Pagi itu, suasana dapur terasa lebih dingin dari biasanya, padahal kompor sudah menyala. Dinginnya itu berasal dari hati Lia sendiri. Dia masih harus pura-pura sibuk mengaduk-aduk bubur kacang hijau - menu penyelamat di tanggal tua yang selalu jadi andalan kalau jatah belanja cuma dua puluh lima ribu.
Lia berdiri di depan panci, mencium aroma manis kacang hijau yang seharusnya menenangkan. Tapi hatinya, justru bergolak.
"Lia! Cepat sedikit! Kamu masak jam segini baru selesai? Anak saya harus sarapan sebelum berangkat kerja!" Suara Mami Sandra yang tajam sudah membelah udara dari ruang makan, bahkan sebelum Lia sempat mengangkat panci.
"Iya, Mi. Sudah mau matang," jawab Lia pelan, tanpa berbalik. Matanya fokus pada gelembung bubur.
Biasanya, cacian pagi dari mertua akan langsung merusak mood-nya seharian, bahkan bisa bikin dia menangis diam-diam di kamar mandi. Tapi hari ini berbeda. Di saku daster lusuhnya, tersimpan uang kertas sepuluh ribuan. Itu adalah sisa dari cuan hasil tulisan semalam, yang dia tarik tunai diam-diam di ATM dekat gang.
Rasanya aneh. Dia masih harus dihina karena bubur kacang hijau yang harganya cuma belasan ribu, tapi di saku, dia punya power kecil. Kekuatan itu membuat bahunya tegak sedikit, dan kata-kata Mami Sandra hanya terdengar seperti dengungan nyamuk yang mengganggu, tidak lagi merobek perasaannya.
"Mami Sandra itu tidak tahu betapa susahnya bikin bubur kacang hijau ini bisa mengenyangkan enam perut. Semuanya harus dihemat, porsi airnya harus lebih banyak dari kacangnya," batin Lia, senyum kecil-senyum sinis-terukir di bibirnya.
Setelah sarapan usai, Dion seperti biasa, menghitung lagi uang sisa kembalian belanja Lia. Itu rutinitas paling memuakkan. Lia harus menyodorkan kuitansi kecil (yang dia tulis sendiri karena warung sayur tidak pakai kuitansi) dan sisa uang lima ratus perak.
"Ini apa? Cabai mahal lagi? Kenapa kamu beli cabai yang harganya hampir sama dengan beras seperempat kilo? Kan sudah saya bilang, pakai cabai rawit yang di pasar itu saja, lebih murah!" protes Dion, menunjuk-nunjuk catatan Lia dengan pensil.
"Mas, cabai rawit yang di pasar itu busuk, Mas. Kalau aku beli yang busuk, Mami juga yang marah nanti," jawab Lia, berusaha sabar.
Dion mendengus. "Alasan! Kamu itu boros. Jatah kamu dua puluh lima ribu, besok akan saya kurangi jadi dua puluh ribu kalau kamu tidak becus mengurus uang."
Ancaman itu seharusnya membuat Lia panik. Dua puluh ribu? Itu sudah gila! Tapi kali ini, Lia hanya menatap Dion lurus-lurus. Di kepalanya, dia sedang menghitung: Rp 20.000? Nggak masalah. Aku semalam dapat Rp 150.000. Aku bisa beli lauk yang jauh lebih enak dan bilang kalau itu 'hadiah dari teman'.
"Terserah Mas saja," kata Lia, suaranya datar.
Dion mengangkat alis, terkejut dengan respon Lia yang tidak panik seperti biasanya. "Kamu kenapa? Tumben nggak nangis."
"Nggak apa-apa. Aku cuma lagi mikir, kalau aku pakai jatah dua puluh ribu, berarti besok aku cuma bisa masak nasi sama kerupuk. Kalau Mami protes, Mas yang jelaskan, ya. Aku kan cuma menjalankan perintah," balas Lia, tanpa ekspresi.
Respons balik yang dingin dan logis itu membuat Dion terdiam. Pria itu tidak terbiasa dilawan dengan ketenangan. Biasanya Lia akan merengek atau membela diri dengan emosi. Melihat Dion bungkam, Lia merasa sedikit puas. Dia akhirnya bisa mengendalikan emosinya sendiri, dan itu mahal harganya.
Sejak hari itu, kehidupan Lia berubah menjadi sebuah sandiwara yang ia mainkan dengan sangat baik. Pagi sampai sore, ia adalah Alisa si Ibu Rumah Tangga Malang yang harus berjuang dengan Rp 25.000 dan dimarahi mertua karena telurnya kurang asin. Tapi begitu malam tiba, setelah Dion dan seluruh keluarga tidur, Lia bertransformasi menjadi Lia Sang Penulis Konten Malam.
Dia menulis tentang banyak hal: tips menghemat air, cerita lucu tentang pengalaman naik angkot, bahkan review produk skincare murahan yang dia beli dari uang cuannya sendiri. Pelan-pelan, penghasilannya mulai terkumpul. Tidak banyak memang, tapi konsisten. Setelah seminggu penuh bekerja keras, Lia berhasil mengumpulkan hampir satu juta rupiah.
Jumlah itu, di mata Lia, setara dengan satu tahun uang jajan dia!
Dia menyembunyikan uang tunai itu di dalam celengan keramik tua berbentuk babi, yang dulu dia beli saat baru menikah (dan Dion protes habis-habisan karena katanya itu tidak islami). Celengan itu ditaruh di dasar lemari baju, di balik tumpukan kain batik yang jarang terpakai. Setiap kali memasukkan lembaran uang ke dalamnya, Lia merasa sedang menyuntikkan vitamin ke dalam jiwanya yang sekarat.
Puncak kemerdekaan kecilnya terjadi di suatu sore. Lia sengaja bilang ke Mami Sandra kalau dia mau ke warung sebelah beli bawang. Padahal, dia menyelinap ke kafe kecil di seberang gang. Kafe itu menjual kopi latte dengan harga Rp 35.000. Jauh lebih mahal dari jatah harian.
Lia duduk di sudut, menikmati setiap tegukan kopi yang pahit, manis, dan creamy. Sambil minum kopi mahal itu, dia membuka laptop bututnya (yang dulu dia beli sebelum menikah dan tidak pernah disentuh lagi karena Dion bilang buang-buang listrik) dan mulai mengetik. Dia sedang menulis sebuah esai ringan tentang kebahagiaan sejati seorang ibu rumah tangga.
Saat itu, dia tidak peduli lagi dengan cucian kotor di rumah, atau menu makan malam apa yang akan dia sajikan nanti. Selama satu jam itu, Lia adalah seorang wanita mandiri, yang punya uang sendiri, dan bisa menikmati kemewahan kecil tanpa meminta izin siapa pun. Rasanya lebih lega daripada terapi.
Namun, kedamaian kecil itu tidak bertahan lama. Kejanggalan Dion mulai terlihat.
Beberapa minggu terakhir, Lia melihat ada perubahan pada Dion. Pria itu mulai sering merapikan rambutnya sebelum berangkat kerja, memakai parfum yang lebih mahal (Lia tahu itu mahal karena dulu Mami Sandra pernah komplen soal harga parfum itu), dan yang paling kentara, Dion sering sekali tersenyum saat menatap ponselnya.
Senyum itu bukan senyum tulus saat melihat foto anak-anaknya. Itu adalah senyum licik, senyum sembunyi-sembunyi yang membuat perut Lia mual.
Suatu malam, sekitar jam sebelas. Lia sudah tidur, atau setidaknya pura-pura tidur, setelah sibuk menyelesaikan deadline dua artikel. Dia mendengar Dion keluar dari kamar.
Ceklek.
Suara pintu kamar mandi ditutup. Lia membuka mata. Kenapa Dion ke kamar mandi malam-malam begini? Biasanya Dion sangat menjaga jam tidurnya, takut terlambat bangun untuk salat subuh (walaupun seringnya tetap kesiangan).
Lia mendengar suara bisikan dari kamar mandi. Bukan suara orang buang air atau sikat gigi. Itu suara percakapan telepon.
Rasa penasaran Lia tiba-tiba memicu adrenalin. Dia tahu dia tidak seharusnya menguping, tapi nalurinya sebagai seorang istri sudah berteriak kencang. Dengan sangat hati-hati, Lia turun dari ranjang. Lantai kamar mertua yang terbuat dari kayu tua selalu berdecit. Lia harus berjalan sangat pelan, seperti ninja.
Dia mendekat ke pintu kamar mandi. Suara Dion samar-samar terdengar, tertahan di balik pintu.
"...Iya, aku kangen juga. Kangen banget, Sar..."
Sar.
Hanya satu suku kata. Tapi bagi Lia, suara itu sudah seperti palu godam yang menghantam dadanya. Sar... itu pasti Sarah. Mantan pacar yang selalu Dion puja-puja kesempurnaannya. Sarah yang katanya lebih hemat, lebih cantik, lebih segala-galanya daripada Lia.
Dion melanjutkan, nadanya rendah, penuh bujukan. "...Aku usahakan besok siang ya. Kan aku bilang, lagi susah di rumah. Istriku... ya begitulah. Susah diatur. Tapi aku usahakan ada waktu buat kamu."
Lia bersandar di dinding, matanya terpejam. Dadanya terasa dingin, bukan sakit. Bukan lagi rasa sakit yang meremas-remas, melainkan rasa beku yang menjalar ke seluruh tubuh.
Istriku... ya begitulah. Susah diatur.
Kalimat itu, yang diucapkan Dion untuk menyenangkan wanita lain, adalah puncak dari semua rasa sakit Lia. Dia sudah mengurus enam orang dengan uang saku seadanya, mengorbankan tidurnya, menahan hinaan, hanya untuk menjaga rumah tangga ini. Dan balasan dari suaminya? Menganggapnya beban dan mengadukannya pada wanita lain.
Lia tidak bergerak. Dia tidak mendobrak pintu. Dia tidak menangis. Dia hanya berdiri di sana, mendengarkan sisa percakapan Dion yang penuh janji manis dan rayuan murahan. Setelah beberapa menit, Dion mengakhiri panggilan dengan nada tergesa-gesa dan membuka pintu.
Wajah Dion langsung pucat pasi saat melihat Lia berdiri di depan pintu kamar mandi, diterangi cahaya remang-remang dari lampu tidur.
"Lia! Kenapa di sini? Kamu... kamu ngapain?" tanya Dion, suaranya sedikit bergetar. Dia langsung menyembunyikan ponsel di balik punggungnya.
Lia menatapnya. Tatapannya kosong, tanpa amarah. Inilah saatnya dia menerapkan prinsip masa bodoh yang sudah dia tanamkan di hatinya.
"Aku haus, Mas. Mau ambil minum," jawab Lia, suaranya juga datar. Dia sama sekali tidak menyebutkan kata 'telepon' atau 'Sarah'.
Dion terlihat sangat lega, tapi masih curiga. "Oh. Ya sudah. Sana ambil minum. Jangan keluyuran malam-malam."
Lia mengangguk. Dia berjalan melewati Dion, menuju dapur. Langkahnya tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
Saat mengambil air minum, Lia melihat pantulan dirinya di jendela dapur yang gelap. Wajahnya terlihat lelah, tapi ada kilatan aneh di matanya. Pria ini. Dion. Dia benar-benar sampah.
Dulu, Lia pasti akan mengamuk, menangis, dan menuntut penjelasan. Tapi sekarang? Sekarang dia punya cuan di celengan babinya. Dia punya kemerdekaan yang sedang dibangun. Berdebat dengan Dion hanya akan membuang energi berharganya yang seharusnya dia pakai untuk menulis.
Masa bodoh.
Lia kembali ke kamar. Dion sudah di ranjang, pura-pura membaca buku, tapi matanya jelas-jelas mengawasi Lia.
"Siapa yang telepon, Mas?" tanya Lia, sambil naik ke ranjang.
Dion tersentak. "Oh! Itu... itu rekan kerja. Biasa, proyek dadakan. Harus cepat."
Lia hanya mengangguk pelan. Dia tahu Dion berbohong.
"Oh, begitu. Kerja keras ya, Mas. Semoga lancar proyeknya," kata Lia, lalu membalikkan badan memunggunginya.
Dion, yang sudah siap dengan seribu pembelaan, terperangah. Respons Lia yang terlalu biasa itu justru membuatnya tidak tenang. Kenapa Lia tidak marah? Kenapa Lia tidak menuntut? Apakah Lia sudah tidak cinta?
Lia menutup mata. Ia benar-benar mematikan perasaannya untuk Dion. Pria di belakangnya, suaminya, kini hanyalah partner rumah tangga dan ayah dari anak-anaknya. Selesai. Masalah hati? Sudah diputuskan. Lia tidak akan menghabiskan satu tetes pun air matanya untuk perselingkuhan murahan ini.
Yang Lia pikirkan sekarang hanyalah: Besok aku mau nulis fiksi romantis tentang wanita yang meninggalkan suaminya dan sukses jadi pengusaha. Pasti honornya besar.
Ketenangan yang dingin itu kini menjadi benteng pertahanan Lia. Dia fokus pada pekerjaan rahasianya. Cuan adalah segalanya. Kalau Dion mau main-main di luar, silakan. Karena saat Dion sibuk PDKT dengan mantan, Lia sedang sibuk membangun kekayaan rahasianya. Dan sebentar lagi, ia akan punya cukup uang untuk tidak hanya membeli kopi mahal, tapi juga mungkin menyewa pengacara cerai terbaik.
Lia tertidur dengan senyum kecil di bibirnya, senyum seorang pejuang yang baru saja menemukan musuh sejati dan strategi yang tepat untuk mengalahkannya: kebebasan finansial.
Lia bangun pagi ini dengan energi baru. Bukan karena tidur nyenyak, tapi karena semalam dia berhasil menyelesaikan tiga artikel sekaligus. Total cuan yang masuk ke rekeningnya setelah dipotong biaya administrasi aplikasi adalah Rp 350.000. Angka itu terasa begitu ajaib. Itu sudah cukup untuk membiayai tiga belas hari kehidupan di bawah kepemimpinan Dion yang pelitnya minta ampun.
Ia melakukan ritual pagi seperti biasa. Membuka dompet usang yang diberikan Dion-dompet yang sudah kusam, warnanya pudar-dan mengambil dua puluh lima ribu rupiah.
"Ini uang jatah hari ini, ya. Jangan sampai kurang seribu perak pun. Dan ingat, menu harus yang berprotein, jangan cuma sayur busuk kayak kemarin," ujar Dion, suaranya dipenuhi otoritas palsu. Dia sedang memakai dasi di depan cermin, tampak lebih rapi dari biasanya. Rambutnya disisir klimis, wangi parfumnya tercium menusuk.
Lia hanya mengangguk. "Iya, Mas. Aku usahakan," jawabnya, nadanya datar.
Dalam hati, Lia sudah merencanakan: Baiklah, Mas Dion. Aku akan pakai uangmu ini untuk beli kerupuk dan bumbu dapur. Sisanya? Sisanya aku ambil dari cuanku untuk beli ayam potong yang besar. Toh, kalau masakanku enak, kamu juga yang makan kan? Anggap saja aku mentraktir kamu.
Perhitungan Lia kini selalu begitu. Dia tetap menjalankan peran Lia Istri Miskin dengan budget Rp 25.000 agar tidak dicurigai Dion dan Mami Sandra. Tapi dia selalu menambahkan bahan premium, yang dibeli dari hasil keringatnya sendiri.
Hari ini, dia ke pasar bukan sebagai pembeli yang terdesak, melainkan sebagai investor yang cerdas. Dia hanya membeli bahan-bahan dasar seperti beras, minyak, dan bawang dari uang Dion. Begitu tiba di tukang ayam langganannya, dia langsung menunjuk satu ekor ayam utuh yang terlihat fresh dan gemuk.
"Tolong potong delapan ya, Bu. Ini uangnya," kata Lia, menyodorkan uang ratusan ribu dari saku rahasianya.
Si penjual ayam, Ibu Nana, terkejut. "Tumben, Nyonya Lia beli ayam utuh? Biasanya cuma seperempat, terus potong kecil-kecil lagi biar kelihatan banyak."
Lia hanya tersenyum simpul, senyum yang mengandung seribu rahasia. "Iya, Bu. Lagi ada rezeki sedikit. Mau bikin makanan spesial buat anak-anak."
"Alhamdulillah. Nah, gitu dong Neng. Jangan mau disuruh hemat terus sampai nggak makan enak," balas Ibu Nana, ikut senang.
Lia merasakan kebahagiaan kecil yang luar biasa. Hanya dengan mengeluarkan uang dari sakunya sendiri, dia bisa membeli kemewahan berupa ayam utuh. Dia bisa membeli kekuatan untuk menolak kritik mertua dan memberikan gizi terbaik untuk anak-anaknya.
Di rumah, rutinitas pagi berjalan seperti biasa, namun dengan hasil yang luar biasa. Ayam goreng bumbu kuning yang gurih, ditemani sayur sop lengkap dengan wortel dan kentang. Mami Sandra mengambil porsi besar, begitu juga Ayah Mertua.
"Nah, begini kan enak! Kenapa dari kemarin-kemarin kamu nggak masak begini, Lia? Ini baru namanya makanan bergizi," puji Mami Sandra, yang terdengar lebih seperti kritik pedas daripada pujian tulus.
Lia hanya menunduk, pura-pura malu. "Iya, Mi. Kebetulan hari ini dapat diskon di pasar. Jadi bisa beli lebih banyak," bohongnya halus.
Dion, yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya, akhirnya menaruh perhatian pada ayam di piringnya. Wajahnya terlihat puas.
"Diskon yang bagus," gumam Dion. Tapi ekspresinya berubah. Dia menatap Lia dengan mata menyipit. "Kamu beli apa lagi kemarin? Total belanja kamu kemarin kan cuma Rp 24.500. Sisanya cuma lima ratus perak. Kamu nggak pakai uang lain, kan?"
Jantung Lia berdebar. Dion mulai curiga.
"Nggak, Mas. Itu uang dari kembalian belanja minggu lalu yang aku kumpulin. Kan Mas bilang harus pintar-pintar menabung," jawab Lia, memasang wajah polos sempurna. Skill berbohongnya kini sudah di level dewa.
Dion mengangguk, tapi sorot matanya masih penuh selidik. Dia tidak akan pernah percaya bahwa Lia bisa hemat, karena di matanya, Lia adalah istri yang boros dan tidak becus.
"Pokoknya jangan macam-macam. Semua uang itu harus transparan," tegas Dion.
Lia hanya membalas dengan anggukan. Transparan? Tentu, Mas. Ini transparan: kamu selingkuh, dan aku kaya diam-diam.
Beberapa hari setelah pesta ayam utuh itu, Dion menjadi semakin sembrono. Dia pulang makin malam, alasannya selalu rapat mendadak atau proyek klien. Tapi Lia tahu, wangi parfumnya selalu bercampur dengan aroma manis yang bukan aroma ruangan kantor. Ada wangi parfum wanita.
Suatu sore, anak sulung Lia, Riko, merengek karena sepatu sekolahnya sudah jebol.
"Ma, malu. Sepatunya bolong di depan," kata Riko, hampir menangis.
Lia melihat sepatu Riko. Kondisinya memang parah. Sudah waktunya ganti.
"Nanti malam aku tanya Papa ya, Nak," kata Lia, meskipun dia tahu jawaban Dion pasti, Nanti saja, Nak. Papa lagi banyak cicilan. Kamu kan masih punya sandal.
Benar saja. Malam itu, saat Lia menyampaikan keluhan Riko, Dion menjawab dengan nada kesal.
"Sepatu? Nanti saja tunggu gajian bulan depan. Bilang Riko jangan cengeng. Anak cowok itu harus kuat, jangan manja minta dibelikan barang terus," hardik Dion, sambil kembali fokus pada ponselnya.
Sikap tak acuh Dion kali ini benar-benar membuat kesabaran Lia habis. Anak sendiri butuh sepatu layak, dan dia malah sibuk memanjakan wanita lain.
Malam itu juga, Lia mengambil keputusan. Dia tidak akan menunggu Dion. Dia sudah punya cuan.
Besok paginya, tanpa izin Dion, Lia membawa Riko dan adiknya ke pusat perbelanjaan. Lia mengenakan pakaian terbaiknya, dress lama yang ia simpan rapi, dan dia membawa dompet tebal yang isinya cuan hasil jerih payahnya.
Mereka membeli sepatu baru yang bagus. Bukan yang paling mahal, tapi yang paling nyaman dan kuat. Riko tersenyum lebar, senyum yang sudah lama tidak Lia lihat.
"Terima kasih, Mama! Sepatunya bagus banget! Ini dari mana uangnya, Ma?" tanya Riko polos.
Lia memeluk putranya erat-erat. "Ini rezeki dari Allah, Sayang. Mama usaha, dan Allah kasih. Jangan bilang Papa ya. Ini rahasia kita. Bilang saja ini sepatu lama yang Mama bersihkan, oke?"
Riko, yang sudah cukup besar untuk mengerti drama rumah tangga orang tuanya, mengangguk patuh. Anak itu tahu, ada masalah besar antara Mama dan Papa.
Pulang ke rumah, sepatu baru itu disembunyikan di dalam tas sekolah Riko.
Namun, takdir memang suka bercanda.
Saat Lia sedang mencuci baju Dion, dia menemukan sesuatu di saku celana panjang kerja Dion. Itu bukan uang, tapi selembar kertas kecil. Sebuah struk pembayaran parkir.
Struk itu tertanggal dua hari lalu, hari di mana Dion bilang dia ada "rapat mendadak sampai tengah malam."
Lia membalik struk itu. Tertulis nama tempat parkir: Kafe Senja.
Lia kenal tempat itu. Kafe Senja adalah kafe romantis di pusat kota yang terkenal mahal dan menjadi spot favorit anak-anak muda nge-date. Lia dan Dion tidak pernah ke sana, tentu saja, karena Dion akan bilang itu buang-buang uang.
Tapi yang membuat Lia tercekat bukanlah nama kafenya. Di bagian belakang struk itu, ada bekas noda lipstik berwarna merah muda pucat. Lipstik yang bukan milik Lia. Lia tidak pernah pakai lipstik.
Napas Lia tercekat. Ini bukan lagi kecurigaan. Ini adalah bukti fisik. Bukti perselingkuhan yang Dion sembunyikan di saku celana yang seharusnya kotor oleh debu kantor, bukan noda lipstik murahan.
Rasa dingin yang Lia rasakan saat mengetahui perselingkuhan Dion lewat telepon kini berubah menjadi rasa sakit yang tajam, menusuk, tetapi juga dibarengi dengan ledakan kemarahan yang tenang.
Dion, kamu benar-benar keterlaluan.
Lia melipat struk itu hati-hati, menyimpannya di tempat tersembunyi bersama uang rahasianya. Struk itu bukan lagi bukti perselingkuhan, melainkan kartu As yang akan dia gunakan saat waktunya tiba.
Perubahan sikap Lia mulai mengganggu Mami Sandra. Lia tidak lagi menangis, tidak lagi memohon. Bahkan ketika Mami Sandra mengkritik masakannya (padahal masakannya makin enak berkat cuan rahasia Lia), Lia hanya menanggapi dengan senyum kecil yang sangat mengganggu.
"Kamu ini kenapa, Lia? Senyum-senyum begitu. Kamu sehat? Jangan-jangan kamu sudah gila ya karena tidak punya uang?" cibir Mami Sandra saat mereka sedang menonton TV bersama.
Lia menoleh, senyumnya tetap terkembang. "Alhamdulillah sehat, Mi. Justru karena akhir-akhir ini aku merasa damai, jadi sering senyum," jawabnya.
Mami Sandra mendengus. "Damai apanya? Suami kamu pulang malam terus, kamu nggak curiga? Harusnya kamu itu cemburu, Lia! Kejar suami kamu, jangan malah santai-santai di rumah!"
Tiba-tiba, mata Lia menatap Mami Sandra lurus-lurus. Sebuah keberanian baru yang didorong oleh kemerdekaan finansial.
"Buat apa curiga, Mi? Kan Mas Dion bilang dia kerja. Kalaupun Mas Dion ada urusan lain, itu urusan Mas Dion. Tugasku di rumah sudah selesai. Aku sudah kasih makan dan urus anak-anak dengan baik. Kalau Mas Dion tidak menghargai itu, ya itu masalah Mas Dion, bukan masalah aku lagi," kata Lia dengan tenang.
Mami Sandra terdiam. Mulutnya menganga. Dia tidak pernah menduga Lia akan melawan, apalagi dengan kalimat yang begitu logis dan dingin.
"Kamu... kamu lancang ya sekarang! Berani melawan mertua!" teriak Mami Sandra, wajahnya memerah.
"Aku nggak melawan, Mi. Aku cuma bilang yang sebenarnya. Aku sudah capek, Mi. Biar Mas Dion juga tahu, aku bukan pembantu yang bisa dia perlakukan sembarangan," balas Lia, lalu bangkit dan pergi ke kamarnya.
Lia menutup pintu kamar, hatinya berdebar kencang. Itu adalah kali pertama dia membela dirinya secara frontal di depan Mami Sandra. Rasanya seperti memenangkan lotre-bahkan lebih baik daripada mendapatkan cuan ratusan ribu.
Di dalam kamar, Lia menatap Dion yang sedang pura-pura tidur. Aku tidak akan membiarkan kamu menghancurkan aku, Mas. Kamu punya rahasia, aku juga punya. Dan rahasia aku ini akan jauh lebih menghancurkan hidupmu daripada perselingkuhanmu itu.
Lia meraih laptopnya, dan mulai mengetik lagi. Kali ini, tulisannya lebih bersemangat, lebih penuh tekad. Dia tahu, setiap kata yang dia ketik, setiap rupiah yang dia dapat, adalah satu langkah menjauh dari rumah yang terasa seperti penjara ini.
Lia sudah mulai berani melangkah, bahkan berhadapan dengan mertuanya. Di bab selanjutnya, mungkin perselingkuhan Dion akan semakin terang-terangan dan Lia akan mulai menyusun rencana balas dendam dengan cuannya.