Sejak kecil Azalea sudah terbiasa dengan tatapan sinis, ejekan dari berbagai pihak serta selalu dipandang rendah oleh orang disekitarnya. Ucapan hinaan adalah angin lalu baginya.
Azalea dibesarkan di dalam sebuah panti asuhan di kota Tulipa, daerah di sebelah selatan ibu kota. Kota yang tidak begitu besar tapi Azalea menyukai tempat tersebut karena keadaan alamnya serta udara yang masih bersih. Sayang sekali tempat itu juga menjadi saksi bisu kenangan pahit hidupnya.
Azalea tumbuh menjadi gadis yang berbudi pekerti baik, mandiri dan berhati kuat. Meskipun begitu, dia tidak pernah melawan orang tua, Ibu panti yang merupakan teman baik almarhum ibunya begitu menekankan prinsip bahwa seburuk apapun orang jika dia lebih tua darimu maka kamu tetap harus menghormatinya, hormati mereka layaknya kamu menghormati kedua orang tuamu.
Azalea baru saja selesai mandi, dia segera mengambil koper yang berada di dekat lemari, menariknya ke tengah ruangan dan membukanya. Azalea menatap lemari yang berada di ruang pakaian tersebut secara bergantian, menatap betapa banyaknya pakaian yang dimilikinya.
“Butuh waktu untuk memilih, bawa barang sedikit saja. Tidak akan ada yang melayaniku disana, Aku tidak mau kerepotan dengan semua benda mati ini.” Azalea menghela nafas pendek.
“Kamu jadi pergi?” Nada tak rela dari ucapan tersebut. Azalea menoleh ke sumber suara. Pria paruh baya tersebut menatapnya sedih. “Meninggalkanku seorang diri?”
Kalimat terakhir pria tersebut membuat Azalea tak tega. David Fredrikson, pemilik Richson Group. Perusahaan yang bergerak dibidang jual beli Berlian, serta pemilik Investa Property Group.
“Please, jangan membuatku kesulitan untuk memilih. Kamu tahu pasti tujuanku datang kesana.”
Pria itu lantas tertawa pantas, cukup berwibawa caranya berekspresi. “Aku mengerti, aku sengaja menggodamu.” Pria itu mengusap-usap gemas puncak kepala Azalea, sengaja membuat rambut wanita cantik di hadapannya itu menjadi berantakan.
Azalea menggerutu tak jelas sambil membetulkan rambutnya yang berhasil diberantakin oleh David. Hanya keluhan kecil yang tak pernah sampai membuat Azalea marah kepada tindakan David. Pria itu sebenarnya mengkhawatirkan Azalea jika kembali ke kota tersebut tapi dia juga dalam dilema karena tidak mungkin menahan Azalea. Dia hanya perlu memberi waktu kepada Azalea untuk menyelesaikan masa lalunya.
“Jaga dirimu baik-baik disana. Segera hubungi aku jika kamu ada masalah, kapanpun. Jangan sungkan. Mengerti?” Kata David tegas membuat Azalea harus mengiyakan.
“Aku mengerti. Aku harap kamu tidak menyiapkan bodyguard untuk terus mengawasiku selama berada disana. Aku benar-benar ingin menyelesaikan masalahku sendiri. Berjanjilah.” Azalea berharap kali ini David menuruti permintaannya.
David terdiam, dia menatap Azalea lekat-lekat. Kekhawatiran akan keselamatan Azalea menjadi pertimbangannya. “Aku tidak mau membohongimu, Aku memang telah menyuruh orang untuk mengawasimu dari jauh. Tapi akan aku pastikan jika orang kepercayaanku ini tidak akan mengganggumu, mereka hanya akan bekerja jika kamu dalam bahaya. Itu semata-mata hanya untuk memastikan kau baik-baik saja disana. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sampai kamu terluka lagi.”
“Oke, Deal.” Azalea mengacungkan jari kelingking yang kemudian disambut oleh jari kelingking milik David dengan ukurang yang lebih besar tentunya. Senyum terpaksa David harus ditampilkan untuk membuat Azalea puas.
David kemudian memeluk Azalea, pelukan yang begitu hangat dan enggan untuk melepaskannya. Hidup David memang berubah banyak setelah kehadiran Azalea. Kini dia memiliki alasan untuk tetap hidup dan kembali ke rumah setiap saat. Hidupnya kembali terang karena kehadiran Azalea. Dia sangat menyayangi Azalea, melebihi apapun di dunia ini.
David tidak pernah mengerti jalan pemikiran Azalea yang unik, jika wanita lain begitu senang dimanjakan oleh kemewahan dan hidup enak tapi hal tersebut tidak berlaku untuk Azalea. Dia tetap hidup sederhana, bahkan mobil yang gunakan oleh Azalea setiap hari adalah mobil terburuk yang dimiliki oleh seorang David Fredrikson, lebih buruk dari mobil milik sopir pribadinya. Azalea hanya ingin hidup layaknya manusia di sekitarnya. Azalea juga menolak saat David ingin mengumumkan status keluarga yang dimiliki oleh Azalea saat ini. Hanya Bella dan suaminya yang mengetahui kebenarannya.
***
Stasiun kereta Kota Krisan, sedikit terlambat dari perkiraan Azalea. Itu semua karena dia harus berdebat dengan David sebelum berangkat, Pria yang sangat menyayangi Azalea itu bersikeras meminta Azalea untuk berangkat lewat jalur udara agar dia tidak kelelahan. Tapi Azalea ingin pergi dengan naik kapal lalu disambung dengan naik kereta api, wanita ini sudah memperhitungkan segalanya. Bahkan dia tidak ingin terlihat mencolok saat pertama kali datang ke kota tersebut. Dia tidak ingin jika ada orang yang usil dan sengaja mencari tahu hingga dapat menemukan identitas aslinya.
Azalea menuju ke asrama yang memang sudah disediakan oleh direktur Rumah Sakit tempat barunya bekerja. Azalea disambut dengan baik, dia hanya perlu bersikap seperlunya kemudian segera berpamitan untuk pergi mengunjungi seseorang. Memang tujuan awal Azalea adalah pergi ke Kota Tulipa yang berada di sebelah timur Kota Krisan. Satu jam perjalanan Azalea naik kereta api.
Naik taksi lima belas menit dan sampai dia di depan sebuah rumah yang terlihat mewah seperti pada umumnya rumah yang ada di komplek tersebut, bangunan yang semuanya hampir mirip dan hanya dibedakan oleh cat rumahnya saja.
Kompleks elit di jalan Deandels, rumah berwarna abu-abu tua berpadu putih dengan nomor rumah dua. Yang konon merupakan nomor keberuntungan Ayah mertua, yaitu Erlan Jhonson. Anak kedua dari tiga bersaudara, itu pula yang melatarbelakangi dirinya hanya memiliki tiga anak dalam pernikahannya dan satu-satunya anak laki-lakinya juga lahir menjadi anak kedua yang kemudian menjadi suamiku, Erik Jhonson. Pernikahan tanpa restu kedua orang tua pihak laki-laki.
Azalea menatap rumah di tersebut dari dalam taksi, membuka kaca mobil agar dia bisa melihat rumah tersebut lebih jelas. Seketika pikiran Azalea melayang kembali ke masa lalu. Erik Jhonson adalah satu-satunya laki-laki yang mampu menarik perhatian Azalea, sepanjang hidup Azalea hanya tahu untuk belajar rajin dan menjadi orang yang sukses agar bisa membalas kebaikan ibu panti asuhan yang sudah membesarkannya.
Erik Jhonson adalah kakak kelasnya semasa di sekolah menengah atas, Erik yang begitu populer karena prestasinya secara tidak langsung menginspirasi Azalea yang memang cerdas dan rajin untuk terus meningkatkan prestasinya. Sayang kebersamaan mereka di sekolah menengah hanya selama setahun karena Erik sudah lulus dan melanjutkan pendidikannya di sekolah militer.
Empat tahun kemudian Azalea study praktek di sebuah rumah sakit milik militer, karena dia memang menyukai dunia medis. Erik demam tinggi dan mereka dipertemukan kembali. Benih cinta yang ternyata pernah tumbuh semasa sekolah menengah membuat mereka lebih mudah untuk melanjutkannya. Ternyata Erik memiliki perasaan yang sama terhadap Azalea, karena dimata Erik, Azalea adalah gadis yang menarik. Cantik, pintar, dan memiliki perilaku yang baik.
Di usia 25 tahun, Erik menikahi Azalea. Meskipun kedua orang tuanya menentang tapi pada akhirnya Erik mampu meyakinkan mereka. Kasihan Azalea, Erik tidak pernah tahu jika keluarganya selalu memperlakukan Azalea dengan buruk. Apalagi ketika Erik mulai ditugaskan di luar kota, Azalea diperlakukan layaknya pelayan di rumah. Dia mengerjakan semua pekerjaan rumah.
Azalea tetap bertahan dan tidak pernah mengadu kepada Erik karena tidak mau membebani pikiran suaminya. Ketika bekas luka memar menjadi saksi bisu dan tanpa sengaja terlihat oleh Erik, maka Azalea akan berbohong jika luka tersebut ada karena kecerobohannya hingga terjatuh dan terluka.
Namun, rasa sakit terparah dan tidak pernah Azalea lupakan hingga sekarang adalah saat dia diusir dari rumah dihadapannya saat ini, waktu itu Erik sedang tugas di negara bagian utara, delapan tahun silam.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Azalea hingga meninggalkan bekas merah jambu. Begitu kuat tamparan tersebut hingga membuat Azalea tersungkur di lantai teras. Belum juga masuk ke rumah, Azalea disambut dengan kejutan yang istimewa.
Azalea menunduk saat dirinya dimaki, bukan karena dia tidak berani melawan tapi dia sangat memegang teguh ajaran Ibu panti yang melarangnya untuk melawan orang tua.
“Istri pembawa sial! Karena kau, anakku tidak pernah beruntung dalam hidupnya. Sekarang dia hilang di negara bagian, ini pasti karenamu. Awas! Jika sampai terjadi apa-apa kepada putraku, Kau akan ku habisi!” Kata Erlan, ayah mertua Azalea penuh amarah.
“Pergi! Bawa semua kesialan yang melekat pada tubuhmu itu!” Teriak Erlan memekak telinga. Pria paruh baya itu memalingkan wajahnya, enggan melihat wajah menantunya lagi.
Azalea memberanikan diri menatap anggota keluarga tersebut, ayah mertua yang sudah tidak sudi melihatnya, lalu pandangannya beralih ke ibu mertua, Vivian. Wanita paruh baya itu pun hanya diam tanpa kata-kata. Hanya Michelle, adik perempuan Erik yang menatapnya dengan pandangan tak tega.
Erlan kemudian masuk ke dalam rumah sambil menarik tangan istrinya, meninggalkan Azalea yang masih tersungkur di lantai teras rumah.
“Kak.” Suara bergetar Michelle seraya mengulurkan kedua tangannya untuk membantu kakak iparnya.
Belum juga Azalea berhasil meraih tangan Michelle, lagi-lagi suara lantang ayah mertuanya menggetarkan bumi. “Michelle, masuk!”
Michelle tidak punya pilihan, dia meninggalkan Azalea tanpa bisa berbuat apa-apa. Azalea menangis untuk beberapa saat, mengeluarkan semua kesedihan dan rasa tak berdaya karena merindukan suaminya. Pikirannya penuh dengan nasib suaminya yang belum diketahuinya.
Air mata berseluncur indah di wajah cantik Azalea, kenangan itu begitu kuat hingga mampu membuat Azalea menangis parah ketika mengingatnya. Padahal kejadian tersebut sudah berlalu, tepatnya delapan tahun yang lalu.
Azalea memalingkan wajah, lalu menatap langit-langit ruang taksi. Berharap ketika dia mendongak maka air mata yang memenuhi matanya tidak akan tumpah, tapi sia-sia. Usahanya tidak berhasil, air mata tidak dapat dibendung lagi. Azalea pasrah, air matanya semakin deras membasahi parasnya yang cantik meskipun sedang menangis.
Azalea kini memegang dadanya, sesekali mengurutnya karena merasakan nafasnya semakin sesak. Luka dari masa lalunya begitu kuat mempengaruhi emosinya.
Supir taksi yang mengkhawatirkan penumpangnya beberapa kali melihat dari kaca spion. “Anda baik-baik saja?” Tanyanya canggung.
Azalea terdiam beberapa saat, dia masih sibuk menghapus air mata yang sukses merusak make up di wajahnya. “Saya baik-baik saja. Tolong antar saya ke Stasiun.” Kata Azalea dengan suara sedikit parau.
Sopir taksi segera melaksanakan perintah penumpangnya. Beberapa saat kemudian taksi tersebut telah melesat meninggalkan rumah no 2 bercat abu-abu tersebut.
Lima belas menit kemudian, Taksi yang ditumpangi oleh Azalea sampai di stasiun. Sekali lagi sopir taksi tersebut berempati terhadap Azalea yang terlihat begitu sedih.
“Apakah anda baik-baik saja?” pria berpenampilan rapi dan terlihat ramah tersebut membalikkan badan hingga melihat Azalea yang duduk di kursi penumpang belakang.
“Terima kasih untuk perhatiannya. Saya baik-baik saja.” Azalea menjawab seraya mengulurkan beberapa lembar uang sesuai nilai angka digital yang tertera pada dasbor taksi tersebut sebagai biaya perjalanan.
Tidak terkesan ramah tapi tidak juga sombong. Azalea bersikap sewajarnya kepada orang yang tidak dikenalnya. Apalagi dia orang baru di daerah tersebut, baru datang lagi setelah beberapa tahun.
Azalea sudah jauh lebih baik, dia sudah dapat mengontrol emosinya, tapi masih tersisa sedikit kesedihan di wajahnya. Azalea kembali berada di dalam kereta, menempuh satu jam perjalanan menuju kota Krisan. Kembali ke asrama untuk beristirahat.
Dia pikir kembali mengunjungi Kota Tulipa akan baik-baik saja untuknya, dia pikir sekarang bisa lebih kuat setelah apa yang dilaluinya. Ternyata luka itu masih terbuka lebar, bahkan bekas yang semula mulai mengering kembali basah.
Hah, bagaimana Azalea menghadapi keluarga Jhonson? Melihat rumahnya saja sudah membuatnya banjir air mata, luka lama kembali terkoyak dan berdarah. Azalea, mampukah langkahmu bertahan saat menginjak bara api itu lagi? Bagaimana kamu berhadapan dengan ayah mertua?
Azalea pusing memikirkan jawaban dari beberapa pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepalanya itu. Beberapa hari lalu Azalea begitu bersemangat untuk datang lagi ke Kota Tulipa, ingin menunjukkan kepada keluarga Jhonson jika dirinya bisa sukses setelah keluar dari keluarga kejam tersebut.
Bukan, bukan itu tujuan utama Azalea. Sebenarnya dia sangat merindukan Erik disela kebencian dan kekecewaannya terhadap pria yang sangat dicintainya itu. Entah apa yang akan aku lakukan jika bertemu dengan pria itu.
Apakah dia baik-baik saja? Jika benar dia selamat dan baik-baik saja, kenapa dia tidak berusaha mencariku? Atau jangan-jangan Erik telah tiada? Tidak, aku tidak akan sanggup mendengar berita tersebut. Argh! Aku ingin teriak untuk melepas semua kegelisahan ini, tapi aku masih cukup waras untuk menjaga sikap di area tempat umum.
***
Langit sudah berubah gelap, bintang-bintang nampak tercecer di luasnya langit yang hitam. Azalea duduk di dekat jendela, menatap aktivitas yang masih terjadi di bawah sana. Azalea berada di sebuah gedung asrama yang berlokasi tidak jauh dari rumah sakit, mungkin hanya perlu sepuluh menit berjalan kaki menuju Rumah sakit. Bangunan Rumah Sakit terlihat dari jendela asrama yang menjadi tempat tinggal Azalea sekarang.
Ruang kamar yang berukuran empat kali empat meter persegi, masih ada ruang tamu dan dapur kecil di luar ruang kamar. Kamar mandi berada di dalam kamar. Cukup untuk Azalea tinggal selama tiga bulan, bukan hal yang sulit baginya untuk beradaptasi.
Telepon masuk dari Bella, membuyarkan Azalea dari lamunannya. David orang pertama yang menghubunginya saat Azalea melangkahkan kakinya menginjak tanah Kota Krisan untuk pertama kali. Bersyukur ada orang yang begitu menyayanginya, menyelamatkan hidupnya yang dulu begitu kelam setelah mengenal keluarga Jhonson.
“Hai.” Azalea menjawab panggilan telepon Bella tanpa mengalihkan pandangannya dari pemandangan kota Krisan di malam hari yang kini ada tepat di hadapannya. Lampu-lampu kota yang bercahaya menerangi kesunyian Azalea malam ini di tempat asing.
“Kenapa lama menjawab panggilanku. Apa kau berusaha mengabaikanku? Telah menemukan sahabat baru yang lebih baik dariku disana? Kau menyakiti hatiku. Aku tidak terima, aku-”
“Sepertinya kau yang lebih membutuhkan teman baru untuk mendengarkan ocehanmu itu.”
“Menyebalkan!”
“Kau yang menyebalkan, sudah jauh pun kau masih suka menceramahiku.” Azalea memprotes sikap Bella.
“Ah, baiklah. Bagaimana kabarmu disana? Segera pulang jika kau merindukanku atau tidak betah tinggal disana. Aku tidak mengerti jalan pikiranmu kali ini, kau sudah memiliki segalanya disini tapi malah dengan sengaja kembali ke tempat yang memberimu banyak luka. Dengarkan aku, lebih baik kau kembali saja, kubur dalam-dalam masa lalumu itu.” Bella mengomel tiada henti.
“Terima kasih untuk perhatianmu, aku baik-baik saja disini. Kau tidak perlu khawatir.”
“Tapi Lea, Aku-”
“Sudah, simpan tenagamu. Kau tahu pasti jika aku sudah mengambil keputusan maka tidak akan ada yang bisa merubah pikiranku.”