***
Ivander melepaskan tangan Nada dengan kasar, bahkan wanita itu sampai memohon dan terus memeluk dirinya. Hati Ivander terasa panas, telinganya tidak ingin mendengar setiap kata yang keluar dari mulut kotor Nada.
"Lepas," tekan Ivander mendorong Nada sampai jatuh tapi wanita itu kini memeluk kakinya.
"Maafkan aku, Ivan."
Ivander semakin naik pitam dan menarik lengan Nada, cengkeraman lelaki itu begitu kuat dan tentunya meninggalkan bekas merah di kulit mulus Nada.
Tatapankebencian tidak pernah luntur dari sorot mata Ivander, tangis wanita berambut panjang berantakan ini tidak mengurangi hasrat benci itu.
"Tutup mulut kotormu!" hardik Ivander sangat kental penuh penekanan. "Bukankah ini yang kamu inginkan? Menjebakku? Jadi, jangan berlagak minta maaf dan bersembunyi di balik wajah busukmu."
Nada menggigit bibirnya guna menahan tangis, dia harus menguatkan diri untuk menghadapi ini semua. Kebencian lelaki di hadapannya tak pernah lekang oleh waktu, sorot mata menjijikkan bahkan makin menguat.
"Puas kamu menghancurkan hidupku untuk kedua kalinya, haa?" teriak Ivander dengan sarkas. "Apa masih belum cukup untukmu melihat hidup damaiku saat ini? Apa perlu aku akhiri hidupku supaya kamu makin puas?"
Nada menggeleng kuat, air matanya
mengalir deras mendengar penuturan Ivander. Tangisnya makin menggila tak kala
menatap sorot mata penuh derita dari lelaki tampan itu, guratan kesedihan sangat terpancar jelas di sana.
Nada telah bersalah karena menggores luka mendalam pada hati Ivander, luka itu terlihat jelas menganga dan tak terisi oleh apa pun. Kosong dan tak berarti, hampa dan gelap.
"A-aku hanya ingin bersamamu, menebus ....,"
"Diam, jangan katakan apa pun." Ivander berseru dengan keras.
Ivander makin kuat mencengkeram lengan Nada. "Dengar! Apa pun yang sedang kamu rencanakan. Sampai kapan pun jangan bermimpi bisa memiliki hatiku!"
Perkataan Ivander seketika membuatnya tertampar, lelaki itu menghempaskan tubuh Nada dengan kasar.
Seketika tubuh Nada terjatuh, tangis makin menguat, luapan kesedihan bergejolak, rasa bersalah kian menjadi.
Rasa sesak kembali hinggap dalam dada, pasokan oksigen seolah menipis hingga titik dasar, membuat rasa bersalah itu menguasai jiwanya.
Bertahun-tahun lamanya rasa itu ada dan kini luapan kesedihan itu tak terbendung lagi, Nada menatap nanar punggung lelaki yang teramat ia cintai menghilang.
Meskipun dengan cara yang salah, apakah tidak ada kesempatan kedua bagi Nada untuk menebus semua dosanya?
Bukankah setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua dalam hidupnya meskipun hanya sekali?
Hidup dalam pelarian tidaklah mudah, dikejar-kejar rasa bersalah yang tak pernah berujung membuat hidup Nada berada dalam ketakutan dan kegelisahan setiap waktu.
Kini ia telah kembali dan ingin
mempertanggungjawabkan hal itu, meskipun dengan cara yang salah setidaknya Nada berani menghadapi Ivander. Terkadang sebuah kesalahan memang harus dihadapi, bukan malah melarikan diri.
***
Ivander tetap diam dan duduk dengan santai, Nada yang berada di sebelah lelaki itu hanya diam seolah merasa oknum yang paling dirugikan. Keduanya kini berada di restoran hotel, tempat kedua Papa mereka menunggu.
"Jadi, sudah sejauh itu hubungan kalian?" Jovin menatap tajam putra semata wayangnya dengan tajam.
Ivander sendiri tidak terintimidasi oleh tatapan Jovin yang tajamnya mengalahkan belati. "Kami tidak memiliki hubungan apa pun," ujar Ivander menatap Jovin dan juga
Jordan.
"Lalu apa yang kamu lakukan dengan Nada atas dasar apa?" tanya Jordan tidak terima dengan perkataan Ivander yang seolah ingin lepas tanggung jawab.
"Om bisa tanya pada Nada, apa yang dia lakukan padaku? Menjebak dan ingin dinikahi." Ivander menyindir Nada.
"Nada?!" Jovin menatap wanita cantik yang sejak tadi diam.
"Iya, Om," balas Nada menatap keduanya silih berganti.
"Apa yang terjadi semalam?" tanya Jovin dengan serius.
Nada meremas tangannya sendiri, rencana ini sudah berjalan dan Nada tidak dapat mundur lagi. Semoga setelah ini dia bisa bersama Ivander dan menebus semua dosanya.
"Kami tidur bersama atas dasar suka sama suka," ucap Nada dengan tegas. "Kami menikmati hubungan ini dan berencana memberitahu, tapi kalian lebih dulu mengetahui ini semua. Maaf."
Ivander menoleh dan menatap Nada
dengan tajam, sungguh wanita yang keras kepala dan tidak tahu diri. Ivander hanya bisa termenung kehabisan akal dengan ucapan Nada, wanita ini sungguh
sangat-sangat pandai bersandiwara.
"Kamu tidak dapat mengelak lagi, saya minta kamu menikahi Nada!" Jordan langsung memutus hal itu.
Ivander menatap Jovin guna mendapatkan bantuan untuk menyelesaikan masalah ini. Namun, yang didapatkan lelaki itu hanyalah tatapan tajam yang seolah Ivander memang melakukan hal itu pada Nada.
"Jika kamu lelaki, maka bertanggungjawablah dengan perbuatan kamu," tegas Jovin tidak terbantahkan.
"Tapi aku dijebak dia, Pa. Aku tidak bersalah." Ivander terus mencoba membantah hal itu, dia begitu kesal karena tersudut seperti ini.
"Kamu menuduh anakku," geram Jordan tidak terima dengan tuduhan dari Ivander. "Yang rugi di sini adalah anakku, dia kehilangan kehormatan yang telah kamu renggut."
"Tapi ..." Ivander ingin membalas perkataan Jordan.
Jovin langsung menyebut nama
putranya dengan tegas. "Ivander Mahaprana."
"Kamu akan menikah dengan Nada apa pun yang terjadi, tidak ada pengecualian," kata Jovin memperlihatkan sebuah berita online pagi ini.
Terlihat dalam berita tersebut mengulas tentang anak pengusaha Jovin Mahaprana dan Jordan Ravindra bermalam di
sebuah hotel, keduanya terlihat sempoyongan karena mungkin sedang mabuk.
Di sana juga ada beberapa gambar yang memperlihatkan mereka masuk hotel, beberapa staf hotel juga memberikan
konfirmasi kalau Ivander memesan kamar untuk mereka berdua semalam.
"Kurang bukti apa lagi? Kalian ingin mencemarkan nama baik keluarga?!" Jovin menatap keduanya.
"Menikah adalah satu-satunya cara kalian menyelesaikan masalah ini," tambah Jordan semakin menyudutkan posisi mereka.
Ivander sampai membuka mulutnya karena tercengang dengan ide gila yang mereka putuskan dengan mudah.
Menikah!
Dengan Nada?
Tidak akan mungkin Tuhan sampai menghukumnya seperti ini, apa selama ini penyesalan yang Ivander terima belum
sepadan? Apa menikah dengan Nada adalah hukuman terpantas yang dia terima?
Ingin rasanya Ivander berteriak karena tidak ada yang membela dia dalam keadaan seperti ini, Jovin memang mengandalkan fakta dan benar kalau Ivander telah tidur dengan Nada semalam.
Hanya saja mereka tidak tahu kalau Nada-lah yang menjebaknya, membuat Ivander mabuk dan memberikan obat perangsang pada minumannya. Saat itulah kesempatan bagi Nada untuk menjalankan rencana yang telah ia susun, Ivander juga yakin kedatangan kedua orang tua mereka telah diatur oleh Nada.
Sempurna.
"Ingatlah! Sebagai seorang laki-laki kamu harus bertanggungjawab atas perbuatan yang kamu lakukan pada Nada. Bersikap gentle dan hadapi ini semua."
Ivander langsung tertampar dengan
perkataan Jovin, itu memang benar dan apa ini saatnya Ivander menghadapi kenyataan yang selama ini mengurung dia dalam masa lalu yang kelam?
"Kalian bicara berdua setelah ini," kata Jordan tidak henti mengumpat karena pergaulan anak sekarang sudah melebihi batas wajar.
Jordan tidak akan melarang hubungan mereka, hanya saja dia ingin lebih terbuka dan mengakui hal itu. Apa susahnya mengatakan kalau saling mencintai dan ingin menikah? Bukan dengan cara seperti ini, diam-diam dan membuat heboh.
Jovin dan Jordan memilih pergi, mereka akan memberitahu para istri tentang perihal masalah anak mereka yang terlewat batas.
Jantung Nada berdebar kencang tidak menentu, dia meremas-remas jari tangan pada bajunya. Keringat dingin mulai menetes di area pelipis dan perlahan menelan salivanya, AC restoran seakan tidak berasa sama sekali dinginnya.
"Brengsek."
Ivander menggebrak meja dan seketika membuat Nada terperanjat karena terkejut, debaran jantungnya makin menggila karena amarah Ivander sedang berada di puncaknya. Kali ini puncak amarah yang dirasa oleh Ivander, jauh berbeda dengan puncak kenikmatan yang dia rasakan semalam.
"Wanita iblis."
Ingin rasanya Ivander membunuh wanita ini, wanita cantik tapi berhati busuk. Ibarat jelmaan manusia berwujud iblis yang tidak berperasaan.
"Menurutlah, Ivan," pinta Nada dengan lembut. "Ini akan lebih mempermudah keadaan," bujuk Nada.
"Wanita gila," hardik Ivander tanpa henti menghina Nada.
"Ya, aku wanita gila!" balas Nada. "Wanita tergila yang pernah ada karena begitu menginginkan dirimu seutuhnya," ungkap Nada tulus dalam hatinya.
Ivander tertawa, entah itu menertawakan
nasib sialnya karena bertemu dengan Nada dalam keadaan seperti ini. Bertemu dengan Nada adalah sebuah musibah besar dalam hidup Ivander, tapi berbeda dengan Nada yang justru bertemu dengan Ivander adalah sebuah keberuntungan.
"Pikirkanlah, Ivan. Itu adalah solusi terbaik untuk masalah kita," ujar Nada semakin membuat emosi Ivander berkobar.
"Karena itu adalah rencana hebatmu, tentu kamu akan mencari solusi terbaik," cibir Ivander menatap Nada dengan jijik.
Ivander tidak menyangka ada manusia super seperti Nada, super dalam hal-hal berbau kelicikan.
***
Ivander membanting seluruh barang yang ada di hadapannya, ia berteriak dan memaki karena garis takdir seolah kembali mempermainkan dirinya. Bertahun-tahun lamanya Ivander menghukum diri
atas kesalahannya, hidup dalam rasa penyesalan.
Selama ini dia memang hidup, tapi hanya raga saja. Perasaan dan jiwanya hilang entah ke mana. Hidup seolah tak berarti, bagai kehilangan arah dan tujuan. Gairah diri meredup semakin gelap, tak terjangkau.
Tuhan. Engkau boleh menghukumku sesuka hati bahkan mencabut nyawaku, dengan senang hati aku akan menyerahkannya untuk-Mu. Tapi ... tapi kenapa harus Nada? Kenapa Tuhan?
Ivander tidak tahu harus berkata apa lagi, luka lama yang tak akan pernah hilang kini kian bertambah. Air mata mengalir deras membasahi pipi, tangan mengepal kuat dan gemuruh dalam dada memberontak.
"Kenapa tak Kau ambil saja nyawaku ini, kenapa?" Tangis Ivander makin tak tertahan, apa pun yang ia lakukan seolah takdir tidak pernah berpihak padanya.
Bahkan takdir seolah mempermainkan dirinya kembali, mengulang rasa sakit yang
telah membuat hidupnya lelah.
Ellie, Mama Ivander tampak terkejut dan sangat cemas dengan keadaan putranya, dia hanya mondar-mandir di depan kamar dan beberapa kali mendengar bunyi benda pecah dan dibanding.
Teriakan demi teriakan Ivander membuat Ellie semakin sedih, ada apa Ivan? Bukan hanya sekali saja Ivander melakukan hal ini, Ellie sangat tahu apa yang dirasakan putra kesayangannya itu. Hidupnya tak lagi sempurna, bagai cangkang tak berisi.
"Bi, tolong perhatikan Ivan. Beritahu saya bagaimana keadaan dia setelah ini," pinta Ellie pada Bi Sumi.
"Baik, Nyonya," balas Bi Sumi yang memang sudah mengurus Ivander sejak lahir.
"Saya pergi dulu."
Sumi ikut sedih melihat keadaanIvander, dia merasa kehilangan sosok tuan muda yang penuh senyum dan tawa.
Tentu karena sejak kecil Sumi sudah membantu mengasuh Ivander ketika Ellie
sibuk dengan pekerjaannya, Ivander telah dia anggap seperti putranya sendiri.
"Bibi harap Aden bisa bahagia," ucap Sumi ikut bersedih.
***
Ivander terlihat begitu tampan bak dewa-dewa Yunani, menjulang tinggi dengan dada bidang yang menggoda.
Tatapan tajam bagai elang, hidung mancung dan bibir sensual membuat dirinya semakin membuat kaum hawa tak berdaya melihatnya.
Setelan berwarna putih membalut tubuh indahnya, raut wajah datar tak mengurangi ketampanan ia dalam hal ini. Bahkan senyum pun tak terukir indah di bibir itu, seolah hidup semakin tak berarti lagi untuknya.
"Ivan," panggil Ellie sebelum acara dimulai.
"Iya, Ma," jawabnya.
"Kamu yakin dengan pernikahan ini?!" Ellie sedih menatap wajah Ivander yang memang jauh dari ekspresi bahagia.
Ivander memang hanya diam tak berekspresi, banyak hal yang telah dia pendam. Cukup dia saja yang mengalami ini
semua, orang lain tidak perlu tahu.
"Aku sudah lelah dan terserah dia ingin berbuat apa pun," tambah Ivander yang memang sudah lelah akan hidupnya.
Ya, hari ini adalah pernikahan Ivander dan Nada. Sebuah pernikahan yang tak diinginkan.
Degup jantung Nada semakin tidak
menentu, berkali-kali dia menghembuskan napasnya dengan kasar. Bahkan tangan
sampai berkeringat karena begitu gugup menghadapi hari pernikahannya, bukankah
ini yang ia inginkan. Menikahi seorang Ivander Mahaprana.
"Tenanglah," ucap MUA bernama Gladis yang memoles wajah Nada.
"Aku hanya terlalu gugup," jawab Nada tersenyum.
"Wajar kamu gugup karena akan menikah dengan orang yang kamu cintai," ujar Gladis tersenyum.
"Aku sungguh iri dengan kalian, saling mencintai dan aku harap kalian bisa menua bersama kelak," pesan Gladis.
Nada hanya memaksakan senyumnya, itu karena yang dikatakan Gladis adalah salah. Dirinya dan Ivander tidak saling mencintai, pernikahan mereka terpaksa dilakukan karena perbuatan Nada yang menjebak Ivander.
"Kamu cantik sekali," puji Gladis ketika menyelesaikan make up.
"Terima kasih," jawabnya.
"Semoga kalian bahagia," pinta Gladis tersenyum dan Nada mengangguk saja.
Nada mengenakan kebaya berwarna putih, senada dengan setelan yang dipakai oleh Ivander. Seseorang membimbing Nada berjalan menuju ke tempat acara berlangsung, degup jantung Nada semakin
menggila karena sebentar lagi sampai.
Pintu terbuka dan memperlihatkan Nada begitu anggun menggunakan kebaya, tanpa sengaja tatapan Nada bertemu dengan Ivander. Wanita itu tersenyum, tapi tidak dengan lelaki tampan itu.
Tatapan dingin Ivander seolah membuat senyum Nada memudar, tapi dia tetap
tersenyum ceria di hadapan semua orang.
Nada duduk di samping Ivander, sebuah kain putih menutupi keduanya. Acara ijab kabul pun dimulai.
"Saudara Ivander Mahaprana bin Jovin Mahaprana, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya Nada Cinta Ravindra binti Jordan Ravindra dengan mas kawin seperangkat alat Sholat
dan uang senilai lima puluh juta. Tunai."
Ivander yang menjabat tangan Jordan langsung membalas. "Saya terima nikah dan kawinnya Nada Cinta Ravindra dengan mas kawin tersebut dibayar, tunai."
Ivander mengucapkan ijab kabul dengan datar dan tak bersemangat, karena dia tidak menginginkan pernikahan ini. Persetan dengan semua orang yang berada di sini melihatnya seperti apa.
Penghulu menatap saksi yang tidak lain adalah Yonna-kakak Ivander dan Radit-tunangan Yonna.
"Bagaimana saksi?" tanya penghulu pada kedua saksi.
Yonna dan Radit saling pandang dan mengangguk. "Sah."
"Alhamdulillah."
Semua yang hadir mengucap syukur karena acara akad nikah berjalan dengan lancar, raut wajah Ivander masih saja sama. Datar tanpa ekspresi apa pun.
Ivander menyematkan cincin di jari manis Nada, begitu pun dengannya. Dengan gemetar Nada mengecup punggung
tangan lelaki yang kini berstatus suami, rasanya sungguh tidak percaya kini mereka sudah menikah.
Nada berusaha memberikan senyum terbaiknya pada Ivander, tapi itu tidak berlaku untuk lelaki itu. Ekspresi dan wajah datarnya masih sama, untuk apa Ivander tersenyum.
Ini bukan pernikahan yang dia impikan, bahkan pernikahan impiannya kini telah lama pudar. Tidak ada hasrat untuk menikah apalagi hasrat untuk hidup, kehidupan Ivander memang terlihat damai tapi tidak dengan hatinya.
Banyak orang memuji kalau Ivander dan Nada adalah pasangan yang serasi, tampan dan cantik. Keluarga keduanya juga masuk daftar kalangan atas yang menduduki posisi tinggi dalam setiap usaha, sungguh pernikahan bisnis yang sempurna.
***
Acara berlanjut pada resepsi di sore hari. Pesta mewah terselenggara di hotel Sheraton, banyak tamu undangan yang datang baik dari relasi bisnis Jovin maupun Jordan.
Gaun super mewah membalut tubuh indah Nada, make up soft dan juga tatanan rambut yang sederhana. Nada masih di
ruang tunggu sebelum acara di mulai, beberapa teman kuliah dan beberapa
pegawainya datang ingin melihat diri dia.
"Kamu cantik sekali, Nad," puji Sharon, sahabat Nada.
Nada tersenyum. "Terima kasih," balasnya. " Kamu datang sendiri? Mana Stefan?" tanya
Nada yang melihatnya seorang diri.
"Stefan sedang ada pekerjaan di luar kota," balas Sharon yang sebenarnya banyak pertanyaan dalam hatinya.
Nada tahu kalau Sharon ingin mempertanyakan sesuatu perihal pernikahannya dengan Ivander, pasalnya Sharon sangat tahu hal yang pernah terjadi di antara mereka.
"Kamu tidak perlu cemas, aku baik-baik saja." Nada mencoba tersenyum supaya Sharon tidak khawatir dengannya.
Sharon menggenggam erat tangan Nada, berharap bisa memberikan semangat untuknya. "Apa pun masalah kamu, aku bisa menjadi pendengar yang baik. Entah apa yang sedang kamu alami, yang jelas aku hanya ingin kamu bahagia," pesan Sharon.
"Terima kasih, kamu memang
sahabat terbaikku," balas Nada sedikit merasa terhibur.
Acara akan di mulai, Nada berjalan dan bertemu dengan Ivander yang menunggu di pintu masuk. Nada tak dapat mengalihkan pandangannya dari Ivander, sungguh lelaki itu teramat tegas nan gagah.
Tatapan dingin dan ekspresi datar tidak mengurangi kadar ketampanan lelaki itu, bahkan di saat usianya semakin matang membuat Ivander berubah menjadi sosok yang sempurna.
Pintu terbuka, keduanya berjalan menuju pelaminan. Banyak pasang mata melihat kedua pasangan yang sedang berbahagia ini, bahkan banyak yang memuji betapa beruntungnya Nada mendapatkan suami seperti Ivander.
"Apa berbahagia di atas penderitaan orang lain itu begitu memuaskan?!" Ivander mencibir Nada ketika mereka bersama di pelaminan.
Senyum yang awalnya Nada pasang dengan sempurna kini kian memudar, dia hanya ingin semua orang tahu kalau pernikahan mereka terlihat sempurna.
Apa salah jika Nada menginginkan hal itu? Menikah sekali seumur hidup dan ingin menikmati senyuman di atas pelaminan bersama orang terkasih, Ivander.