"Sayang sekali dia tidak masuk di kelas kita. Lihat! Wajahnya adalah impian setiap wanita."
"Tapi dia masih muda bukan?"
"Masih 23 tahun."
Arum tersedak makanannya sendiri mendengar percakapan di balik punggungnya. Saat ini dia sedang makan siang di kantin kampus sembari menunggu dosen pembimbingnya untuk melakukan bimbingan skrispsi. Dua puluh tiga tahun? Apa-apan! Dia tahu kalau dosen sombong itu masih muda, tapi dua puluh tiga tahun? Arum meringis. Nasibnya sial sekali harus berurusan dengan dosen berkepala batu itu. Arum menjambak rambutnya frustrasi. Ini benar-benar kesialan yang tidak terelakkan.
"Genius, lulusan kampus LN, memiliki wajah rupawan yang menjadi impian setiap wanita. Apalagi yang kurang coba?"
Kurang otak, lagi-lagi suara hati Arum berbisik mendukungnya. Bagaimana bisa hidupnya berubah hanya dalam satu hari? Dia mengangkat wajah seolah mencari inspirasi yang bisa membuat harinya sedikit lebih menarik. Arum berdiri, membayar makanannya dan berjalan menuju ruang dosen. Langkahnya gontai, tidak ada semangat sama sekali. Siapa juga yang bisa semangat menghadapi dosen killer itu?
Nasib menjadi mahasiswa abadi adalah tidak memiliki teman di kampus. Kalau di luar sih Arum punya teman, tapi kalau di sini ... Arum menggeleng pelan. Tahun ini dia harus lulus jika masih ingin dianggap sebagai bagian dari keluarganya.
Dia mempercepat langkah, tidak ingin memberikan kesempatan pada dosen sombong itu untuk mengkritiknya. Namun, saat netranya melihat ruangan yang menjadi tujuan utamanya, nyalinya langsung ciut sampai pada titik terendah. Arum menelan ludah. Ketakutan membuatnya maju mundur untuk melangkah, namun saat bayangan hidup menggelandang memenuhi kepalanya, Arum dengan segera mengetuk pintu sebelum dia berubah pikiran.
"Selamat siang, Pak," ucapnya mencoba menjaga suaranya terdengar normal, mengingat saat ini kakinya gemetar seperti jelly.
"Masuk!"
Arum mendekat tanpa kata.
"Duduk!"
Arum mendaratkan tubuhnya di kursi kayu yang disediakan di ruangan.
"Aku tidak suka orang yang malas, suka terlambat, ceroboh dan menganggap sepele semua hal. Apa kamu mengerti?"
Lah, hubungannya sama dia apa coba? Dia kan cuma mau bimbingan skripsi bukan mau konsultasi masalah hidup?
"Satu-satunya penjelasan kenapa kamu tidak lulus selain tentu saja karena bodoh adalah karena kamu memiliki semua yang baru saja saya ucapkan."
Arum menekan buku-buku tangannya, menghitung dalam hati agar dia tidak mengucapkan apa pun yang akan membuatnya menyesal. Apa yang sudah dia lakukan sampai berakhir di meja dosen tidak berperasaan ini?
"Kamu hanya punya waktu selama tiga bulan, jika tidak selesai dalam jangka waktu tersebut...,"
Arum mengangkat alis.
Dosen Arum bersiul dan membuat gerakan terbang dengan tangannya.
"Ucapkan selamat tinggal pada wisuda," ujarnya menyeringai.
Sabar, sabar, sabar. Arum terus merapalkan kata-kata itu guna membentengi dirinya dari keinginan untuk memukul dan melempar dosen di depannya ini. Apanya yang tampan? Wajah ini persis seperti tokoh antagonis yang sering dia baca di novel-novel. Tipikal wajah Badboy, tidak punya hati.
"Kita akan mengadakan pertemuan dua kali dalam seminggu. Selama jangka itu, aku tidak ingin mendengar alasan apa pun. Apa kamu mengerti?"
"Baik, Pak." Arum sengaja menekankan kata Pak agar dosennya ini tahu kalau dia sudah kesal.
"Untuk jamnya nanti akan di urus."
"Baik, Pak."
"Sekarang keluar!"
Arum mendorong kursi cukup keras, membuat suara berderak terdengar. Dia menunduk. "Maaf," ujarnya tidak tulus.
"Berapa usiamu?"
Arum yang sudah di depan pintu berbalik dengan heran. "Saya dua puluh lima tahun, Pak."
"Sudah tua ternyata."
Arum membanting pintu dengan kesal, tidak peduli jika dosen kurang ajar itu terkejut.
"Dasar dosen killer, dingin, mulut pedas, tidak punya hati. Awas saja ...." Arum menyeringai membayangkan dia melempar dan menendang dosen sombong itu di kepalanya.
Arum yang jengkel menarik ponsel dari tasnya dan menekan nomor sahabatnya.
"Bungaaa," teriak Arum begitu teleponnya tersambung.
"Kenapa? Hmm..." balasan terdengar dari ujung telepon.
"Ketemuan yukk, mau curhat nih."
"Aku lagi kerja, Arum Sayang."
Arum memutar mata. "Yah ...bentaran doang, gimana kalau nanti malam?" ujar Arum antusias. Dia butuh bercerita agar kepalanya tidak pecah karena menahan amarah yang akhir-akhir ini menemaninya.
"Oke."
Arum seketika mengepalkan tangannya begitu mendengar jawaban sahabatnya. "Ajak Intan sekalian, udah lama kita gak kumpul bareng."
"Siip, udah dulu ya, aku mau balik kerja nih."
Arum menatap teleponnya gemas. Ini sahabat gak pengertian banget. Dia kan masih mau ngomong.
"Okke, sampai nanti malam, Sayangku." Dia memutus telepon dan kembali melanjutkan aktivitasnya. Dia butuh ke perpustakaan jika ingin segera selesai skripsi. Membayangkan wajah dosen killer itu entah kenapa membuat darahnya mendidih.
Tunggu! Arum tiba-tiba punya ide. Dia membuka MacBooknya, menyambungkan ke wifi kampus dan segera meluncur ke dunia maya. Dia membuka akun IG dan mengetik nama 'Daffin Narendra' di kolom pencarian. Dalam sekejap hasilnya muncul. Arum meneliti profil yang sesuai dengan wajah dosennya dan langsung mengkliknya.
Arum menutup mulut, menahan pekikan lolos dari mulutnya. Dia mengerjap beberapa kali, seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Apa ini? Daffin tidak banyak memposting di feednya, tapi bukan itu yang membuatnya kaget setengah mati. Dosen gila itu sudah menyelesaikan S-3 nya? Bagaimana bisa? Diusia semuda itu? Apa dunia sudah berubah secepat itu?
Arum menelan ludah, semua foto yang di posting hanya pemandangan dari beberapa negara. Menara kembar, Eiffel, dan beberapa yang dia sendiri tidak tahu negara mana. Arum terus menyusuri postingan dosennya, melupakan fakta kalau dia sudah stalker akun media sosial orang. Arum menatap sebuah foto dengan pemandangan sebuah jembatan dengan langit yang dibalut sunrise.
'Looking for you' adalah caption yang dibuat dalam keterangan foto. Arum seperti tidak memercayai apa yang dia lihat. Segenius apa manusia dingin itu sampai bisa melanglang buana diusia semuda itu? Rasa penasaran menguasainya. Dia keluar dan membuka kolom pencarian Google, mengetikkan nama Daffin Narendra. Arum sekali lagi membelalak tidak percaya dengan hasil yang muncul. Foto Daffin muncul dengan memegang berbagai macam piala bergensi. Kebanyakan saat masih di bangku SMA dan selain itu beberapa saat dia kuliah di LN.
Arum mengerjap beberapa kali dan memutuskan untuk menutup macbooknya. Dia bisa gila kalau terus-terusan mencari tahu tentang dosen dingin itu. Arum berdiri dan bersiap ke perpustakaan. Dia sekarang tahu siapa lawannya dan kalau boleh jujur dia lebih suka tidak lulus jika seperti ini.
Dan berssiap-siaplah di tendang dan jadi gelandangan, hati kecil Arum sekali lagi berbisik mengingatkan. Arum yang kesal menghentak-hentakkan kakinya membuat beberapa orang menatapnya dengan sorot mata aneh.
"Sial banget ya Tuhan, adduh," pekiknya mengaduh saat dia jatuh dan lututnya berakhir dengan mencium lantai.
Dia tersandung tali sepatunya sendiri. Dia tidak suka memakai high heels karena sering terjatuh tapi dengan sepatu datar pun nasibnya sama saja. Sebuah tangan terulur untuk membantunya berdiri. Arum menerimanya tanpa melihat siapa yang menolongnya.
"Apa matamu sudah tidak berfungsi lagi?"
Arum memekik kaget saat melihat siapa penolongnya.
"Kau..." ucapnya tidak sadar.
Daffin mengangkat alis.
"Maaf, Pak," gumamnya setengah hati.
"Lupakan. Besok jangan lupa datang jam delapan."
"Untuk?" tanyanya bodoh membuat Daffin menatapnya takjub.
"Luar biasa, otak udangmu benar-benar sudah tidak tertolong lagi sepertinya," gumamnya santai dan berlalu meninggalkan Arum yang tingkat kejengkelannya sudah berada pada level bisa meletuskan gunung.
"Dasar Dosen gila, psiko, aneh, tidak punya hati ..." geramnya marah. Jika pandangan bisa membunuh, maka saat ini dosen gila itu pasti sudah mati dibawah tatapan tajamnya. Dia mendengus dan kembali melanjutkan langkah, mengabaikan decakan kagum dari beberapa mahasisiwi yang terpesona pada ketampanan Daffin.
Dasar dosen killer!
Arum menyusuri rak demi rak buku yang ada di perpustakaan. Jika ada satu hal yang paling dia tidak suka maka membaca buku yang halamannya melebihi tebalnya novel Harry Potter sudah pasti masuk dalam daftar. Pandangannya kembali menjelajah demi menemukan buku untuk menunjang riset skripsinya. Saat tangannya terangkat hendak meraih sebuah buku yang menurutnya menarik, getar ponsel yang ada di saku celananya membuatnya urung meraih buku yang dia inginkan.
"Jangan lupa nanti malam," ujar Intan dari ujung telepon sebelum dia sendiri sempat mengatakan apa pun.
Arum memutar mata. "Kabar baik juga Intan, Sayang," balasnya tersenyum meski sahabatnya tidak bisa melihatnya.
"Nanti malam gak lupa 'kan?"
"Tentu saja!" bisiknya, sadar dia masih berada di perpustakaan.
"Biasanya 'kan kamu pelupa."
Arum memutar mata. "Kalau untuk yang satu ini seorang Arum tidak akan melupakannya."
"Bagus, ketemu di tempat biasa."
"Okke." Dia menutup telepon dan kembali melanjutkan aktivitasnya. Menit berlalu, dia luar biasa mengantuk.
"Apa aku menjelajah dunia maya saja?" bisiknya tiba-tiba. Dia mengantuk luar biasa. Pekerjaan ini rasa-rasanya bisa menunggu. Dia menutup buku dengan judul Ekuitas Merek karya David A Aaker dan membuka smartphonenya. Baru saja tangannya membuka lock screen seseorang merampas telepon genggamnya.
"He..." teriaknya tidak terima, namun langsung mengatupkan bibir saat sadar beberapa orang melemparkan tatapan jengkel padanya.
"Apa kamu tahu kenapa kamu tidak lulus-lulus kuliah? Kamu menghabiskan waktu mengisi otakmu dengan hal-hal yang tidak berguna."
Jleb
Dosen gila ini kembali mengganggunya. Kenapa dia selalu ada di mana-mana?
"Kenapa Bapak ada disini?" tanyanya risih. Dia menatap beberapa orang yang sekarang memerhatikan mereka dengan bisik-bisik.
Daffin menatapnya datar. Kemeja biru panjangnya dia gulung sampai siku dan mengambil tempat duduk di depan Arum yang menatapnya tidak mengerti.
"Jangan membuang waktu dengan sampah seperti ini."
"Maksudnya?"
Daffin menatap Arum dengan kening mengernyit. "Bagaimana kamu melalui semua harimu di kampus ini dengan otak kosong seperti itu?"
Cukup sudah! Arum menarik napas panjang dan berjalan menjauh sebelum emosinya meledak.
Buk
Kembali dia tersandung sepatunya sendiri.
"Dasar ceroboh!"
Arum melirik sinis. "Dasar dosen gila," gumamnya dan berlalu, mengabaikan ekpsresi terkejut Daffin. Arum sudah berjalan beberapa langkah saat dia menyadari sesuatu. Ponselnya. Dia memejamkan mata, lagi-lagi menyadari kecerobohannya. Apa dia kembali saja?
"Masa bodoh," gumamnya tidak peduli dan kembali melanjutkan langkah. Lebih baik dia bersiap-siap menjumpai sahabatnya. Arum berjalan dengan dagu terangkat, berharap tindakan ini sedikitnya akan membuatnya terlihat mengagumkan.
***
Arum memandang pantuan dirinya yang ada di cermin. Pakaiannya hari ini kasual. Dia hanya ingin berjumpa dengan sahabatnya. Rambut panjang sebahunya hari ini dia biarkan tergerai. Mengingat ponselnya masih di tangan dosen gila itu, Arum memutuskan untuk datang lebih awal. Setelah memastikan penampilannya sudah rapi Arum bergegas keluar kamar.
"Bagaimana kuliahmu, Arum?"
Arum memutar mata, kenapa semua orang akhir-akhir ini begitu terobsesi dengan kuliahnya? Yang tidak lulus itu kan dia, harusnya yang heboh siapa coba?
"Baik, Bunda," jawab Aum berjalan mendekati bundanya.
Bunda Arum sedang menyiapkan makan malam keluarga mereka.
"Ada info baru?"
Berarti Bunda belum tahu tentang keputusan sepihak Ayah, suara kecil Arum kembali bersuara.
"Gak ada, Bund."
"Itu anak teman Bunda minggu depan mau nikah, loh."
Apa hubungannya dengan dia?
"Kamu jangankan nikah, lulus kuliah saja belum."
Oke, ini mulai berlebihan. Sebaiknya dia segera pergi sebelum pembicaraan semakin tidak menarik.
"Bun, Arum pergi sama Bunga dan Intan ya." Arum mencium pipi bundanya sebelum melongos pergi.
"Siapa yang antar?"
"Leon."
"Oke, Hati-hati kalau begitu."
Arum melambaikan tangan sebagai balasannya
Adiknya sudah menunggu di dalam mobil yang menyala begitu dia keluar rumah.
"Cepetan Kak!"
"Iya, bawel!"
Leon melaju dengan kecepatan normal, meski begitu karena saat ini sudah malam banyak kendaraan yang melintas. Arum melirik jam tangannya dan mulai meringis. Dia akan terlambat.
"Cepetan, Leon! Kakak akan terlambat ini!"
"Yee, Kakak sih kelamaan. Makanya disiplin dong!"
Arum mencebik. "Dasar!"
Beruntung pertengkaran mereka tidak berlanjut karena kafe tujuannya sudah terlihat. Arum melompat dari mobil dan langsung berlari, mengabaikan tatapan menegur adiknya.
"Sorry...sorry...sorry," ujarnya dengan napas ngos-ngosan. Tangannya dengan cekatan membuka kursi dan segera mendaratkan tubuhnya. Dia menatap kedua sahabatnya dengan wajah cengengesan. "Sorry," ucapnya tanpa suara.
"Sudah biasa." Intan bersuara santai.
Arum meletakkan tangan di dada, sebelum menunduk. "Terima kasih Nyonya atas pengertiannya," sindirnya membuat kedua sahabatnya tertawa.
"Kalian sudah pesan makanan?"
"Sudah, tinggal nunggu makanannya datang."
Arum mengangguk-ngangguk kecil. "Bagus deh. Aku sudah lapar, dari tadi siang belum makan."
"Eh, katanya kamu mau curhat ya? Kenapa?" Bunga bertanya begitu ingat alasan Arum ingin bertemu.
Arum langsung heboh, matanya membulat dan dia mendekatkan kursi dengan semangat dan menatap sahabatnya satu persatu. Waktunya bergosip.
"Keluargaku kayaknya lagi kesurupan deh, gimana bisa mereka minta seorang Arum lulus kuliah tahun ini coba? Belum lagi Ayah ngancam kalau gak lulus juga putri semata wayangnya ini akan diusir dan hidup menggelandang," ucapnya menggebu-gebu, menatap kedua sahabatnya tidak percaya.
Bunga dan Intan saling melempar pandangan. Beberapa detik kemudian tawa keduanya pecah membuat beberapa pengunjung melempar pandangan penuh minat ke arah mereka, namun baik Intan maupun Bunga terlihat tidak peduli. Keduanya masih sibuk tertawa.
Bunga bahkan sampai memegang perutnya karena berusaha menekan tawanya. Arum yang melihat reaksi kedua sahabatnya mencibir dengan hati dongkol.
"Bukan keluargamu yang aneh Arum Sayaang, tapi kamu tuh yang aneh. Lagian 7 tahun kuliah kenapa sih gak lulus-lulus juga?" Intan yang pertama mengungkapkan pendapatnya.
"Nyusun skripsi gak sesulit itu kali, atau ini karena ...,"
Arum melotot mendengar ucapan Bunga, tahu apa yang akan diucapkan sahabatnya.
"Ini tidak ada hubungannya dengannya," potongnya cepat.
"Soalnya kamu kan gak bodoh-bodoh amat, dan skripsi bukan ujian negara yang bisa meruntuhkan tatanan dunia dalam melakukan risetnya."
Arum menarik ujung rambut sahabatnya dengan kesal.
"Aww," gumam Bunga mengaduh.
"Usiamu sudah berapa sekarang coba? Teman-teman udah pada kerja atau bahkan udah ada yang S-2 tapi kamu ...."
Arum tiba-tiba teringat sesuatu saat sahabatnya menyebut S-2.
"Kalian percaya gak kalau ada yang sudah menyelesaikan S-3 di usia 23 tahun?"
Bunga dan Intan kembali saling melempar pandangan. "Kecuali orangnya benar-benar genius sepertinya gak mungkin." Intan mengambil kesimpulan.
Arum memukul meja dengan semangat membuat beberapa orang sekarang menatap mereka dengan jengkel, tapi Arum mengabaikannya.
"'Benarkan? Gak mungkin banget, tapi kalian tahu gak?"
"Kenapa?"
"Dosen pembimbingku usianya baru 23 tahun dan dia sudah menyelesaikan S-3nya!"
"WHATT!" Bunga berseru heboh lupa kalau mereka sedang di kafe.
"Sttt..." Intan mencoba menengahi kehebohan kedua sahabatnya.
Arum mengangguk antusias."Dan kalian tahu? Itu dosen nyebelinnya minta ampun tahu gak? Dia dosen paling nyebelin, gak punya hati, paling dingin sejagad raya yang pernah aku lihat," serunya penuh semangat.
"Kamu yakin?"
Arum merogoh sakunya bermaksud mengambil ponselnnya, sampai kemudian ingat kalau ponselnya masih ditangan dosen dingin itu.
"Minta Hp," ujarnya mengulurkan tangan pada Intan. Intan yang bingung mengulurkan ponselnya pada Arum. Arum membuka telepon sahabatnya, mengetik sesuatu dan meletakkannya di tengah-tengah meja.
"Nih, lihat!"
Meski tidak paham, keduanya mendekat agar bisa melihat apa yang ingin di tunjukkan Arum.
"Ini apa?"
"Itu akun sosmed dosen gila yang barusan aku bilang."
"Tuhan, Dosen kamu ganteng banget Arum. Gila, ini orang keturunan apa sih kok bisa seganteng ini. Astaga Arum kamu tuh beruntung banget bisa bimbingan sama dosen se perfect dia." Bunga berseru heboh dengan mata ayng terus menatap layar ponsel. Padahal foto dosen gila itu hanya profil doang, feednya kan isinya pemandangan semua.
"Ngapain ganteng kalau mulutnya pedas gitu," sahutnya malas.
"Eh, followersnya kok banyak banget?" Bunga lagi-lagi berseru tanpa peduli kejengkelan Arum.
"Emang dia seseram itu?" Intan bertanya sementara Bunga masih heboh dengan kegiatannya menatap layar ponsel.
Arum melotot dan mengeraskan suaranya.
"Dia tuh lebih seram dari Hitler tahu gak! Dosen yang kalau ngomong ngelebihin pedasnya saos. Pokoknya dia itu dosen kaku, dingin, nyebelin, irit banget kalau ngomong sama ...,"
"Arum ...,"
"Aku belum selesai Intan," sungutnya, kesal karena diinterupsi. "Bayangin tiap ketemu yang dia bilang cuma aku yang bodoh, otak udang—"
"Itu karena otakmu benar-benar bodoh seperti otak udang."
Deg
Arum mematung mendengar suara familiar dari belakangnya. Dia meringis dan menatap sahabatnnya dengan panik. Ini gak mungkin dia kan, suara hatinya berbisik memohon. Arum rela mempertaruhkan semua pudingnya agar tidak berpapasan dengan dosen sombong itu. Dia berbalik takut-takut.
Benar saja, berdiri di depannya Daffin dengan setelan santainya. Kaos putih dipadu dengan jaket kulit dan celana jeans. Permohonan Arum praktis tidak terkabul.
"Bapak..." cicit Arum nyaris tanpa suara, tidak berani menatap Daffin.
"Besok," ucap Daffin, meletakkan ponsel Arum dan segera berlalu.
Arum membuang napas yang sejak tadi ditahannya, dia melemparkan pandangan mencela pada kedua sahabatnya.
"Kalian kenapa gak ngomong kalau dia datang sih?" sungutnya jengkel.
"Tadi aku udah manggil tapi kamu tetap nyerocos gak henti."
"Adduh, gimana nasib aku sekarang," gumamnya merana. "Apa aku gak usah lulus aja ya? Daripada ketemu sama dia?" Arum bergumam sendiri sembari menatap pintu keluar kafe. Mulutnya kenapa gak punya rem, lagian itu dosen kok kayaknya ada di mana-mana?