Bab 2

"S-siapa ini!?"

["Ck! Baru saja kita bertemu kau sudah lupa?"]

Shella kembali terkejut, firasatnya tidak salah lagi. Siapa lagi kalau bukan Hans? Orang yang tengah berbicara dengannya melalui jaringan telepon.

Dengan kedua mata yang masih terbuka lebar, wanita itupun mengalihkan pandangannya kepada sang putri kecilnya. Tentu ia merasa khawatir jika Arshetta mendengar pembicaraan ibunya dengan orang asing tersebut.

Akan tetapi belum sempat Shella meminta izin kepada anaknya, sang penelepon pun kembali berkata, ["Tidak usah menjauh dari anakmu, karena aku tidak akan lama-lama berbicara denganmu."]

Debaran jantung Shella semakin berdetak kencang, dengan sorot mata menatap ke sembarang arah, bahkan ia menggigit jaru kukunya sendiri menyiratkan rasa takut yang teramat dalam.

"Dari mana kau tahu nomor ponselku!?" cetusnya dengan tetap berusaha mengatur nada bicaranya.

Lalu dari seberang sana, Hans terkikik mendengar pertangaan Shella yang menurutnya sangat konyol.

["Kamu tidak perlu tahu tentang itu, karena sangat mudah bagiku untuk mendapat semua informasi tentangmu, begitu pula dengan keluargamu,"] jelas Hans, ["Dan ya ... aku hanya ingin mengatakan kalau aku melupakan sesuatu."]

"Apa? Cepat katakan dan tutup teleponnya!" titah Shella yang mulai geram dengan lawan bicaranya.

["Aku meninggalkan sesuatu untuk Shetta di depan pintu, tolong berikan padanya. Aku yakin dia akan menyukainya."]

Mendengar hal itu lantas membuat Shella terkekeh, kenapa pula ia harus menerima pemberian dari lelaki yang sama sekali tak disukai olehnya?

"Ya, ya, aku tidak akan melupakannya dan aku akan segera membuangnya, bye!"

Tut ... Tut

Dengan amarah yang tengah meluap-luap Bella pun akhirnya mengakhiri pembicaraan yang berhasil membuat debaran jantungnya berdetak tak karuan, pun dengan pikirannya yang seketika merasa kalut.

Shella mengembuskan napas kasarnya sembari meletakkan kembali ponsel tersebut.

Sungguh, ia tak habis pikir dengan Hans yang telah berani mengunjungi rumahnya.

"Mama kenapa?" tanya Arshetta berhasil memecah keheningan, pun membuat Shella mengerjap.

Gadis itu menatap ibunya dengan dalam, seakan-akan merasa cemas dengan gelagat yang ditunjukkan oleh Shella.

Betapa tidak? Kedatangan Hans sepertinya cukup berpengaruh terhadap emosional Shella, waktu bermain yang sangat menyenangkan itu harus terganggu bahkan berubah menjadi canggung karena kehadiran lelaki itu.

Sedangkan Shella yang sedari tadi terlihat melamun dengan kening mengerutpun akhirnya menyadari bahwa putri kecilnya sedang memperhatikan dirinya.

Seketika saja Shella mulai menyinggingkan senyumannya meski terlihat dibuat-buat.

"Ah, tidak apa-apa, Nak," sahut Shella bernada rendah.

"Lalu, siapa yang menelepon Mama? Apa itu Papa?" tanya Arshetta kembali, tampak sekali bahwa gadis itu merasa penasaran dengan sosok yang tengah berbincang dengan ibunya.

"Bukan, Nak. Itu--itu hanya teman lama Mama, kok."

Ya, meskipun begitu ... Shella merasa menyesal telah membohongi Arshetta, pun harus menyembunyikan sesuatu dari putrinya sendiri.

Beruntung saja Arshetta percaya dengan jawaban yang dipaparkan oleh ibunya dan tidak bertanya hal lain lagi setelahnya.

Akan tetapi, meski hal itu cukup melegakan namun tetap saja ucapan Hans rupanya masih terngiang-ngiang dalam benak wanita beranak satu tersebut, terlebih saat lelaki itu memberikan sesuatu untuk Arshetta.

"Apa sebenarnya maumu, Hans? Sudah kubilang jangan pernah muncul kembali dalam hidupku," batinnya.

Malampun tiba, tepat di ruang tengah rumah mewah itu, Dion bersama Arshetta tampak asyik menonton acara televisi yang selalu ditonton oleh anak itu.

Arshetta berbaring di atas sofa dengan menjadikan paha sang ayah sebagai alas kepalanya. Begitupun dengan Dion, tangan lelaki itu mengelus rambut puteri kecilnya dengan penuh kelembutan.

"Camilannya sudah siap!" teriak Shella secara tiba-tiba yang muncul dari arah dapur.

Wanita itu membawa sebuah nampan berisikan tumpukkan kentang goreng yang terletak di atas piring, serta beberapa buah sosis goreng yang merupakan camilan favorit Arshetta. Tak lupa pula tiga gelas minuman hangat yang berjejer cantik dengan uap panas di atasnya.

Arshetta seketika bangkit dari paha sang ayah kemudian menyambut kedatangan sang ibunda dengan tersenyum lebar.

"Yeay!! Akhirnya makananku sudah siap! Mama kok lama sekali bikinnya sih?" ujar Arshetta dengan menampakkan raut wajah penuh harap.

Belum sempat Shella menjawab, Dion telah lebih dulu menjelaskannya kepada puteri kecilnya, "Sabar, Nak. Mama 'kan perlu waktu buat bikinnya supaya makanannya enak."

Di sela-sela itu, Arsheta tampak mulai meraih sosis bakar dan segera melahapnya.

Shella pun tersenyum dan kemudian menambahkan, "Iya, Sayang. Kalau buru-buru nanti makanannya gak mateng, memangnya Arshetta mau makanannya gak mateng?"

Arshetta yang tengah asyik menikmati camilannyapun tampak tak berniat menjawab pertanyaan Shella, bahkan gadis itu hanya menggelengkan kepalanya dengan mulut penuh makanan.

Mereka lantas menikmati malam dengan begitu hangat, bahkan bisa dibilang suatu kegiatan yang wajib dilakukan oleh keluarga kecil itu sebelum akhirnya tertidur dengan lelap.

Akan tetapi di samping itu, sikap Dion terlihat berbeda seakan-akan sesuatu telah mengganggu pikirannya.

"Apa aku tanyakan saja pada Shella?" batinnya bergumam, namun lelaki itu cepat-cepat menggelengkan kepalanya dan mengurungkan niatnya untuk menanyakan apa yang tengah ia pikirkan.

Lelaki itu tentu tak mungkin merusak suasana hangat yang saat ini terjalin, terlebih Arshetta pula masih berada di tengah-tengah keduanya.

Sementara itu di tempat lain, seorang pria tengah duduk di atas kursi tepat di pinggir kolam renang, menikmati udara malam yang terasa sejuk, ditemani secangkir wine yang entah sudah kesekian kalinya ia menuangkannya ke dalam gelas tersebut dan meminumnya sampai habis.

Bahkan beberapa kali ia mengembuskan napas panjangnya, dengan tatapan mata mengarah ke atas langit malam yang gelap, memandangi bintang-bintang yang bersinar terang.

"Aku telah melewati kesendirian ini setelah sekain lama, harusnya aku sudah terbiasa. Tetapi kenapa malam ini rasanya begitu sunyi dan ... aku kesepian."

Ya! Ini merupakan kali pertamanya Hans merasakan hal itu, ia jemudian menurunkan pandangannya dan menatap gelas yang telah kosong.

"Mestinya minuman ini bisa membuat perasaanku lebih tenang, tapi nyatanya tidak," ucapnya kembali tersenyum sinis, "Jika saja kamu mau membuka pikiranmu dan bersedia hidup bersamaku, tentu aku tidak akan merasa kesepian seperti ini."

Hans tampak kacau, pikirannya seketika terasa kalut. Bahkan bayang-bayang sang wanita yang terus menerus menerornya dalam pikirannya sendiri.

Lelaki itu terlihat begitu terobsesi dengan sosok wanita yang sedari dulu telah berhasil membuatnya terpesona dan berhasil membuatnya dimabuk asmara.

Akan tetapi siapa sangka bahwa wanita tersebut telah bersuami?

Hans lantas mengusap-usap wajahnya dengan kasar, ia merasa begitu kesal namun tak ada tempat pelampiasan.

Menit selanjutnya lelaki itupun mengerjap dan segera bangkit dari duduknya, lalu berjalan memasuki rumah mewah bergaya artistik tersebut.

Dalam kegelapan malam, Hans berjalan menyusuri lorong dan meniti anak tangga lalu tiba di sebuah pintu ruang kerjanya.

Hans kemudian mendekati meja kerjanya dan membuka salah satu laci kecil lalu mengeluarkan sebuah amplop putih.

Seukir senyuman seketika terpampang dengan jelas menghiasi wajah tampak yang ia miliki.

Dengan helaan napas panjang, Hans kemudian bergumam, "Kalau tak ada satupun cara yang bisa membuatmu berpaling padaku ... aku terpaksa menggunakan ini untuk membuatmu berada di sampingku, Arshella!"

Bab 3

Pagi itu, Dion baru saja keluar dari kamar mandi lalu mengenakan pakaian yang telah dipersiapkan oleh sang istri.

Terlihat sebuah kemeja berwarna abu muda, serta setelan jas dan celana berwarna abu tua telah tersimpan rapi di atas tempat tidur. Satu persatu lelaki itu mulai mengenakan pakaian tersebut hingga membuatnya terlihat menawan.

Ceklek!

"Sarapannya sudah siap, apa kamu sudah selesa, Mas?" tanya Shella yang tiba-tiba muncul dari ambang pintu.

Dion yang tengah merapikan pakaiannyapun menoleh kemudian menjawab, "Belum, aku tinggal pakai dasi dan setelah itu selesai. Kamu tunggu saja di ruang makan, aku akan menyusul."

Tetapi alih-alih menuruti ucapan Dion, Shella justru melangkah masuk ke dalam kamar lalu meraih sebuah dasi yang masih tergeletak di atas ranjang.

"Biar kubantu," ucapnya lalu mulai mengalungkan dasi tersebut pada kerah baju suaminya.

Shella begitu fokus melipat dasi itu sampai-sampai ia tak menyadari bahwa kini jarak antata dirinya dengan Dion hanya berjarak beberapa sentimeter saja.

Hal itu lantas membuat Dion menyeringai dan tanpa berpikir panjang lelaki itu tiba-tiba ....

Cup!!

Sebuah kecupan mendarat seketika pada kening wanita di hadapannya, hingga membuat Shella terkejut dan mengangkat kepalanya.

Sedangkan Dion tampak bersikap seperti biasa bahkan saat ini ia mengedipkan sebelah matanya.

"Kenapa?" tanya Dion bernada penuh godaan.

"Tch! Kamu mengagetkanku, Mas."

Raut wajah Shella yang masih tampak datar itu lantas membuat Dion semakin tertarik untuk berbuat hal yang lebih padanya.

Detik berikutnya lelaki itu seketika menautkan bibirnya hingga saling beradu, untuk sesaat keduanya pun terlarut dan saling menikmati suasana yang begitu mesra.

Dion lantas mendorong tubuh Shella sedikit sampai menyentuh lemari, lalu ia kembali menyerang Shella dengan kecupan demi kecupan.

"Astaga, kalau begini aku bisa bolos bekerja," bisiknya dengan penuh hasrat.

Shella hanya tersenyum tanpa menjawab perkataan tersebut.

Akan tetapi di tengah-tengah suasana romantis tersebut, tiba-tiba seperti ada sesuatu yang terbesit dalam benak wanita itu. Sampai-sampai membuat gerakkannya terhenti bahkan mendorong tubuh Dion tanpa ia sadari.

Hal itu sontak membuat Dion terkejut, namun ia sepertinya salah menduga.

Belum sempat Dion menuturkan pertanyaanya, Shella telah lebih dulu menyambarnya.

"M-maaf! Sepertinya Shetta memanggilku, kamu cepat bersiap-siap ... aku akan menunggu di ruang makan," tukas Shella terbata-bata.

Lalu dengan seribu langkah wanita itu lantas segera meninggalkan Dion di dalam kamar tersebut, bahkan sampai tak sengaja membanting pintu.

Dion hanya terdiam mematung melihat tingkah sang istri yang menurutnya aneh, bahkan jika diingat-ingat lagi ini merupakan kali pertama wanita itu menolak sentuhannya.

Sedangkan Shella, selepas ia meninggalkan suaminya dengan keadaan seperti itu, ia lekas berlari menuju keluar rumah dan kemudian melihat-lihat area beranda rumahnya.

Seakan-akan tengah mencari sesuatu yang amat penting, wanita itu ketar ketir dengan kedua tangan sibuk menggeser-geser pot serta menyibak-nyibakkan tanaman hiasnya.

"Ck! Di mana dia menyimpannya!? Harusnya tidak jauh dari sini!" gumamnya dengan terus melihat sudut-sudut teras rumah itu.

Akan tetapi setelah beberapa menit, Shella tak kunjung menemukan benda yang ia cari hingga membuatnya frustasi dan berdecih seraya bertolak pinggang.

"Harusnya kemarin aku segera membereskannya dan tidak membiarkannya di sini!" umpatnya, "Kemarin aku memang lupa karena setelah dia meneleponku, Shetta tiba-tiba minta ditemani tidur siang sampai-sampai aku lupa dengan pemberian lelaki itu."

Sesal hanyalah tinggal sesal, yang tak akan pernah terulang kembali. Sesuatu yang ia cari tidak tampak di sana bahkan entah di mana keberadaannya.

Shella pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke dalam rumah dengan cepat karena ia takut Dion akan semakin mencurigainya setelah ia meninggalkannya sendiri.

Di ruang makan, Shetta terlibat sudah duduk manis dan menunggu kedua orang tuanya untuk sarapan bersama.

Seperti biasa, gadis kecil itu tampak berpakaian rapi dengan mengenakan seragam taman kanak-kanak, serta tatanan rambut dikepang cantik.

"Papa mana, Ma?" tanya gadis itu dengan melihat ke arah pintu.

"Ah! Papa masih siap-siap, Sayang. Kita duluan saja makannua ya, nanti kami terlambat masuk sekolah."

Shetta pun mengangguk dan mulai menyuapkan roti lapis ke dalam mulutnya.

Tetapi Shella? Meski saat ini ia terlihat tenang dengan duduk di samping sang puteri kecilnya, namun wanita itu masih sibuk dengan pikirannya sendiri.

Ia kini mulai merasa takut dengan barang pemberian Hans yang tidak sempat ia amankan.

"Mungkinkah mbok Yem yang menyimpannya?" batinnya.

"Selamat pagi putri Papa yang cantik!" sapa Dion yang tiba-tiba muncul dari ambang pintu dan berjalan mendekati Shetta.

Dengan senyuman manisnya, Shetta membalas sapaan sang ayah dan kemudian memeluk bahkan mengecup pipi lelaki tersebut.

Mereka pun mulai sarapan bersama, meski Dion masih merasa heran dengan perubahan sikap sang istri namun ia tetap tersenyum dan berusaha bersikap tenang.

Suasana pagi hari itu terasa begitu hangat seperti hari-hari sebelumnya, Dion yang selalu bertanya kepada sang puteri mengenai hal-hal kecil hingga beberapa kegiatan yang akan Shetta lakukan hari itu.

"Wah! Sepertinya menyenangkan! Kalau begitu Shetta harus menghabiskan sarapannya ya, biar kuat di sekolah," ujar Dion dengan penuh semangat.

"Siap, Boss!" sahut Shetta lantang.

Untuk sesaat kedua ayah dan anak itu saling tertawa, namun tidak dengan Shella yang sedari tadi hanya terdiam dan mengunyah makanannya tanpa berselera.

Apa lagi? Wanita itu jelas-jelas tengah terhanyut dalam lamunannya sendiri, sampai-sampai ia tak bisa menyingkirkan sesuatu yang kini membelenggu.

Hingga ada akhirnya, Dion tanpa sengaja melihat kembali sikap istrinya yang terasa aneh. Pandangannya kosong bahkan tak ada senyuman hangat yang mengukir wajahnya.

Dion kemudian berdeham dan mulai berkata, "Sayang?"

Satu panggilan tak membuat Shella bergeming.

Lelaki itu lalu menyentuh tangan Shella yang berada di atas meja, hingga membuatnya mengerjap.

"Y-ya!?"

Reaksi Shella tentu membuat Dion semakin heran, sampai-sampai lelaki itu mengerutkan dahi.

"Kenapa? Dari tadi kamu melamun loh," tanya Dion lalu melirik ke arah roti lapis yang baru tergigit sedikit, "Sarapan kamupun masih utuh."

Shella pun tampak gelagapan, menatap ke sembarang arah dengan debaran jantung yang berdetak lebih kencang dari sebelumnya.

Betapa tidak? Shella sangat takut jika Dion menyadari perubahan sikapnya hingga membuat suaminya mulai merasa penasaran. Karena jika lelaki itu mulai merasakan hal aneh, bukan tak mungkin lagi Dion akan segera mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Saat ini pun Dion masih menatapnya dengan sejuta tand tanya dalam benaknya, mengharapkan sebuah jawaban yang terucap dari bibir istrinya.

Lalu Shella pun berusaha tersadar dan kembali mengendalikan dirinya, "B-bukan apa-apa, aku hanya--kurang enak badan."

Mendengar hal itu lantas membuat Dion terkejut dengan kedua alis yang terangkat, "Apa perlu ke dokter? Aku akan mengantarmu sebelum aku ke kantor," tawarnya.

Tetapi Shella menggelengkan kepalanya dengan gerak cepat, "Tidak usah, aku hanya perlu istirahat saja. Tidak perlu khawatir," jawabnya dengan rasa takit yang semakin menjadi-jadi.

Shella akhirnya terpaksa berbohong karena badannya jauh merasa lebih baik, namun tidak dengan jiwa dan pikirannya yang tengah kalut.

Dalam suasana itu, tiba-tiba mbok Yem datang menghampiri mereka dan kemudian berkata, "Maaf, Tuan, Nyonya. Apakah ini milik Tuan dan Nyonya? Kemarin sore saat saya hendak membuang sampah, saya menemukannya di dekat pintu."

Deg!!

Shella terperangah, terkejut bukan main kala ia melihat totte bag berwarna pink persis dengan apa yang dikatakan oleh Hans kemarin siang.

"B-bukankah itu ...."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED