Bab 2

"Jangan ngaku cantik kalau belum kena labrak istri orang!" kata-kata itu sudah menjadi makanan sehari-hari untuknya, dan sudah menjadi semboyan dalam hidupnya semenjak dia berkecimpung terjun ke dunia malam, bekerja karaoke sebagai LC (Ladies Company) di salah satu hotel besar di kota metropolitan, Jakarta.

Menemani customer menyanyi, minum alcohol, kadang harus mengkonsumsi narkoba, keluar masuk kamar hotel hanya untuk membuat costumernya puas dan senang. Dia sudah tidak memikirkan lagi soal badan dan kesehatannya, siang jadi malam, malam jadi siang, situasi dan kondisi hidupnya sudah tidak normal lagi, terbalik.

Memang tidak semua lc diharuskan jadi lc++, tapi Flower Violetta memilih menjadi Lc++ karena dia telah menyandang status sebagai seorang janda, dan harus menghidupi kedua putri cantiknya yang kembar Alana dan Alena, yang ikut dengannya setelah bercerai dengan mantan suaminya Eugene White.

Melihat kedua putrinya tidur dengan lelapnya, membuat mata wanita berusia 29 tahun itu tidak terasa mulai berkaca-kaca dan basah karena bulir-bulir bening mulai menetes perlahan-lahan membasahi pelupuk dan pipi mulusnya, mengingat nasib kedua putri tercintanya yang harus tumbuh dan hidup tanpa sosok seorang ayah dan menjadi anak korban broken home dan korban dari ke egoan kedua orangtuanya.

Dadanya terasa sakit, dia menahan sesaknya sehingga membuat dia terisak-isak "maafin mimi sayang, kalian berdua harus jadi korban karena ego kedua orangtua kalian yang bodoh ini, tapi itu semua di luar kuasa dan kendali mimi kalian yang lemah dan rapuh ini." gumamnya pelan dengan bibir yang gemetaran, sambil membelai lembut rambut kedua putrinya yang comel dan sesekali dia menyeka bulir-bulir bening di pipinya dengan telapak tangannya.

Kemudian dia mencium kening kedua putri blasteran tercintanya.

"Good nite dan sweet dream my baby, love u both! Muah! Muah!" lalu ia menyelimutinya sebelum mematikan lampu kamarnya, dia pun merebahkan tubuh seksinya di singgasana peraduannya.

Belum berhenti sampai disitu, bulir-bulir bening masih berjatuhan di kedua pipinya, sungguh sangat membuat sesak dadanya, dia mengepalkan tangan kanannya dan memukuli dadanya pelan-pelan, seketika dia teringat kejadian 3 tahun yang lalu saat dia dan mantan suaminya yang berkebangsaan Itali memutuskan untuk berpisah dan bercerai.

******

Bulir-bulir bening mulai membasahi kedua pelupuk mata dan pipinya, rambut panjangnya yang terurai melayang-melayang kena hembusan angin pantai yang bertiup kencang.

"Jadi keputusanmu sudah bulat, kau lebih memilih warisan orang tuamu dari pada aku dan kedua putrimu, tidak kusangka kau ... kau lelaki yang gila harta dan berhati dingin, ingat ya, kau akan menyesali keputusanmu ini Eugene White!" terucap sumpah serapah dari bibirnya dengan lantang dan penuh amarah yang meletup-letup.

Eugene melepaskan kedua tangannya yang menarik bajunya dari belakang, dan menoleh ke arahnya.

"Keputusanku sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat lagi, aku bisa menikah lagi dengan wanita yang satu keyakinan, punya anak lagi, dan disetujui kedua orangtuaku, dari pada aku harus kehilangan warisanku karena namaku dicoret dari pewaris satu-satunya keluarga besarku, karena mempertahankanmu dan masuk agamamu!" ucapnya dengan nada tinggi dan melirik sinis ke arahnya lalu berjalan pergi meninggalkannya.

Sedangkan ia masih berdiri terpaku, mematung, mengepalkan kedua tangannya sambil menangis tersedu-sedu memandanginya berlalu pergi dari hadapannya.

******

Mengingat kejadian saat itu membuatnya semakin larut dalam kesedihannya malam itu. Benar-benar sebuah tragedi yang tidak akan terlupakan, dan menjadi kenangan pahit yang kadang membuatnya trauma untuk membangun kembali biduk rumah tangga, bila tidak ingat dengan keberadaan malaikat kecilnya, kedua putrinya yang memberinya kekuataan untuk menjalani dan menghadapi getirnya hidup yang penuh dengan lika liku, sandiwara, angkara, deru debu, dan mereka berdua menjadi pelipur lara baginya.

Wanita janda beranak dua itu menangis sampai tertidur.

Ayam berkokok memecah pagi yang dingin di kota kembang itu sehingga membuat Flower tersadar dari tidurnya di singgasana peraduannya, dia melirikkan matanya ke jam dinding yang ada di kamarnya, "jam setengah 5." batinnya.

Seketika dia langsung beranjak duduk dan matanya langsung terbelalak, lirik kanan lirik kiri. "Aku kan udah janji sama anak-anak mau bawa mereka jalan, muter-muter Bandung hari ini, kemana aja ada dah yang penting mereka senang, bentar aku kumpulin nyawa dulu." gumamnya semangatin dirinya sendiri sembari tepok jidat.

Tring!

Diraihnya ponselnya yang sedang dia charger di samping singgasana peraduannya.

"Jangan elo temuin lagi laki gue Si Andra, lihat aja apa yang akan gue lakuin kalo elo masih berhubungan sama laki gue, dasar jablay murahan!" dia terkejut membaca pesan line dari istrinya Si Andra.

Dia berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Ebusyet, pagi-pagi buta masih lanjut aja nih orang labraknya, dasar nenek gayung setres!" celotehnya geram.

Pesan line itu berhasil merusak suasana hatinya di pagi itu menjadi bete.

"Bodo amat ah, emang aku pikirin! Aku pengen tahu apa yang bisa dia lakuin kalo gue masih berhubungan sama Si Andra?" pikirnya picik, dia mengerutkan dahinya mengerlingkan matanya dan tersenyum sinis.

Dia tidak memperdulikan ancaman dari istri Si Andra yang dia panggil nenek gayung. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.

Huft! Hela nafasnya berat berulang kali.

Labrakan itu memotifasinya untuk mendapatkan lelaki yang sudah membuatnya bisa jatuh cinta kembali, apalagi sampai diancam, semakin dia maju. Dia tidak membalas pesan linenya itu, dia cuekin. Lalu dia membangunkan bi Minah.

"Bangun bi, bikin nasi goreng mentega, kasih telur sama sosis buat sarapan, terus bikin susu buat anak-anak ya," perintahnya, terus dia melangkahkan kakinya ke kamar mandi.

Bi Minah langsung beranjak dari singgasana peraduannya.

"Siap bu bos." sahutnya, terus dia langsung ke dapur mengerjakan perintah bosnya.

"Morning my sweet baby." ucapnya dengan senyuman manis.

"Morning mimi." sahut kedua putri kembarnya serempak, dengan muka bantalnya.

Mereka berdua langsung di urus oleh bi Minah, dimandikan, di pakaikan baju yang modelnya sama hanya beda warna, Alana pake baju gambar Elsa Anna Frozen warna ungu rambutnya dikuncir kuda, kalo Alena baju frozennya warna pink rambutnya dikuncir dua, lalu sarapan dan meminum habis susunya.

Flower tersenyum simpul melihat kedua putrinya.

"Aih comelnya putri-putri mimi, pinter, makannya banyak, minum susunya habis." pujinya sembari mencubit pelan dan mencium pipi kedua malaikatnya.

Mereka berdua pun memeluknya.

Sepanjang jalan mutar-mutar Bandung, mereka singgah ke rumah strawberry, Alana dan Alena senang memetik buah strawberry, ada yang di makan langsung di tempat ada juga yang dibawa pulang, rasa strawberrynya ada yang manis ada yang asam, membuat kedua anak kembar yang comel itu bergidik sambil memejamkan matanya saat menggigitnya.

"Acem!" celetuk mereka berdua serempak. Dia tersenyum lebar melihat kelakuan lucu kedua putrinya.

Untuk sesaat dia melupakan kejadian yang sejak kemarin membuatnya bete, kesal, geram, bikin emosi, tapi ada lucunya juga, kalo inget omongan labrakan dari istri-istri para customernya terutama istrinya Si Andra, bikin dia tertawa terbahak-bahak sampai perutnya terasa kram.

Di pertengahan jalan mereka mampir ke toko oleh-oleh khas Bandung, membeli brownies, bolen pisang dan tape, bolu susu Lembang, keripik dan kerupuk berbagai jenis, dan tidak lupa beberapa cemilan yang pedas.

Putri pertamanya menunjukkan kemasan keripik kentang varian lada hitam.

"Kaka mau ini mih,"

"Dede mau juga," sambung putri bungsunya dengan mata yang memelas.

"Itu pedes sayang, kamu berdua gak akan kuat," sahutnya, diambilnya kemasan kentang dari tangan putrinya dan menaruh kembali ketempatnya.

Seketika,

"Kaka sama dede kuat pedes kok mih," seru kaka, mimik wajah kedua putrinya berubah jadi datar dengan bibir yang mengerucut.

"Ya udah kalo emang kuat pedes, masing-masing ambil 3 ya," perintahnya.

"Mau 5," pinta mereka berdua serempak sembari menunjukkan kelima jari tangannya sebelah kanan ke arahnya, lalu saling bertatapan dan nyengir kuda.

"Oke baby." dia mengiyakan permintaan kedua malaikat kecilnya sembari melipat kedua tangannya di dada, mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum lebar.

Bi Minah hanya senyam-senyum mendengar dan melihat percakapan majikan dan kedua putri kembarnya.

"Tuh bocah dua masih kecil udah pada pinter ngomongin apa yang mereka suka sama gak, plus pinter nego, siapa yang ngajarin? pinter amat anak-anakku." pikir dan batinnya, dia merasa kaget tapi memuji kedua putrinya.

"Yeay, thank u mimi." sorak Alana dan Alena kegirangan senang, mereka langsung ambil masing-masing 5 dan memasukkannya ke keranjang belanja yang dibawa oleh bi Minah, bi Minah tersenyum lebar lihat kelakuan kedua anak kembar majikannya yang cantik, lucu, dan pintar.

"Menggemaskan sekali lihatnya, mereka berdua anak-anak yang pinter, masya Allah" ucap batin bi Minah takjub.

Tiba-tiba ponselnya berdering, dilihatnya layar ponselnya tertera nama Si Botsy Andra, lalu diangkatnya.

"Halo, asalamualaikum," sapanya dengan santai.

Dengan nada datar Si Andra membuka obrolan.

"Wa'alaikumsalam, lagi dimana, masih di Bandung ya Okem ku sayang?"

Langsung dijawabnya dengan cepat.

"Iya, kenapa?"

Disahut cepat juga sama Si Andra.

"Gak pp, kangen aja, kapan balik Jakarta, gimana kabar putri-putri cantikku, hujan gak di situ, terus masih telepon gak istriku?" dia mencecarnya dengan pertanyaan.

"Rencana mau ajak anak-anak ke pemandian air panas dulu, terus itu Si Nenek Gayung cuma sms aja tadi pagi, ngancem aku!" jelasnya sembari membayar belanjaan di kasir.

"Waduh, dia ancem gimana? biarin aja jangan didengerin anggap aja orang gila," katanya mencoba menenangkannya lagi.

"Woles, siapa juga yang ladenin tuh nenek gayung, ntar aku kirim deh chatnya biar dirimu baca sendiri, udah dulu ya lagi repot nih," katanya sembari berjalan ke luar toko.

"Ntar kirim aja chatnya aku mau lihat, ya udah hati-hati ya Okem sayang, muah." pungkasnya mengakhiri teleponnya.

Mereka berdua pun menutup teleponnya.

"Sebenarnya sih mamahnya yang mau berendam air panas bukan anak-anaknya, lagian telepon aku mau ngapain, kan tadi udah aku chat di line, aku kirain telepon mau ngomongin apa gitu itu Si Botsy, ujung-ujungnya dia nanyain bininya, malesin banget! Mungkin dia khawatir sama aku, anggap aja seperti itu, ah sudahlah!" gumamnya pelan mencoba berpikir positif, ada timbul sedikit rasa panas di hati karena cemburu, lalu dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.

Huft! Hela nafasnya berat.

Kemudian dia menghidupkan mesin mobilnya kembali, menyuruh bi Minah memasukkan semua belanjaannya ke bagasi dan kedua anaknya ke dalam mobil.

Sore itu langit tiba-tiba berubah menjadi gelap, mendung. Angin bertiup lumayan kencang, suara petir dan geledek saling bersahut-sahutan.

"Yah, mau hujan, gimana mau berenang mandi air panas ke Ciater, oh iya pesen villanya aja deh, berendam air panasnya di villa aja." pikir dan gerutu batinnya.

Dia mengerutkan dahinya sembari berdiri di samping mobilnya memegang pintu mobilnya, melihat ke atas langit, kemudian dia masuk ke dalam dan menutup pintu mobilnya.

Terus ia memakaikan sitbelt pada Alena yang duduk di bangku depan, yang satunya Alana duduk di belakang sama pembantunya, seperti biasanya.

Bab 3

Hujan rintik-rintik dan alunan lagu slowrock Malaysia menemani selama perjalanan menuju tujuan tempat wisata berikutnya, yaitu Ciater. Yang berada di kota Subang. Dia mengendarai mobilnya pelan-pelan dengan kecepatan 60/km. Ketika sudah setengah jalan hujan mulai turun lebat, dia menurunkan kecepatannya dari 60/km menjadi 40/km. Kedua putri dan pembantunya sedang berada di alam mimpi.

"Pernah juga kau pinta perpisahan aku sangkakan itu hanyalah gurauan ..." senandungnya dalam hati, seketika bulir-bulir bening tak terasa menetes membasahi kedua pipinya karena terlalu menghayati dan meresapi lagunya. Kemudian teringat saat berpisah dengan ayah dari kedua putrinya, dan kejadian-kejadian saat dilabrak oleh istri-istri para costumernya, sungguh sangat memilukan hatinya.

Dalam hatinya ia ngedumel dan berkeluh kesah, tentang nasib dirinya sekaligus hidupnya.

"Kenapa jadi begini hidup aku? Kenapa dulu dia lebih memilih warisan orangtuanya? Terus kenapa aku jadi perusak rumah tangga orang sekarang? Tapi itu bukan salahku, mereka yang datengin aku, kok jadi acak-acakan gini ya hidup aku? Tapi untuk menghidupi kedua anakku terpaksa aku harus begini. Kalau gak ada kedua anakku, gak tahu lagi apa yang sudah terjadi sama aku. Mungkin saja aku sudah bunuh diri, gak sanggup menghadapi semua cobaan dan prahara yang menimpaku, pengen mati saja rasanya! kenapa, kenapa, dan kenapa? Ah entahlah. Tapi aku bersyukur, kedua malaikat kecilku ikut aku, mereka adalah harta yang paling berharga dan tidak ternilai untukku. Terserah orang mau ngomong apa dan menilai apa tentang aku, yang penting kedua anakku hidup dengan layak, senang, berkecukupan, tidak kurang satu apa pun." sesekali dia melirik ke arah kedua putrinya.

Huft! Hela nafasnya berat berulang kali.

Diambilnya tisu, dia menyeka air mata di kedua pipinya dan cairan bening yang keluar dari hidung mancungnya.

Putri bungsunya ngelilir, melirik ke arahnya dengan matanya yang masih setengah tertutup.

"Are you oke, mih?" tanyanya.

Sontak dia kaget mendengar suara cempreng tapi lemas dari sampingnya, seketika dia menoleh lalu mengelus-ngelus kepala dan wajah mungil malaikat kecilnya.

"Wake up ya baby, what u want?" ia bertanya balik.

Sambil sesekali menoleh ke depan, tidak ada jawaban lagi. Dia melirik lagi ke arah putrinya. "Dia tidur lagi." dia kembali fokus menyetir lagi.

Tapi dia jadi kefikiran, "kok tuh bocah nanyanya begitu ya? Emang dia denger tadi aku nangis? Padahalkan aku nangisnya gak bersuara, hmm." dia merasa heran dan bingung sendiri, ia ngelirik ke arah anaknya.

"Ah, ya sudahlah." dia berdecak, geleng-geleng kepala.

Sore menjelang malam ...

Setelah menempuh perjalanan beberapa jam dengan kecepatan yang bisa dibilang santai, karena hujan yang cukup lebat, akhirnya sampai juga ke tempat wisata yang di tuju, villa pemandian air panas Ciater.

Pembantunya mulai membawa barang -barang dari bagasi mobil ke dalam, dan membereskannya untuk keperluan selama di villa. Flower dan kedua putrinya sedang menunggu air panasnya penuh, di pinggir kolam air panasnya sembari memainkan airnya saling menyipratkan.

"Ganti bajunya dulu ya, sayang," perintahnya.

"I don't want mih," sahut putri pertamanya, sembari membuka semua bajunya.

"I don't want too mih," sambung putri keduanya.

"Well well well, okay." dengan suara lemah, tidak kuasa melarang kedua putrinya kali ini. Mereka berdua langsung masuk ke kolam air panasnya, bercanda ria.

Akhirnya dia mengikuti kedua putrinya, hanya pakai bra dan cd g-stringnya. Tidak memakai baju berenang yang tadi sempet beli dadakan sekalian beli oleh-oleh khas Bandung. Dia pun berendam di kolam air panas dan memejamkan kedua matanya, menikmatinya.

"Ah, enaknya berendam air panas setelah seharian ajak anak-anak muter-muter Bandung tadi, akhirnya jacuzzi juga." ucapnya dalam hati.

"Bi Minah ..." serunya dengan suara lantang.

"Saya, bu bos!" dia langsung mendatangi majikannya.

"Ada apa, bu bos?"

"Berendam sini sekalian, seger nih. Sudah bereskan rapihin barangnya?" dengan mata yang terpejam.

"Siap bu bos. Bentar saya ganti baju dulu." tersenyum lebar melihat ke arah Alana dan Alena yang sedang mainan air.

Flower hanya berdehem.

Bergegas bi Minah mengganti bajunya dan masuk ke kolam air panas, berendam sekalian menjaga kedua putri bu bosnya. Majikannya yang cantik dan baik.

Setelah selesai berendam air panasnya, mereka kembali ke ruang tengah dan duduk santai sambil menonton tv, tidak bisa duduk santai di luar masih hujan lebat. Diambilnya sebatang rokok sampoerna merah dari bungkusnya, lalu dibakar dan dihisapnya dengan ditemani sebotol kopi goodday capuccino.

Dibuka ponselnya, ada pesan line dari Si Andra, menanyakan chat istrinya yang mengancam. Discreenshootnya chat istri kekasihnya itu lalu dikirimnya.

"Sudah aku kirim ya sayang, maaf baru sempat bales." dia sisipkan stiker dengan mata memelas.

Saat ini yang ada di pikiran dan hatinya, semua hanya tentang kedua putri kembar tercintanya. Bagaimana caranya agar mereka berdua dapat hidup dengan baik dan layak. Walaupun dia harus berjuang sendiri sebagai single parent. Biarpun harus dilabrak istri orang sampai ribuan kali, di hina, caci maki, dia tidak perduli. Dia sudah kebal dengan itu semua meski kadang menyakitkan dan sangat menusuk hati. Tapi semua itu tidak sebanding dengan kenyataan getir saat dia harus berpisah dengan pria yang tak lain sang ayah dari kedua putrinya yang tercinta. Sebenernya dia tidak memikirkan untuk membina rumah tangga kembali untuk saat ini, tapi jika Allah SWT berkehendak lain dia tidak bisa menolaknya. Nasib masih bisa dirubah tapi siapa yang bisa merubah takdir? saya? anda? kalian? wallahu alam.

Karena Alana, Alena dan bi Minah sudah tidur cukup lama waktu di mobil, malam itu mereka bertiga bergadang sampai pagi menonton tv, main hp sembari ngemil. Tidak dengannya yang langsung tepar, setelah tidak lama balas chat pria berkepala plontos yang basicnya humoris.

Dinginnya di pagi itu sampai terasa menusuk ke tulang belulang setelah kemarin hujan semalaman, padahal sudah jam delapan. Bi Minah sedang menyiapkan sarapan seperti pesan majikannya sebelum tidur, meskipun hanya buat sarapan instan, bubur ayam instan rasa ayam bawang dan soto, kopi dan susu.

Dengan suara pelan sambil memeluknya, kedua putrinya mencoba membangunkannya.

"Mih, wake up for breakfast."

Dia ngelilir sambil memeluk balik kedua putrinya, masih dengan mata yang tertutup.

"Morning my baby, what time now?" tanyanya dengan suara lemas.

"Eight, mih." sahut mereka serempak.

Mereka berdua langsung menciumi pipinya, keningnya, wajahnya semua diciumi abis sampai dia membuka matanya. Terus menciumi balik kedua putrinya, mengawali pagi ini dengan canda dan tawa. Bi Minah tersenyum lebar melihatnya.

Semua aktifitas dari berendam air panas lagi, sarapan, telah selesai dan hari sudah menjelang siang. Sebelum berangkat pulang ke Jakarta mereka berempat duduk di kursi yang ada di teras villa, hanya untuk menikmati suasana perkampungan yang asri, udaranya masih segar dan bersih, jauh dari kata polusi. Flower sudah pasti sembari merokok, ngopi, dan mengecek ponselnya. Banyak pesan yang masuk dan panggilan telepon yang tidak terjawab, saat membuka pesan line yang masuk ada beberapa yang membuatnya terkejut, dia menggeleng-gelengkan kepala dan tak berhenti mulutnya berdecak.

"Mereka masih saja kirim chat yang menghina, mengancam apa mereka gak ada kerjaan? sibuk banget kayanya mereka. Iya sibuk, sibuk urusin aku huh! Disuruh datengin aku gak mau tapi terus saja chat bla bla bla ... Malas aku ladeninnya toh bukan salah aku. Suami mereka sendiri yang datang aku cuma tahunya kerja cari duit. Mereka boking di room aku temenin minum, nyanyi, joget, kalau ada yang ngajak ngamar ya aku ngamar, kelar! Rejeki gak boleh di tolak ya kan, terus salah aku gitu? Dasar nenek-nenek gayung! Coba mereka yang di posisi aku." gerutunya kesal, ia memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam.

Huft! Hela nafasnya berat berulang kali.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED