Bab 2

Malam itu, Aurora tidak bisa tidur. Pikirannya terus dipenuhi oleh kata-kata Adrian Vasquez.

"Aku bisa membantumu keluar dari pernikahan ini."

Kalimat itu bergema di kepalanya, seperti godaan yang sulit diabaikan. Jika Adrian benar-benar bisa membebaskannya, bukankah itu adalah kesempatan yang selama ini dia tunggu?

Tapi di sisi lain, ada Lucian.

Pria itu adalah belenggu sekaligus pelindungnya. Kejam, dingin, dan penuh rahasia. Tapi, ada sesuatu tentang Lucian yang membuatnya ragu untuk benar-benar menghancurkannya.

Aurora menatap langit-langit kamar yang luas. Tempat tidur king-size yang dia tiduri terasa terlalu besar, terlalu kosong. Lucian tidak tidur di sini. Dia bahkan tidak masuk ke kamar sejak mereka pulang dari pesta tadi.

Pikirannya melayang ke pertemuan mereka di balkon. Saat Lucian muncul, tatapannya penuh dengan amarah tersembunyi. Dia tidak mengatakan apa pun setelah Adrian pergi, hanya menggenggam pergelangan tangannya dan menariknya kembali ke dalam rumah, seolah ingin menunjukkan bahwa dia adalah miliknya.

Aurora meremas selimut.

Apakah dia benar-benar hanya alat bagi Lucian?

Atau ada sesuatu yang lebih dalam yang pria itu sembunyikan?

Pagi datang dengan keheningan yang mencekam.

Aurora duduk di meja makan, menatap roti panggang dan kopi di hadapannya tanpa nafsu makan. Suasana di rumah ini begitu dingin, tidak seperti rumah pada umumnya. Tidak ada suara pelayan yang bercakap-cakap, tidak ada tawa, hanya keheningan yang menusuk.

Lucian muncul dari pintu dengan pakaian formal yang sempurna. Kemeja putih yang digulung hingga siku dan rompi hitam yang melekat di tubuhnya membuatnya terlihat begitu berwibawa. Mata gelapnya mengunci tatapan Aurora begitu dia duduk di kursi seberang.

"Kau tidak makan?" tanyanya sambil menuangkan kopi ke cangkirnya.

Aurora menggeleng pelan.

Lucian menyandarkan punggungnya ke kursi, menyesap kopinya dengan tenang sebelum akhirnya berbicara, "Tentang tadi malam. Apa yang dikatakan Adrian padamu?"

Aurora mengangkat dagunya sedikit. "Kenapa? Kau takut dia akan membujukku untuk mengkhianatimu?"

Lucian tersenyum tipis, tapi tidak ada kehangatan di sana. "Aku tahu siapa dirimu, Aurora. Kau bukan tipe wanita yang mudah dipengaruhi. Tapi Adrian adalah manipulator ulung."

Aurora menatapnya tajam. "Dan kau tidak?"

Lucian terdiam. Untuk pertama kalinya, dia tidak langsung menjawab.

Aurora mencondongkan tubuhnya ke depan, menatapnya dalam-dalam. "Kenapa kau menikahiku, Lucian?"

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Lucian mengamati wajahnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Kau tahu alasannya."

Aurora mendengus. "Karena utang pamanku?"

Lucian tidak mengangguk, tapi tidak juga membantah.

Aurora menggigit bibirnya, mencoba meredam emosi yang bergolak. "Kalau hanya karena itu, kau bisa saja membayar utang mereka tanpa harus menikahiku."

Lucian meletakkan cangkir kopinya dengan pelan, lalu menatapnya lurus. "Aku ingin memastikan kau tetap di sisiku."

Aurora terkejut. Itu bukan jawaban yang dia harapkan.

Dia membuka mulut, ingin bertanya lebih jauh, tapi sebelum sempat berbicara, pintu ruang makan terbuka dan seorang pria bertubuh besar masuk.

"Boss, ada masalah."

Lucian menoleh, wajahnya langsung berubah serius. "Apa?"

Pria itu-salah satu anak buahnya-melangkah mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga Lucian.

Aurora melihat rahang pria itu mengeras.

"Siapkan mobil," perintah Lucian.

Pria itu mengangguk dan segera pergi.

Lucian beranjak dari kursinya, tapi sebelum pergi, dia menatap Aurora. "Tetap di rumah. Jangan pergi ke mana-mana."

Aurora mendecak pelan. "Dan kalau aku pergi?"

Lucian mencondongkan tubuhnya, wajahnya begitu dekat hingga Aurora bisa merasakan napas hangatnya di kulitnya. "Aku akan menemukanku. Dan aku tidak suka mengejar sesuatu yang sudah menjadi milikku."

Aurora tertegun.

Dia menatap Lucian saat pria itu pergi, meninggalkan lebih banyak pertanyaan di benaknya.

Aurora tidak mengikuti perintahnya.

Begitu Lucian pergi, dia segera mengambil mantel dan keluar dari rumah.

Dia tidak tahu ke mana harus pergi, tapi satu hal yang pasti: dia tidak bisa terus terkurung dalam sangkar emas ini.

Dia berjalan di trotoar kota dengan pikiran kacau. Sejak pernikahannya, dia nyaris tidak memiliki kendali atas hidupnya. Lucian mengawasi setiap gerak-geriknya, seolah dia adalah properti yang tidak boleh disentuh orang lain.

Aurora menggigit bibirnya.

Mungkin sudah waktunya dia menemui Adrian.

Jika pria itu benar-benar bisa membebaskannya, maka dia harus mempertimbangkan tawarannya.

Aurora berbelok ke sebuah gang sempit, tempat yang sudah dikiriminya alamat oleh Adrian tadi pagi.

Saat dia masuk lebih dalam, seorang pria dengan jas hitam berdiri di ujung gang.

"Kau datang."

Aurora menelan ludah. "Aku ingin tahu lebih banyak tentang tawaranmu."

Adrian tersenyum. "Masuklah. Kita bicara di dalam."

Aurora melangkah masuk ke dalam gudang tua, tapi sebelum dia sempat berbicara lebih jauh, suara tembakan bergema di udara.

DOR!

Aurora menjerit.

Seketika, tubuh Adrian tersungkur ke lantai. Darah mengalir dari bahunya.

Aurora menoleh panik dan menemukan Lucian berdiri di ambang pintu dengan pistol di tangannya.

Matanya gelap, penuh dengan kemarahan yang tak terbendung.

"Aku bilang jangan pergi ke mana-mana, Aurora."

Aurora terdiam, tubuhnya gemetar.

Lucian melangkah mendekat, menatap Adrian dengan penuh kebencian sebelum mengalihkan pandangannya ke Aurora.

"Kau benar-benar membuatku marah."

Suaranya begitu dingin, membuat bulu kuduknya meremang.

Aurora menelan ludah. "Aku hanya ingin bebas, Lucian."

Lucian mencengkeram dagunya dengan kuat, membuat Aurora menatap langsung ke matanya.

"Kau ingin bebas?" gumamnya. "Sayangnya, itu tidak akan terjadi."

Aurora merasakan hatinya mencelos.

Lucian menoleh ke anak buahnya. "Bawa Adrian keluar dari sini. Aku akan berbicara dengan istriku."

Anak buahnya segera menyeret tubuh Adrian yang masih setengah sadar.

Kini, hanya ada mereka berdua di ruangan itu.

Lucian menatapnya, ekspresinya tak terbaca. "Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi?"

Aurora menggigit bibirnya. "Lucian, aku-"

Lucian tidak membiarkannya berbicara.

Dia menarik Aurora ke dalam pelukannya, membuat napas gadis itu tercekat.

"Kau milikku, Aurora," bisiknya di telinganya. "Dan aku tidak akan pernah membiarkanmu lari dariku."

Aurora ingin melawan, ingin berteriak. Tapi sesuatu dalam dirinya melemah.

Karena saat Lucian menahannya seperti ini, dia merasa lebih aman daripada sebelumnya.

Dan itu adalah hal yang paling menakutkan dari semuanya.

Bab 3

Aurora duduk di kursi belakang mobil dengan jantung berdegup kencang. Perjalanan kembali ke rumah terasa begitu lambat, setiap detik yang berlalu semakin menyesakkan dadanya. Lucian duduk di sampingnya, diam, tapi keberadaannya begitu menekan.

Tangannya bertumpu pada pahanya, jari-jarinya mengetuk pelan, seolah sedang menahan emosi yang siap meledak kapan saja. Matanya menatap lurus ke depan, tetapi Aurora bisa merasakan amarahnya seperti api yang membakar udara di dalam mobil.

Aurora menelan ludah. Dia tahu Lucian marah-bukan, bukan hanya marah. Dia murka.

"Lucian..." suara Aurora terdengar pelan, hampir seperti bisikan.

Pria itu tetap diam, tidak mengalihkan pandangan.

Aurora menggigit bibirnya, mencoba mengatur napasnya. "Kau menembak Adrian."

Lucian akhirnya menoleh, tatapannya tajam seperti belati. "Dan itu masih terlalu ringan untuk seseorang yang mencoba mencuri istriku."

Aurora terkejut. "Mencuri? Aku bukan barang, Lucian!"

Lucian mencondongkan tubuhnya, membuat jarak mereka semakin dekat. "Kalau begitu, jangan bertingkah seperti seseorang yang bisa diambil oleh orang lain, Aurora."

Aurora ingin membantah, tapi tatapan pria itu begitu menusuk, membuat suaranya terhenti di tenggorokan.

Lucian melanjutkan, suaranya rendah dan berbahaya. "Aku sudah memberimu peringatan. Aku memberimu kesempatan untuk tidak menentangku. Tapi kau justru pergi menemui musuhku di belakangku."

Aurora mengepalkan tangannya. "Aku ingin kebebasan, Lucian. Aku ingin keluar dari pernikahan ini!"

Lucian tertawa kecil, tapi tidak ada kebahagiaan di sana. "Kebebasan? Dan kau pikir Adrian bisa memberikannya padamu?"

Aurora terdiam.

Lucian mendekat lagi, hingga napas hangatnya menyapu wajahnya. "Kau tidak tahu siapa Adrian sebenarnya, Aurora. Dia bukan pria baik yang kau kira."

Aurora menatapnya ragu. "Dan kau menganggap dirimu lebih baik?"

Lucian tersenyum miring. "Tidak. Tapi setidaknya, aku tidak berbohong padamu tentang siapa aku."

Aurora merasa perutnya mengerut. Lucian benar-dia tidak pernah berpura-pura menjadi pria baik. Sejak awal, dia sudah menunjukkan dirinya sebagai seseorang yang berbahaya, seseorang yang tidak akan ragu untuk menghancurkan siapa pun yang mengkhianatinya.

Mobil berhenti di depan rumah mereka.

Lucian keluar lebih dulu, lalu berjalan mengitari mobil dan membuka pintu untuknya. Tangannya terulur, tapi Aurora mengabaikannya dan keluar sendiri.

Dia mendengar Lucian mendengus kecil di belakangnya.

Mereka masuk ke dalam rumah, dan begitu pintu tertutup, Lucian berbalik menatapnya.

"Aku sudah lelah dengan semua ini," katanya dingin.

Aurora menatapnya curiga. "Maksudmu?"

Lucian melangkah mendekat, memerangkapnya di antara tubuhnya dan dinding. "Aku sudah memberimu waktu. Aku sudah bersabar. Tapi kau masih terus mencoba melawan."

Aurora meneguk ludah, tapi dia tidak mundur. "Aku tidak akan menyerah, Lucian. Aku tidak bisa hidup seperti ini."

Lucian menatapnya dalam-dalam, lalu tangannya terangkat, menyentuh dagunya dengan lembut.

"Tidak bisa, atau tidak mau?"

Aurora menggigit bibirnya, menolak menjawab.

Lucian mendekatkan wajahnya, hingga hanya beberapa inci yang memisahkan mereka. "Aku ingin kau memahami satu hal, Aurora. Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi. Tidak sekarang, tidak pernah."

Aurora merasakan jantungnya berdetak kencang. "Dan jika aku tetap mencoba?"

Lucian tersenyum kecil. "Maka aku akan memastikan kau tidak punya tempat untuk lari."

Aurora merasakan bulu kuduknya berdiri. Ada ancaman di balik kata-kata itu, tapi yang lebih mengganggunya adalah fakta bahwa dia tidak takut seperti seharusnya.

Dia seharusnya membenci Lucian.

Dia seharusnya takut padanya.

Tapi yang dia rasakan saat ini adalah sesuatu yang lebih berbahaya-ketertarikan.

Aurora tidak bisa tidur malam itu.

Dia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit, pikirannya penuh dengan kejadian hari ini.

Lucian mengancamnya. Tapi di saat yang sama, dia juga melindunginya.

Dia menembak Adrian, tapi dia juga menunjukkan bahwa dia tidak bisa kehilangan Aurora.

Siapa sebenarnya pria itu?

Aurora memejamkan matanya, mencoba mengabaikan semua pikirannya. Tapi baru beberapa menit kemudian, pintu kamarnya terbuka.

Aurora membuka matanya dan langsung menegang saat melihat Lucian berdiri di ambang pintu.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya waspada.

Lucian tidak menjawab. Dia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya, lalu berjalan mendekati tempat tidur.

Aurora menegakkan tubuhnya. "Lucian-"

Pria itu duduk di tepi tempat tidur, mengamatinya dengan mata gelapnya.

"Kenapa kau terus melawanku, Aurora?"

Aurora mengepalkan tangannya. "Karena aku tidak bisa menerima ini."

Lucian tersenyum tipis. "Tidak bisa menerima pernikahan kita?"

Aurora menatapnya tajam. "Tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku hanya alat bagimu."

Lucian menghela napas. "Kau bukan alat, Aurora."

Aurora tertawa sinis. "Lalu apa? Trofi? Boneka?"

Lucian menatapnya dalam diam selama beberapa detik, lalu akhirnya berkata, "Kau adalah milikku."

Aurora menahan napas.

Lucian melanjutkan, suaranya lebih lembut. "Aku menikahimu bukan hanya karena utang pamanku. Aku sudah menginginkanmu jauh sebelum itu."

Aurora menatapnya, terkejut.

Lucian menyentuh dagunya dengan lembut, mengangkat wajahnya hingga mereka saling menatap. "Aku tahu ini sulit bagimu. Tapi satu hal yang harus kau pahami... aku tidak akan pernah melepaskanmu."

Aurora merasakan napasnya tercekat.

Matanya menatap dalam ke mata Lucian, mencoba mencari kebohongan di sana. Tapi yang dia temukan hanyalah kebenaran yang menakutkan.

Lucian benar-benar menginginkannya.

Dan itu membuat semuanya semakin berbahaya.

Keesokan paginya, Aurora terbangun dengan kepala berat. Dia nyaris tidak tidur semalaman, pikirannya terus dipenuhi dengan kata-kata Lucian.

Saat dia turun ke ruang makan, Lucian sudah duduk di sana, menyesap kopinya dengan tenang.

Aurora ragu sejenak, lalu berjalan mendekat dan duduk di kursi seberangnya.

Lucian menatapnya sekilas. "Tidur nyenyak?"

Aurora mendengus pelan. "Kau tahu jawabannya."

Lucian tersenyum kecil, lalu meletakkan cangkir kopinya. "Hari ini, aku ingin kau menemaniku."

Aurora mengernyit. "Ke mana?"

Lucian tidak langsung menjawab. "Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu."

Aurora menatapnya curiga, tapi dia tahu bahwa menolak bukanlah pilihan.

Mereka berkendara selama hampir satu jam sebelum akhirnya berhenti di sebuah vila besar di tepi pantai.

Aurora turun dari mobil, mengagumi tempat itu dengan bingung.

"Ini tempat apa?"

Lucian berdiri di sampingnya, tangannya berada di saku celana. "Rumah kita."

Aurora menoleh cepat. "Apa?"

Lucian menatapnya dengan tenang. "Aku membelinya untukmu."

Aurora terdiam.

Lucian mendekat, suaranya lebih lembut. "Kau ingin kebebasan, Aurora. Ini caraku memberikannya padamu."

Aurora tidak tahu harus berkata apa.

Lucian menatapnya dalam-dalam. "Aku tidak bisa membiarkanmu pergi. Tapi aku bisa memberimu tempat di mana kau merasa tidak terjebak."

Aurora menatap pria itu, hatinya berdebar.

Mungkin, Lucian bukan hanya pria yang mengikatnya.

Mungkin, dia juga seseorang yang sedang belajar bagaimana mencintai.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED