Bab 2

Ingat! Aku akan membalas atas apa yang pernah kamu lakukan sama aku. Jangan pikir dengan Mama yang membela kamu, aku akan mudah jatuh cinta sama kamu. Dan menganggap kamu itu istri aku!" tambah Radit membuat Salsa tambah jengah mendengar ucapan suaminya.

'Ya Allah kenapa aku harus jadi istri dia sih? Kenapa tidak Ryan saja yang jadi jodohku? Kenapa malah Ryan meninggalkanku?' batin Salsa tidak terima dengan pernikahan yang baru saja dilaksanakan.

"Melamun lagi, sana istirahat. Aku mau keluar, lama-lama dekat sama kamu membuat kepalaku pusing!" ucap Radit dan meninggalkan kamar dimana istrinya dirawat.

Klek...

Radit berjalan menuju mushola setelah menutup pintu, karena sebentar lagi masuk waktu shalat dhuhur. Raditya Wijaya umur 27 tahun seorang pengusaha muda yang sangat pintar dalam mengelola usaha hingga bisnis yang dijalankan semakin bertambah besar.

Selain menjadi pengusaha yang piawai dia juga seorang anak yang selalu patuh pada kedua orang tuanya. Di balik sikap dingin, tegas dan disiplin dia termasuk anak yang sholeh. Sesibuk apapun pekerjaan yang dia kerjakan, Radit tidak akan pernah meninggalkan kewajiban untuk shalat lima waktu.

Selesai shalat dia berdoa sebentar untuk kesembuhan Salsa. Lalu dia berjalan ke kantin untuk membeli makan. Dari tadi pagi sebelum ijab Radit tidak sempat sarapan dan sampai sekarang belum ada makanan yang masuk ke dalam perutnya.

"Halo, Andi tolong kamu cari tau gadis yang bernama Salsabila Ayu. Hanifa. Segera!" perintah Radit pada asisten pribadinya setelah duduk di kursi.

"Salsabila Ayu Hanifa? Gadis yang kemarin menyiram tuan waktu di kantin?" tanya Andi memastikan.

"Benar, jangan lama-lama dua hari cukup? Nanti aku kirim fotonya!" sahut Radit dengan tegas. Orang di kantor tidak ada yang tau jika hari ini dia menikah.

"Baik Tuan, akan segera saya laksanakan!" jawab Andi dengan mantap dan mematikan sambungan.

Tepat setelah telepon tertutup makanan yang tadi Radit pesan datang, dengan lahap dia memakan makanan yang ada di meja tanpa ada sisa sedikitpun.

Pertemuan pertama yang tidak mengenakan ditambah permintaan sang Mama yang tidak masuk akal membuat Radit terus mengingat kejadian setelah kecelakaan itu.

Dimana sang Mama sangat panik dan terus menangis di ruang tunggu. Semua karena operasi yang dijalani Salsa tidak kunjung selesai. Bu Risma takut jika terjadi sesuatu pada gadis itu. Dan lebih parahnya lagi setelah operasi selesai bukannya keadaan semakin membaik keadaan Salsa semakin menurun. Tidak hanya itu sudah tiga hari gadis itu tak kunjung sadar. Sehingga sang Mama mengucapkan janji yang tidak masuk akal itu.

"Radit, kamu sudah tahu password ponsel Salsa?" tanya Bu Risma ke Radit yang menunggui Salsa di luar ruangan.

"Sudah Ma, bagaimana jadi mau memberitahu keluarga gadis itu? Atau biar nanti saja saat dia sudah sadar?"

"Sekarang saja Dit, mungkin dengan doa orang tuanya. Salsa bisa segera sadar. Dan nanti jika dia sudah sadar Mama ingin dia jadi anak Mama,"

"Anak Mama? Maksudnya?"

"Iya, anak Mama dan jadi istri kamu. Dia anak baik Dit, Mama minta kamu maunya menikah dengan dia setelah dia sadar. Mama mohon, Mama tidak ingin dia jauh dari Mama,"

"Mama! Kita tidak tau asal usul dia, Papa nggak setuju. Iya kalau dia dari keluarga baik-baik? Kalau dia dari keluarga tidak benar?" sergah Pak Wijaya yang tidak setuju.

"Pa, maksud Papa tidak setuju, karena Papa takut dia dari keluarga yang tidak setara dengan kita? Sejak kapan Papa membedakan derajat manusia? Apa Papa lupa dulu kita juga orang yang tidak punya? Mama yakin, Salsa gadis yang tepat untuk mendampingi Radit,"

"Tapi aku setuju sama Papa, Ma. Aku tidak ingin menikah tanpa ada cinta, apalagi ini kenal juga tidak? Pernikahan macam apa yang nanti akan aku jalani Ma?" sahut Radit yang tidak terima.

"Dia gadis yang baik. Kalau dia tidak menyelamatkan Mama pasti yang terbaring tidak sadar itu Mama. Dan asal kalian tau, mungkin Mama bisa meninggal karena orang yang mengendarai mobil saat itu sangat kencang. Telpon orang tua Salsa sekarang, Dit!"

"Terserah Mama,"

Radit menelpon kontak yang bertuliskan Bapak. Setelah tersambung dia menceritakan keadaan Salsa meminta doa agar Salsa segera sadar. Tidak hanya itu Bu Risma memberitahu keinginannya untuk menikahkan Radit dan juga Salsa setelah dia sadar.

Penolakan juga yang di ucapkan oleh orang tua Salsa. Mereka tidak setuju, namun akhirnya setelah diyakinkan mereka menyetujui dengan syarat nikah siri terlebih dahulu. Dan segera datang ke rumah untuk membicarakan lebih serius.

*** (di kamar rawat Salsa)

"Selamat siang Mbak... Bagaimana, masih ada yang dikeluhkan?" ucap Dokter yang memeriksa keadaan Salsa.

"Siang Dok, alhamdulillah sudah tidak ada, tinggal badan masih terasa lemas kadang kepala juga masih pusing," jawab Salsa jujur.

"Tidak masalah, kok sendirian? Di mana suaminya?" tanya Dokter setelah selesai memeriksa.

"Saya di sini Dok, bagaimana keadaan istri saya?" ucap Radit berpura-pura manis di depan Dokter.

"Alhamdulillah semua baik dan semua normal. Tinggal pemulihan saja satu atau dua hari juga sudah bisa pulang. Tapi jangan honeymoon dulu, tunggu dia benar benar pulih baru bepergian jauh," ucap Dokter menggoda mereka. Senyum penuh kepalsuan yang diberikan Radit dan juga Salsa.

Setelah dokter pergi dan hanya tinggal mereka berdua, tatapan sinis langsung diberikan Radit. Apalagi melihat makanan di atas nakas yang masih utuh, membuat Radit semakin jengkel. Segera dia ambil dan Radit menyuapi Salsa dengan tidak ikhlas.

"Biar aku saja, aku bisa kok!" ucap Salsa yang hampir tersedak karena ulah Radit.

"Kalau bisa, kenapa tidak dari tadi? Sengaja, mau aku suapi dulu?" ujar Radit dengan sinis.

"Aku lagi tidak ingin debat sama kamu, aku tadi tidak tahu kalau sudah disediakan makanan. Dari tadi kepalaku pusing dan aku buat tidur!" sahut Salsa dengan lembut dan mengambil piring yang dipegang Radit.

Dengan perlahan nasi yang ada di piring sudah habis, walau dengan paksaan karena Radit terus menatapnya dengan tajam.

'Penderitaan kamu akan segera dimulai setelah sampai rumah Salsabila Ayu Hanifa, jangan berpikir untuk jadi Ratu di rumahku nanti,' batin Radit dan tersenyum licik.

"Kenapa senyum senyum begitu? Jangan bilang mau minta macem-macem. Aku tidak mau melakukan hal yang lebih sebelum ada cinta diantara kita!" ucap Salsa polos.

"Ck.. Siapa juga yang mau itu, aku juga tidak nafsu lihat kamu. Kepedean!" sahut Radit dengan senyuman penuh tanda tanya.

"Syukurlah... terus kenapa kamu tersenyum begitu?" tanya Salsa dengan wajah merona karena telah salah sangka berpikiran yang jauh.

"Adalah... nanti kalau sampai rumah kamu juga akan tau sendiri! Yang jelas persiapkan mental dan fisik kamu, oke! Aku mau pulang ganti baju, nanti balik lagi! Jangan mencoba untuk kabur!"

Bab 3

Klek...

Pintu ruangan tertutup dan Radit meninggalkan Salsa sendirian. Radit berjalan menuju ruangan perawat untuk meminta bantuan. Dia tidak tega meninggalkan Salsa sendirian. Apalagi kalau sampai Bu Risma tahu pasti dia akan kena semprot.

"Permisi Sus, boleh saya minta tolong?" tanya Radit dengan sopan.

"Iya Pak, ada apa? Apa ada masalah dengan Mbak Salsa?" tanya suster yang berjaga.

"Tidak, saya cuma mau minta tolong jagain istri saya sebentar. Soalnya saya mau pulang dulu, tapi nanti segera balik kok!"

"Owalah... bisa Pak, tidak usah khawatir nanti saya akan menemaninya sampai anda kembali,"

"Oh satu lagi Sus, di dalam aku pasang kamera tolong jangan dimatikan. Soalnya saya tidak tenang meninggalkan dia sendirian. Saya ingin tetap menjaga dia walau jauh," ucap Radit bohong.

"Baik Pak! yang baru nikah, maunya dekat dekat terus. Semoga lekas dapat momongan Pak!" goda Suster. Radit hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan sangat Suster.

Radit melajukan mobilnya membelah jalanan untuk menuju apartemen. Dia tidak kembali ke rumah, karena pasti sang Mama akan mengomel karena meninggalkan Salsa sendirian.

Sesampainya di apartemen Radit segera masuk kamar dan langsung menyalakan laptop. Melihat Salsa tidur dia segera mandi dan mengganti baju. Dia ingin merebahkan badan sebentar sebelum kembali ke rumah sakit.

Di layar laptop terlihat Suster masuk dan membawa paper bag yang berisi baju ganti untuk Salsa. Mata Radit terpejam tapi dia masih bisa mendengar percakapan antara Suster dan Salsa.

"Mbak Salsa, bagaimana keadaan kamu? Ada yang masih dikeluhkan?"

"Nggak Sus, tinggal lemes saja. Oh ya Sus, boleh minta tolong?"

"Apa, Mbak? Mau makan sesuatu?" tanya Suster dengan sigap.

"Aku mau mandi Sus, badanku terasa lengket. Sudah boleh kan?"

"Boleh dong, ayo saya bantu!" ujar Suster dan membantu Salsa menuju kamar mandi.

Tidak sengaja saat Salsa keluar dari kamar mandi tanpa mengenakan hijab, membuat Radit terpesona. Pandangan matanya membulat sempurna tertuju pada wajah Ayu Salsa.

"Sial, kenapa aku jadi kayak gini! Ingat Radit, kamu belum balas dendam dan belum tau siapa dia sebenarnya!" ucapnya memperingatkan diri agar tidak jatuh cinta sama Salsa.

Tapi tidak dipungkiri hatinya berdesir melihat wajah Salsa yang fresh. Radit segera menutup dan mematikan laptop untuk segera datang ke rumah sakit. Dia ingin melihat Salsa dan menemaninya. Entah perasaan macam apa yang dia rasakan. Di saat dekat pengennya ngajak berantem tapi saat jauh dia ingin segera bertemu.

***

"Sus, makasih sudah mau membantu saya. Rasane seger banget, Suster boleh balik. Aku tidak masalah sendirian!" ucap Salsa tidak enak karena mengganggu pekerjaan Suster.

"Tadi saya diminta Pak Radit buat menemani kamu. Dari tadi juga jam kerjaku sudah habis. Kamu tenang saja! Kalau saya pergi nanti saya tidak enak sama suami kamu. Mbak Salsa beruntung punya suami kayak Pak Radit, penyayang, perhatian dan romantis juga. Nemu dimana mbak?"

"Suster ini bisa saja, tapi saya beneran Sus, nanti saya yang bilang ke dia. Suster pulang saja. Pasti capek sudah kerja seharian, setelah itu mengurus aku," ujar Salsa sambil memakai hijab lagi.

Klek...

Radit muncul setelah pintu terbuka. Dia memakai baju santai dan berjalan menuju Istrinya. Radit mengecup kening Salsa sebelum duduk di kursi yang ada di sebelah tempat tidur.

Mendapat perlakuan manis dari Radit membuat jantung Salsa berdetak lebih cepat.

"Pak disini masih ada saya, tolong jangan buat saya iri," ucap Suster dengan tersenyum. Wajah Salsa memerah mendengar godaan sangat Suster.

"Pak, saya juga mau pamit! Saya permisi dulu," pamit Suster dan meninggalkan mereka berdua di kamar.

Kebisuan dan canggung yang dirasakan mereka berdua. Salsa masih tersipu malu dengan apa yang barusan dilakukan Radit. Sedang Radit tetap cuek dan bermain ponsel untuk mengurangi debaran jantung dan juga malu telah mencium kening istrinya.

"Emmm... Mas, handphone saya dimana ya. Dari tadi aku cari gak nemu," ucap Salsa memecah keheningan.

"Astaga, handphone kamu ketinggalan di rumah. Tadi kebawa, kayaknya masih ada di kamar!" ucap Radit sambil menepuk jidat. Dia tadi sengaja bawa ponsel Salsa karena ingin tau informasi yang lebih.

"Ya, sudahlah. Tapi kenapa harus kamu bawa pulang?" protes Salsa tidak suka.

"Buat jaminan kalau kamu kabur! Mau telfon bapak? Nih pakai ponselku saja. Tadi ponsel kamu lowbat jadi aku cas malah ketinggalan. Oh ya, Sa, kamu kenapa kabur dari rumah? Lagi ada masalah?"

"Aku tidak suka aja dijodohkan, sebenarnya tidak kabur tapi….ingin mencari pacar ku yang tiba-tiba nggak ada kabar. Sedang orang tuaku meminta aku untuk segera menikah, kalau mas Ryan nggak segera datang ke rumah aku mau dinikahkan sama orang lain. Makanya aku kesini, sekalian cari kerja,"

"Sama aja kamu kabur. Terus sudah ketemu? Sudah kamu coba hubungi dia lagi? Tapi kenapa kamu malah mau nikah sama aku?"

"Mama kamu maksa, lagian kalau aku mau kabur juga belum bisa. Belum, kemarin saat aku baru sampai sudah aku coba hubungi dia, tapi tetap masih nggak aktif. Malah sekarang keadaannya jadi gini. Bingung harus bagaimana. Di satu sisi aku masih sayang banget sama dia. Tapi di sisi lain aku dah jadi istri kamu. Nggak mungkin juga aku cari dia lagi!"

"Rumit juga hidup lo. Eh, tapi kenapa dia bisa pergi gitu saja? Atau jangan jangan dia sudah punya cewek di sini?"

"Nggak, katanya dia belum siap untuk nikah. Ya sudahlah, aku terima takdirku. Mungkin dia bukan jodohku,"

Hati Radit tersentuh mendengar cerita istrinya. Walaupun dia belum pernah pacaran, tapi dia tau rasa sakit dan kecewa yang sedang dialami Salsa. Sedang Salsa terus saja memandang lurus ke depan. Pikirannya mengelana entah kemana, hingga ucapan salam dari balik pintu membuyarkan lamunan mereka.

"Assalamualaikum, bagaimana keadaan kamu?" tanya Bu Risma yang datang bersama suaminya.

"Baik Bu," jawab Salsa seraya mencium tangan mertuanya bergantian. Begitu juga dengan Radit, dia mencium tangan kedua orang tuanya bergantian.

"Panggil Mama, sayang... jangan Bu," Protes Bu Risma karena panggilan Salsa. Ucapan beliau hanya di jawab senyuman oleh Salsa.

Sebenarnya Salsa masih canggung dengan semua keadaan ini. Setelah beliau duduk di tempat yang tadi di duduki Radit, Bu Risma mulai mengajak bicara Salsa. Tidak hanya bicara Bu Risma ingin mengenal lebih jauh tentang Salsa.

Dengan santai Salsa bercerita tentang kehidupan dia sebelum datang ke Jakarta. Tapi ada yang disembunyikan oleh Salsa. Dia tidak menceritakan hubungan dia dengan Ryan. Mendengar semua perkataan Salsa, Bu Risma semakin yakin hanya Salsa yang pantas mendampingi Radit.

Sedang Pak Wijaya sudah mau mulai menerima Salsa. Semua juga berkat sang istri karena telah mengingatkan masa lalu mereka. Dulu Pak Wijaya bukanlah orang terkenal seperti saat ini. Dulu keluarga Wijaya hanya keluarga yang miskin namun berkat kerja keras, usaha dan doa yang selalu dipanjatkan dan juga selalu bersedekah, membuat mereka bisa sampai di titik ini.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED