dikasari, tidak ditampar dan tidak ditarik rambutnya. Tapi tetap saja Aina marah, dan kemarahannya juga karena hal sepele.

Aina yang melihat Kinanti berbicara dengan seorang tetangga saat proses pemakaman.

"Kamu berkata apa ke wanita itu Kinanti? Kamu membicarakan bibi dan pamanmu ini, kan? Ayo jawab jujur, Kinanti!" bentak Aina yang tidak bisa mengendalikan diri.

Kinanti sudah berkata berulang kali, kalau mereka yang datang saat ngelayat itu hanya bertanya. Kinanti akan tinggal dengan siapa? Apa tidak sebaiknya tinggal sendiri saja. Tapi Aina tidak percaya, dia terus-terusan berkata kalau Kinanti sudah bicara sesuatu yang jelek tentangnya. Makanya, para tetangga itu membicarakannya. "Sumpah Bi, aku tidak pernah menjelekkan Bibi, aku tidak pernah melakukan itu, Bi! Tolong percaya sama aku, Bi?"

"Terus, kamu pikir Clara yang bohong dan fitnah kamu, Kinanti?"

"Oh jadi semua ini karena ... Clara, Bi?" Tak ingin sang bibi salah paham, Kinanti coba menjelaskan meski Aina seolah tak mempedulikan ucapannya sedikit pun. "Bibi, aku sama sekali tidak pernah bicara begitu. Clara itu bohong!" Suaranya penuh keputusasaan. Namun, Aina sudah kehilangan kesabaran. Dengan cepat, tangan Aina melayang dan menampar pipi Kinanti. Suara tamparan itu terdengar keras, membuat Kinanti terhuyung ke belakang dan merasakan panas di pipinya.

Kinanti merasa sakit, bukan hanya secara fisik, tapi juga batin. Tamparan itu bukan hanya menghinanya, tapi juga mengoyak rasa hormat yang masih ia coba pertahankan pada keluarganya.

Clara yang juga ada di sana tampak memandang Kinanti yang kesakitan dengan senyuman kecil di wajahnya. Dalam hatinya, dia merasa puas. Ada rasa cemburu yang begitu besar pada Kinanti, terutama saat di acara pesta waktu itu, Brian malah mendekatinya. Clara yakin Brian adalah pria kaya, apalagi melihat pria itu ditemani oleh beberapa anak buahnya. Namun tentu saja, Clara tidak akan mengakui bahwa kecemburuan itu menjadi alasan di balik fitnahnya.

"Mama," Clara bersuara dengan nada manis. "Kenapa kita masih membiarkan Kinanti tinggal di sini? Bukankah lebih baik kalau kita menjualnya saja ke pria-pria kaya? Aku yakin banyak pria yang akan membayar mahal untuknya. Kita bisa mendapatkan uang banyak."

Kinanti terkejut mendengar usul kejam Clara. "Apa!? Tidak, aku tidak mau dijual!" Kinanti berseru, menolak mentah-mentah usulan tersebut.

Namun, bukannya membela Kinanti, Aina malah tertawa sinis. "Itu ide yang menarik, Clara. Setidaknya, kamu bisa memberi kami sesuatu, Kinanti. Kamu sudah terlalu lama menjadi beban kami di sini," kata Aina dingin.

Kinanti pun terdiam, merasa hancur dengan ucapan bibinya. Clara yang sekarang mendapat dukungan dari ibunya, melangkah mendekati Kinanti dan mulai memaksa. "Ayo, pakai baju ini!" Clara melemparkan pakaian mini ke arah Kinanti. "Pria-pria kaya tidak akan mau melirikmu kalau kamu pakai baju kampung seperti itu."

Kinanti awalnya berontak, mencoba melawan. Namun, semakin lama dia merasa tidak ada pilihan lain. Perlahan-lahan, dengan air mata yang mengalir di pipinya, Kinanti akhirnya setuju, meskipun dalam hati dia sudah menyusun rencana untuk melarikan diri.

Bab 3

Malam itu, Clara dan Aina membawa Kinanti ke sebuah klub malam. Mereka memperkenalkan Kinanti kepada seorang pria tua kaya raya yang tertarik membelinya. Pria itu tersenyum licik melihat Kinanti yang tampak ketakutan.

"Sebelum kita bicara lebih lanjut, aku perlu ke kamar mandi." Kinanti berpura-pura sakit perut, berusaha mencari celah untuk kabur.

Aina, yang curiga Kinanti akan mencoba melarikan diri, segera memerintahkan Clara untuk mengawasi. "Clara, ikuti dia! Jangan biarkan dia kabur."

Kinanti tahu itu mungkin satu-satunya kesempatan untuk melarikan diri. Di tengah pengawasan Clara, dia bergegas ke kamar mandi. Namun, saat masuk ke sana, dia dengan cepat bersembunyi di balik pintu ruangan lain yang terhubung dengan kamar mandi. Tanpa melihat siapa yang ada di dalamnya, Kinanti coba mencari jalan keluar dan saat dia berbalik, matanya terbelalak karena melihat Brian duduk di sebuah sofa tengah berbicara dengan seseorang. Di ruangan itu ada beberapa wanita cantik berpakaian seksi, tampaknya mereka adalah wanita-wanita yang ditawarkan Brian kepada seorang pria kaya.

Brian terkejut melihat Kinanti berdiri di sana tengah ketakutan. "Kinanti? Apa yang kamu lakukan di sini?" Brian bangkit dan segera menghampiri Kinanti. Raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran.

"Apa yang terjadi? Kamu kenapa?" Brian bertanya lagi. Namun, Kinanti terlalu takut. Dia tahu Brian adalah bagian dari dunia kelam yang selama ini selalu dia hindari.

"Jangan dekati aku!" seru Kinanti dengan suara yang bergetar.

Kinanti pun berlari keluar dari ruangan itu sebelum Brian sempat menahannya. Dia berlari secepat mungkin, tapi tidak tahu ke mana harus kabur. Di depan, Aina dan Clara sedang menunggunya. Di belakang, ada Brian yang mungkin mengejarnya.

Hatinya berpacu, dan tanpa pilihan lain, Kinanti memutuskan untuk mengambil jalan lain yang lebih gelap, berharap bisa menghindari semua orang yang mengejarnya. Namun, Brian tak tinggal diam. Dia melihat sekilas Aina dan Clara yang tampak gelisah di pintu klub malam dan dari tatapan mereka, Brian mulai menyadari sesuatu yang lebih besar sedang terjadi. Dengan cepat, dia berlari mengejar Kinanti, menahan lengannya sebelum dia berhasil kabur.

"Ayo ikut aku. Akan kubawa kamu ke tempat yang aman!" kata Brian dengan nada tegas.

"Lepaskan aku!" Kinanti tidak begitu saja percaya pada Brian. Dia tidak ingin bernasib sama dengan wanita-wanita yang ada di ruangan tadi yang tampak seperti dijual oleh Brian.

Tanpa pikir panjang, Kinanti menggigit tangan Brian sekuat tenaga dan segera berlari lagi, kali ini menuju jalan raya. Hampir saja Kinanti terserempet sebuah mobil yang melaju cepat. Ternyata, mobil itu dikemudikan oleh Aslan–pamannya.

"Kinanti! Apa yang kamu lakukan di sini?" Aslan menghentikan mobilnya dan turun.

Kinanti, dengan air mata yang tak lagi bisa ditahan, langsung menceritakan segalanya kepada Aslan. Tentang rencana jahat Aina dan Clara yang ingin menjualnya dan ancaman Aina yang akan membunuh Aslan jika Kinanti tidak menurut.

Mendengar itu, Aslan begitu murka pada istrinya. Mau bagaimanapun, Kinanti adalah keponakan yang tidak patut diperlakukan seperti itu. "Tenang, Kinanti! Hal itu tidak akan terjadi. Paman akan melindungimu," katanya sambil memeluk Kinanti erat-erat.

Brian yang mendekat untuk melihat kondisi Kinanti, terpaksa menghentikan langkahnya ketika salah satu anak buahnya datang memanggil saat pandangannya tertuju pada Kinanti. "Maaf, Pak, di dalam Pak Alex masih menunggu, Pak."

Brian hampir lupa dengan rekan bisnisnya di ruangan itu sebelum Kinanti datang. "Aku harap kamu baik-baik saja, Kinanti. Dan, aku akan secepatnya menolongmu dari kejahatan paman dan bibimu. Aku janji Kinanti?" ujar Brian dalam hati yang begitu mencemaskan Kinanti.

***

Kinanti masih terisak-isak saat mobil yang dikendarai pamannya, Aslan, berhenti di depan rumah. Sesaat sebelum keluar dari mobil, ia mencoba menenangkan diri, tapi perasaannya masih berkecamuk. Bagaimana mungkin bibinya dan Clara begitu kejam, dan sekarang ia harus berhadapan dengan mereka lagi? Sementara itu, Aslan terdiam, memikirkan kata-kata Kinanti di sepanjang perjalanan tadi. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, tapi dia tidak bisa langsung mempercayai semuanya tanpa bukti.

Saat mereka masuk ke dalam rumah, Kinanti terkejut. Di ruang tamu, Aina, bibinya, dan Clara sudah duduk dengan santai, berpakaian piyama, seolah tidak ada hal buruk yang terjadi. Wajah mereka tampak begitu tenang, tanpa sedikit pun menunjukkan rasa bersalah atau keterlibatan dalam sesuatu yang jahat.

"Kamu dari mana, Kinanti? Kenapa pakaianmu seperti itu?" tanya Aina dengan nada yang terdengar lembut, tapi penuh tipu daya.

Kinanti terdiam sejenak. Jantungnya berdegup kencang. Clara yang duduk di sebelah Aina menatapnya dengan pandangan sinis, bibirnya melengkung dalam senyum mengejek. "Jangan bilang kalau kamu habis jadi pelacur di luar, Kinanti. Aku nggak nyangka, ya. Kelihatannya baik-baik saja, tapi ternyata nakal juga!" Clara menambahkan dengan nada penuh cemoohan.

Kinanti merasa darahnya mendidih. "Paman, aku tidak bohong!" serunya, berusaha menahan air mata yang ingin kembali mengalir. "Tadi bibi dan Clara yang mengajakku ke klub malam. Mereka ingin menjualku ke pria kaya, Paman. Tolong percaya padaku!"

Aslan menatap Kinanti dengan bingung. Ada keraguan dalam matanya. Dia mengenal Aina selama bertahun-tahun, sulit baginya membayangkan istrinya akan melakukan hal sekejam itu pada keponakannya sendiri. Namun, ada juga perasaan di hatinya yang mengatakan bahwa Kinanti tidak mungkin berbohong tentang hal sebesar ini.

Namun, sebelum Aslan bisa merespons, Aina berdiri dengan wajah marah. "Kurang ajar kamu, Kinanti! Berani-beraninya kamu memfitnahku seperti itu! Dari tadi aku dan Clara cuma di rumah, tidak kemana-mana. Aku bahkan tidak melihatmu keluar rumah. Jangan-jangan kamu yang diam-diam kabur lewat jendela kamar, ya?" bentak Aina sambil menarik rambut Kinanti dengan kasar.

Kinanti menjerit kesakitan, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman bibinya. "Aku tidak bohong! Aku bicara jujur! Tadi kalian berdua yang membawaku ke sana!" isaknya, mencoba melindungi kepalanya dari cengkraman Aina yang semakin kuat.

Clara tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. "Tampangnya aja polos, tapi ternyata liar juga, ya. Kamu memang nggak tahu malu, Kinanti. Jangan pikir kita nggak tahu apa yang kamu lakukan di luar sana."

Kinanti merasa semakin terdesak. Ia melihat ke arah pamannya, berharap Aslan bisa melihat kebenaran dari raut wajahnya yang penuh dengan kejujuran. "Paman, tolong! Aku tidak berbohong. Aku tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan! Tolong percayalah padaku!" suara Kinanti bergetar, nyaris putus asa.

Aslan terdiam, masih bergelut dengan pikirannya sendiri. "Aina, Kinanti bilang kamu dan Clara yang membawanya ke klub malam. Apa itu benar?" tanyanya, mencoba tetap tenang meskipun hatinya penuh kecurigaan.

Aina langsung mendengus, matanya memicing tajam ke arah Kinanti. "Benar-benar mengada-ada, Mas! Aku nggak tahu dia dapet ide gila dari mana. Tadi siang aku sama Clara cuma di rumah, istirahat. Kinanti yang nggak kelihatan dari sore, nggak tahu ke mana. Sekarang malah pulang dengan pakaian seperti itu dan menuduh kita yang macam-macam!"

Clara ikut angkat bicara, menguatkan kebohongan Aina. "Ya, Pa. Dari tadi aku sama mama di rumah. Mungkin Kinanti yang diam-diam kabur buat ngelakuin hal-hal nggak benar di luar sana. Tapi, aku beneran nggak nyangka dia bakal nuduh kita kayak gini."

Kinanti menangis semakin keras. Semua kata-katanya terasa sia-sia, seolah-olah tidak ada yang mendengarnya. "Paman, aku mohon! Tolong percaya padaku! Aku tidak berbohong!"

Aina melepaskan cengkeramannya pada rambut Kinanti dan menepuk-nepuk bajunya, seolah ingin membersihkan tangan dari kotoran. "Sudah cukup, Kinanti. Tidak usah membuat drama seperti ini. Aku tahu kamu cuma mencari alasan untuk menutupi apa yang sebenarnya kamu lakukan."

Aslan menatap Kinanti dengan wajah bingung. Hatinya ingin mempercayai keponakannya, tapi situasinya begitu sulit. Dengan dua orang melawan satu, apa yang bisa dia lakukan?

"Kinanti, kenapa kamu tidak jujur saja? Kalau memang ada sesuatu yang kamu sembunyikan, lebih baik kamu katakan sekarang," ucap Aslan dengan nada lembut, tapi jelas-jelas mengandung keraguan.

Mendengar itu, hati Kinanti terasa hancur. Pamannya, satu-satunya harapan yang ia miliki, tampak mulai meragukannya. Air matanya semakin deras mengalir, dan tubuhnya gemetar karena ketakutan dan kekecewaan.

"Paman... Aku... Aku benar-benar tidak bohong," katanya dengan suara nyaris tidak terdengar. "Tolong percayalah padaku..."

Namun, Aina segera menyela. "Sudahlah, Mas. Tidak usah diperpanjang. Kinanti mungkin sedang mencari perhatian atau punya masalah lain yang nggak mau dia akui. Kita semua tahu bagaimana anak-anak muda zaman sekarang."

Kinanti merasa seluruh dunianya runtuh. Semua yang ia katakan dibelokkan dan dijadikan senjata untuk melawannya. Tidak ada yang berpihak padanya, bahkan pamannya yang selama ini ia percayai.

Aslan hanya bisa menatap Kinanti dengan wajah bingung, tidak tahu harus berkata apa. Sementara itu, Clara dan Aina saling bertukar senyum licik, senang karena berhasil memanipulasi situasi.

"Ayo, Kinanti. Mungkin kamu butuh istirahat. Kita bicara lagi besok pagi," kata Aina dengan nada lembut tapi penuh tipu daya, menarik lengan Kinanti menuju kamarnya.

Kinanti tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dengan langkah lemas, ia mengikuti bibinya ke kamar, merasa seluruh harapannya telah pupus. Bagaimana ia bisa keluar dari cengkeraman bibinya dan Clara? Dan bagaimana ia bisa membuktikan kebenarannya?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED