Bab 2

Bugh...

"Kau berani menolak ku?! Kalau begitu pergi dari sini sekarang juga!" teriak Bram sambil melayangkan pukulan ke arah rahang Prayoga.

Prayoga yang tidak siap menerima pukulan tersebut terjatuh dan tersungkur di lantai. Saat itu juga, dadanya merasakan sakit yang sangat luar biasa.

Butir-butir cairan bening keluar, mengalir membasahi pipi Leora. Ia sangat khawatir melihat ayahnya terjatuh sambil memegangi dada kirinya, dengan isak tangis yang keluar dari mulutnya.

"Ayah! Ayah kenapa?" tanya Leora panik sambil memeluk ayahnya dari samping.

Sementara Bram, justru tersenyum melihat Prayoga kesakitan.

"Ini akibatnya kalau kamu melawan aku. Aku beri kamu waktu sampai sore ini, untuk pergi dari rumah ini!" bentak Bram sambil tertawa dan melipat kedua tangannya di depan dada.

"Dan satu hal lagi, gadis bodoh, aku akan memberikan perhitungannya nanti! Dan ku pastikan kau akan menjadi milikku!" lanjutnya sambil memelototi Leora, lalu berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Leora yang menangis tersedu-sedu melihat kondisi ayahnya.

Leora tidak menanggapi perkataan Bram, yang ia pikirkan saat itu hanyalah ayahnya. "Ayah, bangun," teriak Leora dengan cemas saat ayahnya mulai tak sadarkan diri.

Setelah Bram dan kedua anak buahnya pergi dari rumahnya, Leora segera meminta Ujang selaku tukang kebun di rumahnya. Untuk membantunya membawa Prayoga ke rumah sakit.

"Pak Ujang! Pak cepat kemari!" teriak Leora panik.

"Ya Tuhan, ada apa Pak Yoga?" tanya Ujang yang panik melihat majikannya tergeletak tak berdaya di lantai.

"Nanti saja kamu nanya-nanya. Sekarang bantu saya bawa papa ke rumah sakit."

Ujang mengangguk dan membantu Prayoga duduk di sofa, sementara Leora memesan taksi untuk membawa Prayoga ke rumah sakit.

Karena semua mobil juga sudah tidak ada yang punya, itu semua karena Sintia-ibu tiri Leora, yang telah menjadikan semua aset Prayoga sebagai miliknya. Dan meninggalkan Prayoga setelah semua aset berhasil dikuasai, hanya menyisakan satu perusahaan dan sebuah rumah. Namun semua itu akan segera sirna, kini Leora dan ayahnya tidak akan memiliki harta yang tersisa.

Beberapa menit kemudian, taksi yang dipesan Leora tiba. Leora dan Ujang segera membawa Prayoga ke rumah sakit terdekat.

Tak butuh waktu lama, mereka tiba di rumah sakit yang tak jauh dari rumahnya. Petugas dan perawat segera membawa Prayoga ke UGD, untuk diperiksa.

Saat Prayoga masuk UGD, Leora hanya bisa menunggunya dari luar. Berharap ayahnya baik-baik saja, ia hanya memiliki Prayoga. Leora sangat menyayangi ayahnya, ia tidak ingin ayahnya meninggalkannya seperti ibu kandungnya yang telah meninggal.

Leora duduk di kursi panjang di depan kamar, matanya terus meneteskan air mata. Bahunya berguncang menahan isak tangis, kini hidupnya telah hancur. Tuhan telah mengambil kebahagiaan darinya, ia telah kehilangan segalanya.

"Mengapa hidup saya seperti ini, Tuhan. Bukankah aku punya hak untuk bahagia? Mengapa masalah selalu datang, Tuhan?" Leora menutup wajahnya dengan kedua tangannya, isak tangis yang menyayat hati mendominasi keheningan di sana.

Setelah beberapa waktu, pintu ruang gawat darurat terbuka. Memunculkan seorang dokter dengan jas putihnya, Leora tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya. Segera menghampiri sang dokter, hanya untuk menanyakan kondisi ayahnya.

"Bagaimana keadaan ayah saya dok?" tanya Leora dengan raut wajah khawatir.

"Maaf, Bapak Prayoga mengalami penyumbatan pembuluh darah koroner. Oleh karena itu harus dioperasi secepatnya, kalau tidak..." Dokter berjas putih itu menghentikan kata-katanya.

Leora mengerutkan kening tak mengerti lalu berkata, "Kalau tidak, bagaimana dok?" Leora menyela, dengan air mata berlinang.

Dokter menghela napas sejenak, lalu berbicara lagi.

"Kalau tidak, dia bisa kehilangan nyawanya kapan saja," jawab dokter sambil menatap Leora dengan tatapan iba.

"Apa dok?"

Sontak kaki Leora lemas mendengar pernyataan dokter, air matanya mengalir begitu saja tanpa permisi. Ia sangat bingung apa yang harus dilakukannya, keluarganya baru saja mengalami kebangkrutan. Sekarang dia tidak punya apa-apa, lalu dari mana uang untuk membiayai operasi ayahnya?

Namun Leora juga tidak bisa membiarkan Prayoga tidak berdaya seperti itu, ayahnya adalah satu-satunya yang ia miliki di dunia ini. Jika ayahnya pergi, ia tidak tahu bagaimana ia akan melanjutkan hidupnya.

"Baiklah dok, saya akan segera mengurusnya," lanjut Leora dengan suara parau, menyeka air matanya perlahan dan tersenyum paksa pada dokter di depannya.

Sang dokter mengangguk sebagai jawaban. "Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu," kata dokter itu, berbalik dan meninggalkan Leora.

Meninggalkan Leora yang menangis tersedu-sedu di depan ruang gawat darurat, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan, melihat kondisi ayahnya. Lagi-lagi air mata membasahi pipinya, hatinya perih melihat ayahnya terbaring lemas tak berdaya di atas bangku. Dengan oksigen menempel di hidung dan mulutnya, selang infus terpasang di tangannya. Wajahnya pucat dan lemah, membuat Leora merasa sedih. Ayah yang selalu melindungi dan mencintainya kini sedang berjuang melawan maut.

Leora menghampiri Prayoga, duduk di sampingnya. Matanya terus meneteskan air mata, Leora menutup mulutnya agar isak tangisnya tidak mengganggu Prayoga. Memilih untuk menangis dalam diam memang menyakitkan.

"Papa, bangun dong. Aku janji bakalan cari pekerjaan, biar ayah bisa dioperasi. Aku tidak mau ayah pergi, aku tidak mau sendirian," kata Leora sambil mencium punggung tangan Prayoga dan berbicara kepadanya. Ayahnya meski mata Prayoga masih terpejam.

'Saya harus mencari pekerjaan sekarang,' pikir Leora sejenak, ia berniat mencari pekerjaan agar ayahnya bisa segera dioperasi. Meskipun ia tidak yakin akan mudah mendapatkan pekerjaan, apa salahnya mencoba?

Leora bangkit dari duduknya, menatap Prayoga sejenak. Lalu ia mencium kening ayahnya.

"Aku pergi dulu ya, aku janji akan berusaha agar ayah bisa sehat kembali, ayah. Apapun akan aku lakukan untukmu," kata Leora lirih sambil menyeka sisa air matanya. Lalu melangkah keluar untuk mencari pekerjaan.

Bab 3

Setelah keluar dari rumah sakit, Leora berjalan tanpa tujuan. Dengan air mata yang setia menemaninya, ia bingung harus mencari uang dari mana untuk biaya operasi ayahnya. Bahkan Leora tidak memiliki keahlian khusus dalam hal bekerja, ia juga tidak tahu harus mencari pekerjaan di mana.

"Apa yang bisa aku lakukan, Tuhan. Aku tidak mau kehilangan papa. Cuma papa yang aku miliki," gumamnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar.

Baru saja ia akan melangkah lagi, mata Leora terbelalak ketika ia melihat seorang wanita paruh baya di tengah jalan raya, sebuah mobil melaju dengan kencang ke arahnya.

"Tante, awas!"

Sontak Leora berlari menghampiri wanita tua tersebut, mendorong tubuhnya hingga keduanya terjatuh di pinggir jalan, siku Leora terasa sakit karena menahan kepala wanita tersebut agar tidak terbentur ke jalan.

"Tante, kamu tidak apa-apa?" tanya Leora setelah berhasil menolongnya.

Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Leora. Sejenak, Leora menghela nafas lega, wanita paruh baya itu baik-baik saja. Meskipun sikunya terluka.

"Syukur, biar saya bantu," kata Leora membantu wanita itu berdiri.

"Terima kasih, siapa namamu?" tanya wanita itu sambil tersenyum pada Leora.

Leora pun membalas senyumannya, "Nama saya Leora Adhisti Ale..."

Leora menghentikan ucapannya, untuk sementara waktu Leora tidak mau menyebutkan nama keluarganya. Agar mudah mencari pekerjaan, dan untuk menghindari pertanyaan tentang perusahaan ayahnya yang bangkrut. Prayoga adalah seorang pengusaha, yang sesekali diliput media. Apalagi sekarang dia tiba-tiba seperti menghilang dari dunia bisnis, pasti banyak yang bertanya-tanya tentang dirinya.

Wanita itu mengangkat alis, menunggu kelanjutan dari perkataan Leora.

"Em, Leora Adhisti," lanjut Leora sambil tersenyum tipis.

"Namaku Rumi, terima kasih Leora sudah menolongku," kata Rumi, yang disambut anggukan kepala oleh Leora.

"Mama!" teriak seorang pria tampan, berhidung mancung dan berkulit putih. Dan mata cokelat, yang membuat Leora sedikit terpesona saat melihatnya. Jas abu-abu yang melekat di tubuhnya membuat karisma pria itu semakin besar.

Pria itu berlari ke arah Leora, tepatnya ke arah Rumi yang sedang bersama Leora.

'Tampan sekali,' pikir Leora, terpesona oleh ketampanan pemuda itu.

"Ada apa Ma? Mama tidak apa-apa?" tanya pria itu terlihat khawatir, sambil mendorong tubuh Leora menjauh dari ibunya.

Leora yang belum siap akhirnya terjatuh kembali ke tanah. Leora merasa kesal dengan pria yang ada di depannya, ketampanan pria itu seakan hilang karena perlakuan kasarnya terhadap Leora.

"Ah, apa dia tidak melihat aku di sini?" Leora menggerutu pelan, lalu berdiri menatap tajam ke arah pria menyebalkan itu.

"Aku baik-baik saja. Hanya saja, aku hampir saja tertabrak mobil, sayang," jawab Rumi.

Ya, pria itu adalah tuan muda Adnan Nicholas, miliarder muda yang tampan. Namun dibalik ketampanannya itu, tersimpan sifat arogan dan kasar. Membuat siapa saja yang melihatnya akan bergidik ngeri dan akan berpikir dua kali untuk berurusan dengannya. Karena Adnan tidak akan segan-segan menghancurkan dan membunuh semua musuhnya.

Adnan memelototi Leora, mencengkeram lengan Leora dengan kasar. Membuat wanita itu mengerang kesakitan karena sikunya juga terluka.

"Kau pasti yang melakukannya!" Adnan membentak, mencengkeram lengan Leora dengan kasar. Menatap Leora dengan tatapan mematikan.

"Aww, sakit," rintih Leora merasakan sakit di lengannya yang terluka.

"Kenapa kamu begitu bodoh, tidakkah kau lihat? Aku tidak mengendarai mobil. Bagaimana aku bisa menabrak ibumu, dasar setan!" Leora berkata tanpa berpikir panjang, tidak peduli siapa Adnan.

"Diam! Kalau kamu berani bicara lagi, aku akan potong lidahmu!" Adnan mengancam sambil mengencangkan cengkeramannya pada rahang Leora, membuat Leora semakin mengerang kesakitan.

Leora terkejut dengan kata-kata Adnan, ia menelan ludahnya dengan kasar, menutup mulutnya dengan tangan. Dia tidak menyangka ada orang seperti Adnan di dunia ini, sombong dan tidak berperasaan.

'Fiks, dia adalah manusia setan. Ada apa denganku Tuhan? mengapa Engkau mempertemukan aku dengan manusia seperti dia,' pikir Leora, bergidik ngeri melihat Adnan.

"Adnan! Hentikan, bukan dia yang melakukannya. Leora yang menolongku," kata Rumi sambil menarik tangan Adnan untuk melepaskan Leora.

Karena perintah ibunya, Adnan menurut dan melepaskan cengkeramannya pada rahang Leora. Bukannya meminta maaf karena telah salah menilai Leora, Adnan malah memalingkan wajahnya. Dengan sifat arogan, ia melipat kedua tangannya di depan dada, seakan-akan ia tidak memiliki dosa sama sekali.

Leora yang melihat hal itu tidak menyangka akan bertemu dengan manusia tak berperasaan seperti Adnan. Ini adalah pertama kalinya ia bertemu dengan manusia yang sombong dan menyebalkan seperti itu. Leora berharap tidak akan pernah mau, bertemu dengan Adnan lagi dalam hidupnya.

Setelah perdebatan panjang, Adnan meminta ibunya untuk pergi. Tanpa merasa bersalah sedikitpun kepada Leora.

"Ma, ayo kita pulang," katanya sambil menarik tangan Rumi dengan lembut.

Namun Rumi menggeleng, lalu berhenti di tempatnya. Ia menoleh ke arah Leora dan melihat siku Leora yang terluka.

"Leo, sikumu terluka. Ikutlah denganku ke rumahku, nanti aku akan bantu mengobati lukamu," kata Rumi menatap Leora sambil sesekali mengelus puncak kepala Leora dengan lembut.

Tiba-tiba Leora menggeleng pelan, ia merasa tidak enak jika harus ikut ke rumah Rumi. Apalagi melihat raut wajah Adnan yang tidak senang, kini ia menatap Leora dengan tatapan tajam. Membuat Leora bergidik ngeri melihatnya.

"Tidak, aku tidak apa-apa. Aku mau pulang saja," katanya sambil tersenyum dipaksakan.

"Aku mohon padamu. Ikutlah denganku, ya, anggap saja ini sebagai tanda terima kasih," kata Rumi.

Akhirnya dengan terpaksa, Leora mengangguk mengiyakan permintaan Rumi.

"Apa kalian akan terus-terusan ngobrol di sini?" tanya Adnan yang mulai malas.

Rumi menggeleng, menanggapi anaknya yang sangat temperamental.

"Ayo, Leora," kata Rumi yang di setujui oleh Leora.

Mereka bertiga berjalan menuju mobil BMW milik Adnan dan segera pergi ke rumah Rumi.

Beberapa menit kemudian, Leora terkesima dengan megahnya rumah keluarga Rumi. Matanya memandang ke seluruh penjuru ruangan, dengan warna emas yang mendominasi seluruh ruangan. Sangat megah dan elegan, bahkan lebih besar dari rumah Leora yang lama.

"Leora, ayo duduk di sini," kata Rumi sambil menepuk-nepuk sofa di sampingnya. Menyuruh Leora untuk duduk.

Leora tersenyum lalu mengangguk pelan, kemudian duduk di samping Rumi. Sementara Adnan memilih untuk pergi begitu saja, ia sama sekali tidak tertarik dengan apa yang akan mereka berdua lakukan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED