Bab 2

Arabella menyadari ada bahaya mengancam begitu pria yang berada di dekat pintu tersenyum smirk saat menatapnya. Degup jantungnya berdetak sangat kencang saat merasakan bahaya mengancamnya.

Sementara itu, Leonard saat ini tengah mencari-cari sesuatu yang akan digunakannya untuk membekap mulut wanita yang sudah memegang alat pel dan berniat menyerangnya. Karena tidak menemukan apa yang dicarinya, ia berjalan cepat ke arah Arabella dan menghimpit tubuh kurus itu ke dinding.

Arabella meringis menahan rasa sakit pada punggungnya yang terhempas ke dinding. “Apa yang sebenarnya Anda lakukan? Dasar pria gila!”

Arabella yang merasa berada dalam bahaya, membuka mulutnya untuk berteriak meminta tolong. Yang ia pikirkan saat ini hanyalah ingin keluar dari tempat itu dan lepas dari pria yang sudah dianggapnya gila tersebut.

“To ....”

Leonard sudah bisa mengerti Arabella akan berteriak. Dengan langkah cepat, ia langsung membungkam mulut wanita yang sangat ingin dia hancurkan.

“Tidak akan ada yang mendengarmu, wanita jalang!” Mengarahkan tatapan membunuh saat dirinya merasa emosi ketika melihat Arabella. Karena selalu mengingatkan pada nasib buruknya saat membusuk di penjara selama tiga tahun.

Kejadian itu bermula saat ia menangkap pencopet yang mencuri dompet kekasihnya saat berkencan di Bali. Namun, ia yang mengeluarkan pisau untuk sekedar mengancam, malah berakhir menusuk perut penjahat hingga meninggal dan disaksikan oleh Arabella. Wanita yang bersaksi bahwa ia melakukan pembunuhan.

Arabella meringis kesakitan saat punggungnya terhempas ke dinding. Belum sempat ia menyelesaikan teriakannya, kini bibirnya sudah dibungkam oleh jemari Leonard. Ia sama sekali tidak menyerah karena tangannya sekuat tenaga memukul setiap sudut tubuh kekar yang menguncinya di dinding dengan menempel erat dan menekan tubuhnya.

‘Sebenarnya apa yang diinginkan pria gila ini. Bagaimana caranya aku meminta tolong?’ gumam Arabella yang saat ini merasa sangat ketakutan.

Bahkan degup jantungnya yang berdetak lebih kencang dari biasanya, menandakan bahwa ia saat ini berpikir bahwa nyawanya sebentar lagi akan melayang.

Leonard tersenyum menyeringai saat melihat wajah ketakutan dari wanita yang berada dalam kuasanya. Seolah ada kepuasan tersendiri saat berhasil membuat Arabella gemetar ketakutan karena ulahnya. Dengan memakai setengah dari kekuatannya, ia menahan tangan yang dari tadi memukulinya, tetapi tidak terasa apa-apa baginya.

Dengan sorot mata tajam yang mengunci manik bening yang tepat berada di depannya, Leonard kali ini benar-benar ingin membuat wanita di depannya merasakan ketakutan karena ancamannya.

“Aku tidak akan pernah melepaskanmu, wanita jalang! Kamu harus merasakan apa yang aku rasakan selama tiga tahun belakangan ini. Ini adalah sebuah permulaan. Jadi, nikmati saja kejutan demi kejutan dariku.”

Puas memberikan ancamannya, Leonard melepaskan tangan Arabella yang dari tadi ia kunci di belakang tubuh kurus itu dan juga sengaja membuka mulut yang tadi dibekapnya.

“Sekarang berteriaklah! Katakan pada semua orang bahwa aku sudah memperkosamu,” ancam Leonard dengan mengarahkan tangannya pada leher Arabella. “Berteriaklah, wanita jalang!”

Arabella meremas seragamnya hingga terlihat sangat kusut karena perbuatannya yang merasa kesulitan untuk bernapas saat lehernya sudah dicekik oleh tangan kuat itu. Bahkan ia mencoba untuk menyelamatkan diri dengan cara menahan tangan pria yang sudah mengarahkan tatapan membunuhnya.

Bahkan iia langsung terbatuk-batuk saat cengkeraman di lehernya sudah menghilang. Kakinya yang dari tadi bergetar, karena efek ketakutan, membuatnya langsung berjongkok di lantai saat sudah tidak mampu lagi menopang beban tubuhnya, serta napasnya kini tersengal.

Sedangkan Leonard yang sudah merasa sangat puas melihat ketakutan di mata wanita yang terlihat memeluk lutut itu, berjalan ke arah pintu keluar dan memutar kunci. Sebelum membuka pintu, ia menoleh sekilas ke belakang.

“Meskipun kau bersembunyi di lubang semut sekalipun, aku akan menemukanmu. Jadi, jangan berpikir bisa lolos dariku begitu saja.” Memakai kembali kaos casual yang dari tadi ada di tangan kirinya dan membuka pintu di depannya.

Tanpa menoleh lagi ke arah belakang, kaki panjang Leonard melangkah meninggalkan gudang pengap yang dari tadi membuat pernapasannya serasa sesak karena menghirup udara yang kotor.

Kini, ia merasa sangat lega saat bisa kembali memenuhi pasokan oksigen di paru-parunya dengan udara yang bersih dan segar.

Sementara itu di dalam gudang, Arabella yang saat ini merasa sangat shock, langsung menangis tersedu-sedu begitu pria yang mengancamnya sudah keluar meninggalkannya. Sambil memegangi dada. Bahkan suaranya yang serak karena efek menangis, terdengar saat meratapi nasibnya.

“Apa yang harus aku lakukan? Pria itu benar-benar sudah gila. Padahal dia sendiri yang berbuat jahat dengan membunuh orang dan aku tidak sengaja melihatnya. Aku harus meminta bantuan siapa? Dia benar-benar membuatku hidup menderita di Jakarta.”

Dengan suara serak dan tubuh bergetar, Arabella yang merasa sangat buruk nasibnya setelah bertemu dengan pria yang terlihat sangat dendam padanya.

Semenjak saat itulah, hidupnya menderita karena tidak bisa bekerja di perusahaan manapun karena menyadari bahwa namanya sudah di black list oleh setiap perusahaan. Sudah sepuluh perusahaan menolaknya dengan alasan yang sama, yaitu tidak ingin mendapatkan masalah jika menerimanya.

Semenjak kesaksiannya, ia hanya bisa bekerja sebagai cleaning service di restoran yang satu dan lainnya karena saat pengurangan pegawai, ia harus merelakan dipecat, sedangkan sahabatnya yang bernama Mila sudah pulang kampung karena dijodohkan oleh orang tuanya dan kini hidup berbahagia dengan suami dan satu anaknya.

Sementara ia yang sudah tidak mempunyai siapa-siapa, masih mengais rezeki seadanya untuk bertahan hidup. Awal-awal ia pergi, hidupnya masih terjamin dengan uang simpanannya. Namun, lama-kelamaan uangnya habis dan ia harus bertahan hidup dengan bekerja serabutan.

Beberapa saat kemudian, perasaan Arabella sudah sedikit tenang dan saat ia hendak keluar dari gudang, suara bariton dari seseorang tertangkap indera pendengarannya.

“Arabella!” teriak pria berseragam hitam yang baru saja melangkah masuk ke dalam gudang dan melihat wanita yang dicarinya ternyata benar ada di sana seperti yang dibilang oleh atasannya.

“Astaga, Arabella.”

Arabella yang buru-buru menghapus sisa air mata yang menghiasi wajahnya agar tidak sampai ketahuan bahwa dirinya baru saja menangis.

“Iya. Aku baru saja mau keluar setelah menaruh trolley, tetapi aku tadi tiba-tiba merasa pusing. Jadi, aku diam sebentar sambil memijat kepalaku.”

“Jadi, begitu? Aku pikir tadi kamu menghilang kemana. Lebih baik kamu jangan memaksakan diri jika badan kamu sangat lemah, Arabella. Sekarang kamu pulang saja dan beristirahat di rumah. Maaf, aku hanya ingin menyampaikan ini,” ujar pria dengan name tag Rudi tersebut.

Arabella seakan sudah bisa menangkap arah pembicaraan dari Rudi, karena ia sudah terbiasa berada dalam situasi yang seperti ini. “Jadi, bos sudah memecatku?” Tersenyum miris yang terlihat sangat dipaksakan. “Nasibku ini ibarat pepatah ‘Sudah jatuh, tertimpa tangga’.”

To be continued...

Bab 3

Arabella mengganti seragamnya dengan pakaian miliknya. Meskipun ia tidak merasa terkejut dengan pemecatannya hari ini, tetapi karena perasaan yang sedang kacau, membuatnya merasa frustasi.

Dengan langkah gontai, ia berjalan keluar dari restoran melalui pintu belakang. Tentu saja setelah berpamitan pada para pekerja lain yang ia kenal dan memberi hormat kepada atasannya.

Kini, tangannya tengah memegang sebuah amplop yang di dalamnya ada gaji selama bekerja bulan ini. Helaan napas kasar terdengar dari bibirnya saat merasakan beban berat di pundaknya.

“Hidup di Jakarta sangat keras.”

Rencana awal dulu Arabella datang ke sini karena ingin merubah nasib. Akan tetapi, semuanya tidak semudah yang dipikirkan karena ternyata keluarga Leonard membuat hidupnya menderita dengan tidak mendapatkan pekerjaan di perusahaan manapun.

Masih dengan wajah penuh kesedihan, Arabella berjalan menyusuri jalanan ibu kota. Ia berencana jalan kaki karena ingin membuang rasa stres yang kini menguasai otaknya. Selain ia bisa cuci mata dengan memandang suasana jalanan kota Jakarta, ia pun ingin mengisi waktu kosongnya untuk berjalan-jalan.

Karena saat berada di kontrakan sendirian, ia merasa akan semakin frustasi dan bertambah stres. Manik bening miliknya saat ini mengamati suasana jalan dan ia bisa melihat ada beberapa pedagang kaki lima yang berderet rapi di pinggir jalan.

Bahkan perutnya mulai keroncongan, karena efek ia yang hari ini terlalu memforsir tenaga saat ada banyak pelanggan restoran datang.

Saat ini, Arabella fokus menatap satu-persatu lapak pedagang yang menjajakan dagangannya. Mulai dari aneka camilan sampai makanan berat. Kini, pandangannya berhenti pada lapak pedagang kaki lima yang kini berderet beberapa orang yang antri. Karena merasa sangat tertarik, ia berjalan mendekat dan melihat apa yang membuat banyak orang sampai rela mengantri.

“Sepertinya itu enak, sehingga semua orang membeli meskipun harus mengantri.” Arabella membaca tulisan besar di spanduk yang ada di sekitar lapak.

“Oh ... jadi seblak yang pakai level. Lebih baik aku cobain saja, lagipula aku punya banyak waktu luang karena sekarang adalah seorang pengangguran.”

Dengan langkah kaki jenjangnya, Arabella sudah mendekati lapak pedagang tersebut dan memesan seblak dengan level paling pedas karena ia ingin sekali membuang rasa stresnya dengan menikmati makanan yang sangat pedas.

Setelah memesan, ia memilih duduk di tempat kosong dan hanya tersisa satu tempat duduk. Ia buru-buru mendaratkan tubuhnya di sana, karena takut ada yang mendahuluinya.

Sambil menunggu pesanannya datang, ia melihat ponselnya dan sibuk memeriksa akun sosial media milik wanita yang tak lain adalah kakak ipar pria yang tadi mengancamnya. Semenjak kejadian pembunuhan dulu, ia mengikuti perkembangan berita mengenai keluarga Leonard.

Keluarga Leonard merupakan salah satu konglomerat terkenal di Jakarta yang sangat terkenal dan mempunyai saudara tiri yang sangat baik hati dan pernah membantunya dengan memberikan uang karena merasa tidak enak padanya.

Apalagi saudara laki-laki dari pria yang dianggapnya kejam itu memiliki seorang istri yang sangat cantik bernama Qumaira, tetapi pencemburu dan pernah salah paham padanya karena berpikir menjadi selingkuhan.

Sebenarnya ia menyukai abang dari Qumaira yang bernama Zaydan. Sedangkan ia mengagumi Qumaira karena sangat tahu sosok wanita hebat yang luar biasa dan memiliki sifat baik hati pada semua orang, kecuali padanya. Karena rasa cemburu mengalahkan segalanya.

Arabella sibuk menggulir layar ponselnya dan melihat foto balita yang terlihat sangat cantik nan menggemaskan di sosial media tersebut.

“Putri nona Qumaira benar-benar sangat cantik dan menggemaskan. Sangat cantik seperti ibunya. Nona Qumaira selalu dilimpahi kebahagiaan karena hidupnya sangat bahagia setelah menikah dengan tuan Stevan yang merupakan saudara tiri Leonard.”

Beberapa saat kemudian, makanan pesanannya sudah datang dan Arabella mulai menikmati sensasi pedas dari seblak level lima yang merupakan salah satu kuliner khas Bandung dan sangat terkenal yang menjadi incaran para pecinta makanan.

“Kebetulan sekali kita berjumpa di sini, Arabella.”

Arabella yang saat ini tengah mengunyah makanan, refleks langsung tersedak begitu melihat sosok wanita yang sangat dihafalnya, tengah duduk tepat di hadapannya. Rasa panas yang menjalar di tenggorokannya benar-benar sudah sangat menyiksa karena efek rasa pedas dari makanan tersebut.

Sosok wanita yang melihat wajah memerah karena tersedak makanan pedas, meraih gelas berisi teh hangat dan memberikannya pada Arabella.

“Minumlah! Aku tidak tega melihatmu mati karena tersedak makanan.”

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Arabella buru-buru menerima teh hangat tersebut dan langsung meneguknya hingga separuh untuk menetralkan rasa panas di tenggorokannya. Begitu air berwarna coklat keemasan itu membasahi tenggorokannya yang panas, rasa pedas di tenggorokannya agak sedikit berkurang.

Mendapatkan sebuah tatapan membunuh dari sosok wanita yang terlihat sangat elegan di depannya, benar-benar membuat Arabella tidak berkutik dan hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

‘Astaga, mimpi apa aku semalam? Baru saja aku mendapat musibah bertemu dengan adik iparnya yang tadi mengancamku. Lalu, aku dipecat dan sekarang malah bertemu dengan nona Qumaira. Apa yang harus aku lakukan?’

‘Apa aku harus memberitahunya bahwa adiknya tadi mengancam akan menghancurkan hidupku? Akan tetapi, nona Qumaira pasti hanya akan bersorak mengejekku,’ gumam Arabella yang merasa sangat gelisah untuk mengambil sebuah keputusan.

Lamunan Arabella buyar saat mendengar suara bariton dari sosok pria yang tidak lain adalah abang tiri Leonard dan merupakan suami dari wanita di depannya.

“Sayang, ayo duduk di sebelah sana.” Stevan Menunjuk ke arah kursi kosong yang baru saja ditinggalkan oleh pembeli setelah selesai menikmati makanannya.

Qumaira menoleh ke arah samping kiri di mana suami saat ini menepuk pundaknya. “Kenapa harus duduk terpisah? Bukankah kita mengenal baik wanita di depan kita ini?” Menepuk kursi kayu berwarna coklat itu, seolah memberikan sebuah kode agar pria yang masih berdiri menjulang di sebelahnya itu ikut duduk di sebelah.

Tidak ingin membuat keributan akibat kemarahan sang istri, akhirnya Stevan memilih mengalah dan duduk di sana, sekaligus untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh sang istri pada Arabella.

“Bagaimana kabarmu, Arabella?” tanya Qumaira masih dengan wajah datarnya.

Degup jantung tidak beraturan dari Arabella karena efek ketakutan saat berhadapan dengan wanita yang dulu pernah cemburu padanya. Dengan kasar, ia menelan salivanya.

“Kabar saya baik, Nona Qumaira.”

“Jangan panggil aku Nona. Kita semua sama.” Qumaira mengamati penampilan Arabella saat mengungkapkan kalimat bernada sindiran.

Buru-buru, Arabella menggelengkan kepala, tidak membenarkan kata-kata tersebut. “Sama sekali tidak, Nona. Saya hanya orang dari kasta rendahan yang sama sekali tidak sebanding dengan Anda.”

Arabella sedikit membungkuk dengan menundukkan kepala karena tidak berani menatap wajah yang seolah ingin memangsanya.

Qumaira sama sekali tidak menanggapi permohonan maaf dari Arabella karena saat ini lebih tertarik dengan pria yang ada di sebelahnya. “Sayang, sudah pesan makanan yang paling pedas?”

Stevan langsung menggelengkan kepala, “Aku tidak ingin kamu sakit perut. Jadi, aku pesan yang tidak terlalu pedas. Jangan marah, ya.”

Perhatian dari sang suami sudah diduga olehnya dan memang sengaja untuk membuat cemburu Arabella akan keharmonisan rumah tangganya.

“Suamiku benar-benar so sweet.” Beralih menatap ke arah wanita yang dari tadi seolah takut melihatnya karena asyik menundukkan kepala. “Cepatlah menikah dan jangan menjadi perusak rumah tangga orang lain!”

Qumaira bangkit dari posisinya setelah mendengar penjual mengatakan makanan pesanannya sudah siap.

Namun, sebelum melangkah pergi, tatapan tajam masih diarahkannya pada Arabella. “Lanjutkan saja makannya, aku tidak akan menganggumu. Satu hal lagi, selamat membuka lembaran baru karena hari ini adik iparku telah bebas dari penjara.”

Arabella benar-benar merasa tersindir dengan semua perkataan yang keluar dari bibir wanita yang sudah berjalan menjauh dari tempatnya. Ia sangat menyadari bahwa semua yang dikatakan oleh wanita itu memang benar adanya, bahwa hidupnya akan semakin menderita setelah Leonard keluar dari penjara.

‘Pria bernama Leonard itu akan membalas dendam padaku. Mungkin hidupku akan semakin menderita,’ lirih Arabella yang merasa sangat cemas dan ketakutan.

To be continued...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED