“Dane, bagaimana?” Arana kembali bertanya setelah melihat pria itu hanya diam tak menjawab permintaannya.
“Untuk pemindahan ke rumah sakit lain perlu banyak waktu Arana sementara ibumu harus segera ditangani. Jadi, sebaiknya ibumu dirawat di sini saja.”
“Tapi soal biaya ….” Arana tampak sedih. Membayangkan betapa besar biaya yang dia butuhkan.
“Sudah jangan pikirkan itu dulu yang penting ibumu bisa segera ditangani.”
Arana pun akhirnya menuruti perintah Dane meski hatinya masih tidak tenang memikirkan bagaimana bisa mendapatkan biaya rumah sakit untuk ibunya.
***
Keesokan paginya, Arana tampak terkejut saat bangun dan tidak melihat ibunya berada di atas tempat tidur. "Apa terjadi hal buruk pada ibuku?"
Arana segera berlari keluar, dia bingung mencari di mana ibunya berada karena rumah sakit itu sangat besar. Tanpa sengaja Arana menabrak seseorang dan dia hampir jatuh, tetapi dengan cepat tangan orang yang dia tabrak menangkapnya.
"Kamu tidak apa-apa?" Pria yang tak lain adalah Dane heran melihat Arana.
"Dane kamu ada di sini? Oh ya, ibuku di mana?" tanya Arana dengan wajah cemasnya. "Ibuku tidak apa-apa kan, Dane?"
"Ibu kamu sedang menjalani pemeriksaan, kamu tenang saja."
"Dia ada di mana? Aku mau ke sana."
"Kata Elena nanti kalau pemeriksaan semua sudah selesai sekitar jam sebelas kamu bisa bertemu dengannya."
"Aku minta maaf karena aku tidur sampai tidak tau ibuku dibawa pergi. Beberapa hari ini aku terlalu sibuk bekerja sampai tidur pun cuma 3-4 jam sehari." Arana menundukkan mukanya, dia benar-benar merasa bersalah.
"Sudahlah." Tangan Dane mengangkat dagu Arana supaya gadis itu melihat wajah Dane. Dane menatapnya dengan lekat. "Sekarang kamu ikut denganku."
Arana tampak bingung dengan ajakan Dane, tetapi dia akhirnya mengikuti pria yang sudah banyak membantunya di rumah sakit. Dane ternyata membawa Arana kembali ke kamar ibunya dan memberikan paper bag berwarna coklat pada Arana.
"Ini apa, Dane?" Arana tampak keheranan.
"Kamu mandi dan ganti baju dulu. Di dalam paper bag itu aku sudah membelikanmu pakaian supaya kamu bisa mengganti pakaianmu, lalu kita sarapan di kantin. Aku tunggu di depan!" ucapnya tegas.
"Ta-tapi, Dane ….” Arana belum menyelesaikan kata-katanya, Dane sudah melangkah pergi keluar kamar.
Tak butuh waktu lama, Arana pun sudah bersiap. Dia terlihat memakai baju pemberian Dane. "Kenapa bisa pas begini ya bajunya?" Arana heran sendiri melihat pakain yang diberikan Dane padanya sesuai dengan ukuran tubuhnya.
Arana keluar dan dia melihat ada Dane serta asisten pribadinya yang dia tau bernama Ken.
"Apa kamu menyukai bajunya, Arana?"
"Oh ... i-ya, terima kasih, Dane, tapi sebaiknya kamu tidak perlu sampai membelikan aku baju ini. Aku tidak mau merepotkan kamu terus."
"Aku tidak merasa repot. Ken, kamu ke kantor dulu saja karena aku mau makan pagi dengan Arana!”
Kedua mata Ken langsung mendelik. Dia sangat terkejut karena biasanya, bosnya itu tidak pernah mau sarapan pagi, tetapi kenapa hari ini dia bilang mau sarapan pagi? Apa karena Arana? Ken pun seketika melihat Arana.
"Dane, kamu sebaiknya pergi ke kantormu saja, lagi pula aku tidak mau sarapan. Aku mau nunggu ibuku aja.”
"Jangan mengabaikan kesehatanmu, apa lagi kamu dari kemarin belum makan. Kalau kamu sakit yang menjaga ibumu siapa?"
Mendengar perkataan Dane, Arana tampak terdiam sejenak.
Ken yang ada di sana lagi-lagi dibuat terkejut melihat bosnya yang terkenal dingin dan tidak pernah terlihat dekat dengan seorang wanita, tetapi kenapa dengan Arana sangat perhatian?
"Tapi–" Arana bingung sendiri.
"Ada yang harus aku sampaikan pada kamu, Arana." Tiba-tiba suara Elena terdengar di sana. Seketika mereka bertiga melihat pada dokter wanita itu.
"Ada apa, Dok?" Arana segera mendekat.
"Hasil tes pertama yang aku lakukan sudah keluar dan apa yang aku khawatirkan saat kemarin memeriksa keadaan ibumu terbukti benar."
"Maksud Dokter Elena bagaimana? Ibuku kenapa, Dok?" tanya Arana seketika cemas.
"Waktu itu aku menduga ibumu terkena autoimun, tapi aku belum bisa memastikan dengan pasti sebelum melakukan tes dan ternyata hasil tes yang aku lakukan mengarah pada penyakit itu."
"Autoimun itu apa, Dok?"
"Itu sejenis kondisi kekebalan tubuh seseorang menyerang tubuhnya sendiri. Ada banyak sekali jenisnya dan aku belum tau ibumu mengidap penyakit autoimun yang mana. Penyakit ini tidak bisa diabaikan karena belum ada obat yang bisa benar-benar menyembuhkannya, kita hanya bisa mencegah gejala lain yang timbul dan meringankannya agar tidak terjadi kondisi yang lebih parah. Arana, apa ibumu tidak pernah mengeluh akan sakitnya? Misalnya merasakan gejala seperti rasa capek, berat badan semakin menurun?"
Arana menggeleng pelan."Ibuku pasti merasakannya, tapi ibuku pasti tidak mau memberitahuku." Arana tampak mengusap air matanya yang jatuh perlahan pada pipinya.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Elena?" tanya Dane.
"Dane, kita harus melakukan serangkai tes yang banyak untuk memastikan ini autoimun jenis yang mana dan yang aku takutkan jika ini termasuk autoimun yang terjadi pada kelenjar tiroidnya. Kalau sampai ada benjolan di dalam lehernya, harus segera kita lakukan tindak operasi."
"Lakukan semua yang menurut kamu baik untuk kesembuhannya, Elena. Aku ingin ibu Arana mendapatkan perawatan yang terbaik di sini."
Arana terkejut mendengar hal itu. Perhatian dari Dane yang menurutnya sangat berlebihan.
"Kalau begitu akan segera kulakukan."
Arana pun terduduk lemah di kursi pasien. Dane yang melihat Arana seperti itu tampak kasihan. Dia duduk di sebelah gadis yang sedang shock mendengar tentang keadaan ibunya.
"Ibu kamu akan baik-baik saja, Arana, Elena akan melakukan semua yang terbaik untuk kesembuhan ibumu."
"Dane, aku ingin ibuku sembuh, tapi aku tidak punya cukup biaya untuk membayar semua ini." Arana benar-benar bingung saat ini.
"Aku yang akan membiayai semua perawatan ibumu selama di sini, Arana."
"Lalu, aku harus membayarmu dengan apa, Dane?”
Dane terdiam sejenak. Menatap lekat wajah Arana dan itu membuat Arana jadi sedikit canggung.
"Menikahlah denganku.” Tanpa ada keraguan, Dane mengatakannya.
"Apa?" Kedua mata Arana seketika membulat sempurna mendengar apa yang baru saja Dane katakan. Sama halnya dengan Ken yang masih ada di sana juga tampak sangat terkejut mendengar perkataan bosnya.
"Iya, menikah denganku dan semua biaya rumah sakit ibumu aku yang akan melunasinya.”
"Tapi Dane, apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan?" tanya Arana dengan wajah terkejut.
"Aku sangat sadar, Arana. Jadilah istriku dan semua kehidupanmu akan menjadi tanggung jawabku."
"Tapi aku sudah punya pacar … lagi pula kita tidak saling mengenal."
"Akhiri saja hubungan kalian! Dan, setelah menikah kita bisa saling mengenal." Sekali lagi tidak ada keraguan yang terdengar dari ucapan Dane.
“Ya Tuhan, apa aku harus menikah dengan Dane demi ibuku?” batin Arana yang benar-benar tidak bisa berpikir saat ini. Tak hanya bingung memikirkan kondisi sang ibu, tawaran Dane baginya sangat mengejutkan. Bagaimana mungkin dirinya menerima tawaran itu? Bagaimana dengan kekasihnya? Arana hanya bisa menghela napas panjang. Meminta pada Dane untuk membiarkannya sendiri dan memikirkan tawaran itu.
Arana berada di depan pintu ruangan di mana ibunya sedang menjalani tes untuk memastikan autoimun apa yang sedang diderita oleh ibunya.
"Ibu, aku tidak mau kehilangan Ibu." Arana sekali lagi meneteskan air matanya.
Tiba-tiba Arana merasakan sebuah tangan menyentuh pundaknya. "Sayang, bagaimana keadaan ibumu?" Arana terkejut saat membalikkan tubuhnya dan melihat siapa yang berdiri di sana saat ini.
Arana tampak menangis di pelukan lelaki yang adalah kekasihnya. Radit melepaskan pelukannya dan melihat wajah sembab kekasihnya itu. "Hei, Cantik, kenapa kamu tidak bilang kalau ibu kamu dirawat?" Radit membelai rambut kekasihnya itu.
"Maaf, aku waktu itu masih bingung dan kejadiannya begitu cepat, Dit."
"Seharusnya kamu memberitahuku, aku tau hal ini dari Tia. Lalu, bagaimana dengan keadaan ibumu sekarang?"
"Ibuku masih harus menjalani beberapa rangkaian tes lagi karena keadaannya yang tidak begitu baik," tutur Arana.
"Kamu harus yang kuat ya, Sayang." Radit memegang pipi Arana.
Mereka berdua tidak tahu jika ada yang sedang memperhatikan kemesraan mereka berdua. Ya, pria itu adalah Dane. Orang yang tampak disuka dengan pemandangan itu. Tangannya sampai mengepal erat. Dari raut wajahnya sudah terlihat jika pria itu tampak kesal saat ini.
"Maaf, Pak Dane, apa boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Ken ragu-ragu.
"Tanya saja?"
"Kenapa Anda tiba-tiba ingin menikah dengan Nona Arana? Bukannya Anda sudah dijodohkan dengan Nona Mauren?"
"Aku tidak peduli dengan perjodohan itu karena aku sama sekali tidak menginginkan hal itu."
"Lantas, dengan Nona Arana, apa Anda jatuh cinta padanya?"
Dane menatap orang kepercayaannya itu dengan pandangan yang membuat Ken bingung dengan tatapan bosnya.
"Ken, kita pergi saja dari sini daripada aku nanti kehilangan kendali!” Dane pun berjalan pergi dari sana, diikuti Ken yang hanya bisa menatap heran sikap bosnya.
Kembali pada Arana, wanita itu terlihat sudah berada di kantin bersama Radit yang mengajaknya untuk bicara.
"Arana, lusa aku mau berangkat ke luar kota selama dua Minggu karena ayahku mengajakku untuk menjalankan bisnisnya. Cafeku sedang tidak baik-baik saja." Radit terlihat sedih.
Arana merasa kaget mendengar hal itu karena sebenarnya tadi dia ingin mengatakan kesulitannya tentang biaya rumah sakit, tapi saat mendengar apa yang kekasihnya itu katakan, dia lebih baik mengurungkan niatnya agar tidak menjadi beban untuk kekasihnya.
Hampir satu jam Radit menemani Arana di sana. Sampai akhirnya, dia izin pulang karena ayahnya menghubungi dan menyuruh Radit menemuinya saat ini.
Sepulang Radit, Arana dipanggil oleh Elena dan sang dokter langsung memberitahu jika ibunya harus segera menjalani operasi karena ada pembengkakkan di dalam lehernya.
Sekali lagi Arana dibuat tidak bisa berkata-kata akan hal ini. Seketika dia teringat akan tawaran Dane.
"Dok, kapan ibuku akan memulai operasinya?"
"Besok ibumu akan menjalani operasinya setelah semua hasil lab lengkap aku terima.”
Arana pun menemui ibunya yang sudah sadar dan mengatakan jika dia senang melihat ibunya sudah sadar. Arana kemudian meminta izin untuk pulang agar bisa mengambil beberapa kebutuhan untuk ibunya di rumah sakit dan ibunya pun mengizinkan.
Arana ternyata tidak pulang ke rumahnya, melainkan dia pergi ke suatu tempat di mana dia sudah menghubungi Dane jika dia ingin bertemu dengan Dane.
Dane tentu saja langsung menemui Arana di sebuah cafe yang tidak terlalu besar yang ada di dekat kantor Dane.
"Dane, aku minta maaf jika harus mengajak kamu bertemu mendadak seperti ini." Arana yang sangat cemas saat ini hanya bisa menautkan jarinya
Dane pun tampak melihat kecemasan dari gadis yang duduk di depannya. "Kamu tidak apa-apa, Arana?"
"Dane … a-ku mau menerima tawaranmu," ucap Arana ragu-ragu.
"Maksudmu?"
"Aku mau menikah denganmu, tapi aku minta tolong kamu mau membiayai pengobatan ibuku sampai sembuh." Arana menundukkan kepala untuk menyembunyikan tangisnya.
Dane tersenyum kecil saat mendengar apa yang Arana baru saja katakan. Dia bukannya senang di atas penderitaan orang lain, tetapi dia bahagia karena Arana mau menerima tawarannya.
"Aku akan membiayai perawatan ibumu dan menjamin kehidupan kalian berdua karena aku ingin membuatmu bahagia Arana," ucap Dane tegas.
Arana masih menatap pria yang saat ini duduk di depannya. Arana masih bingung dengan apa yang dia pikirkan saat ini.
"Apa ada lagi yang ingin kamu katakan?"
"Tidak ada, kalau begitu aku mau pulang sebentar ke rumahku untuk mengambil barang-barang ibuku." Arana beranjak dari tempat duduknya.
"Aku akan mengantarmu."
"Apa? Tidak perlu, Dane, aku bisa naik taksi online saja."
"Kamu calon istriku dan sudah seharusnya aku menjagamu."
Sekali lagi Arana dibuat terhenyak dengan apa yang Dane katakan. "Ayo!" Dane mempersilakan Arana jalan lebih dulu. Arana hanya bisa terdiam dan menurut.
Di dalam mobil tidak terdengar pembicaraan apa pun. Sampai akhirnya, mereka tiba di depan rumah dengan dominasi warna putih.
"Apa kamu mau masuk atau menunggu di sini?"
"Aku akan masuk denganmu."
Dane mengedarkan pandangan melihat suasana di dalam rumah Arana. Semua yang ada di sana tertata dengan rapi dan tidak banyak barang-barang atau perabotan.
"Dane, apa mau aku buatkan sesuatu?" tanya Arana untuk menghilangkan kecanggungan mereka.
"Tidak perlu, terima kasih. Kamu ambil saja barang-barang apa yang ingin kamu bawa, aku akan menunggu di sini." Dane pun tersenyum kecil pada Arana.
"Ya sudah kalau begitu."
Arana masuk ke dalam kamar ibunya untuk mengemas baju ibunya, sedangkan Dane mengedarkan pandangannya melihat-lihat bingkai foto yang ada di sana.
Terlukis senyum dari sudut bibir Dane saat melihat foto gadis kecil dengan gaun berwarna merah maroon. Gadis kecil itu tak lain adalah Arana.
"Dia dari kecil sudah terlihat cantik, bahkan saat sudah dewasa pun dia masih tetap memiliki wajah cantik itu."
Dane meletakkan kembali bingkai itu. Dia kemudian berjalan menuju salah satu foto lagi dan kali ini ekspresi wajahnya tidak tampak senang seperti saat tadi melihat foto Arana saat masih kecil.
"Sebentar lagi Arana akan menjadi milikku dan aku harap dia juga akan melupakanmu." Dane membalikkan bingkai foto yang menampilkan Arana dan Radit di sana.
"Dane, aku sudah selesai."
Dane pun berjalan mendekati Arana dan membantu membawa dua tas yang Arana bawa.
"Dane, maaf sudah membuat kamu repot dari kemarin. Tidak seharusnya aku merepotkan kamu seperti ini," ucap Arana dengan wajah seolah merasa tidak enak.
"Aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Bukankah kita akan menjadi suami-istri nantinya." Dane pun tersenyum dan berjalan menuju mobilnya.
Di dalam mobil, Arana hanya duduk diam. Dia bahkan tidak berani melihat wajah Dane sekarang setelah pembicaraan di cafe di mana Arana menerima permintaan Dane untuk menikah.
Sesampai di depan rumah sakit, Arana keluar dari mobil, diikuti Dane tepat menyusul di belakang.
"Arana, aku sudah putuskan kalau lusa kita akan menikah."
"Apa?" Seketika tas yang dibawa oleh Arana terjatuh. Arana sangat kaget dengan ucapan Dane.