Ya, setelah masuk dalam restauran bukannya suruh masuk terus interviuw dan mulai bekerja, dia di depak keluar begitu saja oleh pejaga Restaurant tersebut. Bahkan sampai di bentak-bentak di kira seorang pengemis yang minta sumbangan karena penampilannya yang bisa di bilang amburadul banget, bisa di bayangin penampilannya yang acak-acakan itu.
"Maaf, nona, di sini tidak menerima sumbangan.." ucap penjaga itu, seketika membuat Yeri naik pitam. Entah kenapa semua ornag yang melihatnya, di kira orang minta-minta oleh penjaga itu. Gimana gak kesal coba, udah susah payah datang di kira pengemis.
"Sialan!! Apa kamu bilang? Aku bukan pengemis, jangan seenak jidad kamu bilang kalau aku pengemis" Bentak Yeri tak terima.
Yeti bersendekap, menggerak-gerakakn tubuhnya tak bisa diam, memalingkan wajahnya dengan bibir tertarik sedikit terus mencibir lirih. "Enak saja di bilang pengemis. emang ada pengemis cantik seperti aku. Pasti lebih dapat uang banyak," gumamnya sembari terkekeh kecil.
Pejaga itu mulai ngelunjak, tak terima juga di bentak olehnya.
"Udah ngemis nyolot lagi, Kalau bukan pengemis apa coba? Kamu punya kaca gak baju kamu saja kayak pengemis gitu" umpat penjaga lelaki itu dengan nada kerasnya, ia menarik dengan tatapan jijik baju Yeri yang terlihat kumel dan kusut kali ini. semua orang yang lewat di depan restauran itu, menatap ke arah perdebatan mereka. Dengan tatapan aneh bin membingungkan. Gimana tidak bingung jika semua pegawai dan bos saling berbicara mencibirnya.
Yeri manatap sekujur tubuhnya, ia melihat penampilannya yang memang kumel, sih, tapi itu kan gara-gara lelaki tadi. Yang membuat dia harus pulang lagi dan ganti baju deh.
"Kenapa kamu masih tetap di sini. Pergi sana!" Bentak lelaki itu menarik tangan Yeri keluar dari dalam restaurant itu. Bisa di bilang dia satpam di restaurant tersebut.
Sialan nih orang, enak saja aku di bilang pengemis, di usir lagi... Udah dandan cantik gini di bilang pengemis, gumamnya dalam hati. Angel berdengus kesal, mengusap dadanya berkali- kali mencoba sabar, menghadapi orang di depannya itu.
Sebuah mobil mewah dengan dua iringan di belakangnya. Berhenti tepat di depan restaurant.
"Selamat datang tuan!!" sapa penjaga itu menundukan badannya mengarah pada lelaki di depannya, yang baru saja mau masuk ke restaurant itu.
"Siapa sih!!" gumam Yeri penasaran, dia menoleh ke belakang.
"Ada apa berisik sekali menganggu jalanku" ucap lelaki itu jutek. Ucapan singkat membuat semua orang di sana menunduk tanpa suara sedikitpun.
"Maaf tuan Arga, ada pengemis masuk jadi aku usir keluar tapi dia marah-marah" gumam satpam itu.
Eh... Itu bukanya laki-laki tadi? Eh.. kenapa dia bisa di sini juga?
Yeri menutup wajahnya dengan ke dua telapak tangannya, melangkahkan kakinya berjalan miring mencoba untuk menjauh.
"Eh.. Kamu mau kemana?" tanya Arga, menghentikan langkah Yeri.
Sial? Apa dia tahu kalau ini aku wanita yang menabraknya tadi? Gimana, kalau dia ambil cek uangku tadi..
"Eh.. Pengemis cepat minta maaf pada tuan Arga!!" bentak satpam melirik tajam ke arahnya.
"Eh... maksudmu apa? Siapa yang pengemis?" Wanita itu membantah tuduhan pejaga restaurant.
Tatapan Yeri semakin menajam perseteruan di antara mereka tak ada habisnya. Ia tak terima terus di tuduh pengemis. Ia berhenti berdebat, pandangan Yeri tertuju pada lelaki yang dari tadi hanya diam di depannya. Wajahnya sangat dingin, ia membalikkan badannya dan beranjak pergi.
"Maaf tuan, sepertinya aku harus mengusir pengemis ini!" ucap manajer restauran yang mencoba melerai perdebatan panas antara satpam dan Yeri.
"Sekarang kamu pergi dari sini? Jangan pernah lagi datang kemari!!" bentak menajer restauran, menarik tangan Yeri melemparkan tubuhnya keluar dari dalam restauran kecil miliknya.
Bukanya dia wanita yang nabrak aku tadi? Sepertinya dia menarik juga?
Melihat perlakuan penjaga dan manajer restaurant itu pada Yeri yang tak pantas, membuatnya sangat kesal.
"Ayo pergi, aku gak mau makan di restaurant kecil ini" pinta Arga, dengan gaya sombongnya pada para asistennya yang berdiri di belakangnya. Yeri yang mendengar kesombongan lelaki di depanya itu, merasa sangat geram.
"Tunggu tuan, makanlah di sini saya akan memberikan discount untuk tuan" gumam Manajer restauran yang berlari mengikuti Arga mencoba memohon padanya.
Arga menarik bibirnya sinis. "Apa katamu, aku suruh makan di sini, ini restaurant saja sudah seperti tempat sampah" hina lelaki itu dengan tatapan tajamnya, seakan membuat manajer di depannya tak berkutik dan terus menunduk takut.
Bukan karena apa-apa Arga adalah orang terkaya di Jakarta jadi semua pengusaha kenal dengannya. Bukan hanya wajahnya yang sangat tampan dan bengis. Tetapi dia di kenal dengan kebaikannya yang tak terlihat dan paling terkenal dari dia adalah kesombongannya.
Yeri melihat manajer itu menunduk ketakutan ia sangat kesal, meskipun dia tadi sempat mendorongnya. Dan membautnya sangat kesal, Tapi ia tak permasalahkan itu. Jika melihat orang di tindas hatinya merasa terketuk untuk menolongnya. "Eh. Kamu berhenti!!" teriak Yeri, mencegah Arga untuk pergi.
"Jangan seenaknya hina restauran orang. Ngaca dulu dong, kamu seperti apa, mentang-mentang kamu ganteng gitu, terus seenaknya jidat mu menghina tempat ini..." umpat Yeri, ia berani membentak Arga dengan tangan menunjuk ke mukanya.
"Kamu memang orang kaya, tapi kesombongan kamu sampai ke ubun-ubun membaut kepalamu semakin besar." hina Yeri.
Arga hanya menarik bibirnya tipis, wanita yang menarik, baru kali ini wanita yang berani melawanku.
Arga menatap detail wajah Yeri, ia mulai teringat dia adalah orang yang di tabraknya tadi. Tapi sepertinya dia belum sadar tentang itu.
Manajer Jun datang berjalan ringan mendekatinya dan berbisik di belakangnya.
"Tuan nyonya bilang, tuan suruh bawa pasangan tuan ke rumah hari ini dan di perkenalkan pada keluarga. Kalau gak mau maka ahli waris tuan akan di cabut dan semua uang orang tua tuan di sumbangkan" bisik Manajer Jun.
Arga mengeluarkan tangannya dari saku celananya, ia mengangkat tangan kanannya, memberi kode pada manajer Jun, untuk berhenti berbicara dulu.
"Kita lanjutkan pembicaraan kita di dalam" ucap Arga.
"Tapi bukanya tuan mau pergi?" tanya manajer Jun.
"Diam aja, dan ikuti apa yang aku lamukan!!" jawab Arga.
"Baik tuan!!" manajer Jun menunduk dan melangkah ke belakang Arga.
"Anda mau makan di sini, tuan!!"
"Iya, tapi aku mau dia yang layani aku makan!!" Arga menunjuk ke wajah Yeri, seketika wanita itu menarik ke dua alisnya ke atas.
"Kenapa aku?"
Penjaga dan manajer itu yang masih terus menunduk, saling menatap satu sama lain. Dan melirik sekilas penampilan Yeri yang membuat mereka merasa jijik. Jika bukan karena Arga udah males banget menyuruh dia kerja.
"Jika tidak mau, maka aku akan pergi sekarang!!" ancam Arga pada manajer restaurant itu.
"Baik tuan!!" gumam Manajer itu dengan terpaksa. Karena pilihan Tuan Arga. adalah wanita itu maka dengan segera melaksanakannya. Kalau tidak mungkin akan di adukan yang gak-gak pada bossnya.
manajer restauran itu melangkahkan kakinya mendekati, Yeri. Dan berbisik pelan padanya.
"Kamu cepat ke belakang ganti pakaian, layani tuan ini apa saja pesananya kamu yang ambilkan" Ucap manajer restauran itu.
Yeri tersenyum ke girangan. Ia menatap ke arah Arga yang ternyata di balik wajahnya yang dingin perduli juga. Wanita itu tanpa basa-basi bergegas masuk ke dalam restaurant.
"Tuan, apa tuan sudah dapat wanita itu"bisik manajer Jun dari belakang.
"Tenang saja Jun, aku sudah mendapatkannya" jawab lelaki itu.
"Baiklah tuan!! " manajer Jun melangkahkan kakinya lagi ke belakang. Arga berjalan masuk ke dalam restaurant itu.
"Jun panggilkan wanita tadi, agar cepat keluar" Arga sudah tak sabar melihat wanita itu lagi.
Belum sempat manajer Jun memanggilnya, ia sudah keluar dengan balutan baju waiters khas restauran itu. Wajahnya benar-benar membuat lelaki itu tergoda.
"Jun cari tahu semua tentang wanita itu"ucap Arga, melirik kagum ke arah Yeri.
"Baik tuan" jawabnya.
Sepertinya tuan Arga mulai tertarik dengan wanita lagi, aku baru pertama kali melihat dia tersenyum saat melihat wanita, lanjut manajer jun dalam hatinya.
Arga tak pernah sama sekali bekencang dengan wanita, selain mantanya dulu. Namun semenjak mantan kekasihnya pergi ninggalin dia tanpa sebab dia tak mau lagi kenal dengan seorang wanita.
Yeri melirik sekilas jelas wajah lelaki itu kali ini, ia baru teringat jika tuan itulah yang menabraknya tadi.
Manajer restauran dan pegawai lainnya bergosip di belakang. Membuat desas desus membicarakan Yeri dan penampilannya sekarang yang berantakan. "Tu, anak kenapa cari gara-gara lagi sih!!" gumam Manajer restauran.
"Kamu jangan kurang ajar dengan tuan Arga" Manajer Jun beranjak berderi.
"Jun diam, biarkan saja dia bicara," Ucap Arga.
"Baik tuan!!" Jun menunduk dan beranjak duduk kembali di kursinya.
Yeri berkacak pinggang, mengangkat ke dua alisnya ke atas, dia tak berhenti terus melotot berdiri di depan Arga, ia tak berhenti bergumam, menatap kesal wajah dingin laki-laki di depannya itu.
"Kamu beraninya nabrak aku terus pergi gitu aja, dan cuma ninggalian sebuah kertas, lagi. Emangnya kertas itu bisa jadi uang.." ucap wanita itu dengan nada semakin meninggi. Dia mengeluarkan cek di dalam tasnya, menunjukan tepat di wajah Arga.
"Ini kertas bukan uang, lagian aku tidak tahu caranya ambil uang... Sekarang aku amu uang cash... jangan pakai kertas kayak gini!!" umpat kesal Yeri tanpa rasa takut sedikitpun dalam benaknnya.
Arga menyungging bibirnya, dan beranjak berdiri dari duduknya, dia memberikan sebuah kartu nama padanya, menaruh di saku jasnya tepat bagian dada. Meletakkan kartu nama itu tepat di wajahnya, seperti apa yang di lakukan Yeri padanya.
Yeri sontak terkejut dan melangkah ke belakang, menjaga jarak pada Arga. "Jangan banyak bicara, cerewet!!" ucap datar Arga, mendekatkan tubuhnya, membuat gadis itu seketika mundur beberapa langkah ke belakang.
Apa yang di lakukan laki-laki ini? Apa dia mau melecehkanku? Awas saja kalau dia berani menyentuhku, akan aku kasih pelajaran dia..
"Apa yang kamu lakukan, ini di tempat umum tuan yang terhormat!!" ucap Yeri sedikit gemetar di buatnya, tatapan tajam dan dinginnya seakan menusuk ke matanya.
"Datanglah ke alamat itu" gumam Arga, mengabaikan Yeri dan beranjak duduk lagi di tempatnya.
Aku benar-benar sial sih, kenapa harus bertemu dengan lelaki seperti dia, cueknya benar-benar minta ampun, deh. Gerutu Yeri,
"Kenapa kamu diam, cepat layani segala keperluan, tuan Arga" ucap Jun, dengan nada dinginnya. Assisten dan tuannya sama-sama dingin dan jutek.
Ih... Nyebelin banget sih, seandanya aku bisa membaals dia.. ingin aku acak-acak ke dua rambut pria itu.
Yeri berdengus kesal, ia memutar matanya malas, harus berhadapan dengan lelaki itu lagi sekarang. Benar-benar membuatnya muak kali ini. "Mau pesan apa?" tanya Angel jutek.
"Apa kamu gak bisa sopak dengan tuan Arga" bentak Jun.
Yeri berdengus kesal untuk yang ke dua kalinya, ia mencoba untuk tetap sabar, menghadapi dua laki-laki hang bikin amarahnya mulai muntap. Yeri mengerutkan bibirnya, tapa rasa takut pada orang sok di sampingnya itu. Meskipun masih sama-sama muda. Dia benar-benar tak ada bedanya dengan tuannya.
"Sudahlah Jun, biarkan saja dia begitu. Kita lihat saja, bagaimana dia bisa bertahan melawanku." gumam Arga dingin, Dia melirik tajam ke arah wanita di sampingnya.
"Masak apa saja, aku mau tahu gimana masakan kamu," ucap Arga, dengan wajah dinginnya kali ini. Ia tak mau menunjukan rasa simpatinya pada gadis itu.
"Tuan, ingat gak boleh makan sembarangan. Bukannya tuan alergi sama ikan" gumam Jun, mencoba mengingatkan tuannya.
"Sudahlah gak apa-apa, lihat saja nanti" ucap Arga lirih.
"Gimana jadi gak?" Tanya Yeri kentus.
"Cepat pergi dan ambil makanan apa yang kamu suka" lanjut Arga.
Wanita itu sontak membalikkan badanya,angel merasa aneh pada Arga, kenapa harus makanan kesukaanku. Lagian aku gak pernah makan, di tempat seperti ini. Mau makan enak saja aku pikir-pikir 1000×. Lagian obat untuk ayahku lebih penting, gerutu Angel terus berjalan menuju ke dapur tanpa harus menunggu penjelasan dari lelaki aneh yang menyuruhnya tadi.
Tuh... laki ya, udah nabrak aku, sekarang ketemu lagi di restaurant dan pertemuan yang tak di sangka-sangka akan membuat perubahan dalam hidupnya. Gimana gak ada perubahan bahkan dia di tabrak dapat uang cek sebesar itu dan bisa kerja di restauran yang dia inginkan. Yang pada awalnya di tolak mentah-mentah oleh manajer restaurant.
Yeri segera masak beberapa makanan yang dia bisa, meski sebenarnya dia bekerja hanya jadi pelayan bukan koki, tapi untung saja dia bisa masak meski sedikit, gak terlalu mahir juga.
Selesai masak nasi goreng, dan soup asparagos yang secara otodidak ia bisa masak itu. Meski tidak terlalu suka masakan soup, ia hanya itu yang dia bisa masak. Lagian resep masakan di rumah jadi dia tidak bisa kalau tidak ada resep masakan.
"Ini tuan makannya, silahkan di cicipi"ucap Yeri sangat ramah, dia meletakkan makanan soup asparagos dan nasi goreng ke kesukaannya. Dia segera memberikan makanan itu pada Arga.
Tanpa banyak bicara Arga menggeser duduknya di kursi sampingnya, ia menarik tangan Angel untuk duduk di sampingnya. "Apa yang akan taun lakukan" Yeri mencoba menolak.
Meskipun Jun sepertinya mau mencegahnya namun wajah Arga sepertinya tak mau di cegah. Akhirnya membatalkan niatnya untuk mencegah apa yang di lakukan tuanya.
Yeri menatap Arga bingung, dengan apa yang dia lakukan.
"Cepat makan!!" Ucap Arga jutek.
Yeri mengerutkan ke dua alisnya, "Makan??" Jawab Yeri bingung.
"Iya cepat maka. Kamu yang suka makanan ini, kan!" Ucap Arga, menggeser soup asparagos itu tepat di depan Yeri.
Yeri memutar matanya, menatap sekelilingnya, semua pegawai lainnya menatap sinis ke arah Yeri. Wanita itu menunduk, ia yang baru bekerja sudah dapat masalah seperti ini, pasti manajer akan marah padanya, seraya hatinya terus bergumam seperti itu.
"Tapi aku lagi kerja sekarang," ucap Yeri menegaskan.
Mati aku kalau dia suruh aku makan soup? Gimana ini?
"Aku yang menyuruhmu." bentak Arga, menatap tajam ke arah Yeri.
Arga tidak suka pada wanita yang menolak perintahnya. Bahkan ia tak malu memarahinya di depan umum.
Yeri Angelista berdengus kesal, dengan penuh rasa ragu ia menyuapkan satu sendok pertama dalam mulutnya.
soup asparagos yang sangat ia tidak suka sebenarnya.
"Ukksss.. huakkkss.." Yeri menutup mulutnya berlari menuju kamar mandi. Segera ia memuntahkan satu sendok soup yang sudha ia telan tadi di wastafel kamar mandi.
Aku niatnya mau kerjain dia! Tapi kenapa aku yang di kerjain? Aku harus kasih pelajaran dia nanti!!
Yeri berdengus kesal menatap wajahnya di depan cermin, ia menarik bibirnya sinis membentuk senyuman licik yang terbesit dalam pikirannya.
------
Sementara Arga dan Jun masih duduk di tempatnya.
"Jun, aku mau kamu besok bawa dia ke rumahku," ucap Arga. Dia duduk bersilang, dengan ke dua tangan di atas meja.
"Apa tuan gak salah pilih?" tanya Jun memastikan.
"Aku mau kamu cari tahu semua tentang dia, kehidupan dan pacarnya," ucap Arga. Melipat ke dua tangannya menyentuh dagunya.
"Dia sangat menarik, tapi aku akan tunggu dia nanti datang kantorku," ucap Arga.
"Baiklah tuan," ucap Jun. Dia tak bisa menolak lagi perintah tuannya itu.
"Sekarang kita pergi atau tunggu dia tuan?"
"Kita pergi setelah ini," jawab Arga datar.
"Kemana tuan?" tanya Jun