HAPPY READING
***
Naomi memandang Tigran duduk di hadapannya, di samping pria itu ada Kayla putrinya. Bisa-bisanya Kayla terlihat akrab dengan pria yang baru di temuinya. Ia bingung harus berbuat apa karena selama ini ia tidak pernah dekat dengan pria manapun.
Semakin ke sini ia tidak kepikiran untuk menjalin sebuah hubungan dengan seorang pria. Di dalam benaknya saat ini adalah membesarkan Kayla dan membahagiakannya. Pernikahannya yang dulu membuatnya trauma yang mendalam. Lagi-lagi ia tidak ada kepikiran untuk menikah lagi, karena ia belum siap akan kemungkinan-kemungkinan terjadi dalam hidupnya.
Kadang ia berperang dengan hati dan pikirannya sendiri karena terlalu lelah hidup sendiri, menyelesaikan masalah sendiri, berdiskusi pada diri sendiri. Ia juga pernah berpikir bahwa, ia butuh teman untuk bertukar ide, dan menjalani hari indah bersama pasangan. Namun ia kembali mengingat masa lalu, pikiran-pikiran negative masih ada dalam dirinya. Dunia pernikahan tidak seindah yang dibayangkan.
Ada beberapa teman dan kliennya bercerita prihal rumah tangganya. Banyak sekali kisah-kisah menyeramkan, mulai dari selingkuh, mertua yang jahat, ipar yang selalu ikut campur dan suami yang otoriter. Semua kisah rumah tangga memiliki masing-masing cerita.
Ia pernah menikah, namanya menjalin hubungan, pernikahan itu sampai kapanpun tidak terlepas dari namanya pertengkaran. Mau menikah yang sudah matang dan finansial yang baik, tetap sama saja, pasti ada perbedaan. Jika melihat rumah tangga yang harmonis kemungkinan ada dua. Mereka pandai menyembunyikan masalah dan mereka mengimbangi pasangan ketika salah satu dari mereka marah.
“Papi, itu apa?” Tanya Kayla kepada salah satu bungkusan berwarna pink bertulisan huruf A.
“Ini biscuit, kamu mau coba?” Tanya Tigran memperlihatkannya kepada Kayla.
“Mau.”
Tigran lalu memandang Naomi, Naomi menatapnya balik, “Tenang saja ini biscuit aman untuk di makan balita seperti Kayla. Biscuit ini diproduksi dengan bahan-bahan premium, memang dikhususkan untuk si kecil.”
Naomi memperhatikan bukusan bertulisan Yummy Bites berwarna pink. Ia baru melihat biscuit itu dan di sana tertera tulisan apple flavor, di sana terdapat nama lebel terpercaya yaitu Mayori. Ah, siapa tidak kenal dengan perusahaan yang memprodusen sekelas Mayori.
“Ini produk baru saya. Saya akan merilis biscuit ini dipasar luas. Kamu mau mencobanya?” Tanya Tigran lagi kepada Naomi, karena Naomi terlihat sangat mengawasi apa yang di makan Kayla. Ia yakin Naomi ibu yang baik, karena memperhatikan asupan makan anaknya.
“Kamu kerja di sana?”
“Bukan, tapi saya pemiliknya. Sebenarnya itu perusahaan turun temurun, namun saat ini orang tua saya mempercayakan saya untuk mengelolanya.”
Alis Naomi terangkat ia tidak percaya bahwa pria bernama Tigran itu adalah pemilik dari perusaha terbesar di Indonesia. Bahkan semua produk yang di produksi dari Mayori ada di isi dapurnya. Ia menelan ludah, ia memandang Kayla meraih biscuit itu dan memasukan ke dalam mulutnya.
Naomi sebenarnya takut jika ada orang asing memberi makanan untuk anaknya, ia harus aware dengan dirinya sendiri. Ia tidak tahu apakah pria itu pemilik dari Mayori atau bukan, karena sekarang banyak sekali kasus penipuan.
“Kamu ragu?” Tigran memperhatikan gestur tubuh Naomi.
“Ah, enggak,” ucap Naomi.
Naomi sudah terlanjur melihat Kayla sudah memasukan biscuit itu ke dalam mulutnya, ia lalu mengambil biscuit itu dan melihat tekstur nya seperti biscuit pada umumnya. Ia memasukan ke dalam mulutnya, rasanya sangat enak, susunya terasa dan sangat renyah, sangat cocok untuk balita seperti Kayla.
“Papi, mau lagi,” ucap Kayla.
Tigran tersenyum, ia mengelus puncak kepala Kayla ia menyerahkan bungkusan itu kepada Kayla. Membiarkan Kayla memakannya. Ia melihat Kayla memakan itu sambil menggoyangkan kaki, karena rasanya selezat itu.
Selama ini Naomi memang tidak membiasakan Kayla memakan snack dengan bumbu MSG. Namun biscuit khusus balita ini pengecualian.
“Di pabrik banyak, nanti papi kirim satu kotak buat Kayla.”
“Beneran papi?”
“Iya, bener!”
Kayla melompat kegirangan, ia memeluk lengan Tigran, “Makasih ya, papi. Kayla seneng akhirnya, Kayla punya papi,” seru Kayla.
Ada terbesit bahagia melihat ada seorang balita cantik menyebutnya papi. Jiwa menjadi seorang ayah dalam dirinya keluar begitu saja. Jujur ia merasa lebih jantan dihadapan Kayla dibanding dengan ribuan karyawan di perusahaanya. Sebutan papi tersemat dalam dirinya begitu luar biasa, ia merasa menjadi figure seorang ayah. Rasa bahagia ini sulit ia tuangkan ke dalam kalimat.
“Mami minum,” ucap Kayla.
Naomi mengambil gelasnya, namun Tigran menahan tangannya, kulit mereka bersentuhan beberapa detik. Sentuhan itu seolah memberi aliran listrik ke dalam tubuhnya.
“Maaf, sebaiknya saya saja. Kayla ada di samping saya,” Tigran memberi alasan.
“Ah, iya,” Naomi menyerahkan gelas berisi air mineral itu kepada Tigran, dan membiarkan pria itu melakukanya.
Naomi masih memperhatikan pria bernama Tigran, sejujurnya ia masih shock atas kehadiran pria itu. Namun pria itu sudah mencuri hati Kayla, jadi ia tidak tega menjauhi Kayla dan Tigran. Setelah ini ia akan mengatakan kepada Kayla agar tidak untuk terlalu percaya dengan pria yang baru ditemuinya.
“Kamu kerja di mana?” Tanya Tigran membuka topik pembicaraan, ia yakin wanita bernama Naomi ini adalah seorang wanita karir, dilihat dari penampilannya dan leptop yang sudah tertutup di hadapannya.
“Saya reseller tas,” Naomi mengambil kartu nama di dalam tasnya, jika pria itu benar seorang pemilik Mayori, maka ini kesempatan dirinya memperkenalkan bisnisnya. Mungkin pria itu bisa membantunya menjalankan bisnisnya dengan pasar yang luas. Walaupn bukan tidak masalah, karena apa salahnya memperkenalkan produk yang dijualnya.
Tigran mengambil kartu nama itu dari tangan Naomi, ia membaca nama lengkap tertera di kartu nama itu bertulisan Naomi Olaf, dia merupakan owner dari Zalori, ia melihat di sana tertera alamat kantor, situs web dan nomor ponsel bisnis.
“Tas branded?” Tigran memastikan kepada Naomi.
“Iya.”
Tigran tahu betul tas branded sangat popular dikalangan sosialita, selebriti dan istri pejabat. Ia tahu bahwa tas yang ada di meja itu produk original yang paling popular dan disukai wanita Indonesia. Ia sebenarnya tidak terlalu paham dengan masalah tas, biasanya adik dan mamanya di rumah sering ke store Hermes, Prada, Gucci, Chanel, LV, bahkan koleksinya di simpan di lemari kaca dan katanya penuh dengan perawatan extra. Ia yakin wanita seperti Naomi, tidak kekurangan apapun dalam dirinya. Ia hanya ingin tahu apa status Naomi. Apa wanita berstatus janda atau bukan.
“Saya merasa terhormat bisa berkenalan langsung dengan pemilik Zalori.”
“Kamu tahu Zalori?”
“Tidak terlalu tahu, hanya saja sering lihat berseliweran di branda google dan youtube saya.”
“Ah, iya. Tim marketing saya memang mengiklankannya di semua social media.”
“Storenya di mana.”
“Ada di Senayan City, Taman Anggrek dan Central Park. Cuma di situ saja.”
“Tapi yang kamu sebutkan dari mall besar di Jakarta. Kamu pasti sudah sukses menjalani bisnis ini.”
“Thank you. Tapi banyak penjualan di marketplace.”
“Sekarang marketplace merajai pasar. Pergerakannya sangat masif, untuk asean saja trafik nya naik hingga 87 persen. Nilai belanja daring semakin popular di tanah air. Ada 132,7 juta pengguna internet menggunakannya.”
“Really? Kamu tahu data-datanya?”
Tigran tertawa, “Saat meeting, kita selalu membahas ini. Produk-produk asing seperti shopee, Alibaba, Lazada sangat gesit, menggenjot kompetisi untuk merajai pasar lokal nusantara.”
“Yah, saya percaya itu,” ucap Naomi.
“Papi.”
Otomatis Tigran menoleh memandang Kayla, “Iya, sayang,” ucap Tigran.
“Habis. Tangan Kayla kotor,” ucap Kayla memperlihatkkan tangannya kotor dengan remahan biscuit.
“Yaudah, kita ke wastafel bersihin tangan Kayla.”
“Iya, pi,” ucap Kayla.
Naomi memandang Kayla dan Tigran menuju wastafel. Ia melihat Tigran membantu Kayla membersihkan tangannya yang kotor. Ia masih memperhatikan putrinya, terlihat jelas wajah bahagia di sana. Setelah mencuci tangan, Tigran menggendong Kayla. Jika seperti ini, mereka bertiga terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.
Naomi melirik jam melingkar di tangannya menunjukan pukul 13.10 menit. Sudah seharusnya mereka pulang karena jam tiga Kayla ada les music di rumah.
“Sudah selesai?” Tanya Naomi kepada Kayla, ketika Tigran berada di hadapannya.
“Iya sudah, mi.”
Naomi memasukan ponselnya ke dalam tas, ia tidak bisa berlama-lama di restoran ini. Ia juga tidak akan terlena dengan pria bernama Tigran. Walaupun dia pemilik Mayori sekalipun, tidak akan membuatnya langsung jatuh hati.
“Bilang apa sama om?” Tanya Naomi.
“Makasih papi,” ucap Kayla tersenyum kepada Tigran.
“Iya, sama-sama,” Tigran mengelus puncak kepala Kayla.
Tigran menatap Naomi yang beranjak dari duduknya, wanita itu mengemasi barang-barangnya, “Kamu mau pulang?”
“Iya, jam tiga nanti Kayla ada les piano.”
Tigran memandang Naomi, “Kamu ke sini pakai apa?”
“Saya bawa mobil sendiri,” ucap Naomi.
“Saya antar kalian hingga ke basement.”
“Ah, enggak usah,” tolak Naomi.
“Mau dianter papi,” rengek Kayla.
Mata Naomi melotot, ia ingin mengakhiri pertemuan dengan Tigran di sini, namun Kayla justru menginginkan pria itu bersama mereka lagi. Oh Tuhan, kenapa Kayla susah sekali diajak kerja sama. Terlalu percaya dengan pria asing itu tidak baik.
Tigran menyungging senyum, ia lalu menggendong tubuh Kayla, “Let’s go kita pulang.”
“Tapi saya bawa mobil sendiri, Tigran,” ucap Naomi menjelaskan.
“Saya antar kalian hingga ke parkiran, Naomi.”
Naomi melihat Tigran menggendong Kayla keluar dari area restoran. Naomi mengikuti langkah itu dari belakang, lalu menyeimbanginya.
“Papi janji mau kasih biscuit untuk Kayla?”
“Iya janji, besok papi kirimin buat kamu. Kamu maunya seberapa?”
“Maunya banyak papi, nanti Kayla bagi-bagi sama temen Kayla di sekolah.”
“Besok papi kirimin ke sekolah kamu.”
“Bener?”
“Bener dong.”
“Asyik, asyik, akhirnya papi ke sekolah Kayla.”
Tigran tertawa, hingga Kayla merasakan getaran tubuh Tigran. Kayla memeluk Tigran dan menyandarkan kepalanya ke bahu bidang itu.
“Ngantuk?” Tanya Tigran, ia memencet tombol lift sambil melirik Naomi di sampingnya.
“Enggak, cuma mau peluk papi.”
Tigran mendengar itu hatinya berdesir, ia tahu pasti Kayla mendambakan sosok ayah dalam hidupnya. Ia mengelus punggung Kayla.
“Peluk papi hingga erat,” gumam Tigran.
“Iya, papi.”
Mereka masuk ke dalam lift dan lift membawa mereka menuju lantai basement tempat Naomi memarkir mobilnya. Beberapa detik kemudian pintu lift terbuka. Naomi memang sengaja memarkir mobilnya tidak jauh dari lift. Ia menekan tombol central lock, suara mobil terdengar.
Tigran menatap mobil Mercedes Benz C Class berwarna putih tidak jauh darinya. Tigran membuka hendel pintu untuk Kayla dan mendudukan Kayla di kursi. Padahal ia ingin berlama-lama dengan Naomi dan Kayla, karena ia merasa menemukan keluarga baru dalam hidupnya. Seumur hidupnya baru pertama kalinya ia merasakan kehangatan seperti ini.
“Papi nggak ikut kita?” Tanya Kayla memandang Tigran memasang sabuk pengaman untuk dirinya.
Tigran menyungging senyum, “Papi sebenarnya mau ikut kalian, tapi papi juga bawa mobil, cantik. Papi juga mau ke kantor sebentar lagi. Papi janji besok kita akan ketemu lagi di sekolah.”
“Janji?”
“Iya, janji.”
“Thank you, papi.”
“Iya, sama-sama, sayang,” ucap Tigran.
Tigran memandang Naomi yang tidak jauh darinya, “Kamu hati-hati bawa mobil.”
“Iya. Dah,” ucap Naomi.
Tigran mengangguk, “Dah.”
Tigran melihat Naomi sudah masuk ke dalam mobil. Suara mesin menyala, ia melihat Kayla melambaikan tangan ke arahnya. Ia melambaikan tangan balik dan mobil Naomi menjauh darinya. Setelah itu menghilang dari pandangannya. Ia bersumpah ia akan bertemu lagi dengan Naomi dan Kayla besok.
***
HAPPY READING
***
“Iya, Ren,” ucap Naomi, ia menyimpan tas nya di meja kamar, ia memandang Kayla sudah melesat ke dalam . Ia melihat jam menunjukan pukul 14.20 menit. Jam tiga nanti guru les Kayla akan datang. Selama ini Kayla tahu jadwalnya les piano kapan. Ia memandang Kayla sudah bersama bibi, untuk berganti pakaian dan mandi.
“Lo di mana?” Tanya Reni di balik speaker ponselnya, ia melangkahkan kakinya menuju kamar.
“Gue baru aja nyampe rumah. Kenapa?” Tanya Naomi.
“Nanti malam temenin gue ke Sofia ya.”
Naomi mengerutkan dahi, “Sofia? Ngapain?” Tanya Naomi penasaran.
“Enzo ngajak makan malam gitu, dia sama temennya. Jadi gue ngajak lo aja deh buat ke sana. Enggak enak kan kalau gue sendiri gitu perginya.”
Naomi lalu berpikir, ia lalu duduk di sofa kamar menyandarkan punggungnya di sana, apakah ia menerima ajakan Reni atau tidak. Ia tidak tahu ini murni beneran ingin dinner atau alibi saja, masalahnya Reni memang senang menjodohkan dirinnya dengan beberapa temannya.
Ia tahu sejak jaman Siti Nurbaya hingga sekarang masih cerita tentang perjodohan selalu menjadi trend. Baik keluarga dan sahabat-sahabatnya. Reni salah satu sahabatnya senang menjodohkan dirinya dengan berbagai pria berkualitas di luar sana, alasannya sepele agar ia tidak kesepian.
Untuk saat ini ia memang tidak tertarik untuk menjalin hubungan serius dengan pria manapun, jadi ia santai saja tidak perlu menanggapi terlalu serius. Ia maklumi ini hal wajar, karena statusnya single parent dan membuat siapapun merasa iba, karena terlalu lama sendiri. Namun ia tidak mempermasalahkan itu, baginya sendiri itu tidak rumit seperti berpasangan. Ia tahu hidup berumah tangga itu sangat rumit dan sulit dipecahkan. Dari pada berumah tangga menderita, lebih baik seperti ini, ia merasa bahagia.
Baginya menikah itu menghabiskan waktu sepanjang usia bersama seseorang, jadi ia harus memilih benar-benar yang terbaik. Menikah itu tentang mewujudkan tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam hidup. Tentang memegang tanggung jawab dan mempercayakan seseorang untuk bertanggung jawab terhadap kehidupan seseorang. Ia tidak ingin kejadian waktu dulu terulang lagi. Banyak sekali pertimbangan jika ia menikah lagi, yang ia pikirkan saat ini hanya fokus kerja dan Kayla.
Ia mengakui masih nyaman dengan status jandanya, lantaran tidak terikat dengan tanggung jawab sebagai istri. Dengan sendiri seperti ini, ia lebih banyak menikmati hidup, bisa jalan-jalan ke berbagai tempat. Ia bisa traveling bersama Kayla ketemu banyak orang dan benar-benar enjoy life. Ia bisa bebas, tidak ada yang melarang, dan pastinya tidak ada yang bawel.
“Lo mau nggak?” Tanya Reni lagi.
Naomi menarik nafas, di satu sisi ia malas untuk berhubungan pria dan di satu sisi ia sudah lama tidak makan malam bersama sahabatnya itu. Ia tidak enak jika sudah diajak seperti ini. Semenjak Reni bertunangan kemarin, dirinya dan Reni jarang bertemu, karena mereka sama-sama sibuk dengan pekerjaan, terlebih Reni mempersiapkan pernikahannya yang sebentar lagi dalam hitungan hari.
“Jam berapa?” Tanya Naomi.
“Jam tujuh. Nanti gue jemput lo.”
“Oke, jemput di butik Kemang aja ya.”
“Oke.”
“Lo lagi di mana?” Tanya Naomi penasaran, ia melepaskan jam tangannya, ia melangkah menuju walk in closet, menaruh jamnya di tempat semula.
“Gue lagi klink, pasien gue banyak banget. Ini gue berhenti break bentar, karena dari tadi nggak sempet makan.”
“I see, kirain di mana, soalnya berisik,” ucap Naomi terkekeh.
Reni tertawa, “Biasa sih, anak-anak therapist ada yang ulang tahun gitu, tapi udahlah biarin aja, asal di room nggak berisik aja sih.”
“Gue liat Kayla dulu ya, soalnya sebentar lagi guru les nya udah datang. Gue juga mau balik ke butik, ada kerjaan sedikit.”
“Yaudah, salam buat Kayla.”
“Iya.”
Naomi mematikan sambungan telfonnya, ia melangkah menuju kamar mandi. Ia menatap dirinya di cermin, seketika ia teringat tentang pria bernama Tigran. Pria itu tiba-tiiba akrab dengan Kayla. Bahkan ia melihat secara jelas wajah bahagia putrinya saat berbincang dengan pria itu.
Oh God, kenapa memikirkan Tigran di saat seperti ini. Pria itu mengatakan akan bertemu Kayla di sekolah membagikan kotak snack. Ah, yang benar saja? Seketika pria itu menjelma sosok seoarang ayah bagi Kayla. Ia berharap Kayla tidak bertemu dengan pria itu lagi. Karena ia melihat pengaruh Tigran sangat kuat untuk Kayla.
Naomi membuyarkan lamunannya, ia akan membuang jauh-jauh tentang Tugran. Ia melepaskan pakaiannya, dan lalu menghidupkan shower, ia membersihkan tubuhnya. Karena selepas mandi tubuhnya menjadi rilexs dan segar kembali. Ia butuh secangkir kopi, agar tidak terlalu ngantuk.
***
Beberapa menit kemudian, Naomi keluar dari kamar, ia memandang putrinya sudah duduk di kursi piano di damping guru les nya. Naomi melangkah menuju kitchen, sambil mendengarkan dentingan piano yang dimainkan oleh Kayla.
Sejujurnya banyak sekali kursus music di Jakarta, dari mulai informal hingga les private seperti Kayla dengan biaya beragam. Dulu ia pernah memasukan Kayla ke sekolah music, hingga menari balet. Namun tidak terlalu ada pergerakan signifikan, karena Kayla hanya tertarik dengan piano, dibanding dengan balet dan alat musk lainnya.
Ia pernah bertanya kepada Kayla, kamu suka yang mana? Piano, gitar atau balet dan Kayla menjawab tertarik dengan piano. Menurutnya Kayla berbakat di alat music ini, dia dengan mudahnya menirukan notasi piano dengan susunan not sederhana, yang menurutnya itu susah, karena pada dasarnya ia sama sekali tidak berbakat soal music.
Ia tahu bahwa inilah bakat Kayla, sesuatu yang melekat masih kecil, jika ia pancing dengan minat maka bakatnya bertambah tajam. Ia tidak peduli dengan biaya yang dikeluarkan, yang terpenting anaknya mampu mengembangkan kognitif, keterampilan social, dan keterbukaa pikiran.
Ia pernah membawa artikel ilmuan telah mencoba memahami belajar music memiliki pengaruh terhadap perkembangan dan kemampuan intelektual anak. Topik penelitian ini sangat popular di komunitas neurologis dan anak cenderung memiliki jawaban positif. Oleh sebab itu, ia tidak ragu Kayla belajar piano.
Nanti ketika Kayla sudah masuk primary school, ia akan memasukan ke YPM, The Resonanz atau sekolah music yang menggunakan kurikulum ABRSM atau Trinity. Ia melihat Kayla di sana, dia sangat tenang bermain piano.
Naomi membuat secangkir kopi sachet, ia lalu menuangkan air panas. Ia melihat bibi menyiapkan kue dan teh hangat untuk guru les Kayla. Ia menatap bibi menaruh nampan di lemari.
“Ibu mau pergi lagi?” Tanya bibi memandang penampilan majikannya, dia mengenakan sheath dress bewarna hijau botol, rambut panjangnya diikat seperti ekor kuda.
Naomi mengangguk, “Iya, ada kerjaan yang harus dikerjakan bi,” ia teringat kalau Reni mengajaknya makan malam.
“Kemungkinan, aku pulang agak malam. Pastikan Kayla tidur awal.”
“Iya, non.”
“Sebentar lagi mama dan papa ke sini, mau ketemu Kayla. Kalau mama dan papa nanya. Nanti bilang aja kalau aku ada kerjaan.”
“Baik non.”
Naomi kembali menyesap kopinya secara perlahan. Ia melihat guru les Kayla tersenyum kepadanya, dan ia tersenyum balik. Naomi melirik jam melingkar di tangannya menunukan puku; 15.20 menit. Ia meletakan cangkir di meja.
“Aku pergi dulu ya bi,” ucap Naomi, ia melangkahkan kakinya menuju pintu utama, ia membiarkan Kayla bersama guru les dan bibi.
Jujur ia memang sering meninggalkan Kayla bersama orang tuanya dan bibi, demi pekerjaan, terlebih ini hari senin. Karena ia membesarkan Kayla seorang diri, ia harus mandiri, ia bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri dan anaknya. Jika bukan dirinya siapa lagi.
Mengingat Reni akan mengajaknya makan malam, jadi Naomi memutuskan untuk memesan taxi online. Beberapa menit kemudian taxi pun datang, tepat di depan pagar rumahnya. Semenit kemudian ia masuk ke dalam, menuju butiknya yang terletak di Kemang.
***
Malam harinya, ia sengaja menyuruh Reni menjemputnya di butik. Ia terjun ke dunia bisnis ini, umurnya seumuran dengan umur Kayla sudah lima tahun beberapa bulan lagi tahun ke enam, ia berjualan tas branded ini secara online ataupun offline. Ia melihat beberapa karyawannya sedang menyusun tas di dalam lemari kaca.
Sudah enam tahun, ia fokus pada bisnis jual beli dan titip jual tas branded, items luxury seperti Hermes, Chanel, Gucci, Louis Vuitton dan Europe brands lainnya. Awalnya ia membangun bisnis ini karena ia mencintai salah satu brand yang diakui. Hingga ia jatuh cinta dan bertekat mengoleksi dan menjadi reseller tas itu.
Awalnya agak susah menjalani ini, karena hanya orang tertentu saja yang dapat membelinya. Namun ia tidak patah semangat, lambat laun bisnisnya berjalan dengan sukses dan berkembang hingga saat ini. Beberkal pengalaman, menganalisa keotentikan, keaslian barang. Dan ia juga menganalisa bagaimana tas-tas itu berdampak dalam kehidupan social ekonomi Indonesia.
Akhir-akhir ini, maraknya kasus penipuan berkedok tas branded pun cukup mengusik kehidupannya. Dengan keahliannya, ia mencoba mengedukasi barang branded mulai dari tren, model, keaslian hingga fashion ia bagikan ke media social miliknya. Banyak sekali kalangan artis, pejabat dan statusnya mengenang atas, berbondong-bondong membeli tas dengannya. Hingga saat ini ia memiliki web tersendiri, dan terus mengembangkan bisnisnnya dengan baik.
***
Beberapa jam kemudian, Naomi menatap Reni yang baru masuk ke dalam butiknya. Wanita itu mengenakan bodycon dress berwarna merah, dia tampil selalu all out. Rambut panjangnya bergelombang, tangannya memegang handbag YSl. Naomi tersenyum, ia mendekati Reni. Inilah sahabatnya selalu ada suka maupun duka, tidak pernah meninggalkannya, sejak Kayla melahirkan.
Sejujurnya ia bukan tipe wanita yang memiliki banyak teman. Baginya banyak teman maupun sedikit, semuanya akan baik-baik saja. Ia sadar bahwa ungkapan quality over quantity sangatlah relateable dalam hidup.
Dulu waktu sekolah, rasanya senang memiliki banyak teman, namun setelah melewati banyak kejadian yang memerlukan bantuan seseorang, padahal ia memang butuh pertolongan dan meluangkan waktu. Sejak itu ia berfikir untuk menyaring pertemanan dan mengutamakan kualitas walaupun hanya sedikit teman. Beberapa kasus mereka hanya berteman hanya ada maunya saja.
Ia membatasi pertemanan, bukan berarti menutup diri, kerena menurutnya skill bersosialisasi itu sangat penting dan harus di jaga dengan baik. Karena pertemanan sangat berpengaruh menurutnya.
“Gue kangen banget sama lo,” ucap Reni, menatap sahabatnya, dia mengenakan dress berwarna putih.
“Gue juga kangen sama lo, lo sibuk sih.”
“Sibuk ngurusin nikah,” ucap Reni tertawa, karena itulah kenyataanya. Ia dan Enzo melakukan meeting dengan WO belum lagi fitting baju.
“Ada apa sih, tumben banget ngajakin dinner gini,” ucap Naomi, mereka melangkah keluar dari butik, ia melihat mobil HRV Reni terparkir sempurna di sana.
“Kayaknya sih, Enzo mau ngenalin lo sama temennya.”
“Gitu terus deh, udah tau kalau gue males di jodoh-jodohin,” Naomi terkekeh.
“Udahlah, nikmatin aja. Lagian betah amat single mulu.”
Reni tertawa, ia membuka hendel pintu mobil dan duduk di kemudi setir, sedangkan Naomi mendaratkan pantatnya di kursi, tidak lupa ia memasang sabuk pengaman. Ia melihat Reni sudah memanuver mobil, dia memperhatikan jarak mobil dan motor di hadapannya.
****
Jarak butiknya di Kemang ke Sofia At Gunawarman tidak terlalu jauh, hanya ditempuh dengan hitungan belasan menit saja. Kini Reni memarkir mobilnya di plataran hotel. Mereka keluar dari mobil, dan lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
“Enzo ada di dalam?” Tanya Naomi.
“Iya, mereka udah di dalam,” ucap Reni.
Ia memperhatikan area restoran sudah dipadati dengan pengunjung, ia pernah ke Sofia sebelumnya bahkan beberapa kali pernah ke sini bersama Reni. Jadi ia tidak asing lagi menurutnya. Restoran ini memiliki interior yang menawan, layaknya dalam kastil negara-negara Eropa Barat. Suasananya sangat nyaman dan luxury.
Naomi memandang Enzo di sana, pria itu melambaikan tangan kepada mereka. Enzo itu adalah tunangan Reni, yang berprofesi sebagai dokter spesialis penyakit dalam atau internis. Dr. Enzo sendiri sudah sangat terkenal di Jakarta. Reni memang sangat pantas bersama Enzo, profesi mereka sama-sama dokter.
Pria itu tidak sendiri melainkan bersama seorang pria yang mengenakan kemeja biru denim. Rambutnya sedikit berantakan namun tidak mengurangi ketampannya. Tatapan mereka lalu bertemu beberapa detik. Pria itu tidak lepas memandangnya.
“Itu namanya Naomi?” Tanya Kafka, menatap seorang wanita mengenakan dress putih, rambut panjangnya bergelombang kulitnya putih bersih. Kemarin ia tanpa sengaja melihat foto tunangan Enzo dan Reni, di dalam foto itu ada seorang wanita cantik. Ia hanya penasaran siapa wanita itu, Enzo menjawab sahabatnya Reni, namanya Naomi.
Enzo mengatakan bahwa Naomi itu seorang entrepreneur, pemilik bisnis Zalori. Berbagai macam tas branded di jual di sana, yang diminati oleh kalangan atas. Di sini ia tidak ingin membahas tentang pekerjaan wanita itu.
Ia memandang sekali lagi wanita bernama Naomi, wanita itu memiliki status single parent. Ia tidak mempermasalahkan status itu, wanita itu terlihat berkharisma dalam versinya. Ia yakin, wanita itu memiliki intelektualitas yang cukup bagus, hingga memiliki perusahaan tersendiri. Ia ingin memiliki wanita yang memiliki intelektualitas yang baik jika diajak diskusi dan mengimbangi kecerdasannya.
“Menurut kamu bagaimana?” Tanya Enzo melirik Kafka.
“Cantik.”
**