Bab 2

Andini menutup tubuhnya dengan selimut tebal. Keringat bercucuran meski pendingin ruangan dinyalakan. Tak ada kata yang terucap dari bibir wanita itu setelah semua yang dia lakukan bersama suami yang sudah mengkhianatinya. Tak ingin menyerah, tak ingin juga dianggap kalah. Dia ingin membuat suaminya menyesal telah menduakan dia.

Sedangkan lelaki yang ada di sampingnya itu tertidur dengan lelap. Padahal waktu sudah menunjuk pukul lima sore dan sudah bisa dipastikan lelaki itu belum menunaikan salat ashar.

Andini terbaring membelakangi sang suami yang masih berada dalam satu selimut yang sama dengannya. Hari ini dia lampiaskan semuanya kepada suami yang sudah mengkhianatinya. Berada di atas membuat dia berkuasa atas Galang, suaminya. Permainan yang mungkin tak pernah mereka lakukan sebelumnya. Dan hari ini Andini melakukannya.

"Din, kamu hebat. Tumben kamu mau di atas. Ga biasanya. Sepertinya kamu sedang mencari perhatianku, ya?" ucap Galang sambil memeluk Andini dari belakang.

"Hanya ingin tahu bagaimana rasanya berkuasa. Dengan di atas aku bisa melakukan apa saja." Andini menggigit bibir bawahnya. Sakit.. bukan bibir. Tapi hati. Menahan tangisnya agar tidak keluar. Sakit karena kesal pada orang yang menyakitinya tapi tak sadar sudah menyakiti.

"Astaghfirullah.. sudah jam lima, kenapa kamu ga bangunin aku, Din? aku telat salat ashar." Galang langsung berdiri mencari celana panjangnya. Lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.

Andini bergeming di atas ranjang king size miliknya. Menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Di mana di sana lah laki-laki itu berada. 'Kamu tidak akan melupakan semuanya Mas. Bahkan saat nanti kamu berada di atas tubuh istri mudamu, bayangan permainan kita tadi akan membekas di otakmu.' batin Andini sambil tersenyum miring.

"Din, kamu ga salat? salat sana. Sudah mau magrib. Harusnya kamu sadar diri kalau aku menikah lagi itu karena kamu sendiri. Kamu yang tidak mau dididik olehku. Kamu ga pernah mau nurut." ucap Galang saat keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.

"Lagi males, Mas. Apalagi kalau kamu ceramahin terus. Muak aku dengernya. Nasehatin orang emang gampang sih Mas. Tapi ngelakuinnya yang susah," Andini kemudian duduk. Dia masih menutup tubuhnya dengan selimut. Dia melihat Galang beberapa kali menelan ludah saat melihatnya.

"Terserah kamulah Din. Capek aku nasehatin kamu. Lebih baik aku membimbing orang yang mau kubimbing. Bukan pembangkang sepertimu," ucap Galang. Laki-laki itu mengambil sendiri kaos dari dalam almari lalu memakainya. Dan sesaat setelahnya, Dia pergi meninggalkan kamar Andini.

Andini akhirnya turun dari ranjang. Dia melempar selimutnya sehingga tak ada selembar kainpun menempel di tubuhnya. Dia masuk ke kamar mandi untuk mandi besar. Dan di sanalah dia tumpahkan semuanya. Sekuat-kuatnya seorang wanita, tetap saja dia adalah makhluk yang lemah. Yang membutuhkan sandaran ketika sedang terpuruk seperti sekarang.

"Memangnya kalau aku salat harus bilang sama kamu, Mas? memang salatku belum sempurna. Semua butuh waktu. Kita sama-sama pernah berada di masa jahiliah. Kalau kamu ternyata lebih dulu menemukan hidayah, kenapa kamu tidak menungguku? kenapa kamu tidak mau menuntunku? agar aku juga bisa menemukan hidayahku. Aku juga ingin sepertimu. Tapi butuh proses. Dan semua harus dari hati. Bukan paksaan. Tapi kamu anggap aku pembangkang. Dan karena itu pula kamu menikah lagi dengan perempuan yang selalu kau sebut lebih sholeha dariku," gumam Andini. Dia menyalakan showernya. Tak peduli jam berapa ini. Yang dia tahu ini terlalu berat untuk dijalaninya. Merasakan derasnya air yang setidaknya bisa mendinginkan otaknya.

Flashback On

Dua bulan yang lalu.

"Hoek Hoek.." Andini memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya.

"Dini!!! kamu minum lagi?" Galang menarik rambut Andini dari belakang.

"Awwww sakit mas.. Aku hanya minum sedikit. Tadi ada acara sama temen. Ga enak kalau ga ikut minum. Lagian dulu kamu juga sering minum," jawab Andini sambil menahan sakit di kepalanya akibat terlalu banyak minum minuman keras.

"Ngelawan aja kalau dikasih tahu. Lama-lama muak aku sama sikapmu. Taubat Din, taubat. Sampai kapan hidupmu akan seperti ini terus? melakukan hal-hal yang melalaikan dari mengingat Allah." Galang masih mencengkram rambut Andini agar istrinya itu tetap terjaga. Padahal Andini sudah sempoyongan membawa tubuhnya.

"Hahaha.. taubat? nanti aja Mas. Kalau aku sudah tua. Aku masih ingin senang-senang dengan teman-temanku."

"Nunggu tua? kamu pikir kematian mau menunggu kamu sampai tua? kita ga tahu kapan kita mati, Din? sadar donk."

"Iya iya Mas. Aku sadar koq. Piss Mas Piss." Andini mengacungkan dua jarinya sambil tertawa.

"Ya sudah kamu memang sudah tidak bisa diatur lagi. Sudah aku putuskan Din. Aku kan menikah lagi. Angga butuh ibu sholeha yang bisa membimbingnya. Bukan wanita sepertimu yang jauh dari Allah."

"Ya sudah nikah saja lagi Mas. Kalau itu bisa membuatmu senang. Hahaha."

Galang melepaskan cengkramannya dari rambut Andini. Lalu meninggalkan Andini seorang diri.

Flashback off

"Allah membenciku, Allah tidak sayang padaku. Makanya aku dikasih cobaan seperti ini. Ga aku ga mau salat. Buat apa salat. Lagi pula tidak akan mengubah keadaan. Mas Galang sudah bukan milikku seorang. Tapi ada orang lain yang lebih baik dariku. Lebih baik segalanya dariku." Andini terisak. Sekuat tenaga dia menahan agar aimatanya tak tumpah.

Sampai akhirnya dia mengambil mukena dan sajadah. Mengerjakan salat empat rakaat. Meski sudah terlambat karena waktu magrib hampir tiba.

**

"Mbak Andini mau salat bareng kita ga Mas?" tanya wanita yang kini menjadi istri kedua Galang. Mereka berdua ditambah dengan Angga kini berada di mushala di dalam rumah. Mereka bertiga akan menunaikan salat magrib berjamaah.

"Paling dia ga salat, Kar."

"Panggil dulu aja Mas. Ajak dia pelan-pelan. Dia pasti mau salat Mas."

"Udah susah ngajakin dia. Aku udah capek dengan sikapnya yang tidak pernah mau diajak ke jalan yang benar. Selalu saja semaunya sendiri.

"Jangan pernah lelah untuk mengajak istrimu ke jalan yang benar Mas. Mungkin tidak sekarang. Tapi teruslah bimbing dia dengan cara yang baik."

"Sudahlah Kar. Biarkan saja. Ayo kita salat. Ayo Angga kamu di sebelah Papa. Salat yang bener ya. Jadi anak sholih." Galang mengusap-usap kepala Angga yang tertutup kopyah putih.

"Iya Papa. Aku mau colat tama Papa dan Bunda," ucap Angga.

Dari kejauhan seseorang melihat kebersamaan itu. 'Harusnya aku yang berada di belakangmu Mas. Bukan dia.' Airmata mengalir dari pelupuk matanya. Sakit sekali menyaksikan suami dan anaknya yang kini dekat dengan perempuan lain menggantikan posisinya. Andini kuat, tapi dia seketika akan menjadi lemah saat menyangkut anaknya, darah dagingnya, yang kini tak lagi dekat dengannya.

Bab 3

Tinggal satu atap dengan madunya, membuat Andini harus menahan perih. Sakit.. tapi dia tidak pernah menampakkan di depan orang-orang. Termasuk suaminya sendiri. Dia seolah tak peduli dengan apa yang dilakukan oleh Galang.

"Angga, mau Mama suapin?" tanya Andini pada Angga yang sudah duduk duluan di ruang makan.

"Enggak mau.. aku maunya dicuapin sama Bunda. Bunda, cuapin Angga ya." Angga kemudian duduk di samping Kartika dan menggeser piringnya di depan ibu tirinya itu.

"Angga, kenapa tidak sama Mama aja makannya. Angga ga kangen sama Mama?" Kartika mencoba merayu Angga agar mau disuapin oleh Andini.

Andini rasanya ingin mati saja kalau sudah berurusan dengan Angga. Angga yang tiba-tiba menjauh, membuat hatinya rasanya sakit sekali. Anak yang dia kandung dan dia lahirkan dengan susah payah, kini malah menghardiknya saat ada wanita lain yang menggantikannya.

"Ga mau.. aku maunya cama Bunda." jawab Angga. Angga malah menangis saat disuruh Kartika makan dengan Andini.

"Tuh kan Din.. lihat Angga.. Anak kecil saja tahu koq mana orang baik dan tidak. Mana yang tulus dan tidak," celetuk Galang sambil menikmati makanan yang ada di depannya. Seolah tak peduli dengan perasaan Andini saat ini.

"Ya karena kamu yang menjauhkan dia dariku, Mas. Makasih buat semua ini. Kartika, tolong jaga anakku. Kalau memang dia nyaman denganmu, gapapa. Asal dia bahagia." ucap Andini. Tak ada tetes airmata yang keluar dari kelopak mata Andini. Meski ingin rasanya airmata itu dia tumpahkan. Tapi dia tidak ingin dipandang lemah oleh Galang.

"Iya Mbak Dini. Maaf ya Mbak."

Andini tidak menjawab. Dia langsung keluar dari rumah tanpa pamitan dengan suami atau madunya.

"Dasar istri durhaka. Begitu tuh kalau istri ga takut sama Allah. Sama suami ya berani." ucap Galang sambil menatap tajam ke arah istri pertamanya yang sudah sampai teras rumahnya.

"Mas, jangan seperti itu sama Mbak Andini. Kamu jangan terlalu kejam sama dia. Kasihan dia. Angga juga ga mau didekati sama Mbak Dini. Aku jadi ga enak sama Mbak Dini, Mas." Kartika masih menyuapi Angga. Bocah empat tahun itu bahkan tidak melihat Mamanya sudah pergi.

"Sudah ga usah kamu pikirin. Dia bisa cari kebahagiaannya sendiri koq. Lihat saja nanti pulang kerja juga bawa belanjaan banyak," ucap Galang

Sedangkan Kartika hanya diam. Dia bingung harus menanggapinya seperti apa.

**

Andini menyetir mobil dengan kecepatan tinggi. Dia ingin meluapkan kekesalannya di jalanan. Meski kadang tersendat karena jalan ibu kota yang padat saat pagi hari seperti sekarang. Tak peduli rasa lapar. Karena belum sarapan. Perutnya rasanya sudah kenyang saat mendapat penolakan dari Angga tadi.

"Kamu boleh menikah lagi Mas. Kamu boleh menyakitiku dengan cara menduakan aku. Tapi aku ga terima kalau kamu menjauhkan Angga dariku. Kurang apalagi kamu bikin aku menderita Mas? kenapa kamu ga bunuh aku aja sekalian? kalau bukan karena pesan Almarhum Ayahmu, mungkin aku juga tidak akan bertahan dengan semua ini Mas." Andini menangis di belakang kemudianya. Airmata sebanyak apapun yang keluar tak akan bisa mengubah keadaan saat ini. Hartanya yang paling berharga yaitu Angga kini juga menjauhinya.

Andini enggan untuk berangkat ke kantor. Kantornya kini mungkin akan menjadi neraka kedua setelah rumahnya. Bagaimana tidak, Galang juga bekerja di sana. Usaha klinik kecantikan, skincare dan showroom mobil adalah usaha yang mereka miliki. Usaha itu mereka rintis berdua sejak awal menikah, kini semakin besar dan maju dengan dibukanya beberapa cabang klinik kecantikan di kota-kota besar di Indonesia.

Andini bisa dibilang adalah otak untuk beberapa usaha yang mereka geluti sekarang. Tanpa tangan dinginnya mungkin tidak bisa berkembang sendiri kalau hanya Galang yang berusaha sendiri. 'Ingatkah kamu akan semua itu, Mas?' ucap Andini dalam hati. Setiap mengingat perjuangan mereka di awal menikah, hanya tetes airmata yang bisa mewakili perasaannya.

[Halo Len, kamu ada acara?] tanya Andini pada Lena lewat sambungan telepon.

[Ga ada deh kayaknya. Acaraku tiap hari kan cuma ngurusin anak sama masak kalau lagi pengen aja.]

[Shopping yuk. Aku yang bayarin. Tapi nanti habis makan siang aja ya. Aku mau ke kantor dulu. Sekalian liat stok di gudang.]

[Oh ya ini kan mau 7/7 Flash sale ya. Harus stok lebih banyak lagi, Din.]

[Ya aku udah kasih tahu pegawaiku koq. Stok aman katanya. Tapi aku mau lihat langsung aja. Sama lihat pekerjaan para karyawan.]

[Iya Bu Bos.. oke deh nanti jemput aku di rumah aja ya Bos.]

[Oke, siap]

Andini tersenyum tipis sambil menyetir mobil. Musik pun dia bunyikan keras agar bisa mengurangi rasa kesepiannya.

Sampai di kantor, Dini langsung menuju ke gudang tempat penyimpanan produk skincarenya yang dia pasarkan lewat situs jual beli online. Tak segan Andini ikut serta terjun langsung membantu para karyawannya. Dari mulai menyiapkan pesanan hingga packing pun dia mau membantu.

"Bu Dini, istirahat saja bu. Bu Dini kayaknya pucat. Belum makan ya Bu?" tanya salah seorang karyawan.

"Ah masa sih? oh ya kayaknya emang belum sarapan sih tadi," jawab Dini sambil membantu karyawannya.

"Sebaiknya ibu sarapan dulu saja. Khawatir kalau ibu sakit. Apa mau saya belikan sarapan, Bu?"

"Oh gitu? ya deh boleh aja. Beli nasi uduk di warung depan situ aja. Yang lain ada yang belum sarapan?" tanya Andini pada semua karyawan. Tadinya dia tidak merasakan lapar. Karena terlalu banyak beban pikiran yang memenuhi otaknya. Hingga rasa lapar pun tak dia hiraukan.

"Kami sudah sarapan, Bu." Jawab karyawannya serentak.

"Ya sudah kalau gitu belikan satu aja buatku ya," ucap Andini ramah. Lalu mengambil uang dan memberikannya pada karyawan. Andini merasa beruntung karena di tengah badai rumah tangganya, masih banyak karyawan yang selalu memperhatikannya. Bahkan soal urusan makan. Mereka yang sering mengingatkan Andini.

"Ya Bu." karyawan itu menerima uang dari Andini. Lalu pergi untuk membeli makanan di warung depan gudang.

Beberapa saat kemudian karyawan Andini terdengar berkasak kusuk setelah seseorang keluar dari mobil sambil bergandengan tangan. Seolah tak peduli dengan keadaan sekitarnya. Mereka santai saja masuk ke dalam kantor sambil bergandengan tangan.

Andini langsung mengikuti arah pandang para karyawannya. Dan ternyata---

'Teganya kamu Mas melakukan semua ini sama aku.' Andini memalingkan wajahnya. Jijik sekali melihat pemandangan di depan matanya itu. Kedua orang itu seolah tak peduli dengan keberadaannya. Setidak berharganyakah dirinya kini bagi suaminya?

Hanya bisa menahan perih. Sakit tapi tak berdarah. Itulah yang dirasakan Andini saat ini. Sungguh suaminya itu kini sudah sangat keterlaluan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED