*Bram POV*
Tepat pukul tujuh Bram sampai ke rumah. Setelah memasukan mobilnya pada garasi, aku langsung ke kamar dan mendapati istri pilihan ibunda sedang bersolek.
Dina adalah istri pilihan bunda, perjanjian perjodohan antara bundaku dengan tante Ririn, mama dari Dina, mengharuskan aku menikahi gadis yang tidak aku cintai. Walaupun dia seorang gadis yang cantik, sexy dan berkulit putih mulus. Tetapi rasa cintaku pada Ajeng, tidak memberikan tepat untuknya.
Dina juga seorang gadis yang sangat terbuka dengan segala hal. Dia tidak pernah menutupi apapun. Hanya saja, kasih sayangnya, pada tante Ririn membuat ia mengikuti apa yang menjadi ketentuan atas diri dan masa lalunya, ketika ia menempuh pendidikan di negeri australia.
Aku ingat, pada malam pertama, Dina bercerita tentang masa lalunya. Karena hal itu, aku katakan padanya, kalau aku tidak akan menyentuhnya. Aku juga bercerita padanya, tentang Ajeng. Dan Dina menerima hal itu, seperti aku menerima masa lalunya.
Kami berjanji untuk bisa menghormati privasi masing-masing. Dina selalu tahu ketika Ajeng datang ke kota. Karena aku selalu menceritakan tentang Ajeng kedatangan Ajeng, padanya.
"Dina, aku akan bicara padamu tentang Ajeng," ucapku padanya, untuk membuka kebisuan kami di dalam kamar.
Dina hanya menoleh ke arahku dan tersenyum, lalu dina menyambangi ucapan ku," Bagaimana dengan bulan madunya?"
Aku hanya bisa tersenyum menjawab pertanyaannya. Lalu aku berkata padanya, "Dina, ada hal yang harus aku katakan padamu, dan aku membutuhkan pemdapatmu."
Dina yang mendengar ucapanku, memandang penuh tanya. Lalu kembali aku mengatakan hal yang ia tidak duga sama sekali.
"Dina, apa sebaiknya kita katakan saja pada ibunda, mengenai apa yang sebenarnya telah kita lakoni selama ini sebagai suami istri?"
Mendengar hal itu, Dina menghampiri ku. Dan saat ini kami saling berhadapan dan ia dengan wajah memohon.
"Tidak Bram, aku belum siap untuk hal itu, apalagi bunda sedang sakit dan bagaimana mungkin aku harus melukai hatinya yang selama ini baik padaku?" Dina menjawab dan memohon padaku.
Aku terdiam mendengar ucapan yang tidak aku sangka dari Dina. Selama ini aku yang sangat berhati-hati jika harus berurusan dengan bundaku. Hanya aku putra tunggalnya, karena bunda harus bercerai atas perintah eyang kakungku.
Ayah adalah lelaki tampan dan baik hati. Hanya dia satu-satunya dari keluargaku yang tahu dan saksi dari pernikahanku dengan Ajeng, dikampung halaman Ajeng. Sedangkan bunda tidak tahu tentang hubunganku dengan Ayah.
Aku tahu dari ayah tentang perceraian yang terjadi antara bunda dan ayah. Dan semua itu karena status sosial Ayah yang berada dibawah bunda.
Akhirnya ayah harus menyerah untuk mempertahankan cintanya. Oleh karena itu, aku akan bertekad mempertahankan cintaku pada Ajeng yang berbeda status denganku.
Aku ingat, dulu perceraian antara bunda dan ayah dilakukan oleh eyang kakungku. Kala itu aku baru kelas tiga sekolah dasar. Aku yang waktu itu tidak tahu menahu tentang eyang kakungku, akhirnya aku melihat dan mengenalnya.
Keributan di rumah kecil kami saat itu, membuat bundaku menanggis dan memohon maaf pada eyang kakungku. Sedangkan ayahku waktu itu hanya bisa tertunduk lesu, bersimpuh dikaki eyang kakungku bersama bundaku.
Yang ku ingat saat itu, eyang sangat marah dan menyalahkan bunda serta ayahku sebagai penyebab dari wafatnya eyang putri. Akhirnya ayah menebus rasa bersalah dan penyesalnya dengan melepaskan bunda pergi bersama ku dan eyang kakung.
Ketika itu aku tidak tahu permasalahan yang terjadi sebenarnya. Hanya saja, setiap hari ayah selalu menyempatkan diri kesekolah untuk bisa berbicara dan mengajak aku bermain serta membelikan beberapa kue kesukaanku, ketika jam istirahat sekolah.
Setiap hari aku di antar dan di jemput oleh sopir eyang kakungku. Hingga akhirnya dimasa sekolah menengah pertama, ketika eyang kakungku sakit. Aku baru tahu cerita yang sebenarnya, tentang bunda dan ayahku.
Bunda bercerita padaku, 'Ayah adalah sopir keluarganya. Dia berasal dari dusun yang jauh dari kota. Karena keuletan dan kejujurannya, ayah disenangi keluarga bunda. Walaupun ia hanya seorang sopir, tetapi ayah melanjutkan kuliah, demi tujuan hidup yang lebih baik.
Sebenarnya hal utama ia kuliah, karena ia ingin dirinya bisa sejajar dengan keluarga bunda. Sampai akhirnya, ayah di wisuda dan mendapatkan pekerjaan yang layak untuk dirinya dan pujaan hatinya, bunda.
Ayah jatuh cinta pada bunda, ketika bunda masih sekolah lanjutan atas. Diam-diam mereka saling jatuh cinta dan berjanji akan menikah ketika ayah sudah bisa mencapai gelar sarjana dan bisa mendapatkan pekerjaan yang layak serta punya penghasilan yang layak.
Karena kecerdasaan ayah, perusahaan mempromosikan ayah menjadi kepala pada salah satu cabang pada perusahaan tempat ayah bekerja. Karena ayah merasa penghasilan dan jabatannya telah pantas untuk menyunting bunda, maka ayah memberanikan diri untuk mengemukakan keinginannya pada eyang.
Ketika hal itu diutakan, eyang tidak menyetujui dan merestuinya. Eyang lalu mengusir dan menghina ayah dengan kata-kata yang kasar. Seketika harapan ayah untuk mempersunting bunda kandas. Hanya saja mereka masih menjalin kasih tanpa sepengetahuan eyang kakung.
Akhirnya, atas dasar cinta kasih pada ayah, bunda memberanikan diri untuk pergi dari rumah untuk menikah dengan ayah. Setelah kejadian itu, bunda dan ayah pindah dari kota itu dan memulai hidup mandiri demi cinta mereka.
Sampai akhirnya, mereka dipisahkan oleh eyang kakungku dengan tuduhan penyebab dari wafatnya eyang putriku. Sebagai rasa bersalah, maka bunda pun rela meninggalkan ayahku, walaupun bunda masih mencintai ayah.
Karena bunda pun tidak ingin kehilangan eyang kakung seperti ia kehilangan eyang putri.
'Hmmm lamunan ku sangat jauh, ketika harus mendengar penolakan dari dina.'
Lalu Dina pamit padaku untuk bertemu dengan teman-temannya. Tetapi baru saja Dina melangkah menuju pintu keluar kamar kami. Aku menarik tangannya.
Aku berkata padanya," Din, kita sudahi saja, sandiwara kita yang sudah sepuluh tahun ini, kamu tahu, saat ini Ajeng sedang hamil!"
Sekita dina terdiam dan mundur memasuki kamar kami. Dina terduduk lesu di pinggir tempat tidurnya, karena selama ini aku selalu tidur di sofa yang ada di kamar itu.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan, Bram?" tanya Dina padaku.
Kini kami saling berhadapan, dan aku lihat Dina memandangku dengan tatapan tajam. Dan untuk pertama kalinya aku melihat, alis tebal Dina mengerut ikut memikirkan jalan keluar dari masalah rahasia kami.
"Kita harus mengatakan yang sejujurnya pada bunda dan mama Ririn," ucapku pada Dina.
Seketika dina menangis mendengar apa yang menjadi pendapatku. Dan ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kamu tahu kan Bram, selama ini aku menutup semua rapat tentang masa laluku, Bagaimana mungkin aku membuka aib diriku yang selama ini aku tutupi?" Isak tangis Dina yang tertahan hanya terlihat dari air matanya yang terus mengalir.
Kesunyian kamar yang biasanya kami tempati selama sepuluh tahun akhirnya diisi dengan tangisan Dina. Dan aku yang tidak bisa melihat seorang wanita menangis. Hanya mampu terdiam. Seketika pikiranku kacau.
Tidak ada yang bisa aku lakukan. Aku hanya berdiri menghadap kaca hias di kamar kami. Dan Dina masih terlihat menangis di pinggir tempat tidur kamar kami. Ada sebersit rasa kasihan dihatiku pada Dina. Hanya rasa kasihan bukan cinta, seperti yang aku rasakan pada Ajeng.
Bukan karena dia pernah bersama orang lain dan mempunyai seorang anak di negeri orang. Tapi karena memang aku hanya mencintai Ajengku. Dilema bagi diriku saat ini adalah, harus mengatakan yang sesungguh telah terjadi sepuluh tahun yang lalu, baik masalah aku dan Ajeng, serta masa lalu Dina pada masa lampau.
Kesunyian itu aku lewati dengan melihat photo-photo Ajeng dan diriku ketika kami menikah. Teringat beberapa tahun yang silam. Ketika kami sama-sama memakai baju abu-abu. Dimana ajeng dari kelas biologi melintas ke laboratorium yang harus melewati kelas kami.
Sejak aku melihat wajahnya yang ayu aku langsung jatuh cinta. Aku adalah seorang playboy tampan dan tajir. Banyak wanita tergila-gila padaku. Tetapi menurut pandanganku saat itu. Ajeng yang tidak pernah merespon ketika diriku menyapa dan tidak menganggap aku ada, membuat aku penasaran pada sosok kepribadiannya yang bersahaja.
Ia tidak genit seperti wanita lainya. Dan hal itu yang membuat aku sangat kepicut dengan Ajeng yang mempunyai wajah ayu dan menyejukkan bagi yang melihatnya.
Aku sangat ingat sekali, kejadian ketika aku dan ajeng jadian untuk pertama kalinya.
Ajeng berkata," Kita jalani saja dulu, karena ia ingin mengenal kepribadianku."
Aku tersenyum kecut, ketika Ajeng mengatakan hal itu, Tetapi karena rasa penasaranku dan rasa hormatku padanya maka aku pun menyetujuinya.
Seiring berjalannya waktu, aku semakin mencintai ajeng dengan kepribadian dan keluwesannya sebagai seorang remaja putri yang waktu itu di titipkan dirumah pamannya.
Ajeng berasal dari desa kecil yang melanjutkan sekolah di kota dan ikut bersama pamannya. Karena ayahnya telah wafat ketika dirinya masih kecil. Aku ingat sekali, bagaimana Ajeng melakukan tugas rumah tangga di rumah pamannya.
Seketika aku tertekun melihat dirinya melakukan banyak hal dirumah itu. Waktu itu sore hari, ketika aku berkunjung kerumah pamannya.
Aku berniat minta izin pada pamannya, untuk mengajak Ajeng keluar untuk pergi ke bioskop. Sewaktu aku kesana, Ajeng sedang menyapu. Setelah itu aku lihat ia menyiram tanaman yang ada di kebun pamannya. Setelah itu ajeng menemui aku .
"Maaf yaa Bram harus lama menunggu, aku mandi dulu yaa," ucap Ajeng menghampiriku di ruang tamu.
Aku hanya menganggukkan kepala, seraya tersenyum manis. Sekitar lebih dari tiga puluh menit, aku ditemani oleh pamannya. Dari pamannya aku baru tahu, kalau Ajeng sudah tidak punya ayah.
Setelah ajeng selesai berhias, kami pun pamit. Dalam perjalanan Ajeng terlihat canggung. Dia hanya terdiam dan sesekali mencuri pandang melihatku.
Aku memecahkan kesunyian dengan bertanya segala sesuatu yang berhubungan dengan ha-hal yang waktu itu sedang tranding. Sampai ke persoalan teman-teman kami di sekolah.
Hingga akhirnya kami sampai di bioskop. Aku pun membeli tiket untuk menonton dan membeli beberapa camilan untuk kami bawa ke dalam bioskop.
Awalnya aku ragu untuk mengandeng tangannya. Tapi karena aku sudah merasa yakin kalau dia pun mencintai aku, maka aku beranikan diri umtuk mengandeng tangannya, ketika kami akan memasuki ruangan bioskop yamg agak gelap itu.
Kalau saja saat itu di bioskop terang benderang, mungkin saja akan terlihat warna dari wajahku yang merah karena malu dan nervous.
Kami duduk dibagian tengah. Dan aku memberanikan diri untuk tetap mengengam tangan Ajeng. Sedangkan Ajeng hanya terdiam. Tidak ada kata-kata yang di ucapkan.
Ketika bioskop memutarkan film , pikiran ku melayang entah kemana sampai sampai aku tidak tahu jalan ceritanya. Aku tersenyum simpul ketika mengingat kencan pertamaku dengan Ajeng.
'Ya, dia wanita ku. Kekasih hatiku. Belahan jiwaku. Terlalu sulit melihat celah salah dari seorang ajeng,' bisik hatiku.
Tapi mengapa bunda tidak bisa melihat sisi baik dan santunnya Ajeng, ketika aku katakan kalau aku sudah punya calon.
Dilema yang ku alami ini mau tidak mau , harus aku atasi, karena aku tidak ingin Ajeng terluka untuk kedua kalinya. Setelah Dina menangis dan aku terdiam di kamar kami. Tidak ada yang bisa kami ucapkan, selain kebisuan diantara kami. Sampai akhirnya kami tidur di tempat tidur masing-masing.
Pagi ini aku bangun dengan semangat dan keyakinan atas pembicaraan yang aku katakan pada Dina.
Aku tidak ingin mengorbankan Ajeng atas ketakutanku, atau atas rasa kasihku pada bundaku. Ajeng saat ini sudah banyak berkorban dan berusaha memahami atas apa yang sudah terjadi dalam keluargaku. Jadi aku putuskan, kalau anak kami tidak boleh mengalami penderitaan seperti yang diderita oleh kami.
Aku menyambangi kamar bundaku. Aku melihat dirinya, seorang wanita paruh baya yang cantik dan bersahaja. Ketika ibunda melihatku, Diapun melambaikan tangannya. Memerintahkan aku masuk kekamarnya.
"Kapan kamu datang dari luar kota Bram?" tanya bunda pada diriku.
"Kemarin bunda, hanya saja ketika Bram pulang, bunda sudah terlelap maka, Bram tidak ingin menggangu, langsung ke kamar," jawabku.
Mari kita makan bareng Bram, kita sudah lama tidak makan bersama. Aku mendorong kursi roda bunda hingga sampai ke meja makan. Bunda mengalami stroke beberapa tahun yang silam. Dan saat ini sedang dalam taraf therapi pemulihan.
Kami sampai di meja makan, tetapi aku tidak melihat Dina ada di meja makan.
"Bram, apa Dina terlalu lelah semalam hingga belum bangun tidur?" tanya bunda.
Bunda mencoba bercanda padaku, karena ia pikir, kami melakukan hubungan intim, sehingga ia meyangka, Dina terlambat bangun tidur karena hal itu. Aku hanya tersenyum kecil mendengar celoteh bunda.
Aku mencari dina ke kamarnya. Lalu kami pun, sama-sama pergi ke meja makan. Selesai makan, bunda berbicara padaku perihal keinginannya melihat cucu yang selama sepuluh tahun ini dia harapkan. Dan bunda berharap Dina bisa cepat hamil.
Dengan sisa keberanian, aku minta waktu pada bunda untuk membicarakan sesuatu hal yang penting. Maka ketika aku, bunda, dan Dina duduk di ruang keluarga. Aku mulai mengatakan pada bunda, kalau saat ini, aku akan menjadi seorang ayah.
Seketika bunda terlihat sangat bahagia dan terharu mendengarnya. Sampai-sampai dia minta Dina mendekat kearahnya karena ia ingin memeluk Dina.
Lalu kembali aku menyambung kataku," Tapi bunda...," ucapanku terbata-bata.
"Calon ibu dari anakku bukan dari Dina," ujarku pada bunda dan merasa lidahku terasa kelu.
Mendengar ucapanku seperti itu, membuat bunda terkejut, dan berkata dengan dahi berkenyit.
"Apa maksudmu Bram?" Aku lihat keryitan dahi bundaku mempertanyakan ucapanku.
Lalu aku menceritakan perihal ajeng pada bunda. Dari kami berpacaran sewaktu sekolah menengah atas hingga Ajeng menunggu sampai aku selesai kuliah. Dan akupun bercerita pada ibunda perihal sewaktu aku bercerita padanya tentang calon istriku dan bunda menentangnya.
Sampai akhirnya aku pergi dari rumah dan ketika kembali kerumah, segala persiapan pernikahan sudah disiapkan tanpa seizin diriku. Namun aku melakukan keinginan bunda karena menghormati dan mengasihinya.
Bahkan aku pun mengatakan pada bunda, kalau ayahlah yang menjadi saksi pernikahan antara aku dan Ajeng.
Belum selesai aku menceritakan apa yang terjadi antara aku dan Dina, seketika bunda histeris menangis dan jatuh pingsan. Aku tidak tahu harus bagaimana dengan hal ini. Tapi aku sudah tidak dapat menarik semua perkataan yang tadi aku katakan pada bunda.
Tidak ada jalan yang lebih baik, selain membicarakan segala kebohongan yang telah sepuluh tahu aku dan Dina tutupi. Tetapi aku sama sekali belum sempat mengatakan apapun tentang yang terjadi antara aku dan Dina selama ini.
Aku membawa ibunda ke rumah sakit dengan perasaan yang tidak menentu. Ada penyesalan, ada kesedihan, ada pula perasaan lega ketika semua kebohongan yang selama sepuluh tahun, aku tutupi dengan rapi terbuka.
Sesampai di Rumah Sakit, bunda di periksa dengan dokter spesialis. Dan bunda dinyatakan harus menginap beberapa hari di Rumah Sakit. Karena dokter harus memantau penyakit strokenya, yang sudah dalam penyembuhan tapi sekarang mengalami kemunduran lagi.
Dokter menanyakan kepadaku beberapa pertanyaan perihal yang menyebabkan bunda pingsan. Akupun mengatakan apa yang harusnya aku katakan. Perihal keterkejutan bunda atas tindakanku yang mengatakan segala kebohonganku selama ini.
Terlebih perihal ayah yang tidak pernah aku sampaikan ke bunda. Kalau selama ini kami sering bertemu, makan bareng, memancing ikan dan nonton bola selayaknya seorang anak lelaki dan ayahnya.
Aku melihat bundaku tertidur lelap di ruang rawat inap Rumah Sakit dengan perasaan menyesal. Ketika aku ingin meninggalkan bundaku untuk istirahat, aku baru menyadari kalau bunda sudah terlihat semakin tua, ditambah dengan penyakit stroke yang telah dideritanya selama tiga tahun ini.
Dalam hati aku berucap, "Bunda maafkan aku, aku katakan semua ini, karena aku merasa inilah jalan kebenaran yang harus aku putuskan demi kita semua."
Setelah berkata pada bunda yang masih dalam keadaan tertidur lelap, aku pun meninggalkannya untuk pulang ke rumah.
*BRAM POV*
Keesokan harinya, aku lihat bunda telah siuman. Dan aku melihat kondisi bunda dari jendela yang ada di ruang tamu pasien. Karena saat ini aku berada di ruang tamu, yang ada di ruang perawatan bunda.
Untuk saat ini, aku belum berani untuk bertemu bunda. Aku tidak ingin bunda mengingat kejadian kemarin. Oleh karena itu aku tidak ingin mengganggu ketenangan bunda.
Hanya dina yang menunggu bunda di dalam kamar perawatannya. Dan saat ini, aku melihat dina sedang menyuapi bunda. Tetapi aku sama sekali tidak bisa mendengarkan pembicaraan diantara mereka.
Aku masih menunggu di ruang tamu, ketika seorang perawat memasuki ruang perawatan, untuk memberikan obat yang harus di minum oleh bunda. Setelah itu, aku lihat bunda meminum obat yan diberikan obat pada perawat tadi. Lalu Dina terlihat, berpamitan pada bunda dan meminta bunda untuk beristirahat.
Dina akhirnya keluar dari kamar bunda. Dan melihat aku yang sedang duduk di sebuah sofa panjang ruang tamu. Ia pun langsung duduk di sebelahku.
"Mas Bram sudah sarapan?" tanya Dina padaku.
Aku hanya menggelengkan kepala. Karena memang, pagi-pagi buta aku keluar dari rumah Ajeng untuk mengetahui kondisi bunda di Rumah Sakit ini. Jadi aku tidak sempat untuk membeli sarapan pagi.
Lalu Dina mengajak aku untuk mencari sarapan pagi di kantin Rumah Sakit. Kami menyusuri lorong-lorong panjang yang ada di Rumah Sakit ini, untuk sampai ke kantin. Sesampai di kantin, kami duduk berhadapan dan memesan sarapan pagi.
Beberapa menit kemudian, sarapan pagi yang kami pesan pun telah disajikan. Kami pun menikmati sarapan pagi ini, tanpa berkata sepatah kata pun. Selesai sarapan pagi, kami memutuskan untuk duduk di taman yang ada di Rumah Sakit untuk membicarakan kondisi bunda.
Kami sampai di taman, dan duduk disebuah kursi panjang yang terbuat dari kayu jadi. Aku lihat sebuah taman yang rapi dengan bunga-bunga indah dan taman yang terawat.
Seketika aku jadi teringat akan Ajeng, kekasih jiwaku. Kemarin aku hanya memberitahu Ajeng, kalau bunda kembali sakit dan harus dirawat. Tetapi aku tidak bercerita penyebab dari sakitnya bunda. Karena, aku tidak ingin Ajeng merasa bersalah atas kejadian antara bunda dan aku.
Aku takut terjadi sesuatu dengan buah cinta kami, kalau ajeng tahu penyebabnya. Hal itu akan menyita pikiran Ajeng, dan aku tidak ingin Ajeng stress memikirkan hal ini. Yang aku tahu, orang dengan kehamilan semester pertama atau hamil muda, hatinya harus terus bahagia, tanpa terbebani atas hal-hal yang menyita pikirannya. Dan kebanyakan beberapa wanita yang hamil muda lebih sensitif dan lebih mudah menangis.
Dan aku sangat mengerti pribadi Ajeng, yang selalu berempati dengan orang di sekitarnya, hingga terkadang ia jarang sekali untuk memikirkan kebahagiaan untuk dirinya sendiri.
"Mas Bram...," panggilan Dina membuyarkan pikiranku tentang Ajeng.
"Yaa...Din, katakan padaku bagaimana dengan kondisi bunda saat ini?" tanyaku langsung ketika tersadar dari lamunan.
"Untuk saat ini, bunda harus lebih banyak ber stirahat, dan disarankan untuk tidak membuat emosi meledak, karena hal itu akan menyebabkan bunda terserang stroke kembali."
Mendengar jawaban Dina atas kondisi bunda saat ini, lalu aku pun bertanya pada Dina," Jadi sekarang harus bagaimana?"
"Aku tidak bisa lagi membiarkan Ajeng berkorban demi keluargaku.’’
Mendengar kata-kataku yang meluncur seketika dengan nada nada sedikit tinggi. Dina hanya terdiam, tertunduk. Lalu Dina berkata," Mas Bram, bicarakanlah hal ini dengan Ajeng, Aku yakin Ajeng akan mengerti dengan kondisi bunda saat ini."
Seketika aku hanya bisa terdiam dan melamun karena aku tidak tahu, apa yang bisa aku sampaikan pada Ajeng. Kemudian aku balik bertanya pada Dina," Dan kapan rencananya, kamu akan mengatakan yang sesungguh yang sebenarnya?"
Dina menoleh ke arahku dan dia hanya mengangkat bahunya. Tetapi ia menjawab pertanyaanku dengan kalimat yang menohok hatiku.
"Mas, aku tidak mungkin mengatakan hal yang membuat bunda sekarat, aku menyanyangi bunda melebihi rasa sayangku pada mama," ucap Dina dengan pandangan tajamnya kearahku.
Kami berdua dalam dilema yang sangat berat untuk bisa memutuskan apa yang harus kami dahulukan dan yang harus kami kesampingkan. Aku juga tidak bisa mengungkapkan rahasia sesungguhnya yang terjadi pada Dina.
Dulu ketika malam pertama kami, aku telah berjanji pada Dina untuk tidak membuka rahasia yang telah ia ceritakan padaku. Kecuali ia sendiri yang menceritakannya. Mungkin kelak kami akan menceritakan semua. Kami akan menunggu waktu yang baik dan tepat.
Kini aku menyadari, ternyata sebuah kebohongan akan menjadi kebohongan dan akan selalu di ikuti dengan kebohingan lainnya. Dan itu sangat kami sesali. Karena jalan di kedepan dari hidup kami, tidak ada satupun yang tahu. Hingga akhirnya kebohongan demi kebohongan kami lakukan selama sepuluh tahun.
Dulu kami berpikir kebohongan ini, sebagai rasa cinta kepada kedua orangtua kami. Dan menggangap kebohongan ini, untuk kebaikan semua pihak. Ternyata kebohongan adalah kebohongan. Tidak ada kebohongan yang akan berakhir dengan kebaikan.
Sekalipun beberapa orang menyebutnya, sebagai kebohongan putih, karena dilakukan untuk sebuah kebaikan. Dan kini akhirnya, aku menyesali atas segala kebohongan yang aku lakukan seoanjang hidupku.
Aku berpikir, ini adalah sebuah tindakan pengecut bagi kami, yang tidak bisa menerima kenyataan, dan tidak bisa mengambil keputusan dengan bijak, hingga kami terseret dalam masalah yang demikian besar.
Kini kami harus bisa mengurai masalah besar yang telah seperti benang kusut. Kami tidak tahu awal mana yang harus aku perbaiki dari kekusutan masalah ini. Yang pasti aku sadari, korban yang sesungguhnya adalah hanya seorang Ajeng.
Dialah orang yang sangat menderita dan menjadi korban atas segala kebohongan kami. Kalau saja waktu itu, aku bisa mengambil langkah tegas atas segala yang telah aku ketahui, tentang rahasia masa lalu Dina. Mungkin kini, aku tidak akan terjebak dalam dilema ini.
Sakit sekali rasanya kepalaku saat ini, memikirkan janjiku pada Ajeng yng tidak pernah aku tepati. terasa sesak sudah dadaku. Hingga aku menghela bapas berulang kali, agar penat dan beban berat ini dapat aku atasi.
"Mas Bram, apa kamu saki?" Dins bertanya padaku, karena dilihatnya aku memegang kepala dan menghela napas panjang berukang kali.
"Tdak Din, mungkin aku kurang istirahat saja," Jawabku sambil melepas tangan Dina yang memegangi tanganku.
Karena untuk sesaat, mataku seperti berkunang-kunang ketiks memikirkan beban yang terasa berat. Hingga Dina pun mengetahui perubahan wajah dan diriku yang hampir terjembab dari kursi ini.
Selama ini aku selalu menghindari Dina. Aku tidak ingin ia menyentuh diriku. Baik itu tanganku apalagi yang lain. Karena aku tidak ingin mempunyai rasa apapun. Aku sebagai lelaki normal tidak ingin memanfaatkanya ketika aku jauh dari Ajeng.
Aku berusaha sedemikian keras, karena walau bagaimanapun, aku adalah lelaki yang mempunyai hormon lebih tinggi dari wanita. Dimana segala sesuatu hal bisa saja terjadi ketika kita tidak bisa mengontrol diri dan emosi kita.
Apalagi Dina seorang wanita yang cantik dengan kulit bersih, sexy dan penampilan dirinya yang energik dan terbuka pemikirannya membuat aku selalu menghindarinya.
Aku tidak berani membayangkan apapun tentang dirinya. Walaupun aku tahu sebagai lelaki, antara Dina dan Ajeng sangat berbeda jauh dari pisik mereka. Tetapi ketulusan dan cinta kasih Ajeng padaku selama ini, membuat aku bisa mempertahankan kelelakianku dihadapan Dina.
Dina sempat terhentak atas tindakanku yang melepaskan tangannya dari lenganku ketika, ia melihatku hampir terjatuh. Sempat pula aku dengar Dina berkata dengan nada tidak senang, karena aku menolak tangannya.
"Menurut mu, aku salah...jika memegang tangan mu ketika aku lihat kamu hampir jatuh?" Seloroh dina dengan pertanyaan nya.
"Tidak, bukan begitu Din," jawabku cepat dan singkat.
Akhirnya kamipun membisu satu sama lain. Hampir satu jam, kami hanya bemain dengan ponsel kami, dan tiba-tiba ponselku berbunyi. Dan kulihat ada panggilan dari Ajeng.
"Yaaa sayang, sekarang mas ke rumah."
Setelah itu, aku pamit pada Dina, dan aku meminta ia mengabari aku jika ada sesuatu hal dengan bunda. Dina pun hanya menganggukan kepalanya, dan membiarkan aku beranjak dari kursi panjang di taman itu.
Aku lihat sebersit wajah Dina yang terlihat kecewa. Tapi aku tidak peduli dengan semua itu. Karena saat ini bagi diriku Ajeng adalah segalanya. Aku berjalan menyusuri lorong dan beberapa bangsal Rumah Sakit dengan sedikit berlari-lari kecil menuju parkir mobil.
Akhirnya akupun sampai diparkir dengan napas sedikit terengah-engah. 'hmmm lumayan jauh juga' ujar batinku.
Dalam perjalanan menuju rumah Ajeng, aku sengaja mampir ke toko roti, untuk membelikan beberapa roti kesukaan Ajeng. coklat adalah kesukaannya. Dan aku membelinya beberapa untuk di rumah.
Akupun kembali ke parkir mobil dan mulai menyusuri jalan menuju ke rumah mungil kami. Dan kulihat disekitar pinggir jalan ada beberapa lapak atau kios yang menjual beraneka ragam buah-buahan. Lalu akupun membeli beragam jenis buah-buahan yang disukai oleh Ajeng.
Saat ini, aku hanya berpikir untuk bisa memberikan hal yang terbaik untuk Ajeng dan bisa menjaga diri dan bayinya yang ada dalam masa kehamilan mudanya. Beragam buah-buahan telah aku beli seperti pir hijau, semangka, alpukat dan jeruk tentunya.
Setelah membayar, aku pun beranjak kembali ke mobil dan mulai meneruskan perjalanan ke rumah. Perlu sekitar tigapuluh menit dari penjual buah itu untuk sampai ke rumah mungil kami.
Ketika mobilku baru sampai pagar, Ajeng telah membukakan pintu gerbang dan menyambutku dengan senyum ayunya. Hal itulah yang tidak bisa aku tinggalkan dalam benakku walaupun sejenak.
Aku lihat, dia memakai daster warna hijau muda dengan satu tali dan agak terlihat tipis. Jadi ketika terkena matahari, aku dapat melihat lengkuk tubuhnya.
Aku tersenyum-senyum sendiri dalam mobil ketika memarkir mobilku. Setelah aku membuka mobil dan keluar dari sana, aku sudah disambut dengan ciuman hangatnya yang mendarat di pipiku. Kami beranjak masuk kerumah. Dan kamipun sampai kedapur.
"Kamu sudah sarapan sayang?" Tanyaku pada Ajeng
"Sudah mas, tadi aku buat telur dadar, karenakan aku tidak tahu, dimana harus membeli sesuatu disini," jawab Ajeng.
Dia membuka bungkusan yang aku bawa. Dan mengambil roti kesukaannya.
"Makasih mas Bram,’’ kata ajeng setelah dia memasukan sepotong roti pada mulutnya.
Aku bahagia melihat dirinya saat ini berada disisiku. Karena sejak kejadian beberapa hari lalu, tidak ada alasan lagi bagi Ajeng untuk kembali kekampung. Karena memang tempat dia seharusnya disini. Menemani kesepianku ketika dia berada jauh disana.
"Gimana mas, sudah bicara dengan ibunda?" tanya Ajeng disela roti terakhir yang dia makan.
"Ya, nanti aku ceritakan, sekarang minum dulu susunya yaa sayang," ucapkan sambil berpikir cara berbicara pada ajeng tentang kondisi bunda pasca pingsan kemarin.
Aku pikir, seharusnya tidak aku sampaikan dahulu perihal kejadian yang sesungguhnya. Karena aku tidak ingin terjadi dengan kandungannya di trisemester pertama. Yang diperlukan ajeng saat ini hanyalah rasa nyaman, bahagia dan ketenangan pikiran.
"Ayoo mas, ceritakan tentang kondisi bunda saat ini," ujar Ajeng dengan penasaran.
"Ajeng, aku belum menyampaikan apapun pada bunda, karena kondisi bunda belum stabil, penyakit gula bunda kambuh dan masih terus dalam pantauan Dokter di Rumah Sakit, kita tunggu sampai kondisi bunda stabil yaa," ucapku, seketika meluncur dari mulutku.
"Bagiamana kondisi terakhir bunda sekarang ini mas?" Terpancar kecemasan dalam wajah Ajeng, ketika bertanya tentang perihal ibunda.
"Tadi pagi aku lihat di Rumah Sakit, kondisi bunda terlihat sudah agak membaik," jawabku untuk menenangkan hatinyaSyukurlah mas," jawab Ajeng dengan wajah terlihat agak lebih tenang.
Setelah kami selesai menceritakan perihal tentang bunda, aku beranjak pergi ke kebun sedangkan Ajeng merapikan dapur dan menaruh beberapa roti dan buah-buahan yang telah aku beli.
Aku selalu merapikan tanaman yang dulu ditanam Ajeng ketika kami, pertama kali menempati rumah mungil ini. Ajeng yang memilih beberapa bunga dan pohon-pohon yang harus dibeli.
Begitupun dengan penempatan atas pohon-pohon besar ataupun beberapa tanaman kecil yang kami taruh di dalam pot. Seperti bunga melati dan bunga sedap malam, ditanam persis dibawah jendela kamar kami.
Kami sangat menyukai keharumannya sehingga kami tidak memerlukan aromatic untuk kamar kami. Beberapa pohon besar yang ditanam, selalu aku potong daun-daunnya agar terlihat rapih dan tertata apik.
Setelah semua pekerjaan rumah bagian kebun selesai, aku mulai membersihkan kolam kecil yang waktu itu aku buat. Waktu itu aku berpikir, hanya untuk mempermanis kebun itu ditambah suara gemericik air yang aku aliri dikolam itu, membuat rumah mungil kami lebih nyaman untuk kami tinggali.
Dan saat ini aku sangat berbahagia, karena rumah mungil ini yang biasanya sepi ketika aku membersihkannya sekarang sudah tidak lagi kosong dan sunyi. Ada suara Ajeng yang menemani aku berbicara.
Setelah pekerjaan selesai, aku beranjak ke rumah. Dan mendapati Ajeng sedang mempersiapkan makan siang seadanya. Aku melihat dia memasak nasi goreng di tambah dengan telur dan sosis.
Dia melihat aku menghampirinya dan ia tersenyum manis, sambil memberikan isyarat kalau masakannya hampir selesai. Dengan mimik, ia memberitahu aku dengan jari tangannya agar aku bersabar dan tunggu.
Aku hanya tersenyum, dan menganggukkan kepala. Beberapa menit kemudian, Ajeng menyajikan makanan di meja makan. Diavpun menyiapkan teh manis. Lalu kami pun makan siang bersama. Sungguh kebersamaan yang indah dan tidak pernah aku impikan selama ini.
Sesaat selesai makan, aku membantu Ajeng untuk merapikan meja makan, setelah itu aku memutuskan untuk mandi. Karena sewaktu di Rumah Sakit tadi pagi, aku belum mandi.
Aku lihat, Ajeng mencuci beberapa piring yang tadi kami pakai untuk makan siang kami ketika aku berlalu dari dapur menuju menuju kamar mandi. Dan dengan sengaja aku tidak membawa handuk. Karena aku ingin, nanti Ajeng yang akan mengambilkan handuk untukku ke kamar mandi.
Dengan demikian aku akan bisa mengajaknya mandi bersama. pikiran nakalku, membawa aku ke kamar mandi dengan senyum dan hasrat yang akan aku habiskan bersama Ajeng.