🌹🌹
"Ba-barusan kok." Dewi cepat memasukan uang yang masih digenggamnya tadi ke dalam tasnya.
Hana melihat semua membuat Radit menahan napas. Waduh, bakal ribut ini, pikir Radit. Tapi Hana kemudian malah terlihat tersenyum.
"Apa mau skalian makan, Mbak? Tadi Hana sudah masak," katanya ramah membuat Radit makin tercengang.
"Nggak usah, Hana. Kami mau makan di restoran sekalian jalan-jalan. Makanan rumah membosankan. Apalagi kalau yang masaknya nggak enak!" Rani mengajak Dewi beranjak.
"Oya, Mbak Hana kalo mau datang ke acara Dewi gak usah pake seragam gak apa, ya? Kain seragam keluarga kami udah habis. Itu pun kalo Mbak mau. Dan, kalo maksa datang, tapi gak nyaman gabung sama keluarga di depan yang pake seragam, Mbak boleh banget kok bantu bagian konsumsi di belakang."
"Dewi, mbakmu akan di depan sama Mas." Radit tersinggung atas nama istrinya, ia juga takut Hana makin tersinggung. Dewi memang terbiasa ceplas-ceplos. Sebelas duabelas sama iparnya si Rani ini.
Hana lagi-lagi menanggapi dengan senyum. "Makasih lho undangannya, Dewi. Tenang aja. Mbak pasti akan nyaman di depan kok. Mbak pastikan akan datang dan gabung sama keluarga lain nerima tamu, ya kan, Mas?"
"Iya, dong, Sayang. Mas akan di sampingmu," sahut Radit tersenyum manis untuk istrinya.
"Yahh, asal gak saltum alias salah kostum aja, Han, biar nggak malu-maluin keluarga Raynaldi."
"Insyaallah, enggak, Mbak Rani."
Radit lega melihat senyum istrinya terlihat benar-benar ikhlas. Tidak tersinggung sama sekali dengar sindiran Dewi dan Rani. Mungkin dia sudah paham keluargaku memang begini, harap hati Radit.
Dewi dan Rani pun pulang. Radit mengucapkan terima kasih pada Hana yang tetap akan datang ke acara Dewi.
🌾🌾
Hari pernikahan Dewi tiba.
"Mas berangkat saja duluan. Hana nanti langsung ke gedung saja."
"Kenapa gak bareng aja, Sayang?"
Radit sudah siap, hanya Hana yang terlihat masih memandangi kebaya ungu yang sepasang dengan kemeja suami. Radit putuskan tidak pakai seragam keluarga agar tetap kompak dengan istrinya.
"Mas kan ikut menyaksikan ijabnya. Duluan aja, Hana gak lama, kok."
"Baik. Mas duluan. Jangan sampai nggak datang, ya." Radit mengecup kening polos yang tak pernah terlihat berdandan itu. "Berdandanlah sedikit biar tidak kelihatan pucat, Sayang," bisik lelaki itu tanpa melepaskan bibir dari kening istrinya.
Hana mendongak, menatap lelaki bermata hangat itu.
"Emang boleh Hana dandan? Bukannya kata Mas suka Hana yang alami gini?"
Radit tergagap, lupa dengan perkataannya dulu waktu merayu Hana sebelum melamar. "Iya mas memang suka Hana yang polos begini, tapi gak ada salahnya kan di acara ini sayangku dandan sedikit? Ke salon gih." Dicubitnya pelan dagu lancip Hana. Ia tidak mau cintanya itu dipandang tidak sepadan dengan keluarganya yang lain, pasti seperti biasa mereka tampil all out kalau acara besar begini.
"Iya deh, Mas. Nanti Hana coba."
"Gitu dong. Mas sayang kamu." Ujung hidung Radit gesekkan ke hidungnya.
"Hana juga sayang Mas Radit."
Bermesraan sesaat, pasangan ini memang masih hangat-hangatnya di tahun pertama pernikahan mereka. Kemudian Hana melepaskan bibirnya dari suami. "Sudah, nanti Mas lambat."
Radit tersenyum nakal. "Kamu nggak pernah bikin mas bosan. Tetaplah di sisi mas, Sayang," ujar Radit kembali mengecup dua kali bibir istrinya gemas.
Hana menjawab dengan senyum malu. Keluar kamar mengantar suaminya sampai di depan.
Saat duduk di belakang setir, Radit masih melihat wajah manis itu tersenyum sambil melambai tangan.
Hana cinta pertama Radit. Selain punya mata indah dan dagu lancip menarik, Hana juga bersikap keibuan dan lemah lembut. Radit sejak menikah sudah berkali-kali jatuh hati pada istrinya itu. Hanya saja ia dilema antara keluarga yang tak menyukai Hana juga cintanya.
🌾🌾
Setelah ijab, resepsi pun dimulai. Hingga dua jam lewat Hana belum terlihat.
Kenapa lama sekali? Masa dia berubah pikiran tidak datang?
Radit gelisah, ia celingukan sambil menyambut salaman undangan yang datang.
"Nyari istrimu?" Lengannya disenggol lelaki yang tak lain adalah kakak sepupu.
"Iya, Mas tadi katanya mau datang kok sampe sekarang belum kelihatan."
"Itu tuh, dari tadi dikerumunin pada dimintain foto," kata lelaki berkemeja seragam ungu itu sambil tersenyum.
"Masa? Yang itu?" Tunjuk Radit pada lima orang yang berfoto, mengapit seseorang bergaun ungu.
"Iya. Nggak kenal kamu, Dit?"
"Beneran itu Hana?" tanya Radit lagi dengan mata menyipit tak percaya.
"Lha iya, tadi ketemu mas di depan, semua orang pangling lihat dia kayak artis korea. Bening."
Benarlah kata lelaki itu. Langkah Radit yang bagai dihipnotis menuju tempat Hana makin dekat, ia bisa makin jelas melihat perempuan muda cantik yang dikerumuni ibu-ibu untuk berfoto.
Duh, Biyuung, istriku bisa secantik ini juga. Hati Radit berbunga-bunga.
Benar-benar bening. Gaun Hana bahan kain mengkilap bagai kaca, terlihat mahal.
Bajunya pinjam punya siapa? Bukan cuma Radit yang bertanya dalam hati dan terpana, tapi dua orang di dekatnya juga sama.
Wajah cantik berdandan tipis, kulit sama berkilau dengan anting panjang di telinganya, rambut lurus mengkilap tergerai indah. Makin dekat tampak bulu mata panjang lentik, dengan alis melengkung indah seperti anak lintah.
"Hanaku ... mas makin cinta padamu."
Gedebuk! Kalimat Radit disambut suara orang jatuh, seketika mengagetkannya yang tengah terpana melihat istri. Ternyata itu Rani, dan Miranda--mamanya jatuh pingsan bersamaan.
🌾🌾
Bersambung....
🌹🌹
"Eh, cantik manis eke ke sini lagi. Cuss, masuk, Cantiiik!" Pria bergaya layu menyambut Hana di salonnya. "Eke gak salah kalau yey didandani langsung manglingin! Gak ada yang kenal kan tadi? Katanya yey juga bikin mertua sama ipar yey pingsan. Uhuh! Magic banget bo' riasan eke!"
Hana tersenyum menahan geli. Pria layu ini bicara tanpa titik koma di dekat wajahnya, sambil melihat pada cermin. Pada pantulan wajahnya.
"Saya ke sini mau hapus yang di muka ini, Kak," Hana meringis menyentuh pipinya. "Rasanya agak kurang nyaman," komentarnya ragu-ragu.
"Ihh! Yey ini centok bingiits! Harusnya yey jangan diapus biar lekong yey makin cintrong. Ye, khan?"
"Duhh, jangan, Kak. Saya minta tolong dihapus aja. Besok-besok saya kalau ada acara ke sini lagi."
Pria layu itu lantas menggerutu seraya menyuruh anak buahnya menghapus make-up Hana.
Tarikan napas lega perempuan cantik alami ini setelah rasa tebal tadi sudah berganti segar. Kapster salon barusan menepuk kapas basah, tindakan terakhir yang meninggalkan rasa dingin di kulit wajahnya.
"Apa Mbak mau skalian keramas?" tawar kapster ramah itu.
"Iya, deh, boleh."
Rambut panjang Hana dicuci lengkap dengan pijatan yang membuat kepalanya ringan dan nyaman. Selama ini dirinya hanya sekali pernah mengantarkan ibu mertua dan Rani ke salon, tetapi hanya sebagai penjaga Naomi, juga penonton saat menunggu dua wanita itu sekitar tiga jam hingga selesai. Pulangnya, ia malah diceramahi, disuruh buka mata biar tahu bagaimana perempuan kaya merawat diri.
Bagaimana merawat diri kalau uang untuknya pribadi hanya diberi Radit 50ribu sehari? Sedangkan, biaya salon tidak terlihat murah.
"Mbak cantik banget," puji si kapster tulus.
"Mbak lebih cantik," puji Hana balik. Pegawai salon Medy semuanya bernilai 9 dari 10. Seragam dan riasan wajah juga rambut mereka tampak sempurna, menggambarkan profesional di bidangnya. Hana ingin seperti mereka.
Sekarang rambut tebal Hana sudah di-blow, tadi sebelum make up Medy si pria layu sudah memotong rapi rambutnya. Tidak pendek, hanya dibuat model layer tipis seperti foto pada ipad salon ini. Hasilnya cukup mengubah penampilan Hana.
Ketika diluruskan dengan alat tadi terlihat sangat bagus, dan sekarang dengan di-blow ke dalam juga lebih bagus lagi.
"Gimana Cantik eke? Yey tampak amazing! Cucok marcucok!" Medy datang lagi mendekat, menilai penampilannya.
Bahasa pria itu selalu membuat Hana tersenyum lebar. "Terima kasih, ya, Kak Medy. Saya suka model rambut begini."
Hana mengaca, teringat penampilannya tadi sudah membuat semua saudara suami juga undangan pangling.
Ia puas sudah melihat mulut mama mertua menganga dengan mata membulat nyaris keluar sebelum pingsan. Tak jauh beda dengan kakak iparnya si Rani. Meski setelah pingsan ia malah diusir suruh pulang karena membuat suasana kacau katanya.
Namun hati Hana tak merasa bersalah, justru menjadi tahu kalau dirinya juga bisa cantik. Bahkan lebih cantik lagi dari mereka yang terbiasa berdandan.
Ting!
Terbitlah ide di kepalanya.
Hana membeli beberapa produk yang Medy sarankan cocok untuk kulitnya. Ia masih punya uang simpanan diam-diam. Uang sendiri, bukan milik sang suami. Ia sudah tahu cara biar bisa tampil lebih baik, dan mungkin sesekali perawatan di sini. Karena itu Hana akan melanjutkan misi rahasianya.
🌾🌾
"Sayang ... kamu nggak apa 'kan?" tanya Radit khawatir. Ia terburu melangkah masuk kamar, mendekati istrinya yang baru melepas mukena, selesai shalat magrib.
Pria ini baru bisa pulang. Itu pun karena ia berhasil meloloskan diri, diam-diam pergi dari pintu belakang rumah mamanya. Acara memang berlanjut kumpul-kumpul di rumah. Ia tadi bahkan dipaksa menginap di sana saja.
Tidak mungkin Radit begitu, sejak Hana disuruh pulang dengan teriakan oleh mamanya tadi ia sudah tak tertarik tersenyum menikmati pesta.
"Maafkan Mama ya, Sayang ...."
"Gak apa, Mas. Hana gak apa-apa. Mas sudah sholat ...?" suara Hana amat tenang, ia mengusap punggung pria yang memeluknya erat.
Radit melepas peluk. Menarik wajahnya mundur untuk melihat wajah sang istri. Mulai dari alis, kulit pipi hingga bibir. Jejak make up memang tak ditemukan, tetapi kini ia melihat wajah istrinya terlihat bersih mengkilap.
"Sayang, kamu-" Radit menyentuh bibir istri yang terasa lembab.
"Mas ... sholat dulu."
Lamunan Radit yang mengingat jelas wajah istrinya tadi siang langsung terputus. "Iya. Mas mandi dulu. Kamu jangan ke mana-mana, banyak hal yang mau mas tanya."
Hana tersenyum manis, mengusap lembut jambang tipis sang suami. "Hana ke dapur, siapin makan malam."
"Iya ...." Radit menatap punggung istrinya keluar kamar. Ia sebenarnya sudah makan, tadi dipaksa Dewi habiskan isi piring yang disendoki adik satu-satunya itu. Tak berselera, tapi ia juga tak tega melihat Dewi memasang wajah kecewa kalau hari bahagianya tak membuat sang kakak turut bahagia.
Sekarang perut Radit masih sangat kenyang. Namun, ia juga tak mau mengecewakan Hana. Pasti perempuan tercintanya itu belum makan.
Usai mandi dan shalat, Radit keluar kamar dan turun menuju dapur. Di sana Hana sedang mengaduk minuman berbau jahe.
"Apa itu, Sayangku?" Radit mendekat, merapat ke punggung istri dan memeluk pinggang ramping itu dengan posesif.
Hana tersenyum sambil menoleh. Pipinya sedikit geli tersentuh jambang halus Radit. "Jahe, Mas. Kalo Mas sudah makan tadi cukup temani Hana dengan minum jahe ini aja."
Senyum di wajah pria tampan ini meredup. Jangan-jangan istrinya sudah menebak. Mungkin saja perutnya terlihat gemuk karena kekenyangan?
"Kamu tau?" tanya Radit sambil memutar tubuh Hana pelan untuk menatap wajahnya.
Mengangguk, senyum Hana tak hilang. "Gak apa, kok, Mas. Hana sudah tau Mama nggak akan biarin Mas pulang dalam keadaan lapar."
"Ohh ... sayangku ... terima kasih atas pengertianmu." Pria itu kembali memeluk istrinya penuh sayang. Bukan hanya itu, hadiah kecupan ia berikan rata di kulit wajah Hana, termasuk bibir yang ia rasa lebih lembut dan lembab. Ada wangi dan manis buah segar juga di sana.
Ah, istriku kau makin membuatku mabuk kepayang.
Kecewa dan luka hati Hana sebagai manusia biasa saat direndahkan sudah menguap. Ia mempunyai suami yang selalu menghujaninya dengan cinta. Cinta lah yang bisa menghapus perihnya. Juga cinta Radit membuatnya kuat bertahan ada di dekat keluarga terbiasa glamor itu.
Usai berpelukan hampir lima menit Radit memberi waktu istrinya makan. Pecel lele, sambal kemangi, dan lalapan terong pipit dengan lahap Hana makan. Sungguh, ia perempuan sederhana yang tak pernah memasak daging untuk setiap hari.
Bagai langit dan bumi dengan keluarganya.
Di rumah Miranda, daging dimasak aneka macam jenis masakan, selalu ada setiap waktu. Kebiasaan itu ada sejak usaha almarhum papanya melesat naik. Punya 3 mini market yang sekarang tersisa satu, setelah duanya dijual saat sang ayah terserang penyakit ganas dan berobat hingga ke Penang. Sekarang usaha itu kakak pertamanya yang kelola, suami Rani, tentu juga di bawah aturan Miranda.
Padahal, Miranda masih aktif mengelola dua pom bensin di pusat kota ini. Wanita itu memang sangat perfeksionis dalam apa pun. Terutama bisnis yang terlihat selalu menguntungkan berlipat-lipat jumlahnya.
Untuk ekonomi Radit memang masih di bawah ketiak sang mama, karena percetakan adalah peninggalan papanya. Jika uang yang ia simpan sering diminta Dewi, uang yang ada di mama juga kakaknya seolah tak boleh tersentuh siapapun. Alasan Miranda, semua dijadikan aset untuk anak cucu, jadi tak boleh dipakai. Saking ketat aturan uang ini Dewi mendapat jatah bulanan, jika habis pasti minta pada Radit yang sulit menolak.
Miranda tidak mau tahu. Bahkan uang untuk Hana juga diatur Miranda jumlahnya. Radit terkadang juga lelah dengan aturan mamanya.
"Mas ...? Katanya mau ngobrol. Kok, ngelamun?"
Mereka sudah pindah ke kamar. Hana duduk di tepi ranjang, dan Radit di sebelahnya.
Segera Radit perbaiki posisi duduk, menghadap istri. "Hm, gini, Sayang ... mas sebenarnya juga kaget tadi lihat sayangku tadi. Mm, apa boleh ceritakan gimana ceritanya? Baju siapa yang kamu pakai?"
Hana balas memegang tangan suami yang berpindah menggenggam jemarinya.
"Nggak ada yang berubah, Mas. 'Kan Mas sendiri yang suruh Hana ke salon. Jadi Hana ke salonnya Kak Medy." Mengalirlah cerita Hana dari awal hingga akhir, termasuk model rambut barunya.
"Kamu tambah cantik ... padahal alisnya nggak ditato kayak Mama."
"Emang alis Mama itu tato?"
Radit menggeleng. "Nggak tau juga. Dulu alis Mama tipis, dibawa ke salon jadi bagus begitu."
"Oh, itu mungkin yang kata Kak Medy sulam alis, Mas."
"Ohh ... apa kamu mau, Sayang? Mas yang akan bayar." Wajah Radit mendadak antusias.
Ia pikir saatnya Hana tampil sama cantik dengan saudara-saudaranya. Siapa tahu jika berpenampilan setara, istrinya ini akan diterima baik oleh mereka.
Ia lelaki yang terlalu lemah untuk melawan mamanya. Sejak dulu, sekali Miranda memerintah selalu ia turuti, kecuali tentang jodoh. Ia baru pertama menentang sang mama demi mendapat istrinya ini.
"Mas-"
"Sayang, mas rasa selama ini kurang memerhatikanmu. Sekarang, kamu mau perawatan, pakaian mahal, mas yang akan belikan, asal itu kamu yang pilih. Tolong jangan nolak lagi. Mas mau kamu tampil seperti tadi sehari-hari."
Selama ini Hana memang membeli pakaian dari pasar saat diberi uang lebih. Meski tampak bagus, untuk keluarganya tetap terlihat murahan.
"Apa ... apa maksud, Mas?"
"Ya, mungkin saatnya kamu harus tampil selalu cantik, sayang." Radit menggenggam tangan istrinya mantap.
🌾🌾
Bersambung....