Bab 2

Seperti perpisahan, pertemuan juga sebuah misteri yang membuat kompasmu bergerak untuk menuntunmu menyusuri jalan hidup penuh kejutan dari Sang Maha Kuasa.

[Abella Rasheika Valerian — Känsla: Rasa]

Bermaksud untuk memulihkan duka dan lukanya seorang diri setelah kepergian mendadak dari sang cinta pertama, membuat Abella Rasheika Valerian meneguhkan hati untuk menjelajahi tanah kelahiran mendiang ayahnya. Rasa rindu dan penyesalan membuat gadis jelita ini jatuh cinta pada birunya laut yang seolah menyatu dengan hamparan langit biru di balik keindahan Portofino, Italia.

Italia memang tempat sempurna untuk memanjakan mata, lidah, dan semua panca indra. Salah satu hal yang menjadi favorit adalah perairannya, rasanya sangat menyenangkan saat bisa bebas menikmati segarnya angin laut ditemani sinar matahari hangat sambil berlayar seperti yang dilakukan Abella saat ini. Tak ada stres karena macet atau pun polusi sebab kapal pesiar berbagai jenis dan ukuran tak perlu berdesakan di atas permukaan air laut. Well, kecuali saat kapal-kapal pesiar itu mencari tempat untuk berlabuh ketika para penumpang atau pengendaranya memiliki keperluan di daratan.

Baru dua puluh menit berlalu semenjak Bella mematikan mesin cabin cruiser miliknya di tempat rahasia yang baru tiga minggu ini dia temukan. Tempat paling cocok untuk bisa menenangkan diri sambil berjemur, mencari solusi, sekaligus membaca, termasuk sesekali membayangkan sosok pria idamannya yang wajahnya selalu saja berubah-ubah sesuai suasana hati dan kehaluannya. Ada satu hal lagi yang lebih Bella sukai dari tempat ini, cukup privasi karena berada dalam titik buta sehingga tidak mudah terlihat oleh orang-orang yang hilir mudik sekedar untuk mengunjungi Portofino atau mereka memang bermukim di sekitar kawasan ini.

Saat ia mulai larut dengan konflik novel di tangannya yang bercerita tentang kehidupan para editor, tiba-tiba ia mendengar suara sedikit kencang dari kejauhan.

Jebyur!!

“Astaghfirullah, suaranya kenceng banget? Apaan tuh tadi?” Jantung Bella berdegup kencang, ia terperanjat oleh suara kencang dari sesuatu yang menghantam permukaan air. Bahkan tablet di tangannya nyaris terlempar ke air asin di bawah cabin cruiser miliknya karena dia sedang menikmati semilir angin sambil berbaring di casting geladak kapal bagian depan perahu canggihnya.

Dengan perasaan waswas ia beranjak melintasi geladak kapal menuju area kokpit untuk memakai outer pantai warna putihnya, sekaligus menyimpan kembali tablet canggih kesayangannya di antara panel kokpit, lalu segera mengemudikan cabin cruiser barunya untuk mencari sumber suara mencurigakan beberapa saat lalu.

Baru saja bagian bow depan dari cabin cruiser milik Bella keluar dari titik buta, dia melihat ada kapal lain dengan jenis berbeda yang biasanya dikenal sebagai mobil sport-nya lautan melewatinya dengan cepat, melesat ke perairan lepas dan meninggalkan jejak buih.

Bella sempat terperanjat, ia semakin yakin jika ada sesuatu yang tidak beres. Dia mulai mempercepat laju perahunya untuk menelusuri jejak high performance boats yang sudah jauh melesat pergi entah ke mana. Bella fokus mengedarkan pandangan, tapi tidak ada tanda-tanda sesuatu yang mengapung di sekitarnya. Dia memeriksa monitor di dekat kemudinya untuk melihat jika ada benda mencurigakan yang tertangkap sensor canggih sistem perahunya, sampai dia melihat sebuah notifikasi jika ada sesuatu yang sedang bergerak secara mencurigakan di dekat perahunya. Tentu saja itu bukan ikan-ikan lucu yang biasa menemaninya.

Bella memperjelas fokus sistem pengintainya dan sontak terperanjat saat mengetahui ada sosok manusia sedang berusaha mencapai permukaan, tapi semakin lama gerakan manusia di bawah sana semakin melambat. Bella pun bergegas mengaktifkan smart security system perahunya lalu segera terjun ke hangatnya air Portofino. Ia menyelam secepat mungkin sebelum sosok itu semakin terseret arus laut.

Tangan panjangnya berusaha menjangkau bagian tubuh mana pun sebelum sosok di bawahnya tenggelam kian jauh, sampai jari lentiknya berhasil meraih tangan yang sempat terulur untuk menggapai apa pun yang mengapung di sekitar tubuh pria itu. Ya, sosok yang sedang berusaha Bella selamatkan adalah seorang pria.

Dengan susah payah akhirnya Bella berhasil menjangkau swim platform di bagian belakang perahunya. Melihat pria yang kini terbaring di depannya sudah tak sadarkan diri, ia segera memberi napas bantuan sebelum membawa pria itu ke daratan untuk mencari bantuan lebih lanjut jika ia merasakan tanda-tanda vital pria di depannya sangat mengkhawatirkan nantinya. Bella berusaha keras untuk mengendalikan rasa paniknya, tubuhnya mulai gemetar saat harus menghadapi seseorang yang sedang berada di antara hidup dan mati seperti sekarang.

Tanpa Bella sadari air matanya mulai menetes karena sepertinya ia gagal menolong pria di depannya, tapi Bella menolak untuk menyerah. Bagaimanapun ia harus bisa menyadarkan pria di depannya. Dengan sisa kesadaran yang ia miliki, Bella sempat melihat pria asing itu mulai bergerak kecil lalu terbatuk. Akhirnya Bella bisa tersenyum sekilas sebelum kesadarannya sepenuhnya menghilang.

Pria itu baru saja mengeluarkan paksa semua cairan yang menyumbat saluran pernapasannya saat dalam keadaan setengah sadar ia melihat tubuh wanita sedang tergeletak tak sadarkan diri di sampingnya. Dia memeriksa sekilas apakah masih ada tanda-tanda kehidupan dari wanita yang ia yakini sebagai malaikat penyelamatnya. Ia lega saat melihat wanita cantik itu masih bernapas, tapi dia juga tak memiliki sisa tenaga lebih untuk menyadarkan wanita yang beberapa saat lalu membuatnya berhutang nyawa.

Keduanya masih berada di posisi yang sama hingga dinginnya angin laut menyadarkan kedua manusia berbeda jenis kelamin yang sejak tadi berada dalam keadaan tak sadarkan diri. Bella menggeliat pelan saat ia hampir terlonjak dari tempatnya ketika melihat tubuh besar sedang menggigil dan tergeletak tepat di sampingnya.

Bella seketika tersadar jika itu adalah tubuh pria yang sudah ia selamatkan tadi siang. Netranya melihat ke sekeliling dalam keadaan sadar sepenuhnya, sepertinya ada yang aneh dengan keadaan di sekitarnya. Benar saja! Sekarang langit sudah mulai berubah gelap. Sudah berapa lama mereka pingsan? Two-piece yang ia pakai terasa sangat lengket di badan, apalagi pakaian pria di depannya ini. Bella mencoba menyadarkan pria asing dengan badan gemetaran di depannya. Pasti pria ini terserang demam akibat kejadian tadi siang, “Hey, Signor. Apa kau bisa bangun? Kita harus segera masuk ke kabin sebelum angin laut membuat kita semakin demam,” lirih Bella dalam bahasa Itali sambil bergerak perlahan untuk meraih pintu kabin di dekatnya.

Pria itu kembali membuka matanya untuk merespon ucapan Bella. Mereka berdua tertatih masuk ke kabin perahu. Bella tahu dia harus bergerak cepat sebelum mereka terserang hipotermia. Dia menyuruh pria asing itu untuk membersihkan diri lebih dulu dari sisa garam yang masih menempel di permukaan kulitnya. Lagi pula Bella yakin jika pria itu sedang terkena demam. Jadi, membasuh badan dengan air hangat adalah solusi paling cepat untuk menormalkan suhu tubuhnya seperti yang pernah diajarkan Hwanhee pada mereka dulu saat berada di Oxford. Pria itu menuruti ucapan Bella untuk segera pergi ke toilet meskipun gerakannya terlihat sangat lambat.

Bella meraih perangkat yang biasa ia gunakan untuk mengatur sistem kapalnya untuk memastikan tidak ada angin yang bisa menerobos masuk ke dalam kabin. Ia mengatur suhu di dalam kabin sebelum beranjak membuat sup krim dan segelas cokelat panas untuk mengembalikan tenaga keduanya.

Setidaknya mereka harus memulihkan tenaga sebelum pergi ke klinik sebentar lagi jika obat demam dirasa tak cukup sebagai penolong pertama. Mereka sedang berada terlalu jauh dari daratan, jelas perlu waktu untuk mendapatkan pertolongan medis yang dibutuhkan apalagi hari sudah semakin gelap. Mereka harus ke pusat kota jika klinik di pelabuhan sudah tutup saat mereka tiba. Untung saja Nonno selalu mengingatkan dia dan saudari-saudarinya untuk memeriksa perbekalan, termasuk kotak P3K di perahu para cucu perempuan yang paling suka bepergian. Jelas yang mereka maksud adalah Bella, walaupun anggota keluarganya tahu jika gadis ini lebih suka singgah ke sebuah kafe atau restoran untuk mengisi tenaganya sekaligus mencari referensi agar bisa memperbarui daftar menu restoran bintang michelin milik keluarga mereka. Alasannya sih agar bisa mengunjungi tempat-tempat cantik di sekitar perairan Italia. Nonna tersayangnya juga selalu mengingatkan untuk membawa beberapa pakaian cadangan kalau tiba-tiba ia harus berada di perairan lebih lama dari perkiraannya, seperti keadaan tak terduga saat ini contohnya. Memang benar kata orang, percayalah pada nasehat orang tua karena mereka pasti lebih berpengalaman.

Sepertinya pria asing yang baru saja dia selamatkan memang sedang beruntung karena saat Bella memeriksa kotak khusus penyimpan pakaian ia malah menemukan kaos milik Nonno yang sempat dia beli saat singgah di Genoa pekan lalu. Bella tersenyum kecil, sebenarnya itu adalah pakaian yang ia siapkan khusus untuk kejutan kakek dan nenek tersayangnya. Dia ingin mengajak orang tua dari mendiang ayahnya mengunjungi tempat kelahiran sang Nenek di Monaco menggunakan perahu berjenis cabin cruiser yang baru ia pesan secara khusus. Perahu prototype yang sedang ia kendarai ini baru saja selesai dibuat dan sekarang sedang dalam masa uji coba atas inisiatifnya sendiri, sebab Bella berencana untuk mengisinya dengan beberapa barang yang akan mereka butuhkan sebagai acara kejutan spesial sebelum hari ulang tahun pernikahan kakek dan neneknya sekitar seminggu lagi.

Saat ia baru saja menghabiskan segelas cokelat hangat sambil menuangkan sup krim ke dalam mangkuk, ia menatap pria yang dari tadi terus mengamati gerak-geriknya sejak keluar dari toilet. Pria itu tampak canggung ketika beberapa kali Bella mencuri pandang ke arahnya. Mungkin karena kini pria itu hanya mengenakan selembar bathrobe untuk menutupi tubuhnya, “Ah, aku lupa bertanya. Kau bisa memahami bahasa Inggris juga selain bahasa Italia, ‘kan? Dilihat dari wajahmu sepertinya kau bukan asli penduduk setempat,” tanya Bella dalam bahasa inggris.

“Aku juga bisa bahasa lain selain yang kau sebutkan tadi, Miss. Apa kau tak melihat ciri tubuhku yang sangat Asia ini?” kata pria asing itu menunjuk iris cokelat gelapnya sambil tersenyum saat menjawab pertanyaan Bella dengan bahasa yang sama.

Bella mengamati sekilas wajah pria blasteran di depannya. “Asia Tenggara?!” tebak Bella sambil menatap lekat sekaligus tersenyum simpul.

“Indonesia,” sambung pria asing di depannya.

Pupil Bella membesar, ia tersenyum semakin lebar, “Seriusan?! Oh, baguslah. Kau bisa pakai pakaian di atas sofa itu buat ganti. Tenang aja itu pakaian baru kok. Terus jangan lupa isi perutmu dengan sup dan cokelat panas ini, dan maaf aku tadi makan duluan sebelum pingsan lagi karena kehabisan tenaga,” ungkap Bella sambil menyeringai polos.

Pria asing di depan Bella mengangguk sambil mengulum senyum, lalu ia bergegas kembali ke toilet untuk mengganti pakaiannya. Sebenarnya Bella merasa sudah gatal seluruh tubuh karena rasa lengket dari sisa garam dan uap masakan yang saling menyapa di permukaan kulitnya, tapi lagi-lagi dia harus bertahan di balik outer tipisnya sebagai seorang tuan rumah yang ramah, khas Indonesia sekali, ‘kan? Semoga saja dia tak menderita eksim seperti apa yang selalu diocehkan Lee Hwanhee Oppa-nya, si Dokter Tampan itu selalu saja tak pernah lelah untuk menceramahi semua saudaranya jika itu menyangkut soal kesehatan seolah dia adalah kamus kesehatan berjalan.

Bab 3

Semudah ini aku membuka hati saat seseorang yang tak pernah kuduga akhirnya benar-benar datang. Seperti doa yang tanpa sadar pernah kupanjatkan. Mungkin, kala itu aku berdoa dengan sangat khusyuk atau memang ini sudah saatnya? Seumpama ini adalah sebuah jawaban manis, buah dari kepasrahanku selama ini? Entahlah, yang jelas jika Sang Pencipta sudah berkehendak maka apa yang mustahil akan menjadi mungkin dalam sekedip mata.

[Abella Rasheika Valerian, Evano Hardinata Cokroatmojo — Känsla: Rasa]

Seolah menyadari jika tadi Bella sudah tak nyaman dengan rasa lengket di tubuhnya, si pria blasteran bergegas keluar setelah mengganti bathrobenya dengan kaos oblong katun berwarna putih dan celana linen selutut berwarna khaki. Bella sempat dibuat tak berkedip selama beberapa detik sebelum dia berdehem lalu mengatakan jika ia akan bergegas mandi sementara si pria blasteran menghabiskan hidangan darurat yang sudah Bella masak sebelum minum obat demam.

Bella langsung mengunci pintu toilet sebelum bersandar sambil memegangi kedua pipinya, pantulan wajahnya di cermin wastafel menunjukkan jika wajah Bella semakin merona, “Astaghfirullah, itu kaosnya Nonno kok jadi slim fit gitu di badan dia? Ya, emang sih itu kaos harusnya buat daleman kemeja soalnya tadi dia ngeluh badannya panas karena demam, tapi gue yakin ukuran badan Nonno gak secungkring itu buat ukuran orang Eropa deh. Emangnya dia keturunan Indonesia blasteran apa sih? Surga kali, ya? Kayaknya iya deh. Astaghfirullah! Gak bener nih otak gue, kudu buru-buru keramas biar gak bablas mikirin yang ehem-ehem!” racau Bella sambil membebaskan diri dari outer sekaligus two piece bikininya. Hidung mancung Bella tak sengaja mengendus aroma dari bathrobe putih yang masih menggantung di dekat keranjang kedap air saat dia memasukkan pakaian kotornya, “Astaga! Dia pakai sampo spesial gue juga? Berarti tadi dia mandi dong, bukan cuma seka badan doang?! Ah, bodo amat! Gak mungkin juga gue sampai bikin perhitungan cuman soal sampo doang, yang penting buruan mandi karena gue gak mau ketularan sakit. Jangan sampai gue masuk angin soalnya di Itali gak ada yang jual jamu anti masuk angin.”

Bella langsung meraih sampo berbahan dan aroma khusus yang bisa digunakan sebagai sampo dan sabun sekaligus, lalu mulai mencuci rambut ikal brunette miliknya yang diwariskan dari sang ayahanda. Sebenarnya dia sudah memisahkan botol berbentuk unik di tangannya dari deretan sabun dan sampo cair yang ada di atas meja wastafel, sebab benda yang satu ini baru saja dikirimkan oleh sang sahabat rasa saudara Farahdiba Lanaya Aryasatya yang sedang berkolaborasi dengan salah satu sahabat baru mereka Phoebe Amaya Levanchois, istri dari multimilioner idaman para wanita.

Tak berselang lama Abella sudah keluar berbalut jubah mandi warna zamrud favoritnya dengan handuk kecil yang membungkus rambut ikalnya. Sebenarnya dia tak berencana menggunakannya, hanya saja si Pria Blasteran Surga sudah lebih dulu menggunakan jubah mandi warna putih yang memang tersedia di tumpukkan rak handuk. Bella mengernyit saat melihat pria yang ditolongnya duduk sambil menunduk. Dia berjalan pelan, ‘Masa sih dia ketiduran sambil duduk? Kesian amat kalau sampai dia pegel linu. Di sini juga gak bakalan ada yang jual jamu pegel linu,’ pikir Bella yang tanpa sadar sudah duduk di samping si Pria Blasteran Surga.

“Eh, udah selesai mandi?” tegur si Pria Blasteran Surga dengan senyum menawannya saat menyadari ada seseorang yang sedang duduk di sampingnya.

Abella mengerjap beberapa kali sambil mengangguk dengan bibir kelu, ‘Rasanya kayak dialog pengantin baru aja kalau dia yang ngomong pakai ekspresi begini. Haduh, Rasheika! Lo bisa gak sih jangan senorak ini? Hati lo boleh aja udah gak berpenghuni lama, tapi jangan jadi jablay juga. Ih amit-amit, lo bisa diketawain semua sodara-soadara lo kalau mereka tahu!’ pekik Bella panik sendiri dalam hati.

“Ehem, kok belum dihabisin supnya? Ntar keburu dingin lho,” ujar Bella mencoba mengawali topik pembicaraan.

Si Pria Blasteran Surga mengulum senyum dengan sorot mata lekat memandangi wajah jelita Bella, “Kita belum kenalan dengan benar. Aku Ev- ehem, Hardinata. Panggil aja Hardin.”

“Oh, iya. Aku Abella, panggil aja Bella. Jadi, kenapa masakanku gak dihabisin? Gak sesuai sama lidah kamu, ya? Eh, ngomong-ngomong gak masalah kan kalau aku ngomongnya informal gini sama kamu?” tanya Bella sedikit ragu. Tentu saja dia tak ingin dianggap sok kenal, sok dekat.

“No problem, begini malah lebih bagus. Malah aku seneng banget kalau malaikat penyelamatku gak menganggapku orang asing. Makasih ya, Belle. Udah nyelametin aku. Terus kalau soal masakanmu, aku yakin rasanya pasti enak seandainya aja lidahku bisa ngerasain cita rasa gurihnya. Dari aromanya aja aku pasti bakal rela makan ini doang seumur hidupku,” ujar Hardin dengan suara baritonnya yang terdengar santun di telinga Bella di akhiri tawa manisnya juga. Gaya bicara Hardin yang lembut, cara Hardin memberinya panggilan, mengucapkan terima kasih dengan sorot mata hangatnya, sampai suara tawa renyahnya. Semuanya mengalun lembut dan masuk dengan sopan ke telinga Bella.

“Bisa aja kamu, Hardin. Ntar yang ada aku dianggap nyiksa anak orang kalau ngasih makan pakai menu yang sama seumur hidup. Jangan sampai kalimatmu barusan bikin pelanggan restoranku pada kabur, ya!” dengus Bella tak sadar setengah merajuk karena merasa diremehkan.

“Wow, kamu chef? Punya restoran di Portofino juga?”

“Emm, belum sih. One day aku pasti bakal bikin resto di sini. Buat sekarang, aku lebih suka menikmati suasananya yang hangat sambil rebahan. Oh iya, tadi kenapa kamu tiba-tiba terjun bebas menjelang siang gitu? Kekurangan air bersih di kapalmu apa gimana?” pancing Bella sambil mengusap rambutnya dari tetesan air menggunakan handuk kecil yang tadi membungkus mahkota indahnya.

“Well, sebenernya itu salah satu trik kotor di dunia bisnis sih. Terlalu panjang dan membosankan kalau kita bicarakan soal itu. Ntar kamu bisa ketiduran di sofa ini lagi, mana tega aku lihat malaikat penyelamatku meringkuk di sofa sepanjang malam. Kalau masuk angin yang ada aku jadi susah nyariin obatnya,” canda Hardin lagi sambil menggaruk pipi kanannya yang tak gatal dengan ujung telunjuk, sebab ini pertama kalinya dia sangat lancar melontarkan lelucon di depan lawan jenis tanpa ia sadari sebelumnya.

Ekspresi terkejut Bella saat mendengar Hardin sudah dicelakai mendadak menjadi ekspresi terkejut karena tak percaya dengan kalimat candaan Hardin. Seolah Hardin menganggap Bella tak akan paham tentang dunia bisnis yang sebenarnya bukan hal asing pula untuknya, “Ish! Aku gak nyangka ternyata kamu bisa juga ngeselin di balik ekspresi sepolos ini. Kalau gitu kamu aja yang tidur di sofa ini sepanjang malam selama aku ngasih kamu tumpangan sampai kita tiba dengan selamat di pelabuhan besok!” sungut Bella lalu beranjak masuk ke toilet untuk mengeringkan handuk kecil yang sudah menyerap semua air dari rarmbut ikal sepunggungnya. Ia segera menyalakan sistem penghangat di toilet agar ruangan kecil itu tak lembap dan semua kain setengah basah yang menggantung di dalamnya bisa segera kering, “Huft! Bisa-bisanya dia nyepelein gue kayak gue gak bakalan paham sama urusan bisnis aja. Meskipun cara bicaranya gak sengeselin beberapa sepupu cowok gue, tapi tetep aja mindset menyepelekan peran wanita itu harusnya dibabat habis. Dikira cuman para pria aja yang bisa nyebur di dunia bisnis yang kejam?!” omel Bella tanpa sadar di depan cermin wastafel, seolah benda mati di depannya bisa merespon segala ucapan dan rasa kesalnya. Cukup lama Bella memuntahkan uneg-unegnya tentang kesetaraan gender dan hal-hal berbau feminisme sampai ia sontak terdiam, “Astaghfirullah, gue ngapain marah-marah gak jelas sendirian di sini?! Percuma juga ngoceh sendiri, bagus dari tadi gue lurusin aja sama dia biar pikirannya terbuka. Tuh, ‘kan! Dia bikin gue lupa buat ganti baju. Salah dia nih yang nyolek-nyolek macan tidur, tapi dia ‘kan juga belum tahu kalau gue gak cuman koki biasa? Ah, kenapa gue jadi kepengen membuktikan diri dan membuka identitas gue segampang ini di depan dia sih? Dia gak seistimewa itu sampai bisa bikin kamu baper, Rasheika! Inget, jangan mudah berempati sama orang asing lagi! Belajar dong dari pengalaman semua saudarimu!”

Setelah mengatur emosinya, Bella memutuskan untuk keluar dari toilet dan mengambil baju gantinya yang tertinggal. Rencananya dia akan pasang mode cool saja sampai si Blasteran Surga dia turunkan di pelabuhan besok pagi. Sekarang lebih baik dia memulihkan tenaga dan rasa syoknya karena tadi sempat pingsan. Ah, benar juga! Dia jadi mengeluarkan sisi empati berlebihan karena sempat melihat nyawa Hardin nyaris tak terselamatkan di depan matanya. Rupanya rasa traumanya masih belum hilang juga setelah melihat keadaan yang mirip dengan sang ayah waktu lalu.

Bella keluar toilet dengan sikap acuh, dia berjalan melewati Hardin tanpa bermaksud melihatnya. Jangankan melihat, berniat meliriknya pun tidak ada lagi dalam benak Bella yang sedang kesal. Saat ia hampir menjangkau area penyimpanan, entah mengapa dia mulai merasa curiga. Hardin tak menunjukkan reaksi apa pun, bahkan dia terlihat meringkuk di sofa yang menjadi terlalu kecil untuk ukuran tubuhnya. Awalnya Bella mengira Hardin sudah tertidur, tapi gerakan dari pundak Hardin mengisyaratkan jika pria bertubuh tinggi besar itu sedang tak baik-baik saja. Melupakan niatan untuk mengambil baju gantinya, Bella pun setengah berlari menghampiri si Blasteran Surga, “Hey, Hardin. Kau kenapa lagi? Kok bisa kamu semakin menggigil gini sih?!” tanya Bella panik saat menyadari tubuh pria yang beberapa jam lalu baru dia selamatkan dari laut sedang menggigil kedinginan. Dia mencoba memeriksa suhu tubuh pria yang kini giginya bergemelatuk.

Saat Bella menyentuh dahi pria di depannya, suhu tubuh Hardin sangat dingin. Padahal dia ingat sudah menyalakan sistem penghangat di dalam kabinnya. Apa pemanas ruangannya bermasalah, tapi tadi di toilet masih terasa hangat? Sepertinya Hardin bukan terserang demam, tapi justru hipotermia. Ya ampun! Dugaan mereka berdua ternyata salah. Bella menarik tangannya dan hendak beranjak mengambil termometer untuk memastikan kondisi tubuh Hardin, tapi tangan Hardin menahan pergerakannya, “Ja-ngan per-gi,” ucap Hardin terbata. Suara serak dengan gigi bergemelatuk yang semakin terdengar kencang membuat Bella tidak tega membiarkan Hardin tetap meringkuk di atas sofa, ia berinisiatif mengajak Hardin untuk pindah ke ranjang agar Bella bisa membungkus tubuh Hardin dengan quilt tebal yang ada di atas ranjang.

Dengan sebelah tangan Bella membentangkan quilt warna light grey untuk menutupi tubuh tegap Hardin, “Iya, oke. Aku gak akan ke mana-mana, sekarang tidurlah.” Bella menggosok-gosok lengan pria yang sekarang sedang menggenggam erat tangan kanannya. Jika ia lebih tanggap untuk memeriksa suhu tubuh Hardin sejak tadi, pasti dia tidak akan memberinya kaos setipis ini dan celana pendek itu juga. Dia pasti akan memastikan Hardin menghabiskan sup dan cokelat panas yang sekarang pasti sudah menjadi dingin di atas meja.

Saat Bella mencondongkan tubuhnya untuk membetulkan letak ujung quilt yang tertekuk, pria bernama Evano Hardinata ini menggeliat pelan hingga tubuh bagian atas mereka menempel. Kepala Hardin terus menyelusup di ceruk leher Bella, dahinya menggesek pelan seakan mencari sumber panas di sekitarnya.

Duh! Bella bingung antara mengganti jubah mandinya sekarang juga sebelum dia ikut terkena hipotermia atau merelakan suhu tubuh alaminya menyelamatkan pria yang ada di depannya? Oh, benar! Suhu tubuh alami. Dia mengingat perkataan Hwanhee tentang pertolongan pertama dalam kondisi darurat. Dokter Patologi Klinis itu selalu tak lupa memberikan mereka kuliah singkat yang bisa membantu pasien mendapatkan pertolongan pertama sebelum bantuan medis datang.

Tangan Bella menyelusup di balik kaos Hardin agar kehangatan dari telapak tangannya bisa langsung terserap oleh kulit punggung Hardin. Memastikan agar Hardin tidak sampai kehilangan kesadaran sekaligus menjaga agar organ vitalnya tetap aman, ‘Ya Allah, ampuni hamba. Ini murni demi kemanusiaan, bukan mengambil kesempatan. Lindungi kami berdua dari gangguan buruk dan selamatkan pria ini, Ya Allah.’ Bella memanjatkan doa, dia benar-benar ketakutan saat ini. Dia tidak siap mental jika harus melihat seseorang berada di antara hidup dan mati berulang kali dalam sehari. Kepala Bella semakin pusing, bayangan dari kejadian-kejadian menakutkan yang pernah dan baru saja terjadi terulang kembali di pelupuk matanya.

“Nggak, nggak. Dia bakalan baik-baik aja, Sheika! Dia pasti akan selamat. Sebentar lagi suhu tubuhnya pasti akan kembali normal dan kamu bisa bawa kapal ini ke pelabuhan secepatnya. Pasti bisa!” Bella memeluk tubuh pria yang kembali bergerak kecil, berusaha semakin mendekat ke arahnya. Mereka berbaring di bawah selimut tebal dengan tangan Bella yang terus menggosok punggung Hardin sambil merapalkan doa untuk membuang semua pikiran buruk termasuk ketakutannya.

Sementara Hardin berusaha menggosokkan jemari kakinya di punggung kaki hangat milik Bella. Pria itu menggeliat pelan hingga membuat tubuh mereka semakin menempel. Sampai tanpa sadar ....

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED