Dengan sangat terpaksa Yasmin mengejar duda yang sudah menolaknya itu, untung saja ia menggunakan sandal rumah hingga dapat mengejar langkah pria itu dengan cepat tanpa harus ada drama kesandung ataupun keseleo.
Yasmim merentangkan tangannya di depan Galih sebelum berhasil masuk kedalam mobil, nafasnya masih terengah-engah berlari dari dalam rumah, ia mengabaikan tatapan tajam dari Galih yang membuat bulu kuduknya meremang.
"Bagaimana kalau kita berbicara dulu, setelah itu baru boleh pulang." Pinta Yasmin memberanikan diri.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan, jadi menyingkirlah sebelum saya berbuat kasar." Balas Galih.
Gadis itu membuang nafas pelan, ia menyingkir dari hadapan Galih memberikannya jalan, membuka pintu mobil dan masuk. Sekilat itu juga gadis itu beraksi ikut masuk kedalam mobil dari pintu sebelumnya, ia tidak akan membiarkan targetnya lolos begitu saja.
Ternyata Galih tetap tidak memperdulikannya dan meminta supir menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah gadis itu, pria itu tidak meliriknya sama sekali mengabaikan keberadaannya.
"Jika bukan karena keluarga, tidak akan aku menyerahkan diri dan mempermalukan diri sendiri. Masa menaklukan duda saja tidak bisa...Sabar Yasmin, orang sabar pantatnya lebar." Gumamnya dalam hati berusaha menenangkan dirinya.
Yasmin membuka mulutnya ingin menyampaikan sesuatu, tetapi pria itu sudah memotongnya dan membuat mulut gadis itu tertutup rapat dengan perkataan yang cukup membuatnya bungkam.
"Diamlah jangan membuat kepala saya tambah sakit, kalau tidak saya tidak akan segan-segan membuangmu di pinggir jalan." Ancam Galih.
Pria itu menyandarkan punggungnya dan memejamkan mata, jangan lupakan putrinya yang berada di pangkuan pria itu sedang menatap Yasmin dengan wajah ceria dan menggemaskan.
Yasmin tersenyum tipis membalas tatapan balita itu, ia melipat kedua tangannya di dada memperhatikan pria duda yang tampak lelah dengan mata yang terpejam membiarkan bayinya main sendiri.
Mobil terus melaju entah akan kemana membawa Yasmin pergi, jarak dari rumahnya semakin jauh dengan jalanan gelap di malam hari sudah melewati kota dan memasuki daerah sepi yang terlihat seperti hutan sepanjang jalan.
Bulu kuduknya merinding memperhatikan jalanan yang begitu sepi, tidak ada satupun rumah atau bangunan yang saat ini sedang mereka lewati. Begitu gelap dan menyeramkan jika ia benar-benar dibuang dipinggir jalan, tidak akan ada orang yang menolongnya kecuali kematian yang mengenaskan.
Sungguh bergidik membayangkan itu semua, jika tahu akan begini Yasmin tidak akan berani melakukannya. Namun kembali lagi pada nasib keluarganya, jika pulang pulang tidak membawa kabar itu tidak akan mengubah nasib keluarganya.
Yasmin harus berjuang mempertaruhkan nasib keluarganya, ia harus bisa membujuk duda itu agar mau menerimanya dengan cara apapun. Ia sudah tidak memperdulikan apapun, selain keluarganya.
Tangisan balita menyadarkan lamunannya, mata sayu Galih terbuka menengakan dan menimang putrinya, tetapi tangisan balita itu tidak kunjung reda dan semakin keras tangisannya. Susu botol yang diberikan suster tak mau diminum, bahkan suster yang setiap hari menangani balita itu tetap tiba bisa menghentikan tangisannya.0
Suana hening tadi dibuat ramai karena tangisan seorang balita di dalam mobil, Yasmin melirik Galih yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja memejamkan mata tidak bisa menangani putrinya yang entah kenapa.
Yasmin membuka suaranya meminta suster untuk memberikan balita itu padanya, suster yang duduk di depan berbalik dan menyerahkan balita itu padanya. Meskipun ragu dan tidak punya keahlian dalam menjaga anak kecil, tetapi ia berusaha untuk mencobanya.
Yasmin memangkunya, kepala balita itu berada di dadanya dan penyangganya dengan satu lengannya. Sedangkan tangan lainnya ia gunakan untuk menepuk pahanya dengan bayi itu dengan lembut, tatapan balita itu bertemu dengan mata coklat milik Yasmin.
Yasmin tersenyum dan berkata. "Cup cup sayang, sudah ya nangisnya jangan lama-lama nanti tenggorokannya sakit. Sekarang waktunya minum susu dan bobo ya," ucapnya mengajak balita itu berbicara.
Yasmin seperti menghipnotis balita itu, kini tangisannya sudah mereda dan mau minum susunya dengan wajah sembab memegang botol susu. Ia begitu gemas mengusap jejak air mata balita itu dan mengusap ingusnya dengan tisu yang diberikan suster, Yasmin menimangnya tidak berhenti mengajak balita itu berbicara.
Galih kembali membuka matanya melirik gadis di sampingnya yang sedang menimang putrinya, kedua sudut bibirnya terangkat ke atas membentuk senyuman tipis. Putrinya terlihat mulai mengantuk dan tenang membuatnya lega, tidak disangka gadis itu ternyata pandai menenangkan seorang anak.
"Haruskah aku menerimanya? Setidaknya aku bisa memanfaatkan gadis itu untuk menjaga Vira selama aku tidak dirumah, lagipula penampilan dan wajahnya cukup cantik dan ideal." ucapnya dalam hati memberikan penilaian gadis disampingnya.
Mobil sudah memasuki halaman mansion, kemudian mobil berhenti tepat di pangga. Para bodyguard dan maid menyambut mereka dengan hormat setelah mereka turun dari mobil, Yasmin mengikuti langkah Galih yang berjalan lebih dulu diikuti maid dan bodyguard menaiki tangga.
Pintu besar mansion sudah terbuka lebar menunggu tuannya masuk, mereka menutup kembali pintu besar itu setelah mereka masuk.
"Gila, baru tau ada istana segede ini. Wah ternyata dia benar-benar duda kaya raya, bisa sejahtera aku tinggal disini."Gumam Yasmin dalam hati kagum dengan semua interior dan kemewahan istana pria itu.
Yasmin tidak memperhatikan langkahnya yang terus mengikuti Galih karena kekagumannya dengan seisi ruangan, kakinya sudah melangkah jauh hingga langkah mereka terhenti di sebuah kamar.
"Baringkan Vira di sana," ucap pria itu membuka suara.
Yasmin hanya menurut melangkah maju menuju ranjang king size, dengan perlahan naik ke atas ranjang meletakan balita bernama Vira itu dengan hati-hati.
Sayangnya pergerakan Yasmin membuat balita itu kembali menangis, lengannya tidak bisa bergerak dan memaksanya untuk berbaring menyamping menepuk paha balita itu lembut sampai terpejam kembali.
"Ekhem," dehem Galih.
Yasmin terperanjat dari rasa kantuknya yang menyerang, ia berbalik menatap Galih yang hanya mengenakan handuk sebatas dada. Abs pria itu tercetak begitu sempurna dan bulu halus di sekitar dada membuatnya menelan ludah, matanya yang kantuk kini kembali segar melihat tubuh sexy seorang duda.
"Kenapa gue baru nyadar kalau sudah ada di kandang harimau, jangan takut Yasmin. Inget ini demi keluarga," gumamnya dalam hati untuk menyadarkan dirinya. "Emhh kenapa?" Katanya sedikit gugup.
"Baca ini dan tandatangani jika mau jadi istri saya," kata Galih menyerahkan sebuah kertas dan pena pada Yasmin yang masih duduk di pinggir ranjang.
Yasmin menunduk membacanya dengan kesadaran yang masih ada, sedikit demi sedikit matanya melebar membaca tulisan itu lalu menatap Galih tak percaya.
Pria itu tersenyum smirk melihat ekspresi wajah Yasmin, kemudian ia mendekatkan wajahnya membisikan sesuatu tepat di samping telinganya membuat tubuh Yasmin menegang seketika merasakan hembusan pria itu di lehernya.
Aliran darah Yasmin bergejolak saat pria itu membawa telapak tangannya menyentuh abs yang membuat gadis itu menggigit bibir bawahnya merasakan sensasi aneh, matanya terpejam merasakan sesuatu yang menyentuh lehernya dengan hisapan yang secara perlahan merambat ke area lain.
"Ya tuhan kenapa engkau memberikan duda kejam sepertinya."Teriak gadis itu dalam hati.
Seorang gadis cantik masih memejamkan matanya dengan nyaman meringkuk dibawah selimut, padahal waktu sudah menunjukan jam 6 pagi tetapi tidak ada yang membangunkannya dan membuat gadis itu terlena dengan kenyamanan itu.
Ranjang yang begitu besar, membebaskan tubuh Yasmin yang bergerak seperti kincir angin dengan mata terpejam di alam mimpi. Ranjangnya jauh dari elegan jika gadis itu sudah nyaman tidur, wajahnya yang cantik belum tentu tidurnya cantik.
Ceklek.
Seorang pria masuk kedalam kamar membawa balita perempuan dalam gendongannya, pri itu menggelengkan kepala melihat gadis di hadapannya masih masih memejamkan mata dengan kondisi ranjang yang berantakan.
Bahkan posisi kepala gadis itu berada dibawah kaki ranjang dengan selimut yang membelitnya tubuhnya namun masih memperlihatkan keindahan tubuh gadis itu, gadis itu hanya menggunakan tanktop dan celana sepaha membuat pria itu menelan ludah.
Galih adalah pria normal, mana mungkin ia tidak tergoda saat melihat ikan asin tergeletak pasrah di depannya. Namun ia masih bisa menahan dan menyadarkan pikirannya yang liar, ia membuang nafas pelan beralih ke jendela untuk membukanya agara sinar matahari masuk.
Sreek
Sinar matahari pun mengganggu kenyamanan si pemilik kamar, matanya yang tertutup mulai berkedut merasakan cahaya menembus retinanya dan memaksanya untuk membuka mata.
"Mam mamma mama," panggil balita satu tahun itu belajar berbicara.
Mata Galih membulat sempurna mendengar panggilan putrinya barusan, ia mengerjapkan matanya beberapa kali dan berkata. "Vira panggil dia mama? Gak salah dengar kan gue?" Gumamnya dalam hati memperhatikan putrinya menatap Yasmin.
Yasmin mengerjapkan matanya mendengar suara balita, ia duduk di pinggir ranjang menatap pria tinggi sedang menggendong anak. Kesadarannya masih belum terkumpul semua, ia menggelengkan kepalanya merasa jika itu mimpi. Rambut gadis itu berantakan seperti singa, dengan wajah bantal ia menuruni ranjang.
Galih membuang nafas pelan, ia meraih pergelangan tangan gadis itu lalu menuntunnya ke kamar mandi dan menutup pintunya.
"AKHH, DUDA SIALAN KENAPA MELAKAKUKANNYA DISINI." teriak Yasmin dalam kamar mandi.
Teriakan gadis itu membuat Galih segera menutup telinga putrinya, dengan santai ia berjalan ke luar kamar meninggalkan gadis yang sedang syok di dalam kamar mandi.
Sebuah perjanjian yang sudah disepakati dan ditandatangani oleh Yasmin tadi malam membuat mereka menikah dengan cepat, dan hari ini adalah hari pertama mereka menjalani rumah tangga setelah pernikahannya kemarin.
Tidak ada acara yang begitu spesial di hari pernikahan mereka, hanya ijab qobul dengan penghulu yang didampingi beberapa orang dari dari pihak keluarga, Rt dan Rw.
Itu adalah sebagian dari kecepatan dalam pernikahan mereka yang tidak ingin di mempublikasikan sebelum mereka siap, yang terpenting hubungan mereka sudah terjalin dan tentunya sah menjadi suami istri.
Sepertinya gadis itu belum sadar jika statusnya sudah berubah menjadi nonya Galih Pramono, itulah yang membuat Galih bebas melakukan apapun terhadap istri barunya, termasuk membuat gadis itu menjerit dalam kamar mandi karena ia sudah memberikan sebuah tanda merah di area leher dan dada hingga gadis itu menjerit dalam kamar mandi.
Yasmin yang sudah rapi menuruni tangga memperhatikan Galih yang tengah menyuapi putrinya ditemani perempuan lain yang duduk di sampingnya, tentu saja Yasmin tahu siapa perempuan cantik dan seksi itu adalah kekasih suaminya.
"Baru saja semalam habis grepedrepe gue, sekarang dia sudah berani bawa selingkuhannya kerumah ini. Dasar duda serakah," maki Yasmin dalam hati.
Jangan berharap jika sudah menikah dan melakukan malam pertama akan membuat pria itu puas dengan satu wanita, karena bagi pria itu Yasmin hanya sebagai alat yang membuat mereka saling menguntungkan.
"Kenalin gue Gina, kekasih juga sekertaris suami kamu." Ujar perempuan itu mengulurkan tangannya ke hadapan Yasmin.
Yasmin mengabaikan sapaan perempuan itu dengan jutek langsung duduk di seberang Galih dan perempuan bernama Gina, ia melirik suaminya yang seperti biasa cuek dan tidak peduli dengan kehadirannya saat ini.
Jadi untuk apa dia harus merespon perempuan itu, toh tidak ada yang peduli kepada dirinya.
Perempuan itu menarik telapak tangannya berkata. "Wah... ternyata istri kamu kecil-kecil cabe rawit," ujarnya menatap gadis itu sinis.
Seketika Galih melirik ke arah istrinya memakan roti menatap Gina datar, Galih mengangkat tangannya keatas puncak kepala kekasihnya dan berkata. "Tidak usah pedulikan, sekarang kamu habiskan sarapannya 5 menit lagi kita berangkat." Katanya mengecup dan mengusap rambut kekasihnya dengan lembut.
Perlakukan manis Galih membuat Yasmin kesal dan menjejalkan semua rotinya kedalam mulut, kedua pipinya sampai memgembang seperti bakapau yang baru dikukus.
Meskipun belum ada cinta di antara mereka, tetapi setidaknya pria itu harus menghargai gadis muda yang sudah menjadi istri sahnya.
"Iya sayang," jawab Gina dengan sengaja memeluk dan mencium pipi Galih.
Kunyahan mulut Yasmin semakin cepat karena kesal dengan perlakuan mereka yang tidak menghargainya, ia segera minum coklatnya sampai tidak ada setetes pun yang tersisa.
Brak.
Yasmin menaruh gelas di atas meja dengan kasar, Galih dan kekasihnya sampai beralih menatapnya. Ia membalas tatapan kedua orang itu dengan kedua tangannya yang dilipat di dada.
Drrt drrt drrt.
Ponsel Yasmin di atas meja bergetar memiliki satu panggilan, raut wajah seketika berubah melihat siapa orang yang tengah menelponnya. Senyumannya terbit melunturkan wajah muramnya dan segera ia mengangkat panggilan itu.
"Iya sayang 15 menit lagi aku sampai, otw sekarang nih." Ujarnya kemudian menyambar tasnya melengos dari meja makan.
"Tunggu," cegah Galih membuat langkah gadis itu terhenti.
Galih berdiri dari duduknya berjalan menghampiri istrinya, tepat di hadapan gadis itu ia memperhatikan penampilannya dari wajah sampai ujung kaki dan kembali lagi ke atas berhenti di bagian leher istrinya yang mulus.
Yasmin hanya mematung ditempat, sikap pria itu yang dingin selalu membuatnya gemetar bahkan hanya dengan tatapannya saja sudah membuat jantungnya tidak stabil dan meronta-ronta.
Apalagi sentuhan tangannya yang besar dan berurat itu menyentuh kulitnya selalu berhasil membuat tubuhnya merinding dan tegang, sentuhan di lehernya mengingatkannya dengan aktivitas malam pertama mereka yang dilakukan beberapa jam yang lalu.
"Tenang Yasmin...jangan sampai kamu bersikap murahan seperti kekasihnya. Kamu harus bisa menahan diri agar tidak tergoda, apalagi jatuh cinta padanya." Batinnya berusaha mempertahankan benteng pertahanannya yang akan runtuh saat ini juga.
Pria itu mengusap leher Yasmin yang tertutup rambut panjangnya, secara perlahan telapak tangan besar itu menarik tengkuk Yasmin membuat tubuh kecil itu bergerak mendekat.
Galih membungkuk mendekatkan wajahnya ke depan telinga Yasmin dan berkata. "Ingat perjanjian kita, jika kamu melakukan kesalahan sedikitpun kamu sudah tahu konsekuensinya. Jadi bersikap baik dan patulah," bisiknya kemudian menggigit telinga gadis itu gemas.
Yasmin menelan ludahnya merinding, tubuhnya membeku di tempat. Sedangkan Galih tersenyum smirk mengeluarkan salah tatu kartu atm black card dan meletakkannya di telapak tangan gadis itu.
"Kamu bisa membeli apapun yang kamu mau menggunakan kartu ini, anggap saja sebagai nafkah pertama dari ku." Ucapnya kemudian mengecup puncak kepala gadis itu.
"Gina ayo berangkat, baby sister Vira sudah datang." Panggilnya meninggalkan ruang makan di ikuti kekasihnya.