Bab 2

Beberapa waktu terakhir, Anindita semakin sering berhubungan dengan Zack. Komunikasi mereka terjadi melalui ponsel, Zack memang menyimpan ponsel secara diam-diam di dalam penjara. Anindita tak pernah menanyakan perihal ponsel tersebut tapi jauh di lubuk hatinya ia bersyukur bisa tetap berkomunikasi dengan Zack dan saling mengenal lebih dekat.

Banyak hal yang kemudian hari ia ketahui mengenai Zack. Lelaki itu ternyata ingin segera kembali ke Bogor selepas keluar dari penjara nantinya. Saat mendengar keinginan Zack, Anindita seketika membeku. Sejak kecil ia tak pernah pergi jauh sampai keluar provinsi Bengkulu. Dia tak punya keluarga yang tinggal terlalu jauh dari kampung halaman mereka, jadi Ada sedikit ketakutan di hati Anindita mendengar keinginan Zack.

'Akankah Zack pergi begitu saja dan meninggalkan hati yang sudah penuh dengan kesan indah tentang dirinya?' Setiap kali pemikiran seperti itu datang dalam benak Anindita ia merasa sedih.

"Aku akan meninggalkan alamatku. Kau juga bisa menghubungi aku melalui ponsel. Aku tidak akan berpaling semudah itu dari gadis secantik kamu." Zack terdengar seperti sedang menggombal.

"Kapan kau akan bebas?" Suara Anindita terdengar bergetar.

"Aku sudah mengurus pembebasan bersyarat. Mungkin tidak sampai dua bulan lagi aku akan bebas." Zack memberikan jawaban yang semakin membuat hati Anindita galau.

"Kita hanya sebatas berteman bukan? Kau tak mungkin akan membawaku pulang ke keluargamu begitu saja. Kau baru saja mengenalku dan aku tidak tahu banyak mengenai dirimu."

"Apa kamu mulai ragu? Dita, aku tidak bisa menjanjikan apa pun padamu saat ini. Tapi percayalah perasaanku ini tulus untukmu. Aku hanya bisa berharap Tuhan akan memberi jalan bagi kita untuk bisa bersama." Zack berusaha menepis kegalauan Anindita.

"Kau benar, kau hanya menyatakan perasaanmu dan tidak berjanji apa pun. Jadi untuk apa aku terlalu berharap." Anindita masih merasa kacau.

"Aku masih berada di dalam penjara. Aku tidak bisa memberimu janji apa pun yang mungkin akan aku ingkari suatu hari nanti. Aku cuma ingin kau tahu, jika Tuhan beri kita kesempatan maka aku akan selalu berusaha untuk bisa menghabiskan sisa usiaku bersamamu."

Kata-kata yang diucapkan Zack terdengar begitu indah di telinga Anindita, tapi hatinya merasa harus menjadi lebih tabah. Anindita seketika sadar Zack mungkin tak berani berjanji karena keadaan saat ini tidak memungkinkan bagi mereka untuk melihat masa depan seperti apa yang akan menghampiri keduanya.

"Sudah larut malam, tidurlah." Zack menyadarkan Anindita dari lamunannya.

"Iya, kamu juga tidur ya. Jangan ikutan teman-teman kamarmu yang bergadang sampai larut malam. Jaga kesehatan." Anindita berusaha memberi perhatian pada Zack yang memang sangat mendambakan perhatian gadis cantik yang baru saja ia kenal itu.

~~~

"Kau tak ingin ikut Zack ke Bogor saat dia bebas nanti?" Mega bicara sembari mengaduk-aduk jus alpukat di hadapannya.

Hari ini Mega dan Anindita baru saja pulang dari bekerja. Mereka berdua bekerja di sebuah pusat perbelanjaan sebagai SPG. Anindita mengajak Mega makan mie ayam di sebuah pertigaan jalan tak jauh dari mall tempat mereka bekerja, selesai makan mie ayam keduanya mengobrol tentang keseharian mereka.

"Aku tidak tahu akan kemana arah hubungan ini. Zack tak punya keluarga di sini juga hanya punya sedikit kenalan yang tidak mungkin menampung dirinya sementara waktu. Sedangkan keluarganya menginginkan dia untuk pulang ke Bogor. Aku bingung harus bagaimana. Jika secara langsung ikut pergi dengannya, apa kau pikir orang tuaku akan mengizinkan aku pergi? Bukan sifatku, mengikuti lelaki yang baru saja aku kenal. Apalagi dia seorang yang saat ini sedang mendekam di penjara, siapa yang tahu kehidupan seperti apa yang dia punya di Bogor sana."

"Lelaki asing memang tampak lebih menarik ya.., aku iri padamu. Aku dan Hosen saling mengenal sejak kecil. Entah kenapa aku menerima begitu saja saat ia menyatakan perasaannya padaku saat kita lulus SMA. Anak bandel itu selalu tampak imut di mataku." sekilas Mega membandingkan Hosen dengan Zack.

"Kalau ini terjadi pada dirimu, apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan memilih pergi begitu saja tanpa menyelidiki terlebih dahulu latar belakang lelaki asing ini?"

"Kalau terjadi padaku mungkin aku akan segera terbang bersamanya dan hidup bahagia." Mega tersenyum lebar.

"Memang dasar bucin. Kau tidak pernah dengar kalimat seperti ini 'rasa penasaran seekor serangga terhadap bunga terkadang justeru membunuh si serangga'. Sudah saja, kau cukup bersama Hosen dan merencanakan masa depan bersamanya."

Anindita merasa tak ada gunanya bicara dengan sahabat bucin seperti Mega tentang perasaan galaunya.

"Dua bulan itu tidak akan lama. Apa kau tidak akan mulai menabung dan merencanakan sebuah perjalanan penuh petualangan bersama Zack?" Lagi-lagi Mega memberi usulan yang terdengar konyol bagi Anindita.

"Aku sudah terbiasa menabung sejak kecil. Kau tahu kan betapa inginnya aku punya usaha sendiri? Kau lihat tempat ini, aku selalu bermimpi ingin punya warung mie ayam yang selalu ramai seperti tempat ini. Jadi aku tidak akan menggunakan tabunganku untuk hal yang kurang penting."

"Kurang penting katamu? Dengar baik-baik ya kalau virus bucin dari dalam hatiku ini bisa aku tularkan padamu maka kau akan langsung terbang bersama Zack dan mencari kebahagiaan bersamanya. Pegang kata-kata ini ya, Anindita. Aku akan menularkan kebucinanku kepadamu." Mega mengelus-elus dadanya lalu berpindah mengelus dada Anindita sambil tertawa.

Anindita berusaha menghindar tapi kemudian terpaksa pasrah, ia ikut tertawa bersama Mega.

~~~

Hari kebebasan Zack telah tiba, Anindita dan Mega menjemput Zack ke Lapas lalu bersama-sama mengantar Zack ke bandara. Orang tua Zack sudah mengirimkan tiket pesawat dua hari sebelum kebebasan Zack. Anindita sempat menyayangkan hal ini tapi Zack meyakinkan dirinya bahwa Zack tidak akan melupakan Anindita. Mereka tetap masih bisa berhubungan melalui ponsel.

Rasa sedih menyelimuti hati Anindita di sepanjang perjalanan mereka menuju bandara.

"Kalau ada waktu dan kesempatan aku akan berkunjung kemari. Aku benar-benar tak bisa tinggal lebih lama di Bengkulu karena bagaimana pun juga aku harus bertemu kedua orang tuaku terlebih dahulu." Zack masih saja berusaha meyakinkan Anindita.

"Aku akan tetap tenang selama kita jauh. Doakan semua akan baik-baik saja. Kita pasti bisa bertemu lagi." Anindita akhirnya berusaha tegar.

Zack bahkan tak sempat singgah ke rumah Anindita karena mengejar pesawat untuk berangkat ke Jakarta. Dari cerita Hosen beberapa waktu lalu, Mega dan Anindita baru mengetahui bahwa ayah Zack tengah sakit keras sejak beberapa waktu. Zack sangat terburu-buru pulang karena takut tak bisa berjumpa lagi dengan ayah kandungnya yang sudah kritis.

Setelah mengantarkan kepergian Zack, Anindita yang merasa sedih sempat dihibur oleh Mega. "Dia pasti akan kembali kemari setelah bertemu kedua orang tuanya. Kau lebih baik tak usah khawatir."

"Iya. Semoga saja dia tidak melupakan aku ya." Anindita juga berusaha menghibur hatinya sendiri dan menampakkan senyum manis di hadapan Mega walaupun sesungguhnya hatinya kacau tak menentu.

Bab 3

"Kabar terakhir yang aku tahu, ayah Zack meninggal dunia beberapa waktu lalu. Zack sempat merawat ayahnya selama 3 bulan. Sekarang aku sudah jarang mendapatkan kabar dari Zack." Hosen bicara pada Mega dan Anindita pada waktu besukan.

Sudah Beberapa bulan sejak kebebasan Zack. Awalnya komunikasi antara Zack dan Anindita lancar saja, hingga beberapa Minggu belakangan Zack jarang mengangkat telepon dari Anindita juga pesan yang dikirim gadis itu hanya dibaca saja tanpa dibalas. Hati Anindita gundah. Ia mengajak Mega untuk menemui Hosen, bagaimana pun juga Hosen pernah sangat akrab dengan Zack sehingga Anindita berharap Hosen bisa membantunya.

"Aku sebenarnya sudah tak mau berharap. Bagaimana pun juga di antara kami tak pernah ada janji apa pun yang perlu aku tagih kepadanya. Aku ikhlas jika dia melupakan aku. Mungkin dia bukanlah untukku." Anindita berkata kepada Hosen.

"Aku akan mencoba menghubunginya kembali. Siapa tahu dia memang sedang sangat sibuk dan tak sempat menghubungimu. Terakhir saat meneleponku Zack sempat cerita kalau dia harus melanjutkan usaha keluarganya yang ditinggalkan oleh sang ayah."

"Maaf merepotkanmu Sen." Anindita bicara dengan nada tak enak. Bagaimana pun juga, Hosen sedang menjalani masa hukuman di penjara tapi Anindita malah merepotkan dirinya dengan urusan percintaannya.

"Kau ini bagaimana? Bukankah aku dan Hosen selalu merepotkanmu sejak lama? Masalah seperti ini juga adalah tanggung jawab Hosen karena sejak awal dialah yang memperkenalkan kau dengan Zack." Mega membesarkan hati Anindita.

"Nanti akan kukabari jika aku bisa menghubungi Zack." Janji Hosen sebelum Anindita dan Mega keluar dari ruang besukan.

~~~

"Zack. Kau kemana saja selama ini? Anindita mengkhawatirkanmu." Setelah beberapa kali mencoba menghubungi Zack akhirnya Hosen bisa bicara dengan Zack melalui ponsel yang dipinjamnya dari petugas lapas.

"Aku sibuk mengurus toko dan perkebunan bunga milik keluargaku. Tolong sampaikan maafku pada Anindita ya Sen. Sebenarnya sesaat aku merasa tak bisa memberi kepastian apa pun pada Anindita. Aku takut dia akan kecewa."

Hosen merasakan ada sesuatu yang tak biasa dari nada suara Zack. Dulu biasanya dia begitu bersemangat setiap kali membicarakan Anindita. Entah mengapa sekarang begitu jauh berbeda.

"Zack, mungkin sebentar lagi aku akan bebas. Apakah aku boleh berkunjung ke tempatmu? Siapa tahu aku bisa membantumu berkebun di sana."

"Tentu saja boleh Sen. Aku akan memberimu alamat lengkapku." Zack kembali bersemangat mendengar bahwa Hosen ingin mengunjunginya setelah bebas nanti.

Setelah bicara di telepon, Zack segera mengirimkan alamat rumahnya beserta alamat toko bunga keluarganya kepada Hosen.

~~~

Hati Anindita terasa hampa setiap kali mengingat Zack yang begitu manis. Tak pernah ada penjelasan yang pasti mengenai alasan Zack tiba-tiba seolah memutuskan komunikasi dengan Anindita. Karena perasaan hampa itu pula Anindita jadi jarang menemani Mega membesuk Hosen. Ia merasa tak enak setiap pergi membesuk, semua hal di sana mengingatkan dirinya kepada Zack.

Di tempat kerja juga Anindita seringkali menghindari Mega. Ia merasa terusik setiap kali Mega menggodanya sambil mengingatkan tentang Zack. Rasanya Anindita ingin menghapus semua hal tentang Zack dari hidupnya. Baginya bukan hal sulit melupakan Zack, bukankah lelaki asing itu hanya melintas sebentar saja dalam kehidupannya? Anindita begitu yakin bahwa dia bisa move on dari Zack.

Sejak sore sepulang kerja, Anindita mengurung diri di kamarnya. Ayah dan ibunya tak terlalu mempersoalkan perilaku Anindita yang akhir-akhir ini menjadi sedikit pendiam dan jarang keluar rumah setelah jam kerja selesai.

"Anindita.., di luar ada Mega dan Hosen. Sudah bebas rupanya anak bandel itu. Kau jangan sampai terpengaruh kebandelannya ya." Ibu Anindita masuk ke kamar memberitahu Anindita akan kedatangan Mega dan Hosen.

Anindita bahkan hampir lupa kalau pagi ini Hosen sudah dibebaskan dari penjara.

"Ibu kan tahu dia sahabatku sejak kecil. Kalau bisa aku harus memberi pengaruh yang baik supaya dia tidak bandel lagi."

"Iya deh. Sana temui dulu sahabat kecilmu." Ibunya tersenyum sambil berlalu.

Anindita keluar menuju ruang tamu. Mega dan Hosen sudah duduk di sana dan tersenyum menyambut Anindita.

"Selamat bebas ya Hosen." Anindita menyalami Hosen dan merangkulnya, "jangan nakal lagi ya!" Anindita kali ini menarik gemas hidung Hosen yang meringis kesakitan.

"Aku ke sini mau memberi kabar tentang Zack. Aku dengar kamu sudah memblokir nomor ponselnya ya?" Hosen langsung bicara pada Anindita.

"Ceritakan semuanya yang detail Sen. Biar Anindita tuh tau maksud kedatangan kamu ke sini." Mega memaksa Hosen langsung bicara tujuan mereka.

"Begini Nin, Aku sudah meminta alamat lengkap Zack. Sebenarnya aku merasa bersalah padamu. Aku berharap kamu mau pergi ke Bogor menemui Zack secara langsung. Dengan begitu kamu akan bisa memastikan perasaan Zack terhadapmu."

Anindita diam sejenak. "Aku perempuan Sen. Rasanya tidak pantas aku yang mengejar lelaki sampai menyeberang lautan hanya untuk sebuah kepastian. Lagi pula memang sejak awal Zack hanya menyatakan rasa sukanya saja dan tidak pernah berjanji apa pun. Jadi untuk apa aku berharap kepastian darinya?" Anindita sudah tak mau memaksakan diri lagi menunggu kepastian dari Zack.

"Menurutku kau harus memastikannya. Tak ada seorang pun di antara kita yang tau pasti keadaan Zack di sana. Mungkin ada sesuatu yang membuat ia tertahan dan tak bisa meneruskan hubungan denganmu. Kau harus memastikannya. Aku saja yang hanya sahabatmu merasa penasaran, seharusnya kau lebih penasaran lagi, kan Anindita." Mega bersemangat sekali memprovokasi Anindita.

"Bagaimana dengan orang tuaku? Apa nanti yang harus aku katakan kepada mereka sebagai alasan kepergian ku ke Bogor?"

"Kau tenang saja. Bagaimana kalau kita pergi bertiga dan kita bilang ke orang tuamu kalau Hosen akan mengajak kita jalan-jalan ke Bogor bertiga."

"Hei.. memangnya kita punya uang untuk berangkat bertiga ke sana? Kau ini bagaimana, aku baru saja keluar penjara tadi pagi. Kalau aku minta juga pada Papa dan Mamaku belum tentu mereka akan memberikan uang untuk pergi ke Bogor. Apalagi aku menjalani pembebasan bersyarat, aku masih harus melapor ke Bapas sewaktu-waktu." Hosen mendadak protes.

"Ya... Jadi bagaimana dong?" Mega mulai cemberut.

"Begini. Aku punya sepupu yang bekerja di Bogor. Kau ingat Kak Dewi kan, anak pamanku." Hosen mencoba memberi solusi.

Anindita mengangguk, ia ingat betul Kak Dewi yang dimaksud Hosen, karena Kak Dewi pernah berpacaran dengan tetangga sebelah rumah Anindita.

"Kau bisa saja pamit pada orang tuamu dan bilang kalau Kak Dewi menawarkan pekerjaan yang cukup menjanjikan di Bogor. Nah, kau bisa mengambil cuti tahunan dan minta izin pada orang tuamu untuk mencari pekerjaan. Di Bogor nanti kau bisa menemukan kak Dewi dan dia akan membantumu menemukan alamat Zack. Aku sudah bicara pada Kak Dewi soal ini."

"Benar Kak Dewi akan membantuku soal ini?"

"Tentu saja. Aku sudah bicara padanya soal hubunganmu dengan Zack. Kak Dewi bersedia membantumu mencari alamat Zack juga akan memberimu tempat tinggal sementara waktu selama kau di Bogor. Bagaimana? Mau kan?" Hosen bersemangat sekali ingin membantu Anindita, sebenarnya di dalam hatinya ia merasa bersalah telah memperkenalkan Ani duta kepada Zack yang akhirnya tidak memberi kepastian apa pun seperti ini. Ia merasa persoalan ini harus dituntaskan hingga ada kepastian dari Zack.

"Aku akan mencobanya. Lagi pula jika aku tidak mendapatkan kepastian hubunganku dengan Zack, aku akan punya kesempatan mencari pekerjaan di sana. Siapa tau ada rezeki yang lebih baik menantiku di sana." Entah kesadaran dari mana yang membuat Anindita tiba-tiba berubah pikiran dan menjadi begitu bersemangat untuk berangkat ke Bogor.

"Nah, gitu dong. Semangat." Mega mengedipkan sebelah matanya kepada Anindita sembari mengangkat kedua jempol tangannya.

Ketiganya mempersiapkan rencana keberangkatan Anindita dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi saat Anindita ke Bogor nanti. Anindita sebenarnya tertarik dengan pemikiran Hosen tentang mencari pekerjaan di Bogor. Akhir-akhir ini memang ia merasa bosan berkutat dengan pekerjaannya sebagai Sales Promotion Girl di pusat perbelanjaan. Anindita berharap akan ada petualangan baru yang bisa ia jalani di luar sana.

~~~

Meski tak terlalu mudah mendapat izin dari kedua orang tuanya, Anindita akhirnya bisa meyakinkan ayah dan ibunya bahwa dia sedang ingin mencari pengalaman kerja baru di luar Bengkulu. Untuk melengkapi sandiwara mereka, Hosen juga meminta Kak Dewi untuk menelepon langsung ibu Anindita dan meminta izin agar Anindita bisa berangkat ke Bogor menemuinya.

"Jaga diri baik-baik di sana. Kalau tidak mendapat pekerjaan juga tidak apa-apa. Kamu bisa pulang ke rumah dan mencari pekerjaan lagi di sini." Ibu Anindita menasihati anak gadisnya yang bersiap merantau jauh.

Keluarga Anindita beserta Hosen dan Mega mengantar Anindita ke Bandara.

"Di Bogor pasti sering hujan. Ini aku belikan sebuah jaket yang cukup tebal dan nyaman untuk kau pakai." Mega menyodorkan sebuah kantong belanja berisi jaket yang ia beli untuk Anindita.

"Makasih ya Mega, Hosen. Doakan semuanya berjalan sesuai rencana." Anindita memeluk Mega dan Hosen sembari berbisik kepada mereka.

Mega sempat menitikkan air mata sesaat sebelum melepas kepergian sahabatnya. Hosen memeluk Mega agar ia tak menangis lebih kencang dan menjadi pusat perhatian banyak orang di Bandara.

Hati Anindita berdegup tak menentu. Ia merasa takdirnya baru saja akan dimulai. Ia merasa akan ada petualangan seru yang akan ia temui.

~~~

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED