Bab 2

Arthur merebahkan tubuh Sella ke belakang, sampai tubuh yang kehabisan tenaga itu telentang di atas ranjang. Kemudian, Arthur menarik kedua paha Sella ke samping, dengan berlawanan arah, sampai kedua paha Sella mengangkang lebar. Arthur yang sudah tidak sabar karena tombak pusakanya sudah menuntut untuk di terapi khusus oleh jepitan hangat lubang gua Sella, dia langsung mengarahkan tombak pusakanya ke pintu gua yang telah becek. Setelah merasa posisi tombak pusakanya tepat, Arthur menusukkan tombak pusaka itu ke dalam lubang gua Sella yang masih menyisakan kedutan hasil dari orgasmenya tadi.

"Jlep!" Satu kali hentakan, tombak pusaka Arthur langsung meluncur masuk, menusuk lubang gua Sella sampai ke dinding rahimnya.

Hanya dengan sekali dorongan saja, tombak pusaka Arthur sudah langsung masuk sampai pangkalnya kedalam lubang gua Sella. Berbeda dengan tadi malam, Arthur gagal beberapa kali sebelum masuk sempurna ke dalam gua nan hangat milik Sella. Itu disebabkan karena Arthur harus merobek selaput dara di pintu gua Sella terlebih dahulu, sebelum tombak pusaka itu bisa menyelam sampai pangkal.

Tombak pusaka Arthur telah dikulum habis sampai pangkal oleh bukit terbelah yang mempunyai gua hangat di dalamnya. Semua batang tombak pusaka telah masuk ke dalam gua, menikmati sensasi yang sangat luar biasa di dalamnya. Dengan gerakan teratur, Arthur menggoyangkan pinggulnya pelan, menikmati jepitan hangat yang sangat sempit. Kepala tombak pusakanya terasa dicengkram oleh sesuatu yang memabukkan di dalam sana. Sedangkan, bagian batang tombak pusakanya benar-benar terasa dijepit, dan di pijat sampai mata Arthur merem melek menikmatinya.

Saat Arthur menarik keluar tombak pusakanya, terasa hisapan dan cengkram di dalam sana yang begitu kuat. Arthur terus menikmati sensasi itu dengan menusuk, dan menariknya kembali dengan gerakan pelan. Hal itu membuat hasrat Sella kembali terpancing, dia kembali bersemangat untuk bermain dan melayang ke angkasa menikmati indahnya surga dunia bersama pria yang sangat dia cintai. Arthur meremas kedua gundukan bukit kembar nan sintal milik Sella tanpa menghentikan tusukannya dengan gerakan pinggul maju mundur.

Merasa energinya benar-benar sudah mendapatkan asupan kembali, Sella menautkan kedua kakinya di pinggang Arthur, dan ikut menggoyangkan pinggulnya berlawanan arah dengan gerakan Arthur, untuk menyambut tusukan dan tarikan dari tombak pusaka di lubang senggamanya dengan ritme beraturan.

"Akhh… hoh, hah.…" Nafas yang terdengar berat disertai desahan nikmat keluar dari mulut Sella mengikuti hentakan dari pinggul Arthur yang sedang menggenjotnya.

Begitu juga dengan Arthur, nafasnya terus memburu bersama erangan-erangan yang keluar bersahutan dari mulut mereka yang sedang melakukan penyatuan. Gerakan pinggul Arthur semakin cepat, menarik keluar, dan menusuk masuk ke liang gua Sella. Hingga pucuk kepala tombak pusakanya menabrak dinding rahim Sella yang terasa hangat.

Plak…!

Plak…!

Plak…!

Suara khas, dari penyatuan mereka yang sudah mulai bermain kasar, begitu jelas terdengar. Setiap Arthur mendorong pinggul menghentakkan tombak pusakanya ke depan, seluruh lubang gua Sella terasa sesak dengan kenikmatan yang selama ini dia impikan. Semua itu membuat Sella menjerit nikmat, di bawah kungkungan Arthur yang terus memainkan pinggulnya. Sella begitu menikmati sensasi di dinding guanya yang terasa di gesek setiap arthur memaju, dan memundurkan pinggulnya. Di setiap hentakan, dan tarikan tombak pusaka Arthur di dalam guanya, desahan dan erangan terus keluar dari mulut Sella tanpa dia sengaja, atau di buat-buat.

"Oh … hmm … Aahh …." Arthur terus menggenjot harta milik Sella dengan semangat.

Keringat bercucuran, keluar dari pori-pori kulit mereka, membasahi tubuh keduanya. Udara di dalam kamar saat ini benar-benar terasa sangat panas. AC yang menyala di dalam kamar pun seperti sangat tidak berfungsi untuk memberikan tiupan angin dingin, di kulit kedua insan yang dalam penyatuan di atas ranjang itu.

Walaupun merasa gerah, dan lengket di seluruh kulitnya akibat keringat yang keluar dari setiap pori-pori kulit mereka. Sella, dan Arthur tidak ada niatan untuk mengakhiri permainan mereka begitu saja. Bahkan mereka berdua menginginkan yang lebih, dan lebih lagi dari ini. Mereka terus berpacu dalam hasrat, dan angan yang terus semakin berkobar dalam diri masing-masing insan yang telah di mabuk nafsu itu.

Sella menikmati gesekan-demi gesekan di dinding guanya. Gesekan di dinding gua Sella, akibat tusukan tombak pusaka yang memenuhi lubang sempit itu, memberikan rasa yang sangat luar biasa untuk dinikmati oleh Sella di setiap gerakan lawan mainnya.

Arthur begitu lihai dalam bermain. dia memainkan titik-titik sensitif Sella dengan pancaran mata berkabut. Sehingga, orang yang di mainkan terasa terbang ke awan, dan lupa akan dunia nyata. Tubuh Arthur yang kekar di atasnya, menampilkan ototnya yang berbentuk kotak-kotak, membuat Sella semakin lupa akan statusnya dengan pria yang menggenjotnya saat ini. Mereka bukanlah sepasang kekasih, dan juga tidak terikat oleh status hubungan lainnya. Namun sepertinya, Sella lupa akan segala hal, dia terbuai akan kenikmatan yang telah lama dia inginkan dari Arthur. Dia tidak memikirkan kerugian, dan akibat dari kenikmatan yang dia dapatkan saat ini.

Dengan manja, Sella mengalungkan tangannya ke leher Arthur. Dia menarik tengkuk Arthur turun ke bawah, mendekati wajahnya. Dengan mata terpejam, Sella memonyongkan bibirnya, berharap Arthur membalas apa yang dia inginkan saat ini. Harapan, dan keinginan Sella tidak sia-sia, Arthur membalas, dan langsung menyambar bibir yang sudah monyong seperti moncong babi itu dengan gerak cepat. Arthur melumat, mengulum, dan menggigit bibir yang sudah membengkak dari tadi malam itu dengan sangat agresif. Yang dibawah aktif, yang di atas pun tidak kalah aktifnya. Mereka berdua saling melumat, saling menautkan lidah mereka untuk berdansa di dalam sana. Kedua tangan Arthur kembali bergerilya di atas bukit kembar Sella. Dia memainkan bukit kembar itu sesuka hati tanpa ada tolakan dari yang punya.

Sella melepaskan pangkuan tangannya di leher Arthur. Dia juga tidak mau kalah dari Arthur. Dengan lubang gua yang masih terus ditusuk oleh tombak pusaka Arthur, dan sensasi di bukit kembarnya yang dimainkan Arthur membuat libidonya meningkat beberapa kali lipat. Sella meraba seluruh tubuh, Dan dada bidang Arthur dengan hasrat yang menggebu-gebu. Dia juga memainkan dada bidang Arthur seperti yang dilakukan Arthur kepadanya. Sella memelintir pelan bulatan kecil yang mengeras di dada Arthur. Sesekali dia menarik kemudian menekannya kembali. Sella meremas dada Arthur, seperti arthur meremas bukit kembar di dadanya. Walaupun, dada Arthur tidak menonjol besar seperti dadanya, akan tetapi, Sella juga merasakan sesuatu yang menyenangkan saat meremasnya. Arthur yang di mainkan seperti itu melenguh nikmat, dan melepaskan penyatuan bibir mereka beberapa saat, karena tidak tahan akan kenikmatan yang di berikan Sella kepadanya. Tangan Sella benar-benar membuat dia semakin gila. Sentuhan, dan remasan Sella di dadanya membuat alam sadar Arthur tidak lagi berfungsi seperti semestinya.

Sella benar-benar membuat Arthur mabuk. Dengan tusukan yang terus teratur di bawah sana. Arthur kembali menyatukan bibir mereka yang tadi sempat terlepas. Dia melumat dan mengabsen seluruh rongga mulut Sella dengan lidahnya. Di dalam rongga mulut yang sudah menyatu, mereka saling bertukar saliva, dan saling menikmati penyatuan benda pusaka mereka di bawah sana. Penyatuan atas, dan bawah ini berlangsung lama. Hingga Akhirnya, bibir mereka pun terlepas juga. Kedua insan itu ngos-ngosan kekurangan oksigen. Sella yang telah lepas dari bibir Arthur, kini beralih menghisap pucuk bulat di dada Arthur.

"Aakh …." Lenguhan berat keluar dari mulut Arthur saat Sella memainkan, dan menghisap pucuk coklat di dadanya.

Arthur yang tidak mau kalah agresifnya. Dia meremas keras kedua bukit kembar Sella, memelintir pucuk bulat di atasnya, dan menekan-nekan pucuk itu di antara jari telunjuknya dengan jempolnya. Tusukan tombak pusaka Arthur pun dia tingkatkan lebih cepat lagi. Arthur memaju mundurkan pinggulnya dengan ritme lebih cepat dari sebelumnya. Tusukan itupun di balas Sella dengan gerakan berlawanan arah dari bawah. Sehingga, saat Arthur maju ke depan menusuknya, Sella pun maju menyambut tusukan itu. Ritme kecepatan maju mundur mereka pun sama. Sesekali Sella menggoyangkan pinggulnya dengan gaya melingkar saat menyambut tusukan Arthur. Goyangan Sella itu berhasil menambah sensasi nikmat di batang dan pucuk tombak pusaka Arthur. Mata Arthur terpejam, dan sulit untuk dibuka saat menikmati sensasi yang sangat luar biasa itu. Semua yang dirasakan oleh kedua insan yang sedang menyatu itu, benar-benar keduanya merasa sedang ada di surga yang tiada ujungnya. Desahan, dan lenguhan mereka terdengar bersahutan setelah penyatuan bibir mereka terlepas. Desahan dan lenguhan itu berbaur dengan bunyi kulit mereka yang beradu saat paha mereka saling bertabrakan.

"Aagh … Sayang!" racau Sella yang sudah melayang di mabuk birahi.

Sella yang hampir menemui puncak, merasa haus untuk di masuki lebih dalam lagi oleh Arthur. Dinding guanya minta di gesek lebih cepat lagi

"Aakh … hmm … Aah … Enak ..! tusuk lebih dalam lagi!" Sella menggoyangkan pinggulnya menyambut tusukan Arthur dan mengencangkan kungkungan kakinya di pinggang Arthur, supaya tusukan Arthur terasa lebih masuk lagi untuk menggesek dinding gua nya.

"Aakh…." Sella mengerang, dan merasa kecewa saat Arthur mencabut tombak pusakanya dari permainan yang sudah mulai panas. Padahal Sella berharap Arthur menusuknya lebih dalam, dan lebih cepat lagi.

"Kenapa di cabut?" tanya Sella dengan suara parau, dan mengeratkan kungkungan kakinya di pinggang Arthur. Dia tidak rela kalau sampai Arthur menghentikan permainan mereka yang sedang menuju puncak.

"Jangan kecewa, kita akan bermain lebih gila lagi dari pada ini." Arthur melepaskan kungkungan kaki Sella di pinggangnya, dan membalikkan tubuh Sella hingga telungkup.

Setelah tubuh Sella terbalik, dan posisinya sudah telungkup sempurna, Arthur menarik bokong Sella hingga yang ditarik bertumpu pada kedua lututnya, dan tangannya juga bertumpu dengan kedua siku di atas kasur. Sekarang, posisi Sella sama persis seperti bayi yang mau merangkak.

"Buka sedikit lagi!" Arthur menarik kedua belah paha Sella dengan arah berlawanan supaya Sella mengangkangkan kakinya sedikit lebih besar lagi.

Begitu paha Sella melebar, Arthur menepuk bokong montok Sella dengan pancaran mata penuh kehausan. Melihat bokong yang ditepuknya begitu menggiurkan, dan seperti sedang menantangnya untuk melakukan hal yang bisa melepaskan kehausan yang kini sedang menderanya, Arthur segera mengarahkan tombak pusakanya yang terasa lengket saat di pegang ke pintu lubang masuk yang sudah membuat salivanya membanjir dari tadi. Dia menelan salivanya dengan susah payah. Sedangkan matanya tidak bisa teralihkan dari tubuh polos, dengan bokong menungging di hadapannya. Setelah kepala tombak pusakanya berada di pintu gua, Arthur mendorong pelan pinggulnya maju dengan tangan kanan memegang batang tombak pusakanya.

"Jleb!" Tombak pusaka Arthur mencelup masuk memenuhi seluruh liang gua Sella.

"Ach…." Sella menjerit nikmat saat batang tombak pusaka Arthur masuk menusuk dinding rahimnya. Seluruh ruang di dalam guanya terasa penuh terisi oleh batang tombak pusaka Arthur, tanpa menyisakan sedikitpun ruang di dalam sana.

Arthur membiarkan tombak pusakanya berada dalam jepitan dinding gua Sella untuk beberapa saat. Dia memejamkan matanya, menikmati kehangatan gua Sella yang terasa mencengkram batang tombaknya. Mendapati, Arthur hanya diam tanpa bergerak untuk menggenjotnya, Sella yang sudah mabuk ingin menemui puncak klimaksnya, dia tidak mau menunggu lama, Sella dengan agresif memulai permainan terlebih dahulu. Dia menarik pinggulnya kedepan, dan memundurkannya kembali ke belakang untuk mengulum tombak pusaka Arthur sampai pangkal.

Arthur yang sadar, Sella telah memulai permainannya terlebih dahulu, dia menggenjot Sella dari belakang dengan kecepatan tinggi. Hal itu membuat bukit kembar di dada Sella yang bergelantung ikut berayun mengikuti pergerakan Sella yang di tusuk dari belakang. Arthur tidak menyia-nyiakan buah ranum yang bergoyang indah itu. Dia menjadikan gundukan daging itu jadi pegangannya saat menggenjot Sella dengan remasan nakal yang terus dia lakukan, hingga membuat mereka semakin terbang ke alam surga dunia.

Plak….

Plak….

Plak….

Suara benturan kulit mereka yang bertepuk begitu jelas mengiringi peraduan yang semakin bergerak cepat. Kaki Sella mengejang, tangannya meremas sprei di bawah tumpuannya. Tidak lama lagi Sella akan mencapai puncak klimaksnya yang kedua.

"Aakh, hah… hoh ...Aah …  Ar-Arthur, lebih cepat lagi! tusuk yang dalam. Aah … ooh …  Aku mau ke-keluar! aakh…." Suara parau Sella terbata menahan gejolak dirinya yang semakin menuju puncak.

"Tahan! sebentar lagi! kita keluar sama-sama." Arthur semakin memperdalam tusukannya dengan tangan terus meremas kedua bukit kembar di dada Sella dengan kasar.

Sella, dan Arthur sama-sama menemui puncak klimaks secara bersamaan. Sella menyiram pucuk kepala tombak pusaka Arthur dengan semburan lava di dalam lubang senggamanya. Sedangkan, tombak pusaka Arthur terus menyemburkan pelurinya di dalam rahim itu tanpa terganggu oleh cairan yang menyiram kepala tombak pusakanya.

"Aaarrgghh… Sellaaaa!" Arthur nyungsep di atas punggung Sella dan menggigit leher belakang Sella dengan tombak pusaka yang terus menyemburkan cairan khusus dari dalam batangnya .

"Aaachh… Arthur!! gesek lagi!" Sella memaju mundurkan bokongnya, menikmati sisa kedutan batang tombak pusaka Arthur dan dinding gua nya yang masih menyatu.

Setelah pelepasannya sudah selesai, Arthur memisahkan diri dari Sella. Dia membaringkan tubuhnya di samping Sella, dan memejamkan matanya sesaat sebelum dia melirik Sella, dan angkat bicara menyampaikan sesuatu yang mengusik hatinya.

Beberapa menit mereka saling diam, menikmati sisa-sisa rasa panas dari hasil orgasme mereka. Tubuh mereka sama-sama tidak berdaya, tenaga keduanya habis terkuras oleh permainan gila yang mereka lakukan di siang hari nan terik itu. Sella terkapar tidak berdaya di samping Arthur dengan mata terpejam. Kedutan demi kedutan masih terasa di lubang gua nya. Sella menikmati semua itu dengan pikiran campur aduk.

"Sel," panggil Arthur.

"Hmm," jawab Sella enggan.

"Aku mau memastikan sesuatu, aku harap kamu menjawab jujur di setiap pertanyaanku." Arthur membaringkan badannya menghadap Sella dengan kepala beralaskan lipatan tangannya.

"Apa yang akan kamu pastikan?" tanya Sella dengan mata masih tertutup.

"Apakah kamu, dan Daffin bersekongkol melakukan ini kepada Aku dan Maya?" tanya Arthur to the point, tanpa basa basi pada apa yang mau dia tanyakan.

"Deg!" Jantung Sella berdegup mendengar kata demi kata yang terangkai dalam satu pertanyaan untuknya, dari Arthur.

"Maksud kamu?" jawab Sella pura-pura tidak mengerti dengan maksud pertanyaan pria di sampingnya.

Mendapat pertanyaan yang mengusik kebohongannya, Sella langsung beraksi memasang wajah bertopengnya, supaya Arthur tidak mencurigai dirinya lebih lanjut. Dia membaringkan badannya menghadap Arthur dengan wajah yang di buat-buat seperti sedang tersakiti.

"Kamu menuduh aku?" Sella menyipitkan matanya yang sudah di genangi air mata, dengan raut wajah sedih yang di buat-buat.

Akting Sella sungguh sangat luar biasa. Dalam sekejap dia bisa melakoni kebohongannya yang membuahkan hasil seperti nyata apa adanya. Saat ini, dia benar-benar terlihat begitu sedih, dan sangat tertekan karena pertanyaan Arthur.

"Aku bukan menuduh kamu, Sel. Hanya saja, apa yang sedang terjadi seperti telah di setting dengan sangat rapi," jawab Arthur mengungkapkan apa yang dia rasa.

Melihat air mata Sella menitik ke atas sprei, dan wajah yang sudah memerah karena sedih akibat pertanyaannya, terbesit rasa bersalah di hati Arthur kepada Sella. Tapi, disisi lain dia juga masih ragu dengan Sella. Fakta yang sedang dia lihat sekarang ini, mengarah kepada Sella dan Daffin yang sedang bersekongkol.

"Apa aku salah, telah menanyakan ini pada Sella? Dia sepertinya sangat sedih mendapat pertanyaan dari ku," batin Arthur melirik Sella yang masih berakting menangis.

"Tapi, hatiku sangat yakin, Sella ikut andil dalam masalah ini," ucap Arthur yakin dalam hatinya.

"Jadi, kamu menganggap aku yang menjebak Maya untuk tidur bersama Daffin?" tanya Sella dengan topeng yang masih dia pertahankan. Dia menghapus air matanya yang keluar dari pelupuknya untuk menambah kesan sedih di dalam dirinya.

"Aku pikir seperti itu, Sel. Fakta yang aku lihat mengarah kesana," ucap Arthur yakin. Dia mengalihkan pandangannya dari Sella. Sekarang, arthur menatap plafon kamarnya. Pikiran arthur melayang. Dia teringat Maya, dan juga apa yang telah dilakukannya bersama Sella.

"Sekarang, posisiku dengan Maya adalah sama. Aku, dan Maya sama-sama telah menghianati status pernikahan kami," batin Arthur sedih.

"Okay …," ucap Sella memecah lamunan Arthur. Suara Sella berhasil menarik perhatian Arthur kembali. Arthur kembali melirik ke arahnya yang masih telanjang bulat.

Sella bangun dari posisinya, meninggalkan Arthur yang telah menghadap ke arahnya. Dia bergegas memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Pakaian yang telah berbaur dengan barang-barang yang dilemparkan oleh Maya beberapa jam yang lalu. Kamar itu terlihat sangatlah berantakan, hampir sama dengan perasaan Sella yang berantakan takut ketahuan oleh semua orang tentang kebohongannya.

"Jika, kamu mencurigai aku. Maka, aku akan meminta polisi mengusut kasus ini sampai tuntas!" ucap Sella yang bernada ancaman.

Sella memakai satu per satu  pakaiannya kembali. Mulai dari lapisan dalam, hingga lapisan luar yang menutupi sebagian besar tubuhnya.

"Aku akan ke kantor polisi menyusul Daffin, dan Maya untuk menjadi saksi atas kasus ini," ucapnya berdiri di depan kaca rias membetulkan rambutnya yang sudah seperti orang gila.

"Ke kantor polisi?" tanya Arthur kaget, dan segera bangun dari posisinya.

Bab 3

Arthur yang belum memakai pakaiannya, alias masih telanjang bulat seperti bayi besar tanpa pakaian, dia bangun dari tempat dirinya, dan Sella memadu kasih dari beberapa jam yang lalu. "Sel, kamu tidak akan mengatakan apa yang telah terjadi di antara kita kepada polisi, kan?" tanya Arthur gusar. Dia sangat takut kalau Sella mengatakan semuanya yang telah terjadi diantara mereka.

"Melihat kecemasan melanda Arthur. Sella tidak menyia-nyiakannya. Dia mengambil kesempatan itu untuk menekan Arthur. Peluang besar untuknya mengancam Arthur agar selalu berada di dekatnya sangat besar. Apalagi sekarang wajah Arthur terlihat begitu pucat karena rasa takutnya akan ketahuan oleh semua orang.

"Aku akan mengatakan apapun yang telah terjadi kepada semua orang, termasuk kepada polisi juga. Supaya, polisi mengusut tuntas kejadian ini. Agar aku yang telah jelas-jelas menjadi korban tidak lagi di curigai seperti ini," ucap Sella seakan sedang jadi orang paling terinjak di dalam kasus yang baru saja terjadi di rumah Arthur.

Sella yang sebenarnya sama takutnya dengan Arthur, terhadap kasusnya yang akan ketahuan oleh orang lain itu terus mencoba melontarkan kalimat demi kalimat yang bertujuan untuk mengancam Arthur.

"Apakah kamu akan memberikan keterangan … kalau kita sudah melakukan hal tidak seharusnya seperti ini?" tanya Arthur memastikan lagi apa yang meresahkan hatinya.

"Iya," Sella menganggukkan kepalanya, "Se … muanya! aku juga akan melampirkan bukti yang valid," ucap Sella mengacungkan ponselnya.

"Jadi, Sella merekam semuanya? apa dia sengaja merekam semua ini" batin Arthur yang kembali mencurigai Sella.

"Aku, merekamnya!" ucap Sella yang seakan mendengar apa yang ada di pikiran Arthur.

"Apakah kamu tidak memikirkan akibat dari keteranganmu, nanti?" Arthur mencoba meluluhkan pendirian Sella yang dia rasa sangat mengancam dirinya.

"Aku tahu, sa-ngat tahu apa akibat dari buktiku ini." Sella kembali mengacungkan ponselnya ke atas, hingga sejajar dengan kepalanya.

"Semua orang akan mengetahui apa yang telah kita lakukan," ucap Sella menatap Arthur dengan seringai liciknya.

"Kamu jangan gila, Sel! itu bisa menjerat kamu," Arthur balik menatap Sella yang terlihat begitu nekat.

"Aku gak gila, Ar. Aku hanya ingin polisi mengungkap semua yang telah terjadi, dan aku tidak dicurigai, dan disalahkan dalam masalah ini," ucap Sella dengan raut wajah sedih. Sella kembali memasang topengnya, berakting supaya Arthur terhasut dan masuk kedalam umpannya.

"Aku sebenarnya sangat tertekan dengan masalah ini, Ar. Aku sebagai korban, malah dicurigai begini," keluh Sella yang masih dalam mode akting.

Arthur membiarkan Sella mengoceh, dan melepaskan uneg-unegnya. 'Kalau perempuan sedang protes, dan berbicara sepanjang rel kereta api, jika di stop, bisa berabe nanti. Biarkan saja dulu. Percuma aku berdebat dengannya, yang ada aku tambah pusing setelah ini,' pikir Arthur mengalihkan pandangannya dari Sella.

Arthur beranjak dari tempatnya. Dia mendekati satu per satu pakaiannya yang berserakan di lantai kamar. Arthur meletakkan semua pakaiannya yang sudah terkumpul di tangannya di tepi ranjang. Dia memakai celana dalamnya terlebih dahulu sebelum memakai pakaiannya yang lain. Sedangkan Sella yang berdiri tidak jauh darinya masih mengoceh, dan mengeluarkan apa yang terasa di dalam hatinya. Sella juga membumbui semua ucapan yang keluar dari mulutnya dengan kesedihan yang di buat-buat.

"Sebenarnya, aku bisa saja membuat laporan baru dengan kasus pemerkosaan terhadap aku sebagai korban pemerkosaan. Tapi, karena aku sangat mencintaimu, mana mungkin aku bisa membuat laporan seperti itu. Aku tidak akan mungkin namamu tercemar." Tanpa Sella sadari dia keceplosan mengatakan kalau dia sangat mencintai Arthur. "Akan tetapi, kamu dengan sangat tega mencurigai aku sebagai dalang dari masalah ini. Mau tidak mau, aku harus jadi saksi di kantor polisi, dan memberikan keterangan sesuai dengan apa yang telah terjadi." Niat Sella mengancam Arthur. Alih-alih terancam, Arthur malah fokus ke kalimat tentang Sella mengungkapkan perasaannya, kalau Sella sangat mencintai dirinya.

Mata Arthur membulat sempurna, tangannya berhenti dari kegiatan yang dia lakukan. Arthur kaget saat mendengar sepenggal kalimat yang keluar dari mulut Sella dengan sangat jelas. Kalimat itu sangat menarik perhatiannya, "Kamu mencintai aku?" tanya Arthur tidak percaya.

"Aku mencintai kamu?!" tanya Sella balik, tidak kalah kagetnya dari Arthur. Dia tidak menyadari kalau dia telah keceplosan mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya kepada Arthur.

Arthur menganggukkan kepalanya,"Kata siapa?" tanya Sella dengan pipi yang telah merona.

"Kan kamu tadi yang bilang, kalau kamu sangat mencintai aku," ucap Arthur mengingatkan Sella.

Sella mengerutkan keningnya. Kedua alisnya bertaut, dengan beberapa garis di tengahnya,"Benarkah? mungkin kamu salah dengar," ucap Sella berkilah. "Karena kamu mencurigai aku atas kasus Maya, maka aku harus memberitahukan semuanya pada polisi. Aku akan menjadi saksi atas kasus ini, nantinya. Aku harus secepatnya pergi ke sana menyusul mereka."

"Jangan lakukan itu!" ucap Arthur seakan memohon kepada Sella.

"Bukannya kamu mau penjelasan tentang kasus ini?" Sella selalu bisa mencari celah untuk posisi yang aman bagi dirinya. Dia begitu lihai untuk melepaskan diri.

"Aku memang mau kejelasan tentang kejadian ini. Akan tetapi, aku mohon, jangan bocorkan bukti itu kepada siapapun! Apalagi kalau sampai mama mengetahui semuanya," mohon Arthur. Sekarang Arthur benar-benar memohon kepada Sella, agar apa yang telah terjadi di antara mereka tidak ada yang mengetahuinya.

"Saat ini, kamu mencurigai aku, kan? kalau aku tidak mengatakan semuanya kepada polisi, bagaimana aku bisa membuktikan kepada kamu, kalau aku tidak ikut andil dalam kasus ini?" ucap Sella yang masih bersikeras mau mengatakan semuanya kepada polisi. Sella mengatakan itu semua hanya untuk membuat Arthur down saja. Padahal, jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, dia juga takut semuanya terbongkar. Kalau polisi menemukan semua bukti, dan mengetahui siapa saja dalang dari kasus yang terjadi di rumah Arthur, diri Sella bisa jadi penghuni hotel prodeo untuk waktu yang sangat panjang. "Aku hanya korban, bukan pelaku, Ar," lirih Sella menitikkan air mata penuh kebohongannya.

"Jujur, di hati aku memang terbesit kecurigaan kepada kamu, dan Daffin yang bekerja sama, Sel. Apalagi, semua ini terjadi setelah Daffin meminta air kepadamu," ucap Arthur jujur akan apa yang terbesit di pikiran, dan hatinya.

"Ya, udah. Kita buktikan saja nanti hasil penyelidikan polisi. Apakah aku pelaku kasus ini, atau aku adalah korban dari kejadian di rumah ini," Saat mengucapkan kalimat yang keluar dari mulutnya, ada rasa takut di hati Sella kalau Arthur akan menyetujui ucapannya. Namun, karena Sella mau memoles kelicikannya serapi mungkin, tanpa ada celah untuk mengintip kebohongannya, Sella terus mengeluarkan kata-kata yang telah dia rangkai untuk mengelabui Arthur.

'Jangan sampai Arthur menyetujui ucapanku barusan,' harap Sella dalam hati.

'Kalau sampai Arthur mau mengusut tuntas kasus ini, mati aku!' Sella menutup matanya rapat. Dia takut akan terjerat oleh permainannya sendiri.

Melihat Sella yang nekat ingin mengungkapkan semuanya kepada polisi, Arthur jadi kalang kabut. Dia takut jika semua terungkap, maka dia akan masuk penjara karena telah merenggut mahkota Sella pada malam pengantinnya dengan Maya. "jangan nekat, Sel. Ini bisa menyeret kamu, dan aku masuk ke dalam penjara!" ucap Arthur yang semakin takut akan kejadian yang telah terjadi di antara mereka terungkap.

"Begitukah? kenapa aku harus masuk penjara? bukannya aku adalah korban. Memangnya korban dalam sebuah kasus juga dimasukkan dalam penjara? kalau betul begitu, berarti hukum di negara ini sangat luar binasa!" jawab Sella seakan meledek Arthur.

Sella semakin dapat celah, dan angin segar untuk memojokkan Arthur. Dia mengambil kesempatan dalam kegelisahan yang terlihat dari raut wajah Arthur. Sella yang sangat lihai dalam berakting terus berusaha menindas Arthur yang sekarang sudah tidak bisa berpikir lebih banyak lagi.

"Ya, sudah. Aku gak mau lagi buang-buang waktu disini. Aku pergi dulu," Sella merapikan bajunya yang tidak kusut. Padahal di hatinya, dia tidak mau jauh dari Arthur. Apalagi pergi dari hadapan pria yang sangat dia cintai itu.

"Mau kemana?" tanya Arthur yang belum memakai bajunya.

"Ke kantor polisi," jawab Sella enteng yang masih berada di tempatnya semula.

"Jangan, Sel!" Arthur memakai bajunya cepat. "Aku mohon, jangan laporkan masalah ini ke polisi. Aku janji akan membuang jauh pikiran aku yang menuduhmu sebagai dalang kasus ini," mohon Arthur bersungguh-sungguh.

"Aku minta maaf, Sel. Disini aku yang salah, dan kamu adalah korbannya," ucap Arthur mengalah, berusaha membujuk Sella agar tidak memberikan bukti yang dia maksud kepada polisi.

"Kamu mau kan, memaafkan aku?" tanya Arthur dengan penuh harap.

"Ya, aku memaafkan kamu. Tidak ada alasan bagi aku untuk tidak memaafkan sesama makhluk ciptaan tuhan. Sedangkan tuhan saja maha pemaaf. Apalagi aku hanya umatnya," jawab Sella sok bijak.

"Terima kasih ya, Sel," ucap Arthur dengan mata berbinar.

"Itu Artinya, kamu tidak akan melaporkan, dan memberikan buktinya kepada polisi kan?" ucap Arthur memastikan apa yang masih mengganjal di hatinya.

"Aku tidak bilang begitu, aku hanya memaafkan kamu, dan aku akan tetap membuktikan kalau aku bukan pelaku. Akan tetapi, aku adalah korban dari masalah ini," jawab Sella. Dia bersorak gembira dalam hatinya, karena telah bisa mengendalikan Arthur seperti yang dia mau.

"Aku mohon, Sel. Jangan lakukan itu," mohon Arthur dengan sungguh-sungguh.

"Okay. Tapi, aku punya syarat untuk menjamin itu tidak akan pernah bocor," Sella menatap Arthur penuh kemenangan.

"Syarat? syarat apa?" tanya Arthur mendekati Sella.

"Ya, syarat untuk menjamin rahasia ini tetap aman. Syaratnya mudah kok," Sella mengedipkan sebelah matanya sambil menggigit bibir bawahnya.

"Katakan, apa syaratnya?" tanya Arthur penasaran. "Aku akan melakukannya," imbuhnya lagi.

Sella mendekati Arthur, dia mengelilingi tubuh Arthur dengan satu tangan bergelayut di pinggang Arthur, "Syaratnya… sangat enak, kok," ucap Sella tersenyum, "Jangan tegang begitu," bisiknya sensual di telinga Arthur.

Sella berhenti mengelilingi tubuh Arthur, dia berdiri di hadapan Arthur dengan tubuh yang ditempelkan ke dada Arthur hingga bukit kembarnya membentur dada bidang itu. Kedua telapak tangan Sella menelungkupi pipi Arthur, membelainya dengan deru nafas yang menerpa langsung ke wajah yang ada di hadapannya. Arthur bisa merasakan rasa hangat dari nafas Sella yang di wajahnya.

"Karena, kamu sudah membuat aku kecanduan. Maka, kamu harus bersedia melakukannya kembali. Kapanpun aku mau, kamu harus bersedia untuk itu," ucap Sella.

"Deg," Mendengar ucapan Sella yang terdengar sangat frontal, jantung Arthur berdebar, dan bekerja lebih cepat dari biasanya.

Sella mencium bibir Arthur sekilas, setelah mengucapkan syarat yang dia berikan kepada Arthur. Syarat untuk menjamin supaya perbuatanya dengan Arthur tidak ada yang mengetahui.

"Itu artinya kita akan mengulanginya lagi?" tanya Arthur gelagapan karena Sella terus menggodanya hingga tombak pusakanya kembali terbangun.

"Iya." Sella menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan Arthur.

"Sampai kapan?" tanya Arthur minta kepastian. Dia tidak menyangka kalu syarat yang di berikan Sella adalah hal yang tidak dia duga.

"Sampai aku bosan," jawab Sella enteng sambil bermain-main di leher Arthur. Dada bidang Arthur dengan bulatan kecil di sana, tidak luput juga dari kenakalan Sella.

Tangan Sella yang memainkan dada bidang Arthur, turun ke bawah sampai perut, dan terus bergerak hingga tangan itu menyentuh tombak pusaka Arthur yang sudah mengeras dibalik celananya. Sella meremasnya dari balik celana, dengan gerakan tangan yang begitu Agresif.

"Dia kembali bangun," ucap Sella. Lalu, melumat bibir Arthur, dan menyusupkan lidahnya ke dalam rongga mulut Arthur.

Arthur hanya pasrah seperti boneka yang dimainkan oleh Sella. Dia menikmati sentuhan Sella dengan pikirannya yang sangat kacau.

"Apakah kita akan melakukannya lagi?" tanya Arthur yang sudah mulai berkabut birahi, akibat dari kenakalan tangan Sella.

"Ya, kita akan melakukannya lagi. Tapi, bukan sekarang. Mungkin lain waktu," ucap Sella menghentikan aktivitasnya di tubuh Arthur.

"Cih, kamu memulai dan mengakhiri di tengah jalan," umpat Arthur yang sudah bergelora.

"Sekarang, aku belum menginginkannya," ucap Sella yang mencolek kembali tombak pusaka Arthur. "Bukannya syaratnya, kita akan melakukannya kapan aku mau saja," Sella melangkahkan kaki jenjangnya, dan berlalu pergi keluar kamar.

"Sel, mau kemana?" tanya Arthur mengikuti Sella keluar dari kamar.

"Bukannya kita harus ke kantor polisi?" ucap Sella.

"Buat apa? tanya Arthur yang kembali takut jika Sella akan mengantarkan barang buktinya ke kantor polisi.

"Tante Anggita, Maya, dan Daffin sudah ada di sana. Kita harus menyusul mereka." Jawab Sella yang terus berjalan, dengan lenggang lenggok bak seorang model.

"Kamu tidak akan menyerahkan bukti itu, kan?" tanya Arthur kembali. Dia ingin memastikan kalau Sella ke kantor polisi benar-benar hanya mau menyusul mamanya, Maya, dan Arthur saja. Bukan untuk menyerahkan bukti yang Sella pegang.

"Selagi kamu tidak melanggar syarat yang aku berikan. Maka, bukti ini akan aman," jawab Sella tersenyum ke arah Arthur.

"Kamu mau ikut ke kantor polisi apa gak?" tanya Sella yang melihat Arthur tertegun.

"Tapi… kunci mobilku belum ketemu," Arthur mencoba menghentikan langkah Sella yang terus berjalan.

"ini?" Sella memutar badannya ke belakang, dan mengangkat tangannya sejajar dengan kepalanya. Terlihat di tangannya, dia memegang sebuah kunci dengan aksesoris berwarna hitam.

"I-iya," Arthur mengangguk bingung. Sejak kapan kunci mobilnya berada di tangan Sella.

"Nih!" Sella melemparkan kunci yang ada di tangannya ke hadapan Arthur. Dengan ligat, Arthur menangkapnya gelagapan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED