Liana tidak tidur semalam. Matanya yang sudah sembab akibat menangis, terus terjaga memikirkan tawaran Rafael yang begitu mengguncang. Setiap kata yang diucapkannya, setiap perasaan yang bergejolak dalam dirinya, seakan berperang dalam hati dan pikirannya. Ia ingin berteriak, ingin melemparkan semua ini jauh-jauh, tapi kenyataan tak bisa diabaikan begitu saja.
Pagi itu, Liana duduk di depan meja makan, memandangi secangkir teh yang tak tersentuh. Rumahnya terasa kosong, meskipun anak-anaknya ada di sekolah. Ibunya masih terbaring lemah di kamar, tubuhnya yang kurus seakan tak mampu menahan sakit yang datang silih berganti. Begitu banyak yang harus dihadapi, begitu banyak yang harus dipertimbangkan, dan semua jalan terasa sempit.
Pintu depan terbuka, dan langkah kaki kecil terdengar mendekat. Liana mengangkat kepalanya, menemukan putrinya, Clara, yang sudah pulang dari sekolah. Meskipun wajah gadis kecil itu ceria, matanya yang penuh keingintahuan menatap Liana dengan penuh pertanyaan. Clara tahu ibunya sedang dilanda kesulitan, meskipun Liana berusaha menutupi itu sebaik mungkin.
"Mama, kamu kenapa?" tanya Clara dengan suara lembut. "Kamu terlihat lelah."
Liana tersenyum, meskipun senyum itu terasa sangat dipaksakan. "Mama baik-baik saja, sayang. Hanya sedikit lelah saja."
Clara tidak meyakini jawaban ibunya, tetapi tidak bertanya lagi. Gadis itu lebih memilih duduk di samping Liana, menatap ibunya dengan penuh kasih sayang, tanpa mengetahui beban berat yang tengah dipikul oleh wanita yang begitu ia cintai.
Liana menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk menghadapinya. Ia memandang wajah Clara sejenak, wajah polos anaknya yang tak tahu apa-apa tentang dunia yang kejam ini. Seharusnya ia melindungi anaknya dari semua ini, tetapi bagaimana jika ia tak bisa lagi melakukannya?
Setelah beberapa lama, Liana berdiri, matanya yang tak berkedip menatap ke luar jendela. Pikirannya kembali ke pertemuan kemarin. Rafael. Pria itu, dengan segala pesonanya, dengan segala kekuatannya, menawarkan jalan keluar yang begitu menggiurkan-tapi dengan harga yang begitu tinggi. Istri kedua? Apa artinya itu bagi hidupnya? Bukan hanya hidupnya, tetapi hidup Clara dan ibunya?
Ia menggigit bibirnya, berusaha menahan emosi yang hampir meluap. Tidak ada pilihan lain, bukan? Ia tahu bahwa tanpa bantuan Rafael, segala harapan untuk mendapatkan pengobatan bagi ibunya dan anaknya akan musnah begitu saja. Tidak ada uang, tidak ada jalan keluar yang lain.
Namun, menjadi istri kedua? Itu bukan hanya mengubah hidupnya, itu akan merusak segala yang ia percayai tentang dirinya sendiri. Ia tidak pernah membayangkan hidupnya akan sampai pada titik ini, menjadi bagian dari permainan kekuasaan yang kejam.
Sebuah suara kecil di dalam hatinya terus memanggil. Mengingatkan dia tentang keberanian yang pernah ia miliki dulu-sebelum semuanya hancur. Sebelum pernikahannya berakhir dengan luka, sebelum semua impian dan harapan tentang masa depan yang indah terhempas begitu saja. Apakah ia harus menyerah sekarang, atau berjuang untuk kebahagiaan yang tidak pasti?
Pintu ruang tamu terbuka, dan Liana mendengar suara langkah kaki berat mendekat. Rafael.
Liana menoleh, merasakan ketegangan yang mengalir begitu kuat antara mereka. Ia merasa seperti terjebak dalam jebakan yang tidak bisa dihindari, dan di hadapan Rafael, ia merasa begitu kecil, begitu tak berdaya.
Rafael berdiri di ambang pintu, wajahnya tak terbaca, seolah siap untuk melanjutkan perbincangan mereka kemarin.
"Liana," katanya dengan suara dalam yang menusuk. "Apakah kamu sudah memikirkan tawaranku?"
Liana tidak menjawab langsung. Ia berusaha mengontrol napasnya, mencoba menghindari tatapan tajam Rafael yang seakan bisa menembus segala pertahanan dirinya.
"Jangan buat aku menunggu lebih lama," lanjut Rafael, suara itu terdengar lebih menuntut. "Keputusan ini harus diambil sekarang. Anak dan ibumu tidak akan mendapat bantuan tanpa itu."
Liana menatapnya dengan tajam, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh pria ini. Apa yang ada dalam pikirannya? Apa yang membuatnya begitu yakin bahwa ia bisa mengontrol hidup orang lain dengan cara seperti ini?
"Aku tidak bisa begitu saja menerima tawaranmu," jawab Liana dengan suara yang lebih kuat, meskipun ia tahu itu tidak cukup. "Aku tidak tahu apakah aku bisa hidup seperti itu."
Rafael menyandarkan dirinya pada dinding, matanya terus menatap Liana dengan cermat. "Kamu tidak punya pilihan," katanya dingin, tanpa emosi. "Kamu butuh uang, dan aku bisa memberikannya. Tapi aku juga ingin sesuatu sebagai imbalan. Itu adalah kesepakatan yang adil, Liana."
Liana merasa hatinya berdebar, amarah dan kebingungannya berperang dalam dirinya. "Tapi aku bukan barang yang bisa ditukar begitu saja, Tuan," katanya, meskipun ia tahu kata-katanya hanya akan menguatkan perasaan terpojok yang ia alami.
Rafael tersenyum sinis. "Kamu memang bukan barang, Liana. Tapi hidup ini bukan tentang apa yang kita inginkan, melainkan tentang apa yang kita bisa dapatkan. Dan jika kamu ingin hidup dengan cara yang baik, terkadang kita harus berkorban."
Liana menatapnya, perasaan tak menentu memenuhi dadanya. Rafael benar. Hidup ini memang penuh dengan pengorbanan, tetapi apakah pengorbanan ini layak dilakukan? Untuk siapa? Untuk apa?
"Pikirkan baik-baik, Liana," kata Rafael sebelum berbalik dan meninggalkan ruangan, meninggalkan Liana dengan keputusan yang semakin sulit untuk diambil.
Liana kembali duduk, tubuhnya lelah, hatinya hancur. Begitu banyak yang dipertaruhkan. Begitu banyak yang harus ia hadapi. Dan kini, semuanya tergantung pada pilihan yang akan ia buat.
Setelah kepergian Rafael, Liana hanya bisa terdiam di kursinya, matanya kosong menatap ke luar jendela, namun tidak melihat apapun. Semuanya terasa kabur, seperti bayangan yang tidak jelas. Angin yang berhembus pelan ke dalam rumah seakan menambah kesunyian yang mencekam, membuat hatinya semakin sesak.
Malam itu, Liana tidak bisa tidur. Pikirannya terus berputar, kembali dan kembali pada satu pilihan yang terus menghantui setiap detik yang berlalu. Istri kedua. Itu adalah kata yang tidak pernah ia bayangkan akan menjadi bagian dari hidupnya. Begitu banyak alasan untuk menolaknya, tetapi begitu banyak alasan pula untuk menerimanya. Apa yang harus ia pilih?
Ia bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan perlahan ke kamar ibunya. Melihat ibunya yang terbaring lemah di tempat tidur, tubuhnya semakin kurus karena penyakit yang tidak kunjung sembuh, Liana merasa hatinya terhimpit. Ibunya yang dulu penuh semangat, kini hanya menjadi bayangan dari wanita yang pernah ia kenal. Ibu yang selalu mengajarinya tentang harga diri, tentang berjuang untuk masa depan.
Namun, dalam keputusasaannya, Liana menyadari bahwa ia tidak bisa lagi mengandalkan dirinya sendiri. Tidak ada pilihan selain menerima kenyataan yang ada di hadapannya. Jika ia tidak berbuat sesuatu sekarang, ibunya bisa kehilangan kesempatan untuk sembuh. Dan Clara, putrinya yang masih kecil, bisa kehilangan segalanya.
Liana menundukkan kepala, memejamkan mata sejenak. Air mata yang sudah sejak lama tertahan kini mulai jatuh. Ia merasakan betapa berat beban yang harus dipikulnya, dan tidak tahu lagi bagaimana cara untuk bertahan.
"Apa yang harus aku lakukan, Mama?" lirihnya, seperti berbicara pada ibunya yang tidak bisa memberi jawaban.
Pintu kamar itu terbuka perlahan, dan Clara muncul dengan wajah penuh keheranan. "Mama?" tanya Clara pelan, langkahnya hati-hati, seolah merasakan kecemasan ibunya.
Liana menghapus air matanya dengan cepat, berusaha tersenyum. "Mama hanya sedikit merasa lelah, sayang. Kamu sudah makan?"
Clara mengangguk, tetapi matanya tetap penuh pertanyaan. "Mama kenapa, kok kayaknya nggak ada semangat?"
Liana hanya bisa tersenyum samar. "Mama hanya butuh sedikit waktu untuk berpikir, Clara. Semua akan baik-baik saja."
Clara berjalan menuju ibunya, memeluknya erat. "Mama nggak usah khawatir, aku akan bantu Mama. Kita bisa lalui semuanya bersama-sama."
Liana merasa seolah ada pisau yang menusuk jantungnya mendengar kata-kata anaknya. Clara tidak tahu apa yang sedang dihadapinya. Anak kecil itu tidak tahu bahwa ibu mereka sudah berada di ujung jurang, tanpa jalan keluar.
"Tapi Mama butuh lebih dari sekadar bantuan dari kamu, sayang," bisik Liana, mencoba menahan air mata yang kembali mengancam.
Setelah beberapa lama, Clara kembali ke kamarnya. Liana masih terdiam di samping tempat tidur ibunya. Pikirannya berputar-putar tanpa henti, menimbang-nimbang segala kemungkinan. Apa yang sebenarnya ia perjuangkan? Apakah ia bisa terus bertahan dalam jalan yang penuh dengan pengorbanan ini?
Tak lama setelah itu, suara pintu depan terdengar, menandakan kedatangan seseorang. Liana tahu siapa yang datang tanpa perlu melihat. Langkah kaki Rafael yang berat dan pasti, suara itu sudah terlalu familiar di telinganya. Ia tidak tahu mengapa, tapi hatinya seakan berdebar lebih cepat.
Rafael muncul di ambang pintu ruang tamu, mengenakan jas hitam dengan sikap yang selalu penuh kendali. Matanya yang tajam menilai Liana dengan cara yang tak bisa ia pahami.
"Aku datang karena ingin mendengar jawabanmu, Liana," kata Rafael dengan suara tenang namun menekan. "Kamu tidak bisa terus berlarut-larut dalam kebingungannya. Aku sudah memberikanmu waktu. Aku ingin kamu memutuskan sekarang."
Liana memandangnya, mencoba menahan tatapannya. "Aku... aku tidak tahu." Suaranya pecah, dan meskipun ia berusaha terlihat kuat, ia merasa begitu rapuh di hadapan pria ini. "Aku tidak tahu apakah aku bisa melakukan ini, Rafael."
Rafael berjalan lebih dekat, mendekatkan wajahnya, tetapi tidak menyentuh. "Tapi kamu harus, Liana. Kamu tahu apa yang akan terjadi jika kamu tidak melakukannya. Anakmu dan ibumu tidak akan mendapatkan apa-apa. Hidup ini memang tidak adil, dan aku bukan orang yang bisa memberi kamu pilihan yang mudah. Tetapi, aku bisa memberimu kesempatan. Kesempatan yang tidak akan datang dua kali."
Liana menundukkan kepala, merenung. Ia merasakan berat di hatinya, tetapi juga ada sebuah keputusan yang tak terhindarkan. Semua yang ada di dunia ini tampaknya sudah dijual dengan harga yang sangat mahal, dan ia merasa seolah terperangkap dalam permainan yang bukan ia mulai.
Akhirnya, setelah beberapa detik yang terasa seperti jam, Liana mengangkat kepalanya. Matanya yang merah dan penuh air mata bertemu dengan mata Rafael. Ia menghela napas dalam-dalam, menyadari bahwa keputusan ini mungkin akan mengubah segalanya.
"Aku akan melakukannya," katanya pelan, hampir tidak terdengar. "Aku akan menjadi istrimu yang kedua."
Rafael tersenyum tipis, senyum yang tidak sepenuhnya mengandung kebahagiaan. "Kamu tidak akan menyesal, Liana. Aku akan memastikan semuanya berjalan dengan lancar. Kamu dan keluargamu akan aman."
Liana hanya bisa menatapnya, hatinya hancur, namun tak ada lagi jalan mundur. Ia telah terjebak dalam keputusan yang tak bisa diubah. Sebuah jalan yang gelap, penuh dengan pengorbanan dan kebohongan, dan entah di mana ujungnya.