"Gak, Pa, Bella gak mau menikah dengan lelaki yang gak Bella kenal. Bella juga sudah punya pacar. Bella gak mau putus sama pacar Bella! Bella gak mau semua orang menertawakan Bella karena menjadi istri pengganti," protes gadis itu.
Jonathan mengusap kasar wajahnya, Bella selalu saja susah diatur. Ia harus berusaha agar anaknya, mau menerima pernikahan ini.
"Papa mohon Bella ... lagian Maduswara Company sekarang masih berada dalam puncaknya. Kamu pasti akan bisa menikmati semua harta mereka."
"Bella gak percaya Papa akan bilang seperti itu sama Bella, memangnya Papa pikir kebahagiaan Bella bisa dibeli dengan uang? Bella gak peduli mau dia orang kaya atau orang miskin. Bella tetap akan menolak pernikahan ini!"
"Papa gak mau tahu, pokoknya kamu harus menikah. Kalau tidak, Papa tidak akan menganggap kamu sebagai anak Papa lagi." Jonathan langsung pergi dari hadapan keluarganya untuk menuju kamarnya.
"Papa! Bella gak mau menikah sama lelaki itu!" teriak Bella yang tak digubris oleh Jonathan.
Gadis tersebut menangis memeluk mamanya begitu erat. Bella tak menginginkan dirinya menjadi pengantin pengganti, tapi papanya terus bersikeras untuk tetap menjadikan Bella sebagai istri pengganti.
"Ma, tolong beritahu Papa kalau Bella gak mau."
Juwita mengelus rambut Bella begitu lembut. Sebenarnya ia tak masalah bila Bella menikah dengan keturunan Maduswara. Masa depan Bella pastinya akan terjamin.
Siapa yang tak kenal dengan Maduswara Company, sebuah perusahaan yang akhir-akhir ini menduduki peringkat tertinggi di kalangan para pebisnis.
"Sayang, kamu harus terima pernikahan ini. Kamu pasti akan bahagia bila menikah dengan putra Maduswara."
Bella melepaskan pelukannya dengan Juwita. Gadis itu tak menyangka bila mamanya itu akan berkata seperti itu. Juwita malah membujuknya untuk menerima pernikahan itu.
"Kenapa Mama sama saja seperti Papa? Kalian lebih mementingkan harta daripada kebahagiaan putri kalian sendiri?"
Bella segera menghapus kasar air matanya yang terus saja menetes. Ia lalu berlari ke arah kamarnya.
"Bella!" teriak Juwita ketika melihat putrinya yang berlari menjauh.
Blam!
Bella membanting pintu kamar dengan keras, ia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Menarik selimut, membenamkan seluruh tubuhnya di dalam selimut, lalu menangis sejadi-jadinya.
"Kenapa aku harus menikah dengan lelaki yang tidak aku cintai?" Ia tergugu.
Sedari tadi Bella terus saja menangis di dalam kamar. Semua wanita pasti akan mendambakan sebuah pernikahan di dalam hidupnya. Namun tidak dengan gadis satu ini, pernikahan ini membuatnya begitu terasa sedih.
Mengapa tidak? Bagaimana dia tidak sedih bila harus menikah dengan seorang lelaki yang sama sekali tidak dicintainya? Bahkan bertemu saja tidak pernah.
"Aku harus bagaimana? Apa aku harus kabur saja dari sini?" gumam Bella bermonolog.
Bukan kah sebuah pernikahan itu butuh waktu untuk saling mengenal satu sama lain, tapi tidak dengan dirinya. Dia malah dipaksa menikah oleh kedua orangtuanya.
Menolak.
Tentu saja ia sudah menolak pernikahan ini, tapi tetap saja, orang tuanya tetap bersikeras akan menikahkan dirinya dengan lelaki yang harus menjadi suaminya karena sebuah bisnis.
"Ya Tuhan, tolong bantu aku. Aku harus menghubungi Daffa. Iya, aku harus menghubungi dia sekarang."
Bella langsung mencari keberadaan ponselnya. Rasanya ia tak sanggup bila harus menikah dengan lelaki yang sama sekali tak pernah ia cintai. Ia bahkan harus mengorbankan cintanya yang sudah lama terjalin.
Ketika Bella sedang mencari ponselnya dan memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa kabur dari ruangan ini, tiba-tiba ada yang mengetuk pintunya.
Tok! Tok! Tok!
"Siapa?"
"Delisha."
"Masuk!"
Delisha masuk ke dalam ruangan Bella, dilihatnya Bella yang belum tidur. "Kamu belum tidur Bella?"
"Bagaimana aku bisa tidur? Kalau besok saja adalah hari pernikahanku dengan lelaki yang tidak aku kenal sama sekali."
"Maaf Bella, tapi ini sudah keputusan Papa, kamu harus menerimanya."
Bella meraih tangan Delisha. "Delisha, apa kamu mau membantuku? Aku sangat membutuhkan bantuanmu."
Delisha menaikan kedua alisnya. "Bantuan? Memangnya kamu butuh bantuan apa?"
"Aku ingin kamu menggantikan aku menjadi pengantin wanita."
Deg!
Delisha terperangah mendengar perkataan dari Bella, yang benar saja. Bella menyuruhnya untuk menggantikan posisi Bella. tidak, itu tidak mungkin.
Papa sama tantenya pasti akan marah bila mereka tahu yang berada di pelaminan bukanlah Bella, tapi melainkan dirinya.
"Tidak, aku tidak mau," tolak Delisha.
"Aku mohon, hanya kamu yang bisa menolong aku." Bella menyatukan kedua tangannya di atas dada memasang wajah yang sedih.
Tak biasanya memang, selama ini Bella tak pernah memasang wajah seperti itu di depan Delisha, yang ia berikan hanya wajah ketidaksukaannya kepada Delisha.
Bagaimana Bella tak suka kepada Delisha? Delisha itu anak haram papanya bersama dengan wanita lain, tetapi papanya selalu saja menempatkan anak haram itu lebih segalanya dari pada dirinya yang notabenenya sebagai anak kandung yang sah.
"Delisha, bantu aku. Aku mohon."
Hiks!
Bella menjatuhkan tubuhnya di depan Delisha, ia sampai bersujud memohon agar Delisha mau membantunya kali ini.
"Aku mohon Delisha, hanya kamu yang bisa menolong aku, kamu tahu bukan. Aku tidak mungkin menikah dengan lelaki yang tidak aku cintai, kamu juga tahu kalau selama ini aku sudah memiliki kekasih. Hanya kamu yang bisa membantu aku, jadilah pengganti aku. Aku mohon."
Delisha tak bisa melihat Bella yang berlutut di kakinya, ia tahu selama ini Bella memang tak pernah menganggapnya sebagai seorang kakak. Namun, selama ini Delisha selalu menganggap Bella itu adiknya, tak pantas bila seorang adik berlutut di kaki kakaknya.
Delisha mengangkat bahu Bella. "Bangunlah, aku mohon jangan seperti ini. Besok adalah hari pernikahanmu, aku tidak mungkin menggantikan posisi kamu. Papa sama Tante pasti akan marah. Apalagi dengan keluarga calon suami kamu, aku tidak mau membuat Papa sama Tante malu."
Lelaki yang dijodohkan dengan Bella memang lelaki keturunan dari Maduswara, keluarga yang paling disegani di kota ini, bukan karena harta dan kekayaannya saja, tetapi karena kedermawannya juga.
"Aku tidak mau menikah dengan lelaki itu. Aku mohon tolonglah aku, jadilah pengganti aku. Aku akan berikan apa pun yang kamu mau. Kasih sayang orang tua, aku akan memberikannya kepada kamu. Harta, aku juga pasti akan memberikannya kepada kamu, tapi tolong aku. Aku tidak mau menghabiskan sisa hidupku dengan lelaki yang tidak aku cintai."
Delisha tidak tahu lagi harus berkata apa kepada adiknya itu, ia juga bingung apa yang harus ia lakukan kini.
Mata sembab Bella menjadi bukti kalau Bella tidak menginginkan pernikahan ini.
"Emm … begini saja, Bella. Kamu tunggu di sini dulu, aku akan panggil Papa."
Delisha akan melangkah menuju ke luar ruangan. Namun, tangannya ditahan oleh Bella.
"Jangan! Aku mohon jangan beritahu Papa. Papa pasti akan marah sama aku. Aku gak mau, aku takut."
Bella dengan sangat memohon kepada Delisha agar Delisha tak memberi tahu semua itu kepada Jonathan.
Delisha menghela napasnya gusar. "Baiklah, aku tidak akan memberi tahu Papa."
"Terimakasih, Delisha."
Hari sudah berganti, Juwita pun akan segera menuju kamar Bella untuk membangunkan putrinya karena hari ini adalah hari pernikahannya.
"Sayang, buka pintunya, keluarga mempelai pria sudah menunggu kedatangan kita, waktunya kamu untuk bersiap-siap."
Tok! Tok! Tok!
"Sayang, kamu dengar Mama!"
Juwita berteriak memanggil putrinya yang masih berada di dalam kamar. Akan tetapi, sedari tadi Bella tak menyahutnya, hati Juwita pun sudah mulai gelisah sendiri.
"Ma, kenapa Mama lama sekali panggil Bella?" tanya Jonathan yang sudah berada di hadapan Juwita.
"Ini, Pa, Mama sudah mengetuk pintu kamar Bella, tapi Bella tidak membukanya sedari tadi."
"Bella, buka pintunya, kalau tidak, Papa akan mendobraknya!"
Karena dari tadi tak ada suara dari kamar Bella. Akhirnya, Jonathan mendobrak pintu kamar Bella. Namun ketika pintu sudah berhasil didobrak, betapa terkejutnya Jonathan ketika tak mendapati putrinya di dalam kamar.
"Anak sialan!"
"Anak sialan!" umpat Jonathan yang begitu kecewa terhadap Bella yang sudah kabur dari kamarnya.
"Bagaimana, Pa, Bella tidak ada di dalam kamarnya?" Juwita begitu sedih ketika tak mendapatkan putrinya berada di dalam kamar.
Bella juga meninggalkan gaun pengantinnya di atas tempat tidur, Juwita juga tak melihat koper maupun baju-baju Bella yang ada di dalam lemarinya, sudah pasti anaknya itu sudah kabur.
Melinda memasuki kamar Bella dengan membawa sebotol air mineral di tangannya.
"Kak, ada apa? Sepertinya kalian gelisah sekali?" tanya Melinda kepada Jonathan dan Juwita yang sedang gelisah.
"Bella kabur Melinda," jawab Juwita.
"Apa? Kabur? Lalu, bagaimana dengan pernikahannya? Keluarga Maduswara pasti akan kecewa kepada kita."
Mereka memikirkan cara bagaimana caranya untuk mengatakan kepada keluarga Maduswara bila putrinya, Bella, telah kabur.
"Papa akan menghubungi keluarga Maduswara," ujar Jonathan, lalu merogoh ponselnya untuk menghubungi keluarga Maduswara.
"Halo, bagaimana Jonathan? Semua tamu dan mempelai pria sudah datang. Mengapa mempelai wanitanya tak kunjung sampai ke hotel?"
"Emm ... begini Emran, aku mau bicara sesuatu sama kamu."
"Apa?"
"Sebenarnya putriku Bella kabur."
"Apa? Bagaimana bisa kabur?"
"Aku juga tidak tahu, ketika aku mau memanggilnya untuk keluar dari dalam kamar. Aku tak mendapati Bella yang ada di dalam kamarnya."
"Ini penghinaan untuk keluarga Maduswara. Aku tidak terima diperlakukan seperti ini sama kalian."
"Aku benar-benar minta maaf atas nama putriku."
"Pernikahan ini harus terlaksana, aku tidak ingin menanggung malu karena calon menantuku yang pertama sudah mengkhianati putraku, dan sekarang malah putrimu juga kabur."
"Tapi, bagaimana bisa terlaksana, kalau Bella saja tidak ada?"
Jonathan melihat ke arah Delisha yang sedang mengangkat beberapa barang ke dalam mobil.
"Emm ... begini saja, bagaimana kalau anak pertama aku yang menggantikan Bella?"
"Apa kamu bilang? Kamu akan menikahkan anak aku dengan anak haram kamu."
Emran sudah mengetahui bila Jonathan telah memiliki anak haram dengan perempuan lain. Namun, Jonathan memintanya untuk merahasiakan itu semua.
"Ini hanya sebagai pengantin pengganti saja, bukannya anakku Bella juga menjadi pengantin pengganti, kalian boleh menyerahkan Delisha kepadaku lagi kalau pernikahannya sudah selesai. Bagaimana?"
Emran pun mencoba untuk berpikir, kalau pernikahan putranya itu gagal, pasti semua orang akan menertawakan keluarganya. Apalagi karena calon pengantin wanitanya yang berkhianat.
"Yasudah, tapi ini hanya sebagai pengantin pengganti saja."
"Iya, kamu tenang saja."
Jonathan langsung memutuskan sambungan teleponnya dengan Emran, ia menghampiri Delisha yang sedang berada di dekat mobil.
"Delisha, ikut Papa."
Delisha menganggukan kepalanya. "Baik, Pa."
Delisha mengikuti ke mana perginya sang Papa, ternyata Jonathan membawanya pergi menuju kamar Bella.
"Ada apa, Pa?" tanya Delisha yang penasaran kenapa Jonathan membawanya ke kamar Bella?
"Begini Delisha, Papa mau bicara sama kamu."
"Papa mau bicara apa?"
Jonathan melihat ke arah Delisha dengan wajah yang bimbang. Jonathan berharap bila Delisha mau menggantikan Bella yang sudah kabur. "Nak, Papa benar-benar butuh bantuan kamu. Papa tidak tahu harus berbuat apalagi karena adik kamu Bella sudah kabur."
"Apa, Pa? Bella kabur?" Delisha terperanjat ketika mendengar Bella kabur di hari pernikahannya.
"Ya, Delisha. Papa sendiri begitu bingung. Papa tidak tahu bila Bella memiliki niat untuk kabur, kalau saja Papa bisa menjaga Bella dan mengawasinya lebih ketat lagi, mungkin Bella tak akan kabur seperti ini. Papa hanya punya kamu sekarang, Papa berharap kamu mau untuk menggantikan Bella."
"Apa, Pa? Delisha menggantikan Bella? Tapi, Pa. Bagaimana dengan keluarga pengantin lelaki? Mereka pasti akan merasa tertipu, bila yang berada di pelaminan itu bukan Bella melainkan Delisha."
"Kamu tenang saja, Sayang. Papa sudah bicara dengan mereka dan mereka pun sudah setuju."
"Papa serius? Mereka tak masalah bila Delisha yang menggantikan Bella?"
Jonathan meraih tangan Delisha dengan menepuk-nepuk lengan anaknya. Jonathan sangat berharap penuh kepada Delisha, karena hanya Delisha yang bisa menolongnya saat ini.
"Nak, tolong Papa, hanya kamu yang bisa menolong kehormatan keluarga Wijaya dan Maduswara. Kalau pernikan ini dibatalkan, nama baik keluarga Maduswara pasti hancur, begitu juga dengan perusahaan Papa yang sudah Papa kelola selama ini."
Delisha memandangi wajah Jonathan begitu lekat, ia baru melihat wajah memelas papanya, Delisha tak sanggup bila melihat wajah papanya yang sedih seperti itu.
Delisha menganggukan kepalanya. "Baiklah, Pa. Delisha akan menjadi pengantin pengganti untuk Bella." Delisha terpaksa menerima permintaan dari papanya. Ia hanya tak ingin melihatnya bersedih.
Jonathan tersenyum, ia pun membawa Delisha ke dalam dekapannya. "Terimakasih, Sayang."
***
Di sebuah hotel bintang lima, para tamu sudah mulai hadir menghadiri pernikahan Rey bersama Erlin. Kedua foto Erlin dan Rey yang berukuran besar pun sudah terpampang rapi menghiasi ballroom tersebut.
Mereka hanya tidak tahu, bila sebenarnya pengantin wanita sudah mengkhianati pengantin lelaki dengan berselingkuh di belakangnya. Dan sebenarnya wanita yang menjadi pengantin Rey bukanlah Erlin, melainkan wanita lain keturunan dari Wijaya.
"Nak." Emran menghampiri putranya yang sedang berada di ruangan tempat rias pengantin lelaki. Rey sudah bersiap-siap, ia pun sedang mengenakan masker pada wajahnya.
"Ya, Pa."
"Ini." Emran menyerahkan sebuah kertas kepada Rey.
"Apa ini, Pa?" tanya Rey yang begitu penasaran.
"Kamu hafalkan ijab kabulnya dulu, ya."
"Baik, Pa."
Rey mulai membaca tulisan yang sudah terukir di kertas yang sedang dipegang olehnya. Ia mengernyitkan dahinya ketika melihat nama Bella dicoret dan digantikan dengan nama Delisha.
"Pa, ini apa? Kenapa nama Bella dicoret dan Delisha, siapa dia?" tanya Rey yang begitu bingung.
Emran menepuk pundak Reyhan. "Nak, Bella sudah melarikan diri, sebagai gantinya anak pertama Jonathan yang akan menggantikan Bella."
"Apa? Yang bener saja, Pa?" Rey terperangah mendengar perkataan dari Emran.
"Ini hanya sementara, nanti setelah pernikahan ini selesai, Delisha akan dipulangkan kembali."
Rey tertegun atas perkataan papanya. "Pa, ini adalah sebuah pernikahan bukan lelucon anak kecil."
Reyhan begitu heran atas pemikiran papanya. Mengapa bisa Emran berkata seperti itu?
"Sudah, kamu turuti saja perkataan Papa, yang penting sekarang pernikahan harus terlaksana dulu, masalah selanjutnya nanti akan dibicarakan lagi."
Rey hanya bisa pasrah atas keputusan papanya yang tak masuk akal itu. Baginya pernikahan itu adalah sesuatu yang sakral dan tidak bisa dipermainkan begitu saja.
Rey hanya bisa menghela napas panjang dan menerima semua ini. Nasib percintaannya begitu sangat buruk. Pertama, ia salah memilih wanita. Kedua, ia sudah dikhianati, dan ketiga, sekarang calon pengantin wanita yang akan menggantikan Erlin malah kabur.
"Sial! Kenapa nasib hidupku begitu buruk? Apakah tidak ada wanita yang mencintaiku dengan tulus? Aku memangnya kurang apa? Aku tampan, aku sudah mapan, dan aku memiliki segalanya, tapi kenapa semua wanita malah mengkhianatiku dan kabur begitu saja?"
"Karma."
Satu kata yang keluar dari mulut Abbas berhasil membuat Rey bungkam.
"Hentikan leluconmu Abbas!"