Teman-teman Steven hanya menatap kepergian Steven bersama gadis yang menurut mereka sangat berani.
"Apa kau yakin Steven bakal meniduri gadis itu?" tanya Gerald pada Bernard dan Carry.
"Mungkin saja hal itu akan terjadi. Lihat saja wajah Steven begitu serius, aku yakin dia dan gadis itu bakal melewati malam panas malam ini," sahut Bernard.
Carry hanya diam dan masih menatap ke arah pintu. Sebenarnya, dia merasa sedikit familiar dengan wajah gadis itu, tetapi dia tidak yakin di mana dia pernah menemukan gadis itu.
Sementara, di tempat Steven pula. Kini, mereka telah sampai di parkiran mobil. Steven telah melepaskan pegangan tangannya pada Shania dan menatap Shania dengan tatapan tajam.
"Kenapa kau bisa berada di tempat ini?" tanya Steven, "bukankah kau seharusnya berada di rumah sakit. Menjaga ibumu?" lanjut Steven lagi.
Shania langsung mengerutkan dahinya. Dari mana pria ini tahu? Begitulah pikirnya. Ternyata benar dugaannya bahwa dia pernah bertemu dengan pria ini karena tahu tentang ibunya.
"Sebenarnya kau siapa?" tanya Shania merasa aneh.
"Kau benar-benar melupakanku?" Steven kembali bertanya sambil menghidupkan rokok cerutunya.
Shania diam dan coba memikirkan lagi, di mana dia pernah bertemu dengan pria ini. Namun, hasilnya masih sama dia tidak bisa mengingatnya.
"Sudahlah, kalau kau tidak bisa mengingatku, kita lanjut saja ke tujuan utama." Steven membuka pintu mobilnya lalu menyuruh Shania masuk.
Sepanjang perjalanan Shania terlihat gelisah, apa dia bakal kehilangan sesuatu yang dia jaga selama ini, sedangkan Steven yang memiliki rasa benci terhadap Shania sangat puas bisa mendapatkan kesempatan untuk merusakkan Shania.
Singkatnya, kini mereka telah berada di apartemen Steven. Shania memasang wajah begitu santai walaupun dia sedang berperang dengan pikirannya sendiri.
"Masuk ke kamar itu dan bersihkan dirimu," perintah Steven.
Shania mengangguk dan mengikuti saja ucapan Steven. Setelah memasuki kamar, Shania langsung berlari memasuki kamar mandi. Jantungnya berdebar dengan kencang.
'Hanya ini caranya! Shania, hanya malam ini kau bisa mendapatkan uang karena besok belum tentu bisa!' batin Shania sembari menatap wajahnya pada cermin kamar mandi.
30 menit telah berlalu, Shania telah selesai membersihkan dirinya. Dia pun keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk kimono yang tersedia di dalam kamar mandi itu.
Ketika kakinya melangkah menuju ke arah ranjang, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan muncul pula Steven dari balik pintu itu.
Shania terkaku di tempat, dia menatap Steven dengan wajah yang sudah berubah warna menjadi semerah tomat. Tubuhnya tiba-tiba saja gementar dan dia mulai merasa panas dingin.
Steven pula terus saja berjalan ke arah Shania dengan wajah yang terlihat begitu santai, namun sudut bibirnya sedikit terangkat.
Saat mereka telah berhadapan, Steven pun mulai menarik pinggang Shania agar lebih merapat pada tubuhnya.
"Aroma kau sangat wangi, aku suka!" Steven mengendus ceruk leher Shania tanpa permisi.
Sementara, Shania masih merasa kaku dan geli. Apalagi, ini baru pertama kali ada yang mendekati dirinya dengan begitu intens.
"Aku akan membayarmu lebih kalau kau benar masih perawan," bisik Steven.
"1 miliar dollar," sahut Shania dengan berani.
"Baiklah!" Steven menerima ucapan Shania.
Walaupun, sebenarnya Steven tidak yakin sama sekali bahwa Shania masih gadis yang belum pernah disentuh. Hanya saja dalam hati dia mengejek Shania dan jika benar Shania sudah tidak perawan lagi, dia akan menambah beban hidup Shania dengan lebih banyak lagi.
"Kita mulai dan jangan pernah menyesalinya!" bisik Steven lagi.
Shania pun mengangguk, dia telah memantapkan hatinya demi mendapatkan uang untuk biaya rumah sakit sang ibu. Shania sangat rela berkorban!
Steven perlahan membawa Shania ke arah atas ranjang. Sentuhan demi sentuhan pada tubuh Shania sama sekali tidak dia lepaskan.
Awalnya, Shania hanya memejam matanya dan memaksa dirinya untuk bekerjasama demi uang. Hingga akhirnya, bunyi lenguhan mulai lolos dari bibir Shania ketika Steven meremas kedua gunung berkembarnya dengan begitu ganas.
'Sial, payudaranya sangat kecil dan imut!' gerutu Steven dalam hati.
Semakin lama suasana kamar menjadi semakin panas, Steven mulai menelanjangi Shania dengan begitu bernafsu. Ketika tubuh Shania terpempang jelas di hadapan Steven, dia sempat kagum karena tubuh dan kulit Shania sangat mulus dan bersih juga tidak memilik lecet sedikit pun.
"Tolong, jangan tatap aku seperti itu," pinta Shania dengan lirih.
Steven hanya diam, dia juga melepaskan pakaiannya dan mulai menaiki Shania. Tidak ingin menunggu dengan lama, jari tangan Steven mencoba mencari celah untuk memasuki mahkota Shania.
"Kau sudah begitu basah dan ... licin," goda Steven.
Shania menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya, merasa malu dengan ucapan Steven setelah menyentuh mahkota miliknya.
Tiba-tiba bunyi teriakan suara Shania menggema di dalam kamar Steven. Air mata Shania pecah dan mulai membasahi wajahnya.
"Ssst, sakit tolong aku tidak mampu! Hentikan tolong hentikan," pinta Shania.
Steven pula kaget karena merasa sesuatu telah pecah dan mengalir ke atas ranjang miliknya. Dia coba meraba menggunakan tangan dan mendapati warna merah telah melekat pada telapak tangannya.
"Sial! Kau benaran perawan!" ucap Steven dengan sedikit beremosi.
Akan tetapi, Steven tidak.mampun untuk berhenti dan terus saja melanjutkan kegiatan berbagi keringat di atas ranjang miliknya.
'Aku sudah melampaui batas!' batin Steven.
Malam panas tetap saja berlanjutan dan pekikan yang awalnya terdengar sumbang kini terdengar indah. Kedua manusia itu saling memenuhi satu sama lain tanpa mereka sadar.
*
"Aku tidak menyangka Kak Stev, diam-diam tidur bersama gadis malang ini!" ucap Stella dengan marah.
"Jangan salahpa--" ucapan Steven terhenti ketika Stella kembali menyela.
"Aku tidak mau tahu! Aku hanya mau Kak Stev bertanggungjawab dan tolong jangan jadi pria brengsek! Kau masih memilik seorang adik perempuan!" sela Stella.
"Stella, aku akan bertanggungjawab membayarnya. Kau tidak perlu khawatir," sahut Steven santai.
Bugh!
Tiba-tiba bantal sofa melayang ke arah Steven dan tepat mengenai wajah Steven.
"Bukan dengan membayar berarti bertanggungjawab, tetapi nikahi dia!" tegas Stella.
Steven membulatkan matanya, dia menatap wajah Stella dengan seksama lalu menoleh ke arah Shania yang dari tadi hanya tertunduk dan membisu.
"Kalau Kak Stev, tidak menikahi gadis malang ini berarti Kak Stev merelakan karma mengenai diriku," ancam Stella.
Steven selalu saja kalah jika berdebat dengan Stella adik kesayangannya itu. Hingga akhirnya dia hanya bisa menghela napas panjang dan menuruti ucapan Stella.
Mana mungkin Steven rela karma itu terjadi pada Stella, sedangkan yang berbuat adalah dirinya.
"Baiklah, sekarang kami akan menikah! Kau, cepat bersiap kita ke biro catatan sipil untuk menjelaskan status kita. Setelah itu kita ke gereja untuk menemui pendeta," jelas Steven.
"Hah?"
Bersambung...
Pernikahan antara Shania dan Steven terjadi sekelip mata. Kini mereka telah pulang dari pemberkatan oleh pendeta di gereja.
Shania tidak bisa berkata apa-apa, entah kenapa dia hanya diam dan mengikuti saja ucapan kedua beradik tersebut. Sementara, Stella pula terlihat begitu puas.
"Oh ya, Kak Shania. Sekarangkan, Kakak sudah menjadi seorang istri. Jadi aku harap, Kakak bisa memutuskan hubungan Kakak dengan pacar Kakak karena status Kakak bukan lagi lajang," saran Stella yang penuh dengan maksud tersirat.
"Maaf, tetapi aku tidak punya pacar," jawab Shania.
"Le-- err maksud aku, benarkah?" tanya Stella lagi.
Shania hanya mengangguk saja untuk membenarkan kata-katanya, sedangkan Steven hanya diam menatap ke arah jalan raya yang penuh dengan kenderaan.
Tiba-tiba Shania teringat dengan kejadian 2 minggu yang lalu dan ternyata ini bukanlah kali pertama dia bertemu dengan Steven dan Stella.
'Ck, ternyata waktu itu ya! Pantas saja dia tahu tentang ibu,' batin Shania sambil dalam diam mencuri pandang ke arah Steven.
Kini mereka telah sampai di apartemen milik Steven, sedangkan Stella pamit untuk pergi ke kantor dan memberikan waktu untuk Shania dan Steven bersama.
"Uang 1 miliar yang kau janjikan?" tanya Shania.
Steven menoleh ke arah Shania lalu tersenyum miring. Dia pun berjalan ke arah Shania dan ketika mereka telah berhadapan, Steven mencengkaram dagu Shania dengan kuat.
"Wanita matre! Ternyata kau sengaja menjebakku," ucap Steven. "Aku akan memberimu uang, tetapi aku harus tahu dulu. Uang itu untuk apa?" lanjut Steven.
"Kau sudah sepakat denganku dan jangan masuk campur urusanku!" jawab Shania ketus.
Steven berdecih, dia melepaskan cengkeram tangannya pada dagu Shania dengan kasar. Dia membalikkan tubuhnya lalu mengeluarkan kartu atm dan dilemparkan ke atas lantai.
"Di dalam itu ada uang 1 miliar dan pinnya 000000. Silakan ambil," ucap Steven.
Steven dengan jalan santainya meninggalkan Shania di ruang tamu sendiri. Sebenarnya dia sendiri merasa pusing dengan keputusan yang dia ambil.
Shania langsung saja mengambil kartu atm itu lalu keluar dari apartemen Steven. Dia tidak peduli dengan dirinya yang direndahkan karena yang penting dia mendapatkan uang biaya pengobatan sang ibu.
Setelah tiba di rumah sakit, Shania langsung melunasi biaya pengobatan sang ibu dan biaya untuk operasi pengangkatan kanker.
Mahen mengatakan pada Shania bahwa operasi akan dijalankan besok malam dan meminta Shania berdoa untuk kelancaran dan keselamatan sang ibu.
Saat ini, Shania sedang duduk di sisi ranjang brankar ibunya. Dia tersenyum sembari mengusap tangan milik ibunya.
"Ibu, Nia sudah mendapatkan uang. Ibu akan sembuh dan Nia berjanji akan terus berusaha dan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik kita," ucap Shania.
Tiba-tiba pintu ruang inap ibu Shania terbuka dan muncullah Leonard.
"Shania ...," panggil Leonard.
"Ibu, Nia keluar sebentar ya. Nanti Nia akan kembali menemani Ibu," pamit Shania pada ibunya.
Shania keluar dari ruang inap sang ibu dan disusuli oleh Leonard.
"Shania, apa maksud pesanmu? Aku tidak mengerti," ucap Leonard.
"Kita bicara di kafe depan saja, Leo," jawab Shania.
Leonard dengan wajah yang khawatir pun mengikuti saja ucapan Shania karena dirinya memang butuh penjelasan dari Shania tentang pesan yang dikirim oleh Shania tadi pagi.
Di kafe depan rumah sakit.
"Apa maksudmu kau sudah menikah? Menikah dengan pria mana? Apa jangan-jangan kau menjual diri kau ke om-om biar bisa dapat uang?" tanya Leonard dengan beruntun.
"Bisa tidak tanya tu cukup satu soalan saja," jawab Shania.
"Tidak-tidak! Aku sudah diberi tanggungjawab untuk menjaga kau, Shania dan kau tiba-tiba memberiku kabar yang aku sendiri tidak mengerti maksudnya," protes Leonard.
"Apa yang kau tidak mengerti, semuanya sudah aku katakan dalam pesan tadi pagi. Aku sudah menikah dan mendapatkan uang untuk pengobatan ibu," jelas Shania.
"Tapi alasannya apa? Kenapa kau tiba-tiba menikah?" tanya Leonard masih tidak puas.
Shania menatap Leonard dengan tatapan sendu, dia menghela napas panjang lalu menceritakan semua yang terjadi dan kenapa begitu cepat.
"Tapi kau menikah dengan orang yang kau tidak kenal dan sama sekali tidak mencintainya. Apa kau bisa? Pernikahan bukan hal main-main Shania," ucap Leonard setelah mendengar semua penjelasan Shania.
"Aku tahu, Leo. Aku tidak jamin pernikahan ini akan bertahan atau tidak tapi yang penting ibu sudah terselamatkan," jawab Shania.
"Maafkan aku, aku telah gagal menjaga kau ... Nia," sahut Leonard dengan lirih dan mulai menunduk karena merasa bersalah.
"Bukan salah aku, Leo. Anggap saja ini adalah takdir. Kau juga belum gagal, Leo. Kau sedang berusaha membantu aku mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milik aku dan ibu," kata Shania.
*
"Apa! Natalia akan dioperasi? Tapi dari mana mereka mendapatkan uang?" tanya Johnsen pada anak buah yang selalu memberi laporan tentang Shania dan ibunya.
"Maaf Tuan, saya belum bisa pastikan karena sudah 3 hari ini Shania tidak bisa ditemukan, tetapi ketika dia datang ke rumah sakit dia langsung melunaskan biaya pengobatan dan biaya operasi ibunya," jelas anak buah itu.
"Ck, jangan sampai mereka punya rencana kalau Natalia kembali sembuh, apalagi Shania sudah hampir genap berumur 19 tahun," ujar Johnsen yang terlihat khawatir.
Johnsen mulai mencari ide untuk menggagalkan rencana operasi Natalia berjalan lancar karena bisa saja setelah Natalia sembuh mereka menuntut hak milik mereka. Apalagi, dalam beberapa bulan lagi Shania akan genap berumur 19 tahun seperti di dalam surat wasiat yang pernah ditulis oleh mendiang ayah Shania.
Entah apa yang akan dilakukan oleh Johnsen, karena dia tidak akan membiarkan hal ini terjadi.
"Pah, kenapa tidak kita bunuh saja keduanya," ucap Calista yang merupakan istri Johnsen.
"Jika kita hendak melakukan itu, kita harus ada rencana yang mantap Sayang, jangan sampai bertindak gegabah," sahut Johnsen.
"Kita bisa lakukannya seperti 5 tahun yang lalu," ujar Calista memberi ide.
Johnsen melihat sang istri lalu tersenyum. Ada benarnya juga, kenapa tidak melakukan rencana seperti 5 tahun yang lalu. Johnsen memuji Calista karena sarannya sungguh masuk akal.
Untuk saat ini mereka akan berdiam saja karena Johnsen ingin melenyapkan sekaligus dua orang yang bisa menggugat posisinya di perusahaan yang dikendali oleh Johnsen saat ini.
'Cristo, maaf! Tapi perusahaan kau harus menjadi milikku,' batin Johnsen.
**
Steven membaca dokumen yang telah dia minta untuk ditandatangani oleh Shania. Sudut bibirnya terangkat.
"Bagus Sean! Semua ini akan memudahkan aku untuk membalas dendam 5 tahun lalu," ujar Steven.
'Shania, Shania ... aku akan membuat kau hidup menderita dan berakhir dengan tragis seperti yang dirasakan oleh Melinda,' ucap Steven dalam hati.
Steven meletakkan dokumen itu di atas meja lalu memasang wajah yang menakutkan. Rasa marah masih saja membuncah di dalam hatinya karena kematian mendiang tunangan yang sangat dia cintai.
"Kau tunggu giliranmu!"
Bersambung...