Jasper penasaran karena sepertinya Agatha mengetahui sesuatu yang tidak pernah dia ketahui. Tentang saat-saat terakhir dalam kehidupan mendiang ayahnya. Misteri terbesar Kerajaan Almekia tentang segala sesuatu mengenai mendiang Paduka Raja.
"Bibi Agatha? Bibi tahu sesuatu tentang mendiang ayahanda raja?" Jasper balik bertanya kepada Agatha. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa memperoleh informasi guna mengungkap misteri sang raja.
Agata terdiam dan tertegun tanpa menjawab pertanyaan dari Jasper.
"Bagaimana kejadiannya sampai ayahanda raja wafat, Bi?" Jasper semakin mendesak pertanyaan, menuntut jawaban dari mulut Agatha.
Lagi-lagi Agatha hanya terdiam sambil memberikan tatapan nanar kebingungan kepada Jasper.
"Tolong ceritakan kepadaku, Bi ... Kumohon jawablah pertanyaanku!" Pinta Jasper sekali lagi dengan penuh harap kepada Agatha.
Seolah baru tersadar bahwa merupakan hal yang tabu untuk membicarakan tentang mendiang Raja di hadapan Jasper, Agatha buru-buru mengubah sikapnya. Dia menarik kedua tangan dari bahu Jasper, serta mengambil jarak untuk menjauh beberapa langkah.
"Tentu, Jez ... Tentu saja Bibi tahu tentang ayahmu. Beliau adalah raja yang sangat agung. Pahlawan besar kerajaan ini." Agatha menjawab dengan nada cepat dan kegugupan yang jelas-jelas tidak dapat ditutupi.
"Bagaimana Ayahanda bisa meninggal dunia, Bi?" Jasper tak mau kalah untuk terus bertanya menyelidik.
Tanpa menjawab pertanyaan itu, Agatha membalikkan tubuhnya dari hadapan Jasper. Dan tanpa dapat dicegah lagi, beranjak pergi meninggalkan ruang makan begitu saja.
Kini tinggallah Jasper dan Saphir yang masih kebingungan, duduk berhadapan di sana. Keduanya hanya bisa saling bertukar tatapan mata, dengan berbagai pertanyaan yang berkelebat di dalam benak masing-masing.
"Apakah aku tidak berhak mengetahui tentang Ayahku sendiri, Saphir?" Jasper bertanya frustasi kepada gadis itu. Sambil menghempaskan tubuh kembali di atas kursi yang tadi dia duduki.
Saphir yang biasanya selalu saja bisa menghibur sahabatnya itu, kali ini tak sanggup memberikan jawaban, dia seperti kehilangan kata-kata. Yang bisa dia lakukan hanya meraih sebelah tangan Jasper dan menggenggamnya dengan erat. Mencoba untuk sedikit memberikan dorongan dan kehangatan kepada pria itu dengan genggaman dari tangannya sendiri.
"Terima kasih ..." Jasper mencoba tersenyum untuk menghargai tindakan yang diberikan Saphir.
Saphir menjawab dengan senyuman dan anggukan untuknya.
"Sebaiknya kita lanjutkan makan siangnya." Kemudian dia mengajak untuk melanjutkan acara makan siang yang sempat tertunda.
Jasper hanya mengangguk sebagai jawaban, berusaha keras untuk melanjutkan menikmati hidangan yang telah susah payah disajikan oleh Agata untuk mereka dengan tanpa bersemangat.
Nafsu makan Jasper telah hilang entah kemana perginya. Meskipun perutnya masih lapar, namun entah mengapa mulutnya jadi susah untuk mau menelan makanan lezat itu.
***
Suasana malam hari ini sangat cerah, membuat Jasper terpanggil untuk berdiri di balkon kamarnya, yang berada di lantai tiga istana. Langit nun jauh di sana nampak gelap dan pekat, sang rembulan hanya menampakkan sebagian kecil cahaya yang berbentuk seperti sabit. Seolah memberi kesempatan pada ribuan bintang untuk ikut memamerkan kilauan cahaya mereka.
Suasana syahdu itu mampu membuat Jasper merenungi segala hal yang telah terjadi. Meruntut segala keanehan dan kejanggalan yang telah terjadi. Dan semua hal selalu berujung kepada suatu misteri besar kerajaan. Misteri tentang mendiang paduka raja Kerajaan Almekia.
"Selamat malam, Jasper." Sebuah sapaan bernada halus dan lembut menyadarkan Jasper dari lamunannya.
Jasper mengalihkan pandangan mata ke arah datangnya suara. Dan dia mendapati seorang wanita yang sangat cantik bagaikan dewi baru turun dari langit di sana. Wanita itu tampak bersinar dengan gaun sutra berwarna putih dan selendang merah yang dia kenakan. Warna yang sangat kontras dengan latar belakang, gelapnya langit malam bertabur bintang.
Anggun dan agung adalah kesan pertama yang diberikan dari kharisma wanita itu. Sehingga mampu membuat siapapun yang melihatnya untuk menahan napas sejenak. Wanita itu adalah Nefrit, Paduka Ratu yang agung dari Almekia Kingdom.
Nefrit adalah wanita tangguh yang telah membesarkan Jasper seorang diri, tanpa sosok dan figur seorang suami. Di tengah kesibukannya sebagai seorang ratu yang memimpin kerajaan, Nefrit mampu mencurahkan segala cinta dan perhatiannya yang tak terhingga kepada putra semata wayangnya.
“Selamat malam, Ibunda Ratu.” Jasper membungkukkan badan sedikit, untuk memberikan penghormatan kepada sang ratu walau sedikit terlambat.
Nefrit tersenyum simpul sebagai sambutan penghormatan itu. Kemudian mengambil tempat berdiri tepat di sebelah Jasper, ikut memandangi langit malam di kejauhan.
"Bulan dan bintang indah berkilauan, tapi mereka juga akan mati tak berdaya tanpa secercah cahaya dari sang surya." Nefrit tiba-tiba berkata sambil menerawang jauh ke arah langit malam. Seolah sedang berkata pada dirinya sendiri, bukan kepada Jasper.
Kalimat itu terdengar sangat puitis namun sama sekali tak dapat Jasper pahami maksudnya. Dia memang sudah mendapatkan pelajaran sastra ataupun ilmu pengetahuan alam, akan tetapi tetap saja bingung untuk menafsirkan perkataan beliau. Karena setahu Jasper bintang bahkan bisa bersinar sendiri tanpa matahari. Hanya bulan yang membutuhkan cahaya dari matahari untuk bisa bersinar.
Tanpa bisa memberikan jawaban, Jasper memandangi wajah ibundanya. Wajah yang terlihat sendu dan letih dibalik paras cantiknya.
"Apa ibunda ratu bahagia?" Jasper membatin tidak tega melihat ibundanya sendiri.
Banyak pihak yang menyayangkan keputusan Nefrit yang memilih hidup menjanda. Padahal dengan segala yang terdapat pada dirinya, tidak sedikit raja atau pangeran dari berbagai kerajaan lain yang berniat meminangnya sebagai istri. Namun Nefrit selalu menolak semuanya, beliau begitu setia kepada mendiang paduka raja yang sangat misterius.
Sangat misterius sampai-sampai Jasper, putra kandungnya tidak tahu segala tentang dirinya. Bagaimana wajah, nama, dan segala sesuatu tentang beliau. Serta bagaimana kejadian yang sampai bisa membuatnya meninggal dunia.
"Kejadian besar seperti apa yang bisa menyebabkan wafatnya seorang raja dari suatu kerajaan?"
Satu hal yang Jasper tahu hanyalah bahwa mendiang ayahandanya adalah seorang raja yang agung dan sangat hebat, pahlawan kerajaan Almekia. Semua orang di negeri ini berkata begitu. Tapi sehebat apakah beliau? Apa saja yang telah beliau lakukan? Bagaimana sepak terjang semasa hidupnya? Semua masih tetap menjadi sebuah misteri besar.
"Jasper, usiamu kini sudah hampir dua puluh tahun. Sudah waktunya bagimu untuk bisa mengemban tanggung jawab. Jangan terlalu banyak bermain-main dan melakukan kegiatan yang tidak perlu." Kali ini perkataan Nefrit jelas sekali ditujukan kepada Jasper. Dengan nada bicara yang sangat halus tanpa terkesan menuduh. Bahkan lebih jauh, melemparkan sebuah senyuman penuh kasih sayang kepadanya.
Mendapati teguran bernada lemah lembut seperti itu malah membuat Jasper semakin merasa bersalah. Merasa malu kepada dirinya sendiri yang sering bertindak tidak bertanggung jawab dan suka seenaknya. Dengan sering kabur dan menghindari pelajaran-pelajaran yang telah dipersipkan untuknya.
"Ibunda rasa sudah saatnya untuk kamu mendapatkan seorang mentor. Agar bisa dengan khusus mengawasi segala aktivitas serta jalannya pendidikan kamu agar lebih terarah."
Kedua bola Jasper melebar demi mendengar ucapan ibundanya kali ini.
‘Mentor? Artinya orang yang akan membimbing, dan semua kegiatan serta perasaan pribadiku dalam kegiatan setiap hari?’
'Yang benar saja!’
"Beberapa hari yang lalu paman Kunzite sempat menawarkan dirinya untuk bisa menjadi mentormu. Bagaimana menurutmu, Jez? Apa kau setuju?" Nefrit lanjut bertanya beberapa saat kemudian, karena
Jasper tak kunjung memberikan jawaban.
‘Apa? Paman Kunzite? Benar-benar gila!’
‘Bagaimana mungkin Paman Kunzite, seorang perdana menteri kerajaan sampai mau turun tangan sendiri untuk menjadi mentorku? Kalau sudah seperti ini tentunya aku tak punya pilihan untuk dapat menolaknya bukan?’ Jasper membatin dengan semakin dilema
"Ehm maafkan ananda, Ibunda Ratu." Jasper memaksakan otak untuk berpikir lebih cepat. Agar bisa mengubah situasi yang sangat tidak menguntungkan baginya ini menjadi sedikit menguntungkan.
"Terima kasih atas perhatian Ibunda Ratu kepada ananda. Tentu tidak ada keraguan lagi atas pilihan Ibunda. Karena kecakapan perdana mentri Kunzite sudah tidak diragukan lagi, maka Ananda dengan senang hati akan menerima keputusan ini.” Jasper berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Akan tetapi ananda memiliki satu permintaan kepada Ibunda Ratu."
"Permintaan apa? Katakanlah, Jez." Nefrit bertanya dengan penasaran.
"Gear. Tolong izinkan ananda untuk bisa mendapatkan pengetahuan tentang Gear." Jasper memberanikan diri membahas tentang Gear kepada Nefrit.
Terlihat perubahan mimik yang nyata di wajah cantik Nefrit demi mendengar kata Gear yang keluar dari mulut Jasper. Mungkin apa yang dikatakan oleh Agatha benar, bahwa kematian mendiang raja ada hubungannya dengan benda itu. Mungkin hal itu yang memberikan sebuah trauma tersendiri bagi beliau.
"Perkembangan teknologi tentang Gear saat ini sudah sangat pesat. Ilmu dan wawasan tentang Gear pasti akan dapat memperdalam pengetahuan ananda serta akan sangat berguna bagi masa depan." Karena
Nefrit tak kunjung bereaksi, Jasper semakin memberikan desakan yang masuk akal.
"Gear?" Nefrit akhirnya membuka suaranya. "Mau apa kau dengan benda berbahaya itu?" Nada suara Nefrit terasa sedikit bergetar.
"Ananda hanya ingin tahu bagaimana pengoperasiannya, spesifikasi dan cara mengendalikannya. Bukan untuk berperang ataupun perusakan." Jasper mencoba beralibi lebih jauh lagi.
Nefrit kembali terdiam beberapa saat sebelum akhirnya memberikan jawaban. "Baiklah nanti akan Ibunda pertimbangkan masalah Gear ini dengan Mentormu."
"Sekarang sudah larut malam, masuklah ke kamar dan beristirahatlah karena mulai besok paman Kunzite akan memulai tugasnya. Besok beliau juga akan memberikan jadwal kegiatan baru untukmu." Nefrit menambahkan sebelum Jasper sempat menjawab.
Wanita itu memberikan belaian lembut di puncak kepala putranya, sebagai ucapan selamat malam untuk mengakhiri pertemuan mereka. Membuat Jasper mau tidak mau harus membalas untuk memberikan penghormatan juga. Lalu meminta undur diri dari hadapan beliau.
Jasper berbalik dan melangkahkan kaki menjauh dari sang Ratu, kembali ke kamarnya. Hanya bisa menyesali segala ketidakberdayaan untuk bisa menentang perintah dari sang Ratu.
‘Kalau dipikir-pikir, mana mungkin ibunda ratu akan mau bersusah payah mempertimbangkan tentang Gear? Jika beliau bahkan tidak pernah mengizinkan aku untuk menyentuh benda itu?’
Gear selama ini umum digunakan dalam dunia militer. Tidak jarang juga dipakai sebagai senjata perang dan alat penghancuran masal. Akan tetapi tetap saja semua kembali kepada pilotnya masing-masing. Kembali kepada manusia yang mengendalikan Gear itu sendiri. Jadi bukanlah Gear yang berbahaya melainkan pilot yang mengendalikannya, hawa nafsu manusia yang jauh lebih berbahaya daripada Gear itu sendiri.
***
Keesokan harinya, pintu kamar Jasper sudah diketuk pagi-pagi sekali. Pada saat dia masih baru selesai mandi serta memakai kemejanya.
"Silahkan masuk." Jasper segera menjawab dan mengijinkan siapapun yang mengetuk pintu untuk masuk ke dalam kamar.
Tepat seperti dugaan Jazper, Kunzite adalah yang tadi mengetuk pintu. Sang perdana mentri kerajaan yang telah menjadi mentornya mulai hari ini.
"Selamat pagi, Pangeran Jasper," sapa Kunzite kepada Jasper dengan nada formal yang menjadi andalannya.
"Selamat pagi, Perdana Menteri Kunzite." Jasper menjawab dengan tak kalah formal. Jasper dapat nelihat pria berambut keperakan itu menghentikan langkah sejenak saat melihatnya. Seperti sedang tertegun karena melihat sesuatu yang janggal.
"Apa ada yang salah dengan penampilan saya?" Jasper bertanya kepada Kunzite, risau jika pemilihan pakaian yang dia kenakan hari ini tidak sesuai dengan kehendak beliau.
Padahal Jasper merasa tidak ada yang aneh dengan pakaian yang dia kenakan hari ini. Hanya kemeja berwarna merah yang dipadukan dengan celana panjang putih. Pakaian dengan formal yang biasanya dikenakan dalam keseharian istana.
"Tidak, hanya saja anda terlihat sangat cocok untuk memakai perpaduan warna itu." Kunzite menjawab setelah sedikit berdeham mengatasi kecanggungan.
"Akan tetapi pagi ini kita akan memulai kegiatan dengan latihan fisik. Jadi sebaiknya anda mengenakan pakaian yang lebih nyaman saja."
"Latihan fisik?" Jasper balik bertanya kebingungan.
"Benar sekali. Ini adalah jadwal kegiatan anda mulai hari ini. Silahkan anda periksa dengan seksama, mungkin ada yang belum jelas atau mungkin perlu ditanyakan." Kunzite menyerahkan beberapa lembar kertas kepada Jasper.
"Jika anda sudah siap, pelajaran pertama akan segera kita mulai." Sang perdana menteri betkata dengan nada yang lebih serius lagi, bahkan lebih kaku dari biasanya. Membuat Jasper langsung menurut tanpa membantah.
Jasper mengarahkan kedua matanya untuk membaca dan mempelajari jadwal kegiatan baru di kertas itu.
JADWAL HARI SELASA
08.00-10.00 Latihan kekuatan fisik.
10.00-13.00 Latihan teknik dan jurus beladiri serta bersenjata.
13.00-14.00 Istirahat dan membersihkan diri
14.00-15.00 Makan siang bersama pejabat istana
15.00-19.00 Ilmu taktik perang dan ketatanegaraan
19.00-20.00 Istirahat dan membersihkan diri
20.00-21.00 Makan malam bersama ratu dan mentor untuk evaluasi harian
21.00- Istirahat di ruangan pribadi
Dahi Jasper berkerut dalam demi membaca daftar acara untuk hari ini. Namun dia hanya bisa mengumpat dalam hati, “Gila! Apa-apaan ini? Padat sekali!”
Jasper mengamati lembaran-lembaran kertas yang lain. Jadwal kegiatan untuk besok dan besoknya lagi yang sama padatnya. Hanya menu pelajaran sore yang berbeda setiap harinya. Dan setelah mengamati lebih jauh, bahkan dia tidak mendapat liburan akhir pekan!
"Maaf paman …" Jasper berkata sedikit ragu, setelah memeriksa semua jadwalnya selama seminggu dengan seksama. "Mengapa tak ada pelajaran mengenai Gear di sini?"
"Gear?" Kunzite balas mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan dari Jasper. Akan tetapi sedetik kemudian beliau memberi jawaban. "Saya rasa anda masih belum siap untuk saat ini."
"Belum siap? Saya sudah dewasa saat ini, Paman. Sudah saatnya untuk mempelajari tentang Gear!" Sela Jasper tidak puas kepada Kunzite, merasa didiskriminasikan.
"Untuk masalah Gear, harus dilakukan beberapa ujian sampai seseorang dapat dinyatakan layak untuk berhubungan dengannya." Kunzite mencoba beralibi.
"Apa maksud Paman saya bahkan lebih lemah daripada Diamond waktu dia pertama kali mengenal Gear?" Jasper semakin mendesak.
Masih lekat dalam ingatannya bahwa Diamond, putra sulung Kunzite sudah bisa dan diperbolehkan untuk mengendarai Gear pada usia 10 tahun. Usia yang jauh lebih mudah dari usia Jasper saat ini. Diamond bahkan sudah ikut pergi berperang dua tahun kemudian. Lebih jauh lagi, saat ini Diamond sudah menjabat sebagai Kolonel yang memimpin pasukan di wilayah perbatasan pada usianya yang masih 24 tahun.
'Sungguh tidak adil!'
"Baiklah, nanti akan saya coba bicarakan kembali masalah ini dengan paduka ratu." Kunzite pada akhirnya menjawab diplomatis, untuk menghindari perdebatan lebih jauh lagi. Kemudian Kunzite beranjak pergi mendahului dari kamar super mewah Jasper.
"Ayo kita mulai pelajaran hari ini! Cepatlah anda berganti pakaian, saya akan menunggu di tempat latihan lantai satu." Ujar Kunzite mendahului langkah Jasper ke arah arena latihan.
Jasper menghela napas panjang sebelum bergegas mengganti pakaian yang dia kenakan dengan pakaian latihan. Kemudian dia lanjut melangkah menuju ke tempat latihan yang berada di lantai satu istana.
"Selamat pagi." Sapa Jasper saat tiba di tempat latihan. Di sana sudah berdiri Paman Kunzite bersama dengan dua orang pria yang telah menunggunya.
"Selamat pagi, Pangeran Jasper." Ketiga pria itu menjawab hampir bersamaan, disertai dengan penghormatan resmi pula.
"Begini Pangeran, karena saya tidak akan mungkin bisa mengikuti anda kapanpun dan kemanapun anda berada. Maka saya telah mempersiapkan dua pengawal pribadi untuk anda."
Sekali lagi Jasper mengamati kedua sosok pria yang berdiri bersama dengan Kunzite. Keduanya berbadan tegap dan berusia sekitar awal dua puluh tahunan, satu hal yang mencolok mereka memiliki wajah yang sama, kembar. Dengan mimik wajah yang sama seriusnya. Keduanya juga memiliki postur tubuh yang bagus layaknya seorang prajurit papan atas.
"Yang mengenakan baju merah bernama Dextra dan yang mengenakan baju biru Sinistra." Kunzite memperkenalkan kedua pengawal pribadi untuk Jasper.
"Salam kenal, Pangeran Jasper." Lagi-lagi kedua pengawal itu menyapa dengan hampir bersamaan.
"Salam kenal, mohon kerjasamanya." Jasper menyambut perkenalan mereka. Dan kedua pengawal tadi mengangguk sopan kepadanya sebagai balasan.
"Mereka berdua akan bertugas untuk mendampingi anda mulai hari ini. Jika masih berada di lingkungan istana anda bisa mengusir mereka saat menginginkan privasi. Apakah anda keberatan?" Kunzite memastikan kepuasan Jasper akan kedua pengawal pilihannya.
"Tidak." Jasper menggelengkan kepala cepat-cepat karena menolak pun tentu tidak akan ada gunanya.
'Paling tidak aku masih diberi sedikit privasi. Lebih baik daripada tidak sama sekali kan?'