Bab 2

Setelah acara pernikahan selesai dan hari juga sudah sangat sore, saat ini keluarga Delamo, Bu Hasna dan juga Gadis tengah duduk di ruang keluarga untuk membicarakan perihal pergantian pengantin tersebut.

"Alex, apa kamu tidak keberatan kan jika Gadis sekarang menjadi istrimu?" tanya papa Jhon.

Pria itu menatap sekilas ke arah sang papa. "Tidak penting mau diganti atau tidak. Lagi pun aku tidak kenal dengan calon pengantinnya," jawabnya dengan nada dingin. Sebab Alex rasa, mau pengantinnya Cempaka atau Gadis, sama saja. Dia menikah hanya karena mewujudkan keinginan kedua orang tuanya saja.

Gadis mendelik dengan tajam saat mendengar penuturan pria tampan tersebut. "Ciih! Songong sekali pria ini!" gerutunya di dalam hati.

"Loh ... kamu mau ke mana, Lex?" tanya papa Jhon saat melihat putranya berdiri.

"Masih banyak kerjaan yang lebih penting dari ini." Dia memberikan pandangannya ke arah asistennya yang bernama Asoka.

Pria itu pun yang mengerti segera menganggukkan kepala lalu menatap kearah Gadis. "Nona, mari ikut ke kota! Cepatlah berkemas Nona, sebab Tuan muda tidak suka untuk menunggu." Setelah mengatakan itu Asoka pergi dari sana.

Gadis menahan kekesalannya, entah dia bermimpi apa semalam harus menikah dengan pria sedingin es batu seperti Alex. Gadis tidak tahu saja jika Alex adalah seorang CEO ternama di negara itu, bahkan dia adalah salah satu anggota mafia.

"Maafkan Alex ya, Gadis, sikapnya memang sangat dingin dan dia irit bicara, jadi Mama harap kamu bisa menyesuaikan diri dengannya." Gadis mengangguk, kemudian berjalan menuju kamar untuk mengepasi barang-barangnya setelah selesai Ia pun berpamitan kepada Ibu Hasna.

Selama dalam perjalanan Gadis duduk di sebelah Alex. Tetapi pria itu hanya diam sambil menatap jalanan yang dilewatinya tanpa berkata sepatah kata pun.

'Dia ini manusia atau patung sih? Sudah dua jam perjalanan, tapi tidak berbicara apa-apa. Tampan dan berwibawa sih, sayang sikapnya sangat dingin. Sudahlah, lebih baik aku tidur.' Gadis pun memejamkan matanya.

Mobil telah sampai di sebuah rumah yang mewah dan megah, sampai membuat Gadis pun tercengang. "Wahh! Tante, ini istana siapa? Indah dan megah sekali?" Gadis menatap penuh binar ke arah bangunan megah yang berada dihadapannya.

"Ini rumah Mama, dan kamu akan tinggal di sini," ucap mama Indah sambil mengajak Gadis untuk masuk ke dalam.

Sementara Alex berlalu begitu saja tanpa memperdulikan Gadis. Dia berjalan dengan wajah dingin dan arogant-nya, hingga membuat para pelayan yang ada di sana menundukkan kepala dengan hormat.

Dia masuk ke dalam kamar dan hendak membersihkan diri, karena jam juga sudah menunjukkan pukul 21.00 malam.

"Mau ngapain kau di sini?" kaget Alex saat melihat Gadis yang sudah berada di dalam kamarnya.

"Tadi mama Indah menyuruh aku untuk tidur di sini. Waah! Ranjang nya besar sekali? Sepertinya sangat empuk." Wanita itu pun langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang berukuran king size milik Alex.

Alex benar-benar tak suka dengan sikap lancang dari Gadis, dia melipat tangannya di depan dada dengan tatapan yang begitu tajam bak seekor elang yang siap memangsa. "Turun!" titahnya dengan nada yang begitu datar.

"Aku lelah, dan aku ingin--"

"Turun!" bentaknya kembali dengan nada yang begitu sangat tegas, membuat nyali Gadis seketika menciut. Akhirnya dia pun turun dari ranjang.

''Dasar suami pelit!'' gerutu gadis dengan suara yang lirih, kemudian dia menatap ke arah Alex. "Ada yang ingin aku bicarakan, ini sangat penting Om."

"Apa! Aku tidak mempunyai banyak waktu," jawabnya dengan acuh terkesan tak perduli.

'Memangnya waktu dia semahal apa, sampai berbicara dengan istri sendiri saja seperti berbicara dengan Presiden?' Gadis merasa kesal dengan sikap Alex.

"Begini Om. Aku ingin kita mengadakan perjanjian."

"Hm." Alex duduk di tepi ranjang tampak tak tertarik dengan ucapan dari wanita yang sudah menyandang status sebagai nyonya Delamo.

Kemudian Gadis menyerahkan secarik kertas yang sudah ia tulis sebelum berangkat ke rumah Alex, tetapi pria itu enggan membacanya, membuat wanita tersebut semakin dilanda kekesalan.

"Ayo baca, Om!" Gadis menyodorkan kertas tersebut, tetapi Alex masih enggan untuk menerimanya.

"Tak penting," jawabnya dengan begitu enteng.

"Tapi ini penting untukku." Lalu Gadis pun membacakan poin-poin tentang perjanjian pernikahan mereka, di mana Alex tidak boleh berselingkuh darinya, dia juga harus mengizinkan Gadis untuk bekerja.

Tanpa memperdulikan ucapan Gadis, Alex langsung beranjak dari duduknya. "Om, Anda mau ke mana? Jawab dulu dan tanda tangani dulu! Jangan main pergi gitu aja dong." Wanita itu menghadang langkah Alex yang hendak keluar dari kamar.

"Poin-poin yang kau ucapkan itu tidaklah penting. Menyingkirlah! Karena aku tidak peduli dengan kehidupanmu! Kau hanyalah istriku dan tidak berhak mengatur hidupku!" Dia sama sekali tidak tertarik dengan perjanjian yang ditulis oleh Gadis.

Pria itu berlalu begitu saja keluar dari kamar menuju ruang kerjanya, karena ada beberapa kerjaan yang harus dia selesaikan.

"Asok, selidiki tentang wanita itu!" titah Alex sambil duduk di kursi kebesarannya dengan gaya yang berwibawa.

"Maksud Anda, Tuan?"

Alex hanya menatap tajam, membuat Asoka mengangguk paham orang yang di maksud oleh bosnya. Setelah selesai dia pun pamit dari sana.

Sementara, selesai membersihkan diri, Gadis terlihat sedikit cemas memikirkan malam pertamanya bersama dengan Alex. Namun seketika wanita itu menepisnya dengan kasar. "Tidak mungkin jika dia akan menyentuhku. Dia saja tidak tertarik dengan pernikahan ini. Lebih baik aku tidur saja, hooaam!" Wanita itu menguap dengan mata yang sudah mengantuk.

Berjalan ke arah ranjang dan merebahkan tubuhnya begitu saja. Dia tidak tahu kesalahan fatal apa yang telah dibuatnya, karena Alex paling tidak menyukai orang yang tidur di atas ranjangnya tanpa izin.

Tepat jam 22.00 malam Alex kembali ke kamar, dia melihat Gadis sedang terlelap di atas ranjangnya. Tampak wajah pria itu sangat kesal, dia menarik selimut yang sedang membalut tubuh Gadis dengan kasar, sehingga membuat wanita itu seketika langsung terjaga.

"Turun!" titahnya dengan tatapan yang begitu dingin, bahkan AC di sana saja mengalahkan dinginnya sikap Alex.

"Tapi aku ngantuk Om. Aku mau tidur." Gadis kembali ingin merebahkan tubuhnya, tetapi tangannya langsung ditarik oleh Alex.

"Jangan pernah tidur di ranjangku, karena aku tidak akan pernah sudi untuk tidur denganmu! Ingat! Kau hanyalah istriku, tapi sebatas di atas kertas." Alex berkata dengan nada yang begitu angkuh, dia bahkan tidak peduli dengan setiap kata yang terlontar dari mulutnya apakah akan menyakiti perasaan Gadis atau tidak.

"Anda tidak bisa begitu dong, Om!" Gadis tidak terima, dia merasa Alex terlalu berlebihan. "Sudahlah, ini kan sudah sangat malam aku mengantuk Om pengen tidur."

Tanpa menjawab, Alex langsung menunjuk ke arah sofa. Dia mengambil selimut dan bantal lalu melemparkannya pada Gadis. "Maksudnya aku tidur di sana?" tanyanya tak percaya.

Alex tak menghiraukan ucapan wanita tersebut, dia langsung merebahkan tubuhnya begitu saja di atas ranjang setelah mengambil selimut yang baru.

"Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu! Karena aku tidak peduli dengan pernikahan ini. Dan jangan pernah kau mencampuri urusanku," ujarnya dengan nada menekan, setelah itu dia pun memejamkan matanya.

BERSAMBUNG....

Bab 3

Pagi hari Gadis sudah terbangun, namun saat dia selesai membersihkan diri dirinya dibuat terkejut karena ada beberapa pelayan yang sedang mengangkut kasur milik Alex dan menggantinya dengan yang baru.

"Loh, Pak, ini kenapa kasurnya diganti?" tanya Gadis dengan bingung pada salah satu pelayan yang ada di sana.

"Saya juga kurang tahu Nona. Tuan muda yang menyuruhnya, kalau begitu saya permisi dulu," jawab pelayan tersebut sambil menggotong kasur yang lumayan berat.

"Padahal kasur ini masih sangat bagus, kenapa diganti? Dasar orang kaya, bisa seenaknya saja." Wanita itu menggelengkan kepalanya sambil berjalan ke arah cermin.

,

Tiba-tiba saja Alex masuk kemudian mengganti pakaiannya karena dia habis membersihkan diri di kamar sebelah, sebab tidak ingin menunggu lama istrinya yang sedang berada di kamar mandi.

"Om, tadi kasurnya kenapa kok diganti? Saya rasa itu masih bagus." Gadis memberanikan diri untuk bertanya walaupun dia sedikit ragu saat melihat wajah datar Alex.

"Karena kau semalam tidur di kasurku," jawab Alex dengan begitu enteng.

Seketika wanita tersebut membuka mulutnya dengan tatapan tak percaya. Hanya karena dirinya yang tidur semalam di ranjang membuat Alex harus menggantinya namun sedetik kemudian dia malah tertawa.

"Hahaha! Om, Anda ini terlalu berlebihan. Saya kan bukan kuman, kenapa harus diganti kasurnya? Lagi pula, semalam saya tidur sebentar saja, Om."

Akan tetapi Alex tidak mengindahkan ucapan Gadis. Dia merapikan jasnya kemudian mulai menyisir rambutnya karena bagi Alex barang-barangnya itu adalah hal yang privasi dan dia tidak ingin ada seseorang yang memakainya, sekalipun itu Gadis.

"Dasar Tuan Arogan. Orang nanya nggak dijawab kayak tembok," gerutu Gadis dengan suara lirih tapi masih sangat terdengar jelas di telinga Alex namun pria itu enggan menimpali.

Dia segera turun ke lantai bawah untuk sarapan diikuti oleh Gadis. Dan saat sampai di sana Mama Indah menyuruh Gadis untuk melayani Alex tetapi pria itu menolak.

,

"Alex, jangan begitu dong! Gadis itu kan istri kamu, sudah sepatutnya dia melayani kamu sebagai seorang suami," ucap Mama Indah sambil menatap lekat ke arah putra tampannya.

"Dia hanya istri di atas kertas Mah," jawab Alex dengan nada yang datar, "lagi pula pernikahan ini kan atas permintaan kalian, aku sudah mengabulkannya. Sudahlah, aku ada meeting dadakan, kalau gitu aku sarapan di kantor saja. Ayo Sok!" ajak Alex pada asistennya yang sedang berdiri di belakangnya.

"Baik Tuan muda." Asoka menundukkan kepala kemudian dia berjalan di belakang Alex dan membukakan pintu mobil untuknya.

Mama Indah merasa tak enak kepada Gadis, dia pun memegang tangan menantunya. "Maafkan Alex ya Nak, dia dulu pernah disakiti sama wanita, tepatnya diselingkuhi. Itu kenapa dia tidak pernah percaya dengan cinta, bahkan dia selalu memandang setiap wanita sama saja. Mama berharap kamu bisa menaklukkan hatinya kembali."

Mendengar itu Gadis merasa kasihan, dia tidak menyangka ternyata di balik sikap dingin Alex, pria tersebut memiliki masa lalu yang cukup menyakitkan.

''Kasihan, tapi sayang sikapnya benar-benar arogan. Bicaranya sangat irit sampai-sampai aku bertanya saja tidak dijawab." Gadis berkata di dalam hatinya dengan tatapan yang masih mengarah ke pintu utama.

"Tuan, saya sudah mendapatkan data-data dari nona muda." Asoka memberikan laptopnya kepada Alex.

Pria itu segera membaca biodata tentang Gadis, akan tetapi dia merasa ada yang janggal. "Jadi siapa dia sebenarnya? Kenapa di sini biodatanya tidak lengkap?" Tatapannya tajam mengarah kepada Asoka lewat pantulan cermin.

"Maaf Tuan saya hanya mendapatkan jika Nona Gadis hanyut di sungai dan ditolong oleh ibu Hasna 5 tahun yang lalu. Soal biodata aslinya, saya sedang mencari tahu Tuan tapi sedikit kesulitan," jawab Asoka dengan nada yang sedikit ketakutan akan kemarahan Alex, karena pria itu tidak suka jika tugas darinya tidak bisa dikerjakan dengan baik.

"Aku tunggu secepatnya. Jika tidak, kau akan tahu akibatnya!" Pria itu berkata dengan ekspresi yang sulit di artikan, tatapannya mengarah lurus kepada Asoka yang saat ini sedang menyetir.

Namun, Asok merasa tatapan itu sebuah ancaman yang bisa membahayakan nyawanya. Seketika pria itu menelan ludahnya dengan kasar. "Ba-baik Tuan." Dia bahkan tidak berani untuk sekedar menatap mata bosnya.

.

.

Gadis baru saja sampai di depan gedung sebuah perusahaan ternama di negara itu, dia tersenyum penuh kagum pada kantor milik suaminya.

Dengan langkah sedikit ragu, Gadis pun masuk ke dalam dan menanyakan tentang ruangan Alex pada resepsionis yang ada di sana.

"Maaf Nona, untuk apa Anda mencari Tuan Alex? Apakah Anda sudah membuat janji?" tanya resepsionis tersebut dengan senyum mengejek saat melihat penampilan Gadis yang sederhana.

"Saya istrinya. Saya ke sini ingin membawa makan siang untuk Tuan Alex."

Bukannya menjawab resepsionis itu malah tertawa dengan nada mengejek, karena dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Gadis. Dia berpikir mana mungkin Alex mempunyai istri kampungan seperti Gadis. Sementara semua orang tahu siapa Alex Delamo, pengusaha tertampan dan terkaya yang ada di negara itu.

"Nona, Anda ini kalau mimpi jangan ketinggian! Sebaiknya Anda pergi dari sini sebelum saya panggil satpam!" usir wanita cantik itu sambil tetawa sinis.

"Tapi---"

"Nona muda." Gadis menoleh ke arah belakang yang ternyata itu adalah Asoka. "Anda sedang apa di sini, Nona?"

"Saya diminta Mama untuk mengantarkan makan siang untuk Om Alex, tapi saya dikira gembel sama dia," sindir Gadis pada resepsionis yang saat ini sedang menundukkan kepalanya saat kedatangan Asoka.

"Kalau begitu mari ikut saya Nona muda." Lalu Asoka melirik ke arah resepsionis tersebut. "Lain kali jika Nona muda datang, kau harus menyambutnya dengan baik! Dia adalah istri Tuan muda, paham!" tekannya dengan tatapan yang mengintimidasi.

"Pa-paham Tuan," jawab resepsionis itu dengan takut.

Gadis menaiki lift bersama dengan Asoka dan mereka sampai di lantai atas di mana hanya ada satu ruangan milik Alex. Pria itu pun menyuruh Gadis untuk masuk ke dalam, tapi entah kenapa hatinya merasa sedikit ragu, namun segera di tepis olehnya.

'Ternyata beruang kutub itu lagi bekerja.' batin Gadis saat melihat Alex sedang berkutat dengan laptopnya.

"Mau ngapain kamu ke sini?" tanyanya dengan datar tanpa menoleh ke arah Gadis sedikit pun.

''Eh, ternyata dia tahu aku di sini," lirih Gadis, kemudian dia mendekat ke arah Alex dan menaruh rantang makanan di atas meja kerjanya.

"Ini Om, aku bawakan makan siang. Tadi Mama menyuruhku untuk ke sini, jadi--"

"Buang saja!" titahnya dengan wajah tanpa bersalah.

"Hah? Buang!" kaget Gadis, "Om, Anda jangan seperti itu dong! Ini kan makanan, masa dibuang? Kalau nda tidak mau memakannya, ya sudah biar saya kasih tuan Asoka saja," selorohnya.

Mendengar ocehan dari istrinya membuat Alex merasa kesal, kemudian dia mendelik dengan tajam ke arah Gadis, tetapi wanita itu tidak takut dia malah menatap balik ke arah Alex.

"Pergi! Aku sedang banyak kerjaan." usirnya dengan tegas sambil menunjuk ke arah pintu.

"Hah?" bengong Gadis, "tapi kan aku baru--"

"Apa kau tuli? Ku bilang keluar!" usirnya lagi, sebab ia tak mau di ganggu.

Merasa Gadis sedikit keras kepala, Alex segera menelpon Asoka, dan tanpa di kasih tahu, pria itu pun sudah paham dengan permintaan Alex, lalu dia meminta Gadis untuk pergi dari sana.

"Dasar beruang kutub. Pria menyebalkan. Udah capek-capek ke sini nganterin makan siang, malah di suruh dibuang, pakai ngusir segala lagi. Awas aja! Aku akan kasih pelajaran kamu nanti!" umpat Gadis mdi dalam hatinya.

"Tunggu!" cegah Alex saat Gadis akan keluar dari ruangannya.

Pria itu mendekat dengan tatapan yang begitu lekat tanpa ekspresi, hingga membuat Gadis salah tingkah sebab jarak mereka hanya berpaut 2 jengkal saja.

"Siapa keluargamu?" Tiba-tiba Gadis membulat dengan jantung berdebar.

BERSAMBUNG........

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED