Ray Aditya berdiri di depan jendela kantor megahnya, memandang pemandangan kota Jakarta dari ketinggian. Gedung pencakar langit dan lampu-lampu yang berpendar di kejauhan menjadi saksi kesuksesannya selama ini. Bagi dunia luar, Ray Aditya adalah CEO yang berhasil membangun kerajaan bisnis dari nol, seorang pria muda yang ambisius, cerdas, dan tak kenal lelah. Namun, hanya sedikit yang tahu bahwa kesuksesan itu kini di ujung tanduk.
Ruangan kantornya yang mewah terasa sunyi, hanya terdengar dengungan pelan dari pendingin ruangan. Di atas meja besar, ponselnya bergetar tanpa henti, tanda pesan-pesan dan panggilan yang terus berdatangan. Media, pemegang saham, dan bahkan rekan-rekannya semua ingin jawaban. Tapi Ray belum siap memberikan apa pun, belum siap menghadapi badai yang akan datang.
Satu skandal. Hanya satu skandal yang bisa menghancurkan reputasi dan perusahaan yang telah ia bangun dengan susah payah.
Ray meremas jari-jarinya, mencoba meredakan ketegangan yang mulai menyelimuti tubuhnya. Skandal itu bermula dari isu kecil yang diabaikan, namun dalam hitungan minggu, rumor-rumor tentang korupsi di proyek besar yang dikerjakan perusahaannya mulai menyebar. Media menggali lebih dalam, memancing pihak-pihak yang ingin menjatuhkannya. Tuduhan itu menyatakan bahwa Aditya Group terlibat dalam pemberian suap untuk memenangkan tender besar pemerintah. Ray tahu tuduhan itu sebagian besar tidak benar, tetapi dalam dunia bisnis, persepsi seringkali lebih penting daripada kenyataan.
Bagi Ray, bisnis bukan hanya soal angka dan keuntungan. Ini adalah perang, setiap langkah salah bisa menghancurkan segalanya. Ia tidak bisa membiarkan satu skandal merusak reputasinya atau perusahaannya. Namun, tekanan dari media dan para pemegang saham semakin membuatnya frustasi.
"Pak Ray, Rapat pemegang saham dimulai dalam 15 menit," suara sekretarisnya, Dina, terdengar dari interkom, membuyarkan pikirannya. Suaranya terdengar tenang, meski Ray tahu bahwa semua orang di perusahaannya sedang berjalan di atas tali tipis. Kegagalan menjaga reputasi perusahaan bisa berarti kehancuran bagi semua orang yang bergantung padanya.
Ray menghela napas panjang. "Aku akan segera ke sana," jawabnya datar.
Rapat pemegang saham hari ini adalah ujian terbesar yang pernah ia hadapi. Sejumlah pemegang saham utama telah menunjukkan kekhawatiran mereka. Jika mereka menarik dukungan, Aditya Group bisa kehilangan proyek-proyek penting dan bahkan menghadapi kebangkrutan. Di dunia korporat, kepercayaan adalah mata uang yang paling berharga, dan saat ini, kepercayaan itu sedang terkikis.
***
Di ruang rapat, suasana tegang sudah terasa sejak Ray melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut. Para pemegang saham utama, wajah-wajah yang sudah sangat ia kenal, duduk di sekeliling meja panjang. Beberapa di antara mereka menatapnya dengan pandangan penuh harap, sementara yang lain menunjukkan ekspresi kecurigaan dan ketidakpercayaan.
"Ray, kita harus segera menangani krisis ini," kata salah satu pemegang saham, Pak Arif, membuka rapat dengan nada suara tegas. "Media sedang menyerang kita tanpa henti. Jika kita tidak memberikan pernyataan resmi, perusahaan ini akan jatuh sebelum kita sempat menyelamatkannya."
Ray menatap Pak Arif dengan tenang, meskipun hatinya berkecamuk. Ia sudah mendengar kekhawatiran ini berulang kali, tetapi belum menemukan cara terbaik untuk meredakan situasi tanpa memperburuk keadaan. Memberikan pernyataan resmi berarti mengakui adanya masalah, dan itu hanya akan memperkuat dugaan publik.
"Saya paham kekhawatiran Anda, Pak Arif, dan saya setuju bahwa ini adalah masalah serius," ujar Ray, suaranya tenang dan terkontrol. "Tapi, langkah yang gegabah justru bisa memperburuk situasi. Kita sedang melakukan investigasi internal, dan saya yakin bahwa tidak ada bukti yang mengarah pada keterlibatan Aditya Group dalam aktivitas ilegal. Kita hanya perlu sedikit waktu untuk membersihkan nama baik kita."
Pak Arif menggelengkan kepala. "Waktu? Ray, waktu adalah kemewahan yang tidak kita miliki. Saham perusahaan sudah anjlok 15% dalam satu minggu terakhir. Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi."
Ray menatap seluruh anggota dewan di sekeliling meja, melihat kekhawatiran yang jelas terpampang di wajah mereka. Mereka tidak hanya khawatir tentang reputasi, tetapi juga uang mereka-investasi yang mereka taruh di perusahaan ini. Jika Ray gagal menyelamatkan Aditya Group, mereka akan kehilangan banyak.
"Ray," suara lembut tapi tajam dari ujung meja terdengar. Itu adalah Bu Mirna, salah satu investor tertua dan paling berpengaruh di perusahaan. "Kita sudah percaya padamu selama ini, dan kamu telah membuktikan dirimu sebagai pemimpin yang hebat. Tapi kali ini berbeda. Krisis ini lebih besar dari yang pernah kita hadapi. Dan jika kamu tidak bisa menyelesaikannya, mungkin saatnya untuk mempertimbangkan opsi lain."
Kata-kata Bu Mirna terasa seperti pukulan telak. Ia tidak secara langsung mengatakan bahwa Ray harus mundur, tetapi implikasinya sangat jelas. Para pemegang saham mulai kehilangan kepercayaan pada kepemimpinannya. Ray merasa dinding-dinding di sekelilingnya mulai mendekat, perlahan menghimpitnya.
"Saya mengerti kekhawatiran Anda, Bu Mirna, Pak Arif, dan yang lainnya," kata Ray dengan suara yang lebih tenang dari yang sebenarnya ia rasakan. "Namun, saya yakin kita tidak perlu mengambil langkah drastis. Saya sudah menghubungi tim hukum terbaik untuk menangani masalah ini, dan saya berencana untuk mengadakan konferensi pers dalam waktu dekat untuk menjernihkan situasi."
"Apa yang akan kamu katakan dalam konferensi pers itu?" tanya Pak Arif dengan nada skeptis. "Bagaimana kamu akan menjelaskan semua tuduhan ini kepada publik?"
Ray menatapnya sejenak sebelum menjawab, "Kita akan menyangkal semua tuduhan. Aditya Group tidak terlibat dalam suap atau aktivitas ilegal apa pun. Kami bersih, dan kami akan membuktikannya."
Namun, bahkan saat kata-kata itu keluar dari mulutnya, Ray merasakan keraguan. Meskipun ia yakin bahwa dirinya tidak terlibat langsung dalam suap, ia tahu bahwa beberapa orang di lingkaran bawah perusahaannya mungkin tidak sepenuhnya bersih. Dan jika ada satu saja bukti yang ditemukan, maka segalanya bisa berantakan.
"Lalu bagaimana dengan gosip yang mengatakan jika Anda adalah seorang gay?" Kata salah satu investor lain yang hadir dalam rapat tersebut.
Deg!
***
Setelah rapat berakhir, Ray kembali ke kantornya dengan kepala berat. Tekanan terus menumpuk, dan meskipun ia selalu terbiasa menghadapi masalah besar, kali ini ia merasakan sesuatu yang berbeda. Krisis ini lebih besar dan lebih rumit daripada yang pernah ia hadapi sebelumnya. Dan yang paling menyulitkan adalah, ia tidak bisa sepenuhnya mengendalikan situasinya.
Di ruangannya, ia membuka laptop dan mulai memeriksa email dari tim hukum dan tim humas. Mereka semua memberikan laporan tentang langkah-langkah yang telah diambil, tetapi tidak ada satu pun yang memberikan solusi cepat. Ray tahu, setiap detik yang berlalu adalah ancaman. Semakin lama ia menunda, semakin besar skandal ini akan meledak di media.
Saat sedang memeriksa laporan, ponselnya berbunyi. Nama yang muncul di layar membuat Ray langsung menegang. Itu adalah salah satu pesaing bisnisnya, Nathan Wijaya, yang dikenal licik dan sering kali menggunakan segala cara untuk menjatuhkan lawannya.
Dengan enggan, Ray mengangkat teleponnya. "Apa maumu, Nathan?" tanyanya tanpa basa-basi.
Suara Nathan terdengar dingin dan licik seperti biasa. "Ray, aku dengar kau sedang dalam masalah. Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa di dunia ini, tidak ada yang gratis. Jika kau butuh bantuan, aku mungkin bisa menawarkan sesuatu. Tentu saja, dengan harga yang tepat."
Ray menggertakkan giginya. "Aku tidak butuh bantuanmu."
Dani tertawa kecil di ujung telepon. "Kita lihat saja nanti, Ray. Dunia ini keras, dan kadang-kadang kita harus membuat kesepakatan dengan musuh untuk bertahan hidup. Ingat, aku selalu ada jika kau berubah pikiran."
Ray memutuskan sambungan telepon tanpa menjawab. Ia tahu, Nathan adalah tipe orang yang akan memanfaatkan setiap kelemahan untuk keuntungannya sendiri. Namun, tawaran itu semakin membuatnya sadar bahwa waktu semakin menipis. Jika tidak segera menemukan solusi, mungkin ia benar-benar akan dipaksa membuat kesepakatan yang ia benci.
Ray menatap langit Jakarta yang mulai gelap dari balik jendela kantornya. Masalahnya semakin besar, dan ia hanya punya sedikit waktu untuk bertindak. Jika tidak segera, perusahaan yang telah ia bangun dari nol bisa runtuh dalam sekejap, dan bersama dengan itu, reputasinya yang selama ini ia pertahankan dengan susah payah.
Di balik topengnya sebagai CEO sukses, Ray tahu, dirinya juga hanya manusia biasa yang menghadapi tekanan dan ketakutan. Dan saat ini, tekanan itu semakin mendekat, siap menghancurkannya kapan saja.
***
Hana duduk di sebuah kafe yang tenang, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia melirik jam tangannya, memperhatikan waktu yang seakan berjalan lambat. Tempat ini terasa begitu asing baginya, kafe mewah di jantung kota Jakarta, dengan meja-meja yang dipenuhi orang-orang berpenampilan rapi dan elegan. Hana merasa canggung, sadar bahwa ia tidak termasuk dalam dunia ini. Pakaiannya yang sederhana, meski rapi, terasa seperti kontras mencolok dengan para pengunjung di sekelilingnya.
Ia berada di sini bukan karena keinginannya sendiri, melainkan atas permintaan Pak Herman, seorang pengacara Ray Aditya yang mengatur pertemuan ini. Pak Herman adalah seseorang yang dipercaya oleh Ray Aditya untuk mengatur pertemuannya dengan Hana.
Hana sendiri tidak tahu banyak detail tentang pertemuan ini, hanya diberitahu bahwa ini adalah kesempatan untuk membicarakan kontrak kerjasama dan Hana berharap ini akan bisa menjadi solusi atas masalah keuangan keluarganya. Namun, yang membuatnya gelisah adalah ketidaktahuan apa pekerjaannya nanti. Walaupun Hana di iming imingi bayaran yang besar.
Sambil menunggu, Hana tidak bisa mengalihkan pikirannya dari kondisi keluarganya yang semakin terpuruk. Ayahnya terbaring sakit di rumah, dan ibunya kehabisan akal mencari uang untuk membayar biaya pengobatan yang tak kunjung berhenti. Hutang keluarga yang terus menumpuk menjadi beban berat bagi Hana, membuatnya merasa terjebak tanpa jalan keluar.
Pintu kafe terbuka, dan seorang pria masuk. Hana memperhatikannya sejenak, dan mendapati dirinya tertegun. Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang terlihat mahal, dengan sikap yang memancarkan wibawa dan kepercayaan diri. Wajahnya tegas, dengan sorot mata tajam yang membuat siapa pun merasa ia bukan orang sembarangan. Ia melangkah dengan mantap menuju ke meja Hana.
"Hana, ya?" tanyanya, suaranya rendah dan dalam, namun sopan.
Hana mengangguk pelan. "Iya, saya Hana," jawabnya dengan suara yang hampir berbisik.
Pria itu duduk di depan Hana, menatapnya sejenak sebelum memperkenalkan diri. "Saya Herman, pengacara Pak Ray Aditya."
Nama itu membuat Hana sedikit terkejut. Nama Ray Aditya tidak asing baginya. Sebagai CEO Aditya Group, perusahaan besar yang sering muncul di media, ia dikenal sebagai salah satu pengusaha paling sukses di Indonesia. Tapi, apa yang seorang pria seperti Ray Aditya inginkan darinya? Pertemuan singkat kemarin Hana tak terlalu banyak memperhatikan sosok pria yang bernama Ray Aditya itu.
"Saya sudah mendengar dari Pak Ray Aditya, beliau memberi tahu sedikit tentang Anda," kata Ray, membuka percakapan dengan nada yang lebih serius. "Saya di sini untuk menyiapkan kontrak kerjasama yang harus kalian tanda tangani."
Hana menelan ludah, merasa gugup. "Ah, i-iya."
Pak Herman mengangguk. "Ya. Saya tahu Anda sedang menghadapi masalah keuangan yang cukup serius. Hutang keluarga Anda, biaya pengobatan ayah Anda... semuanya bisa selesai, jika Anda bersedia menandatangani kontrak ini."
Hana merasa bingung. Bagaimana bisa mereka tahu detail tentang masalah yang sedang Hana hadapi?
"Maksud Bapak... bekerja sama seperti apa?" Tanya Hana.
Pak Herman tersenyum samar. "Untuk itu hanya pak Ray Aditya yang punya wewenang untuk menjelaskan kepada Anda."
Hana diam dan sedikit bingung sekarang. Dia sangat tergiur dengan gaji banyak yang di tawarkan oleh pekerjaan ini. Tapi pekerjaan seperti apa, Hana sendiri belum tahu pasti.
"Nah, itu pak Ray Aditya sudah datang." Katanya.
Pak Herman dan Hana kini berdiri menyambut kedatangan Ray Aditya dan asisten pribadinya, Kevin.
"Selamat datang pak Ray. Silakan duduk," kata Pak Herman menyambut kedatangan Ray Aditya.
"Terimakasih," jawab Ray singkat lalu duduk bersama dengan mereka.
Ray kini duduk di kursi yang ada tepat di depan Hana, ada meja sebagai pembatas di antara mereka.
"Surat kontraknya sudah saya siapkan, pak Ray. Silakan anda lihat sebelum menandatangani kontrak ini," kata Pak Herman seraya memberikan amplop berisi kontrak tersebut kepada Ray Aditya.
Ray menerimanya dan membaca poin-poin penting di dalamnya. "Ya, saya setuju. Silakan nona Hana, kau juga harus membaca isi kontrak perjanjian ini sebelum anda menandatanganinya."
Hana memberanikan diri menatap Ray. "Kalau boleh tahu, pekerjaan apa yang anda tawarkan kepada saya, pak Ray?"
Ray menatap Hana dalam-dalam, seolah menilai apakah ia siap mendengar tawaran yang akan disampaikan. Setelah hening beberapa detik, Ray akhirnya berkata, "Saya membutuhkan seorang istri."
Kata-kata itu jatuh seperti bom di telinga Hana. Ia terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja didengarnya. Wajahnya memucat, pikirannya kalut. Ray memperhatikan ekspresi Hana yang penuh kebingungan, lalu melanjutkan.
"Saya tidak berbicara tentang pernikahan sungguhan, tapi pernikahan kontrak. Pernikahan ini hanya akan berlangsung selama satu tahun. Setelah itu, kita akan berpisah, dan Anda bebas menjalani hidup Anda kembali."
Hana menatap Ray dengan mata membelalak, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Kenapa saya?" tanya Hana, suaranya sedikit bergetar.
Ray tersenyum tipis. "Karena Anda adalah pilihan yang aman. Anda bukan bagian dari dunia saya, dan itu membuat Anda tidak terlibat dalam skandal atau intrik yang mungkin membahayakan reputasi saya. Saya membutuhkan seorang istri untuk sementara waktu, demi menyelamatkan reputasi perusahaan saya. Saat ini, ada skandal yang mengancam posisi saya sebagai CEO, dan pernikahan ini bisa meredakan tekanan dari media serta para pemegang saham."
Hana berusaha memproses kata-kata Ray, tetapi rasanya terlalu banyak untuk diterima dalam satu waktu. "Jadi, Anda menginginkan saya untuk pura-pura menjadi istri Anda?" tanyanya lagi dengan ragu.
Ray mengangguk. "Benar. Dan sebagai imbalannya, saya akan melunasi seluruh hutang keluarga Anda, membayar biaya pengobatan ayah Anda, dan memastikan keluarga Anda tidak akan kesulitan lagi."
Hana merasa dadanya sesak. Tawaran ini terdengar begitu menggiurkan, tetapi juga terlalu aneh untuk dipercaya. Bagaimana mungkin seorang pria kaya dan berkuasa seperti Ray Aditya meminta bantuan dari gadis sederhana seperti dirinya?
"Saya tahu ini terdengar tidak masuk akal," kata Ray, seolah membaca pikiran Hana. "Tapi percayalah, ini adalah solusi terbaik untuk kita berdua. Anda akan mendapatkan kebebasan finansial yang Anda butuhkan, dan saya akan mendapatkan stabilitas yang diperlukan untuk menjaga reputasi perusahaan saya."
Hana menunduk, berpikir keras. Jika ia menerima tawaran ini, hidupnya dan keluarganya akan berubah selamanya. Tapi, di sisi lain, ia merasa seperti sedang menjual dirinya untuk sesuatu yang tidak pasti. Bagaimana jika semuanya tidak berjalan sesuai rencana? Bagaimana jika ia terjebak dalam situasi yang lebih buruk?
Ray menarik napas panjang sebelum menambahkan, "Saya tidak akan memaksa Anda. Keputusan ada di tangan Anda. Tapi ingat, waktu Anda tidak banyak. Semakin lama Anda menunda, semakin besar masalah yang akan menimpa keluarga Anda."
Hana menatap Ray. Mata pria itu penuh keyakinan dan kendali, seolah ia sudah merencanakan setiap detail dari pernikahan ini. Namun, di balik ketegasan itu, Hana bisa merasakan tekanan yang juga dirasakan Ray. Ia bukan hanya seorang pria yang menginginkan kesepakatan, tetapi juga seseorang yang berada di bawah tekanan besar.
Ray mengambil bolpoin dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja. "Ini untuk menandatangani kontrak itu," katanya pelan. "Baca, pikirkan dengan baik, dan jika Anda setuju, tandatangani. Anda punya waktu sampai besok malam untuk memutuskan."
Hana meraih amplop itu dengan tangan gemetar. Segala sesuatu yang terjadi dalam pertemuan ini begitu cepat, begitu mengejutkan. Ia tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya bisa berubah drastis hanya dalam hitungan hari. Tawaran ini adalah pintu keluar dari kesulitan yang ia hadapi, tetapi apakah ia siap untuk menjalani kehidupan seperti ini, bahkan untuk setahun?
"Saya akan berpikir," kata Hana akhirnya, suaranya hampir tak terdengar.
Ray mengangguk. "Baik. Saya akan menunggu kabar dari Anda." Setelah itu, ia bangkit berdiri, memberikan senyum tipis, dan meninggalkan kafe tanpa banyak bicara lagi.
Hana hanya bisa menatap amplop yang ada di tangannya, jantungnya masih berdetak kencang. Tawaran ini bisa menyelamatkan keluarganya, tapi apa yang akan ia korbankan untuk itu?
Ia tahu satu hal pasti, keputusan ini akan mengubah seluruh hidupnya.
***