Sakha pulang ke rumah utamanya di Desa Telaga Waru. Beberapa pekerja menyapa sesaat setelah melihat Sakha masuk melalui pintu gerbang dengan mobil hitam mengilap. Sakha membalas sapaan mereka dengan anggukan dan senyuman singkat. Matahari masih bersinar terik di langit, dia berkeringat basah dan benar-benar butuh guyuran air untuk menghilangkan lengket di sekujur tubuhnya.
Saat Sakha masuk ke dalam, dia langsung disambut dengan istri-istrinya yang tengah duduk di ruang tamu.
Safitria Ferdinan Putri—atau yang kerap Sakha panggil Ria—yang pertama kali memberi salam ketika melihat kedatangannya.
Ria adalah istri pertama Sakha, wanita cantik itu langsung menarik Sakha ke ruang tamu. Dan Sakha tidak menolak.
“Tumben Mas pulang cepat?” kata Henia, sambil mencium tangan Sakha.
“Hm, saya hanya pulang sebentar.”
Agistia, istri kedua Sakha adalah yang terakhir menyalami tangan Sakha. “Mas mau dimasakin apa? Kebetulan ini waktunya makan siang.”
Sakha menolak dengan senyuman. “Saya hanya di sini sebentar. Kalian makanlah lebih dulu.”
“Mas, makan siang saja di sini sama-sama. Mas jarang pulang kalau siang, seringnya di ladang,” Ria menyela, setengah merengek, dia masih bergelayut manja di lengan sebelah kiri Sakha.
“Ya sudah, tapi saya mau mandi dulu,” jawab Sakha, sembari melepas gelayutan tangan Ria di lengannya dengan lembut.
“Saya bantu Mas ke kamar,” Nia menyahut, mengikuti Sakha pergi ke kamar.
Sedang Nia membantu Sakha menyiapkan pakaian di kamarnya, dua istri Sakha yang lain pergi ke dapur untuk memberi instruksi kepada ART agar segera menyiapkan makan siang.
Tia adalah satu-satunya istri Sakha yang bisa memasak dan sering membantu di dapur. Selama hampir tiga tahun menjadi istri kedua Sakha, Tia sudah sangat hafal makanan apa saja yang suaminya itu sukai; semur ayam dengan ragi kuning. Maka itulah menu makanan yang siang ini akan Tia buat.
Sedang Tia sibuk di dapur, Ria pergi ke kamarnya dan mulai berdandan. Dari ketiga istri Sakha, Ria lah yang paling cantik dan paling rajin merawat diri. Apalagi dia sebagai istri pertama sekaligus tertua, Ria merasa harus selalu tampil menarik untuk mengambil perhatian lebih dari suaminya.
“Dasar Henia, wanita genit itu selalu saja kurang ajar. Tidak sopan. Seharusnya dia menghormatiku sebagai yang pertama, main serobot saja.” Ria menggerutu sembari memoles riasan ke wajahnya yang telah dibersihkan. Selama ini, mereka memang selalu tampak rukun dan akur, tapi diam-diam ketiganya saling berkompetisi satu sama lain untuk mendapatkan perhatian lebih dari sang suami.
Berbeda dengan Tia yang lebih menghormatinya, Nia memang benar-benar gencar sekali memonopoli Sakha, tidak memberikan istri pertama dan kedua Sakha kesempatan. Kalau Tia, wanita itu memang selalu sungkan dan lebih mendahulukan Ria saat mereka bersama. Tapi di belakang, Ria sangat tahu bahwa Tia juga tengah berkompetisi dengannya, menggoda Sakha dengan cara-cara yang sering membuat Ria iri. Tia adalah tipe wanita yang sangat romantis, dia memasak untuk Sakha, mengajak Sakha dinner di restoran mewah berdua saja, selalu merengek untuk pergi liburan setiap kali Sakha ada waktu luang.
Tapi walau begitu, selama ini, Sakha selalu bersikap adil kepada mereka. Tidak pernah Sakha memperlakukan mereka dengan cara yang berbeda, dan terkadang itulah yang membuat Ria jengkel. Akan lebih baik kalau Sakha memperlakukannya dengan cara berbeda ketimbang ketika dia memperlakukan dua istri mudanya. Ria merasa lebih berhak karena dia adalah perempuan pertama yang Sakha nikahi.
Setelah selesai memoles riasan ke wajahnya, Ria segera keluar kamar. Kamar mereka memang selalu dipisah-pisah, baik di rumah desa ini atau di rumah utama mereka di kota. Itu adalah salah satu bentuk keadilan Sakha yang lain. Bahkan Sakha juga memberikan mereka rumah satu-satu untuk mereka tinggali, tapi dalam waktu tertentu mereka bertiga serempak memilih tinggal serumah dengan suami mereka di kediaman utama keluarga Pradipta di kota.
Saat Ria sampai di ruang makan, dia hanya melihat Tia di sana yang juga baru datang. Wanita itu sudah selesai masak dan juga merias sedikit wajahnya sama seperti Ria.
“Di mana Nia?” tanya Ria.
“Dia belum datang?” Tia bertanya balik.
Kejengkelan Ria yang sebelumnya semakin menjadi, tapi sedikit pun dia tidak menunjukkannya. “Tunggulah di sini, aku akan memanggil mereka.” Lalu Ria pun pergi dari ruang makan menuju lantai atas tempat kamar Sakha.
Saat Ria sampai di depan pintu, dia mendengar suara cekikikan Nia yang memanggil Sakha dengan suara manja. Ria pun mengetuk pintu dengan sengaja, tidak lama setelah itu Sakha muncul, wajahnya terlihat kesal.
“Mas, makan siangnya sudah siap,” kata Ria, memasang wajah tidak berdosa.
Sakha mengangguk. “Saya mengerti,” tapi ekspresinya tetap terlihat kesal.
Setelah Sakha pergi, Nia keluar dari kamar. Ria langsung menyemburnya. “Kamu buat Mas kesal lagi?”
Nia cemberut. “Apanya, Kak? Justru Kak Ria yang sudah buat dia marah. Kami tadi di dalam sedang mesra-mesraan, malah diganggu.”
“Kamu pikir aku bakal percaya?” balas Ria. Karena mereka semua tahu bagaimana adilnya Sakha kepada mereka. Kalau bukan pada saat jadwal hari yang telah Sakha tentukan untuk mereka, Sakha tidak akan menghampiri salah satu istrinya yang lain untuk bermesraan. Dan malam ini juga besok adalah jadwalnya Tia, si istri kedua.
“Ish! Kak Ria nggak tau aja. Namanya juga laki-laki toh, pasti ada khilafnya.”
“Jangan begitu, Nia. Kamu harus menjaga perasaan Tia.”
Nia dengan wajah polosnya menjawab, “Memang apa yang Kak Tia rasakan ke Mas Sakha? Bukankah kita semua sama?”
Pernyataan itu membuat mulut Ria bungkam, tapi amarahnya semakin dibuat tinggi. “Jaga omongan kamu! Atau saya akan lapor hal ini pada Mas,” tukasnya penuh peringatan.
Nia terdiam, menunduk, kemudian melengos pergi melewati Ria dengan wajah kesal.
***
Selepas makan siang, Sakha kembali ke ladang, meninggalkan ketiga istrinya di rumah. Selama makan siang itu, tidak ada yang menyadari mood Sakha yang buruk, bahkan Ria sekalipun yang padahal sebelumnya tahu bahwa Sakha sedang kesal. Tapi Sakha adalah pria dengan kontrol diri yang tinggi, dia jarang sekali memperlihatkan perasaannya melalui ekspresi wajah. Dengan kata lain, dia pria dingin dengan ekspresi yang selalu datar.
Walau begitu, Sakha menanggapi semua celotehan istrinya satu per satu. Sakha selalu bersikap baik kepada mereka seperti itu, tidak pernah membeda-bedakan.
Setelah Sakha pergi, Tia langsung membuka suara. “Eh-eh, aku dengar-dengar gosip dari yang kerja di belakang, katanya Mas Sakha mau nikah lagi?”
Ria yang mendengar itu sangat terkejut, berbeda dengan Nia yang tampak biasa-biasa saja.
“Aku sudah dengar dari kemarin. Memang benar,” jawab Nia.
Ria menatapnya. “Dengar dari mana kamu, Nia?”
“Dari ibu-ibu kampung yang suka belanja sayur di depan. Mereka kan belum tahu kalo aku istri Mas Sakha, yaudah aku pura-pura belanja sambil nguping gosipan mereka.”
“Bisa aja itu cuma gosip doang, kan,” sahut Tia.
“Aku juga sudah telepon Galih, Kak. Calon istri Mas adalah anak Pak RT, yang katanya utangnya dah banyak dan besar jadi kemungkinan dia nggak bisa bayar.”
“Pak RT Jamal?!” sahut Ria tidak percaya.
Nia mengangguk dengan wajah kesal. “Itu kenapa kita harus sering-sering goda Mas biar dia berhenti punya niat untuk nikah lagi. Nikah sama aku kan baru setahun ini, aku masih ada harapan buat hamil, kenapa harus buru-buru nikah lagi sih!”
Omelan Nia yang terdengar menyindir itu diabaikan oleh Ria maupun Tia. Memang benar, dari ketiga istri Sakha, tidak satu pun dari mereka yang berhasil dikaruniai anak. Belum, lebih tepatnya. Tapi Sakha sejak awal sangat menginginkan seorang anak untuk dijadikan penerus bisnisnya; seorang ahli waris.
Sayang sekali sampai detik ini ketiga istrinya belum juga hamil.
“Setahuku Pak Jamal punya dua anak gadis,” kata Tia.
“Benar,” sahut Ria, “dua anak gadis dengan julukan kembang desa.”
“Pantas saja Mas kebelet.”
“Hush! Kamu tuh kalo ngomong!” peringat Ria karena celetukan Nia yang terdengar tidak sopan pada suami mereka.
“Aku akan tanya pada Mas nanti malam,” kata Tia.
“Mas pasti akan memperkenalkan wanita baru itu ke kita sebelum mereka benar-benar melaksanakan akad nikah, seperti yang dulu Mas lakukan pas sebelum nikah sama aku,” balas Nia.
Ria dan Tia mengangguk sepaham.
***
Sakha kembali ke ladang dengan perasaan yang masih kesal. Dia menyesal sempat pulang ke rumah tadi, walau hanya sebentar. Karena istri ketiganya, Nia, tidak kunjung berhenti menggodanya padahal tahu kalau hari itu bukan jadwalnya. Sakha tidak terlalu menyukai perempuan yang agresif dan selalu mau ikut campur urusannya. Nia tahu itu, untuk tidak mencampuri urusan Sakha, sekalipun mereka bersuami sitri. Ketiga istri Sakha tahu hal itu, tapi terkadang mereka memang sering lupa karena dikuasai oleh perasaan mereka sendiri.
Tadi, Nia sempat menyinggung rencana Sakha yang belum pernah Sakha beritahukan kepada siapa pun selain kepada yang bersangkutan. Sakha begitu jengkel karena istri-istrinya mulai merasa berhak untuk mengatur hidupnya.
“Tuan!” Galih—yang tengah mengawasi para pekerja mengangkut karung berisi jagung yang telah dipanen ke mobil box untuk dibawa ke gudang—menyapa Sakha yang baru sampai.
“Malam ini,” kata Sakha setelah berdiri di samping Galih.
“Kenapa, Tuan?” tanya Galih bingung.
“Kamu pergi ke rumah RT itu lagi dan tagih janjinya.”
Galih berdeham. “Apa Tuan tidak mau mengenal calon istri Tuan lebih dulu?”
“Saya tidak punya waktu karena besok sore saya harus sudah tiba di Jakarta,” sahut Sakha. “Tapi satu hal,” lanjutnya, memberi jeda, “saya ingin kamu menilainya untuk saya.”
Galih mengangguk mengerti.
“Hm. Kamu masih ingat ‘kan kriteria yang saya sebutkan sebelumnya?”
“Masih, Tuan. Serahkan saja pada saya.”
“Kalau begitu, saya akan berangkat ke Jakarta malam ini. Lakukan pekerjaanmu baik-baik, Galih.”
“Siap, Tuan.”
Setelah memberi perintah seperti itu, Sakha berbalik dan berlalu pergi dari hadapan abdinya. Galih menatap punggung bosnya itu sejenak, kerutan keraguan timbul di dahinya.
Galih kurang lebih tahu alasan Sakha ingin buru-buru menikah lagi. Bukan karena dia kepincut dengan anak Pak RT yang kembang desa itu, hanya saja Sakha punya agenda lain. Yaitu seorang ahli waris.
Usianya sudah kepala tiga, tapi belum dikaruniai anak padahal wanita di rumahnya ada tiga.
Sakha tidak akan peduli jika istri keempatnya nanti adalah anak Pak RT atau bukan. Yang terpenting adalah wanita itu mampu memberikannya anak. Tapi walau begitu, Sakha tentu tidak mau asal pilih. Kebetulan saja RT Jamal berutang banyak pada Sakha dan besar kemungkinan tidak bisa membayarnya karena laki-laki itu sekarang dalam keadaan sakit tua dan sudah tidak mampu bekerja, kebetulan juga Jamal memiliki putri-putri cantik yang belum menikah.
Sebenarnya, kecantikan tidak termasuk dalam kriteria yang pernah Sakha sebutkan. Selama dia wanita yang mampu mengandung dan memiliki sifat dan sikap yang Sakha inginkan. Hanya saja, Galih melihat dari istri-istri Sakha yang ketiganya memiliki paras sangat cantik, maka Galih memasukkan ‘cantik’ ke dalam salah satu kriteria yang harus ada pada istri-istri tuannya.
Galih juga menduga, Sakha tertarik untuk menikah dengan orang sini untuk semakin memperkuat kedudukannya di desa ini sebagai seorang pendatang. Agar tidak ada lagi orang-orang sirik yang berupaya untuk menjatuhkannya dan mengusirnya dari desa.
Sambil melakukan pekerjaannya mengawasi para pekerja, Galih memikirkan siapa kiranya dari putri-putri kandung Jamal yang memenuhi semua kriteria yang pernah Sakha sebutkan padanya.
Si kakak, Mawar? Atau si adik, Melati? Atau mungkin, Ririn?
Tapi dari pertemuan Sakha dengan Ririn kemarin, sepertinya Sakha tidak terlihat tertarik dengan perempuan yang berpenampilan seperti itu. Sakha bahkan tidak tahu kalau Ririn juga putri Jamal, karena kalau dibandingkan dengan kedua saudarinya, Ririn jelas sangat berbeda. Jadi Galih mengeluarkan Ririn dari daftar kriteria yang dicarinya.
***
Airin membuka mata, merasakan tubuhnya begitu berat dan kaku. Sakit menghantam kepalanya seperti palu. Sontak dia mengaduh sambil memegangi keningnya.
“Mawar nggak mau, Pak! Pokoknya Mawar menolak! Hiks! Kenapa Bapak tega sama Mawar?!” Suara lengkingan tangisan perempuan terdengar di luar.
Airin pun tersadar, bahwa karena keributan itulah dia terbangun. Tapi untuk sesaat, Airin menatap bingung pada kamarnya dan pakaian yang ia kenakan, juga handuk yang tergeletak di atas nakas samping ranjangnya. Saat ingatan tentang ladang jagung dan terik sinar matahari yang menyengat memasuki kepala Airin, dia pun mengerti kenapa dirinya berada di sini sekarang.
Sejak dua hari yang lalu, sebenarnya Airin sudah dilanda demam, tapi tidak terlalu parah. Jadi Airin terus memaksa dirinya untuk masuk kerja tanpa memberi tahu siapa pun tentang kondisinya itu. Alhasil, dia pingsan di ladang.
Pasti para pekerja yang membawanya pulang, pikir Airin.
Dia menurunkan kakinya ke lantai kemudian berdiri, menoleh pada cermin yang menempel pada tembok dan menatap wajahnya yang pucat pasi. Airin terkekeh geli pada penampilannya yang tampak jauh dari kata baik. Tapi karena rasa penasaran Airin yang tinggi dengan keributan yang dia dengar, dia memaksa kakinya melangkah ke luar kamar.
“Mawar, menikah dengan Tuan Sakha tidak ada salahnya, kan? Beliau orangnya baik dan bertanggung jawab, hidup kamu pasti akan terja—”
Ucapan Jamal terpotong oleh suara teriakan frustrasi putrinya. “Aku nggak mau! Aku nggak mau! POKOKNYA AKU NGGAK MAU!”
Airin mundur sejenak, terkejut. Pemandangan di hadapannya begitu tidak biasa. Mawar tengah bersimpuh di lantai dengan Ibu yang mencoba menenangkannya, Bapak duduk di sofa dengan ekspresi sulit, sedang Melati duduk tidak jauh darinya sambil terisak-isak.
Ada apa sebenarnya? batin Airin bertanya. Dia hendak mendekati mereka untuk bertanya sendiri, tapi Airin mengurungkan niatnya dan memilih untuk menguping saja di balik pintu kamarnya yang ia buka sedikit.
“Kenapa harus aku, Pak?” lirih Mawar terdengar pilu. “Kenapa bukan Melati? Atau Kak Ririn?”
“Melati belum lulus, dia masih harus menyelesaikan sekolahnya. Sedangkan Ririn, Bapak tidak tega kalau harus memilih Ririn. Selama ini Ririn sudah berkorban banyak untuk kita, dia tulang punggung keluarga sekarang semenjak bapakmu ini sakit-sakitan,” jelas Jamal dengan hati-hati. “Terima saja, Nak,” lanjutnya lagi, terdengar seperti seseorang yang telah pasrah.
Kalau Bapak berbicara dengan nada putus asa seperti itu kepada Airin, Airin akan melakukan apa pun yang Bapak katakan, tidak peduli sekalipun Airin sendiri tidak mau. Asalkan yang terpenting adalah dia bisa mengurangi beban di punggung Bapak.
Suara tangisan Mawar semakin terdengar menjadi. Airin terdorong untuk ke luar, tapi kepalanya dibuat pening dengan suara Mawar dan juga Melati, serta suara lembut Ibu yang mencoba untuk menenangkan mereka.
Airin pun kembali berjalan gontai ke ranjangnya dan berbaring di sana dengan mata terpejam rapat, sembari merasakan denyutan di kepala yang terasa menyakitkan. Dari apa yang dia dengar tadi, sepertinya ini ada hubungannya dengan utang Bapak pada Tuan Sakha, pantas saja kemarin juga Galih datang ke rumah dan mengobrol lama sekali dengan Bapak.
Ternyata, pikir Airin, ternyata Tuan Sakha menginginkan Mawar atau Melati untuk dijadikan istri.
Tentu banyak sekali keuntungan yang keluarga mereka akan dapatkan kalau menikah dengan orang kaya raya seperti Sakha. Tapi kalau Bapak setuju, secara tidak langsung Bapak telah menjual anaknya kepada juragan mesum itu.
Airin tidak memiliki kesan yang baik tentang Tuan Sakha. Dia hanya tahu bahwa lelaki itu telah memiliki tiga istri yang bahkan ikut diboyongnya ke desa untuk mengikuti panen di akhir tahun ini.
Padahal sudah punya tiga, tapi masih saja merasa tidak cukup. Apa namanya kalau tidak mesum?
Airin tidak menyukai Tuan Sakha. Entah kenapa Airin merasa demikian padahal dia belum kenal betul dengan bosnya itu. Setiap kali Sakha datang untuk mengawasi pekerja, Airin selalu berupaya untuk menghindar di saat pekerja lain justru berlomba-lomba untuk mendekat agar mendapatkan kepercayaan dari bos besar mereka.
Perasaan tidak suka ini sepertinya didukung karena Sakha bukanlah seorang monogami. Airin tidak pernah suka pada poligami sekalipun hal itu diperbolehkan dalam agama. Perempuan mana yang mau dan tahan untuk dimadu? Kalau pun ada, yang pasti itu bukan Airin.
Kini Mawar, adik yang sangat Airin sayangi, akan dipersunting oleh juragan mesum itu dan menjadi istri keempatnya.
Sekalipun kepala Airin pening dan sekujur tubuhnya dalam keadaan sakit, Airin masih mampu berpikir. Dan juga sadar, bahwa dia tidak akan pernah mendukung pernikahan itu. Dia tidak akan membiarkan pernikahan itu terjadi.
Kalau Sakha menginginkan semua uang yang telah dipinjam Bapak, Airin berjanji akan membayarnya. Yang dia butuhkan hanyalah waktu lebih untuk mengumpulkan uang tersebut.
Memang, berapa sih utang Bapak pada pria itu?
***