"Jonas! Dia hanyalah seorang pencuri!" Suara Talitha terdengar mendesak, rasa jengkelnya meluap-luap. "Kita harus menghubungi polisi sekarang!"
Salma, yang selalu berpura-pura bijak, melangkah maju sambil menghela napas. "Ayah, Ibu, jangan langsung mengambil kesimpulan. Mungkin ini hanya salah paham. Mungkin Kak Yolanda memasukkan gelang itu ke dalam tasnya tanpa menyadarinya. Aku yakin dia tidak bermaksud begitu."
"Apa? Dia tidak sengaja? Apa kamu serius mengatakan bahwa gelang itu jatuh begitu saja ke dalam tasnya? Ini bukan sekadar perhiasan, ini adalah karya asli Yeni, sebuah mahakarya sejati. Tak tergantikan. Yolanda tahu persis betapa berharganya gelang itu. Semua orang bisa melihat dengan jelas dia adalah seseorang yang serakah. Persis seperti yang aku takutkan! Tidak peduli berapa lama kita membesarkannya, kita tidak bisa mengubah sifatnya."
Kata-kata Talitha menyambar seperti cambuk, meneteskan penghinaan.
"Ibu, biarkan saja, sungguh," ucap Salma dengan suara lembut, nadanya hampir terdengar mengasihani. Dia menoleh ke arah Yolanda sambil menghela napas, bibirnya melengkung menjadi senyum simpatik. "Jika dia sangat menyukainya, biarkan dia mengambilnya. Lagi pula, kita tidak akan bertemu dengannya lagi. Meskipun aku tidak dapat menyangkal gelang ini adalah gelang yang istimewa bagiku. Yeni adalah idolaku dan desainnya sangat berarti bagiku."
Yolanda menyaksikan tingkah mereka dalam keheningan, ekspresinya tidak terbaca. Setiap kata dan gerakan disampaikan dengan ketepatan seperti aktor berpengalaman.
Jika mereka memutuskan untuk meninggalkan kehidupan mewah mereka, mereka bisa sukses besar menjadi aktor. Kekonyolan dari situasi itu hampir membuatnya tertawa.
Dia dengan tenang membungkuk dan mengambil gelang itu, membiarkan kilauannya terpancar di bawah cahaya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia mendekati Salma, mengangkat gelang itu ke wajahnya. "Perhatikan baik-baik," ucap Yolanda dengan tenang. "Baca apa yang terukir di sini."
Senyum Salma goyah, rasa percaya dirinya memudar ketika dia mulai merasa ragu. Sambil menyipitkan mata, dia mencondongkan tubuh lebih dekat, tatapannya tertuju pada ukiran itu. Ukiran elegan itu jelas terbaca sebagai, Y.R.
"Bagaimana ... bagaimana mungkin?" Salma tergagap, suaranya tersendat-sendat karena keterkejutannya sesaat menyelinap di balik ekspresi tenangnya.
"Bukankah kamu adalah penggemar setia karya Yeni, Salma? Harusnya kamu tahu bahwa seri perhiasan ini dirancang dengan opsi untuk ukiran khusus, setiap gelang dibuat unik untuk pemiliknya. Tidak hanya itu, sebagai perhiasan edisi terbatas, setiap gelang memiliki kode identifikasi. Tidak mungkin diduplikasi." Yolanda tersenyum kecut. Nada bicaranya tenang, tetapi dibumbui dengan ejekan tajam, seperti pisau yang diasah dengan sempurna.
Sebelum Salma bisa menjawab, suara langkah kaki yang tergesa-gesa memecah keheningan. Seorang pelayan menuruni tangga, menggenggam gelang lain di tangannya.
"Nona Salma, apakah ini gelang yang Anda cari?"
Ruangan itu menjadi hening, semua mata tertuju pada gelang di tangan sang pelayan.
Salma dengan cepat menenangkan diri, memaksakan senyum di wajahnya, dan menghela napas lega. "Oh, itu dia! Aku tidak percaya gelang itu ada di sini selama ini. Betapa bodohnya aku!"
Suaranya kental dengan keceriaan yang dipaksakan, tetapi pikirannya berkecamuk, kepanikan menggelegak di bawah permukaan. Apa yang terjadi? Dia yakin dia telah menyelipkan gelang itu ke dalam tas Yolanda.
Tatapan dingin Yolanda tertuju pada Salma, seringai di bibirnya dingin dan merendahkan. "Nah, Salma, apa kamu masih berpikir aku mencuri gelang berhargamu itu? Apa kamu yakin ingin melibatkan polisi?"
Sikap tenang Salma goyah sesaat sebelum dia menjawab, "Gelang ini sangat mahal. Katakan padaku, Kak Yolanda, bagaimana mungkin kamu bisa membeli sesuatu seperti ini? Kecuali ...." Dia terdiam, senyumnya berubah menjadi seringai kejam. "Kecuali jika kamu menggunakan cara yang kurang ... terhormat. Bagaimanapun juga, beberapa gadis zaman sekarang akan melakukan apa saja demi mendapatkan apa yang mereka inginkan."
Senyum Yolanda menajam menjadi pisau, matanya berkilat dengan jijik. "Kamu sepertinya tahu betul tentang hal itu, Salma. Katakan padaku, apakah kamu mengatakan itu berdasarkan pengalaman pribadi? Apakah kamu menjual dirimu sebelum bergabung kembali dengan Keluarga Rahardi? Apakah itu sebabnya kamu begitu paham dengan rinci?"
Wajah Salma memerah, mulutnya membuka dan menutup karena amarah yang meledak-ledak. "Kamu ... kamu membuat tuduhan yang tidak berdasar!"
"Yolanda, dasar jalang kecil!" bentak Talitha, wajahnya mengernyit karena marah ketika dia memukul sandaran lengan. "Beraninya kamu bicara seperti itu pada Salma? Keluar dari rumah ini! Keluar dari keluarga ini! Dan jangan pernah kembali!"
Senyum Yolanda semakin tajam, memancarkan perlawanan. Matanya berkilauan dengan tekad yang dingin. "Kalian bisa berlutut dan memohon padaku, tapi aku tidak akan menginjakkan kaki di tempat ini lagi," ucap Yolanda dengan tegas.
Berbalik, dia menyampirkan tas hitamnya yang sudah usang di bahunya dan melangkah menuju pintu. Dia tidak ragu-ragu, juga tidak menoleh ke belakang lagi. Baginya, Keluarga Rahardi dan kepura-puraan mereka yang hampa adalah bab yang telah dia tinggalkan dalam hidupnya. Dia tidak merasakan kesedihan, hanya kelegaan. Sandiwara itu sudah berakhir.
"Akhirnya!" ucap Talitha sambil mendengus di belakangnya, kata-katanya meneteskan racun.
Dia merosot ke kursinya dan mengembuskan napas dalam-dalam, bibirnya melengkung membentuk senyum puas. Dalam benaknya, keluarga ini akhirnya terbebas dari beban yang tidak diinginkan.
Yolanda berjalan keluar, menyambut udara malam yang segar, meninggalkan vila itu di belakangnya. Ponselnya bergetar di sakunya dan dia menjawabnya tanpa menghentikan langkahnya.
"Kak Yolanda, kudengar mereka mengusirmu?" Suara Burhan Hibatul terdengar tajam, penuh dengan kegelisahan.
"Benar," jawab Yolanda datar, nadanya tenang tetapi tegas.
Untuk sesaat, tidak terdengar apa pun dari ujung telepon, lalu suara Burhan mengeras.
"Orang-orang itu benar-benar tidak tahu malu!" Suara Burhan terdengar dari ujung telepon, penuh dengan amarah. "Mereka tidak tahu terima kasih. Tanpamu, Jonas tidak akan bisa bangkit dari keterpurukan. Mereka bahkan tidak menyadari bahwa kamu adalah alasan kesuksesan mereka ...."
"Sudah cukup," sela Yolanda, suaranya tenang tetapi tegas. "Ada kabar terbaru tentang orang tua kandungku?"
Jonas telah mengatakan bahwa itu adalah kesalahan dari pihak rumah sakit, bukan tindakan pengabaian yang disengaja. Hal itu terus membayangi pikiran Yolanda, mendorong tekadnya untuk menemukan keluarganya.
Burhan mengembuskan napas panjang, menahan rasa jengkelnya. "Ya, pencarian sedang berlangsung. Kita akan segera mendapatkan hasil yang konkret."
"Bagus," jawab Yolanda dengan singkat, menutup panggilan tanpa berkata apa-apa lagi.
Saat dia mendekati jalan utama, aroma logam yang tajam terbawa angin dingin, membelah udara malam.
Dia berhenti, alisnya berkerut ketika rasa gelisah merayapi bagian belakang lehernya.
Sosok seseorang muncul dari bayang-bayang, berjalan terhuyung-huyung ke arahnya. Kemeja putih orang itu berlumuran darah, warna merah menodai dada dan tangannya. Setiap langkah yang diambilnya tampak sangat berat dan kekuatannya terlihat memudar.
"Berhentilah berlari, pengecut! Terimalah nasibmu!" teriak suara mengancam dari belakangnya.
Pandangan Yolanda mengarah ke sumber keributan. Sekelompok pria berpakaian hitam mengikuti pria yang terluka itu, seolah-olah mereka adalah binatang buas yang mendekati mangsanya. Tujuan mereka tampak jelas.
Pria yang terluka itu, Aditya Batista, berhenti sejenak, tubuhnya terhuyung tetapi sikapnya tetap menantang. Wajahnya pucat, napasnya pendek, tetapi suaranya seperti baja. "Kalian bekerja untuk siapa?"
"Diam! Cukup dengan basa-basinya." Pria itu kemudian berbalik ke rekan-rekannya. "Ayo, kita habisi dia."
"Tunggu." Seorang pria lain tiba-tiba berhenti, mengalihkan tatapannya ke samping. "Ada orang lain di sini."
Yolanda membeku ketika semua mata tertuju padanya.
Jantungnya terasa tenggelam. Sempurna. Bagus sekali. Hari ini bencana menimpanya bertubi-tubi.
Sangat jelas bahwa orang-orang ini tidak berniat untuk disaksikan oleh siapa pun.
Sumber nasib sialnya berdiri di hadapannya, seorang pria berlumuran darah berjalan terhuyung-huyung ke arahnya.
Sang pemimpin kelompok itu, seorang pria yang besar dengan seringai kejam, melangkah maju ke arahnya. Matanya mengamatinya untuk waktu yang lama sebelum bibirnya melengkung membentuk senyum menjijikkan.
Rekan-rekan di sekelilingnya tertawa kecil, memancarkan niat keji.
"Jangan takut, Sayang," ucap salah satu pria itu, nadanya mengejek ketika tatapannya tertuju padanya. "Setelah kami menangani orang ini, kami akan menjagamu dengan baik. Apa pun yang diinginkan hati kecilmu yang cantik itu, semuanya akan menjadi milikmu."
Yolanda tidak tersentak. Matanya dingin dan penuh perlawanan, menatap mata pria itu dengan intensitas yang membekukan udara di antara mereka. Dia mengucapkan satu kata, suaranya rendah dan memerintah, memotong ketegangan seperti pisau. "Enyah."
Para pria itu menatap satu sama lain dengan geli, masih mencemooh, tetapi tawa mereka tersendat ketika mereka menangkap kilauan tegas dalam penerangan yang redup di tempat itu.
Di tangannya, satu set jarum panjang dan ramping berkilauan, ujungnya tajam dan tampak kuat.
Yolanda tersenyum mengejek, tatapannya menajam menjadi sesuatu yang mematikan. Sebelum salah satu dari mereka dapat menyadari perubahan posisi tubuhnya, dia sudah bergerak dengan cepat ke arah mereka. Dengan ketepatan yang luar biasa, lengannya melengkung di udara, jarum-jarumnya mengiris kegelapan seperti garis-garis cahaya.
Setiap jarum itu menemukan sasarannya dengan akurasi yang tak tertandingi, tenggorokan, bahu, kaki, targetnya dilumpuhkan sebelum satu teriakan pun bisa keluar dari bibir mereka.
Satu per satu, para pria itu jatuh ke tanah, senjata mereka terlepas dari tangan mereka. Kepercayaan diri sebelumnya kini ditelan keheningan yang mencekam ketika mereka perlahan kehilangan kesadaran mereka.
Aditya, yang masih berusaha untuk tetap berdiri tegak, menatap pemandangan itu dengan mata terbelalak.
Siapa wanita muda ini?
Gerakannya sangat tepat, penuh perhitungan, jauh melampaui apa pun yang pernah dia lihat sebelumnya. Tidak hanya terampil. Wanita muda ini luar biasa!
Yolanda melirik sekilas ke arah para pria yang terkapar di tanah sebelum mengalihkan pandangannya ke pria yang terluka itu.
Kontur wajahnya sangat mencolok, matanya gelap dan dingin, ekspresinya menjaga jarak dan kaku, seolah-olah diukir dari batu.
Meskipun terlihat pucat dan kesakitan, pria itu tampak tenang dan tegar.
Yolanda berniat untuk pergi, meninggalkan pemandangan yang kacau ini di belakangnya. Namun, ada sesuatu di dalam dirinya yang membuatnya ragu-ragu. Salah satu kelemahannya, kelembutan hati, menghalanginya.
Menghela napas pasrah, dia berlutut di samping pria itu dan memeriksa luka-lukanya.
"Terima kasih," ucap Aditya, suaranya pelan tetapi mengandung terima kasih yang tulus.
"Tidak masalah," jawab Yolanda dengan tenang, meskipun tindakannya menunjukkan sebaliknya.
Saat dia memeriksa denyut nadinya, alisnya berkerut.
Pendarahannya, meskipun parah, bukanlah masalah paling mendesak yang dihadapi pria ini. Denyut nadinya lemah dan tidak menentu, tanda bahwa racun telah mengalir melalui pembuluh darahnya.
Yolanda membuka tasnya dan mengambil sebuah botol porselen kecil. Setelah membuka tutup botol itu, dia menaburkan bubuk obat halus di atas luka-luka yang berdarah. Hampir seketika, pendarahannya melambat dan rasa dingin yang menenangkan menggantikan rasa perih pada tubuhnya.
Dia kemudian mengeluarkan sebuah pil kecil dan menyerahkannya pada pria itu.
"Jangan khawatir. Ini akan menangkal racun. Jika tidak diobati tepat waktu, kamu tidak akan selamat," ucap Yolanda, nadanya tenang.
Aditya ragu-ragu, matanya yang tajam menatap Yolanda seolah-olah mencoba mengungkap niatnya.
Yolanda kembali membalut luka-lukanya dengan efisien. Saat dia selesai, seseorang mencapai mereka. Dia menoleh untuk melihat sekelompok orang mendekat. "Tuan Aditya ...."
"Mereka orang-orangku," ucap Aditya, mengembuskan napas lega. Bahunya sedikit lebih rileks, postur tubuhnya tidak lagi tegang.
Yolanda berdiri. "Karena mereka sudah tiba, aku akan pergi," ucap Yolanda, sudah berbalik untuk pergi.
"Nona," panggil Aditya, nadanya lebih lembut sekarang. "Setidaknya beri tahu aku namamu, jadi aku bisa membalas kebaikanmu."
"Itu tidak perlu," jawab Yolanda dengan singkat, suaranya dingin tetapi tegas.
Sebelum Aditya bisa mengucapkan sepatah kata pun, dia sudah pergi. Dia tidak bisa terlibat dalam masalah seperti itu.
Setelah diselamatkan, tatapan tajam Aditya tertuju pada sosok Yolanda yang menjauh, rasa penasaran mewarnai wajahnya yang tadinya kaku.
Bagaimana bisa wanita muda itu menentukan racun yang ada di tubuhnya hanya dengan merasakan denyut nadinya?
Ketepatannya, ketenangannya yang tak tergoyahkan, dan keahliannya yang nyata, semuanya tidak masuk akal.
Satu hal yang pasti, selama wanita muda itu masih berada di Egal, dia akan menemukannya lagi.
Yolanda berjalan pergi tanpa menoleh ke belakang, fokusnya sudah beralih ke langkah selanjutnya dalam perjalanannya.
Pikirannya diinterupsi oleh dengungan lembut sebuah mobil yang mendekat. Sebuah Rolls-Royce yang mulus dan didesain khusus berhenti di depannya, eksteriornya yang mengilap tampak berkilauan bahkan di bawah lampu jalan yang redup. Yolanda membeku sejenak, dia hanya pernah melihat kemewahan seperti itu di majalah dan televisi.
Pintu mobil itu terbuka dengan mulus dan seorang pria paruh baya melangkah keluar. Gerakannya sangat hati-hati, postur tubuhnya sangat rapi, dan ekspresinya menunjukkan rasa hormat yang tenang. "Nona Yolanda, akhirnya kami menemukan Anda! Saya Septian Handoyo, kepala pelayan Keluarga Herlangga. Atas permintaan Tuan Karni dan Nyonya Dhea, saya di sini untuk mengantar Anda pulang."
"Aku? Nona?" tanya Yolanda, suaranya terdengar tidak percaya. Apa yang sedang dia bicarakan?
Keluarga Rahardi telah mengatakan bahwa orang tua kandungnya adalah penduduk desa yang miskin dari daerah terpencil di Puga.
Namun, sekarang berdiri seorang pria yang sikapnya dan mobil yang ditumpanginya hanya menunjukkan kekayaan dan kemewahan.
"Ya, Anda!" ucap Septian mengonfirmasi, nadanya terukur tetapi hangat. "Anda adalah putri tertua dari Keluarga Herlangga. Ibu Anda cukup emosional dan hampir pingsan ketika mengetahui keberadaan Anda dan ayah Anda memerintahkan saya untuk memastikan Anda pulang dengan selamat. Tolong, ikutlah dengan saya."
Dengan ekspresi tenang tetapi penuh rasa hormat, Septian melangkah maju dan membukakan pintu mobil untuknya.
Pikiran Yolanda berkecamuk. Mungkinkah penyelidikan Keluarga Rahardi telah salah, atau sengaja menyesatkannya?
Kebingungannya berubah menjadi tekad. Dia selalu berniat untuk menemukan orang tua kandungnya. Jika seseorang datang untuk membawanya pada mereka, kenapa dia harus ragu?
Sambil menarik napas dalam-dalam, dia melangkah masuk ke dalam mobil. Pintu terkunci dengan suara lembut dan mobil melaju pergi dari tepi jalan.
Kompleks Vila Etel adalah kawasan paling mewah di Egal, sebuah perumahan eksklusif yang hanya terdiri dari dua belas hunian mewah, yang masing-masing dihuni oleh tokoh-tokoh paling berkuasa dan berpengaruh di kota itu.
Saat mobil meluncur di jalan pribadi yang berliku menuju kawasan vila eksklusif tersebut, suara Septian terdengar penuh semangat. "Nona Yolanda, Anda memiliki seorang kakak laki-laki bernama Kenzo Herlangga dan seorang adik perempuan bernama Belia Herlangga. Orang tua Anda sangat merindukan Anda. Selama bertahun-tahun, mereka telah menjelajahi negeri ini, tanpa henti-hentinya mencari Anda."
Dia terdiam sejenak, nadanya melembut ketika melanjutkan, "Tuan Karni berasal dari Puga. Puluhan tahun yang lalu, dia dan Nyonya Dhea kembali ke sana untuk memberi penghormatan pada leluhur mereka. Dalam perjalanan itulah Anda dilahirkan di rumah sakit setempat. Tapi terjadi tragedi di luar kendali mereka yang menyebabkan Anda menghilang tak lama setelah lahir. Tuan Karni mencari tanpa lelah, tapi ketika mereka tidak menemukan jejak, mereka terpaksa kembali ke Egal. Meskipun hati mereka hancur, mereka mengubur kesedihan mereka dan menyalurkan energi mereka untuk membangun warisan mereka."
Ada jejak rasa bangga dalam suaranya sekarang. "Dan mereka menciptakan warisan yang luar biasa! Selama bertahun-tahun, Keluarga Herlangga telah menciptakan sebuah kerajaan, menjadi keluarga terkaya di Egal. Pencapaian mereka luar biasa, tapi mereka tidak pernah berhenti berharap untuk menemukan Anda."
Yolanda tidak mengatakan apa pun, pikirannya berputar-putar ketika kata-kata Septian memunculkan potongan-potongan masa lalu yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya.
Tak lama kemudian, mobil itu melambat dan berhenti di sebuah vila luas yang tampak menjulang dari lanskap seperti sebuah lukisan.
Saat pintu terbuka, Yolanda melangkah keluar, tatapannya menyapu pemandangan di hadapannya. Dua orang muncul dari pintu masuk yang megah, wajah mereka memancarkan emosi yang terlalu dalam untuk disembunyikan.
Sang pria memancarkan aura yang halus, wajahnya yang tegas menjadi lebih lembut oleh aura keanggunan yang bersahaja. Di sampingnya, sang wanita tampak anggun, setiap gerakannya penuh perhitungan dan begitu tenang.
Saat Dhea Hardiman menatap Yolanda, ketenangannya lenyap dalam sekejap. Air matanya mengalir deras ketika dia bergegas maju, menyelimuti Yolanda dengan pelukan yang kuat dan tulus. "Yolanda, putriku tersayang," bisik Dhea, suaranya bergetar karena haru. "Akhirnya kami menemukanmu. Selama bertahun-tahun ... kamu pasti telah begitu menderita. Ini adalah kesalahan kami. Kami gagal melindungimu."
Saat dia memeluk Yolanda erat-erat, mata Dhea menyapu wajahnya, terkejut ketika melihat kemiripan yang tak terbantahkan. Pada saat ini, Dhea dalam hati bersumpah bahwa putrinya tidak akan pernah melalui hal seperti itu lagi.
Tubuh Yolanda menegang, tidak terbiasa dengan curahan kasih sayang seperti itu. Pelukan Dhea terasa asing, hampir membuatnya kewalahan. Namun, ada sesuatu dalam kehangatan itu yang perlahan-lahan mulai menggerogoti pertahanannya, membuatnya diam tetapi tidak lagi tegang.
"Aku baik-baik saja," gumam Yolanda, mengatakannya lebih untuk menenangkan emosi Dhea alih-alih mencerminkan emosinya sendiri.
Dhea dengan enggan melepaskan pelukannya, matanya berkaca-kaca karena air mata yang tak tertahankan. "Yolanda, aku berjanji padamu: mulai sekarang, tidak ada dan tidak seorang pun akan menyakitimu lagi."
Karni Herlangga berdiri di dekatnya, sikapnya yang biasanya tenang kini tampak retak oleh kilauan air mata yang menggenang di matanya. Dia berdeham, suaranya stabil tetapi kental dengan emosi. "Kamu sudah pulang sekarang, Yolanda. Itulah yang terpenting. Mari masuk ke dalam."
Ketiganya melangkah masuk ke dalam vila.
Berdiri tepat di ambang pintu, Belia menyaksikan interaksi itu berlangsung, dia menatap ke bawah ketika sekelebat rasa dingin melintas di matanya sebelum dia menyembunyikannya.
Dia dengan cepat menenangkan diri dan menyunggingkan senyum sopan, meskipun sedikit getaran dalam suaranya menunjukkan perasaannya yang sebenarnya. "Kak Yolanda, selamat datang di rumah," ucap Belia, suaranya terukur dan hati-hati. "Aku Belia."
Saat Belia melihat Yolanda, kemiripan yang luar biasa antara dirinya dan Dhea mengungkapkan semua hal yang perlu dia ketahui, Yolanda adalah anggota Keluarga Harris.
Saat Belia melirik ke wajah Yolanda, ada sesuatu yang terpancar di matanya, sebuah kilatan kebencian.
Setelah menenangkan diri, Dhea tersenyum hangat dan mulai memperkenalkan mereka. "Yolanda, ini Belia, putri angkat kami. Mulai sekarang, dia adalah adik perempuanmu. Kakak laki-lakimu, Kenzo, sedang berada di luar negeri untuk urusan bisnis, tapi dia akan segera kembali. Sementara nenekmu sedang berlibur dan akan kembali pada akhir bulan ini."
Yolanda mengangguk pelan, ekspresinya tenang tetapi tak bisa dibaca. Keluarga sebesar ini pasti memiliki hubungan yang rumit dan agenda tersembunyi, dia sangat memahami hal itu. Dalam hati, dia memutuskan untuk meminta Burhan menggali lebih dalam tentang sejarah Keluarga Herlangga ketika ada kesempatan.
"Oh, Yolanda, ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu," ucap Dhea tiba-tiba, matanya berbinar-binar penuh semangat. Dengan anggun, Dhea melepaskan gelang zamrud dari pergelangan tangannya.
"Aku selalu memakai gelang ini dan sekarang, aku ingin kamu memilikinya."
Dhea tidak dapat mengingat dengan jelas rinciannya, tetapi dia tahu bahwa gelang itu diberikan padanya oleh seseorang yang sangat berarti dan sejak saat itu, dia sangat menghargai gelang itu.
Yolanda ragu-ragu, beban dari tindakan itu membuatnya lengah. Gelang itu tidak hanya cantik, tetapi juga bernilai tinggi. Dia tahu seberapa berharganya gelang itu.
"Ini terlalu berlebihan," gumam Yolanda dengan hati-hati. "Aku tidak bisa menerima sesuatu yang begitu berharga."
"Sayang, semua yang aku miliki suatu hari nanti akan menjadi milikmu. Ini hanyalah contoh dari apa yang akan kamu terima di masa depan."
Sebelum Yolanda bisa memprotes lebih jauh, gelang itu sudah terpasang di pergelangan tangannya. Zamrud yang berkilau itu tampak menonjol di kulitnya, sangat cemerlang.
Dari seberang ruangan, senyum Belia membeku di wajahnya. Jari-jarinya bergerak-gerak sebelum mengepal, kukunya menancap di telapak tangannya hingga membuat tangannya perih dan mati rasa.
Sungguh tidak adil!