Marco yang sedari tadi berada di ruang rapat menemani sang bos, mendadak mendapat telepon dari petugas yang berjaga di lantai dasar. Setelah meminta izin pada sang bos, Marco dengan langkah cepat menuju tempat yang diberitahukan petugas penjaga padanya.
"Siapa yang berani membuat keributan di gedung ini akan berurusan langsung denganku," gumam Marco sambil terus berjalan.
Sesampainya di tempat yang dikatakan petugas penjaga, langkah Marco yang awalnya cepat perlahan melambat saat melihat para pegawai yang berkerumun seperti menyaksikan sesuatu. Perlahan ia mendekat, Marco menyipitkan matanya, ia merasa familiar dengan wanita berkemeja putih berambut panjang itu. Mungkinkah itu istri dari sang bos? Jika iya, Marco akan mendapat masalah besar. Untuk memastikan, Marco mendekat. Langkahnya perlahan tapi pasti, berharap yang ia lihat itu adalah salah. Dan sepertinya dugaannya itu sangatlah tepat, wanita yang tengah dicengkeram tangannya itu ternyata adalah istri dari Bosnya, Asmaraloka.
"Mampus aku!" Marco merutuki dirinya.
Saat tangan resepsionis wanita itu hendak melayangkan ke arah Ara, Marco dengan cepat mencegahnya.
"STOP!"
Semua pandangan mata beralih pada Marco, begitu juga dengan Ara.
"Lepaskan dia!" perintah Marco pada kedua security itu.
"Tapi Bos, dia yang membuat keributan di kantor kita dengan penampilannya yang seperti ini," jawab resepsionis wanita itu.
Plakk ...
Marco menampar pipi resepsionis wanita itu, membuat semua yang ada di sana kebingungan.
"Kenapa menamparku, Bos?" ujar wanita itu tidak terima.
Plak ...
Satu tamparan lagi mendarat di pipi Sinta, ia tidak tahu alasan mengapa asisten tuannya itu menamparnya. Sakit? Tentu saja. Marco menamparnya dengan sangat keras, bukan cuma sekali tapi dua kali. Pipi wanita itu pun sampai memerah, terlihat jelas bekas tangan Marco di sana. Semua orang yang menyaksikan kejadian itu terkejut.
Marco lalu mendekati Ara. "Nyonya, tidak apa-apa?" tanya Marco pada Ara.
Mendengar Marco memanggil Ara dengan panggilan 'Nyonya', semua yang ada di sana begitu terkejut dan yang jelas kebingungan, tak terkecuali dua security dan resepsionis wanita tadi yang ingin memukul Ara. Sekujur tubuh wanita itu lemas sekaligus takut, sebentar lagi ia pasti akan dipecat dari perusahaan besar ini.
"Marco, kenapa kau memukulnya?" tanya Ara pada Marco yang keheranan.
"Maksud Anda, Nyonya?" tanya Marco bingung, apa dia salah jika memukul seseorang yang berbicara tidak sopan pada istri bosnya?
Ara menghampiri Marko, lalu ia berteriak tepat di telinga Marco. "APA KAU TULI, MARCO ...?"
Marco sontak langsung menutup kedua telinganya. "Maafkan saya, Nyonya."
"Marco, kau seorang pria tidak sepatutnya kau memukul seorang wanita," tutur Ara. "Kau pikir dipukul itu tidak sakit, heh? Kau cukup pecat dia saja, tidak perlu dengan menghukumnya dengan fisik."
Mendengar itu Sinta langsung bersimpuh di kaki Marco sambil menangis."Bos, jangan pecat saya, saya minta maaf!"
"Kau seharusnya minta maaf pada Nyonya Ara, bukan aku," jawab Marco.
Sinta beralih pada Ara sambil tetap bersimpuh. "Nyonya, maafkan saya. Saya tidak tahu kalau Anda istri Tuan. Saya mohon jangan pecat saya!"
"Marco, urus dia!" Ara menjawab dengan berlalu tak menghiraukan resepsionis angkuh itu.
"Urusanmu denganku belum selesai, ke ruanganku setelah ini!" ucap Marco pada resepsionis wanita itu.
Resepsionis wanita itu mengangguk, lalu ia bangkit. Dalam hatinya ia begitu merutuki dirinya yang dengan bodohnya tidak bertanya lebih dulu siapa perempuan itu. Tapi memang ia benar-benar tidak tahu jika CEO-nya itu sudah menikah.
"Nyo—" Ucapan Marco terhenti ketika ingin berbicara pada Ara yang sudah tidak ada di sana. Ternyata Ara memilih pergi terlebih dahulu. Dengan cepat Marco mengejarnya. "Nyonya, tunggu saya!" teriak Marco.
Ara yang dipanggil hanya menoleh sejenak. "Cepatlah Marco, Aku ingin segera bertemu Raizel."
"Nyo—nyonya serius ingin bertemu Tuan?" tanya Marco sambil mengatur napasnya karena mengejar Ara.
"Memangnya aku terlihat bercanda?" jawab Ara ketus.
"Tidak, Nyonya. Tapi Tuan saat ini sedang rapat dengan pemilik perusahaan-perusahaan penting."
"Lalu, aku peduli?" Ara terus berjalan menuju lift.
Marco kebingungan, ia harus mencari alasan apa agar nyonya-nya ini tidak sampai ke ruang rapat. Bisa kacau jika sang nyonya sampai di sana, apalagi dengan penampilannya yang akan membuat malu bos-nya di depan pemilik perusahaan-perusahaan besar di dalam sana. "Lebih baik aku ditugaskan untuk membunuh seratus orang musuh, daripada berurusan dengan Nyonya Ara." gumam Marco dalam hati.
Marco terus berusaha membujuk Ara agar mengurungkan niatnya bertemu Raizel, tapi Ara dengan kekeh tetap ingin bertemu Raizel, apapun alasannya.
"Marco, DIAM!" bentak Ara.
Marco terkejut. "Ba–baik Nyonya."
"Kenapa kau mati-matian tidak memperbolehkan aku bertemu dengan Raizel? Apa jangan-jangan Raizel bersama dengan seorang wanita di dalam sana, he?" ucap Ara seraya menatap asisten suaminya itu dengan tajam.
"Ti—tidak Nyonya, itu tidak mungkin. Tuan begitu setia kepada Anda," jawab Marco gelagapan.
"Kalau begitu, cepat tunjukan ruang rapat Raizel!"
"Ba—baik Nyonya." Pada akhirnya Marco menyerah, ia sudah pasrah. Jika nanti Raizel akan menghukumnya, ia akan terima semua itu. "Kenapa Nyonya Ara berubah jadi seperti ini?" gerutu Marco pelan agar Ara tidak mendengarnya.
Lift berhenti. Ara segera keluar dan langsung menuju ruangan yang diberitahu Marco tadi.
"Nyonya, tolong jangan masuk!" Marco kembali memohon. Tapi Ara tidak menghiraukan sama sekali.
Sampai di depan sebuah ruangan yang dimaksud, tanpa ragu Ara langsung membuka pintu berukuran besar itu. Marco yang memperhatikan hanya bisa menepuk jidatnya. "Maafkan saya, Tuan, peliharaanmu benar-benar susah dijinakkan."
Brak ...
Pintu dengan ukuran tinggi lagi besar itu terbuka dengan lebar, semua yang ada di ruangan rapat itu sontak menoleh dan terlonjak kaget. Tidak terkecuali Cadis, yang saat itu tengah berbicara pada anggota rapat.
"Ara?" ucapnya terkejut.
Ara berjalan dengan langkah yang cepat menghampiri Cadis yang tengah duduk di ujung meja berbentuk persegi itu. Jelas saja orang-orang yang berada di sana kebingungan dengan kedatangan Ara yang tiba-tiba, belum lagi penampilannya yang hanya mengenakan kemeja berwarna putih di atas lutut. Paha mulus Ara terekspos dengan sempurna bersamaan tanda kissmark yang menghiasinya. Cadis sontak berdiri, dengan matanya yang mengerjap beberapa kali tak percaya.
Plak ...
Ara melayangkan tamparannya pada pipi Cadis. "Kamu menyebalkan!" ucap Ara.
Tamparan Ara membuat Cadis tersadar dari keterkejutannya. Buru-buru sekretaris Cadis yang juga ada di ruang rapat itu menghampiri Ara, berusaha menjauhkan Ara dari Cadis.
"Jangan ikut campur urusanku dengan suamiku!" ucap Ara seraya melototkan matanya, yang mana membuat semua orang di sana tercengang.
Belum juga sekretaris itu berucap, tapi sudah didahului oleh Ara.
Marco pun datang, mencoba menjauhkan sekretaris Cadis dari Ara. Bisa mati sekretaris itu jika berurusan dengan Ara yang tengah mengamuk.
"Nyonya, sabar!" ucap Marco ia ingin menyentuh tangan Ara. Namun Cadis tiba-tiba menatapnya dengan tatapan tajam, seperti ingin menelan seluruh tubuh asistennya itu.
"Jangan sentuh dia!" ucap Cadis.
Marco dengan cepat mengurungkan niatnya. "Ma—maaf Tuan!"
Cadis pun akhirnya mendekati Ara. "Kamu kenapa ada di sini, Baby?" tanya Cadis begitu lembut pada Ara yang tengah mengobarkan amarahnya. Tangannya meraih tangan Ara lalu mengecupnya.
"Kamu nyebelin!" Suara Ara melemah, ia langsung berhambur ke pelukan sang suami. Dengan sekejap amarah Ara yang berapi-api tadi langsung redam. Seperti api yang disiram dengan air, sekejap itu juga akan mati.
Cadis memeluk istri mungilnya itu dengan erat, ia tahu betul kondisi sang istri sekarang seperti apa. "Do you miss me, Baby?" tanya Cadis sembari mengelus lembut puncak kepala Ara, yang dibalas anggukan oleh wanita itu.
Semenyebalkan apapun Ara, Cadis tidak pernah sekalipun meninggikan suaranya ketika berbicara kepada sang istri. Jika emosi Ara sedang tidak stabil, Cadis memilih diam dan bersikap selembut mungkin kepada Ara. Seperti sekarang ini. Menurut Cadis, membentak, membalas ucapan, bahkan memukul wanita bukan menyelesaikan masalah, malah sebaliknya akan menambah masalah baru. Wanita itu sebenarnya hanya ingin dimengerti, dimanja dan diperhatikan, begitu juga dengan sang istri. Ia mempunyai segalanya, tapi Ara tidak pernah meminta hal yang mewah atau apapun itu yang berurusan dengan harta. Istrinya itu malah meminta hal-hal yang aneh dan gak masuk akal seperti orang mengidam, tapi sebisa mungkin Cadis akan mewujudkannya. Istrinya itu memang wanita yang sangat unik, karena hal itulah Cadis begitu mencintai Ara dan rela melakukan apapun untuk sang istri tercinta.
Semua mata yang berada di ruangan rapat menyaksikan kemesraan antara Cadis dan Ara, walaupun kemesraan itu terlihat aneh. Bagaimana tidak aneh? Ekspresi Cadis terlihat terkejut sekaligus takut dengan kedatangan sang istri yang mendadak.
Selama ini isu tentang pria yang bernama lengkap Cadis Etrama Diraizel sudah memiliki istri beredar di media, sayangnya semua isu itu tidak terbukti adanya. Cadis lebih sering terlihat sendiri kemanapun dia pergi, sekalipun banyak media yang secara diam-diam membuntutinya, tapi tetap saja media tidak bisa mendapatkan bukti tentang isu pernikahannya. Cadis benar-benar menyimpannya dengan rapat. Bukan tanpa alasan ia menyembunyikan status pernikahannya, karena dirinya dulu sangat membenci Ara. Hingga suatu suatu hari Ara mengalami koma selama tiga tahun, saat itulah ia baru sadar akan cintanya pada sang istri. Selain itu Cadis juga sengaja menyembunyikan sang istri dari musuh-musuhnya di masa lalu yang ingin membalas dendam padanya, karena saat ini sang istri-lah titik kelemahannya.
Dulunya Cadis adalah anggota dari gangster mafia di Jepang, karena adanya kesalahpahaman dengan sang ketua, ia akhirnya dibuang. Beruntungnya setelah keluar dari kelompok mafia, ia diajak oleh sahabatnya menjadi pasukan mata-mata yang bekerja di pemerintahan Rusia. Di pasukan mata-mata, ia diangkat menjadi pemimpin pasukan. Sebab pekerjaan barunya itulah ia bertemu dengan ketua gangster mafia yang dulu ia ikuti dan terjadilah pertarungan sengit keduanya yang menyebabkan ketua gangster itu kalah. Cadis yakin suatu hari nanti akan ada seseorang yang akan membalas dendam atas kematian ketua mafia itu, itulah sebabnya Cadis begitu overprotektif pada Ara.
"Kamu tanya kenapa aku ada di sini? Memangnya aku siapa kamu? Apa kamu tidak menganggap aku sebagai istri kamu." Ara melempar pertanyaan bertubi-tubi pada Cadis dengan menggebu-gebu.
Cadis menggaruk alisnya yang tidak gatal sama sekali, ia tidak habis pikir istrinya berubah dengan sangat drastis semenjak bangun dari komanya. Ara yang awalnya lemah lembut dan kalem, tiba-tiba berubah jadi bar-bar sebab ingatannya belum sepenuhnya kembali. Ada rasa menyesal di hati pria itu, ia tidak bisa menyalahkan semuanya pada sang istri. Semua perubahan sang istri juga karena dirinya yang dulu sering memperlakukan Ara dengan buruk. Trauma dibenak Ara mungkin masih ada, tapi beruntunglah Ara tidak membenci dirinya.
"Apa pertanyaanku salah?"gumam Cadis dalam hati.
"Bukan seperti itu Baby. Aku hanya terkejut saja," ucap Cadis pada akhirnya. Tidak banyak yang bisa dilakukannya, ia hanya bisa mengalah demi sang istri yang sangat ia cintai.
"Di kantor ini juga, kenapa semuanya tidak ada yang tahu kalau aku istri kamu? Kamu sengaja merahasiakan pernikahan kita biar wanita yang ada di sini bisa menggodamu." Ara kembali melontarkan tuduhannya pada sang suami
"Baby, lebih baik kita bicara di ruanganku saja, oke?" rayu Cadis.
Ia kemudian melirik Marco yang berada tidak jauh darinya. Marco yang mengerti apa yang dimaksud sang bos pun segera menghampirinya.
"Marco akan mengantarkanmu ke ruanganku," ujar Cadis seraya mencium punggung tangan Ara.
"Mari Nyonya saya antar!" ucap Marco.
"NO!" tolak Ara.
"Baby, aku harus menyelesaikan rapatku terlebih dulu, setelah itu aku akan menyusul," ujar Cadis menjelaskan. Ia tidak mungkin membiarkan para pemilik perusahaan-perusahaan besar itu semakin lama menyaksikan perdebatannya dengan Ara. Kedatangan Ara yang tiba-tiba saja sudah membuatnya kehilangan muka, ditambah lagi kecerewetan Ara yang tidak hentinya menuduh dirinya yang tidak-tidak.
Ara mengerutkan bibirnya. "Aku kasih waktu lima menit, kalau sampai telat ...?"
"Iya, aku janji tidak akan telat," sahut Cadis dengan cepat.
"Marco, tolong antarkan istriku ke ruanganku!" seru Cadis.
"Baik, Tuan."
Sebelum Ara pergi, Cadis melepas jas hitamnya lalu membalutkan pada pinggang sang istri, agar tubuh bagian bawah sang istri tidak terlalu terekspos dan dilihat banyak orang. Marco pun membawa Ara keluar dari ruang rapat dengan wajah Ara yang terlihat masih kesal. Di dalam hati Marco, ia ingin sekali menertawakan sang bos, tapi ia tidak berani. Bosnya itu akan terlihat lucu jika berurusan dengan istrinya, seperti binatang buas yang bertemu dengan pawangnya. Cadis yang selama ini terkesan dingin dan berwibawa akan berubah seratus delapan puluh derajat jika bersama dengan sang istri, ia akan terlihat lebih manja dan penurut seperti anak kecil.
"Memang Nyonya Ara seorang penjinak yang hebat," gumam Marco seraya menahan tawanya.
Setelah Ara benar-benar telah menghilang dari balik pintu, Cadis kembali duduk di kursinya. Ia sedikit bingung menjelaskan pada mereka yang ada di hadapannya. Pria itu pun menarik nafasnya kasar.
"Maaf atas keributannya.Hanya itu yang Cadis ucapkan.
"Tidak masalah Tuan Cadis," jawab salah satu diantara mereka.
"Mungkin untuk rapat kali ini akan saya akhiri terlebih dahulu, saya janji minggu depan akan saya adakan rapat lagi. Mohon maaf atas ketidaknyaman Anda semua," ucap Cadis dengan sopan.
Setelah mengucapkan itu, ia pun berdiri dengan diikuti yang lain. Mereka semua satu persatu menjabat tangan Cadis sebagai rasa hormat. Mereka semua juga beriringan keluar dari ruang rapat.
Salah satu diantara mereka membicarakan kejadian yang mereka lihat tadi.
"Sudah aku duga jika selama ini Cadis memiliki seorang istri," ucap pria paruh baya yang mengenakan jas biru tua itu.
"Wanita itu tidak mungkin istrinya, pasti wanita itu hanya wanita simpanan Cadis," sahut pria yang lain.
Aku setuju denganmu, besok media pasti akan ramai dengan berita tentang Cadis lagi," jawab pria yang satunya lagi.
"Hei …, jaga bicara kalian, kalo Cadis mendengarnya, hubungan bisnis kalian akan hancur dalam hitungan menit," sahut pria pertama.
Ketiga pria itu pun akhirnya diam tak bersuara lagi. Benar yang dikatakan pria berjas biru tua itu, Cadis pasti tidak akan mentorerir ucapan mereka.
Setelah semuanya pergi dari ruang rapat, Cadis juga pergi menuju ruangan miliknya yang berada di lantai paling atas.
Sampai di ruangan miliknya, ia melihat sang istri yang tengah berdiri menghadap dinding kaca.
Cadis berjalan mendekat dan langsung memeluk sang istri dari belakang. "Tepat waktu 'kan?" bisik Cadis.
Ara melepaskan tangan Cadis dari perutnya, lalu berbalik dan menatap tajam sang suami. "Jadi selama ini kamu merahasiakan pernikahan kita dari semua orang?" tanya Ara dengan mata berkaca-kaca.
"Aku punya alasan untuk melakukan semua itu,jawab Cadis seraya menangkup wajah Ara.
"Alasan apa? Apa karena aku yang penyakitan?" tanya Ara dengan pikiran negatifnya.
"Apa kamu tidak bisa berpikir positif padaku sedikit saja?" ucap Cadis dengan membalas tatapan Ara. Ia sangat mengerti jika sang istri masih takut akan kembali tersakiti olehnya.
"Bagaimana bisa aku berpikir positif, kalau akhirnya kamu selalu menyakitiku?" jawab Ara dengan suara bergetar menahan tangis.
Jika mengingat masa lampau, Cadis bukanlah suami yang seperti sekarang ini, ia dulu begitu kejam. Ara sering mendapat siksaan tanpa ampun jika berbuat kesalahan sedikit saja. Tak ayal Ara sering dipukul, bahkan dengan teganya Cadis pernah mengurung Ara di dalam ruang bawah tanah seorang diri yang gelap. Namun Ara tidak pernah sedikitpun membencinya, dengan sabar ia menerima semua perlakuan buruk Cadis. Alasannya hanya satu, Cinta. Ara teramat mencintai Cadis. Meski pria itu sering menyakitinya. Terkadang memang orang yang selalu menyakitimu adalah orang paling kau cintai, tidak peduli seberapa sering dia menyakitimu. Itulah cinta, membuat semua orang menjadi budaknya.
Cadis merasa tertampar dengan yang dikatakan sang istri. Memang benar adanya, dia selalu menyakiti sang istri. Namun sekarang ia sadar, ia menyesal pada masalalunya. Betapa bodohnya dia menyiakan cinta tulus dari sang istri yang dulu amat ia benci.
Cadis memeluk Ara dengan sangat erat. "Maafkan aku, Ra."
Ara tak mampu menahan lagi air matanya, ia menangis dipelukan Cadis. "Aku takut kamu akan menyakitiku lagi seperti dulu."
"Ssstt, tidak perlu menangis, bukankah aku sudah berjanji tidak akan menyakitimu lagi," kata Cadis sembari mengelus pelan rambut Ara.
Ara kemudian mengangkat wajahnya menghadap Cadis. "Kamu janji?"
"Iya, aku janji," jawab Cadis seraya mengusap air mata di pipi Ara. "Kamu sangat cantik hari ini." Kemudian Cadis melabuhkan bibirnya pada sang istri, lalu mengangkatnya ke sofa. Tahu 'kan apa yang selanjutnya akan mereka lakukan?
Setiap melihat Ara, hasrat dalam diri Cadis selalu muncul. Tubuh mungil namun berisi milik Ara selalu membuatnya mabuk kepayang, hingga tak tahu tempat dan waktu saat melakukannya. Seperti sekarang ini, mereka melakukannya di ruang kerja milik Cadis. Tidak menghiraukan keadaan diluaran sana.
Sekitar satu jam mereka melakukannya. Ruangan kerja Cadis sangat berantakan karena ulah mereka, entah gaya apa saja yang mereka praktekan?
"By, aku lapar," ucap Ara sambil memeluk sang suami.
Cadis tersenyum dengan matanya yang terpejam. "Kamu mau makan apa? Biar aku suruh Marco memesankannya," tanya Cadis.
"Ke restoran favorit mommy yuk!" ajak Ara dengan antusias.
"Boleh, tapi kamu mandi dulu dan berpakaian yang sopan. Aku akan menyuruh Marco membelikan pakaian," ucap Cadis sambil mencium kening sang istri.
"Heem, mandi bareng yuk!" ajak Ara sambil menyunggingkan senyum menggodanya.
Tanpa banyak bicara, Cadis langsung menggendong sang istri menuju kamar mandi. Ia tahu maksud sang istri mengajaknya mandi bersama, apalagi kalau bukan melakukannya di dalam kamar mandi.