Kembali ke barak di pangkalan angkatan laut di Hawaii, Shawn berjalan melewati beberapa perwira dari berbagai negara dan sempat memberi hormat padanya. Shawn hanya berjalan dingin tanpa membalas. Ia memang terkenal perwira yang tak ramah dan angkuh. Tak sedikit yang membenci dan iri pada Shawn.
Di usianya yang ke 25 tahun ia bahkan sudah mendapatkan penghargaan Silver Star Medal, sebuah penghargaan untuk penghargaan pribadi tertinggi ketiga dalam militer Amerika Serikat untuk prajurit dalam penyerangan. Shawn memimpin armada yang menyerang salah satu kelompok perompak Somalia yang menahan sebuah kapal tanker milik US.
Tak hanya itu sebelumnya ia terlibat dalam sebuah misi khusus di Timur Tengah bersama tim Raider angkatan darat. Misi yang berhasil menangkap salah satu gembong teroris paling dicari itu dipimpin oleh Shawn yang bahkan baru genap berusia 25 tahun saat itu.
Kecemerlangan dan prestasinya yang luar biasa tak diimbangi dengan sikap baik dan ramah yang tak ia miliki sama sekali. Shawn terkenal sedikit brutal dan dianggap senang menyiksa pelaut junior yang berada dalam armadanya.
Dan rumor pembullyan itu semakin santer terdengar sampai ke beberapa perwira tinggi. Tapi siapa yang berani menuntut Shawn Miller. Ia dilindungi oleh Laksamana utama dan Menteri Pertahanan. Bahkan Presiden US sendiri menyukai Shawn dan sering memujinya sebagai salah satu aset negara yang luar biasa. Ia adalah superhero, pahlawan yang tampan, dingin tapi tak memiliki sikap yang baik.
Masuk ke dalam ruangannya, Shawn menerima salam hormat dari seorang anak buahnya yang kemudian membukakan pintu. Shawn masuk begitu saja lalu membuka topinya.
“Pak, Letnan Blue Handerson melapor, Pak!” ujar Blue memberi hormat dan melaporkan keberadaannya. Ia menyodorkan sebuah surat pada Shawn yang sudah sudah duduk di meja kerjanya.
“Duduklah, Blue.” Blue mengangguk dan keluar dari sikap siap-nya. Ia kemudian duduk di kursi depan meja kerja Shawn dan siap mendengarkan perintah.
“Apa kabarmu, Blue? Lama tak melihatmu,” tanya Shawn sambil membaca surat tugas yang diberikan oleh Blue pada Shawn.
“Baik, Admiral. Terima kasih sudah menanyakan.” Shawn hanya mengangguk saja dan masih membaca surat itu. Ia lalu mengambil pena dan membubuhkan tanda tangannya, tanda ia menyetujui pemindahan Blue ke kesatuannya.
“Bagaimana Phillips, aku dengar dia dipindah ke USS Missouri?” Blue tersenyum tipis dan mengangguk.
“Ya begitulah, Pak. Bagaimana denganmu?”
“Biasa saja. Semua seperti biasa.” Blue tersenyum lagi mendengar Shawn yang bersikap dingin seperti biasa.
“Kamu sudah makan malam?” tanya Shawn dengan nada datar dan dingin yang sama.
“Aku tak apa, Admiral.” Blue menolak agar tak enak.
“Sudahlah, tak apa. Ayo, aku traktir minum bir saja kalau begitu. Anggap saja untuk merayakan kembalinya kamu di sini,” Blue tergelak dan mengangguk. Ia berdiri dan berjalan keluar mengikuti Shawn.
Blue Handerson sebenarnya adalah salah satu perwira yang sudah menjadi wakil Shawn Miller beberapa tahun lalu. Tapi kemudian ia dipindahtugaskan pada perwira lain yang akan memasuki masa pensiun.
Beberapa perwira yang melewati Shawn memandang sedikit aneh pada Blue Handerson yang mau saja menjadi ajudan Admiral Miller. Tak sedikit yang menyayangkan dan mengira jika Shawn pasti sering membully Blue.
“Aku yang bodoh atau semua orang memang memperhatikanmu?” tanya Shawn begitu duduk di kursi sebuah bar dan mengambil botol bir yang dihidangkan untuknya.
Pangkalan militer angkatan laut US sangat lengkap. Terdapat bar yang juga selalu ramai dikunjungi oleh para pelaut yang sedang berlatih.
Blue hanya tersenyum dan mendengus pelan. Ia ikut mengambil botol bir dan meminumnya bersama Shawn.
“Mereka tak menyukaimu, Admiral,” jawab Blue sedikit tersenyum melirik pada Shawn. Shawn hanya menaikkan ujung bibirnya. Hanya sebatas itu senyuman Shawn Miller jangan harap dia akan memberi lebih.
“Tidak ada yang menyukaiku, Blue. Aku rasa hanya kamu yang betah denganku.” Blue tersenyum dan sedikit mengadukan ujung botol birnya dengan milik Shawn.
“Senang bisa kembali bekerja denganmu, Admiral!” Shawn hanya mengangguk saja. Sebuah notifikasi lantas masuk ke dalam ponselnya dan Shawn membukanya lalu menyengir.
“Mau ikut aku ke New York? Ada barang baru,” ujar Shawn kemudian setelah meletakkan ponselnya. Blue menoleh pada atasannya itu dan tersenyum tipis.
“Dari Dubrich?” Shawn mengangguk tapi tak menoleh pada Blue.
“Tapi besok adalah malam kenaikan pangkatmu sebagai Laksamana Madya, Pak,” balas Blue mengingatkan jadwal Shawn.
“Oh ya, aku lupa,” jawab Shawn seenaknya. Blue hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.
“Kita bisa berangkat malam ini dan kembali besok siang. Aku rasa itu cukup.” Blue memberikan solusi dan Shawn mendengus menaikkan sedikit ujung bibirnya. Matanya kemudian menoleh pada pintu masuk bar dan langsung mendengus kesal.
“Shawn!” pekik Amy tertahan saat melihat Shawn. Dengan hotpants jeans ketat dan corp top seperti bra, ia masuk dengan seenaknya di kawanan pelaut yang melihatnya dengan mata liar. Bagaimana tidak, hampir 100 persen komunitas di pangkalan adalah pria. Hanya sedikit sekali perwira maupun pelaut yang berjenis kelamin perempuan. Jadi begitu mereka melihat wanita seksi melewati mereka, seisi bar terdiam.
Yang membuat aneh, ia malah menghampiri Shawn dengan cengiran yang melebar dari ujung ke ujung mulutnya.
“Hai Shawn!” sapa Amy dengan manja dan tersenyum menggoda. Shawn tak mau melihat sama sekali. Ia memilih untuk minum dan menghadap konter bar.
“Aku datang kemari untuk berterima kasih atas apa yang kamu lakukan tadi siang,” tambah Amy lagi makin berbicara pada Shawn tapi ia masih tak perduli dan mau melihat.
Mata Blue lantas melirik pada Shawn dan Amy bergantian. Blue selalu penasaran, mengapa putri satu-satunya Menteri Pertahanan bisa ada di barak pelaut pria dan menggoda salah satu Laksamana mereka?
“SHAWWNNN!” rengek Amy mulai memegang lengan Shawn. Shawn langsung menoleh dan mendelik pada Amy yang berani memegangnya. Shawn paling tidak suka jika ada perempuan yang menyentuhnya kecuali dia ijinkan.
“Jangan menyentuhku!” tapi Amy memang sudah putus urat malu dan takutnya pada Shawn. Ia tak perduli dan malah makin bergelayut manja.
“Ayolah, kenapa kamu seperti itu padaku!” Amy makin menyebalkan dan merengek. Shawn melepaskan tangannya dari Amy dan tak perduli jika gadis cantik itu cemberut. Blue masih terus memperhatikan sampai Amy ikut melihat lalu tersenyum.
“Hei, kamu?” tunjuknya pada Blue. Ia tahu dan pernah kenal perwira itu tapi lupa dimana. Shawn makin kesal dan mengeluarkan uang seratus dolar dan membayar dua botol bir pada bartender.
“Ambil saja kembaliannya. Ayo Blue!” perintah Shawn berbalik dan meninggalkan Blue yang terpaksa ikut Shawn.
“HEI!” Amy tak menyerah dan berjalan cepat membuntuti Shawn. Shawn sudah sangat gerah pada wanita bernama Amelia Baker itu. Dia seperti lalat yang terus mengikuti Shawn kemanapun. Dia benci semua tentang wanita itu, wajahnya, suaranya semuanya.
“SHAWN!” teriak Amy memanggil Shawn. Untung dia tak memakai sepatu tinggi tapi hak sepatu sportnya masih cukup tinggi.
“Apa lagi!” bentak Shawn dan tak sengaja berbalik terlalu cepat sehingga Amy terkejut. Ia tersentak dan menabrak dada Shawn. Amy terjatuh di pelukan Shawn Miller yang melebarkan mata sipitnya pada wanita cantik yang begitu dekat dengan wajahnya.
Dengan cepat, Shawn melepaskan Amy sehingga ia terpelanting jatuh terduduk di jalan berpasir.
“AAHHHKK─SHOOKY, SAKIT!” umpat Amy seenaknya pada Shawn. Shawn makin mendengus dan berkacak pinggang. Gadis seksi dan cantik itu berani memanggilnya dengan sebuta Shooky. Sementara Shooky adalah nama kelelawar yang pernah ditemukan Amy dan diletakkannya di dalam ruang kerja Shawn Miller.
Gara-gara itu, Shawn lari terbirit-birit dari ruangannya dan membenci Amy selamanya. Ia benar-benar kesal. Siapa bilang Laksamana setan seperti Shawn Miller tak memiliki kelemahan? Pasti ada dan itu adalah kelelawar. Ya, Shawn sangat takut pada kelelawar. Hewan kecil pemakan buah dan serangga itu ditakuti Shawn dan Amy baru mengetahuinya setelah berhasil mengerjainya tiga tahun yang lalu.
“Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi!” tunjuk Shawn pada Amy yang malah tertawa padahal bokongnya masih sakit. Sementara Blue menoleh ke kanan dan kiri agar tak ada yang melihat kelakuan Shawn.
“Nama itu cocok untukmu, Shooky!” goda Amy makin menjadi-jadi. Shawn benar-benar kesal. Amelia itu seperti benalu terus menempel dan berusaha menggoda Shawn sejak mereka pertama kali bertemu.
Shawn tau siapa Amy saat gadis itu dikenalkan padanya. Tapi Amy belum mengetahui Shawn selain dia adalah Admiral termuda berpretasi dan tampan.
Shawn langsung berbalik meninggalkan Amy dan Blue pun terpaksa mengikutinya. Ia tak mau membantu Amy bahkan untuk berdiri sama sekali. Dan Blue yang tak tega akhirnya memberikan uluran tangannya. Amy pun berdiri lalu menepuk bokongnya beberapa kali dari pasir yang menempel.
“Bosmu itu benar-benar galak. Kalau aku jadi kamu akan kutinggalkan dia di tengah lautan!” umpat Amy mengadu pada Blue. Blue hanya tersenyum tipis sebelum kemudian namanya dipanggil Shawn.
“BLUE!”
“Ya, Admiral!” Blue melihat sekilas pada Amy lalu berlari menyusul Shawn yang sudah lebih dulu pergi dan menghilang. Shawn dengan kesal membanting pintu mobilnya. Sementara, Blue baru masuk ke dalam mobil yang sudah ada Shawn di dalamnya. Ia langsung menghidupkan mesin untuk segera ke bandara yang tak jauh dari pangkalan mereka.
Shawn tak mengandalkan gajinya untuk kehidupan mewahnya. Ia memiliki mansion, pesawat pribadi dan beberapa perusahaan yang dikelola oleh Ibunya. Lebih tepatnya, istri Ayahnya. Shawn nyaris tak memiliki Ibu atau Ayah. Karena orang tuanya menikah berdasarkan perjanjian dan rahasia.
Ia naik pesawat pribadinya dan duduk dengan nyaman tak lama kemudian. Pilot yang siap sedia membawa Shawn kemanapun, ia pergi bersama Blue ke New York tepat satu malam sebelum pengangkatan dirinya menjadi Laksamana Madya yang akan membawahi armada perang, kesehatan sampai penyerangan militer.
DUBRICH, CABANG NEW YORK
Shawn keluar dari kubik kaca khusus miliknya setelah menawar dan membeli. Ia memiliki selera sendiri. Ia tak suka gadis-gadis Eropa yang berkulit pucat, Shawn lebih menyukai gadis dengan kulit karamel yang indah.
Dan Shawn yang memang memiliki keinginan syahwat yang tinggi atau hypersex, meletakkan seluruh kebutuhannya pada rumah lelang Dubrich. Sejauh ini ia merasa puas. Sampai suatu ketika,
“Well, well, well! Jika kamu kira tak ada yang mengenali pejabat tinggi militer berada di rumah bordir kelas atas seperti ini, kamu salah besar Shawn Miller,” ujar seorang pria yang sedang berdiri di salah satu koridor kamar yang disediakan Dubrich khusus untuk pelanggan VIP seperti Shawn.
Shawn berbalik dan memicingkan matanya. Rasanya ia pernah melihat wajah pria seperti orang latin atau orang asia itu, entahlah.
“Siapa─”
“Yousef Kanishka. Aku yakin kamu pernah mendengar namaku!” alis Shawn naik dan mengangguk pelan. Shawn masih berdiri dan bersikap dengan dingin, ia memasukkan kedua tangan ke saku celana mencoba membaca keinginan salah satu pemimpin mafia bawah tanah itu.
“Mau apa?” tanya Shawn dingin. Yousef terkekeh tapi lebih terdengar seperti mengejek.
“Bicara─dan barter.” Shawn mengeluarkan kedua tangan dari sakunya lalu melipatnya ke arah dada.
“Aku memiliki penawaran untukmu, Admiral. Aku yakin kamu pasti akan tertarik dan mau mendengarkanku.” Shawn masih diam dan tak melepaskan pandangan membunuhnya dari Yousef. Senyum licik Yousef lantas sedikit mengembang lalu berjalan menuju ke ujung koridor.
Seperti layaknya film mafia, Yousef dan Shawn melewati koridor yang sama berjalan ke ujung lalu masuk ke sebuah ruangan. Seorang pria yang merupakan kaki tangan Kanishka lalu membuka pintu untuk Shawn.
“Duduklah, Admiral. Anggap saja tempat sendiri!” Shawn menyengir dan menggeleng.
“Tidak, aku berdiri saja!” Yousef menyengir dan mengangguk.
“Aku tahu kamu tak pernah percaya siapapun.” Shawn makin mendengus bosan.
“Aku ingin kamu mengambilkan sebuah daftar rahasia untukku.” Shawn sedikit menaikkan alisnya tapi wajahnya masih dingin. Super dingin.
“Daftar itu ada pada Menteri Pertahanan, atasanmu!” Shawn menarik sedikit lebih banyak oksigen dari hidungnya dan melepaskannya perlahan.
“Bagaimana kamu bisa berpikir aku akan melakukan yang kamu inginkan, Yousef Kanishka? Memangnya aku pesuruhmu!” ejek Shawn dengan wajah tanpa ekspresi sama sekali.
“Tidak, tapi jika kamu menolak. Aku akan memberi bukti pembelianmu atas gadis Dubrich yang baru saja kamu lakukan pada Laksamana Utama.” Shawn menaikkan ujung bibirnya dan disanalah baru terlihat senyuman tipis nan mahal milik Shawn Miller.
“Dan kamu pikir dia akan percaya padamu?”
“Oh tentu saja dia akan percaya padaku. Aku punya bukti foto dan saksi mata.” Shawn melipat lagi kedua lengan di dadanya dan mengangguk.
“Apa isi daftar itu?” tanya Shawn dengan nada biasa. Shawn Miller sebenarnya adalah pria yang sangat licik dan penuh strategi. Daripada merasa terancam mengapa ia tak memanfaatkan kesempatan itu untuk memukul dua burung dengan satu batu? Jadi langkah pertama adalah membuat Yousef bicara.
“Aku pikir kamu tahu apa itu daftar rahasia!” Yousef mulai terpancing tapi menolak pancingan jebakan Shawn.
“Aku tau bahwa Menteri Pertahanan menyembunyikan rahasia negara di balik saku jasnya. Aku hanya penasaran apa itu.” Yousef tersenyum dan mengangguk.
“Itu adalah daftar berisi para penjahat yang disembunyikan oleh pemerintah dan interpol.”
“Kenapa? Apa mereka bukan penjahat?” Yousef tersenyum dengan analisa Shawn yang tepat.
“Bingo!” sahutnya tersenyum dan menyengir lebar.
“Aku ingin kamu memberikan daftar itu padaku,” tambah Yousef lagi dan itu membuat Shawn sedikit melihatnya aneh. Sesungguhnya ia ingin tertawa. Apa Yousef mengira jika Shawn Miller adalah seseorang yang gampang dibodohi?
“Kenapa kamu mau berpikir jika aku akan menyerahkan daftar itu padamu? Jika aku mau, kenapa bukan aku saja yang memilikinya. Aku bisa menjualnya?” pancing Shawn makin tajam. Dan Yousef mengambil umpannya dengan baik.
“Karena jika tidak, video dari kamera pengawas Dubrich akan aku sebarkan dan karirmu akan hancur,” ancam Yousef dan Shawn langsung memperlihatkan wajah horor. Ia terjatuh dan berlutut di kakinya. Kariernya akan hancur. Karier yang sudah ia bangun selama bertahun-tahun akan hilang begitu saja karena sebuah kesalahan. Kesalahan masuk ke dalam rumah bordir.
Yousef lalu tertawa dalam kemenangan setelah melihat Shawn berlutut dan menangis karena diancam dengan merusak karirnya. Dengan cepat kepala Shawn tegak lalu─
DORR─DORR... Shawn menembak dengan cepat dua orang pengawal Kanishka sekaligus. Ia bangun dengan cepat dan menodongkan moncong senjatanya pada Yousef sambil menyengir sinis. Mata Yousef membesar melihat moncong peredam di depan matanya.
“Katakan sekali lagi, tadi kamu mengancamku dengan apa!?”