(Gareesa Resto)
“Jadi ... kau dijodohkan lagi?” tanya seorang wanita cantik yang sedang makan buah.
Ares mengangguk. “Aku tidak tahu kenapa ayahku melakukan hal itu,” desah Ares.
Wanita bernama Rena itu tertawa geli. “Kenapa kau tidak cari pacar, lalu kau kenalkan pada ayahmu? Bukankah itu mudah?”
“Apanya yang mudah?” sembur Ares. “Kau pikir gampang cari wanita di luar sana?”
Sambil mengacungkan sendok garpu, Rena berkata, “Kau tampan, mapan, kurang apalagi? Banyak wanita yang akan mengantri.”
“Kau pikir aku mencari wanita yang memandangku hanya karena dua hal itu?” Ares mendelik. “Bukannya hidup bahagia, yang ada aku malah menderita.”
Rena manggut-manggut. Garpu yang semula ia acungkan ke arah Ares sudah menancap di potongan buah melon.
“Kalau begitu, kenapa kau tak coba menerima gadis itu?”
Ares langsung terhenyak. “Apa kau bergurau?”
Masih mengunyah buah, Rena menggeleng. “Tentu saja tidak. Aku sangat serius malah.”
“Jadi, kau setuju kalau aku menikah dengan wanita lusuh itu?” Ares sudah membelalak. “Jangan gila kau!”
“Tidak ada salahnya kau coba dulu kan?” Rena menaik turunkan alisnya. “Apa dia cantik?”
Ares mendelik sambil menarik dagu ke dalam. “Kau gila ya?”
“Gila kenapa?” tepis Rena. “Apa perkataanku ada yang salah?”
Ares berdecak lalu menyandarkan punggung pada dinding kursi. “Sudah kubilang, dia itu lusuh. Mana mungkin cantik?”
Ares sebenarnya tidak terlalu jelas saat mengamati raut wajah gadis itu kemarin sore. Selain karena malas, gadis itu juga lebih banyak menunduk. Jelas-jelas bukan tipe Ares.
“Aku pergi.” tiba-tiba Ares berdiri.
“Kau mau kemana?” Rena ikut berdiri. “Jangan bilang kau mau menemui gadis itu?” Rena terkekeh menahan tawa.
“Sialan!” sembur Ares. “Aku mau pulang. Hari ini aku malas mau ngapa-ngapain.”
Ares sudah berjalan ke luar restoran. Ya, sebuah restoran mewah dengan nama Gareesa Resto. Tentunya sang pemiliknya adalah Ares sendiri.
Benar kata Rena, selain Ares tampan, dia juga pria matang dan mapan. Cabang restoran ada di setiap kota. Ares mempercayakan semuanya pada para bawahan, sementara Ares lebih sering duduk sambil menerima laporan masuk.
“Di mana Nando?” tanya Rena. “Dia tidak ikut?”
Ares menggeleng. “Dia ada di rumahku. Dia sedang mengecek laporan bulanan di ruang kerjaku.”
Raut wajah Rena terlihat merengut. Sebagai sepupu yang sudah sangat dekat sedari kecil, Ares sangat tahu apa yang sedang Rena rasakan saat ini.
“Kalau kau suka, kenapa tak kau lamar saja dia,” celetuk Ares saat sudah bersandar di pintu mobil.
“Enak saja! Aku kan wanita. Aku tak mau melamar duluan,” jawab Rena.
“Kau coba dekati dia lagi. Dia masih menjomblo, kau akan lebih mudah mendapatkannya.” Ares menaikkan satu alisnya lalu membuka pintu mobil.
“Aku pergi dulu,” ucap Ares saat jendela kaca mobil terbuka.
Sambil merengut, Rena hanya mengangguk.
Entah di manapun, yang namanya soal perasaan pasti sangatlah rumit. Cinta, cinta dan cinta, hal itu selalu menjadi alasan setiap hubungan. Namun, bagaimana dengan Ares?
Pria itu selalu gagal dalam percintaan. Ares tak pernah berhasil saat menjalani hubungan dengan setiap wanita. Entah apa yang membuat para wanita itu mendadak pamit pergi dari kehidupan Ares. Mereka tak pernah memberi sebuah alasan. Yang mereka katakan hanyalah: tak ada wanita yang betah bersamamu selama sifatmu masih sama.
Sifat apa? Yang seperti apa? Ares sama sekali tidak tahu.
“Tak ada wanita yang tulus!” sergah Ares. Dua tangannya mencengkeram bundaran setir dengan kuat.
“Mereka pasti hanya ingin mengincar kekayaanku saja! Itu sebabnya mereka pergi dariku. Selama bersamaku, bahkan aku memang berniat tidak membelikan barang mahal untuk mereka.”
Ares bergumam dalam mobil tanpa ada siapapun yang mendengarkannya.
“Itu kenapa, pada akhirnya mereka meninggalkanku. Itu pasti alasannya.” Seringaian nampak jelas di wajah Ares.
Saat Ares masih meracau tanpa arah, pandangan matanya tak sengaja menangkap seorang wanita yang sedang berdiri di halte bus. Dia tidak sendirian, melainkan bersama seorang pria, dan tak lama kemudian keduanya menghilang masuk ke dalam mobil.
“Mareta?” celetuk Ares tanpa mengalihkan pandangan. “Sejak kapan dia ada di kota ini?”
Karena penasaran, Ares melajukan mobilnya lagi mengikuti laju mobil di hadapannya. Ares ingin memastikan apakah itu benar Mareta atau bukan.
Setengah perjalanan, Ares mulai terlihat bingung dan gelisah.
“Inikan ...” Ares menengok ke sekitar sambil memperlambat laju mobilnya. “Mereka datang ke rumahku?” tanya Ares bingung.
Ares melajukan mobilnya lagi, hingga menyusul satu mobil berwarna hitam yang sudah terparkir di halaman rumah.
Karena penasaran, Ares buru-buru mematikan mesin mobil lalu segera melompat turun dari mobil.
“Dia Mareta atau bukan?” Ares semakin penasaran. Dan untuk menghilangkan rasa penasaran itu, maka Ares harus masuk dan melihatnya.
Setelah kedua kakinya menapak di lantai ruang tamu, mata Ares langsung membulat sempurna. Ares mematung sambil memandangi ketiga orang yang sudah duduk di sofa ruang tamu.
“Ka-kau?” Ares bergantian menatap Mareta dan satu pria yang sedang menggenggam erat tangan Mareta.
Pria itu tersenyum. Melepas genggaman tangan kemudian berdiri. “Halo, Ares. Apa kabar?” pria itu memeluk Ares.
Hanya sesaat. Tanpa berkata, Ares langsung mendorong tubuh pria itu hingga lepas dari pelukan.
“Jangan menyentuhku!” gertak Ares.
“Rangga pulang, kau malah membentaknya.” Wanita paruh baya yang disebut ibu tiri oleh Ares ikut bicara.
“Apa aku harus menyambutnya?” tanya Ares bernada sinis. “Pulang atau tidaknya dia, aku tidak peduli.”
“Ares!” gertak suara berat dari arah lain. Ayah muncul dengan raut sengit menatap Ares.
“Kenapa ayah membentakku?” tanya Ares sedikit memiringkan kepala.
“Saudaramu pulang, kau bersikaplah lebih sopan padanya,” pinta Ayah.
“Dia bukan saudaraku!” sergah Ares lantang.
Plak! Satu tamparan melayang di pipi Ares. Semua nampak terkejut. Termasuk Nando yang sedang menuruni anak tangga. Mungkin dia baru selesai dengan tugasnya di ruangan Ares.
Wajah memerah dab dengan napas berderu, Ares memutar bola mata ke arah ayahnya. “Ayah menamparku?” pekik Ares.
“Maaf, Ayah tidak--” Ayah nampak gugup dan bingung. “Ayah tidak bermaksud.”
Ares menyeringai setengah tertawa. Setiap orang yang berada di ruangan ini Ares tatap satu persatu. Setelah puas menatap mereka semua, Ares menghela napas panjang.
“Kau memang hebat Rangga. Kau bisa membuat semua orang menyayangimu. Kau berhasil karena sudah merebut semua milikku.” Terakhir, Ares melirik ke arah Mareta yang berdiri seperti patung.
Tak mau melanjutkan perdebatan lagi, Ares melengos lalu berlari menaiki anak tangga.
“Tunggu, Tuan!” panggil Nando.
“Kau pulang saja. Kita bahas pekerjaan besok.” Ares berkata tanpa menoleh maupun menghentikan langkahnya.
Nando menunduk lalu menuruni anak tangga dengan tenang.
“Saya permisi, Tuan.” Nando langsung pamit pergi.
***
Hidup sebagai anak hasil dari perselingkuhan memang terlihat buruk. Setelah ibu meninggal sekitar 10 tahun yang lalu, Ares terpaksa tinggal bersama ayahnya bersama istri tertua dengan satu anak laki-laki. Di hitung dari umur Ares yang sudah menginjak umur 30 tahun, itu berarti Ares mulai tinggal di sini sejak umur 20 tahun.
Jika bukan karena ayah menjual rumah lamanya secara diam-diam, mungkin Ares tak akan pernah tinggal di rumah ini. Rumah yang menurut Ares penuh dengan sandiwara.
“Aku memang bukan pria kantoran seperti Rangga. Tapi aku bisa membuktikan bahwa dengan waktu tiga tahun saja aku bisa memiliki usaha sendiri.” Ares tengah menggerutu di dalam kamarnya.
“Memiliki usaha sesudah para wanita meninggalkanku dengan kejam.” Ares tertawa getir. “Mungkin karena ini mereka meninggalkanku dulu.”
Ares meraup wajahnya kemudian menjambret handuk di gantungan. Dengan langkah malas, Ares masuk ke dalam kamar mandi.
Jam dinding masih menunjukkan pukul enam lebih tiga puluh. Namun, jika di gunakan untuk mandi sepertinya sudah terlalu larut. Tidak apa, setidaknya dengan mandi mungkin bisa menghilangkan rasa panas dan stres.
“Kau panggil Ares. Suruh dia ikut makan malam,” perintah Bian pada pembantunya.
Pembantunya langsung mengangguk dan segera pergi ke lantai dua.
“Tuan, makan malam sudah siap.” Pembantu itu mengetuk pintu beberapa kali.
“Ya. Aku segera turun,” sahut Ares dari dalam.
Sambil mengancing kemeja tidurnya, Ares mendengus sambil menyeringai. “Ternyata ayah masih mengingatku setelah putra kesayangannya pulang?”
Meski rasanya malas, Ares pun keluar dari kamar. Raganya malas, tapi perut tidak bisa diajak bekerja sama.
Saat berjalan memasuki ruang makan, dada Ares mendadak berdegup lebih cepat dari sebelumnya. Kedua kakinya terlihat sulit di gerakkan.
“Kenapa dia masih di sini?” batin Ares.
“Ayo Ares, kita makan malam bersama.”
Suara panggilan itu membuyarkan lamunan Ares. Suara wanita yang seharusnya Ares panggil Ibu. Ibu tiri.
Membuang napas kasar, Ares pun ikut duduk. Posisi duduk Ares tidaklah menguntungkan karena harus berhadapan dengan Mareta yang posisi duduknya di samping Rangga.
“Apa ada hubungan spesial diantara mereka?” Ares masih saja membatin.
“Ayah senang melihat kita kumpul lagi seperti ini.”
Ucapan Ayah membuat Ares ingin muntah. Melihat wajah Rangga yang sok gagah saja sudah membuat Ares merasakan mual di perut.
Mereka mengobrol sambil mulai menyantap makanannya masing-masing.
“Kemungkinan, besok kalian akan menikah di hari yang sama,” ucap Ana sambil memandangi semua orang yang ada di sini.
Ares dan Rangga saling tatap. Namun, tak lama karena Ares langsung membuang muka.
“Jadi Rangga dan Mareta akan menikah?” batin Ares.
“Jadi, kau juga mau menikah?” tanya Mareta. “Dengan siapa?”
Ares mendecih dan terus mengunyah makanannya. Barulah setelah tertelan habis, Ares berbicara tanpa menaikkan wajah.
“Tak perlu tanya-tanya, bukan urusanmu juga kan?”
Mareta langsung tersenyum getir. Tak mau melihat calon istrinya merasa tersinggung, Rangga membalas ucapan Ares.
“Sopanlah sedikit saat bicara dengan wanita. Dia itu calon kakak iparmu,” jelas Rangga.
“Jadi benar, mereka akan menikah?” batin Ares lagi.
Berdehem, kemudian Ares berkata, “Tidak sopannya di mana? Aku berbicara dengan halus. Harusnya dia yang tidak sopan menanyakan hal itu padaku,” cibir Ares.
“Kau!” Rangga melotot dan hampir saja berdiri. Tapi Mareta langsung mencegahnya.
“Ares besok kau temui Anggun di rumahnya,” pinta Ayah.
“Untuk apa?”
“Jadi namanya anggun ya?” Batin seseorang tengah bicara. Antara Rangga dan Mareta sama-sama sedang berbicara dengan hati mereka masing-masing.
Ayah menghela napas. “Tentu saja supaya kau lebih dekat dengannya.”
Saat ingin membantah, Ares tak sengaja mendapati pandangan menyakitkan di atas meja. Dua tangan tengah bergandengan di atas meja.
“Baiklah, besok aku akan temui dia.” Ares berdiri lalu berjalan meninggalkan ruang makan.
Udara malam di luar tidaklah terlalu buruk. Setidaknya hembusan angin bisa membuat tubuh ini sedikit lebih relaks. Ares mendesah lalu duduk di kursi melengkung di teras rumah.
“Kau tunggu di sini. Aku ambil kunci mobil dulu.”
Suara itu terdengar sampai ke telinga Ares. Dan beberapa detik kemudian, seseorang menyembul dari balik pintu ruang tamu.
“Hai Ares,” sapa Mareta dengan seutas senyum.
Ares tak bisa jika tak melihat wajah cantik wanita di hadapannya ini. “Hai.” Hanya itu yang ke luar dari mulut Ares.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Mareta.
“Baik.”
Rasa dongkol akan masa lalu bersama Mareta tentunya masih membekas. Sebuah rasa yang sebenarnya masih ada dan sulit untuk dihilangkan. Namun, sebisa mungkin Ares harus menutupi rasa gejolak di dadanya bahwa dirinya tengah merindu pada wanita di hadapannya saat ini.
“Jadi ... kau juga mau menikah ya?” tanya Mareta lagi.
Ares hanya mengangguk. Sebuah anggukan yang tak jelas apa maksudnya.
Menikah? Siapa yang mau menikah? Aku? Dengan wanita lusuh itu? Yang benar saja. Ares tengah menggerutu di dalam hati.
“Ayo, sayang.” Suara Rangga menghentikan obrolan kaku antara Ares dan Mareta.
Mareta tersenyum. Mendapat lirikan yang entah apa artinya, Ares hanya diam tapi bola matanya terus mengikuti dua langkah orang itu hingga masuk ke dalam mobil.
“Ayah tahu dia mantan kekasihmu.”
Ares spontan terperanjat saat suara ayah mengejutkannya dari belakang.
“Ayah,” celetuk Ares sambil mencengkeram kuat sandaran kursi kiri dan kanan.
Bian duduk di kursi kosong di samping Ares. “Kau sudah lama berpisah dengannya kan?” tanya Bian.
Ares mengangguk.
“Kau jangan pernah berpikir Ayah membeda-bedakan kalian berdua. Ayah juga sangat menyayangimu.”
Ares memutar pandangan tajam. “Inikah yang disebut tidak membeda-bedakan?”
“Apa maksudmu?”
“Ayah membiarkan Rangga menikahi wanita yang pernah aku cintai. Aku masih cinta padanya, ayah,” ucap Ares. Untuk bagian terakhir, Ares hanya bisa berkata di dalam hati.
“Tapi itu dulu kan? Kau sudah lama berpisah dengannya. Mereka saling mencintai, haruskah ayah melarang mereka?”
Ares menyeringai. “Benar, mereka saling mencintai ya?” Ares manggut-manggut. “Lalu, bagaimana denganku? Kenapa ayah harus menjodohkanku dengan Anggun? Dia tidak selevel denganku.”
“Beginikah cara kau mencintai seorang wanita?” tanya Ayah bernada sesal. “Apa yang salah dengan Anggun? Di cantik, baik. Dan berasal dari keluarga yang baik juga.”
“Aku bisa cari wanitaku sendiri, Ayah,” sergah Ares. “Ayah pikir aku tidak laku?”
“Bukan begitu Ares,” desah Bian. “Ayah hanya ingin melihatmu lebih bertanggung jawab.”
Ares berdiri. Bola matanya terlihat menyala. “Bertanggung jawab yang bagaimana? Menikah dengan wanita pilihan ayah? Iya begitu?”
Ares mendapati ibu tirinya tengah menatapnya dari ambang pintu.
“Bukan ayah yang memilihkan Anggun untukmu, tapi ibu,” sahut Ana saat itu.
“Oh,” pekik Ares dengan bibir terbuka. “Aku tahu sekarang. Jadi ... karena takut anakmu tersaingi, makanya kau mencarikan wanita kampungan?”
Ares geleng-geleng kepala. “Sepicik itukah cara kau dan anakmu menyingkirkanku?!”
“Cukup Ares!” gertak Bian. “Bukan cuma ibumu yang memilihkan Anggun untukmu, tapi ayah juga. Ayah mengenal dekat kakek Anggun.”
“Terserah!” tepis Ares. “Jika itu membuat keluarga ini puas, maka akan aku lakukan. “Dengan satu syarat!” Ares mengacungkan jari telunjuk sambil melotot.
Bian dan Ana saling pandang lalu bersamaan menatap Ares.
“Aku mau pernikahanku di gelar dengan mewah!” pinta Ares dengan lantang. “Satu lagi, Aku tak mau pernikahanku disatukan dengan Rangga. Tak sudi Aku!”
Setelah mengucapkan kalimat bernada tinggi itu, Ares langsung berlenggak masuk ke dalam rumah. Ini sebuah pilihan tepat atau bukan, yang jelas Ares menyetujui untuk menikah dengan Anggun.
***